I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern PDF Print E-mail
Written by Renal Rinoza Kasturi   
Thursday, 16 July 2009 16:53

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah perjuangan. Perjuangan melawan egoisme. Bukan menerima, layaknya falsafah Jawa: Nrimo ing Pandum (menerima apa yang diberikan). Ikhlas adalah wacana berserah diri. Bagi Hanung, Madrim mewakili prototipe manusia kini, khususnya manusia Indonesia yang digempur oleh materialisme. Madrim pun kemudian memandang Tuhan hanya sebagai ornamen material belaka.

Filem yang diproduksi oleh Sinemart Pictures dan ditulis berdasarkan cerpen Jujur Prananto ini merupakan salah satu filem Hanung yang bergenre agama. Dalam wawancaranya, Hanung mengatakan bahwa Doa yang Mengancam sangat berbeda dengan Ayat-ayat Cinta karena lebih bersifat komedi hitam religi. Lebih berbicara tentang Tuhan di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Hanung ingin menunjukkan bahwa Tuhan ada di mana saja. Bukan hanya di kalangan atas seperti dalam AC, tetapi juga di tempat-tempat kumuh, di mushala-mushala kecil, di pasar-pasar tradisional yang kotor dan becek.  Menurutnya, di tengah masyarakat kotor, kumuh, ternyata juga masih ada ”nafas-nafas” Tuhan. Tuhan ada di sebuah mushala butut, pasar, kios-kios. Dalam cerita ini, Tuhan juga dilafalkan oleh seorang bodoh. Hanung menegaskan bahwa religiusitas tidak hanya ada pada orang yang punya uang, tetapi juga mereka yang tak punya. Penegasan ini kita lihat dari fragmen-fragmen sinematografis, di mana terlihat ’hamba’ Tuhan yang beribadah di mushala sempit bersebelahan dengan toilet umum, permukiman padat nan kumuh dan pelosok-pelosok sudut kota yang biasa kita lihat seperti di terminal dan pasar-pasar tradisional.

Namun benarkah nasib malang mengantarkan sebuah pengutukan terhadap kehidupan? Filem ini berkisah tentang kehidupan kuli panggul di pasar bernama Madrim yang berubah mendadak sejak istrinya, Leha, kabur dari rumah karena tidak tahan akan hidup miskin ketika tiba di Jakarta. Leha kabur sebab Madrim, suaminya, telah ’membohonginya’.  Praktis, kehidupan yang dijalani Madrim sebagai kuli panggul dengan honor 20 ribu, secara tiba-tiba berubah drastis akibat sang istri kabur. Hidup Madrim ruwet dengan segala ratapan atas kepergian istrinya, ditambah lilitan utang di sana-sini. Ini tergambar dengan jelas ketika ia pulang ke rumah dan melihat istrinya tidak ada, bersamaan dengan itu sang pemilik kontrakan menagih uang sewa yang ditunggak. Utangnya pun menumpuk di rumah makan. Sontak, beban hidupnya kian bertambah sampai akhirnya ia diusir dari kontrakannya.

Ketika menghadapi situasi sulit dalam waktu yang bersamaan ini, Madrim menemui temannya Kadir (Ramzi), seorang marbot Mushola yang juga sahabatnya. Ia lantas menceritakan apa yang menimpanya dan Kadir pun menyarankan agar Madrim berdoa kepada Tuhan. Saran temannya tersebut ia ikuti hingga ia merasa bosan dan bahkan putus asa, lantaran doa-doanya tidak terkabulkan.

Ultimatum Atas Tuhan

Dalam kebimbangan dan keputusasaan akibat doa yang tak kunjung terkabul, Madrim lantas mengancam Tuhan dengan mengultimatum dalam doanya. Memberi Tuhan tenggat tiga hari untuk mengabulkan doanya atau ia akan murtad. Benar saja, doa Madrim tidak dikabul. Akhirnya, Madrim berkelana dan tersambar petir di sebuah desa. Anehnya, ia tidak terluka atau bahkan meninggal akibat tersambar petir, malah ia selamat dan memiliki semacam kekuatan untuk mengetahui keberadaan seseorang hanya melalui fotonya saja. Keajaiban yang ia miliki terbukti benar. Melalui kesaktian ini, hidupnya berubah drastis. Sekejap, Madrim pun menjadi orang penting. Lewat keberhasilannya menemukan anak Pak Lurah yang menghilang selama setahun, Madrim langsung dipercaya polisi yang kebetulan hadir dalam suasana di mana putri Pak Lurah ditemukan sedang syuting. Tiba-tiba Madrim dengan kemampuan yang ia miliki dapat mengungkap berbagai kasus buronan. Tanpa ia sadari, kehebatannya dalam mengungkapkan keberadaan buronan membawanya kepada seorang penjahat kerah putih bernama Tantra (Dedi Sutomo). Penjahat ini sangat takut apabila ia ditangkap polisi gara-gara Madrim yang memberi tahu keberadaannya. Singkat cerita ia pun disekap oleh Tantra dan hendak dilenyapkan. Lagi-lagi, Madrim berdoa agar ia tidak dibunuh. Madrim tidak dibunuh, malahan Tantra memeliharanya dengan gaji 10 juta per bulan, mobil pribadi dengan seorang pengawal dan ditempatkan di sebuah apartemen tanpa melakukan pekerjaan apapun.

Berkat Tantra, ia kembali berkunjung ke rumah kontrakannya yang dulu sambil memandangi foto istrinya yang masih terpampang di dinding. Di tempat tinggal lamanya itu, ia membagi-bagikan uang kepada warga sekitar, melunasi utang-utangnya dan menemui sahabat karibnya Kadir yang tak henti menasihatinya. Kemudian ia pergi ke rumah ibunya, namun kecewa sebab kemampuan yang ia miliki membawa malapetaka yang amat tidak ia harapkan. Ia dapat mengetahui masa lalu ibunya yang ternyata seorang pelacur. Jelang akhir cerita ini ditandai dengan Tuhan mengabulkan doa Madrim agar ia dipertemukan dengan istrinya. Doanya pun kabul, namun istrinya berubah menjadi seorang pelacur kelas atas yang dikontak Tantra saat Madrim dilihatnya begitu ingin mendapatkan wanita. Pelacur itu tidak lain istrinya sendiri. Madrim terkejut menemukan istrinya menjadi seorang pelacur kelas atas. Ia dan istrinya kejar-kejaran hingga ke atas apartemen. Di atas atap apartemen, Madrim memberikan pilihan kepada istrinya, untuk kembali atau loncat. Istrinya yang malu memilih loncat dari apartemen, lalu meninggal dunia. Lagi-lagi, Madrim mengutuk penderitaan yang ia alami. Ia mengancam Tuhan melalui doanya.

Penggambaran tersebut tampak sangat karikatural. Madrim datang ke tempat kontrakannya yang kumuh dengan membagi-bagikan uang seolah ingin balas dendam atas apa yang menimpanya. Ia yang sebelumnya dipandang sebelah mata kini ingin menunjukkan bahwa ia masih punya harga diri. Dan harga diri itu sendiri diukur dengan seonggok materi. Frase karikatural ini juga ditemui saat Madrim datang ke diskotik, terkesan penggambarannya tidak ’pas’ karena terlalu dibuat-buat. Apa Madrim dapat bertindak aneh dan sangat aneh di tempat tersebut hingga ia tersengat listrik akibat lampu diskotik jatuh menimpanya. Kehadiran sahabat karibnya, Kadir, di sana seakan menambahkan kesan yang tidak realis: mana mungkin seorang dengan penampilan ’alim’ dapat masuk ke diskotik.

Akhir Bahagia Madrim

Cerita yang disuguhkan dalam filem ini tentunya berpretensi ingin memenuhi harapan penonton. Dalam kacamata penonton, akhir bahagia adalah prasyarat wajib bagi sebuah filem berbasis komersial. Logika Aristotelian ini menjadi syahadat bagi insan filem nasional, tak terkecuali Hanung Bramantyo, yang ingin menghadirkan ini sesuai selera penonton. Sebab, jika tidak sesuai dengan keinginan penonton pastilah filem ini terasa hambar dan ia akan dikutuk karena filemnya tidak memenuhi standar selera penonton.

Dalam setiap narasi yang diwartakan, akhir bahagia mendapat tempat yang utama. Ia menjadi locus pelepasan dan pemenuhan penonton. Dalam psikologi penonton, akhir bahagia merupakan antiklimaks dari persoalan-persoalan yang dibangun dalam sebuah filem dan berkorespondensi dengan harapan penonton yang bisa jadi mengalami tekanan sosial atau bahkan itu yang diingini penonton. Lagi-lagi, sang pembuat filem harus takluk di hadapan selera penonton.

Setelah lelah bergulat dengan segala rentetan kejadian yang ia alami secara bersamaan. Madrim menemukan apa yang ia cari, kebahagiaan. Sebelumnya, ia mengira bahwa kebahagian itu berupa sebuah materi yang ia peroleh dan mendapatkan seorang istri yang cantik namun hal tersebut menjadi terbalik lantaran tuntutannya akan ’kebahagiaan’ material membuatnya tambah sengsara. Ketika ia mengancam Tuhan dalam doanya agar ia keluar dari jeratan kemiskinan yang menimpanya, justru ia diberi Tuhan kemampuan lebih dan uang yang banyak namun apa yang telah diraihnya tidak memberikan ia kebahagiaan apapun. Ia malah tersiksa akibat pemberian yang telah Tuhan berikan kepadanya. Singkat cerita, Madrim menemukan kebahagiaan hakiki di tempat ketika ia menjadi kuli panggul sebelumnya. Di sana, Madrim membuka rumah makan bersama ibunda tercintanya dan Kadir temannya ada selalu bersamanya baik dalam saat Madrim mengalami dekadensi hingga Madrim menemukan makna hidup yang fitri. Bersamaan dengan itu Madrim telah berhasil merebut fitrah kebahagiaannya tersebut. Pertama ia bahagia hidup berkecukupan dengan membuka rumah makan bersama Ibunya. Kedua ia selalu ditemani oleh Kadir kawan karibnya yang senantiasa hadir sebagai teladan hidupnya. Ketiga, ia menemukan cinta seorang gadis mantan pramusaji di rumah makan tempat di mana ia selalu berutang dulu.

Madrim: Sebuah Sketsa Hidup Kaum Subaltern

Benarkah sosok Madrim mewakili sketsa kaum subaltern, yang tergerus dan terpinggirkan? Pertanyaan ini menjadi penting ketika dikaitkan dengan terminologi subaltern yang diperkenalkan Gayatri Chakravorty Spivak, seorang Internasionalis perempuan India, yang juga seorang profesor di Pittsburgh University. Pada tahun 1985, Spivak menerbitkan satu esai berjudul “Can Subaltern Speak? Speculations on Widow-Sacrifice” di jurnal internasional terkemuka, Wedge. Tak pelak tulisan yang berbicara tentang bunuh diri janda di India (sati) ini menjadi sebuah diskursus hangat di antara para intelektual kala itu. Melalui tulisan tersebut, Spivak semakin memantapkan posisi intelektual yang mengkaji teori-teori pascakolonial. Kalangan intelektual pascakolonial merupakan garda depan pembela hak-hak kaum minor yang tertindas, yang telah dimiskinkan oleh struktur sosial-politik-ekonomi-budaya dan bahkan keyakinan agama.

Tesis Spivak mengenai kaum subaltern ini secara genealogis merujuk pada gagasan yang digunakan oleh Antonio Gramsci. Menurut Gramsci, subaltern ialah mereka yang diposisikan pada kelompok inferior atau subordinat yang tidak mempunyai akses atas kelas penguasa di level hegemonik. Dalam catatannya tentang sejarah Italia yang terbit 1934, Notes on the Italian History, Gramsci menyatakan bahwa sejarah seharusnya juga menulis tentang kelas-kelas subaltern. Menurutnya, sejarah kelas-kelas subaltern tak kalah kompleksnya dengan sejarah kelas dominan, hanya saja yang terakhir ini lebih diakui sebagai "sejarah resmi". Ini bisa terjadi karena kelas-kelas subaltern tak punya cukup akses kepada sejarah, kepada representasi mereka sendiri, dan kepada institusi-institusi sosial dan kultural. Menurut Gramsci, hanya sebuah "kemenangan permanen" (yaitu revolusi kelas) yang bisa memotong pola subordinasi ini (Antariksa, Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana Pambudy: 2003).

Sedangkan dalam kacamata Ranajit Guha, sejarawan India dari Subaltern Study Group, subaltern adalah ”mereka yang bukan elit”. Sedangkan elit ialah mereka yang berada di kelompok-kelompok dominan. Tentunya, anasir subaltern ini melampaui gagasan oposisi biner yang dinukilkan Jacques Derrida dalam tesisnya. Sebab, istilah subaltern menjadi menarik untuk melihat kaum yang selama ini terpinggirkan dan berada hanya dalam wacana kaum elit. Subaltern tidak dilihat dari kacamata penguasaan oleh kelompok dominan seperti dalam kasus kolonialisme melainkan semacam pleidoi kaum intelektual terhadap mereka yang diposisikan ’lemah’. Tampaknya proyek subaltern menjadi penting sebagai sarana untuk melakukan liberasi dan transformasi sosial. Namun, proyek subaltern juga dapat menjadi blunder. Spivak sampai pada kesimpulan bahwa kelompok-kelompok subaltern atau mereka yang tertindas memang tidak bisa berbicara. Dan adapun bahaya klaim bahwa mereka (kaum intelektual) hadir atas dasar suara-suara kelompok subaltern dapat menjadi hegemonik. Relasi yang terbangun justru ”tuan-hamba” sehingga cita-cita liberasi dan transformasi tidak terpenuhi.

Suara kelompok-kelompok subaltern tidak akan bisa dicari, karena mereka memang tidak bisa berbicara, karena mereka memang tidak bisa bersuara. Intelektual datang bukan buat mencari suara itu, melainkan harus hadir sebagai "wakil" kelompok subaltern. Mengutip Gramsci, menurut Spivak intelektual mesti disertai "pesimisme intelek dan optimisme kemauan" –skeptisisme filosofis dalam memulihkan keagenan kelompok-kelompok subaltern yang disertai sebuah komitmen politis untuk menunjukkan posisi mereka yang terpinggirkan (Antariksa, Maria Hartiningsih dan Ninuk Mardiana Pambudy: 2003).

Kembali lagi pada persoalan di atas, benarkah Madrim mewakili suatu kelompok subordinat atau tepatnya kaum subaltern? Benarkah ia tidak punya kuasa apapun seperti yang ditulis kaum subaltern oleh Spivak maupun Ranajit Guha? Dalam pembacaan saya, sosok Madrim dapat dikategorikan sebagai seorang yang mewakili kaum subaltern. Sebab ia berada di posisi kelas pekerja khususnya seorang kuli panggul yang hidup dengan pergulatan hidup yang keras. Lingkungan sosial yang seakan tak ramah padanya membuatnya tak berdaya dan seperti yang diistilahkan oleh Spivak Tidak Dapat Berbicara. Ia hanya dapat berbicara kepada Tuhannya dengan untaian doa-doa yang dalam filem ini doa yang disematkan merupakan sebuah ultimatum atau ancaman kepada Tuhannya. Hal itu persis seperti dalam terminologi subaltern ketidakberdayaan akibat relasi sosial. Tuhan tempat satu-satunya sebagai tempat menyuarakan aspirasi. Penulis cerita filem ini secara tidak sengaja menggambarkan betapa tidak berdayanya sosok Madrim ketika dihadapkan dengan keadaan objektif dirinya dengan segenap persoalannya –mulai dari utang-piutang yang melilitnya, kepergian istrinya hingga menjadi ’peliharaan’ penjahat kerah putih. Dari kacamata subaltern, kita dapat melihat Madrim juga tak kuasa pada polisi yang sepertinya menggunakan cara irasional akibat frustrasi tidak kunjung menemukan buronannya dan menggunakan jasa Madrim sebagai metode dalam mengungkapkan dan menangkap para buronan.

Mungkin di benak penulis skenario filem ini ingin menggelitik aparatur penegak hukum kita dengan sebuah satir yang karikatural ini. Namun sosok Madrim bisa juga tidak mewakili sedikitpun kelompok subaltern. Penggambaran karikatural, memperlihatkan sebuah drama kolosal kaum elit yang bisa saja mengeksploitasi kemiskinan dengan Madrim sebagai prototipenya. Pembacaan ini bisa benar adanya, selama apa yang dihadapi Madrim hanya menyenangkan kelompok subaltern sesaat di akhir cerita dengan akhir bahagia. Capaian akhir bahagia Madrim dan sosok sahabatnya Kadir menjadi semacam ’mimpi’ yang diproyeksikan dan dibayangkan oleh pembuatnya tanpa adanya proses pemberdayaan. Akhir bahagia hanya dijadikan ’pelarian’ oleh pembuat filem ini. Laku yang ditonjolkan bisa jadi bagaikan mimpi buruk proyek kolonialisme di mana adanya distingsi yang kuat antara Barat-Timur. Relasi ini mungkin bisa saja terbangun. Madrim bisa saja mewakili sosok dunia ketimuran yang eksotik dengan kemiskinannya dan ia berhasil menemukan kebahagiaannya. Pembuatnya tampil mewakili sosok oksidental yang mempunyai akses kuasa untuk bernarasi. Penggambaran tentang Madrim dengan segala konsekuensi hidup, bisa jadi blunder bagi Hanung Bramantyo sendiri, sebab dalam wacana pascakolonial, khususnya pembahasan mengenai subaltern, dikotomi antara penindas-tertindas, tuan-budak terlampaui. Bagi mereka yang mengaku sebagai pembela kaum subaltern bisa terjebak. Jangan-jangan justru ia sendiri yang berlaku sebagai penindas kaum subaltern.

Persoalan-persoalan ini menjadi sebuah proyek besar untuk dapat diselesaikan oleh para intelektual dan seniman dalam perubahan sosial. Pertanyaan yang menggelitik di sini ialah siapa sesungguhnya kelompok marginal yang mau dibela atau diberdayakan? Suara siapakah yang ingin disampaikan? Bagaimana peran intelektual dan seniman dalam misi perubahan sosial yang terkesan profetik itu? Dan benarkah Hanung telah memulainya bagi masyarakat kita? Atau apakah seperti yang disebut Eric Sasono, bahwa Hanung telah menanggung beban berat sejarah: yaitu dengan memasukkan tema agama dan kemiskinan secara bersamaan dalam sebuah filem yang ia buat? Doa yang Mengancam, menurut Eric, adalah komentar sosial politik yang kental.

Terlepas dari berbagai anasir yang menggempurnya, filem ini patut dijadikan referensi untuk menengok persoalan keumatan yang terpotret sangat liris di sudut pasar meskipun penggambarannya terkesan karikatural. Di akhir cerita, Madrim rupanya ia ’berdamai’ dengan kemiskinan yang membalutnya. Perjalanan untuk menemukan kebahagiaan pun merupakan jalan penuh liku dengan iman sebagai pertaruhannya. Pergulatan iman inilah yang akhirnya menemukan makna hakiki sebagai seorang manusia paripurna. Dalam Islam, manusia seperti ini disebut sebagai umatan wasathan (umat utama). Untuk meminjam tesis Clifford Geertz, masalah yang dihadapi Madrim ialah sebuah lanskap pandangan dunia, sebagai entitas manusia yang bergulat dengan iman yang ia peluk untuk membentuk sebuah suasana hati, intimasi dan motivasi-motivasi yang kuat akan yang Ilahiah dan bermuara pada cerminan dirinya. Madrim telah menemukan asketisme dalam dirinya dengan pergulatan iman yang sangat heroik tentang narasi besar yang tak ia sadari, yakni keimanan dan kemiskinan.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Thursday, 16 July 2009 17:09
 
More articles :

» Jermal dan Totalitas Neorealisme

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

» Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)

(only available in Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

» ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta

(Only available in Bahasa Indonesia) Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia....

» Bilal

{flvremote}http://prod-flv.engagemedia.org//forumlenteng/videos/BILAL_OK-c926e659ad71220b6e001ab0a0b01e6f.flv{/flvremote}"This experimental film tries to question what the meaning is of being both a punk and a Muslim. Bagasworo is a punk who sing...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136933

More.Articles_!

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Friday, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

The Ontology of Cinematography and Reflections on Cinema
Wednesday, 22 October 2008

The ontology of cinematography and the reflections on cinema addresses the question of what film is, what makes a film a film, and to examine what Wittgenstein would call the grammar of our concept of film and the role films play in the forms of our...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Friday, 24 October 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Transmission Asia Pacific 2008
Thursday, 12 June 2008

The camping ground was taste very humid. Every afternoon and night, rain just won’t stop dropping. But the end of May approaching, the month that should be entering dry season. Sometime, a school of bats flying. One or two of them inflowing the...

Me and Periferry 1.0
Tuesday, 12 August 2008

“Through many years, at great expenses, journeying through many countries, I went to see high mountains, I went to see oceans. Only I had not seen at my very doorstep, the dew drop glistening on the ear of the corn.” –Visva Bharati.On the...

V Film Festival 2010 and an Interview with Intan Paramadhita
Saturday, 24 April 2010

V Film Festival or the International Women Film Festival was first held in 2009 with the theme “Girl Power in Action”. This year, V Film Festival 2010 carries the theme “Identity and Youth”. V Film Festival 2010 was held by the collaboration...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Thursday, 15 January 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Thursday, 12 June 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

Lightly Reflecting the World’s History of Visual Art through 70 Million Video
Wednesday, 10 March 2010

There’s so much one can do upon reflecting history. In the Western world, interpretation of cultural history continues to roll until today. It’s the essence of cultural history: to be reinterpreted continuously by consecutive generations. The...

Chris Marker: In Memory of New Technology
Friday, 12 June 2009

1. An Awkward MemoryI remember discussing Chris Marker’s most recent feature film, Level Five (1996), with a friend of mine when it first came out. She was generally impressed with the film, but irritated by what she described as “an old man’s...

Jean Epstein: First Avant-garde Director
Wednesday, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) One of the foremost directors of the French silent cinema, Epstein is also remembered as a cinematic theorist whose writings such as Ecrits sur le cinema examined the philosophical impact of film. Epstein's works, considered...

Toshio Matsumoto (1932-)
Wednesday, 12 August 2009

Der Letztze Mann: The Independence of Murnau’s Cinema
Thursday, 17 December 2009

In a scene, a doorman attends to the entrance of a luxurious hotel; dignified in gesture, alert and ready to serve every guest. A very friendly figure among the hustling hotel guests. At one time, two ladies are exiting. It’s a little rainy when...

The Endless Steps: Transaction of Sign Agreement
Monday, 24 November 2008

‘Is there any sign?’This question asked four times by a caller in the video The Endless Steps from Maulana Adel Pasha. Question which is so important for the caller to find the house. The transaction of sign thus occur. A bargain of subjective...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Wednesday, 16 December 2009

(available only in bahasa Indonesia) ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Reality in Ladri di Biciclette
Thursday, 28 August 2008

QueriesLast night was my numerous silenced on one of the Italian neorealism, Ladri di Biciclette (1948), a film by Vittorio de Sica from the script of Cesare Zavattini. I was stunned in the film exposes on the reality of post-war Italian society....

Watch and Discuss the Movie at Kinoki Jogja
Thursday, 12 June 2008

The name was took from a community which founded in the 1920’s Russia by Dziga Vertov. The mere meaning was Eye of a Camera. According to its name, Kinoki focusing their activities by making film with documentary method, which is recording all...

Interview with Bronnt Industries Kapital
Friday, 10 July 2009

Geometer: I only came to hear of Häxan through your soundtrack - it’s a great film and I was surprised I’d not heard of it. How did you first hear of the film? Guy: We were first approached to perform a live soundtrack to the film at...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Friday, 12 June 2009

(temporarily, only available in Bahasa Indonesia) Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan...

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Saturday, 03 July 2010

Read original article   Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah...

The 54th Oberhausen: The Oldest But Somehow Actual
Thursday, 12 June 2008

Labors all around the world come down to the street in May Day, celebrating The International Labor Day in the first of May. They sounding their rights to the rulers. All governments aware and increasing the security level. Even in Indonesia, the...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Wednesday, 28 July 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Available only in Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

Elida Tamalagi
Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge exigency is not supported by the aspirant management of the movie place. The activity of screening...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Wednesday, 02 September 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Wednesday, 19 August 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Wednesday, 19 May 2010

Read original article   Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak...

Sinema Digital dan DVD
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri...

Berita Gempa
Thursday, 01 October 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net