⟩⟩⟩  
English

Kronik_!

usmarismail-1
sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8
sejarah9
sejarah10
var02
var03
var04
var05
var06
var07
sjumandjaja-1

Komentar.Terakhir_!

Statistik_!

Anggota : 894
Konten : 213
Jumlah Kunjungan Konten : 709774

Sedang.Online_!

Kami memiliki 66 Tamu online
You must have Flash Player installed in order to see this player.
Estetika Realitas: Neorealisme (Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Andre Bazin   
Jumat, 24 Oktober 2008 13:35

Menutup sesi pemutaran dan pembahasan Neorealisme Italia di Senin Sinema Dunia #3 (SSD) Forum Lenteng, Jurnal Footage menghadirkan bahasan estetik panjang André Bazin yang menjadi latar gerakan sinema pasca Perang Dunia II. Tulisan ini pernah dimuat dalam Footage Internal—yang dibagikan secara terbatas kepada anggota Forum Lenteng—Nomor 7, April 2008, Tahun I yang diterjemahkan oleh Mirza Jaka Suryana dari bahasan, “An Aesthetic of Reality: Neorealism (Cinematic Realism and the Italian School of the Liberation)”, dalam What is Cinema? Volume II, Kumpulan Esai Pilihan, terjemahan Hugh Gray, University of California Press, Berkeley dan Los Angeles, 1971, h. 16-40. Jurnal Footage menambahkan beberapa keterangan (judul filem, keterangan nama, dan catatan kaki) untuk memudahkan pembaca memahami konteks tulisan yang inspiratif ini.


Selamat membaca.

 

01-bazin
André Bazin

 

- -

Kepentingan historis atas filem Paisà (1946), Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu (FW. Murnau,1922), Die Nibelungen (Fritz Lang, 1924), atau Greed (Von Stroheim,1924). Saya tunduk setulusnya pada pujian tinggi ini, selama penyebutannya bersama ekspresionisme Jerman itu dipahami untuk merujuk tingkat kebesaran filem dan bukan sifat kedalaman estetik pembuatnya. Perbandingan yang lebih baik bisa pula diajukan bersama filem Potemkin di tahun 1925. Selebihnya, realisme filem-filem Italia masa kini sudah seringkali dihadapkan dengan estetikisme Amerika dan sebagian, dengan hasil-hasil produksi Prancis. Bukankah sejak awal, filem-filem tersebut telah meremukan realisme yang mencirikan filem-filem Rusia ala Eisenstein, Pudovkin, dan Dovzhenko sebagai karya revolusioner baik dalam seni maupun politik, atau sebaliknya, kepada estetikisme filem-filem Ekspresionis Jerman serta pengagungan terhadap Hollywood? Paisà, Sciuscià (Vittorio de Sica, 1946) dan Roma Città Aperta (Rosselini, 1946), seperti juga Potemkin, telah mengawali pertentangan berlarut-Iarut antara realisme dengan estetikisme di dalam filem. Namun sejarah takkan berulang; kita mesti menerangkan bentuk tertentu pertikaian estetik itu ditinjau pada saat ini, sebuah jalan-keluar tempat neorealisme Italia berutang kejayaan di tahun 1947.

Selanjutnya...
 
Tiga Filem Seminggu PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ronny Agustinus   
Senin, 13 Februari 2012 11:26

Ingatan saya akan filem-filem yang paling berkesan semasa kecil sebagiannya tak bisa dilepaskan dari ingatan akan almarhum ayah saya. Salah satu yang paling tak lekang: The Birds (Hitchcock, 1963), yang ayah setel di video Betamax kami sesudah makan malam. Tentu saja saat itu –sekitar medio 1980an dan saya masih kelas 3 SD—belum ada pengetahuan sinematik dan tetek bengek filosofis yang saya tangkap dari filem Hitchcock itu selain ceritanya yang horor. Saya hanya mengenal Alfred Hitchcock sebagai pengarang serial Trio Detektif (dan nanti setelah dewasa saya tahu bahwa Hitchcock juga bukan pengarang serial itu!)

Filem lainnya adalah Hamburger Hill (John Irvin, 1987), yang kami tonton di Bioskop Ria sore hari selepas ayah pulang kerja, sebuah filem perang yang tak biasa karena pasukan Amerika di situ (“lakoné,” menurut istilah kami; atau jagoannya) bisa kalah telak dan melarikan diri! (nanti pula sesudah dewasa saya tahu filem ini adalah kisah nyata tentang korupsi dan kebobrokan moral dalam militer AS yang ikut menyumbang kegagalan aksi militer mereka di Vietnam). Lewat Papillon (Franklin J. Schaffner, 1973) ayah mengajarkan bahwa ombak ketujuh di pantai selalu adalah ombak terbesar. Dari ayah pula saya pertama kali tahu arti kata “seksi”, yang diucapkannya sehabis menonton sebuah filem Indonesia yang tak saya ingat benar judulnya.

buku-klub-film

Segala kenangan tentang filem dan ayah menye­ruak hebat saat saya membaca buku The Film Club karya David Gilmour pada 2008 lalu. Saking tercenungnya, saya hanya mampu menulis­kan kesan-kesan pendek seusai membacanya, dan baru berniat mengulasnya lebih panjang setelah tahu buku ini telah diindonesiakan menjadi Klub Film (Gramedia Pustaka Utama, Desember 2011, terjemahan P. Herdian Cahya Krisna). Meski demikian, saya belum membaca edisi Indonesianya dan tetap memakai buku aslinya sebagai rujukan, sehingga tidak bisa berkomentar lebih jauh mengenai kualitas terjemahannya.

David Gilmour adalah novelis dan kritikus filem Kanada. Ia juga seorang ayah. Jesse, anak lelakinya, adalah seorang remaja SMU beranjak dewasa, dan karenanya, tengah mengalami fase-fase pembangkangan yang dialami remaja manapun di dunia. Ia ogah sekolah, tak pernah bikin PR, tak punya tujuan jelas dalam hidup. Singkat kata: Galau. Mungkin rumah tangga Gilmour sendiri berpengaruh terhadap kondisi psikologis Jesse, meski saya tak yakin. Gilmour telah bercerai dari Maggie, ibu Jesse, dan kini tinggal dengan perempuan lain, sementara Jesse tinggal bersama ibunya.

Selanjutnya...
 
Membaca Sebuah Filem dari Poster Dalam Pameran The Art of Film Poster in Japan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Mahardika Yudha   
Kamis, 09 Februari 2012 01:46

(Liputan perjalanan Mahardika Yudha dari Jepang)

 

Membaca perkembangan sejarah sinema suatu negara bisa dilakukan dengan berbagai metode dan sudut pandang. Bisa melalui tokoh-tokoh dan filem-filem yang telah menginspirasi atau berpengaruh pada suatu masa, melalui teknologi, atau bahkan penonton. Banyak subyek yang bisa diteliti dari seni ketujuh, seni yang dikatakan sebagai seni yang kompleks, sinema. Dari sekian banyak pilihan subyek itu, dalam pameran The Art of Film Poster in Japan yang telah berlangsung sejak 7 Januari lalu hingga 31 Maret 2012 memilih poster sebagai salah satu artefak untuk membaca bagaimana perjalanan sejarah sinema di Jepang.

05
Lelaki sebelah kiri adalah Hidenori Okada, kurator dalam pameran ini. Di belakangnya tampak poster-poster pada tema Paintings, Illustrations, and Graphic Novels.

Pameran yang dikuratori Hidenori Okada1 ini terbagi menjadi empat kategori; The Dawn of Modernism; Painting, Illustrations, and Graphic Novels; Art Poster Guild!; dan Cinema Goes Graphic. Keempat kategori disusun berdasarkan geneologi perkembangan artistik seni poster dari periode modern hingga kontemporer. Tidak hanya dinilai dari artistik pada poster filem itu sendiri yang kemudian hanya jatuh pada sudut pandang ‘seni grafis’ saja, tetapi juga dinilai dari segi nilai artistik dalam filem-filem yang posternya dipamerkan.

17
Hidenori Okada, kurator pameran ini.

Pilihan kuratorial ini menarik. Apalagi karena pameran ini diselenggarakan di National Film Center yang tentu lebih memilih poster-poster dari filem-filem yang berpengaruh dan penting dalam sejarah sinema di Jepang. Pameran ini memunculkan nama-nama di sekitar sutradara filem yang juga secara tidak langsung memiliki andil besar terhadap filem itu sendiri karena telah berhasil membuat "sinopsis filem dalam grafis" dan menghubungkannya kepada publik.

Dalam pengantar katalog, dituliskan satu kalimat yang cukup menarik, “why this poster for that film?”.2 Kalimat ini tentu menjadi pertanyaan besar juga bagi siapa pun yang melihat pameran ini. Poster yang semula menjadi media promosi pada saat peluncuran filem yang disinopsiskannya (dan ditempel di jalan-jalan) telah bergeser di dalam ruang galeri. Ia telah menjadi benda seni yang mampu berbicara banyak. Judul filem, nama sutradara, ataupun kru, serta tanggal penayangan hanya sebagai identifikasi sejarah dan peristiwa. Sudut pandang artistik tentang sebuah desain yang berhasil menerjemahkan filemnya lah yang menjadi penting. Bagaimana hubungan antara desain dan konten filem mampu terkoneksikan dan dimaknai oleh penonton pameran. Disitulah letak jawaban dari pertanyaan, “why this poster for that film?”.

Selanjutnya...
 
Verismo! Luchino Visconti dalam Bumi Bergolak | La Terra Trema (1948) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Jurnal Footage   
Kamis, 09 Februari 2012 00:02

What we are really attempting is not to invent a story that looks like reality, but to present reality as if it were a story.
—Zavattini

 

(Catatan Menonton Bumi Bergolak (La Terra Trema) di Senin Sinema Dunia. Senin, 9 Januari 2012)

Banyak kalangan menyatakan bahwa Pencuri Sepeda (Ladri di Biciclette, 1948) karya Vittorio de Sica, merupakan puncak dari pencapaian gaya realisme sinematis dalam gerakan Neorealisme Italia. Sebagai seni pembebasan, Neorealisme Italia justru melahirkan cabang yang tidak sekedar dirujuk pada satu gaya filem saja, sehingga gerakan ini membentuk banyak puncak-puncak pencapaian dalam sinema. Filem Bumi Bergolak (La Terra Trema, 1948) karya Luchino Visconti, adalah karya filem di periode yang sama dengan Pencuri Sepeda dan merupakan satu di antara puncak-puncak gerakan ini.

SSD-9

Dua karya yang tersebut di atas, pada akhirnya membentuk dua posisi dari kalangan teoritikus dan kritisi filem Italia.  Pada 1950an, setidaknya ada dua posisi pandangan. Yang pertama, Zavattini, memandang Neorealisme sebagai usaha pembebasan terhadap realisme yang disandarkan sepenuhnya pada kamera yang mengurai peristiwa. Melalui ini, Zavattini menggali pengetahuan bersama "spectacle", seolah sebuah cerita tentang orang-orang itu merupakan "cerita" diri mereka sendiri.

Selanjutnya...
 
What is Cinema? Volume II PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Jurnal Footage   
Sabtu, 04 Februari 2012 17:42
Bicara dengan André Bazin, seperti berendam di Sungai Gangga layaknya orang-orang Hindu.
—(François Truffaut, 1971)

 

what-is-cinema-ii

Pada edisi ini, Jurnal Footage memuat Volume kedua What is Cinema? (Qu'est-ce Que le Cinéma?), André Bazin 1972 (cetakan kedua), terjemahan Hugh Gray di tahun yang sama. Volume kedua buku ini, yang telah menjadi acuan utama dalam "membaca" sinema pasca Perang Dunia II, kata pengantarnya ditulis oleh François Truffaut. André Bazin pertama bertemu dengan Truffaut pada 1948, di saat memulai kerjanya sebagai editor di Cahiers du Cinéma. Hubungan dua tokoh penting sinema Prancis ini sangat dekat. Pada 1952, waktu Truffaut ditahan karena lari dari kewajibannya sebagai tentara, Bazin menggunakan koneksi politiknya untuk dapat membebaskan kawannya tersebut. Beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Truffaut pun menjadi salah satu edtor di Cahiers du Cinéma. Ia dianggap salah satu kritikus paling brutal pada masanya, hingga ia diberi predikat "The Gravedigger of French Cinema" (Sang Penggali Kubur Sinema Prancis).

(Untuk mengunduh buku, silakan buka tautan ini dan login. Lihat gambar ini untuk lebih jelasnya)

 

Tentang André Bazin

andre-bazin_420

André Bazin mulai menulis pada 1943 dan salah satu yang mendirikan Cahiers du Cinéma pada 1951 bersama Jaxques Doniol-Valcroze dan Joseph-Marie Lo Duca. Ia adalah salah satu tokoh penting yang menghadirkan studi-studi filem pasca Perang Dunia II. Sejak menjadi salah satu editor di Cahiers du Cinéma hingga kematiannya, Bazin telah melahirkan empat edisi koleksi tulisan-tulisannya. Bazin percaya bahwa filem seharusnya merupakan representasi visi personal sutradara. Pandangan inilah yang menjadikan berkembangnya teori auteur.

 
Edwin: Filem Seharusnya Permainan Imajinasi yang Ada Ekspektasi PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Jurnal Footage   
Kamis, 02 Februari 2012 22:10

Di penghujung tahun 2011 lalu, kami mendapat berita dari seorang kawan bahwa salah satu sutradara Indonesia masuk dalam sesi Kompetisi Utama, International Competition Berlinale 2012 (Berlin International Film Festival). Filem itu berjudul Kebun Binatang (Postcards From The Zoo), karya Edwin yang merupakan salah satu tokoh penting dalam gerakan filem di luar industri filem mainstream di Indonesia. Bagi kami, masuknya Edwin dalam salah satu kompetisi di festival filem dan penghargaan The Big Four (Berlinale, Cannes, Venice dan Academy Award-Oscar) adalah sebuah capaian penting dalam sejarah sinema Indonesia. Menurut sebuah sumber yang belum dapat kami konfirmasi ke Berlinale, filem Badai Selatan, karya Sofia W.D. pernah masuk dalam sesi kompetisi di Berlinale tahun1962. Terlepas dari benar atau tidak, hingga saat ini tidak pernah satu karya sutradara Indonesia pun yang pernah masuk dalam empat ajang besar dunia tersebut dalam sesi kompetisi. Kebun Binatang akan berkompetisi dengan filem-filem dari Spanyol, China, Hongkong, Filipina, Inggris, Jerman, Amerika Serikat dan Prancis. Sesuai dengan program Jurnal Footage untuk melakukan wawancara mendalam dengan para pelaku filem dan video Indonesia, kami melakukan wawancara dengan Edwin, yang sebenarnya sudah disiapkan jauh sebelum ‘berita gembira’ di atas kami terima. Selasa, 3 Januari 2012, Jurnal Footage melakukan wawancara dengan sutradara yang pernah meraih Piala Citra Festival Film Indonesia untuk kompetisi filem pendek ini di Kedai Tjikini, Jl. Cikini Raya 17, Jakarta Pusat. Hadir pada wawancara yang hangat ini, Hafiz (editor), Akbar Yumni (editor) dan Syaiful Anwar (kamera). Selamat membaca dan menikmati.

02

Hafiz: Pertanyaan awal, cerita sedikit kenapa lu memilih filem, masuk (kuliah) di IKJ (Institut Kesenian Jakarta)?

Edwin: Kenapa? Mungkin cuma karena suka sama filem. Tertarik sama filem dari dulu. Dari kecil suka nonton filem. Kuliah, tinggal dan lahir di Surabaya. Sampai umur 20 tahun, pada tahun 1999 pindah ke Jakarta dan kuliah di IKJ. Tadinya, kuliah desain grafis di Surabaya. Baru tahu ada sekolah tentang filem di Jakarta, ada rasa penasaran, kenapa filem harus dipelajari? Berangkat ke Jakarta, dan lihat sekolahnya kayak gimana. Secara insting mengatakan, “kalau lulus di desain grafis, kuliah lagi di IKJ”.

Hafiz: Lu selesaikan kuliah di Surabaya?

Edwin: Selesai (lulus). D3 Diploma Desain Grafis.

Hafiz: Filem apa yang menempel di kepala lu?

Edwin: Kalau nonton kebanyakan filem-filem Hollywood. Yang nempel itu Indiana Jones, filem Steven Spielberg. Yah… kayak gitu saja sih.

Selanjutnya...
 
« MulaiSebelumnya12345678910BerikutnyaAkhir »

Halaman 1 dari 30
≈ (copyleft) 2009-2011 @jurnalfootage.net, Forum Lenteng. ISSN 1979-5009 ≈