I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah) PDF Print E-mail
Written by Kwee Tek Hoay   
Friday, 12 June 2009 19:23

(only available in Bahasa Indonesia)

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1
Keluaran The Cosmes Film Corporation di Bandung

Panorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4

Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film dengan judul di atas, yang dipertunjukkan di Happy Cinema di Pancoran, Batavia. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk menulis pandangan atas film-film keluaran Indonesia, maka film yang satu ini pun tidak ingin kami kecualikan, apalagi film ini keluaran pertama dari satu pabrik film yang baru lahir, yang belum diketahui bagaimana kualitas produksinya.

Berbeda dengan film-film buatan Tan’s Film Company yang ditujukan terutama untuk penonton kelas murah, film ini sebagai produksi pertama dari The Cosmos membuat kita berasumsi bahwa film ini diciptakan untuk “makanannya” penonton kelas mahal. Bukan saja untuk bangsa Eropa di Indonesia, tapi juga dimaksudkan untuk mendesak pasar-pasar film di negeri-negeri Barat, terutama di Holland. Bukan saja cerita yang dipilih dianggap mampu menarik perhatian golongan kulit putih, yaitu kehidupan pengebun di pabrik-pabrik di Priangan, dengan menyertai gambaran dari kehidupan dan kepercayaan Bumiputera. Gambaran pemandangan pertanian dan perburuan di hutan-hutan lebat di Jawa dan Sumatera, tapi juga, yang membuat kami heran, keseluruhan teksnya bahasa Belanda, yang pasti saja membuat jengkel sebagian besar penonton yang malam itu duduk berjejal di Happy Cinema yang ingin menyaksikan film baru keluaran Indonesia. Belakangan kita diberi keterangan oleh salah satu pengurus The Cosmos bahwa teks bahasa Melayu sedang dipersiapkan. Film yang diputar malam itu memang bukan untuk dipertunjukkan dalam gedung bioskop di kampung Tionghoa, tetapi lantaran ada halangan, film dengan teks Melayu belum bisa diputar dan terpaksa memutar yang berteks bahasa Belanda saja.

Jalannya cerita seperti di bawah ini:
Seorang Belanda bernama van Kempen, administrator dari pabrik teh Tjiranoe, memiliki isteri simpanan, seorang pemetik teh bernama Sitti, sebagai Nyai. Darinya ia mendapatkan dua anak, seorang lelaki yang diberi nama Adolf, dan seorang perempuan, dinamakan Annie. Ketika van Kempen berangkat dengan meninggalkan mereka, Nyai dan anak-anaknya, ke Eropa. Mereka hanya dikirimkan uang belanja setiap bulan saja. Di Eropa van Kempen menikah dengan seorang janda yang dari suaminya dulu memiliki seorang anak perempuan bernama Ervine, dan van Kempen tinggal di Eropa sampai 15 tahun lamanya, dan kemudian kembali ke Indonesia.

Selama tuannya di Eropa, Sitti dan anak-anaknya menumpang pada Oomnya, Karta, yang mencari penghidupan sebagai pemburu binatang buas. Atas nasehat Oomnya itu, Sitti pergi memuja di tempat-tempat suci dan keramat. Antara lain, meriam Si Djagoer di Kota Inten3, Batavia dan juga pergi ke seorang dukun, meminta doa dan guna-guna supaya van Kempen tidak lupa padanya dan cepat kembali ke Jawa. Dua anak itu pun bertambah besar dan hidup sebagai pemburu yang keluar-masuk rimba yang lebat. Terkadang Adolf mengikuti Oomnya pergi berburu, hingga ia mengerti betul dalam menggunakan senjata api. Meskipun ia hidup seperti Bumiputera, tinggal dalam rumah gubuk di tengah hutan, dan Annie biasa memakai sarung dan kebaya sebagai perempuan Sunda, tetapi dua anak itu dengan giat telah mempelajari huruf dan bahasa Belanda.

Ketika van Kempen kembali ke Jawa bersama anak tirinya yang perempuan, karena isterinya telah meninggal, ia ditempatkan sebagai administrator dari pabrik teh Tjikawoe yang pernah bekerjasama dengan Tjiranoe. Kawan sejabat yang menggantikan van Kempen di Tjiranoe bernama Frederick, seorang kacung berhidung putih, lantas ia tergila-gila pada Ervine, anak tiri dari van Kempen yang sudah remaja. Tapi tidak meladeni tingkah laku Frederick yang genit. Waktu pertama kali bertemu, van Kempen menanyakan tentang Sitti kepada Frederick, tapi collega itu bilang ia tidak tahu dimana keberadaan perempuan itu. Meskipun van Kempen selalu ingat pada Nyai, karena Sitti masih juga bakar menyan tiap hari dan membuat van Kempen ingat padanya, tetapi ia tidak mendapat jalan untuk bertemu.

Pada suatu hari, ketika Ervine jalan-jalan sendirian di hutan, ia bertemu (katanya dikejar) oleh satu menjangan yang membuat gadis itu begitu ketakutan hingga akhirnya jatuh pingsan. Kebetulan ada Adolf yang ketika mendengar teriakan minta tolong si Nona datang pada waktu yang tepat. Ia yang menyadarkan Annie dan mengantarkan pulang ke rumah ayahnya. Meskipun baru satu kali . . .4 bertemu, van Kempen . . . tertarik pada Adolf yang . . . seperti ia sudah pernah . . . ingat waktu . . . Akhirnya akan . . . itu pemuda yang . . . pulang anak . . . pekerjaan sebagai . . . pabrik . . .

Segera juga antara Ervine dan Adolf timbul persahabatan erat. Bukan saja pada Pengawas itu, juga pada saudara perempuannya, Annie, Ervine pun bergaul secara kawan. Ketika ia [Ervine] perkenalkan Annie pada ayahnya, kembali van Kempen kena pengaruh dari “Suaranya Darah” itu karena ia merasa pernah bertemu pada gadis itu, tetapi tidak tahu kapan dan di mana.

Persahabatan antara Ervine dan Adolf lama-lama berubah menjadi percintaan. Yang mana hal itu membuat Frederick sakit hati yang selalu mencoba untuk memikat hati Ervine namun sia-sia. Untuk membalas Adolf, ia menyuruh mandornya menyerang pemuda itu, tapi ketika penyerangan itu gagal karena Adolf terlalu gagah dan kuat, ia menggunakan akal busuk dengan menghasut seantero kuli-kuli dari Tjikawoe untuk melakukan pemogokan, tidak ada satu pun yang bekerja, dan bersamaan dengan itu Frederick menghasut van Kempen bahwa pemogokan itu terjadi lantaran kuli-kuli tidak suka pada Adolf. Dan hasutan ini telah memakan, meskipun hatinya merasa berat, van Kempen terpaksa memecat Adolf karena Direktur itu tidak mau terjadi kekacauan di pabrik lantaran seorang Pengawas. Begitulah Adolf yang kini tidak punya pekerjaan, terpaksa kembali jalani kehidupan sebagai pemburu, dan tempat-tempat yang ia kunjungi untuk menembak binatang buas, antara lain ke Tegal Waroa, dekat Krawang, berburu banteng, dan ia ke Lampung, Sumatera, akan berburu gajah.

Selama Adolf tidak ada, pada suatu hari Frederick bertemu Annie ketika berjalan di kebun bersama ibunya. Ia yang telah tergila-gila pada gadis itu dan akan melakukan segala akal untuk dapatkan Annie, ketika Adolf kembali dari perburuan dan mendengar perbuatan Frederick, ia pun gusar dan mencegat administratur itu di pinggir sungai yang kemudian ia susrukkan mukanya Frederick ke dalam lumpur. Ketika hal ini terjadi, Ervine kebetulan ada di dekat situ dan merasa puas Frederick mendapat bagiannya. Tidak lama kemudian, Ervine pergi ke pondok Adolf untuk mencari lelaki yang ia cinta. Di tengah hujan lebat ia sampai di pondok itu dalam keadaan separapangsan. Ia disambut oleh Adolf, Annie dan ibunya, lalu disuruh salin pakaian sebagai orang Bumiputera dan menginap di pondok. Adolf mengirim satu anjing membawa surat untuk memberitahu van Kempen keberadaan Ervine.

Ayah tiri itu merasa khawatir sekali karena sampai malam anaknya belum kembali. Dengan diantar beberapa bujang yang bawa obor, van Kempen masuk ke dalam hutan untuk mencari. Akhirnya datang anjing yang membawa surat itu, hingga tidak susah baginya untuk mencari, dan di pondok itu van Kempen bertemu dengan Siti dan baru tahu kalau Adolf dan Annie itu adalah anak-anaknya sendiri.

Kami sudah katakan cerita ini dibuat dengan tujuan supaya bisa dipertunjukkan juga di Eropa atau Amerika. Buat penduduk di luar negeri yang jauh, yang tidak mengenal kehidupan disini, boleh jadi  cerita ini dianggap lumayan juga. Selain cerita, dalam film itu juga dilukiskan banyak pemandangan tentang kehidupan di Jawa, seperti hal mengusahakan sawah: menanam dan memotong padi, pertunjukkan wayang orang yang katanya diselenggarakan sebagai pesta selamatan tanda selesainya potong padi, pencak perempuan, perburuan banteng di Tegal Waroe dan perburuan gajah di Lampung yang semua memang sangat berharga untuk dilihat oleh orang-orang asing yang ingin tahu keadaan di Indonesia. Dalam pondoknya Karta, itu pemburu, dimana Siti dan anak-anaknya menumpang, juga dipiara banyak monyet dan lutung yang tingkahnya lucu, bisa tertawa dan cengir, hingga tentu saja membuat orang-orang asing jadi tertarik hatinya. Tapi bagi orang yang sudah lama tinggal di Jawa dan kenal baik dengan keadaan di pabrik, jalannya cerita De Stem des Bloed penuh dengan kekalutan dan kegagalan, bertentangan dengan keadaan yang sesungguhnya terjadi.

Dalam cerita itu dilukiskan bagaimana Siti dan van Kempen selalu ingat satu sama lain, Siti tidak pernah berhenti membakar menyan untuk melepas guna-guna agar tuannya itu lekas kembali padanya, sedang van Kempen sebentar-bentar teringat Siti yang selalu terbayang-bayang dalam pikiran sejak ia di negeri Belanda. Ada hal yang aneh, setiap hari pimpinan dari satu pabrik itu teringat pada Nyai lalu menikah lagi dan tinggal di Eropa limabelas tahun lamanya, sedang ia pulang ke tanah air dengan meninggalkannya. Juga ada hal yang hampir belum pernah terjadi, seorang perempuan Sunda yang muda dan cantik bisa hidup sendiri limabelas tahun lamanya. Tanpa bersuami lagi. Siapa yang menghidupi perempuan-perempuan Sunda yang menjadi Nyai di pabrik, tentu menganggap kesetiaan Sitti pada van Kempen adalah satu mukjizat. Karena biasanya, seorang Nyai yang ditinggal oleh tuannya limabelas tahun, akan menikah dengan lelaki lain, barangkali limabelas kali!

Tapi biarlah kita anggap saja Sitti seorang Nyai Sunda luar biasa, yang tabiatnya berbeda dengan perempuan-perempuan lain, tapi toh masih tidak masuk diakal van Kempen –sesudahnya balik ke Jawa– tidak dapat mengetahui dimana keberadaan Sitti yang menurut keterangan Frederick, tidak diketahui tempat tinggalnya. Kalau menurut film itu –tempat tinggal Sitti tidak seberapa jauh dari Tjikawoe dan Tjiranoe– hingga siapa pun yang bekerja di pabrik itu, tentu akan lantas mengetahuinya, biarpun pondoknya ada di tengah hutan yang lebat. Orang tidak bisa melupakan bekas Nyainya “juragan penguasa” dari Tjiranoe, dengan dua anaknya. Apalagi tuannya itu telah pergi ke Eropa dan van Kempen biasa mengirimkan uang pada Nyai. Selain itu, Sitti tidak hidup sebagai seorang pertapa, sedang Adolf dan Annie biasa bergentayangan di sekitar pabrik. Penggantinya van Kempen, Frederick, harusnya ia tahu kalau collega itu meninggalkan seorang Nyai dengan dua anaknya. Maka terlihat aneh ketika ditanya oleh van Kempen, Frederick tidak tahu alamatnya Sitti. Kalau van Kempen berniat mencari tahu, mudah sekali mengusutnya, ia bisa cari informasi ke kantor pos untuk menemukan orang yang biasa terima uang yang ia kirimkan dari Eropa, dan di pabrik, mandor dan kuli-kuli akan mengusut dimana adanya Nyai kalau saja van Kempen memberi perintah.

Yang lebih aneh lagi, meski Adolf sudah bekerja di bawah perintahnya van Kempen, Sitti tidak tahu kalau tuannya sudah kembali. Datang dan perginya sseorang pimpinan, pengawas atau mandor biasanya akan lekas tersiar kabarnya ke seluruh pabrik. Yang sangat mustahil, Sitti atau Karta tidak pernah cerita pada dua anaknya, siapa ayahnya. Dan amat tidak mungkin bagi van Kempen dan Ervine –sejak Adolf bekerja sebagai pengawas yang juga berhubungan keluarga dengan Annie– untuk tidak mencoba cari tahu siapa keluarga, ibunya, dan di mana tempat tinggal dua anak itu.

Semua ini keganjilan yang sangat bertentangan dengan kehidupan yang sebenarnya dalam kalangan pabrik-pabrik di Priangan dan membuat penonton yang biasa menyaksikan film-film yang teratur rapih jadi menyesal dan dongkol. Apalagi kalau mengingat –dengan adakan sedikit perubahan saja– semua sifat botjingli bisa disingkirkan. Tidak susah untuk menggambarkan bagaimana Karta telah mengajak Sitti dan anak-anaknya pindah ke Sumatera dimana ia bisa dapat kehidupan yang baik dengan berburu gajah. Ia kembali ke Tjiranoe sesudah van Kempen datang lagi di sana.

Selain jalan cerita yang pengaturannya salah, banyak bagian kecil-kecil yang tidak masuk diakal. Tidak ada satu nyai pun yang sesudah tuannya pergi limabelas tahun masih terus membakar menyan di kehidupan yang sebenarnya untuk membuat si Tuan ingat dan cinta lagi padanya. Tidak ada satu pun perempuan di dunia yang punya kesabaran seperti itu, membakar menyan limabelas tahun terus-menerus hanya agar untuk dirinya dicintai oleh satu lelaki!

Pemilihan cara Ervine mendapatkan bahaya hingga ia ditolong oleh Adolf pun kurang tepat. Menjangan bukan binatang buas yang akan membuat seorang gadis lari sungsang sumbel hingga jatuh pingsan, apalagi dalam itu film tidak terlihat menjangan mengejarnya. Menurut keterangan pengurus film, awalnya hendak membuat adegan Ervin dikejar oleh monyet besar tetapi binatang yang sudah dijanjikan itu tidak didapatkan dan terpaksa ditukar oleh menjangan. Kita lebih setuju kalau Ervine mendapatkan bahaya dililit ular besar yang mudah sekali didapat, dan bisa digantikan dengan ular palsu atau ular mati waktu melilit badannya.

Lain hal lagi yang tidak masuk diakal adalah waktu Adolf diganggu oleh seorang pembantu yang pahanya tertembak senapan angin kemudian mengganggu Adolf tidur di bale-bale dengan memberi hidung panjang padanya. Seorang sinyo yang gagah dan pandai menembak pada umumnya menjadi jagoan di desa hingga tidak ada orang kampung yang berani main gila dengannya. Apalagi seorang pembantu, Adolf yang sabar tak pedulikan segala kurcaci. Itu juga bertentangan dengan kehidupan yang sebenarnya.

Hal mengirim anjing yang membawakan surat untuk van Kempen yang sedang mondok di tengah hutan, [isi surat] untuk segera menemui Ervine, itu pun terlalu berlebihan. Karta dengan mudah akan menyuruh seseorang untuk membawakan surat itu pada juragan penguasa Tjikawoe tanpa harus menyuruh seekor anjing yang hanya dipakai dalam film cowboy sewaktu perang dengan bangsa Indian atau sewaktu berkelahi dengan kawanan penjahat. Bagi penonton yang hanya ingin saksikan keanehan, boleh jadi seekor anjing bisa disuruh membawa surat dianggap ada menarik. Tapi bagi orang yang suka menonton film dengan cerita berstruktur rapih dan berdasar dengan cingli, bagian ini membuat perasaan seperti minum sirup terlalu manis atau sayur kebanyakan garam.

Satu kesalahan kecil lagi nampak waktu van Kempen menyerahkan pekerjaan pada penggantinya ketika ia hendak berangkat mudik. Yang diberikan hanya satu buku yang ditandatangani oleh Frederick dan van Kempen. Siapa pun yang pernah bekerja di pabrik akan tahu, buku-buku yang digunakan pasti banyak dan penyerahan itu tidak mungkin terjadi di pinggir serambi tempat duduk minum kopi pahit. Pasti di dalam kantor pimpinan yang isinya meja tulis, daftar statistik, contoh-contoh, kartu kebun dan banyak buku-buku.

Kesalahan lain yang penting kita dapatkan ketika Sitti diambil menjadi nyai. Begitu ia diantar masuk oleh mandor ke gedung pimpinan, di lain bagian lantas ia kelihatan berjalan-jalan di kebun bersama dua anaknya, laki-laki dan perempuan. Lantaran alihteksnya guram dan hanya sebentar hingga tidak dapat terbaca utuh. Kita tidak tahu apa yang dikatakannya, hingga kita –dan juga penonton lainnya– sudah membaca Sitti akan dipekerjakan seperti babu. Bukankah ia [Sitti] dan dua orang anaknya yang didapat dari van Kempen menjadi noni dan sinyo…kehidupan seperti suami isteri dengan van Kempen tidak terlihat sama sekali!

Tentang pengolahan tehnik dari itu film, kita dapatkan cara yang paling besar ada dan ia punya alihteks yang hurufnya berwarna merah, yang tidak saja buram tetapi juga terlalu cepat hilang hingga orang baru saja membaca, separuh sudah lenyap dari pandangan. Cosmos Lim Corporation harus belajar dan ambil teladan pada Tan’s Film Company yang alih teks-teksnya hampir tidak ada celah.

Satu kekeliruan lain yang nampak ketika melukiskan kehidupan petani bekerja di tengah sawah dengan warna film seperti sinar layung. Petani tidak bekerja di sawah pada sore hari, hanya di waktu pagi atau siang. Mengapa tidak memakai warna hijau muda atau biru?



Catatan
1 De Stem Des Bloed (Nyai Siti), terbit tahun 1930. Jika mengacu dari Loetoeng Kasaroeng yang terbit tahun 1926, film ini tergolong generasi awal film Indonesia (urutan kesembilan jika berlandas Katalog Film Indonesia 1926-2007 suntingan JB Kristanto). Film ini disutradarai oleh Ph Carli.
2 Panorama, majalah ini pertama kali terbit tahun 1926 dan dijual pada tahun 1931. Terbit setiap bulan tiga kali yang diberi harga 3 gulden. Berkantor di Prinsenlaan 69 dan dipimpin oleh Kwee Tek Hoay.
3 Kota Inten, nama kawasan kota tua Betawi di sebelah timur Prinsen-straat (kini Jalan Tongkol), dekat pintu gerbang tol Gedong Panjang (arah Pluit-Tanjung Priok)
4 Dalam naskah aslinya, bagian ini tidak ada, hancur karena termakan usia.

Biografi Singkat Penulis
Kwee Tek Hoay lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 31 Juli 1886 dan meninggal di Cicurug-Sukabumi, Jawa Barat pada 15 Juli 1951 akibat perampokan yang terjadi di rumahnya. Ia salah seorang penulis produktif di masanya. Banyak menulis artikel, mulai dari kebudayaan, sastra, teater, sinema, hingga politik, di berbagai surat kabar seperti Sin Po, Sin Bin, Sam Kauw Goat Po, Moestika Panorama, Moestika Dharma, selain di majalah yang ia dirikan sendiri, Panorama. Ia juga menulis beberapa buku sastra baik karyanya sendiri ataupun terjemahan seperti Bhagavad Gita karya Rabindranath Tagore yang diterbitkan tahun 1935. Menulis beberapa buku sejarah dan politik yang telah diterbitkan berbagai bahasa. Naskah drama seperti Korbannya Kong Ek pernah dimainkan oleh Opera Dardanella di tahun 1930. Penulisan sinema yang termuat dalam majalah Panorama ia menulis antara lain; kritik film Si Tjonat, De Stem des Bloed (Suaranya Darah), Njaie Dasima 1, 2 dan 3 [judulnya Nancy Bikin Pembalesan], dan Melati van Agam.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Friday, 12 June 2009 23:25
 
More articles :

» Rentjong Atjeh

(This article only available in Bahasa Indonesia) J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan...

» Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955 (Available only in Bahasa Indonesia)Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926) buatan...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga

(available only in Bahasa Indonesia)ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

» In Observing Festival Ceremonies

Editorial_December 2009 End of year is a grand celebration for our film industry. Numerous big festivals are held within the span of one month. First there was Konfiden Short Film Festival on November 19-22, 2009. Followed by Jakarta International...

» Interview with Bronnt Industries Kapital

Geometer: I only came to hear of Häxan through your soundtrack - it’s a great film and I was surprised I’d not heard of it. How did you first hear of the film?Guy: We were first approached to perform a live soundtrack to the film at Bristol’s...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136935

More.Articles_!

Jonas Mekas’ Cultural Archives
Thursday, 23 July 2009

“In Lithuania, I’m known as a poet, and they don’t care about my cinema. In Europe, they don’t know my poetry; in Europe, I am a filmmaker. But here, in the United States, I am only a maverick.” —Jonas Mekas, The New York Times, June 12,...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Monday, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Dian Herdiany
Monday, 21 July 2008

Video Community Should Attain Their Independency   It was started from the catastrophic Yogyakarta earthquake in 2006, Kampung Halaman came and offered society empowerment trough video. They aim at youngsters. The unique methods made Kampung...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Wednesday, 20 January 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Monday, 26 January 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Thursday, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

Chris Marker: In Memory of New Technology
Friday, 12 June 2009

1. An Awkward MemoryI remember discussing Chris Marker’s most recent feature film, Level Five (1996), with a friend of mine when it first came out. She was generally impressed with the film, but irritated by what she described as “an old man’s...

Part-time Work of a Domestic Slave: Repositioning of Cinema and Audience in a New Discourse Development
Friday, 24 July 2009

Part-time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) tells the story of Roswitha Bronski who works to support the family while her husband, Franz Bronski, busies himself with chemistry researches in order to fulfill his...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Monday, 26 July 2010

Exhibition7-13 August 2010, 10am-5pm (Sunday closed) VenueGoethehausJl. Sam Ratulangi No. 9-15 Menteng, Jakarta Pusat OpeningFriday, 6 August 2010, 7pm Videotalk with Anggun Priambodo (music video maker) and Indra Ameng (curator)Friday, 6 August...

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

Ruminating on Terminology and Theme: Notes on the 6th Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010
Friday, 25 June 2010

Attending Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010 during June 8-10, 2010, the first question that popped in me was: what essentially distinguishes this festival from the rest alike? Until the last day, after seeing the works screened in the...

Chaerul Umam’s Ambivalence
Wednesday, 10 March 2010

The 54th Oberhausen: The Oldest But Somehow Actual
Thursday, 12 June 2008

Labors all around the world come down to the street in May Day, celebrating The International Labor Day in the first of May. They sounding their rights to the rulers. All governments aware and increasing the security level. Even in Indonesia, the...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 January 2010)
Wednesday, 20 January 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Monday, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (available only in Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Sunday, 10 May 2009

(Only in Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Lightly Reflecting the World’s History of Visual Art through 70 Million Video
Wednesday, 10 March 2010

There’s so much one can do upon reflecting history. In the Western world, interpretation of cultural history continues to roll until today. It’s the essence of cultural history: to be reinterpreted continuously by consecutive generations. The...

Tabu: A Representation of Indigenous Polynesian
Thursday, 31 December 2009

Matahi, a native man of an island in South Pacific called Bora-bora, falls in love with a girl named Reri. One day, Hitu, a tribe leader sent by leaders of each island of the archipelago, comes to take Reri as a replacement for their late sacred...

Tarzan goes to City with Hereditary Logical Flaw
Wednesday, 17 December 2008

The film Tarzan goes to City (Tarzan ke Kota) is labeled as a remake of City Tarzan (Tarzan Kota) starred by Indonesia legendary actor, Benyamin Sueb and directed by L. Sudjio. This film has its first run on 4 December 2008.The Indonesian...

Maklumat Filem Bersuara
Monday, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity
Wednesday, 27 May 2009

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films. One of Mexico’s prominent filmmakers. He began to make films following the massacre at Tlatelolco,...

Ariani Darmawan: Independent Bioscope as Struggle
Tuesday, 12 August 2008

The independent bioscope emerges as a form of struggle from majority of bioscopes. But what fight it is exactly? Probably none, because speaking about struggle in films which calls independent in Indonesia might be complicated and end up to nowhere....

Massroom Project Catalogue
Friday, 03 July 2009

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

Alex Sihar: A Challenge to Familiarize the Language of Video
Sunday, 23 August 2009

This year, Yayasan Konfiden (Independent Film Community Foundation)—a foundation focusing on the development and distribution of audio visual media knowledge and usage to sustain empowerment as well as to gain appreciation and support—by public...

Silent Film Orchestration at Gedung Kesenian Jakarta
Thursday, 12 June 2008

Originally, silent film was simply tracked by a single pianist as its sound theme. Then, in its development, silent film follow by an orchestra. Newest compositions are then, perform. Last wednesday, May 14th 2008, an ensemble from Vietnam...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Friday, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net