I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen PDF Print E-mail
Written by Mirza Jaka Suryana   
Sunday, 10 May 2009 15:44

(Only in Bahasa Indonesia)

Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang tinggi, festival ini tetap memberi magis bagi orang-orang seluruh dunia untuk datang dan merayakan. Saking besarnya festival filem pendek ini, sampai-sampai Direktur Festival Oberhausen, Lars Henrik Gass, menyatakan, “Filem pendek sudah mati, tapi tidak di Oberhausen.” Klaim ini tentu tidak berlebihan mengingat pengalaman selama 55 tahun penyelenggaraan sukses festival di sebuah kota kecil, di Jerman bagian Barat.

Di tengah isu flu babi yang meluas dan menjadi berita utama di berbagai media dunia, festival filem pendek internasional Oberhausen tetap berlangsung meriah. Setiap pagi hingga malam hari, ruang festival penuh sesak. Tidak hanya menonton filem atau menghadiri podium yang terletak tidak jauh dari bioskop Lichtburg, tempat di mana pemutaran berlangsung, tetapi juga disesaki oleh banyaknya orang yang hanya sekadar berbincang akrab. Tempatnya yang terpusat membuat festival filem Oberhausen menjadi tempat yang tepat untuk bersosialisasi. Semua orang tampak akrab, meski baru mengenal satu sama lain mungkin hanya dalam beberapa menit saja. Ini menjadi salah satu kelebihan penyelenggaraan festival di kota kecil dengan tempat terpusat. Acara dimulai pada pukul sepuluh pagi waktu setempat dan berakhir sekitar pukul satu dini hari. Begitu setiap hari, dari tanggal 30 April-5 Mei 2009. Aura kelelahan juga tidak tampak dari para peserta dan panitia festival, sebab setiap malam setelah pemutaran berakhir, mereka berkumpul di sebuah lounge, sekitar tiga blok dari bioskop hingga pukul empat pagi. Di sini, setiap orang kembali bersosialisasi tanpa mengenal batasan berarti.

Unreal Asia: Pembanding Sejarah Tertulis
Tema Festival tahun ini cukup istimewa. Setelah tahun sebelumnya festival filem pendek internasional Oberhausen mengangkat tema cukup mencengangkan, Whose History, kali ini tema yang diangkat tidak kalah menarik. Unreal Asia. Menurut kuratornya, Gridthiya Gaweewong dan David Teh, tema Unreal Asia ingin mengangkat sejarah tidak resmi yang tak pernah tertuliskan dalam buku sejarah mengenai Asia.

Sebanyak 71 filem diputar pada program selama lima hari yang terbagi dalam tema-tema sebagai cara untuk membaca Asia kekinian. Yang menarik, jika dibandingkan dengan keyakinan rasional Barat, banyak orang Asia percaya bahwa metode keilmuan empirik bukanlah satu-satunya cara untuk mendapat pengetahuan. Epistemologi Asia bercampur baur dengan kepercayaan akan pemujaan pada leluhur dan animisme. Dua hal ini seakan menjadi cara untuk tetap bertahan di tengah derap moderenisasi dan globalisasi. Geliat transisi negara agrikultur menuju moderen di berbagai negara Asia mungkin tampak jelas, namun secara mental, seperti ditulis oleh Gaweewong dan Teh, keyakinan ‘irasional’ lawas ini memainkan peran penting dalam gaya hidup Asia. Budaya Konfusian, tradisi Budhisme, Islam, feng shui, ramalan dan remeh-temeh supranatural masih menghiasi sebagian besar ruang hidup orang Asia.

Menyaksikan filem-filem yang diputar pada program Unreal Asia seperti menyaksikan keterpecahan Asia. Meski dalam cara pandang kebanyakan orang-orang Asia tidak jauh berbeda, tapi luasnya geografi menolak kemungkinan penyatuan perspektif. Belum lagi keterpecahan ideologis sebagai hasil dari kondisi yang diciptakan selama Perang Dingin. Asia, sebagaimana negara-negara yang secara tidak adil disebut sebagai ‘dunia ketiga’, menjadi ajang dari perang perwakilan kepentingan antara blok barat dan timur (kapitalis-liberal dan sosialis-komunis). Lahirnya ASEAN, sebagai wadah bersatunya negara-negara Asia Tenggara, ternyata hanyalah sebuah rekayasa yang sangat beraroma partisan. Waktu itu, pendirian ASEAN tidak lebih dari hasil kesepakatan negara-negara pro barat (kapitalis-liberal), sebab tidak ada satupun negara yang berideologi komunis menjadi anggota sejak pendiriannya tahun 1967, sebelum Perang Dingin berakhir (Vietnam menjadi anggota ASEAN pada 1995, sedang Laos dan Myanmar pada 1997).

Warisan keterpecahan ini berlangsung hingga sekarang. Kultur filem di negara-negara Asia, terutama Asia Tenggara, juga sangat sulit untuk digeneralisasi. Namun, ketika sampai pada kultur video kekinian, satu hal yang bisa diamati: Asia sedang menuju pada satu peluang demokratisasi yang meluas. Lahirnya video, dengan segala kemudahan dan kemurahan akses untuk memilikinya, telah membuat banyak hal terungkap. Bahkan, hal-hal yang dahulu tabu dibicarakan kini menjadi suatu hal yang lumrah. Di Indonesia, misalnya, sebelum kelahiran teknologi digital, sulit sekali untuk membayangkan bagaimana membicarakan masalah besar dengan begitu dekat, sesuai dengan pandangan orang-orang biasa. Kenyataan-kenyataan politik, sosial dan ekonomi sehari-hari menjadi begitu dekat dengan atau didekatkan melalui video. Pada akhirnya, video pun menjadi semacam kultur lisan baru, yang bercerita banyak mengenai kenyataan, yang jauh berbeda dengan sejarah-sejarah tertulis dan resmi.

Profil: Membaca Kembali Sejarah
Tidak hanya tema besar Unreal Asia, festival filem pendek internasional Oberhausen juga mengangkat profil-profil sutradara luar biasa. Ada lima profil yang diangkat kali ini. Mereka adalah Matsumoto Toshio, Sarajevo Documentary School, Nicholas Echevarria, Factory of Found Clothes dan Herbert Fritsch. Menurut Olaf Moeller, kurator untuk profil Matsumoto Toshio, pengangkatan profil-profil ini bukan tanpa maksud. Secara khusus, ia menyebutkan bahwa profil-profil sutradara yang kali ini diangkat dalam festival Oberhausen adalah untuk membaca sejarah lawas dan kekinian, yang sering dilupakan orang.

Kondisi represi dalam rezim diktator komunis di Yugoslavia ditampilkan dengan sangat apik dan menyentuh oleh Mazhab Dokumenter Sarajevo, yang dihadiri oleh dua orang veterannya saat pemutaran, Vefik Hadzismajlovic dan Vlatko Filipovic. Sedang realisme magis ditunjukkan sutradara Jepang, Matsumoto Toshio. Filem dokumenter luar biasa yang mengangkat keintiman antara sinkretisme religius suku Indian-Meksiko menjadi tema dalam filem-filem Nicholas Echevarria. Kelompok Factory of Found Clothes dari Rusia mencoba merealisasikan filem dengan seni pertunjukan, yang terasa segar, dengan mengangkat tema spesifik gender dan fenomena sosial. Herbert Fritsch mencoba membebaskan hasrat dengan cara-cara komikal dalam filem-filemnya.

Pemilihan profil-profil ini seakan menggiring penonton untuk membaca lagi sejarah dalam suatu perspektif yang sangat berbeda, yang hampir jarang ditemukan dalam berbagai sejarah tertulis resmi di buku-buku sekolah. Pemilihan kelima profil sutradara dan kelompok sutradara ini juga sangat mewakili dunia kekinian, terlepas dari tidak adanya sutradara Afrika yang diangkat di dalamnya.

Tempat Suci Festival Filem Pendek
Dalam sebuah wawancara, Vlatko Filipovic pernah mengatakan bahwa Oberhausen itu seperti Mekkah bagi filem dokumenter, di mana festival ini selalu merujuk pada jenis filem dokumenter kreatif yang menunjukkan kebenaran dan gaya hidup. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa festival filem pendek internasional Oberhausen menjadi salah satu tempat suci bagi para pelaku dan peminat filem pendek seluruh dunia.

Direktur Festival, Lars Henrik Gass, mengklaim bahwa penyelenggaraan festival kali ini merupakan penyelenggaraan tersukses sejak penyelenggaraan pertamanya 55 tahun lalu. Pernyataan ini didasarkan pada meningkatnya jumlah penjualan tiket dan kehadiran orang-orang dari seluruh dunia, baik sutradara, distributor, pembeli filem dan jurnalis sebanyak lebih dari 60 negara di seluruh dunia. Pada acara penutupan dan pemberian penghargaan tanggal 5 Mei 2009, Gass menyatakan, “Filem pendek itu sudah mati, kecuali di Oberhausen.”

Hits
Comments
Add New Search
vero   |125.165.73.xxx |2009-06-05 04:50:31
ayo, bikin pemutaran film-film yang masuk unreal asia di Indonesia. Kalo butuh partner, klub kajian ikj boleh lho dikontak.
akbars   |125.161.153.xxx |2009-05-13 15:06:22
kata 'sejarah tak resmi', 'orang biasa' semacam keraguan dan kesimpangsiuran, atau mungkin mengada-ngada, termasuk kata 'unreal'. Bagaimana jerman membaca asia? sialnya asia yang di jerman juga tidak berinisiatif membaca jerman (karya)... seperti halnya bach dan bethooven yang juga pernah di jerman-jermankan, asia di musium2 kan ... karena dialog bukan untuk ditunggu, menunggu negosiasi pun tak kunjung datang, tak ucap maka tak sayang teman.....
guno  - unreal asia   |61.247.6.xxx |2009-05-13 05:56:40
..kita bisa nonton filem2nya ga ya?
penasaran..
tukang pelem yang belum ada pe  - unreal asia   |125.162.85.xxx |2009-05-12 16:15:44
jadi jak. kebanyakan dari asia yang berbicara/mengangkat ttg unreal kebanyakan tentang apa ya?
bkn tukang pelem  - kata sapa film pendek uda mati   |125.161.149.xxx |2009-05-11 12:08:08
di jakarta ini khususnya di lenteng masih banyak yang suka membuat film2 pendek... kebanyakan mereka adalah mahasiswa atau komunitas2 film.. kalau di lihat mereka cukup produktif loh dalam mengahasilkan karya-karya film pendek.. dan beberapa di ikutkan sertakan dalam festival yang di selanggarakan di Oberhausen, Jerman tersebut.
mungkin direktur festival film di Oberhausen, Lars Henrik Gass tidak pernah mengecek ke negara-negara lain, ketika Ia menyatakan,“Filem pendek itu sudah mati, kecuali di Oberhausen.”..
padahal disini.. di lenteng ini masih banyak terlihat komunitas2 film pendek bergairah untuk selalu menghasilkan karya yang sebanyak2nya...
kalau anda tidak percaya.. coba anda tanya saja Ajeng,Muni,Vera.. mereka adalah para Talent/pemeran utama dalam dalam film2 pendek yang ada di Lenteng..
Terus semangat ya Ajeng,Muni dan Vera..
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Tuesday, 12 May 2009 15:05
 
More articles :

» Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

» Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

» V Film Festival 2010 and an Interview with Intan Paramadhita

V Film Festival or the International Women Film Festival was first held in 2009 with the theme “Girl Power in Action”. This year, V Film Festival 2010 carries the theme “Identity and Youth”. V Film Festival 2010 was held by the collaboration...

» Alex Sihar: A Challenge to Familiarize the Language of Video

This year, Yayasan Konfiden (Independent Film Community Foundation)—a foundation focusing on the development and distribution of audio visual media knowledge and usage to sustain empowerment as well as to gain appreciation and support—by public...

» Today, Short Film (Not) in the Hands of Konfiden

Time will keep an eye on them (Konfiden, Independent Film Community—ed.), their consistency and persistence will be tested, how they can stay true with their current vision. As well as how far—should there be developments—the activists remain...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136897

More.Articles_!

One Day We'll Only Memorizing The Celluloid
Tuesday, 12 August 2008

What film struck you most? Fiction and documentary: film. Until two years ago, when I stepped out my room to watch The Mirror, a film of Jafar Panahi, I was feeling awakened to the category of certain films that for a long time quieting my mind. If...

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

Yang Muda yang Bercinta: Early Montage in New Order Regime
Wednesday, 07 October 2009

A young man rides in a bajaj with his pregnant lover, passing through Jakarta’s slums in the 1970s. Child beggars in the city’s labyrinths become a syntagmatic connection to bajaj. The young man is a university student named Sony (W. S. Rendra)1...

The 54th Oberhausen: The Oldest But Somehow Actual
Thursday, 12 June 2008

Labors all around the world come down to the street in May Day, celebrating The International Labor Day in the first of May. They sounding their rights to the rulers. All governments aware and increasing the security level. Even in Indonesia, the...

Arkeologi Seni Media
Saturday, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Saturday, 06 March 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) “Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel...

Dian Herdiany
Monday, 21 July 2008

Video Community Should Attain Their Independency   It was started from the catastrophic Yogyakarta earthquake in 2006, Kampung Halaman came and offered society empowerment trough video. They aim at youngsters. The unique methods made Kampung...

Prelinger Archives: Daily Life Archives
Thursday, 03 December 2009

"The film your about to see, represence a significant breakthrough of the advancing science of the motion picture. For years, the industrial film has been pledge by the always-difficult sometime impossible-to-explain cost of the original creative...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Tuesday, 19 May 2009

Sergei Eisenstein is arguably the most important single figure in the history of movies. He was certainly the most versatile. The director of the masterpieces Battleship Potemkin and Alexander Nevsky, Eisenstein also wrote ground-breaking essays on...

Jonas Mekas’ Cultural Archives
Thursday, 23 July 2009

“In Lithuania, I’m known as a poet, and they don’t care about my cinema. In Europe, they don’t know my poetry; in Europe, I am a filmmaker. But here, in the United States, I am only a maverick.” —Jonas Mekas, The New York Times, June 12,...

Visual Overproduction of Video
Tuesday, 18 August 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 The above statement from two writers of visual culture seems to...

The Endless Steps: Transaction of Sign Agreement
Monday, 24 November 2008

‘Is there any sign?’This question asked four times by a caller in the video The Endless Steps from Maulana Adel Pasha. Question which is so important for the caller to find the house. The transaction of sign thus occur. A bargain of subjective...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Wednesday, 28 July 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Available only in Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

Video Mashup: A Remix Culture
Thursday, 28 January 2010

Few times ago, I was shown a video from YouTube. It was a music video Metallica Tribute to Rhoma Irama1. It may sound impossible, but all my expectations turned upside down and inside out watching this video. It’s originally a video of...

Tarzan goes to City with Hereditary Logical Flaw
Wednesday, 17 December 2008

The film Tarzan goes to City (Tarzan ke Kota) is labeled as a remake of City Tarzan (Tarzan Kota) starred by Indonesia legendary actor, Benyamin Sueb and directed by L. Sudjio. This film has its first run on 4 December 2008.The Indonesian...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Tuesday, 30 June 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Perbincangan dengan Budi Darma
Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah...

Bilal: Between Freedom and Fascism in Punk Ideology
Thursday, 17 July 2008

Bilal (2006) is a first and important work of Bagasworo Aryaningtyas. The work also appeared to be a confirmation of Bagasworo identity as a true punker. His next works such as Memanjakan Tubuh/Spoiling the Body (2006) and Lingkaran X/The X Circle...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

Paranormal Activity: A Terrifying Sound Pollution
Saturday, 19 December 2009

Haxan, a work of a Swedish director, Christensen, is a horror film full of strong social political issue. Haxan does not only picture human apprehension to all things supernatural. More than that, Haxan is a historical documentary portraying social...

Today, Short Film (Not) in the Hands of Konfiden
Monday, 23 November 2009

Time will keep an eye on them (Konfiden, Independent Film Community—ed.), their consistency and persistence will be tested, how they can stay true with their current vision. As well as how far—should there be developments—the activists remain...

Farah Wardani: It’s The First Visual Arts Online Archive in Indonesia
Sunday, 23 August 2009

On August 19, 2009, Indonesia Visual Arts Archive launched the first visual arts archives website in Indonesia, iclick.IVAA. On the occasion, Jurnal Footage interviewed Farah Wardani, Executive Director of IVAA. The following is our interview. Can...

Video: The New Wave
Thursday, 31 December 2009

Tracing the Genealogy of World’s Video Art The development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art events have included video art as part of contemporary art exhibition. Video art has even invaded...

A Pamphlet of Our History in Ruma Maida
Sunday, 08 November 2009

Ishak Pahing dies amid a gunfire volley during an air raid of the plane he was on with his friends. This scene opens the film Ruma Maida (Maida’s House), directed by Teddy Soeriaatmadja, and as scriptwriter, Ayu Utami—the writer who shook...

Menyibak Rahasia Video
Tuesday, 12 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta...

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Friday, 12 June 2009

(only available in Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

The Ontology of Cinematography and Reflections on Cinema
Wednesday, 22 October 2008

The ontology of cinematography and the reflections on cinema addresses the question of what film is, what makes a film a film, and to examine what Wittgenstein would call the grammar of our concept of film and the role films play in the forms of our...

Maklumat Filem Bersuara
Monday, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net