(Pada 19 Januari–20 Februari 2012, Mahardika Yudha (Diki), salah satu redaktur Jurnal Footage mendapat kesempatan berkunjung ke Tokyo, Jepang dalam rangka Program Jenesys oleh Japan Foundation. Untuk ini, kami akan menampilkan seri laporan dan tulisan Diki selama dia berada di Jepang. Selamat membaca.)
Musim dingin di Jepang. Temperatur berkisar 6° sampai -4° C. Sebuah pengumuman berbahasa Jepang tanda masuk kerja terdengar di jalan-jalan kota Tokyo pada pukul 9 pagi. Semua orang berjalan kaki dengan cepat. Berpakaian tebal. Berjejal menuju subway—sistem angkutan cepat bawah tanah dikenal juga dengan Metro, Underground, T-Bane, MRT (Mass Rapid Transit), Tube, atau U-Bahn—. Walau keseharian mereka cukup ‘seni media’, karena hampir seluruh elemen hidupnya benar-benar ditunjang oleh teknologi, namun berjalan kaki telah menjadi budaya tersendiri yang telah berjalan ribuan tahun. Penciptaan alur sirkulasi kereta bawah, baik untuk kereta itu sendiri ataupun para penumpangnya telah terbentuk. Lajur-lajur yang diciptakan dalam sistem sirkulasi itu betul-betul dibuat dengan perhitungan yang matang dan tepat, bahkan cenderung matematis. Seperti lajur-lajur sistem dalam komputer. Sistem yang tidak memungkinkan bagi siapapun untuk melanggar karena akan menciptakan lubang atau scratch yang akan merugikan orang lain. Subway merupakan salah satu sistem yang merefleksikan bagaimana hidup mereka sangat teknologis. Pergerakan manusia-manusia itu berhenti sesaat di dalam kereta subway. Mereka serentak membuka telepon genggam ataupun membaca buku. Aneka tulisan kanji menempel di dinding-dinding dalam kereta subway. Bagi saya yang tak mengerti bahasa Jepang itu, tulisan-tulisan itu hanya menjadi sebuah gambar. Menulis kanji berarti juga menggambar. Mereka memiliki sejarah huruf yang visual sekali. Dengan kata lain, mereka memahami isi dari dunia ini sebetulnya bukan dari teks dalam artian tertulis, tetapi memaknai sebuah gambar. Terbukti, beberapa kali saya berbicara dalam Bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris, sambil memperlihatkan hal yang saya inginkan dan mereka pun cepat sekali mengerti.
"... will survive even if the cinema does not." (André Bazin)
Sebagai upaya untuk membuka wawasan sejarah sinema dunia, Jurnal Footage dengan senang hati menghadirkan kepada pembaca jurnal filem/video ini sebuah buku penting karya André Bazin. Buku yang berjudul Qu'est-ce Que le Cinéma? atau dalam edisi bahasa Inggris, What is Cinema?.Edisi I terbit pertama kali pada 1958 dan edisi II pada 1962. Walaupun Bazin tidak pernah membuat filem sepanjang hidupnya, namanya menjadi sangat penting dalam membaca sejarah sinema Prancis pasca Perang Dunia II.
Untuk edisi kali ini, Jurnal Footage menghadirkan Edisi I, What is Cinema? yang diterbikan oleh University of California Press, pada 1967 dan diterjemahkan oleh Hugh Gray. Di edisi ini kata pengantar ditulis oleh Jean Renoir.
(Untuk mengunduh buku, silakan buka tautan ini dan login. Lihat gambar ini untuk lebih jelasnya)
Tentang André Bazin
André Bazin mulai menulis pada 1943 dan salah satu yang mendirikan Cahiers du Cinéma pada 1951 bersama Jaxques Doniol-Valcroze dan Joseph-Marie Lo Duca. Ia adalah salah satu tokoh penting yang menghadirkan studi-studi filem pasca Perang Dunia II. Sejak menjadi salah satu editor di Cahiers du Cinéma hingga kematiannya, Bazin telah melahirkan empat edisi koleksi tulisan-tulisannya. Bazin percaya bahwa filem seharusnya merupakan representasi visi personal sutradara. Pandangan inilah yang menjadikan berkembangnya teori auteur.
Neorealisme Italia belum habis, setidaknya itu yang diusahakan oleh Zavattini dalam filem Umberto D. (1952).
(Catatan Menonton Umberto D. di Senin Sinema Dunia. Senin, 19 Desember 2011)
Setelah menyelesaikan Miracle in Milan di tahun 1951, yang dapat dianggap sebagai proyek sisipan dari Zavattini dan Vittorio de Sica. Dan kebesaran filem Pencuri Sepeda tahun 1948, membuat banyak kalangan menyandingkan dengan karya mereka berikutnya, Umberto D.. Neorealisme Italia adalah seni pembebasan, termasuk semangat pembebasan dari konvensi-konvensi Neorealisme Italia itu sendiri. Hal ini membuktikan Neorealisme Italia belumlah selesai dalam pandangan Zavattini.
Pada Kongres Studi Belanda di Indonesia (23-27 November 1987) kontroversi di sekitar Max Havelaar karangan Multatuli, muncul lagi di permukaan. Ditambah lagi dengan pameran Multatuli di Erasmus Huis dan pemutaran filem Max Havelaar yang menghebohkan itu.
Kontroversi yang muncul sejak buku Max Havelaar ini terbit pada 1860 berkisar pada nilai kesusasteraannya dan ini yang lebih penting: Benar atau tidaknya kisah yang kita baca dalam Max Havelaar. Sekarang masyarakat umum telah menerima buku itu sebagai hasil karya sastra Belanda abad XIX, yang struktur maupun bahasanya berbeda dengan karya-karya sezamannya.
Atas: Salah satu cuplikan dari filem Max Havelaar. Bawah: Buku Max Havelaar terbitan pertama 1860 (kiri) dan cetakan kelima 1881 (kanan)
Mitos bahwa ia seorang sastrawan besar telah terbentuk. Mitos itu dikembangkan dan dibesarkan, yang tetap langgeng hingga kini melalui pelajaran-pelajaran di sekolah. Generasi masyarakat Indonesia yang mengenyam pendidikan Belanda (HIS, MULO, HBS, AMS, Lyceum dan Gymnasium) cukup mendalam mempelajari Max Havelaar dari Multatuli ini sehingga berkarat dalam mitos kebesarannya.
Bersamaan dengan penerimaan Max Havelaar sebagai karya sastra yang besar, tertelan pula mitos bahwa apa yang tertulis dalam Max Havelaar sungguh-sungguh terjadi. Di dalam buku-buku pelajaran sejarah SMP dan SMA sekarang satu atau sampai dua halaman kita baca bagaimana Multatuli dengan bukunya itu telah memperjuangkan nasib rakyat Indonesia di zaman kolonial Belanda. Ia nyaris disebut pahlawan Indonesia. Lebih celaka lagi tidak sedikit siswa dan mahasiswa, bahkan sarjana Indonesia yang mengidentikkan Eduard Douwes Dekker alias Multatuli pengarang Max Havelaar dengan Douwes Dekker alias Dr. Setiabudi. Kerancuan ini kalau tidak dibenahi segera tentu bisa sangat berbahaya.
31 Desember 2011, sejak pagi hari penyelenggara The 3rd International Video Residency Festival, Jatiwangi Art Factory dan Sunday Screen telah berkeliling ke lima dusun yang berada di wilayah Desa Jatisura. Sambil mengumumkan peluncuran perdana JAFTV sekaligus menjadi acara penutupan Village Video Festival 2011, mereka juga menawarkan jasa pencarian saluran JAFTV bagi warga yang belum menangkap siarannya. Bentuk presentasi festival tahun ini berbeda dengan dua penyelenggaraan sebelumnya yang terkonsentrasi di satu titik di masing-masing desa. Kali ini festival akan berlangsung di ruang-ruang pribadi masyarakat desa Jatisura. Di dalam kamar tidur, di ruang tamu, di ruang makan, di ruang publik seperti warung kopi atau pos-pos Siskamling (Sistem Keamanan Lingkungan), atau di ruang manapun tempat yang memungkinkan untuk menghadirkan televisi. Hasil dari festival kali ini tidak berhenti pada perhelatan pameran tetapi akan terus berlangsung dan menjadi saluran mandiri bagi masyarakat desa Jatisura memproduksi pengetahuan dan informasinya sendiri.
Peluncuran perdana JAFTV (Jatiwangi Art Factory Televisi) merupakan hasil dari festival video tahun ini. Village Video Festival diadakan setiap tahun di Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Festival ini telah berjalan tiga kali sejak tahun 2009. Pada penyelenggaraan tahun ini, festival yang dikuratori secara kolaboratif antara Ade Darmawan dengan dua kurator muda, Alghorie dan Ismal Muntaha telah mengundang 6 seniman yang memiliki ragam pendekatan artisik. Lima seniman dari Indonesia: Serrum, Forum Lenteng, Prilla Tania, Oomleo, dan Kampung Halaman, serta dua seniman dari Singapura, Ghazi Alqudcy dan Ezzam Rahman dari Singapura.
Federico Fellini menganggap bahwa Neorealisme Italia bukan sebagai pertanyaan tentang "apa", tapi "bagaimana" sutradara menampilkan realitas.
Kekhawatiran atas Neorealisme sebagai formalisme terhadap realisme, sesungguhnya tidak lepas dari kebakuan dalam menampilkan realitas yang membawanya ke arah propaganda.
Filem Cabiria Dalam Malam (Le Notti di Cabiria), 1957, karya Federico Fellini dikomentari oleh André Bazin: Realisme tidak mungkin dirumuskan dari tujuannya, tetapi dari sarananya. Hal ini tentu saja sebagai pembelaannya pada gerakan Neorealisme Italia dengan percabangan gaya di penghujung periode emasnya. Lalu, tuduhan negatif yang dilancarkan oleh Guido Aristarco —dari Jurnal film Italia Cinema Nuovo— yang mengatakan adanya sikap borjuis di balik karya-karya Fellini.
Mengagumkan bahwa kesadaran kita akan esensi film pada gerak sudah ...
Terimakasih, komentarnya yang panjang. salam Redaksi.
Terimakasih apresiasinya. Silakan sebarkan ke kawan-kawan yang ingi...
great jurnal .. ini film-film lama masih didapatkan lagi tidak ya? ...
Melihat dan membaca sejarah filem Italia, maka kita akan menemui ge...
Neorealisme lahir dari pemikiran murni sineas Italia yang ingin men...