I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina dan diselaraskan oleh Mahardika Yudha   
Wednesday, 02 September 2009 00:15

(Available only in Bahasa Indonesia)

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini pernah dimuat rentang edisi 1951-1955. Sejarah filem sebagai seni (2), ditulis oleh B.J. Bertina.


Artikel yang berasal dari buku “Film in opspraak” karangan B.J. Bertina, diterbitkan oleh Penerbit De Koepel. Nijmegen/Antwerpen, 1951, telah diterjemahkan dan dimuat berseri dalam majalah Aneka di tahun terbit VI tahun 1955, nomor-nomor terbitannya: 9 (20 Mei 1955); 10 (1 Juni 1955); 11 (10 Juni 1955); 12 (20 Juni 1955); 13 (1 Juli 1955); 17 (10 Agustus 1955); 19 (1 September 1955); 20 (10 September 1955); 21 (20 September 1955); 22 (1 Oktober 1955); 23 (10 Oktober 1955); 24 (20 Oktober 1955); 25 (1 November 1955); 26 (10 November 1955).

No. 10 Tahun VI 1 Juni 1955
SEJARAH FILEM SEBAGAI SENI [2]: Pengaruh Sandiwara

Di antara 35 orang hadirin yang datang menonton pertunjukan pertama dalam bioskop primitif dari dua bersaudara Lumiére, ada seorang pemuda yang hampir-hampir tak sabar menanti lampu-lampu dinyalakan kembali dalam ruangan café Boulevard des Capucines di Paris. Setelah ruangan itu menyala, pemuda itu lari menemui Louis Lumiére dengan pertanyaan, apakah ia mau menjual barangnya. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 28 Desember 1895 dan pemuda yang tak sabar itu adalah Georges Méliès, direktur pemilik kabaret dan sebuah café-chantant berusia 34 tahun, yang sering membuat kagum para penonton dengan pertunjukan-pertunjukan fantasmagoris (fantastik) dengan maksud supaya penonton terheran-heran. Dua bersaudara Lumiére sedikit pun tidak mengerti mengapa pemuda itu demikian antusias lantaran temuannya dan mengapa pemuda itu berani menawarkan uang begitu banyak, padahal menurut mereka hanyalah “penemuan ilmu pengetahuan yang sederhana”. Louis Lumiére mencoba meredakan kegirangan calon pengusaha filem itu. Ditepuk bahu pemuda itu seraya berkata: “Bung, lebih baik pakai uang itu untuk keperluan lain, sebab menurut saya ini hanya akan membuat kau miskin kelak.”

Plaque_Lumiere2

Méliès yang mula-mula bekerja sebagai tukang kayu, pelukis, pemain sandiwara, ilustrator majalah, tukang sulap, pengarang skets, tukang listrik dan dekorator, tidak berhenti berusaha sebelum ia sendiri memiliki suatu perusahaan kecil yang sanggup membuat dan mempertunjukkan filem. Sebab sejak pertama kali ia mengenal filem-filem primitif buatan Lumiére itu, tampak olehnya kemungkinan-kemungkinan teknis atas alat pernyataan baru itu. Sewaktu ia berada dalam ruang pertunjukan di Boulevard des Capucines, telah bersinar-sinar cahaya di kejauhan pada matanya, suatu dunia seribu satu malam. Dan karena ia telah terpesona oleh khayal itu maka sepanjang hidupnya ia mencurahkan perhatiannya kepada filem. Di tahun 1896 ia mulai dengan filemnya masyhur dan penuh dengan kecerdikan itu di studionya di Montrereuil-sous-Bois. Mula-mula ia puas dengan ia sendiri yang bermain, yang dipertunjukkan di teaternya sendiri. Tetapi kebetulan diketahuinya, bahwa di layar putih sebuah mobil berjalan cepat yang tiba-tiba dapat diubah menjadi suatu rombongan mobil pengantar mayat, maka kemungkinan-kemungkinan pun terbuka! Dan stop-crank [pedal pengendali perputaran filem] ini pun (yakin suatu istilah teknis untuk kenyataan ini) berkali-kali digunakan Méliès dalam berbagai variasi. Selain dari itu, diketahuinya seseorang pemain dapat dipertunjukkan berkali-kali dengan serentak di atas layar putih. Ia mengadakan percobaan dengan pertukaran gambar dan dengan rekaman yang dipotong-potong.

George_MeliesDipakainya cara membuat gambar yang menghilang dan bertukar dengan gambar lain, dan dalam makbalnya ditemuinya kemungkinan “menempelkan” sebagian dari rekaman lain. Pun rekaman lambat dan rekaman cepat dicobanya. Pendek kata segala mukjizat teknik yang bagi seorang ahli filem hanya suatu kenyataan yang sulit atau kurang sulit, tetapi bagi penonton merupakan suatu dunia baru yang kini karena ketelitian zaman sekarang tidak lagi kelihatan ganjil dan karena terbiasa menjadikan hal itu tidak ajaib lagi. Dapat dikatakan, Méliès sanggup menciptakan segala macam [ilusi] dengan kameranya. Antara lain suatu gejala yang khas: model rumah, kapal dan kendaraan yang direkam kamera, pada proyeksinya seolah-olah terlihat seperti dalam keadaan yang nyata. Kemungkinan ini oleh Méliès dipergunakan sebaik-baiknya untuk membuat filemnya yang termasyhur dan ternama “Perjalanan ke bulan” [Le voyage dans la Lune (A Trip to the Moon), 1902]. Dalam filem itu, seakan-akan pemandangan-pemandangan alam di bulan benar-benar demikian. Memang Méliès pelopor yang pertama dalam mempergunakan teknik filem. Georges Méliès seorang jenius. Ia jauh mendahului waktu. Segala keperluan dibuatnya sendiri. Ia membuat alat-alat untuk skenarionya yang fantastis itu. Ia sendiri sutradara dan ia pun menjadi pelaku utama dalam filem-filemnya, mengawasi tukang kamera dan mewarnai filem-filemnya dengan tangan. Akan tetapi karena Perang Dunia Pertama tahun 1914 ia tutup perusahaannya, karena ia tidak bermaksud menjadi saudagar.

Di New York, filem-filemnya itu –600 buah banyaknya– diselidiki orang dan sebagian ditiru. Tetapi penciptaannya dilupakan! Sampai tahun 1928 ia ditemui seorang jurnalis Prancis di sebuah kios di Paris, di mana ia menjual mainan anak-anak, gula-gula dan rokok. Untunglah ia masih ada waktu untuk menerima bintang Légion d’Honneur dari pemerintah Prancis dan hunian cuma-cuma di rumah seniman-seniman yang sudah tua sebelum ia meninggal pada tahun 1938, setelah lebih dari 20 tahun ia menumpahkan tenaga dalam lapangan filem.

Ketiadaan Méliès akan berarti ketiadaan seni filem. Sebab orang yang sangat aktif itu dengan alat-alat teknisnya sudah menyatakan dengan pasti bahwa gambar hidup terkadang tidak harus terikat pada reproduksi foto. Akan tetapi memberi ruang permainan fantasi dan angan-angan si pencipta yang bergerak di bawah pimpinannya. Akan tetapi, masih lama sebelum orang mengerti pelajaran-pelajaran Georges Méliès (kecuali waktu yang pendek itu, ketika filem-filem Amerika yang bercorak gag [komedi] mendapat sambutan hangat). Sebab dari segala penjuru muncul cerita-cerita yang menyerupai sandiwara tentang pembunuhan, kesetiaan dan tidak kesetiaan.

Paris_Comedie-Francaise_exterior

Dua bersaudara Lumiére mengundurkan diri dari perusahaan mereka di tahun 1900, sebab menurut pandangan mereka “sinematografi bertambah lama bertambah condong ke arah sandiwara.”

Apakah terutama isi filem-filem Eropa yang pertama di sekitar tahun 1900 di waktu bioskop-bioskop tumbuh sebagai cendawan dan sebagai akibatnya didirikan perusahaan-perusahaan filem pertama? Selain daripada kegirangan kekanak-kanakan dalam mendapatkan alat-alat baru itu dan dapat menguasai hukum gaya berat, maka jenis filem yang pertama ialah bersifat lucu. Orang sangat suka membuat filem-filem yang lucu dan bercorak sandiwara. Pokok dasarnya diletakkan pada pelaku yang tidak tentu wataknya dalam cerita yang sederhana.

Dua bersaudara Lumiére telah mulai dengan filem lucu yang pertama: “L’ arroseur arrose”: beberapa rekaman dari seorang yang disemprot dengan air. Di tahun 1904, di Prancis, orang mempertunjukkan Gabriel Deveille, seorang badut memakai topi tinggi, tongkat dan baju hitam panjang. Ia main filem dengan nama Max Linder [1883-1925], dan permainan itu kelak disempurnakan Chaplin. Max Linder adalah orang besar di bidangnya. Terbukti dari banyaknya pengikut untuk tetap berperangai “tuan” dalam keadaan apapun. Dengan demikian filem itu telah menyimpang ke arah sandiwara, kendati Méliès telah menunjukkan kemungkinan-kemungkinan lain. Seluruh gejala itu masih bersuasana pasar malam yang banyak mempertunjukkan filem yang bagus, akan tetapi tidak sungguh-sungguh menarik perhatian orang.

Baru negeri kelahirannya sendiri, Prancis, dengan samar-samar orang melihat kemungkinan-kemungkinan lain atas tugas filem yang sebenarnya. Untuk pertama kali orang memperkosa filem. Anak pungut pasar malam [filem] itu hendak dijadikan anak angkat dan hendak dididik menjadi Seni Besar. Sastrawan-sastrawan dan seniman-seniman kenamaan hendak melindungi filem. Comédie Francaise [akademi teater yang didirikan 24 Agustus 1680 oleh Louis XIV] turun dari tahtanya, anggota-anggotanya mengadakan propaganda untuk ide-idenya, mengawinkan filem di mimbar sandiwara. Anak pasar malam itu diberikan hunian di suatu yayasan yang mempunyai nama harum “La Société du Film d’Art”.

L'Académie française [berdiri sejak 1635] juga memberikan perlindungan dan hubungan antara filem dan seni pun terbentuk dan dianggap sah.

Sebagai sutradara, menceburkan dirilah Henri Lavedan [sutradara teater. 1859-1940], Le Bargy [Charles Gustave Auguste le Bargy (1858-1936)] dan Louis Mercanton [1879-1932]. Lakon-lakon sandiwara dari opera besar diputar di layar putih dan para intelektual yang diundang tercengang melihat cerita-cerita seperti: “Phadra,” “Pembunuhan Pangeran Guise” [L'Assassinat du duc de Guise (1908), disutradarai Charles Gustave Auguste le Bargy dan André Calmettes. Ditulis oleh Henri Lavedan], “Kembalinya Ulysses” [Le retour d'Ulysse (1909), disutradarai Charles Gustave Auguste le Bargy dan André Calmettes], “Wanita dengan bunga camellia” [La dame aux camélias disutradarai Louis Mercanton] dan di tahun 1911 dipertunjukkan “Ratu Elisabeth” [Les amours de la reine Élisabeth yang disutradarai Henri Desfontaines dan Louis Mercanton] dengan Sarah Bernard yang menjadi peran utamanya.

Para penonton melihat yang hanya disukainya, tetapi tidak dengan dialog. Daya dramatis bintang-bintang filem yang disukai menjadi kesedihan yang mengganggu. Apakah ini seni, kalau seniman-seniman kata menjadi bisu? Dunia intelektual menjadi kecewa, melihat filem dengan nama-nama besar. Filem dikembalikan kepada rakyat jelata di pasar malam dan di bioskop-bioskop gelap di Eropa, sedangkan filem itu dimulai dengan susah-payah. Penonton-penonton yang datang berduyun-duyun adalah dari masyarakat yang paling rendah. Keadaan-keadaan sosial pada waktu itu tidak dapat dikatakan sempurna. Bagi orang-orang miskin, bioskop-bioskop merupakan tempat untuk melupakan kepahitan hidup dan bercengkerama dalam angan-angan sedap. Bioskop memberikan romantik jelek pada orang-orang biasa dan memberi mereka bayingan salah dari kehidupan juga ia ingin diri masyarakatnya sendiri. Anak-anak kaum buruh juga melihat bioskop itu dengan beberapa sen dari orang tuanya mendapat kesan yang jelas, yakni perbedaan besar antara rumah-rumah yang indah dengan pakaian-pakaian yang bagus dalam filem itu dengan kemiskinan mereka. Maka kesadaran sosial mereka turut “dibentuk” oleh filem dengan jalan yang rendah dan palsu. Demikianlah keadaan di waktu itu, waktu filem “seni” Eropa yang pertama menemui kegagalan, George Méliès dipandang seorang badut dan di Amerika seorang yang bernama David W. Griffith melihat kemungkinan-kemungkinan baru.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 02 September 2009 02:05
 
More articles :

» Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 519
Content : 146
Content View Hits : 157440

More.Articles_!

Elida Tamalagi
Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge exigency is not supported by the aspirant management of the movie place. The activity of screening...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Monday, 26 July 2010

Exhibition7-13 August 2010, 10am-5pm (Sunday closed) VenueGoethehausJl. Sam Ratulangi No. 9-15 Menteng, Jakarta Pusat OpeningFriday, 6 August 2010, 7pm Videotalk with Anggun Priambodo (music video maker) and Indra Ameng (curator)Friday, 6 August...

Ten Directors From The Ten Years of Political Reform
Thursday, 12 June 2008

The political reform of 1998 is an important history in the life of Indonesian. The current of changes occurs everywhere. But, after ten years, what can we achieve? The film screenings of ten years political reform has trying to open the space...

Visual Overproduction of Video
Tuesday, 18 August 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 The above statement from two writers of visual culture seems to...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Thursday, 19 November 2009

(available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

Video Mashup: A Remix Culture
Thursday, 28 January 2010

Few times ago, I was shown a video from YouTube. It was a music video Metallica Tribute to Rhoma Irama1. It may sound impossible, but all my expectations turned upside down and inside out watching this video. It’s originally a video of...

The Ontology of Cinematography and Reflections on Cinema
Wednesday, 22 October 2008

The ontology of cinematography and the reflections on cinema addresses the question of what film is, what makes a film a film, and to examine what Wittgenstein would call the grammar of our concept of film and the role films play in the forms of our...

Silent Film Orchestration at Gedung Kesenian Jakarta
Thursday, 12 June 2008

Originally, silent film was simply tracked by a single pianist as its sound theme. Then, in its development, silent film follow by an orchestra. Newest compositions are then, perform. Last wednesday, May 14th 2008, an ensemble from Vietnam...

Two Sides of Film Competition Arrangement
Monday, 01 December 2008

Having trauma to the pressure of two fascist states, Germany and Italia, at the selection of Venice Film Festival in the last 1930’s, Jean Zay, French Minister of Education, decided to held a festival in France. By then, precisely in 1939, Luis...

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

WALL-E: Receding to Human’s Primordial Side
Monday, 08 June 2009

Upon seeing the people as depicted in Pixar/Disney’s WALL-E, I was instantly reminded of a day in anthropology class back in my university days. That day, the professor elaborated human physical evolution which is only predictable to...

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Tuesday, 26 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang...

V Film Festival 2010 and an Interview with Intan Paramadhita
Saturday, 24 April 2010

V Film Festival or the International Women Film Festival was first held in 2009 with the theme “Girl Power in Action”. This year, V Film Festival 2010 carries the theme “Identity and Youth”. V Film Festival 2010 was held by the collaboration...

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Thursday, 29 July 2010

(Available only in Bahasa Indonesia)   PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria...

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Yang Muda yang Bercinta: Early Montage in New Order Regime
Wednesday, 07 October 2009

A young man rides in a bajaj with his pregnant lover, passing through Jakarta’s slums in the 1970s. Child beggars in the city’s labyrinths become a syntagmatic connection to bajaj. The young man is a university student named Sony (W. S. Rendra)1...

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Tuesday, 15 July 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

The Last But Worst Festival
Thursday, 12 June 2008

Faculty of film and television of the Jakarta Arts Institute (JAI) is re-hosting the 10th ‘Directional Film Festival’. What’s make it different?  Aside from emphasizing social matters theme, the title of each category taste really sloppy.The...

Alex Sihar: A Challenge to Familiarize the Language of Video
Sunday, 23 August 2009

This year, Yayasan Konfiden (Independent Film Community Foundation)—a foundation focusing on the development and distribution of audio visual media knowledge and usage to sustain empowerment as well as to gain appreciation and support—by public...

Part-time Work of a Domestic Slave: Repositioning of Cinema and Audience in a New Discourse Development
Friday, 24 July 2009

Part-time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) tells the story of Roswitha Bronski who works to support the family while her husband, Franz Bronski, busies himself with chemistry researches in order to fulfill his...

Tepian Sungai Ciujung: Ethical Strategy in Narrative and Interview Method (Part two of three)
Tuesday, 16 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the second part of the articles. The mind is yet to be free if the medium is not liberating. It’s probably in line with...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Wednesday, 20 January 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang...

Transmission Asia Pacific 2008
Thursday, 12 June 2008

The camping ground was taste very humid. Every afternoon and night, rain just won’t stop dropping. But the end of May approaching, the month that should be entering dry season. Sometime, a school of bats flying. One or two of them inflowing the...

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta
Monday, 13 July 2009

(Only available in Bahasa Indonesia) Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia....

Teater yang Difilemkan
Wednesday, 09 September 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder....

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Saturday, 19 December 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Wednesday, 03 March 2010

(available only in Bahasa Indonesia)   Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli,...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

Chaerul Umam’s Ambivalence
Wednesday, 10 March 2010

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Monday, 26 January 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net