I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

KAOS FOOTAGE
(Charlie Chaplin)

chaplin-front

RP 85.000 | US$ 10
Without Shipping

ORDER BY EMAIL

Jurnal.Footage_!

banner-akumassa

Figure_!

alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
namjunepaik
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
toshio-matsumoto

KAOS FOOTAGE
(akumassa)

kaos-akumassa-front

RP 50.000
Without Shipping

ORDER BY EMAIL

With.Support.By_:

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah) PDF Print E-mail
Written by Kwee Tek Hoay   
Friday, 12 June 2009 19:23

(only available in Bahasa Indonesia)

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1
Keluaran The Cosmes Film Corporation di Bandung

Panorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4

Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film dengan judul di atas, yang dipertunjukkan di Happy Cinema di Pancoran, Batavia. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk menulis pandangan atas film-film keluaran Indonesia, maka film yang satu ini pun tidak ingin kami kecualikan, apalagi film ini keluaran pertama dari satu pabrik film yang baru lahir, yang belum diketahui bagaimana kualitas produksinya.

Berbeda dengan film-film buatan Tan’s Film Company yang ditujukan terutama untuk penonton kelas murah, film ini sebagai produksi pertama dari The Cosmos membuat kita berasumsi bahwa film ini diciptakan untuk “makanannya” penonton kelas mahal. Bukan saja untuk bangsa Eropa di Indonesia, tapi juga dimaksudkan untuk mendesak pasar-pasar film di negeri-negeri Barat, terutama di Holland. Bukan saja cerita yang dipilih dianggap mampu menarik perhatian golongan kulit putih, yaitu kehidupan pengebun di pabrik-pabrik di Priangan, dengan menyertai gambaran dari kehidupan dan kepercayaan Bumiputera. Gambaran pemandangan pertanian dan perburuan di hutan-hutan lebat di Jawa dan Sumatera, tapi juga, yang membuat kami heran, keseluruhan teksnya bahasa Belanda, yang pasti saja membuat jengkel sebagian besar penonton yang malam itu duduk berjejal di Happy Cinema yang ingin menyaksikan film baru keluaran Indonesia. Belakangan kita diberi keterangan oleh salah satu pengurus The Cosmos bahwa teks bahasa Melayu sedang dipersiapkan. Film yang diputar malam itu memang bukan untuk dipertunjukkan dalam gedung bioskop di kampung Tionghoa, tetapi lantaran ada halangan, film dengan teks Melayu belum bisa diputar dan terpaksa memutar yang berteks bahasa Belanda saja.

Jalannya cerita seperti di bawah ini:
Seorang Belanda bernama van Kempen, administrator dari pabrik teh Tjiranoe, memiliki isteri simpanan, seorang pemetik teh bernama Sitti, sebagai Nyai. Darinya ia mendapatkan dua anak, seorang lelaki yang diberi nama Adolf, dan seorang perempuan, dinamakan Annie. Ketika van Kempen berangkat dengan meninggalkan mereka, Nyai dan anak-anaknya, ke Eropa. Mereka hanya dikirimkan uang belanja setiap bulan saja. Di Eropa van Kempen menikah dengan seorang janda yang dari suaminya dulu memiliki seorang anak perempuan bernama Ervine, dan van Kempen tinggal di Eropa sampai 15 tahun lamanya, dan kemudian kembali ke Indonesia.

Selama tuannya di Eropa, Sitti dan anak-anaknya menumpang pada Oomnya, Karta, yang mencari penghidupan sebagai pemburu binatang buas. Atas nasehat Oomnya itu, Sitti pergi memuja di tempat-tempat suci dan keramat. Antara lain, meriam Si Djagoer di Kota Inten3, Batavia dan juga pergi ke seorang dukun, meminta doa dan guna-guna supaya van Kempen tidak lupa padanya dan cepat kembali ke Jawa. Dua anak itu pun bertambah besar dan hidup sebagai pemburu yang keluar-masuk rimba yang lebat. Terkadang Adolf mengikuti Oomnya pergi berburu, hingga ia mengerti betul dalam menggunakan senjata api. Meskipun ia hidup seperti Bumiputera, tinggal dalam rumah gubuk di tengah hutan, dan Annie biasa memakai sarung dan kebaya sebagai perempuan Sunda, tetapi dua anak itu dengan giat telah mempelajari huruf dan bahasa Belanda.

Ketika van Kempen kembali ke Jawa bersama anak tirinya yang perempuan, karena isterinya telah meninggal, ia ditempatkan sebagai administrator dari pabrik teh Tjikawoe yang pernah bekerjasama dengan Tjiranoe. Kawan sejabat yang menggantikan van Kempen di Tjiranoe bernama Frederick, seorang kacung berhidung putih, lantas ia tergila-gila pada Ervine, anak tiri dari van Kempen yang sudah remaja. Tapi tidak meladeni tingkah laku Frederick yang genit. Waktu pertama kali bertemu, van Kempen menanyakan tentang Sitti kepada Frederick, tapi collega itu bilang ia tidak tahu dimana keberadaan perempuan itu. Meskipun van Kempen selalu ingat pada Nyai, karena Sitti masih juga bakar menyan tiap hari dan membuat van Kempen ingat padanya, tetapi ia tidak mendapat jalan untuk bertemu.

Pada suatu hari, ketika Ervine jalan-jalan sendirian di hutan, ia bertemu (katanya dikejar) oleh satu menjangan yang membuat gadis itu begitu ketakutan hingga akhirnya jatuh pingsan. Kebetulan ada Adolf yang ketika mendengar teriakan minta tolong si Nona datang pada waktu yang tepat. Ia yang menyadarkan Annie dan mengantarkan pulang ke rumah ayahnya. Meskipun baru satu kali . . .4 bertemu, van Kempen . . . tertarik pada Adolf yang . . . seperti ia sudah pernah . . . ingat waktu . . . Akhirnya akan . . . itu pemuda yang . . . pulang anak . . . pekerjaan sebagai . . . pabrik . . .

Segera juga antara Ervine dan Adolf timbul persahabatan erat. Bukan saja pada Pengawas itu, juga pada saudara perempuannya, Annie, Ervine pun bergaul secara kawan. Ketika ia [Ervine] perkenalkan Annie pada ayahnya, kembali van Kempen kena pengaruh dari “Suaranya Darah” itu karena ia merasa pernah bertemu pada gadis itu, tetapi tidak tahu kapan dan di mana.

Persahabatan antara Ervine dan Adolf lama-lama berubah menjadi percintaan. Yang mana hal itu membuat Frederick sakit hati yang selalu mencoba untuk memikat hati Ervine namun sia-sia. Untuk membalas Adolf, ia menyuruh mandornya menyerang pemuda itu, tapi ketika penyerangan itu gagal karena Adolf terlalu gagah dan kuat, ia menggunakan akal busuk dengan menghasut seantero kuli-kuli dari Tjikawoe untuk melakukan pemogokan, tidak ada satu pun yang bekerja, dan bersamaan dengan itu Frederick menghasut van Kempen bahwa pemogokan itu terjadi lantaran kuli-kuli tidak suka pada Adolf. Dan hasutan ini telah memakan, meskipun hatinya merasa berat, van Kempen terpaksa memecat Adolf karena Direktur itu tidak mau terjadi kekacauan di pabrik lantaran seorang Pengawas. Begitulah Adolf yang kini tidak punya pekerjaan, terpaksa kembali jalani kehidupan sebagai pemburu, dan tempat-tempat yang ia kunjungi untuk menembak binatang buas, antara lain ke Tegal Waroa, dekat Krawang, berburu banteng, dan ia ke Lampung, Sumatera, akan berburu gajah.

Selama Adolf tidak ada, pada suatu hari Frederick bertemu Annie ketika berjalan di kebun bersama ibunya. Ia yang telah tergila-gila pada gadis itu dan akan melakukan segala akal untuk dapatkan Annie, ketika Adolf kembali dari perburuan dan mendengar perbuatan Frederick, ia pun gusar dan mencegat administratur itu di pinggir sungai yang kemudian ia susrukkan mukanya Frederick ke dalam lumpur. Ketika hal ini terjadi, Ervine kebetulan ada di dekat situ dan merasa puas Frederick mendapat bagiannya. Tidak lama kemudian, Ervine pergi ke pondok Adolf untuk mencari lelaki yang ia cinta. Di tengah hujan lebat ia sampai di pondok itu dalam keadaan separapangsan. Ia disambut oleh Adolf, Annie dan ibunya, lalu disuruh salin pakaian sebagai orang Bumiputera dan menginap di pondok. Adolf mengirim satu anjing membawa surat untuk memberitahu van Kempen keberadaan Ervine.

Ayah tiri itu merasa khawatir sekali karena sampai malam anaknya belum kembali. Dengan diantar beberapa bujang yang bawa obor, van Kempen masuk ke dalam hutan untuk mencari. Akhirnya datang anjing yang membawa surat itu, hingga tidak susah baginya untuk mencari, dan di pondok itu van Kempen bertemu dengan Siti dan baru tahu kalau Adolf dan Annie itu adalah anak-anaknya sendiri.

Kami sudah katakan cerita ini dibuat dengan tujuan supaya bisa dipertunjukkan juga di Eropa atau Amerika. Buat penduduk di luar negeri yang jauh, yang tidak mengenal kehidupan disini, boleh jadi  cerita ini dianggap lumayan juga. Selain cerita, dalam film itu juga dilukiskan banyak pemandangan tentang kehidupan di Jawa, seperti hal mengusahakan sawah: menanam dan memotong padi, pertunjukkan wayang orang yang katanya diselenggarakan sebagai pesta selamatan tanda selesainya potong padi, pencak perempuan, perburuan banteng di Tegal Waroe dan perburuan gajah di Lampung yang semua memang sangat berharga untuk dilihat oleh orang-orang asing yang ingin tahu keadaan di Indonesia. Dalam pondoknya Karta, itu pemburu, dimana Siti dan anak-anaknya menumpang, juga dipiara banyak monyet dan lutung yang tingkahnya lucu, bisa tertawa dan cengir, hingga tentu saja membuat orang-orang asing jadi tertarik hatinya. Tapi bagi orang yang sudah lama tinggal di Jawa dan kenal baik dengan keadaan di pabrik, jalannya cerita De Stem des Bloed penuh dengan kekalutan dan kegagalan, bertentangan dengan keadaan yang sesungguhnya terjadi.

Dalam cerita itu dilukiskan bagaimana Siti dan van Kempen selalu ingat satu sama lain, Siti tidak pernah berhenti membakar menyan untuk melepas guna-guna agar tuannya itu lekas kembali padanya, sedang van Kempen sebentar-bentar teringat Siti yang selalu terbayang-bayang dalam pikiran sejak ia di negeri Belanda. Ada hal yang aneh, setiap hari pimpinan dari satu pabrik itu teringat pada Nyai lalu menikah lagi dan tinggal di Eropa limabelas tahun lamanya, sedang ia pulang ke tanah air dengan meninggalkannya. Juga ada hal yang hampir belum pernah terjadi, seorang perempuan Sunda yang muda dan cantik bisa hidup sendiri limabelas tahun lamanya. Tanpa bersuami lagi. Siapa yang menghidupi perempuan-perempuan Sunda yang menjadi Nyai di pabrik, tentu menganggap kesetiaan Sitti pada van Kempen adalah satu mukjizat. Karena biasanya, seorang Nyai yang ditinggal oleh tuannya limabelas tahun, akan menikah dengan lelaki lain, barangkali limabelas kali!

Tapi biarlah kita anggap saja Sitti seorang Nyai Sunda luar biasa, yang tabiatnya berbeda dengan perempuan-perempuan lain, tapi toh masih tidak masuk diakal van Kempen –sesudahnya balik ke Jawa– tidak dapat mengetahui dimana keberadaan Sitti yang menurut keterangan Frederick, tidak diketahui tempat tinggalnya. Kalau menurut film itu –tempat tinggal Sitti tidak seberapa jauh dari Tjikawoe dan Tjiranoe– hingga siapa pun yang bekerja di pabrik itu, tentu akan lantas mengetahuinya, biarpun pondoknya ada di tengah hutan yang lebat. Orang tidak bisa melupakan bekas Nyainya “juragan penguasa” dari Tjiranoe, dengan dua anaknya. Apalagi tuannya itu telah pergi ke Eropa dan van Kempen biasa mengirimkan uang pada Nyai. Selain itu, Sitti tidak hidup sebagai seorang pertapa, sedang Adolf dan Annie biasa bergentayangan di sekitar pabrik. Penggantinya van Kempen, Frederick, harusnya ia tahu kalau collega itu meninggalkan seorang Nyai dengan dua anaknya. Maka terlihat aneh ketika ditanya oleh van Kempen, Frederick tidak tahu alamatnya Sitti. Kalau van Kempen berniat mencari tahu, mudah sekali mengusutnya, ia bisa cari informasi ke kantor pos untuk menemukan orang yang biasa terima uang yang ia kirimkan dari Eropa, dan di pabrik, mandor dan kuli-kuli akan mengusut dimana adanya Nyai kalau saja van Kempen memberi perintah.

Yang lebih aneh lagi, meski Adolf sudah bekerja di bawah perintahnya van Kempen, Sitti tidak tahu kalau tuannya sudah kembali. Datang dan perginya sseorang pimpinan, pengawas atau mandor biasanya akan lekas tersiar kabarnya ke seluruh pabrik. Yang sangat mustahil, Sitti atau Karta tidak pernah cerita pada dua anaknya, siapa ayahnya. Dan amat tidak mungkin bagi van Kempen dan Ervine –sejak Adolf bekerja sebagai pengawas yang juga berhubungan keluarga dengan Annie– untuk tidak mencoba cari tahu siapa keluarga, ibunya, dan di mana tempat tinggal dua anak itu.

Semua ini keganjilan yang sangat bertentangan dengan kehidupan yang sebenarnya dalam kalangan pabrik-pabrik di Priangan dan membuat penonton yang biasa menyaksikan film-film yang teratur rapih jadi menyesal dan dongkol. Apalagi kalau mengingat –dengan adakan sedikit perubahan saja– semua sifat botjingli bisa disingkirkan. Tidak susah untuk menggambarkan bagaimana Karta telah mengajak Sitti dan anak-anaknya pindah ke Sumatera dimana ia bisa dapat kehidupan yang baik dengan berburu gajah. Ia kembali ke Tjiranoe sesudah van Kempen datang lagi di sana.

Selain jalan cerita yang pengaturannya salah, banyak bagian kecil-kecil yang tidak masuk diakal. Tidak ada satu nyai pun yang sesudah tuannya pergi limabelas tahun masih terus membakar menyan di kehidupan yang sebenarnya untuk membuat si Tuan ingat dan cinta lagi padanya. Tidak ada satu pun perempuan di dunia yang punya kesabaran seperti itu, membakar menyan limabelas tahun terus-menerus hanya agar untuk dirinya dicintai oleh satu lelaki!

Pemilihan cara Ervine mendapatkan bahaya hingga ia ditolong oleh Adolf pun kurang tepat. Menjangan bukan binatang buas yang akan membuat seorang gadis lari sungsang sumbel hingga jatuh pingsan, apalagi dalam itu film tidak terlihat menjangan mengejarnya. Menurut keterangan pengurus film, awalnya hendak membuat adegan Ervin dikejar oleh monyet besar tetapi binatang yang sudah dijanjikan itu tidak didapatkan dan terpaksa ditukar oleh menjangan. Kita lebih setuju kalau Ervine mendapatkan bahaya dililit ular besar yang mudah sekali didapat, dan bisa digantikan dengan ular palsu atau ular mati waktu melilit badannya.

Lain hal lagi yang tidak masuk diakal adalah waktu Adolf diganggu oleh seorang pembantu yang pahanya tertembak senapan angin kemudian mengganggu Adolf tidur di bale-bale dengan memberi hidung panjang padanya. Seorang sinyo yang gagah dan pandai menembak pada umumnya menjadi jagoan di desa hingga tidak ada orang kampung yang berani main gila dengannya. Apalagi seorang pembantu, Adolf yang sabar tak pedulikan segala kurcaci. Itu juga bertentangan dengan kehidupan yang sebenarnya.

Hal mengirim anjing yang membawakan surat untuk van Kempen yang sedang mondok di tengah hutan, [isi surat] untuk segera menemui Ervine, itu pun terlalu berlebihan. Karta dengan mudah akan menyuruh seseorang untuk membawakan surat itu pada juragan penguasa Tjikawoe tanpa harus menyuruh seekor anjing yang hanya dipakai dalam film cowboy sewaktu perang dengan bangsa Indian atau sewaktu berkelahi dengan kawanan penjahat. Bagi penonton yang hanya ingin saksikan keanehan, boleh jadi seekor anjing bisa disuruh membawa surat dianggap ada menarik. Tapi bagi orang yang suka menonton film dengan cerita berstruktur rapih dan berdasar dengan cingli, bagian ini membuat perasaan seperti minum sirup terlalu manis atau sayur kebanyakan garam.

Satu kesalahan kecil lagi nampak waktu van Kempen menyerahkan pekerjaan pada penggantinya ketika ia hendak berangkat mudik. Yang diberikan hanya satu buku yang ditandatangani oleh Frederick dan van Kempen. Siapa pun yang pernah bekerja di pabrik akan tahu, buku-buku yang digunakan pasti banyak dan penyerahan itu tidak mungkin terjadi di pinggir serambi tempat duduk minum kopi pahit. Pasti di dalam kantor pimpinan yang isinya meja tulis, daftar statistik, contoh-contoh, kartu kebun dan banyak buku-buku.

Kesalahan lain yang penting kita dapatkan ketika Sitti diambil menjadi nyai. Begitu ia diantar masuk oleh mandor ke gedung pimpinan, di lain bagian lantas ia kelihatan berjalan-jalan di kebun bersama dua anaknya, laki-laki dan perempuan. Lantaran alihteksnya guram dan hanya sebentar hingga tidak dapat terbaca utuh. Kita tidak tahu apa yang dikatakannya, hingga kita –dan juga penonton lainnya– sudah membaca Sitti akan dipekerjakan seperti babu. Bukankah ia [Sitti] dan dua orang anaknya yang didapat dari van Kempen menjadi noni dan sinyo…kehidupan seperti suami isteri dengan van Kempen tidak terlihat sama sekali!

Tentang pengolahan tehnik dari itu film, kita dapatkan cara yang paling besar ada dan ia punya alihteks yang hurufnya berwarna merah, yang tidak saja buram tetapi juga terlalu cepat hilang hingga orang baru saja membaca, separuh sudah lenyap dari pandangan. Cosmos Lim Corporation harus belajar dan ambil teladan pada Tan’s Film Company yang alih teks-teksnya hampir tidak ada celah.

Satu kekeliruan lain yang nampak ketika melukiskan kehidupan petani bekerja di tengah sawah dengan warna film seperti sinar layung. Petani tidak bekerja di sawah pada sore hari, hanya di waktu pagi atau siang. Mengapa tidak memakai warna hijau muda atau biru?



Catatan
1 De Stem Des Bloed (Nyai Siti), terbit tahun 1930. Jika mengacu dari Loetoeng Kasaroeng yang terbit tahun 1926, film ini tergolong generasi awal film Indonesia (urutan kesembilan jika berlandas Katalog Film Indonesia 1926-2007 suntingan JB Kristanto). Film ini disutradarai oleh Ph Carli.
2 Panorama, majalah ini pertama kali terbit tahun 1926 dan dijual pada tahun 1931. Terbit setiap bulan tiga kali yang diberi harga 3 gulden. Berkantor di Prinsenlaan 69 dan dipimpin oleh Kwee Tek Hoay.
3 Kota Inten, nama kawasan kota tua Betawi di sebelah timur Prinsen-straat (kini Jalan Tongkol), dekat pintu gerbang tol Gedong Panjang (arah Pluit-Tanjung Priok)
4 Dalam naskah aslinya, bagian ini tidak ada, hancur karena termakan usia.

Biografi Singkat Penulis
Kwee Tek Hoay lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 31 Juli 1886 dan meninggal di Cicurug-Sukabumi, Jawa Barat pada 15 Juli 1951 akibat perampokan yang terjadi di rumahnya. Ia salah seorang penulis produktif di masanya. Banyak menulis artikel, mulai dari kebudayaan, sastra, teater, sinema, hingga politik, di berbagai surat kabar seperti Sin Po, Sin Bin, Sam Kauw Goat Po, Moestika Panorama, Moestika Dharma, selain di majalah yang ia dirikan sendiri, Panorama. Ia juga menulis beberapa buku sastra baik karyanya sendiri ataupun terjemahan seperti Bhagavad Gita karya Rabindranath Tagore yang diterbitkan tahun 1935. Menulis beberapa buku sejarah dan politik yang telah diterbitkan berbagai bahasa. Naskah drama seperti Korbannya Kong Ek pernah dimainkan oleh Opera Dardanella di tahun 1930. Penulisan sinema yang termuat dalam majalah Panorama ia menulis antara lain; kritik film Si Tjonat, De Stem des Bloed (Suaranya Darah), Njaie Dasima 1, 2 dan 3 [judulnya Nancy Bikin Pembalesan], dan Melati van Agam.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Friday, 12 June 2009 23:25
 
More articles :

» Visual Overproduction of Video

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant.- Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007The above statement from two writers of visual culture seems to...

» Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film

(available only in Bahasa Indonesia) Pengantar Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli, Benih...

» Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

» Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen

(Only in Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

» Jonas Mekas’ Cultural Archives

“In Lithuania, I’m known as a poet, and they don’t care about my cinema. In Europe, they don’t know my poetry; in Europe, I am a filmmaker. But here, in the United States, I am only a maverick.”—Jonas Mekas, The New York Times, June 12,...
poposby

KAOS FOOTAGE
(Footage)

footagetext-front

RP 85.000 | US$ 10
Without Shipping

Today.Quotation_:

 

"If talking film is an art, speech must play a role in conformity with its character as a sign and not appear only as a sound element, which, though privileged as compared with others, is but of secondary importance as compared with the visual element."

[Éric Rohmer]

ok video Rio sadja akumassa jurnal footage fan page tweet us

Stats_!

Members : 179
Content : 138
Content View Hits : 81315

More.Articles_!

Tepian Sungai Ciujung: Ethical Strategy in Narrative and Interview Method (Part two of three)

Tuesday, 16 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the second part of... Read more...

Jermal dan Totalitas Neorealisme

Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang... Read more...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan

Tuesday, 30 June 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat... Read more...

Reading Michael Haneke’s Code Unknown

Friday, 03 October 2008

Michael Haneke is probably the most interesting director in the contemporary cinema history. Born in Munich, 1942, Haneke grew in suburb Austria,... Read more...

Me and Periferry 1.0

Tuesday, 12 August 2008

“Through many years, at great expenses, journeying through many countries, I went to see high mountains, I went to see oceans. Only I had not seen... Read more...

Tarzan goes to City with Hereditary Logical Flaw

Wednesday, 17 December 2008

The film Tarzan goes to City (Tarzan ke Kota) is labeled as a remake of City Tarzan (Tarzan Kota) starred by Indonesia legendary actor, Benyamin Sueb... Read more...

Yang Muda yang Bercinta: Early Montage in New Order Regime

Wednesday, 07 October 2009

A young man rides in a bajaj with his pregnant lover, passing through Jakarta’s slums in the 1970s. Child beggars in the city’s labyrinths become... Read more...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film

Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video... Read more...

Chris Marker: In Memory of New Technology

Friday, 12 June 2009

1. An Awkward MemoryI remember discussing Chris Marker’s most recent feature film, Level Five (1996), with a friend of mine when it first came out.... Read more...

Prima Rusdi

Thursday, 12 June 2008

We May Not Accomplish Anything After a Decade of Political Reform   To commemorate the ten years of political reform, Proyek Payung held a screening... Read more...

Dengan Ringan Melihat Sejarah Seni Rupa Dunia pada Video 70 Million

Wednesday, 10 March 2010

(Temporarily available only in Bahasa indonesia) Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah... Read more...

Reality in Ladri di Biciclette

Thursday, 28 August 2008

QueriesLast night was my numerous silenced on one of the Italian neorealism, Ladri di Biciclette (1948), a film by Vittorio de Sica from the script... Read more...

Alex Sihar: A Challenge to Familiarize the Language of Video

Sunday, 23 August 2009

This year, Yayasan Konfiden (Independent Film Community Foundation)—a foundation focusing on the development and distribution of audio visual media... Read more...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern

Thursday, 16 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk... Read more...

Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity

Wednesday, 27 May 2009

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films.... Read more...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
var01
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net