I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Saturday, 19 December 2009 20:51

(Available only in Bahasa Indonesia)

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)

Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni filem. Kalau tidak, tentu ia tidak merasa ragu dengan citra pictural-nya ketika mencipta filem Dr. Mabuse der Spieler sebelum manifestasi Die Nibelungen: Kriemhelds Rache. Bentuk filem motoris yang telah mencapai kedinamisan yang hebat dan irama luar biasa dalam montase rangkai bayangan cepat dan statis. Penonton dengan kasat mata bisa membuktikan kejeniusan Fritz Lang dari filem Die Nibelungen: Kriemhelds Rache-nya, maka filem Dr. Mabuse der Spieler-nya sebagai awal penciptaan seni filem pictural-nya juga dapat dijadikan bukti bagaimana ia ahli dalam membuat filem-filem seperti itu.

xn9b5pa1au091aubdr_mabuse_2dr_mabuse_1

Di awal tahun duapuluh abad ini, pertama kalinya orang mendengar perkataan avantgarde dalam perdebatan-perdebatan yang hebat di sekitar perkembangan seni filem yang masih ragu-ragu. Avantgarde berarti garis depan. Pelopor yang berjuang di garis depan dalam memperjuangkan sesuatu. Merekalah yang pertama-tama mempertahankan seni filem dan berhak disebut sebagai pelopor filem. Di antara pasukan berani mati ini, banyak tokoh yang buas dan kejam dalam memperjuangkan dan mempertahankan cita-cita filem ideal. Di masa seruwet itu –ketika pelaku filem bekerja susah payah [pasca Perang Dunia I] membangun kembali dunia filem yang berserakan– muncullah gelombang avantgarde dalam dunia filem yang berusaha menduduki wilayah-wilayah kecil dan melepas ketergantungan dari ibu tentara industri filem. Sejarah kemunculan avantgarde dipenuhi dengan lagu-lagu asing atau lebih tepat dikatakan, ‘penuh dengan keganjilan’. Gejala ini dimulai sekitar tahun 1920. Seniman-seniman muda Jerman dan Prancis yang kebanyakan terdiri dari pelukis dan pemahat mulai terlibat dalam sinema dengan caranya yang berbeda dari yang dilakukan orang-orang filem pada umumnya. Filem-filem ganjil dan eksperimental itu kemudian dipertunjukkan pada sejumlah kecil yang menaruh perhatian. Sesudah itu, mereka melangsungkan diskusi tertutup. Aktifitas mereka tak menarik perhatian publik. Apalagi kritik filem yang baru berkembang. Sampai di tahun 1924, Fritz Lang yang jenius dengan seni filem pictural-nya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, memberi kesempatan seorang pemuda yang tidak dikenal untuk menciptakan seni filem yang berdurasi pendek sebagai pengisi adegan mimpi Kriemhilde. Adegan yang kelak termasyhur dan ramai dibicarakan orang.

Filem Die Nibelungen: Kriemhelds Rache berdurasi cukup panjang. Dongeng Nibelungen tentang kisah dewa Jerman yang dicipta Fritz Lang dalam rangkai citra statis dan dekor latar yang hebat. Pendek kata, filem ini adalah puncak yang dapat dicapai oleh seni filem. Terlebih karena filem ini merupakan pencapaian seni pictural. Dalam cerita tampak seorang pahlawan bernama Siegfried yang berangkat ke medan pertempuran. Permaisurinya, Kriemhilde, hidup dalam ketakutan dan bermimpi Siegfried tewas dalam pertempuran. Berbeda dengan sutradara-sutradara lain masa itu yang akan memperlihatkan adegan gamblang Siegfried yang bertempur hebat dan tewas, Fritz Lang berbeda. Ia berkata kepada seorang pelukis muda yang tidak terkenal, “Saya ingin adegan yang lain dalam hal ini dan hanya beberapa detik lamanya.” Pemuda itu bernama Walter Ruttmann. Mulailah ia bekerja dan menciptakan adegan mimpi Kriemhilde sebagai intermeso dalam beberapa detik di tengah filem yang berjam-jam lamanya itu dan bagi banyak orang adegan itu sangat menakjubkan.

mabuse

Mendiang Dr. Menno ter Braak menguraikan adegan mimpi ini, “bentuk-bentuk hitam dan putih bertambah lama berubah menjadi burung-burung besar yang fantastis dan mendirikan bulu roma.” Dan apakah perspektif penonton ‘Ketakutan dan ancaman di dalam mimpi Kriemhilde’ melalui pencitraan dalam bentuk dan garis yang mengerikan dan akhirnya menjadi burung besar yang menyambar seekor merpati. Tak seorang penonton pun yang tidak mengalami perasaan yang menggenggam jiwa Kriemhilde itu. Di luar itu, perhatian kritik untuk pertama kali ditujukan pada seni filem sebagai sebuah pernyataan yang kekal, fasih dan asali.

Dan kini kita sampai pada suatu soal mutlak, ‘seni filem adalah seni gerak’. Ini tidak berarti bahwa citra-citra itu harus memperlihatkan manusia atau kuda yang berlari cepat melalui padang rumput. Tetapi ini berarti citra-citra yang runut itu memperlihatkan gerak dan irama. Ini tentu tidak secara langsung mengurai makna burung-burung yang dicipta Walter Ruttmann, tetapi sebagai hasil nyata dari percobaan-percobaan yang telah menghasilkan burung-burung yang menerkam itu.

Saya teringat ketika pertama kali menonton Opus 2, 3, dan 4 ciptaan Walter Ruttmann. Lampu-lampu dipadamkan di ruang pertunjukan dan di layar putih tampak kalimat, “Pertunjukan ini tak membutuhkan pikiran.” Sesudah itu terlihat permainan gerak yang musikal dari rupa-rupa garis, dataran, bentuk dan kadang-kadang warna-warna yang berirama dalam terang dan gelap. Peringatan Ruttmann untuk melengahkan pikiran memang benar. Melalui filem-filem ekspresionis dari zaman Caligari, setiap penonton bersapa pada dirinya, apa sebenarnya maksud pencipta. Dugaan-dugaan yang paling aneh dan asosiasi-asosiasi pikiran mengenai maksud Ruttmann pun timbul.

Maksud Ruttmann tidak lain daripada meneliti gerak filem dalam bentuknya yang primitif. Mata penonton dibuat untuk mendengar. Setelah Ruttmann menukar garis-garis dan bentuk-bentuk niskala [abstrak] menjadi manusia hidup dan objek-objek nyata, dan setelah citra-citra filemnya tak berhenti menjejal mata penonton, maka terbuktilah kemampuan seni bebas ini yang membedakannya dari bentuk-bentuk seni yang lain. Ini adalah pendapat yang bisa ditemukan melalui landas-landas logika. Namun banyak orang tak sudi menerimanya dan mereka curiga kalau perkembangan seni filem telah menyimpang ke jalan yang ditempuh Ruttmann, karena filem dengan aspeknya yang sederhana telah memikat hati mereka.

Bagi mereka-mereka yang ingin membuktikannya, jelas bahwa filem Berlin, Symphonie einen Groszstadt (1927) buatan Ruttmann, pada hakekatnya tidak banyak berbeda dengan opus niskala nomor 2, 3, dan 4 miliknya itu. Bagi mereka, filem tersebut memiliki kenyataan luar biasa. Hanya melalui visual sehari-hari dari dunia sekeliling mereka, aliran irama dapat terbingkai oleh kamera dan disusun menjadi permainan gerak filem.

417px-Berlin_symphony1_posterberlinGrosstadt_posterberlinsymphony

Avantgarde filem Jerman dibentuk oleh Viking Eggeling, Hans Richter dan Walter Ruttmann (semuanya pelukis); Piel Jutzi, Robert Siodmak dan Carl Junghans juga turut ambil bagian. Dapat juga disebut nama-nama seperti Ernö Metzner, Ernst Angel dan beberapa orang lagi. Viking Eggeling, pelukis muda Swedia yang meninggal di tahun 1926 telah mempertunjukkan filem niskalanya yang pertama di tahun 1919, Symphonie Diagonale. Hans Richter dikenal karena studi-studi filemnya Vormittasgsspuk, Inflation, Rennsumphonie dan Dreigroschenzauber. Ia telah mengembangkan metode montase seperti yang dikembangkan Fritz Lang dalam Dr. Mabuse, dan kelak menginspirasi tokoh filem Rusia, Sergei Eisenstein. Richter menghendaki montase didaktis dan intelektual. Melalui sudut kameranya yang entfesselt itu, persoalan benturan latar-latar objek mati dan pemain-pemain yang hidup dapat terselesaikan.

Di bawah pengaruh avantgarde, maka di tahun 1929 didirikanlah Studio Film 1929 pimpinan Moritz Seeler, dengan Robert Siodmak, Edgar Ulmer, Billei Welder, dan seorang ahli kamera, Eugen Schufftan sebagai anggota. Dari kolaborasi ini terciptalah filem Menschen am Sonntag, filem dokumenter yang diperankan –aktor-aktornya hanya sebagai alat. Sutradara filem Piel Jutzi yang terpengaruh oleh gaya Pudovkin juga termasuk golongan avantgarde dengan filemnya Mutter Krausens Fahrt ins Glück. Filem avantgarde dengan gaya Rusia lainnya adalah So ist das Leben ciptaan Carl Junghans. Dari tangan Erno Metzner terbitlah filem Uberfall. Sedang Ernst Angel membuat filem di jalanan, di mana ia bercakap-cakap dengan para pelancong, maka terciptalah filem Jagd auf Dieh.

Kelebihan avantgarde Jerman karena kepopulerannya di masyarakat. Terlebih karena pendekatan dokumenter dari kenyataan yang hampir tak ditemui pada produksi filem-filem Jerman di zaman itu. Dari unsur-unsurnya yang niskala dan mutlak itu, orang tak banyak mengerti tetapi mereka memberi kesempatan kelompok avantgarde sebagai ‘metode reklame’. Mereka tidak peduli apakah mereka mempergunakan cita-cita itu untuk tujuan komersial. Dan ini tidak mengherankan. Umpamanya ketika pertunjukan di teater-teater besar, gubahan Richter dipakai sebagai pembuka untuk menarik perhatian penonton terhadap filem utamanya. Baik juga kiranya jika saya katakan bahwa jurang antara publik dan sineas dalam avantgarde Jerman tidak begitu dalam seperti yang terjadi di Prancis di mana sineas dengan sombong bersangka bahwa mereka bekerja untuk seni baru dan mengasingkan diri dalam menara gading absolutisme yang niskala itu.

mutterkrause

 

 



Die Nibelungen: Kriemhelds Rache

 

Berlin, Symphonie einen Groszstadt

Act. I

Act. II

Act. III

Act. IV

Act. V


Opus I

 

Opus IV

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Tuesday, 22 December 2009 22:34
 
More articles :

» Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955 (available only in Bahasa Indonesia)Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem ciptaannya...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga

(available only in Bahasa Indonesia)ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

» Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955 (Available only in Bahasa Indonesia)Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926) buatan...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat

(available only in Bahasa Indonesia)Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136941

More.Articles_!

Love is Colder Than Death: Aesthetic Counterattack to Hollywood Domination
Sunday, 01 November 2009

  Bruno dies, unexpectedly, after a shoot-out with the police. Almost no destruction caused by the firing, not even bloodshed. Plot moves flat, without any pretention of emotional violence. It constructs and is a violent climax in a gangster film...

Video: The New Wave
Thursday, 31 December 2009

Tracing the Genealogy of World’s Video Art The development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art events have included video art as part of contemporary art exhibition. Video art has even invaded...

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Tuesday, 26 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Friday, 12 June 2009

(temporarily, only available in Bahasa Indonesia) Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan...

Two Sides of Film Competition Arrangement
Monday, 01 December 2008

Having trauma to the pressure of two fascist states, Germany and Italia, at the selection of Venice Film Festival in the last 1930’s, Jean Zay, French Minister of Education, decided to held a festival in France. By then, precisely in 1939, Luis...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Monday, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Chaerul Umam’s Ambivalence
Wednesday, 10 March 2010

Sinema Digital dan DVD
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri...

Chris Marker: In Memory of New Technology
Friday, 12 June 2009

1. An Awkward MemoryI remember discussing Chris Marker’s most recent feature film, Level Five (1996), with a friend of mine when it first came out. She was generally impressed with the film, but irritated by what she described as “an old man’s...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Saturday, 19 December 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya...

Berita Gempa
Thursday, 01 October 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Prima Rusdi
Thursday, 12 June 2008

We May Not Accomplish Anything After a Decade of Political Reform   To commemorate the ten years of political reform, Proyek Payung held a screening event of the ten short films from ten young directors at Kineforum Jakarta, May 12 to 20th 2008....

7th Year Forum Lenteng
Wednesday, 14 July 2010

Happy 7th Anniversary Forum Lenteng * * * 

Elida Tamalagi
Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge exigency is not supported by the aspirant management of the movie place. The activity of screening...

Alex Sihar: A Challenge to Familiarize the Language of Video
Sunday, 23 August 2009

This year, Yayasan Konfiden (Independent Film Community Foundation)—a foundation focusing on the development and distribution of audio visual media knowledge and usage to sustain empowerment as well as to gain appreciation and support—by public...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Saturday, 06 March 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) “Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel...

Tarzan goes to City with Hereditary Logical Flaw
Wednesday, 17 December 2008

The film Tarzan goes to City (Tarzan ke Kota) is labeled as a remake of City Tarzan (Tarzan Kota) starred by Indonesia legendary actor, Benyamin Sueb and directed by L. Sudjio. This film has its first run on 4 December 2008.The Indonesian...

The Ontology of Cinematography and Reflections on Cinema
Wednesday, 22 October 2008

The ontology of cinematography and the reflections on cinema addresses the question of what film is, what makes a film a film, and to examine what Wittgenstein would call the grammar of our concept of film and the role films play in the forms of our...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Saturday, 22 May 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Tepian Sungai Ciujung: Awareness of Medium Ideology and Integration Beyond The Lenses
Friday, 05 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the first part of the articles.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" - Mahatma...

Farah Wardani: It’s The First Visual Arts Online Archive in Indonesia
Sunday, 23 August 2009

On August 19, 2009, Indonesia Visual Arts Archive launched the first visual arts archives website in Indonesia, iclick.IVAA. On the occasion, Jurnal Footage interviewed Farah Wardani, Executive Director of IVAA. The following is our interview. Can...

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Thursday, 19 November 2009

(available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

V Film Festival 2010 and an Interview with Intan Paramadhita
Saturday, 24 April 2010

V Film Festival or the International Women Film Festival was first held in 2009 with the theme “Girl Power in Action”. This year, V Film Festival 2010 carries the theme “Identity and Youth”. V Film Festival 2010 was held by the collaboration...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Thursday, 03 September 2009

Compiled by Jurnal Footage It was a great shock, having heard the news about the tragic murder of one of the best Southeast Asia Film Critics, Alexis A. Tioseco. He was so young. So passionate. When it come to talk about film, he will eagerly...

Documemory: A Bibliography
Thursday, 04 June 2009

A. Documentary Film100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net