I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

KAOS FOOTAGE
(Charlie Chaplin)

chaplin-front

RP 85.000 | US$ 10
Without Shipping

ORDER BY EMAIL

Jurnal.Footage_!

banner-akumassa

Figure_!

alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
namjunepaik
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
toshio-matsumoto

KAOS FOOTAGE
(akumassa)

kaos-akumassa-front

RP 50.000
Without Shipping

ORDER BY EMAIL

With.Support.By_:

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Wednesday, 20 January 2010 03:40

(Available only in Bahasa Indonesia)

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)

Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang tampak di layar putih pada hakekatnya adalah kenyataan citra yang dialami yang menjadi dunianya sendiri. Keadaan yang dibentuk oleh pertalian ruang dan waktu dan ruang.

Jadi citra-citra pada filem mutlak bukan gambar-gambar kenyataan, tetapi mempunyai hidupnya sendiri yang kongkrit. Kamera tidak melekatkan bentuk-bentuk luar, tetapi mencerminkan kesadaran. Bukan benda-benda sendiri, tetapi bagaimana benda-benda itu menjelma di dalam jiwa! Filem yang mutlak memperlihatkan dunia rohani kepada penonton dimana hanya ada undang-undang asosiasi yang berlaku. Maka citra-citra pun menjadi tidak logis, tetapi memiliki hubungan satu dengan lainnya dalam psikologis.

La Fete Espagnole (1920)

La Fete Espagnole (1920)

Maka dalam filem mutlak itu dapat mempertunjukkan benda-benda yang kongkrit, fitri, atau pertunjukan dalam pengertian-pengertian niskala seperti yang telah dibuktikan Ruttmann. Filem mutlak tak perlu menjadi filem niskala. Sebaliknya filem niskala senantiasa mutlak. Filem itu selalu musik-optis yang tidak memperlihatkan sesuatu, tetapi musik itu sendiri adalah sebuah pertunjukan materi.

Dapatlah dimengerti, mengapa seniman-seniman Prancis yang menaruh perhatian pada hal itu dapat menambah seni gerak yang harmonis avantgarde Jerman dengan irama yang lebih liris. Hal itu sesuai dengan jiwanya. Yang disesalkan ialah cara mereka yang mengurung ini. Sebaliknya, tak dapat diharapkan sebuah seni dari “bohemian-bohemian” avantgarde Paris yang kosmopolitis itu. Sebab avantgarde ini adalah suatu reaksi yang justru menentang pergaulan yang terlalu umum dalam dunia filem. Seperti yang diperlihatkan di Prancis di tahun-tahun sebelum 1920. Berbeda dengan di Jerman, orang-orang di Prancis tak lagi menaruh harapan pada filem. Terutama setelah gagalnya percobaan Film d’Art. Filem pun menjadi sebuah hiburan rakyat yang terkadang sentimental, tapi kadang-kadang juga realistis. Seperti juga di Prancis, Inggris pada masa itu tidak dapat mencipta dan hanya sanggup mempertunjukkan popularitas Betty Balfour yang murah sebagai Squibs, gadis penjual kembang.

Pernyataan bahwa filem Prancis itu mudah telah disepakati bersama, namun dapatlah dimengerti jika timbul reaksi dari beberapa kalangan tertentu atas keadaan yang seragam dan tidak berjiwa ini. Pelukis dadaisme dan surealisme pun dengan sibuk menkonstruksi dasar-dasar sinematografi yang mereka wujudkan dalam percobaan-percobaan dimana citra-citra mendorong mereka ke arah keadaan-keadaan yang berirama. Pemikiran-pemikiran asali berdampingan dengan keaslian tehnik. Sudah tentu mereka juga mengadakan percobaan untuk kepentingan percobaan-percobaan itu sendiri, tetapi sering kali mereka mengadakan percobaan itu hanyalah sebatas ambisi snobisme dan jarang karena kehendak mencipta. Kita bebas menafsirkan hal ini dan bebas pula menertawakan apa yang kita kehendaki (yang memang beralasan), tetapi sudah pasti bahwa avantgarde Prancis adalah dapur percobaan seni filem. Barangkali ini suatu makbal yang terlalu luar biasa, dimana dengan teliti dan menurut ilmu pengetahuan diselidiki pergeseran dan pemaduan, pertentangan dan perselisihan dalam dunia khayalan, yang juga turut menentukan isi artistik seni filem.

Louis Delluc

Louis Delluc

Rien que les heures (1925)

Rien que les heures (1925)

Avantgarde filem dibangun oleh seorang wartawan Prancis, Louis Delluc, di tahun 1920 bersama beberapa temannya menguraikan adanya pertalian antara filem dengan musik melalui tulisan-tulisan pada majalah dan filem-filem produksi mereka. Berlandaskan hal itu, mereka kemudian menggugat yang biasa disebut “mata kamera yang surealistis”. Aspek baru dalam filem pun muncul setelah pencipta-pencipta filem Jerman melakukan perbandingan mereka yang indah itu. Sebagai kelanjutan dari gerak yang harmonis yang telah diperoleh Walter Ruttmann, surealis-surealis Prancis membuat psychis dari citra-citra filem yang memiliki hubungan psikologis antara satu dengan lainnya yang membentuk isi cerita, disebut filem-filem kamera. Karena itu kenyataan-kenyataan di luar filem menjadi kurang hubungannya karena lebih banyak memperlihatkan estetika filem dari keanehan citra-citranya. Sensasi hebat yang ditimbulkannya ialah bahwa penonton tidak melihat citra kejadian-kejadian lagi, tetapi melihat gambar-gambar saja sudah menjadi sebuah peristiwa.

Marcel Herbier

Marcel l’Herbier

 

Germaine Dulac "L'invitation au voyage" (1927)


Setelah di tahun 1920 wartawan pujangga Louis Delluc beserta Germaine Dulac mencipta filem La fete espagnole dunia pun berhadapan dengan korelasi musik sehingga penonton merasa dialamkan irama yang tersembunyi di dalamnya. Inilah sebabnyak kritikus-kritikus bisa menulis tentang une orchestration d’images dan une symphonie visuelle. Dari tangan Louis Delluc lahir filem lain Fievre, tetapi sayang ia meninggal di tahun 1923. Kalau tidak, dalam dunia seni filem Prancis tentu ia akan menjadi seorang seperti Walter Ruttmann dalam seni filem internasional. Langkah Delluc diikuti oleh arsitek Brazil, Alberto de Cavalcanti dan Jean Epstein. Dalam tahun 1925 Cavalcanti mencipta filem Rien que les heures yang mengharukan itu. Suatu lirik visual yang menggambarkan kehidupan Paris sehari-hari. Filem ini dapat dipandang sebagai imbangan yang romantis dari filem Walter Ruttmann, Symvonie einer Groszstadt. Selain orang-orang avantgarde itu, ada pula Jean Epstein, Marcel l’Herbier yang membuat filem. Baik Epstein maupun l’Herbier berusaha dengan cara Prancis untuk mendapatkan citra-citra indah di layar putih. Isi citra itu bercorak sastra dan terpaksa oleh rupa-rupa kebenaran. Dengan ini mereka menemui tehnik tutur baru, gaya foto yang lebih rapih tetapi menyimpang dari tujuan seni filem avantgarde angkatan pertama. Orang sesalkan Marcel l’Herbier tidak mempunyai kesanggupan beradaptasi dengan hakiki seni filem, yakni gerak. Ilhamnya senantiasa membutuhkan gerak daripada mencipta gerak filem. Kelak l’Herbier bulat-bulat jatuh ditangan industri filem dan untuk perusahaan itu ia buat banyak filem dan filem-filem sandiwara yang tidak seberapa mutunya.

Marcel l’Herbier "El Dorado" (1921)

Tokoh yang menempuh jalan sendiri adalah Abel Gance, juga disebut Fritz Lang Prancis, yang sanggup membuat retorik hebat. Dalam ciptaan-ciptaannya tampak cita rasa terhadap visualitas, pendewaan gaya bentuk, dan senantiasa mendorongnya ke suatu keadaan dimana seni filem tidak lagi membutuhkan Abel Gance. Api jenius seniman itu menjadi padam karena kebanyakan fantasi dan karena pendapat-pendapat tehnik yang tidak mengenal kekangan yang dengan secara palsu mendeklarasikan diri sebagai puisi filem. Yang konsisten dalam avantgarde ialah Claude Autant-Lara, pencipta filem Faits divers yang aneh itu. Ciptaan ini sangat kontras dengan ciptaan orang Paris Amerika, Man Ray, yang tetap tinggal sebagai seorang pengikut aliran absolutisme dan tetap meletakkan titik beratnya pada citranya sendiri. Pengikut lain dari aliran absolutisme ini adalah Leger dan Eugene Deslaw.

Fait Driver

Fait Driver

Kira-kira di tahun 1928 dipertunjukkan 2 filem ciptaan Germaine Dulac yang sangat khas bagi avantgarde Prancis, Invitation au voyage dan La coquille et le clergyman. Kedua filem ini adalah contoh-contoh tegas dari rangkaian citra yang tidak logis dan juga contoh-contoh dari psikologi visual. Germaine Dulac mempunyai cukup perasaan untuk membimbing gaya pahamnya. Keyakinan terhadap asosiasi visual telah cukup baginya. Demikian keadaan filem avantgarde bahwa kita harus melihatnya lebih dahulu agar dapat mengerti tiap rumusnya. Bahwa banyak juga dicipta avantgarde Prancis yang tak dapat dirumus dan tetap menyerupakan sesuatu yang juga tak dapat diuraikan sampai hari ini. Terbukti umpamanya dari filem yang kini –justru karena itu– masih sering dapat dilihat dalam pertunjukan-pertunjukan istimewa, Un Chien Andalou ciptaan Luis Bunuel. Tetapi kita mesti hati-hati kalau-kalau pertunjukan filem yang “tak dapat diterjemahkan itu” akan membuat para penonton tertawa yang bisa berarti suatu olokan terhadap avantgarde terlebih-lebih karena avantgarde sangat mudah disamakan dengan snobisme. Ada baiknya kalau orang berusaha melakukan percobaan-percobaan dengan filem dengan membongkar rahasia-rahasia seni muda itu. Telah terbukti bahwa yang berharga dalam usaha-usaha avantgarde kelak dapat menjadi milik bersama dalam industri filem. Sebab avantgardisme, pemberian bentuk filem-filem, kini tidak lagi merupakan keheranan bagi penonton. Penonton lebih banyak melihat avantgarde daripada yang pernah diketahui dan disadarinya. Tak ada lagi yang membuat penonton heran. Avantgarde telah ditelan bulat-bulat oleh tehnik filem. Dan ini bukanlah maksud penciptaannya dahulu! Pencipta-pencipta yang sungguh-sungguh bekerja telah mencipta filem-filem yang indah dalam industri filem telah mereka buktikan bahwa mereka telah mendapatkan pelajaran dari capaian avantgarde. Rata-rata sutradara hanya menaruh perhatian terhadap keahlian avantgardis dalam pemakaian “true” dan mereka bergegas mempelajarinya. Hasilnya, penonton modern terbiasa dengan cara kerja avantgarde, walaupun hanya dengan alat-alatnya saja dan tak pernah atau jarang dengan jiwanya.

 

Germaine Dulac "La coquille et le clergyman" (1926)


Marcel l’Herbier "El Dorado" (1921)

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 18:26
 
More articles :

» Rentjong Atjeh

(This article only available in Bahasa Indonesia) J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan...

» Ambivalensi Sikap Chaerul Umam

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)Al-Kautsar, Gadis Marathon, Titian Serambut dibelah Tujuh, Hati yang Perawan, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Bintang Kejora, Keluarga Markum, Joe Turun ke Desa, Boss Carmad, Oom Pasikom (Parodi Ibukota),...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga

(available only in Bahasa Indonesia)ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar

(Available only in Bahasa Indonesia)ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya...

» Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)

(only available in Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...
poposby

KAOS FOOTAGE
(Footage)

footagetext-front

RP 85.000 | US$ 10
Without Shipping

Today.Quotation_:

 

"If talking film is an art, speech must play a role in conformity with its character as a sign and not appear only as a sound element, which, though privileged as compared with others, is but of secondary importance as compared with the visual element."

[Éric Rohmer]

ok video Rio sadja akumassa jurnal footage fan page tweet us

Stats_!

Members : 177
Content : 138
Content View Hits : 80991

More.Articles_!

One Day We'll Only Memorizing The Celluloid

Tuesday, 12 August 2008

What film struck you most? Fiction and documentary: film. Until two years ago, when I stepped out my room to watch The Mirror, a film of Jafar... Read more...

Toshio Matsumoto (1932-)

Wednesday, 12 August 2009

(English article click here) Matsumoto Toshio adalah lulusan Universitas Tokyo, 1955. Ia perintis dokumenter avant-garde, filem eksperimental,... Read more...

Paranormal Activity: A Terrifying Sound Pollution

Saturday, 19 December 2009

Haxan, a work of a Swedish director, Christensen, is a horror film full of strong social political issue. Haxan does not only picture human... Read more...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company

Monday, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu... Read more...

Two Sides of Film Competition Arrangement

Monday, 01 December 2008

Having trauma to the pressure of two fascist states, Germany and Italia, at the selection of Venice Film Festival in the last 1930’s, Jean Zay,... Read more...

Aminuddin TH Siregar: We Excel Other Countries in Southeast Asia

Monday, 03 August 2009

Why do you pick the theme ‘Comedy’ for the fourth OK. Video?We believe the theme comedy correlates to the socio-political state our country is... Read more...

Prima Rusdi

Thursday, 12 June 2008

We May Not Accomplish Anything After a Decade of Political Reform   To commemorate the ten years of political reform, Proyek Payung held a screening... Read more...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film

Wednesday, 03 March 2010

(available only in Bahasa Indonesia)   Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya ... Read more...

The Endless Steps: Transaction of Sign Agreement

Monday, 24 November 2008

‘Is there any sign?’This question asked four times by a caller in the video The Endless Steps from Maulana Adel Pasha. Question which is so... Read more...

The Wind Will Carry Us: Communication Redefined

Tuesday, 15 July 2008

A machine from modern civilization, consists of modern men crossing the winding cracking hills road to find hard location and no sure direction... Read more...

Farah Wardani: It’s The First Visual Arts Online Archive in Indonesia

Sunday, 23 August 2009

On August 19, 2009, Indonesia Visual Arts Archive launched the first visual arts archives website in Indonesia, iclick.IVAA. On the occasion, Jurnal... Read more...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia

Monday, 08 June 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah... Read more...

Di Dasar Segalanya: A Surrealistic Image of Anxiety

Sunday, 20 December 2009

On December 17, 2009, I had the opportunity to watch Paul Agusta’s second film, Di Dasar Segalanya (At the Very Bottom of Everything) at Kineforum,... Read more...

Ten Directors From The Ten Years of Political Reform

Thursday, 12 June 2008

The political reform of 1998 is an important history in the life of Indonesian. The current of changes occurs everywhere. But, after ten years, what... Read more...

Jonas Mekas’ Cultural Archives

Thursday, 23 July 2009

“In Lithuania, I’m known as a poet, and they don’t care about my cinema. In Europe, they don’t know my poetry; in Europe, I am a filmmaker.... Read more...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
var01
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net