⟩⟩⟩  
Indonesian

Chronicles_!

usmarismail-1
sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8
sejarah9
sejarah10
var02
var03
var04
var05
var06
var07
sjumandjaja-1

Latest.Comments_!

Stats_!

Members : 894
Content : 213
Content View Hits : 709778
You must have Flash Player installed in order to see this player.
Sejarah Filem Sebagai Seni (12): Perjuangan untuk Cita-cita PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Saturday, 20 August 2011 00:02

(Available only in Bahasa indonesia)

 

No. 24 tahun VI, 20 oktober 1955

 

Apa yang sering dihasilkan sejarah-filem untuk memperoleh bentuk seni baru, dengan memakai unsur-unsur gambar dan suara tidaklah perlu mengalami perubahan, walaupun digunakan unsur warna. Unsur baru ini – yang diakhir-akhir ini sangat populer – juga mesti takluk kepada gambar dan tak boleh menguasai, seperti terjadi dengan filem-filem-tehnicolor, agfacolor dan sovcolor, yang membanjiri bioskop-bioskop seluruh dunia. Filem-filem berwarna yang mampu menciptakan alam kehidupan yang nyata telah menghambat pertumbuhan artistik filem lagi, dan pertumbuhan tehnis yang bertambah lama bertambah cepat telah membuat dasar-dasar estetika membeku.

Proses pembukaan ini sangat berlaku sebagai berikut: unsur gambar tak dihargai semestinya, ia telah dikesampingkan karena temuan unsur suara.  Dan unsur suara, yang baru saja kita ketahui rahasia-rahasianya, kini telah dikesampingkan pula oleh munculnya unsur warna. Gambar yang secara absolut telah kita ketahui seluk-beluknya, sedang suara yang masih belum cukup kita ketahui dan warna yang kita tak berani menyelidiki kemungkinan-kemungkinannya, telah memperkuat dan mempertegas adegan-adegan insidentil. Semua itu terdesak oleh apa yang biasa disebut “diepte-filem” [kedalaman konten filem]. Tehnik tergesa-gesa itu telah menjungkalbalikkan seni baru yang baru saja tumbuh dan tidak menoleh lagi padanya. Demikianlah sebenarnya keadaan filem zaman sekarang dengan secara singkat. Kita terpaksa menerima itu. Penggemar filem yang sungguh-sungguh hanya dapat mengidam-idamkan seni filem tulen dan tetap mempertahankan seni-filem jelek dari kemajuan teknik.

Ini berlalu untuk 90 dari 95% dari filem zaman sekarang. Kalau keadaan itu direnungkan, kepada siapa diajukan pertanyaan: masih adakah percobaan-percobaan dengan seni-filem di zaman kini seperti lazim dilakukan avantgarde dan masih bergunakah percobaan-percobaan ini?

bfi-dreams-that-money-can-buy-DREAMS_THAT_MONEY_CAN_BUY-6




Read more...
 
Sejarah Filem Sebagai Seni (11): Suara Yang Terpendam PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Tuesday, 10 May 2011 17:12

Available only in Bahasa Indonesia


 

Aneka no. 23 Tahun VI 10 Oktober 1955

 

Marilah kita renungkan sebentar masalah Avantgarde Lama; "Peranan apakah yang harus dijalankan suara dalam permainan citraan bergerak?" Setiap penonton pernah mengalami suara yang tiba-tiba hilang ketika menonton di bioskop. Peristiwa itu kadang mengganggu, kadang pula memberi rasa senang pada penonton. Pada situasi hati yang pertama, hal itu disebabkan peran suara telah demikian menguasai sehingga gambar tidak lagi mempunyai daya ungkap apapun. Sedang pada situasi kedua, saat kita merasa senang karena kata-kata [suara] telah hilang, sebab suara telah menjalankan peran berlebihan, menyerupai auditive von blure [pendengaran yang samar] dari yang ditangkap sejarah visual.

Kesimpulan yang dapat kita tarik dari praktek bioskop mengenai filem bicara, yaitu, "menguasai atau berlebihan".

Perkembangan suara berupa dialog dalam filem dan musik pengiring latar di awal dan akhir filem sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Suara sebenarnya tidak mempunyai hak hidup sebab terlampau menguasai gambar pada filem.

Dalam rangka seni filem, gambar pada filem senantiasa mempunyai nilai penting. Suara dapat melengkapi gambar pada filem atau bertentangan sama sekali, tetapi tetap takluk pada gambar. Sebab yang paling penting dalam seni filem adalah yang dapat dilihat dan bagaimana suatu kenyataan visual yang baru-baru ini ditemukan. Teori montase bangsa Rusia diciptakan difungsikan untuk gambar pada filem. Untuk mempertimbangkan hal itu, bagaimana kemudian filem dapat dihubungkan dengan suara?

citizen_kane-screening
Citizen Kane, Orson Welles

Dapat dipertimbangkan bahwa suara pada beberapa detik mendapat peranan dalam suatu adegan yang demikian rupa, sehingga gambar dan suara membentuk suatu kesatuan secara contrapuntist. Jika demikian maka filem menjadi tidak lengkap kalau tanpa suara. Kita ambil contoh sebagai penjelas; seseorang mati terbunuh. Mayatnya ditemukan seorang pembantu di kantor. Mulut pembantu terbuka. Saat itu kita menyangka kalau ia akan berteriak. Tiba-tiba kita mendengar peluit kereta api dan si pembunuh melarikan diri dengan kereta api itu. Di sini terjadi suatu kenyataan filem yang baru dengan adanya pemaduan unsur-unsur gambar dan suara. Pada pernyataan ini, kedua unsur tersebut mempunyai tugas masing-masing. Suatu contoh lain tentang tugas yang dapat dijalankan suara; kita mendengar suara detik jam, kamera mengelana di sebuah bilik. Tiba-tiba suara detik jam hilang maka kesunyian pun bertambah jelas. Suasana bertambah genting karena ketiadaan suara detik jam itu. Dengan kata lain: kesunyian dapat didengar.




Last Updated on Wednesday, 11 May 2011 12:10
Read more...
 
Sejarah Filem Sebagai Seni (10): Filem Bicara PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Wednesday, 16 February 2011 14:20

Aneka No. 22 THN VI, 1 oktober 1955

 

(Available only in Bahasa Indonesia)

Sebenarnya seni-filem telah sampai dijalan yang baik pada akhirnya zaman filem-bisu. Dan kedatangan filem-bicara dapat mengubah kenyataan ini. Dunia girang melihat teknik yang sanggup membikin Al Jolson berbicara dan bernyanyi di layar putih, sehingga orang suka melupakan apa yang sudah tercapai. Sebab manusia seperti anak-anak yang terganggu setiap menemukan cara-baru. Keinginan untuk membuat manusia berbicara di gambar hidup telah dilakukan di masa Lumière. Kalau ditilik dari sudut teknik dapat dikatakan filem-bicara mempunyai ijazah yang lebih tua dari pada tahun 1892. Saat itu orang telah mengetahui kombinasi fonograf-gambar-hidup pada alat chronophotophone ciptaan orang Prancis, Georges Demenÿ1. Sudah menjadi kebiasaan (dalam dunia industri) kaum explicature turut bermain sehingga mereka melakukan suatu percobaan untuk menciptakan filem-bicara. Kelak karya-karya explicature itu mengeser orkestra dalam pertunjukan filem dan orang pun dapat mendengarkan musik dalam filem. Mulanya dipergunakn gramofon dan alat-alat yang dapat membuat suara dan menghasilkan gambar yang serentak dapat dilihat dan didengar. Seorang yang bernama Guido Seeber2 sanggup mengambil suara dan gambar sekaligus dan pada tahun 1901 penduduk Berlin dapat melihat “Seebers lebende, singende, sprechende und musizienrende Photografien” (Hidup Seeber, bernyanyi, berbicara, dan bermain musik fotografi).

Marey_Albert_Londe_twelve_lens_camera

Alat-alat penghubung antara gramofon dan alat-proyeksi membuktikan kegunaannya dalam hal ini. Usaha-usaha untuk menggabungkan gambar dan suara dalam filem pertama kali telah berhasil. Tiga-sekawan Vogt, Engl dan Massolle3 telah mencipta pita-filem yang diperlukan untuk filem-bicara di bioskop-bioskop. Peristiwa ini terjadi di tahun 1923 dalam pengambilan gambar diplomat Jerman, Gustav Stresemann. Di Amerika, Lee de Forest juga mencapai hasil-hasil yang sama dengan filem “bicara”nya. Namun demikian baru di tahun 1927 para penonton dapat melihat filem-bicara dan menyanyi sebagai barang impor dari Amerika.

Dan peristiwa ini memang dapat dikatakan cepat berkembang.




Last Updated on Wednesday, 16 February 2011 15:55
Read more...
 
Membicarakan Filem Indonesia: Di Tangan Borjuis Kelontong, Filem Hanya Barang Dagangan PDF Print E-mail
Written by Sjumandjaja Diselaraskan oleh Biro Litbang Forum Lenteng   
Monday, 08 November 2010 14:28

(Available only in Bahasa Indonesia)

 

Pada rubrik Kronik kali ini, Jurnal Footage menghadirkan tulisan Sjumandjaja “Membicarakan Film Indonesia: Di Tangan Borjuis Kelontong, Film Hanya Barang Dagangan” yang dimuat pada majalah Analisa terbitan 24 Juli 1977.

Ditulis oleh Sjumandjaja di tahun ketika industri perfileman Indonesia kembali bangkit usai revolusi tahun 60an. Di tahun ini pula (1977), adalah tahun paling produktif dalam sejarah sinema Indonesia yang menghasilkan 124 filem. Namun produktivitas perfileman Indonesia di masa itu juga telah melahirkan persoalan tentang industri perfileman, pendidikan filem dan pengaruhnya bagi masyarakat yang dibahas oleh Sjumandjaja dengan tegas dan ‘keras’ dalam tulisan ini. Di tahun yang sama dengan terbitnya tulisan ini, terjadi peristiwa bersejarah dalam perfileman Indonesia dimana tidak ada pemenang untuk penghargaan Filem Terbaik pada Festival Film Indonesia 1977.

[ ] filem Indonesia dewasa ini dibuat oleh para produser betul-betul semata-mata sebagai alat hiburan dalam arti yang tidak selalu sehat. Produser filem kita menampakkan diri terutama sebagai pedagang impian (merchant of dreams), dalam posisi demikian si produser memang tidak memijakkan kakinya di bumi Indonesia sebab mimpi yang indah toh senantiasa berkisah mengenai dunia yang tidak selalu kita kenal. [kesimpulan Dewan Juri setelah menonton 27 filem cerita dalam Festival Filem Indonesia 1977].

 

Redaksi melakukan sunting bahasa pada tulisan ini, tanpa mengurangi makna dan gaya bahasa Sjumandjaja.


SJUMAN_RIF_005

Kalau kita coba menilai filem dalam hubungan dengan budaya pop yang kini berkembang di Indonesia, maka jelas dia adalah media massa. Lantas kita bertanya mengenai soal fungsi filem; mau kemana perkembangan filem Indonesia? Ini sebuah pertanyaan lama. Festival-festival filem telah mengemukakan pertanyaan serupa yang dianggap kontroversi. Pertanyaan ini saja sudah menunjukkan kegelisahan dalam kalangan orang-orang filem sendiri.

Memang ada alasan untuk gelisah. Sebab sinematografi di Indonesia lahir dan berkembang dan berada di bawah kegiatan mereka yang bukan seniman filem. Dia berada dibawah kegiatan bisnis. Dan celakanya, bukan dibawah kapitalis-kapitalis atau borjuis-borjuis kelas wahid atau bisnis kelas satu, tetapi berada di bawah kekuasaan orang bisnis kelas ‘kelontong’. Pedagang kelontong. Borjuis kelontong.

SJUMAN_RIF_007




Last Updated on Monday, 08 November 2010 22:00
Read more...
 
« StartPrev1234567NextEnd »

Page 1 of 7

Figure_!

abduh-aziz
adel-pasha
afrizal-malna
alexis-tioseco
andre-bazin
Apichatpong-Weerasethakul
bagasworo-aryaningtyas
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
d-a-peransi
edwin
eric-rohmer
federico-fellini
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
hafiz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-gabriel-periot
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
joris-ivens
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
luchino-visconti
marina-abramovic
messieurs-delmotte
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
ritwik-ghatak
satyajit-ray
sjumandjaja
slavoj-zizek
tintin-wulia
toshio-matsumoto
vittorio-de-sica

≈ (copyleft) 2009-2011 @jurnalfootage.net, Forum Lenteng. ISSN 1979-5009 ≈