I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina dan diselaraskan oleh Mahardika Yudha   
Wednesday, 02 September 2009 00:15

(Available only in Bahasa Indonesia)

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini pernah dimuat rentang edisi 1951-1955. Sejarah filem sebagai seni (2), ditulis oleh B.J. Bertina.


Artikel yang berasal dari buku “Film in opspraak” karangan B.J. Bertina, diterbitkan oleh Penerbit De Koepel. Nijmegen/Antwerpen, 1951, telah diterjemahkan dan dimuat berseri dalam majalah Aneka di tahun terbit VI tahun 1955, nomor-nomor terbitannya: 9 (20 Mei 1955); 10 (1 Juni 1955); 11 (10 Juni 1955); 12 (20 Juni 1955); 13 (1 Juli 1955); 17 (10 Agustus 1955); 19 (1 September 1955); 20 (10 September 1955); 21 (20 September 1955); 22 (1 Oktober 1955); 23 (10 Oktober 1955); 24 (20 Oktober 1955); 25 (1 November 1955); 26 (10 November 1955).

No. 10 Tahun VI 1 Juni 1955
SEJARAH FILEM SEBAGAI SENI [2]: Pengaruh Sandiwara

Di antara 35 orang hadirin yang datang menonton pertunjukan pertama dalam bioskop primitif dari dua bersaudara Lumiére, ada seorang pemuda yang hampir-hampir tak sabar menanti lampu-lampu dinyalakan kembali dalam ruangan café Boulevard des Capucines di Paris. Setelah ruangan itu menyala, pemuda itu lari menemui Louis Lumiére dengan pertanyaan, apakah ia mau menjual barangnya. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 28 Desember 1895 dan pemuda yang tak sabar itu adalah Georges Méliès, direktur pemilik kabaret dan sebuah café-chantant berusia 34 tahun, yang sering membuat kagum para penonton dengan pertunjukan-pertunjukan fantasmagoris (fantastik) dengan maksud supaya penonton terheran-heran. Dua bersaudara Lumiére sedikit pun tidak mengerti mengapa pemuda itu demikian antusias lantaran temuannya dan mengapa pemuda itu berani menawarkan uang begitu banyak, padahal menurut mereka hanyalah “penemuan ilmu pengetahuan yang sederhana”. Louis Lumiére mencoba meredakan kegirangan calon pengusaha filem itu. Ditepuk bahu pemuda itu seraya berkata: “Bung, lebih baik pakai uang itu untuk keperluan lain, sebab menurut saya ini hanya akan membuat kau miskin kelak.”

Plaque_Lumiere2

Méliès yang mula-mula bekerja sebagai tukang kayu, pelukis, pemain sandiwara, ilustrator majalah, tukang sulap, pengarang skets, tukang listrik dan dekorator, tidak berhenti berusaha sebelum ia sendiri memiliki suatu perusahaan kecil yang sanggup membuat dan mempertunjukkan filem. Sebab sejak pertama kali ia mengenal filem-filem primitif buatan Lumiére itu, tampak olehnya kemungkinan-kemungkinan teknis atas alat pernyataan baru itu. Sewaktu ia berada dalam ruang pertunjukan di Boulevard des Capucines, telah bersinar-sinar cahaya di kejauhan pada matanya, suatu dunia seribu satu malam. Dan karena ia telah terpesona oleh khayal itu maka sepanjang hidupnya ia mencurahkan perhatiannya kepada filem. Di tahun 1896 ia mulai dengan filemnya masyhur dan penuh dengan kecerdikan itu di studionya di Montrereuil-sous-Bois. Mula-mula ia puas dengan ia sendiri yang bermain, yang dipertunjukkan di teaternya sendiri. Tetapi kebetulan diketahuinya, bahwa di layar putih sebuah mobil berjalan cepat yang tiba-tiba dapat diubah menjadi suatu rombongan mobil pengantar mayat, maka kemungkinan-kemungkinan pun terbuka! Dan stop-crank [pedal pengendali perputaran filem] ini pun (yakin suatu istilah teknis untuk kenyataan ini) berkali-kali digunakan Méliès dalam berbagai variasi. Selain dari itu, diketahuinya seseorang pemain dapat dipertunjukkan berkali-kali dengan serentak di atas layar putih. Ia mengadakan percobaan dengan pertukaran gambar dan dengan rekaman yang dipotong-potong.

George_MeliesDipakainya cara membuat gambar yang menghilang dan bertukar dengan gambar lain, dan dalam makbalnya ditemuinya kemungkinan “menempelkan” sebagian dari rekaman lain. Pun rekaman lambat dan rekaman cepat dicobanya. Pendek kata segala mukjizat teknik yang bagi seorang ahli filem hanya suatu kenyataan yang sulit atau kurang sulit, tetapi bagi penonton merupakan suatu dunia baru yang kini karena ketelitian zaman sekarang tidak lagi kelihatan ganjil dan karena terbiasa menjadikan hal itu tidak ajaib lagi. Dapat dikatakan, Méliès sanggup menciptakan segala macam [ilusi] dengan kameranya. Antara lain suatu gejala yang khas: model rumah, kapal dan kendaraan yang direkam kamera, pada proyeksinya seolah-olah terlihat seperti dalam keadaan yang nyata. Kemungkinan ini oleh Méliès dipergunakan sebaik-baiknya untuk membuat filemnya yang termasyhur dan ternama “Perjalanan ke bulan” [Le voyage dans la Lune (A Trip to the Moon), 1902]. Dalam filem itu, seakan-akan pemandangan-pemandangan alam di bulan benar-benar demikian. Memang Méliès pelopor yang pertama dalam mempergunakan teknik filem. Georges Méliès seorang jenius. Ia jauh mendahului waktu. Segala keperluan dibuatnya sendiri. Ia membuat alat-alat untuk skenarionya yang fantastis itu. Ia sendiri sutradara dan ia pun menjadi pelaku utama dalam filem-filemnya, mengawasi tukang kamera dan mewarnai filem-filemnya dengan tangan. Akan tetapi karena Perang Dunia Pertama tahun 1914 ia tutup perusahaannya, karena ia tidak bermaksud menjadi saudagar.

Di New York, filem-filemnya itu –600 buah banyaknya– diselidiki orang dan sebagian ditiru. Tetapi penciptaannya dilupakan! Sampai tahun 1928 ia ditemui seorang jurnalis Prancis di sebuah kios di Paris, di mana ia menjual mainan anak-anak, gula-gula dan rokok. Untunglah ia masih ada waktu untuk menerima bintang Légion d’Honneur dari pemerintah Prancis dan hunian cuma-cuma di rumah seniman-seniman yang sudah tua sebelum ia meninggal pada tahun 1938, setelah lebih dari 20 tahun ia menumpahkan tenaga dalam lapangan filem.

Ketiadaan Méliès akan berarti ketiadaan seni filem. Sebab orang yang sangat aktif itu dengan alat-alat teknisnya sudah menyatakan dengan pasti bahwa gambar hidup terkadang tidak harus terikat pada reproduksi foto. Akan tetapi memberi ruang permainan fantasi dan angan-angan si pencipta yang bergerak di bawah pimpinannya. Akan tetapi, masih lama sebelum orang mengerti pelajaran-pelajaran Georges Méliès (kecuali waktu yang pendek itu, ketika filem-filem Amerika yang bercorak gag [komedi] mendapat sambutan hangat). Sebab dari segala penjuru muncul cerita-cerita yang menyerupai sandiwara tentang pembunuhan, kesetiaan dan tidak kesetiaan.

Paris_Comedie-Francaise_exterior

Dua bersaudara Lumiére mengundurkan diri dari perusahaan mereka di tahun 1900, sebab menurut pandangan mereka “sinematografi bertambah lama bertambah condong ke arah sandiwara.”

Apakah terutama isi filem-filem Eropa yang pertama di sekitar tahun 1900 di waktu bioskop-bioskop tumbuh sebagai cendawan dan sebagai akibatnya didirikan perusahaan-perusahaan filem pertama? Selain daripada kegirangan kekanak-kanakan dalam mendapatkan alat-alat baru itu dan dapat menguasai hukum gaya berat, maka jenis filem yang pertama ialah bersifat lucu. Orang sangat suka membuat filem-filem yang lucu dan bercorak sandiwara. Pokok dasarnya diletakkan pada pelaku yang tidak tentu wataknya dalam cerita yang sederhana.

Dua bersaudara Lumiére telah mulai dengan filem lucu yang pertama: “L’ arroseur arrose”: beberapa rekaman dari seorang yang disemprot dengan air. Di tahun 1904, di Prancis, orang mempertunjukkan Gabriel Deveille, seorang badut memakai topi tinggi, tongkat dan baju hitam panjang. Ia main filem dengan nama Max Linder [1883-1925], dan permainan itu kelak disempurnakan Chaplin. Max Linder adalah orang besar di bidangnya. Terbukti dari banyaknya pengikut untuk tetap berperangai “tuan” dalam keadaan apapun. Dengan demikian filem itu telah menyimpang ke arah sandiwara, kendati Méliès telah menunjukkan kemungkinan-kemungkinan lain. Seluruh gejala itu masih bersuasana pasar malam yang banyak mempertunjukkan filem yang bagus, akan tetapi tidak sungguh-sungguh menarik perhatian orang.

Baru negeri kelahirannya sendiri, Prancis, dengan samar-samar orang melihat kemungkinan-kemungkinan lain atas tugas filem yang sebenarnya. Untuk pertama kali orang memperkosa filem. Anak pungut pasar malam [filem] itu hendak dijadikan anak angkat dan hendak dididik menjadi Seni Besar. Sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman kenamaan hendak melindungi filem. Comédie Francaise [akademi teater yang didirikan 24 Agustus 1680 oleh Louis XIV] turun dari tahtanya, anggota-anggotanya mengadakan propaganda untuk ide-idenya, mengawinkan filem di mimbar sandiwara. Anak pasar malam itu diberikan hunian di suatu yayasan yang mempunyai nama harum “La Société du Film d’Art”.

L'Académie française [berdiri sejak 1635] juga memberikan perlindungan dan hubungan antara filem dan seni pun terbentuk dan dianggap sah.

Sebagai sutradara, menceburkan dirilah Henri Lavedan [sutradara teater. 1859-1940], Le Bargy [Charles Gustave Auguste le Bargy (1858-1936)] dan Louis Mercanton [1879-1932]. Lakon-lakon sandiwara dari opera besar diputar di layar putih dan para intelektual yang diundang tercengang melihat cerita-cerita seperti: “Phadra,” “Pembunuhan Pangeran Guise” [L'Assassinat du duc de Guise (1908), disutradarai Charles Gustave Auguste le Bargy dan André Calmettes. Ditulis oleh Henri Lavedan], “Kembalinya Ulysses” [Le retour d'Ulysse (1909), disutradarai Charles Gustave Auguste le Bargy dan André Calmettes], “Wanita dengan bunga camellia” [La dame aux camélias disutradarai Louis Mercanton] dan di tahun 1911 dipertunjukkan “Ratu Elisabeth” [Les amours de la reine Élisabeth yang disutradarai Henri Desfontaines dan Louis Mercanton] dengan Sarah Bernard yang menjadi peran utamanya.

Para penonton melihat yang hanya disukainya, tetapi tidak dengan dialog. Daya dramatis bintang-bintang filem yang disukai menjadi kesedihan yang mengganggu. Apakah ini seni, kalau seniman-seniman kata menjadi bisu? Dunia intelektual menjadi kecewa, melihat filem dengan nama-nama besar. Filem dikembalikan kepada rakyat jelata di pasar malam dan di bioskop-bioskop gelap di Eropa, sedangkan filem itu dimulai dengan susah-payah. Penonton-penonton yang datang berduyun-duyun adalah dari masyarakat yang paling rendah. Keadaan-keadaan sosial pada waktu itu tidak dapat dikatakan sempurna. Bagi orang-orang miskin, bioskop-bioskop merupakan tempat untuk melupakan kepahitan hidup dan bercengkerama dalam angan-angan sedap. Bioskop memberikan romantik jelek pada orang-orang biasa dan memberi mereka bayingan salah dari kehidupan juga ia ingin diri masyarakatnya sendiri. Anak-anak kaum buruh juga melihat bioskop itu dengan beberapa sen dari orang tuanya mendapat kesan yang jelas, yakni perbedaan besar antara rumah-rumah yang indah dengan pakaian-pakaian yang bagus dalam filem itu dengan kemiskinan mereka. Maka kesadaran sosial mereka turut “dibentuk” oleh filem dengan jalan yang rendah dan palsu. Demikianlah keadaan di waktu itu, waktu filem “seni” Eropa yang pertama menemui kegagalan, George Méliès dipandang seorang badut dan di Amerika seorang yang bernama David W. Griffith melihat kemungkinan-kemungkinan baru.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 02 September 2009 02:05
 
More articles :

» Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136878

More.Articles_!

Tepian Sungai Ciujung: Awareness of Medium Ideology and Integration Beyond The Lenses
Friday, 05 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the first part of the articles.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" - Mahatma...

Rentjong Atjeh
Wednesday, 22 July 2009

(This article only available in Bahasa Indonesia) J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan...

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Thursday, 12 June 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Tuesday, 19 May 2009

Sergei Eisenstein is arguably the most important single figure in the history of movies. He was certainly the most versatile. The director of the masterpieces Battleship Potemkin and Alexander Nevsky, Eisenstein also wrote ground-breaking essays on...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Sunday, 10 May 2009

(Only in Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Saturday, 22 May 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Tuesday, 26 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang...

7th Year Forum Lenteng
Wednesday, 14 July 2010

Happy 7th Anniversary Forum Lenteng * * * 

Violence in Films: Critique to the Film Kado Hari Jadi
Monday, 30 November 2009

How do we summarize violence derived from day-to-day reality? Blood! It’s the easiest language to frame the violence and sadism of an occurrence. Adding to it, gory utensils such as knife, screwdriver, hammer, and razor. Then, how do we envelop...

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Tuesday, 15 July 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Tabu: A Representation of Indigenous Polynesian
Thursday, 31 December 2009

Matahi, a native man of an island in South Pacific called Bora-bora, falls in love with a girl named Reri. One day, Hitu, a tribe leader sent by leaders of each island of the archipelago, comes to take Reri as a replacement for their late sacred...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 January 2010)
Wednesday, 20 January 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Teater yang Difilemkan
Wednesday, 09 September 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder....

Di Dasar Segalanya: A Surrealistic Image of Anxiety
Sunday, 20 December 2009

On December 17, 2009, I had the opportunity to watch Paul Agusta’s second film, Di Dasar Segalanya (At the Very Bottom of Everything) at Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Unlike his first film, Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift),...

Aminuddin TH Siregar: We Excel Other Countries in Southeast Asia
Monday, 03 August 2009

Why do you pick the theme ‘Comedy’ for the fourth OK. Video?We believe the theme comedy correlates to the socio-political state our country is now in. It’s an attempt to look for collective ways of catharsis, not to burden ourselves with...

Jonas Mekas’ Cultural Archives
Thursday, 23 July 2009

“In Lithuania, I’m known as a poet, and they don’t care about my cinema. In Europe, they don’t know my poetry; in Europe, I am a filmmaker. But here, in the United States, I am only a maverick.” —Jonas Mekas, The New York Times, June 12,...

The Last But Worst Festival
Thursday, 12 June 2008

Faculty of film and television of the Jakarta Arts Institute (JAI) is re-hosting the 10th ‘Directional Film Festival’. What’s make it different?  Aside from emphasizing social matters theme, the title of each category taste really sloppy.The...

Perbincangan dengan Budi Darma
Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah...

Silent Film Orchestration at Gedung Kesenian Jakarta
Thursday, 12 June 2008

Originally, silent film was simply tracked by a single pianist as its sound theme. Then, in its development, silent film follow by an orchestra. Newest compositions are then, perform. Last wednesday, May 14th 2008, an ensemble from Vietnam...

Transmission Asia Pacific 2008
Thursday, 12 June 2008

The camping ground was taste very humid. Every afternoon and night, rain just won’t stop dropping. But the end of May approaching, the month that should be entering dry season. Sometime, a school of bats flying. One or two of them inflowing the...

One Day We'll Only Memorizing The Celluloid
Tuesday, 12 August 2008

What film struck you most? Fiction and documentary: film. Until two years ago, when I stepped out my room to watch The Mirror, a film of Jafar Panahi, I was feeling awakened to the category of certain films that for a long time quieting my mind. If...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Monday, 26 July 2010

Exhibition7-13 August 2010, 10am-5pm (Sunday closed) VenueGoethehausJl. Sam Ratulangi No. 9-15 Menteng, Jakarta Pusat OpeningFriday, 6 August 2010, 7pm Videotalk with Anggun Priambodo (music video maker) and Indra Ameng (curator)Friday, 6 August...

WALL-E: Receding to Human’s Primordial Side
Monday, 08 June 2009

Upon seeing the people as depicted in Pixar/Disney’s WALL-E, I was instantly reminded of a day in anthropology class back in my university days. That day, the professor elaborated human physical evolution which is only predictable to...

Ruminating on Terminology and Theme: Notes on the 6th Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010
Friday, 25 June 2010

Attending Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010 during June 8-10, 2010, the first question that popped in me was: what essentially distinguishes this festival from the rest alike? Until the last day, after seeing the works screened in the...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Thursday, 19 November 2009

(available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

Prelinger Archives: Daily Life Archives
Thursday, 03 December 2009

"The film your about to see, represence a significant breakthrough of the advancing science of the motion picture. For years, the industrial film has been pledge by the always-difficult sometime impossible-to-explain cost of the original creative...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Thursday, 03 September 2009

Compiled by Jurnal Footage It was a great shock, having heard the news about the tragic murder of one of the best Southeast Asia Film Critics, Alexis A. Tioseco. He was so young. So passionate. When it come to talk about film, he will eagerly...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net