I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Perbincangan dengan Budi Darma PDF Print E-mail
Written by Akbar Yumni, Syaiful anwar & Andang Kelana   
Tuesday, 14 July 2009 20:25

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)

Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah dipertontonkan ke khalayak umum. Di antara sekian cerpen, karya Budi Darma termasuk di dalamnya. Budi Darma adalah seorang penulis aktif. Banyak karyanya yang sudah dibukukan. Beberapa karya cerpennya mendapat penghargaan terbaik pilihan salah satu media massa ternama di Indonesia. Pada tanggal 14 Juni 2009, Jurnal Footage berkesempatan untuk berbincang dengan Budi Darma, membicarakan soal adaptasi cerpen karyanya ke dalam filem. Perbincangan ini berlangsung di Surabaya, tempat tinggalnya.

Jurnal Footage: Apakah bapak masih sering menulis?

Budi Darma: Masih terus menulis, cuma masalahnya tugas terlalu banyak. Sebenarnya saya sudah pensiun, kemudian diperpanjang lima tahun, dan harus tetap di universitas untuk mengajar seperti biasa. Disamping itu banyak kegiatan-kegiatan lain seperti seminar, jadi waktu untuk menulis berkurang. Untuk menulis butuh konsentrasi, supaya mulai dari awal hingga akhir tidak terganggu apapun juga, tapi kadang-kadang ada telepon atau ada orang datang dari luar negeri meminta saya datang sebagai penerjemah sehingga waktu terputus-putus. Alhasil, menulis dengan enak itu jadi kurang.

Jurnal Footage: Kami dari Forum Lenteng Jakarta ada hasil workshop, namanya Cerpen ke Filem. Sebenarnya berawal dari diskusi kami untuk mengadaptasi karya sastra namun hasilnya menjadi inspirasi. Metode kerja kami waktu itu ketika memilih karya cerpen, khususnya karya bapak, adalah dengan membaca dan membedah paragraf demi paragraf. Ya, secara metodologi memang masih banyak kekurangan karena kami belajar secara otodidak.

Budi Darma: Metodologi itu akan terlihat sendiri selama proses berjalan. Jadi kalau ada minat pasti kita bisa menemukan metodologi yang tepat.

Jurnal Footage: Idealnya, kami ingin mewawancara bapak setelah bapak menonton karya kami.

Budi Darma: [menyelidik filem yang disodorkan] Ini Keluarga M, yang sudah difilemkan?

Jurnal Footage: Durasinya tidak panjang. Kurang lebih 10-25 menit.

Budi Darma: Pemainnya siapa saja?

Jurnal Footage: Teman-teman sendiri.

Budi Darma: Latarnya?

Jurnal Footage: Karena kami terinspirasi, jadi banyak hal yang diimprovisasi.

Budi Darma: Kalau kita melihat sekian banyak karya sastra yang difilemkan memang beda. Jadi pada dasarnya karya sastra itu saat diadaptasi tidak ada yang 80 persen atau 90 persen berdasarkan naskah aslinya. Pasti banyak unsur adaptasinya. Lagi pula, menonton dan membaca itu lain, apalagi sekarang ini kecenderungan teman-teman kita yang masih muda itu, kalau menulis seringkali menggunakan kata-kata atau bahasa-bahasa yang indah, sehingga makna atau maksud yang ingin disampaikan jadi kurang jelas sebab lebih banyak kata-kata indahnya. Plotnya tidak banyak yang berkembang. Sedangkan untuk filem plotnya harus berkembang, konfliknya harus jelas, klimaksnya harus tegas, harus banyak dialognya atau kalau tidak banyak dialog harus banyak gerak. Musik juga mempunyai peranan penting dalam sebuah filem.

Jurnal Footage: Apakah struktur waktu dalam filem dan sastra bisa sejajar?

Budi Darma: Tidak sama. Sastra, misal novel, orang bisa bebas menulis berapa halaman pun, tapi filem dibatasi durasi. Apalagi drama panggung. Dulu kita menyebutnya kehidupan wanita. Kenapa demikian? Karena wanita harus diatur, yang mengatur itu sutradara, waktunya harus tepat tidak boleh melenceng. Filem juga begitu. Jadi kebebasan lebih ada pada penulis karya sastra, terutama novel. Sebab mereka tidak dibatasi apapun. Dulu Arifin C. Noer pernah membuat filem berjudul Suci Sang Primadona. Filem itu aslinya berdurasi 6 jam. Tapi kemudian dipotong sebab terlalu lama, kecuali dibuat berseri atau dibagi dua. Setelah itu dia belajar memadatkan agar filemnya tidak terlalu lama. Lalu dia membuat filem Pengkhianatan G 30 S/PKI, di mana Soeharto muncul. Sebenarnya dia tidak ingin membuat filem itu, tapi terpaksa karena diancam pemerintah dengan pistol.

Jurnal Footage: Apakah filem itu mampu menyamai nilai sastra? Dan ketika sastra itu difilemkan, apakah kualitas sastrawinya masih ada?

Budi Darma: Kualitas satra bisa hilang sebab, mau tak mau, filem tidak mungkin sepenuhnya berdasar karya sastra itu. Oleh karena itu, dalam sejarah sastra, banyak pengarang yang marah setelah novelnya diangkat menjadi filem. Hemmingway, contohnya. Setelah melihat filem yang diangkat dari karyanya The Old Man and The Sea, dia merasa sangat kecewa. Ini yang pernah terjadi dalam sejarah.

Nah, ada juga filem yang kemudian dinovelkan. Di Indonesia kita pernah melihat contohnya. Brownies itu dibukukan dari filem oleh Fira Basuki. Setelah filem itu dibukukan, kabarnya Garin Nugroho menghubungi Fira untuk menjadikannya novel. Tapi ini kasus jarang. Yang kita saksikan sekarang justru banyak saduran novel menjadi filem seperti Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih atau Perempuan Berkalung Sorban. Saya tak tahu apakah penulisnya senang atau tidak melihat bukunya diadaptasi menjadi filem.

Jurnal Footage: Dalam kasus Hemmingway, idealnya apa ketika sastra diterjemahkan ke dalam filem. Apakah semangatnya, inspirasinya atau prosesnya?

Budi Darma: Bisa semuanya. Kita bisa lihat filem laris di Barat itu kalau ada tertulis Based On. Berbeda dengan Inspired By, sebab istilah ini jarang dipakai. Tapi, sejauh mana kebenaran filem, tentu jadi bahan perdebatan tak habis. Pastilah itu adaptasi. Begitu pun novel. Tidak mungkin semua berdasar pada karya itu.

Jurnal Footage: Sebelum workshop kami memberikan beberapa pilihan karya cerpen, lalu teman-teman dibebaskan memilih. Kebetulan dari teman-teman ada yang memilih karya bapak –M dan Yorrick. Apakah M dan Yorrick itu layak divisualkan?

Budi Darma: Itu tergantung pada pembuatnya. Dalam cerpen Yorrick banyak sekali peristiwa, kekejaman-kekejaman seseorang terhadap orang lain. Jadi kemungkinan visualnya pun bisa sangat banyak.

Jurnal Footage: Dalam filem-filem hasil workshop ini, ada beberapa adegan kita siasati dengan cara simbolis. Selain karena menggunakan medium video, bukannya seluloid, perlakuannya pun berbeda. Teman-teman Forum Lenteng yang mengerjakannya pun memang bukan seniman filem. Tujuan kami melakukan workshop ini adalah sebagai sarana pembelajaran untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan sastra menjadi bahasa filem atau video, meski mungkin hasilnya jauh dari memuaskan.

Budi Darma: Selain cerpen saya, ada cerpen siapa lagi?

Jurnal Footage: Umar Khayam, AA. Navis dan Hamsad Rangkuti. Selama proses workshop kita melakukan dokumentasi terhadap semua peserta. Kita menanyakan kenapa mereka memilih cerpen satu dan lainnya. Lalu kami membedah karya satu persatu, meski masih dengan cara otodidak. Kami membebaskan interpretasi peserta terhadap karya. Pembongkaran kata, kalimat, paragraf, jalinan-jalinan struktur cerpen itu yang kemudian disimpulkan menjadi satu gagasan filem yang akan diproduksi. Proses pembongkarannya kurang lebih berlangsung selama tiga bulan.

Budi Darma: Untuk menghasilkan berapa filem?

Jurnal Footage: Sembilan filem

Budi Darma: Satu filem berkisar 10-25 menit?

Jurnal Footage: Ya. Kecanggungan kita adalah pemahaman struktur sastra dan filem. Kami berupaya menjawab pertanyaan, bisakah filem bersejajar dengan sastra tanpa mengurangi substansi atau nilai sastra itu sendiri. Bagaimana bapak melihat struktur waktu dalam filem dan sastra?

Budi Darma: Filem memiliki waktu tersendiri. Saya contohkan cerpen-cerpennya Djenar Maesa Ayu, yang sebagiannya sudah difilemkan. Dia sendiri sutradaranya. Salah seorang pemainnya adalah iparnya, istri seorang penggebuk drum. Mungkin dia perlu diajak diskusi karena dia praktisi penulis cerpen. Dia juga membuat filem dan menyutradarainya sendiri. Kebetulan memang dia punya saudara jauh yang kaya raya, namanya Nugroho Susmanto, di mana sering mendanai kerja Djenar…

Jurnal Footage: Menurut bapak karya Djenar merupakan contoh karya sastra yang berhasil difilemkan?

Budi Darma: Djenar mempunyai inovasi dalam menulis cerpen, jadi dia berbeda dengan teman-teman lain karena daya pembaruan yang dimilikinya. Daya pembaruan itu tampak dalam penyusunan kalimat, sedemikian rupa sehingga memberi sugesti kepada pembaca. Kemudian ketika dia merombak jadi filem, boleh dikatakan berubah total. Yang melekat pada cerpen adalah obsesinya. Sejarah hidupnya itu kan tidak karuan. Ketika masih kanak-kanak, ayahnya, Soemandjaja, hidup terlunta-lunta. Ibunya, Tuti Kirana, dibenci Djenar, dianggapnya tidak menyayangi dia. Pengalaman ketika ayahnya sakit lalu meninggal, di mana ibunya tidak ada disamping untuk merawat memberi alasan untuk ini. Pernah juga suatu kali dia berkeliaran bersama teman-temannya kemudian ditangkap polisi, ketika Tuti Kirana dikabari, ia hanya berkata supaya Djenar mempertanggungjawabkan apa yang telah dia perbuat. Apa yang diinginkan Djenar sederhana, sebenarnya. Dia ingin ibunya datang dan menjelaskan. Ketidaksukaan pada ibunya sewaktu kecil membuat dia mendramatisir. Berbeda dengan cerpennya, filemnya penuh dramatisasi. Misalnya seorang anak yang dikasih makanan basi, tidak sehat dan tidak enak, kemudian anak itu lari ke WC dan muntah. Ibunya yang kejam menyuruh anak itu memakan muntahannya sendiri. Saya pikir, dramatisasi itu susah sekali. Itu tidak ada dalam cerpen. Penonton dibuat syok dengan adegan itu, dan berpikir, kenapa ada orangtua yang sangat mengerikan seperti itu. Ini sah, sebab dia sendiri yang mengerjakan cerpen dan filemnya. Dia bisa berbuat apapun dalam karyanya. Obsesi itu tetap ada dalam dirinya.

Jurnal Footage: Idealnya bapak menonton karya dari teman-teman ini, kemudian kita bisa berbincang banyak soal filem.

Setelah menonton filem M karya Ajeng Nurul Aini dan Interior Kaca karya Otty Widasari (01.22 WITA)

Budi Darma: Terima kasih telah diajak nonton.

Jurnal Footage: Bagaimana dengan filemnya?

Budi Darma: Mungkin bahasa Inggrisnya perlu diperbaiki. Dari segi gramatika, kata he come, he go itu kurang baik. Mungkin yang dimaksudkan bahasa percakapan sehari-hari, tapi ini keliru sebab yang benar adalah he comes, he goes. Kemudian tadi di Keluarga M, kata concierge, lazimnya ada di hotel, yaitu seksi khusus hotel yang tugasnya mengurusi barang-barang tamu. Jadi misalnya ada tamu yang datang dan tidak sempat memasukkan barang, concierge yang mengurusnya. Pada Keluarga M itu apartemen, bukan hotel. Di Amerika, orang yang mengurusi apartemen biasa disebut residence system. Mungkin dalam konteks Indonesia harus dicari istilah lain yang sepadan. Lalu yang lain, apartemen di filem Keluarga M tampak kumuh, sedang di cerpen saya apartemen itu biasa, bahkan cenderung agak mewah. Apartemen itu adalah untuk orang-orang kelas menengah, kebetulan di situ tinggal satu keluarga beranak banyak. Jadi tidak lazim anak sebanyak itu dalam satu keluarga tingggal di apartemen. Kemudian keluarga itu melarat, sehingga dengan demikian, kalau menurut cerita aslinya, ada tentangan yang jelas antara penghuni pada umumnya di sebuah kumpulan apartemen yang boleh dikatakan bagus. Dan ada seseorang yang anaknya banyak yang tidak pantas tinggal di apartemen itu. Kalau di filem itu, apartemennya ditinggali oleh orang kumuh semuanya, orang yang kurang punya. Kemudian kerukunan di dalam Keluarga M, yaitu mereka selalu solider itu tidak tergambar di filem. Dalam cerpen, anak-anak itu rukun sekali. Kalau kemana-mana selalu bersama. Kalau terjadi apa-apa ditanggung bersama. Semua ini tidak tampak. Kecelakaan yang menimpa keluarga M pun kurang terlihat di sini. Jadi filem ini kurang menimbulkan rasa simpati, antipati dan empati. Penonton tidak terlibat dalam segala emosi, karena filem ini kurang menggambarkannya. Lalu, adegan-adegan diam itu terlalu banyak. Kalau kita nonton sinetron itu adegan yang dipanjang-panjangkan. Tapi karena para pemainnya adalah pemain profesional bila dipanjangkan mereka bisa akting, beda dengan ayah dan ibu Keluarga M yang terlihat aneh ketika disorot kamera. Sebabnya, mereka bukan pemain profesional. Banyak juga benda yang disorot terlalu lama, seperti kerusakan-kerusakan pada sepeda motor. Bagi saya, itu memberi kesan yang kurang mendalam. Mengapa di filem ini seolah-olah yang bekerja hanya satu orang, misalnya Ajeng Nurul Aini –penulis skrip, sutradara dan macam-macam.

Jurnal Footage: Karena konsepnya workshop, jadi dalam berkarya, semua partisipan dibebani konsekuensi mengerjakan hal-hal estetik dan artistiknya sendiri.

Budi Darma: Filem Interior Kaca, narasinya baik. Tetapi seperti yang pertama, banyak adegan diam yang terlalu lama, yang tidak bisa memberi kesan kepada penonton ini soal maksud yang ingin diungkap.

Jurnal Footage: Kalau berkaitan dengan struktur dramaturgi antara filem dengan sastra?

Budi Darma: Mungkin durasinya dibatasi.

Jurnal Footage: Sebenarnya filem tersebut hasil interpretasi, bila dia membuat lebih dari itu mungkin tidak masalah.

Budi Darma: Kalau filem ini lebih panjang, mungkin adegan diam yang terlalu lama harus dipotong, sehingga perubahan satu adegan ke adegan lain menjadi lebih cepat dan dinamis. Saya melihat pemain-pemainnya kurang bisa akting.

Jurnal Footage: Bagaimana dengan struktur waktu?

Budi Darma: Temponya terlalu lambat. Tempo yang sekian pendek bisa diisi banyak adegan yang mempunyai unsur sugesti bagi penonton. Sayangnya ini kurang dieksplorasi. Jadi kesimpulannya, yang mengerjakan kurang mengeksplorasi cerita serta kejiwaan di dalam cerita itu. Sebetulnya dua cerpen ini adalah masalah keresahan jiwa dan itu kurang tergambar di sini. Tetapi, saya pikir, sebagai permulaan ini cukup baik.

Jurnal Footage: Sebenarnya pada tahun 2005 kita sudah membuat video puisi, bukan puisi menjadi bahasa video tetapi kita membuat gambar seperti membuat puisi. Sekarang, kita mencoba dengan cerpen, mungkin nanti novel. Bisa tidak bahasa cerpen ditransformasi ke bahasa visual filem?

Budi Darma: Intinya, dalam setiap karya sastra, kita banyak terlibat dalam masalah psikologi. Jadi segala gerak dan pemikiran tokoh utama itu melulu masalah psikologi.

Jurnal Footage: Di era Perang Dunia II, Italia memiliki gerakan sinema neorealisme. Meski tidak punya studio, mereka tetap berkarya dengan menggunakan aktor dari masyarakat biasa. Salah satu motivasi kami adalah gerakan sinema neorealisme itu. Karya Vittorio de Sica misalnya, berjudul Bicycle Thief, mengadaptasi novel. Di filem ini, de Sica hanya menggunakan dua aktor profesional dengan latar-latar sosial keseharian yang memang utuh tanpa rekayasa. Dari sini kami belajar, bahwa filem tidak kehilangan semangat sejarah yang lebih dulu, kesenian yang lebih dulu. Sastra dianggap sebagai bentuk kesenian lebih dulu dibanding sinema. Atas dasar itu, sinema juga berusaha untuk tidak menghilangkan sisi sejarah.

Budi Darma: [tersenyum]

Jurnal Footage: Terima kasih atas waktunya, pak.

Budi Darma: Sama-sama telah diajak nonton. Kacangnya jangan lupa dibawa.

Hits
Comments
Add New Search
ana balqis   |202.185.82.xxx |2009-08-06 12:15:22
Maaf, saya terpula menyertakan alamat email saya; anabalqis@yahoo.com
ana balqis  - mohon pertolongan   |202.185.82.xxx |2009-08-06 12:12:48
Salam maya. Saya anabalqis dari Malaysia. Saya ingin bertanya dan meminta budi baik teman-teman di ruangan maya ini, andainya kalian mempunyai alamat e-mail Pak Budi Darma. Maka, emailkanlah kepada saya. Saya ingin sekali menghubungi beliau. Budi baik kalian, akan saya kenang. Terima kasih.
ajang ajeng  - Wow..   |202.73.111.xxx |2009-07-29 12:58:30
Senangnya, M/ bisa ditonton sama Budi Darma..
wawancara nya seru juga..
mimi  - bertambah lagi ilmu ku   |125.161.167.xxx |2009-07-26 18:58:42
kumpulan cerpen om budhi orang-orang bloomington memang bacaan wajib.
keluarga m dan yorrick......keren
yang josua karabic dan olengka juga kenya bgs buat di bikin film
owa   |114.58.45.xxx |2009-07-19 19:51:07
cihuuuyyy...narasinya baik...ehm
yoki  - bagus   |125.161.99.xxx |2009-07-15 08:58:28
wawancara yang berdialog....nara sumber bisa bertanya dengan ringan kepada pe-nanya, ini yang kurang difahami oleh wartawan saat ini, saat ditanya nara sumber ngak bisa jawab. tulisan di atas berbeda. begitu mencair. menarik.
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 03 March 2010 20:14
 
More articles :

» Visual Overproduction of Video

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant.- Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007The above statement from two writers of visual culture seems to...

» Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

» On Torrent

Nowadays, people from across the globe download music and film from through P2P (Peer-to-Peer) or BitTorrent. It is only natural that industry sees this phenomenon as a threat and tries to demolish it however seemingly impossible. The idea is for...

» In Observing Festival Ceremonies

Editorial_December 2009 End of year is a grand celebration for our film industry. Numerous big festivals are held within the span of one month. First there was Konfiden Short Film Festival on November 19-22, 2009. Followed by Jakarta International...

» Jermal dan Totalitas Neorealisme

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136832

More.Articles_!

V Film Festival 2010 and an Interview with Intan Paramadhita
Saturday, 24 April 2010

V Film Festival or the International Women Film Festival was first held in 2009 with the theme “Girl Power in Action”. This year, V Film Festival 2010 carries the theme “Identity and Youth”. V Film Festival 2010 was held by the collaboration...

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Dian Herdiany
Monday, 21 July 2008

Video Community Should Attain Their Independency   It was started from the catastrophic Yogyakarta earthquake in 2006, Kampung Halaman came and offered society empowerment trough video. They aim at youngsters. The unique methods made Kampung...

Paranormal Activity: A Terrifying Sound Pollution
Saturday, 19 December 2009

Haxan, a work of a Swedish director, Christensen, is a horror film full of strong social political issue. Haxan does not only picture human apprehension to all things supernatural. More than that, Haxan is a historical documentary portraying social...

Watch and Discuss the Movie at Kinoki Jogja
Thursday, 12 June 2008

The name was took from a community which founded in the 1920’s Russia by Dziga Vertov. The mere meaning was Eye of a Camera. According to its name, Kinoki focusing their activities by making film with documentary method, which is recording all...

Ariani Darmawan: Independent Bioscope as Struggle
Tuesday, 12 August 2008

The independent bioscope emerges as a form of struggle from majority of bioscopes. But what fight it is exactly? Probably none, because speaking about struggle in films which calls independent in Indonesia might be complicated and end up to nowhere....

Jim Henson: An Experimental Film Director, The Father of The Muppet Show and Sesame Street
Tuesday, 12 January 2010

Some time ago I was browsing new media arts networking site www.rhizome.org. Surfing the site, I stumbled upon a video uploaded by John Michael Boling entitled Time Piece (1964) by Jim Henson. This eight-minute video is one of the experimental works...

Me and Periferry 1.0
Tuesday, 12 August 2008

“Through many years, at great expenses, journeying through many countries, I went to see high mountains, I went to see oceans. Only I had not seen at my very doorstep, the dew drop glistening on the ear of the corn.” –Visva Bharati.On the...

Ten Directors From The Ten Years of Political Reform
Thursday, 12 June 2008

The political reform of 1998 is an important history in the life of Indonesian. The current of changes occurs everywhere. But, after ten years, what can we achieve? The film screenings of ten years political reform has trying to open the space...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Thursday, 16 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas....

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Wednesday, 28 July 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Available only in Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Sunday, 10 May 2009

(Only in Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

Chaerul Umam’s Ambivalence
Wednesday, 10 March 2010

Rentjong Atjeh
Wednesday, 22 July 2009

(This article only available in Bahasa Indonesia) J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan...

Yang Muda yang Bercinta: Early Montage in New Order Regime
Wednesday, 07 October 2009

A young man rides in a bajaj with his pregnant lover, passing through Jakarta’s slums in the 1970s. Child beggars in the city’s labyrinths become a syntagmatic connection to bajaj. The young man is a university student named Sony (W. S. Rendra)1...

Maklumat Filem Bersuara
Monday, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Toshio Matsumoto (1932-)
Wednesday, 12 August 2009

Mimicking Mimicry: Notes on the 4th Purbalingga Film Festival 2010
Thursday, 03 June 2010

According to Teshome Gabriel, the first period of third world cinema is Hollywood films. The second is by mimicking Hollywood films, i.e. identifying themselves to Hollywood films. We can see traces of mimicry in the early production of Dutch Indies...

Farah Wardani: It’s The First Visual Arts Online Archive in Indonesia
Sunday, 23 August 2009

On August 19, 2009, Indonesia Visual Arts Archive launched the first visual arts archives website in Indonesia, iclick.IVAA. On the occasion, Jurnal Footage interviewed Farah Wardani, Executive Director of IVAA. The following is our interview. Can...

Perbincangan dengan Budi Darma
Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah...

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Tuesday, 26 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang...

Lisabona Rahman
Tuesday, 12 August 2008

Watching Free and Great Movie in Almost Everyday   It get bore sometime to watch movies in the common bioscopes. Mostly because of the standard plots. And also with same players. To face this condition, the emergence of an alternative bioscope...

Silent Film Orchestration at Gedung Kesenian Jakarta
Thursday, 12 June 2008

Originally, silent film was simply tracked by a single pianist as its sound theme. Then, in its development, silent film follow by an orchestra. Newest compositions are then, perform. Last wednesday, May 14th 2008, an ensemble from Vietnam...

Fritz Lang and The German Expressionism
Thursday, 12 June 2008

Fritz Lang is regarded as one of the main directors in the early history of film. As a representative of expressionism in the 1920’s, he has made some of the most important German silent film. During the repression of German Nazi party, he left to...

Reality in Ladri di Biciclette
Thursday, 28 August 2008

QueriesLast night was my numerous silenced on one of the Italian neorealism, Ladri di Biciclette (1948), a film by Vittorio de Sica from the script of Cesare Zavattini. I was stunned in the film exposes on the reality of post-war Italian society....

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Wednesday, 02 September 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Sinema Digital dan DVD
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net