I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Rentjong Atjeh PDF Print E-mail
Written by Java Industrial Film   
Wednesday, 22 July 2009 00:40

(This article only available in Bahasa Indonesia)

J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940

"RENTJONG ATJEH"

Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan bajak itu telah merampas segala barang yang berharga dari itu kapal dan menawan juga penumpang-penumpangnya. Hanya dua anak kecil, Daud dan ia punya adik perempuan, Roesna, dapat meloloskan diri dengan menumpang sebuah perahu. Antara orang-orang yang ditawan oleh itu kawanan bajak ada terdapat Ma Cik dan ia punya anak perempuan yang masih kecil, Marjam. Ma Cik telah diambil isteri oleh Bintara, sedang Marjam telah dipelihara sebagai anak tiri. Sementara itu, Daud dan Roesna telah terdampar ke pesisir Sumatera dan mereka hidup berduaan di dalam hutan belukar.

Sepuluh tahun berselang . . .
Daud (Mochtar) dan Roesna (Hadidjah) telah menjadi "anak-anak rimba" asli. Mereka tidak mengenal lain kawan dari pada mereka punya gajah-gajah, harimau dan sebagainya. Pada suatu hari mereka telah ketemu dengan Panglima Ali (Ferry Kok) yang telah sesat jalan di dalam rimba dan telah ditolong oleh mereka. Ia orang bertiga telah menjadi sobat rapat dan di dalam hatinya Panglima Ali timbullah bibit cinta terhadap Roesna. Sementara itu Marjam (Dewi Mada), anak tirinya Bintara, telah menjadi satu gadis yang cantik dan hidup sebagai penari di antara itu kawanan bajak. Di dalam hatinya Bintara timbullah perasaan cinta terhadap ia punya anak tiri, tetapi Marjam telah melarikan diri, masuk ke dalam rimba dan bertemu dengan Panglima Ali bertiga. Di situ Daud Bintara telah memerintahkan ia punya kawan-kawan buat cari pada Marjam. Mereka bukan saja dapat tangkap kembali Marjam, tetapi juga sekalian tawan pada Roesna. Daud dan Panglima Ali, ketika dapat tahu ini kejadian, lantas mengejar sampai ke dalam sarangnya itu kawanan bajak. Pertarungan-pertarungan seru telah kejadian. Beberapa kali Daud dan Panglima Ali tertawan, tetapi mereka bisa loloskan diri, juga dengan bantuannya Daud punya gajah-gajah! Akhirnya Bintara telah binasa di bawahnya rencong dari Panglima Ali, yang ternyata ada ia punya keponakan sendiri!

Para pemain:

Dewi Mada
Dewi Mada ada satu bintang tooneel, yang namanya sudah tidak asing lagi bagi publik di ini negeri. Ia ada satu antara itu penari-penari yang telah turut Dja's Ballet Troupe bikin perjalanan mengelilingi dunia buat pertunjuki kesenian ini negeri di Eropa dan Amerika. Ia kembali dari Amerika belum lama berselang dan telah masuk dalam dunia film. Ia punya debute dalam film adalah dalam "Rentjong Atjeh", dalam mana ia main sebagai Marjam. Dari toneel ke film, ia telah menyeberang, dan dengan berhasil!

Ferry Kok
Ferry ada satu antara Dja's Dardanella punya "big five". Buat para penonton di ini negeri, Ferry Kok punya nama sudah tidak asing lagi. Ia barusan kembali dari perjalanannya mengelilingi dunia bersama-sama Dja's Ballet Troupe dan telah unjuk ia punya filmdebute dalam "Rentjong Atjeh" dengan Dewi Mada. Ia punya debute ini membuktikan, Ferry punya menyeberang dari dunia tooneel ke dunia film, pun telah kejadian dengan hasil yang baik. Dalam "Rentjong Atjeh" ia main sebagai Panglima Ali.

Hadidjah
Hadidjah mulai populer dengan ia punya muncul dalam J.F.I. Production "Alang-Alang", jungle-film pertama buatan ini negeri. Hadidjah pun ada aktris pertama di ini negeri yang telah main dalam film bersama binatang-binatang buas. Permainannya di dalam "Alang-Alang" membikin ia jadi disuka oleh publik, maka J.I.F. telah percayakan rol Roesna padanya dalam "Rentjong Atjeh". Di dalam ini film Hadidjah telah unjuk permainan jauh lebih sempurna dari pada yang sudah-sudah.

Moh. Mochtar
Mochtar ada kelahiran Priangan. Ia mulai terkenal dari film "Alang-Alang", dalam mana ia telah unjuk ia punya kegesitan yang membikin penonton jadi suka padanya. Dalam "Rentjong Atjeh" Mochtar main sebagai Daud. Ia punya kawan-kawan dalam ini film adalah gajah-gajah, harimau, dan sebagainya, hingga ia mendapat julukan "Tarzan of Java"!

Bissoe
Bissoe adalah kelahiran Aceh, hingga tidak heran jikalau ia merasa senang dengan turut main dalam "Rentjong Atjeh", yang sedikit banyak membikin ia ingat pada tanah kelahirannya itu! Meski sudah main dalam berbagai produksi lebih dulu dari J.I.F. Production, Bissoe baru mulai terkenal dari film "Alang-Alang". Dalam ini film Bissoe telah unjuk permainan baik, hingga dalam "Rentjong Atjeh" ia telah diberikan rol sebagai Bintara. Ini rol dimainkan olehnya dengan baik sekali.

M. Sardi
M. Sardi ada ahli musik dan lirik Indonesia yang baik. Ia berasal dari Yogyakarta dan ia punya karangan-karangan musik orang bisa dengar merdunya dalam berbagai film keluaran J.I.F. Production sebagai "background music", maupun buat nyanyian-nyanyian. Komposisi dari Sardi, yang sampai sebegitu jauh terdengar dalam J.I.F. Production, ternyata ada menarik hatinya penggemar-penggemar musik dan telah mendapat pujian. Semua komposisi dari Sardi buat film keluaran J.I.F. ada original. Juga "Rentjong Atjeh" ada "dihiaskan" dengan Sardi punya komposisi dan bagaimana merdunya itu, inilah publik akan dapat mendengar di waktu film itu diputar.

J.I.F. JOURNAL, No. 1, Agustus 1940, Tahun ke I


J.I.F. Journal diterbitkan oleh Java Industrial Film, Molenvliet Oost, Bat. C. Disiarkan dengan gratis pada Bioscoop-Exploitanten
Jurnal ini diterbitkan tidak berkala, tetapi sebagai media informasi produksi-produksi terbaru dari Java Industrial Film.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 22 July 2009 00:59
 
More articles :

» Jermal dan Totalitas Neorealisme

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat

(available only in Bahasa Indonesia)Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

» Riri Riza: The Priority is Film Industry!*

In absence of clear cultural policies, Indonesians cultural activists often protest. After more than 60 years since our independence, debate on the directions of Indonesia’s modern culture continues to roll. But to date, nothing has come out...

» Filem! Apa itu? Komunitas Filem.

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)Ada banyak hal yang bisa didiskusikan saat kita bicara tentang komunitas filem dan filem komunitas. Dari persoalan pilihan untuk berkumpul sebagai sebuah kelompok, apa itu penonton, tema-tema, hingga...

» Dominasi Maskulin dalam Filem PPC

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136873

More.Articles_!

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Thursday, 12 June 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

7th Year Forum Lenteng
Wednesday, 14 July 2010

Happy 7th Anniversary Forum Lenteng * * * 

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Thursday, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Video: The New Wave
Thursday, 31 December 2009

Tracing the Genealogy of World’s Video Art The development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art events have included video art as part of contemporary art exhibition. Video art has even invaded...

No Surprises in Sang Pemimpi
Monday, 28 December 2009

A film firstly released as an opening to the 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) was already attracting crowd even before the week of its release ended. Audience seemed to be very enthusiastic to kill their curiosity over this sequel...

The 54th Oberhausen: The Oldest But Somehow Actual
Thursday, 12 June 2008

Labors all around the world come down to the street in May Day, celebrating The International Labor Day in the first of May. They sounding their rights to the rulers. All governments aware and increasing the security level. Even in Indonesia, the...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Wednesday, 19 May 2010

Read original article   Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak...

Maklumat Filem Bersuara
Monday, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

Under The Tree: Garin’s Failure to Renounce Modern Monism
Monday, 28 December 2009

The 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) is adorned with Indonesia Feature Film Competition (IFFC) that proved the quality of our national films in the international level. Films screened in IFFC are selected based on theme, narration,...

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Chaerul Umam’s Ambivalence
Wednesday, 10 March 2010

Prima Rusdi
Thursday, 12 June 2008

We May Not Accomplish Anything After a Decade of Political Reform   To commemorate the ten years of political reform, Proyek Payung held a screening event of the ten short films from ten young directors at Kineforum Jakarta, May 12 to 20th 2008....

Reading Michael Haneke’s Code Unknown
Friday, 03 October 2008

Michael Haneke is probably the most interesting director in the contemporary cinema history. Born in Munich, 1942, Haneke grew in suburb Austria, Weiner Nestadt. Having learned pschycology, philoshophy and theater at the Vienna University and make...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Sunday, 10 May 2009

(Only in Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

The Endless Steps: Transaction of Sign Agreement
Monday, 24 November 2008

‘Is there any sign?’This question asked four times by a caller in the video The Endless Steps from Maulana Adel Pasha. Question which is so important for the caller to find the house. The transaction of sign thus occur. A bargain of subjective...

Me and Periferry 1.0
Tuesday, 12 August 2008

“Through many years, at great expenses, journeying through many countries, I went to see high mountains, I went to see oceans. Only I had not seen at my very doorstep, the dew drop glistening on the ear of the corn.” –Visva Bharati.On the...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

One Day We'll Only Memorizing The Celluloid
Tuesday, 12 August 2008

What film struck you most? Fiction and documentary: film. Until two years ago, when I stepped out my room to watch The Mirror, a film of Jafar Panahi, I was feeling awakened to the category of certain films that for a long time quieting my mind. If...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Thursday, 16 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas....

Reality in Ladri di Biciclette
Thursday, 28 August 2008

QueriesLast night was my numerous silenced on one of the Italian neorealism, Ladri di Biciclette (1948), a film by Vittorio de Sica from the script of Cesare Zavattini. I was stunned in the film exposes on the reality of post-war Italian society....

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Friday, 24 October 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Wednesday, 02 September 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Bilal: Between Freedom and Fascism in Punk Ideology
Thursday, 17 July 2008

Bilal (2006) is a first and important work of Bagasworo Aryaningtyas. The work also appeared to be a confirmation of Bagasworo identity as a true punker. His next works such as Memanjakan Tubuh/Spoiling the Body (2006) and Lingkaran X/The X Circle...

Mimicking Mimicry: Notes on the 4th Purbalingga Film Festival 2010
Thursday, 03 June 2010

According to Teshome Gabriel, the first period of third world cinema is Hollywood films. The second is by mimicking Hollywood films, i.e. identifying themselves to Hollywood films. We can see traces of mimicry in the early production of Dutch Indies...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Monday, 26 January 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Di Dasar Segalanya: A Surrealistic Image of Anxiety
Sunday, 20 December 2009

On December 17, 2009, I had the opportunity to watch Paul Agusta’s second film, Di Dasar Segalanya (At the Very Bottom of Everything) at Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Unlike his first film, Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift),...

Visual Overproduction of Video
Tuesday, 18 August 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 The above statement from two writers of visual culture seems to...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net