Aneka No. 22 THN VI, 1 oktober 1955
Sebenarnya seni-filem telah sampai dijalan yang baik pada akhirnya zaman filem-bisu. Dan kedatangan filem-bicara dapat mengubah kenyataan ini. Dunia girang melihat teknik yang sanggup membikin Al Jolson berbicara dan bernyanyi di layar putih, sehingga orang suka melupakan apa yang sudah tercapai. Sebab manusia seperti anak-anak yang terganggu setiap menemukan cara-baru. Keinginan untuk membuat manusia berbicara di gambar hidup telah dilakukan di masa Lumière. Kalau ditilik dari sudut teknik dapat dikatakan filem-bicara mempunyai ijazah yang lebih tua dari pada tahun 1892. Saat itu orang telah mengetahui kombinasi fonograf-gambar-hidup pada alat chronophotophone ciptaan orang Prancis, Georges Demenÿ1. Sudah menjadi kebiasaan (dalam dunia industri) kaum explicature turut bermain sehingga mereka melakukan suatu percobaan untuk menciptakan filem-bicara. Kelak karya-karya explicature itu mengeser orkestra dalam pertunjukan filem dan orang pun dapat mendengarkan musik dalam filem. Mulanya dipergunakn gramofon dan alat-alat yang dapat membuat suara dan menghasilkan gambar yang serentak dapat dilihat dan didengar. Seorang yang bernama Guido Seeber2 sanggup mengambil suara dan gambar sekaligus dan pada tahun 1901 penduduk Berlin dapat melihat “Seebers lebende, singende, sprechende und musizienrende Photografien” (Hidup Seeber, bernyanyi, berbicara, dan bermain musik fotografi).

Alat-alat penghubung antara gramofon dan alat-proyeksi membuktikan kegunaannya dalam hal ini. Usaha-usaha untuk menggabungkan gambar dan suara dalam filem pertama kali telah berhasil. Tiga-sekawan Vogt, Engl dan Massolle3 telah mencipta pita-filem yang diperlukan untuk filem-bicara di bioskop-bioskop. Peristiwa ini terjadi di tahun 1923 dalam pengambilan gambar diplomat Jerman, Gustav Stresemann. Di Amerika, Lee de Forest juga mencapai hasil-hasil yang sama dengan filem “bicara”nya. Namun demikian baru di tahun 1927 para penonton dapat melihat filem-bicara dan menyanyi sebagai barang impor dari Amerika.
Dan peristiwa ini memang dapat dikatakan cepat berkembang.
Serentak dengan adanya filem-filem bicara ini, yang dengan meriah dipertunjukkan di bioskop-bioskop, dipertunjukkan pula filem-filem sandiwara. Para penonton merasa girang, kalau dapat mendengar sri-panggung berbicara, mengeluh dan bernyanyi di layar putih.
Namun para pencipta filem menjadi lupa dengan bahasa gambar, dengan sendirinya melupakan seni-filem. Mereka segera mencipta filem-filem yang mempunyai dialog-dialog panjang dan gambar-gambar yang lama tak bergerak, agar apa yang diucapkan dapat didengar dan ditangkap penonton. Dengan cara kemudian, bahasa gambar pun menjadi tidak penting! Arah pikiran yang seharusnya dapat dilakukan oleh dialog-dialog gambar menjadi takluk pada dialog-dialog suara sebagaimana telah dilakukan oleh teater dan tak ada sangkut pautnya dengan filem. Rupa-rupanya mereka tak lagi menghargai gambar filem yang terlepas dari suara filem.
Setelah filem-bicara yang tiba-tiba meledak dan menyedihkan itu menjadi suatu kenyataan. Dan setelah mukjizat baru itu dielu-elukan dengan meriah di seluruh dunia. Timbul pertanyaan dalam diri orang-orang yang cinta seni-filem-otonom: Apakah yang akan diperbuat avant-garde? Film-bicara tiba-tiba menelan berpuluh ribu rupiah (dahulu produksi filem hanya memakai ribuan rupiah).

Guido Seeber
Pencipta-pencipta filem avant-garde yang merdeka dan berdiri sendiri tak sanggup mengumpulkan uang. Mereka pun di persimpangan jalan: Apakah akan terus mencipta filem-bisu yang tidak mendapat perhatian lagi atau menggabungkan diri pada industri filem.
Industri filem suka menerima avant-gardis–avant-gardis itu dengan tangan terbuka, bukan karena mereka menghargai bakat atau keahlian dan pengalaman tehnik yang dimiliki para avantgardis itu, tetapi semata-mata karena mereka sadar sebagian penonton suka akan “ke-artistikan” pelopor-pelopor itu.
Jadi karena kehadiran filem-bicara, avant-garde terpaksa menutup kompromis yang dibenci mereka, yakni mencipta yang menurut isi dan kelancaran bentuknya mudah memikat publik, walaupun filem-filem itu sebetulnya telah memperlihatkan unsur-unsur keahlian pemakaian alat dan sebagai bukti bagaimana mereka memahami teori filem dan kemungkinan-kemungkinan artistik.
Untuk kebanyakan pencipta filem yang sungguh-sungguh kompromis ini adalah suatu perjuangan yang menentang unsur baru, yakni suara. Dan penemuan kemungkinan-kemungkinan sebagai hasil dari perjuangan ini adalah suatu tontonan yang sangat memikat bagi penggemar-penggemar filem. Industri-filem memberikan tugas kepada avant-gardis–avant-gardis untuk menyelidiki dan mempergunakan kemungkinan-kemungkinan suara dalam filem. Tata bahasa filem-bisu mesti mereka perlengkapi, mungkin juga mesti mereka palajari dengan teliti. Mereka buat suara sebagai pengikut dari bermacam-macam kejadian yang tampak. Nada orkes simfoni yang tak putus-putusnya dan membanjiri filem mulai dari meter pertama sampai ke meter penghabisan, bagi mereka juga terlampau berlebih-lebihan.

Tiga-sekawan Vogt, Engl dan Massolle

Tri-Ergon
Para avant-gardis lebih suka kesunyian sebagai dasar filem. Mereka hanya memakai suara kalau suara itu mempunyai arti tersendiri. Selain itu mereka sudi menerima suara sebagai unsur fitri kalau makna gambar-gambar itu menjadi lebih kuat.
Salah satu percobaaan filem-bicara yang pertama telah dilakukan oleh Walter Ruttmann dalam filem Melodie der Welt (1929), suatu filem reklame untuk suau perusahaan kapal besar.
Dengan sengaja ia tak mempergunakan suara dalam filem ini. Dalam adegan-adegan itu penonton dapat ‘mendengar’ dari sesuatu yang tak terdengar. Umpamanya tiupan sangkakala, geseran-geseran rantai dan suara-suara lain yang biasa kita dengar dalam bilik-bilik kapal besar. Sementara itu penonton melihat gambar kapal, pelabuhan, geladak dan sebagainya. Gambar dan suara masing-masing menceritakan sesuatu, tetapi ada hubungannya satu sama lain. Akibatnya untuk penonton adalah: pemandangan yang jauh lebih luas. Dengan demikian, dialog-dialog pun tak diperlukan!
Anatole Litvak4 umpamanya berkali-kali hanya memperlihatkan reaksi kata-kata yang diucapkan dalam filem (dicoba dalam filemnya, Mayerling (1936)), dan bukan oleh tokoh yang berbicara.
Suatu contoh klasik tentang kesetaraan gambar dan suara telah diberikan Robert Siodmak5 dalam filem Voruntersuehung (1931). Dalam filem ini tampak suatu adegan pemeriksaan perkara yang dilakukan di malam hari, dimana seorang tertuduh untuk kesekian kalinya ditarik dari katilnya untuk diperiksa kembali. Di suatu bilik yang sunyi, komisaris polisi dengan gelisah berjalan kian kemari di belakang orang tertuduh itu. Tiap kali ia berputar, digeseknya pensilnya di pipa-pipa alat pemanas kamar yang tampak pada dinding. Gerak-gerak yang tampak dalam filem ini memang tidak hebat, delapan langkah ke kiri delapan langkah ke kanan. Tetapi suara adalah penting disini. Sebab suara langkah-langkah dan suara pensil yang diseret di pipa-pipa pemanasan kamar itu membuat bulu roma para penonton berdiri. Tertuduh pun pada akhirnya mengaku salah.
Suatu pemakaian yang tepat dari montase suara tampak juga dalam filem ciptaan Julien Duvivier, La Fin du Jour (1939). Film ini bercerita di sebuah rumah penginapan untuk seniman-seniman miskin yang telah dilupakan. Siang hari mereka saling menceritakan zaman gemilang mereka walaupun ceritanya dilebih-lebihkan. Kalau malam hari tiba, para penghuni penginapan mengundurkan diri ke dalam kamarnya masing-masing dan kamera bergerak perlahan dari pintu-pintu. Di belakang pintu itu penghuninya memimpikan zaman lampau. Dari tiap pintu terdengar tampik sorak yang lambat laun menghilang.
La Fin du Jour
Istimewanya bangsa Rusia mula-mula sangat ahli dalam mencipta pertentangan antara yang dapat dilihat dengan yang dapat didengar. Seorang pendeta berbicara dipenjara tentang damai dan kasih, sedang di bawah bangku-bangku penjara tampak senjata. Sebagai contoh dapat juga diambil filem Belanda ciptaan Max de Haas, Ballade van de Hoge Hoed de Ballad (1936). Dalam suatu konferensi perdamaian para diplomat sedang membubuhi tanda-tangannya untuk perjanjian damai. Sementara itu kedengaran dentuman meriam-meriam dan letusan senapan mesin.
Dari contoh-contoh ini tampak bahwa avant-garde di jalan yang benar dalam usaha menyelidiki arti suara dalam filem. Sekali lagi, dengan jalan montase. Sayang sekali perkembangan ini tidak diteruskan. Kesulitan-kesulitan ekonomi membuat banyak pencipta filem meninggalkan usahanya. Filem-bicara zaman sekarang, hanya sedikit mengenal perkembangan yang menginspirasikan. Apalagi di zaman sekarang perkataan dialog dalam filem sering melumpuhkan gerak dan tempo. Filem-bicara awal para avant-gardis sangat termasyhur karena dialog-dialognya yang pendek dan tajam. Hanya kalau gambar tidak mencukupi, barulah mereka rela memakai perkataan yang diucapkan yang fungsinya sebagai penegasan dan penjelasan. Selain itu perkataan-perkataan yang diucapkan dapat kehilangan artinya sama sekali dalam filem-filem yang indah seperi dalam filem Friedrich Feher, The Robber Symphony (1936). Dalam filem ini tampak seorang tertuduh meceritakan kejadian-kejadian pada hakim yang lambat laun beralih menjadi bayangan ayam berkotek yang membuat arti-arti kata hilang lenyap.
Suatu kemungkinan baru yang dicipta oleh suara, adalah pemakaian kesunyian (silence). Dalam filem-filem tanpa suara. Kesunyian terjadi setelah ada suara, jadi atas kurnia suara, seperti bayang karena cahaya. Suatu kamera mengelana di medan pertempuran yang telah ditinggalkan. Terasa oleh penonton suatu kesunyian yang mengerikan. Terutama karena lokasi itu terjadi kekejaman-kekejaman yang meresap di dalam hati sewaktu pertempuran sedang berkecamuk. Kekejaman yang telah lenyap itu dan kicauan seekor burung dengan tangkas menegaskan kesunyian sebagai unsur yang dramatis.
Dan apakah pengaruh musik dalam filem? Mula-mula para avant-gardis mengelakkan musik dalam filem-bicara. Mereka masih mencipta filem-filem bisu karena menurut pandangan mereka kebanyakan suara sama saja dengan kebanyakan musik. Memang ada benarnya: kalau musik tidak merdeka (berdiri sendiri) dan seharusnya musik itu harus takluk pada gambar. Jadi adalah suatu kesalahan besar kalau gambar-gambar pada filem itu menjadi tak berarti karena “dihiasi” dengan musik-klasik seperti banyak terjadi dengan filem-filem zaman sekarang. Sebagai contoh dapat kita ambil filem-filem dokumenter dan filem “Fantasi” ciptaan Walt Disney.
Demikianlah dalam garis besarnya penemuan-penemuan dan pendapat-pendapat hakiki yang dapat dikorek para avantgardis dari permulaan zaman filem-bicara. Mereka telah menghasilkan beberapa teori asasi yang perlu untuk estetika filem-bicara.
- - - - -
1 Seorang pengusaha dari Prancis, pembuat filem, kronofotografer, dan olahragawan senam.
2 Salah seorang pioner di masa-masa awal kelahiran sinema dari Jerman. Ia telah melakukan beberapa eksperimentasi dengan suara bersama F.W. Murnau, Wilhelm Pabst, Paul Wegener. Ia juga melakukan banyak percobaan tentang special effects dalam filem.
3 Tiga sekawan (The Work of Three) ini dikenal sebagai Tri-Ergon, Josef Engl, Hans Vogt dan Joseph Massolle. Mereka adalah para pengusaha (investor) dari Jerman (imigran Yunani) yang mendukung penelitian terhadap suara dalam filem melalui penciptaan proyektor-proyektor yang dapat memutar filem bersuara.
4 Mikhail Anatole Litvak, seorang pembuat filem Yahudi dari Ukraina.
5 Robert Siodmak sutradara Amerika kelahiran Jerman.






















Twitter
Digg
Del.icio.us
Reddit
StumbleUpon
Slashdot
Yahoo
Blogmarks
Technorati
Googlize this
Facebook
















































asik sekali tulisannya, mas roni :) siap meluncur ke toko buku ter...
saya merasakan hal sama bahwa menonton film adalah pekerjaan. saya ...
terima kasih ....... inspirasi
terima kasih .......... inpirasi
Halo, Terima kasih atas dimuatnya artikel tentang buku yang nampak...
Buku Mantap! (via facebook)