I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Monday, 28 September 2009 14:09

(available only in Bahasa Indonesia)

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan pendistribusian artikel-artikel filem yang pernah ada di Indonesia, terutama yang ditulis oleh penulis Indonesia. Penyesuaian gaya bahasa dan struktur tulisan dilakukan tanpa mengurangi esensi dari isi tulisan.


ANEKA, No. 11 Tahun VI 10 Juni 1955

(III) SEJARAH FILEM SEBAGAI SENI: Muka yang Tak Terlihat

Tidak seperti orang-orang Eropa Barat yang dibebani kesusasteraan dan tonil, bangsa Amerika sejak awal memandang filem dengan kacamata lain. Dengan cara yang konsekuen mereka menolak semua kesamaan filem dengan sandiwara. Bangsa Amerika sadar betul bahwa layar putih yang terbatas bidangnya itu dapat memberikan kesempatan untuk mempertunjukkan banyak aksi, jauh melebihi sandiwara.

Dan perkembangan itu sesuai dengan jiwa orang Amerika. Demikianlah keadaannya, ketika di Eropa masih memperlihatkan peran-peran yang ganjil atau memainkan sandiwara kaku dengan cerita-cerita yang membosankan, di Amerika filem-filem koboi telah memperlihatkan pacu kuda dan perburuan mengerikan di padang-padang yang luas.

Dalam ruang bioskop yang sempit itu memancarlah cahaya dan udara dari layar. Alam yang tidak mudah diubah itu mulai mempengaruhi filem. Keajaiban alam itu mungkin tidak seberapa penting, tetapi di Amerika pemandangan itu menjadi latar di mana filem diberi tempat tersendiri di antara pertunjukan-pertunjukan lain seperti sandiwara.

Maka timbullah kesadaran bahwa kamera itu merupakan benda yang dapat “dipergunakan”. Kemungkinan-kemungkinan dinamik dalam filem oleh bangsa Amerika terasa begitu intuitif. Dengan tidak disadari, mereka telah menemukan perkembangan yang terlihat. Dengan penemuan ini mereka giat bekerja dalam lakon-lakon yang terkenal penuh dengan adegan melempar dan membanting. Selain filem-filem “Wildwest” perusahaan filem Keystone di tahun 1909 yang membuat filem-filem lucu periode awal –barangkali paling jernih dalam bentuknya, suatu permainan yang kocak dan keributan yang menimbulkan ramai gelak tawa dan menciptakan dunia khayal, dalam filem-filem “gag” (komedi) ciptaan Mack Sennett segala-galanya menjadi mungkin.

Berkat filem-filem ciptaan Mack Sennett terselip dalam ingatan kita tokoh-tokoh yang lucu, tingkah laku badut yang tidak-tidak, sepak terjangnya berlawanan dengan hukum alam. Rumah-rumah hancur dan berubah menjadi mobil, kepala yang telah dipotong dapat tertawa dan berbicara, dusun-dusun musnah namun terbangun kembali. Kalau kita lebih memperhatikan, muncullah filem tinju-tinjuan, tarcis yang dilempar-lempar, dan bidadari-bidadari molek yang hilang sekejap.

Di sini tampak perbedaan besar dengan perkembangan di Eropa. Di Eropa, titik berat filem-filem lucu diletakkan pada peran seorang saja dan kelucuan itu timbul akibat perbuatan-perbuatan si pemainnya. Di Amerika humor itu timbul dari filemnya sendiri dengan perantaraan kamera, lebih-lebih dari kekuatan teknis yang dipergunakan si pembuat filem.

Kalau kita berbicara tentang filem-filem Amerika periode pertama dengan sendirinya kita sampai pada nama orang yang mempunyai minat besar terhadap filem dan yang pertama-tama memiliki pengertian penyutradaraan filem seperti yang kita kenal sekarang ini. Orang itu bernama David Wark Griffith [1875-1948]. Dialah yang pertama kali dengan sadar melakukan close-up (ambilan dekat). Close-up adalah suatu ambilan dekat dari sesuatu dengan rinci. Umpamanya ambilan knop pintu, asbak, tangan, dan wajah orang. Efek ambilan demikian sungguh indah dan tidak menjadi soal lagi di zaman sekarang, akan tetapi seorang harus menemukannya terlebih dahulu, yaitu Griffith. Ia juga yang menemukan montase bayangan, dasar dari seluruh seni filem. Seperti beberapa tahun kemudian yang baru ditemui orang-orang Rusia. Akan tetapi untuk memberi kehormatan kepada yang sepantasnya: montase filem lahir di Amerika pada tahun 1903. Pelopornya ialah Edwin S. Porter, juru kamera yang bekerja untuk Thomas Alfa Edison. Dialah yang pertama mencoba membuat cerita dengan runut bayang-bayang. Dikarangnya suatu cerita sederhana dengan bayangan yang disambungkannya. Cerita itu diberi nama “The Life of an American Fireman”. Filem itu dimulai dengan kamar tunggu pos pemadam kebakaran. Di kamar itu terdapat seorang komandan pasukan kebakaran yang mengantuk. Lonceng kebakaran berbunyi dan tiba-tiba lonceng itu yang dibesarkan. Komandan muncul di layar putih, walau hanya sebelah atas badannya dan ketika ia menekan knop tanda bersiap. Itulah pertukaran ilusi yang pertama, dan cerita itu berlangsung dengan logis dan close-up. Sesudah itu terlihat ambilan pekerja pemadam kebakaran yang tergesa-gesa berpakaian sambil turun ke bawah melalui tiang-tiang dan memasang kuda di kereta, kemudian kuda-kuda itu dilecutnya (tema cerita yang banyak disukai waktu itu). Kepingan gambar terakhir itu dikutip Porter dari persediaan yang telah dikumpulkannya beberapa tahun. Sesudah itu tibalah pemadam-pemadam api itu di tempat kebakaran. Seorang ibu ditolong, kemudian seorang anak dan akhirnya pertemuan anak dan ibu. Suatu cerita yang amat sederhana. Filem yang dirancang dengan baik itu membuat penonton mengeluarkan keringat karena ketakutan dan menitikkan airmata karena gembira.

Lima tahun kemudian teknik itu dipakai Griffith dengan lebih memuaskan. Ia membuat filem-filem cerita petualangan menurut prinsip yang sama dan ia menjadi masyhur karena pemilihan adegan penutup dari filem-filemnya yang biasanya menggambarkan dua atau lebih perbuatan secara bersamaan. Umpamanya seorang nyonya yang terkurung dalam loteng sebuah rumah, sedang di tingkat bawah terlihat sumbu dinamit terbakar perlahan. Gambar kedua itu tampak berganti-ganti dengan pendekar yang datang berkuda dan rombongan penjahat yang menyediakan perangkap. Griffith sangat menggunakan logika dan psikologi yang jitu. Ia memilih gambar-gambar yang akan dimainkan [ditukar-tukar] dan diulang tepat pada waktunya. Karena pertimbangan pertukaran gambar yang matang, diperolehnya “spanning” yang sangat hebat. Ia juga menggunakan close-up dengan baik sebagai suatu percobaan yang berani di waktu itu, sebab penonton sudah terbiasa melihat peran-peran dalam keseluruhan cerita di layar putih.

Griffith memahami betul gambar-gambar yang terlepas itu sebagai foto-foto filem yang dapat berdiri sendiri dalam susunan keseluruhan. Ia memperlihatkan bahwa foto filem baru mempunyai arti jika ada hubungannya dengan gambar-gambar sesudahnya dan gambar-gambar yang akan dipertontonkan. Dari Griffith kita mendapatkan pelajaran bahwa seorang pembuat filem dengan menyusun gambar-gambar foto mampu mempengaruhi seseorang sampai orang itu percaya dengan apa yang dilihatnya. Sedang di Eropa, orang mengejek hal ini dengan sebutan semacam percobaan teknik foto dan mereka berlomba-lomba mengambil bagian-bagian sandiwara dengan kamera. Di Amerika orang mulai dengan montase, close-up dan sesuatu yang langsung berhubungan dengan kamera. Dengan ini perbedaan pengertian antara sandiwara dan filem pun terlihat. Antara sandiwara dan penonton tetap ada jarak. Sedangkan filem berhasil menghilangkan jarak itu, bahwa penonton bioskop bisa setiap saat dengan sendirinya mempersatukan diri dengan beberapa peran dalam filem adalah karena montase, close-up dan kamera. Hal ini, mau tak mau, menempatkan penonton di tengah-tengah kejadian sehingga kehidupan di dalam filem menjadi demikian kuat dan dapat menyatakan kehidupan pengalaman yang paling pribadi. Oleh close-up yang dirancang dengan baik, maka akan sanggup menciptakan keadaan yang dramatis (sedangkan tidak tampak aksi luar atau kenyataan) sebagai kejadian yang penuh ketegangan.

Tiap susunan bingkaian kamera (bagaimana objek akan dibingkai) dapat menjadi penglihatan seseorang yang melihatnya. Selain dari itu, akan terlihat cara si pembuat filem dalam menilai objek bingkaian. Jadi penglihatan kameralah yang menentukan arti simbolis ilusi filem. Close-up filem terbukti telah membuka suatu dunia baru yang menurut pandangan saya dapat disebut, “wajah yang tak kelihatan”. Artinya apa yang terselip dalam suatu wajah atau benda akan dapat dikemukakan oleh kamera secara rinci. Bukan saja emosi peran, tetapi juga emosi benda “mati” dan akhirnya emosi penciptanya sendiri. Sebenarnya kamera itu tidak menciptakan bentuk-bentuk baru. Tetapi akan terus berkembang setiap kali mendapatkan dan mengalami sesuatu, dan tiap kali diberikannya rupa baru dari yang telah ada sebelumnya. Justru kekurangan pengertian ini akan membawa banyak kekhilafan-kekhilafan besar di Eropa. Begitupun di Amerika, kendati Griffith yang dengan jasa-jasanya tidak pernah bermaksud membuat suatu ciptaan seni dengan kemungkinan-kemungkinan gambar filem yang ditemukannya itu. Penemuan-penemuannya itu hanyalah kecerdasannya belaka. Tak pernah ia memperdalam montase ataupun close-up. Griffith hanya ingin membuat filem cerita hasil kemampuan alat-alat tekniknya saja yang dituangkannya ke dalam filem-filemnya, karena itu ia berhasil mendapatkan kembali modalnya ditambah dengan bunga.

Kelincahan filem-filemnya kemudian akan memberikan ilham kepada avant-garde Prancis dalam pendirian mereka tentang “musik yang kelihatan” dan akan memberikan dasar kepada orang-orang Rusia untuk membuat teori montase revolusioner. Untuk sementara waktu –yang berlaku juga untuk ciptaan-ciptaan Griffith ini belum bisa disebut suatu seni filem yang hidup.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Monday, 28 September 2009 14:17
 
More articles :

» Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955 (available only in Bahasa Indonesia)Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem ciptaannya...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar

(Available only in Bahasa Indonesia)ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga

(available only in Bahasa Indonesia)ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

» Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955 (Available only in Bahasa Indonesia)Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926) buatan...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136853

More.Articles_!

Interview with Bronnt Industries Kapital
Friday, 10 July 2009

Geometer: I only came to hear of Häxan through your soundtrack - it’s a great film and I was surprised I’d not heard of it. How did you first hear of the film? Guy: We were first approached to perform a live soundtrack to the film at...

Lisabona Rahman
Tuesday, 12 August 2008

Watching Free and Great Movie in Almost Everyday   It get bore sometime to watch movies in the common bioscopes. Mostly because of the standard plots. And also with same players. To face this condition, the emergence of an alternative bioscope...

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Saturday, 19 December 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya...

WALL-E: Receding to Human’s Primordial Side
Monday, 08 June 2009

Upon seeing the people as depicted in Pixar/Disney’s WALL-E, I was instantly reminded of a day in anthropology class back in my university days. That day, the professor elaborated human physical evolution which is only predictable to...

Two Sides of Film Competition Arrangement
Monday, 01 December 2008

Having trauma to the pressure of two fascist states, Germany and Italia, at the selection of Venice Film Festival in the last 1930’s, Jean Zay, French Minister of Education, decided to held a festival in France. By then, precisely in 1939, Luis...

No Surprises in Sang Pemimpi
Monday, 28 December 2009

A film firstly released as an opening to the 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) was already attracting crowd even before the week of its release ended. Audience seemed to be very enthusiastic to kill their curiosity over this sequel...

Part-time Work of a Domestic Slave: Repositioning of Cinema and Audience in a New Discourse Development
Friday, 24 July 2009

Part-time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) tells the story of Roswitha Bronski who works to support the family while her husband, Franz Bronski, busies himself with chemistry researches in order to fulfill his...

Paranormal Activity: A Terrifying Sound Pollution
Saturday, 19 December 2009

Haxan, a work of a Swedish director, Christensen, is a horror film full of strong social political issue. Haxan does not only picture human apprehension to all things supernatural. More than that, Haxan is a historical documentary portraying social...

One Day We'll Only Memorizing The Celluloid
Tuesday, 12 August 2008

What film struck you most? Fiction and documentary: film. Until two years ago, when I stepped out my room to watch The Mirror, a film of Jafar Panahi, I was feeling awakened to the category of certain films that for a long time quieting my mind. If...

Fritz Lang and The German Expressionism
Thursday, 12 June 2008

Fritz Lang is regarded as one of the main directors in the early history of film. As a representative of expressionism in the 1920’s, he has made some of the most important German silent film. During the repression of German Nazi party, he left to...

Reality in Ladri di Biciclette
Thursday, 28 August 2008

QueriesLast night was my numerous silenced on one of the Italian neorealism, Ladri di Biciclette (1948), a film by Vittorio de Sica from the script of Cesare Zavattini. I was stunned in the film exposes on the reality of post-war Italian society....

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Wednesday, 28 July 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Available only in Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

Di Dasar Segalanya: A Surrealistic Image of Anxiety
Sunday, 20 December 2009

On December 17, 2009, I had the opportunity to watch Paul Agusta’s second film, Di Dasar Segalanya (At the Very Bottom of Everything) at Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Unlike his first film, Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift),...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Saturday, 22 May 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Thursday, 19 November 2009

(available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 January 2010)
Wednesday, 20 January 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Dian Herdiany
Monday, 21 July 2008

Video Community Should Attain Their Independency   It was started from the catastrophic Yogyakarta earthquake in 2006, Kampung Halaman came and offered society empowerment trough video. They aim at youngsters. The unique methods made Kampung...

Under The Tree: Garin’s Failure to Renounce Modern Monism
Monday, 28 December 2009

The 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) is adorned with Indonesia Feature Film Competition (IFFC) that proved the quality of our national films in the international level. Films screened in IFFC are selected based on theme, narration,...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Thursday, 03 September 2009

Compiled by Jurnal Footage It was a great shock, having heard the news about the tragic murder of one of the best Southeast Asia Film Critics, Alexis A. Tioseco. He was so young. So passionate. When it come to talk about film, he will eagerly...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Monday, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (available only in Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Chris Marker: In Memory of New Technology
Friday, 12 June 2009

1. An Awkward MemoryI remember discussing Chris Marker’s most recent feature film, Level Five (1996), with a friend of mine when it first came out. She was generally impressed with the film, but irritated by what she described as “an old man’s...

Love is Colder Than Death: Aesthetic Counterattack to Hollywood Domination
Sunday, 01 November 2009

  Bruno dies, unexpectedly, after a shoot-out with the police. Almost no destruction caused by the firing, not even bloodshed. Plot moves flat, without any pretention of emotional violence. It constructs and is a violent climax in a gangster film...

Ruminating on Terminology and Theme: Notes on the 6th Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010
Friday, 25 June 2010

Attending Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010 during June 8-10, 2010, the first question that popped in me was: what essentially distinguishes this festival from the rest alike? Until the last day, after seeing the works screened in the...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Monday, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Alex Sihar: A Challenge to Familiarize the Language of Video
Sunday, 23 August 2009

This year, Yayasan Konfiden (Independent Film Community Foundation)—a foundation focusing on the development and distribution of audio visual media knowledge and usage to sustain empowerment as well as to gain appreciation and support—by public...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Monday, 26 January 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Wednesday, 19 August 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Video: The New Wave
Thursday, 31 December 2009

Tracing the Genealogy of World’s Video Art The development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art events have included video art as part of contemporary art exhibition. Video art has even invaded...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net