I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Wednesday, 20 January 2010 03:40

(Available only in Bahasa Indonesia)

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)

Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang tampak di layar putih pada hakekatnya adalah kenyataan citra yang dialami yang menjadi dunianya sendiri. Keadaan yang dibentuk oleh pertalian ruang dan waktu dan ruang.

Jadi citra-citra pada filem mutlak bukan gambar-gambar kenyataan, tetapi mempunyai hidupnya sendiri yang kongkrit. Kamera tidak melekatkan bentuk-bentuk luar, tetapi mencerminkan kesadaran. Bukan benda-benda sendiri, tetapi bagaimana benda-benda itu menjelma di dalam jiwa! Filem yang mutlak memperlihatkan dunia rohani kepada penonton dimana hanya ada undang-undang asosiasi yang berlaku. Maka citra-citra pun menjadi tidak logis, tetapi memiliki hubungan satu dengan lainnya dalam psikologis.

La Fete Espagnole (1920)

La Fete Espagnole (1920)

Maka dalam filem mutlak itu dapat mempertunjukkan benda-benda yang kongkrit, fitri, atau pertunjukan dalam pengertian-pengertian niskala seperti yang telah dibuktikan Ruttmann. Filem mutlak tak perlu menjadi filem niskala. Sebaliknya filem niskala senantiasa mutlak. Filem itu selalu musik-optis yang tidak memperlihatkan sesuatu, tetapi musik itu sendiri adalah sebuah pertunjukan materi.

Dapatlah dimengerti, mengapa seniman-seniman Prancis yang menaruh perhatian pada hal itu dapat menambah seni gerak yang harmonis avantgarde Jerman dengan irama yang lebih liris. Hal itu sesuai dengan jiwanya. Yang disesalkan ialah cara mereka yang mengurung ini. Sebaliknya, tak dapat diharapkan sebuah seni dari “bohemian-bohemian” avantgarde Paris yang kosmopolitis itu. Sebab avantgarde ini adalah suatu reaksi yang justru menentang pergaulan yang terlalu umum dalam dunia filem. Seperti yang diperlihatkan di Prancis di tahun-tahun sebelum 1920. Berbeda dengan di Jerman, orang-orang di Prancis tak lagi menaruh harapan pada filem. Terutama setelah gagalnya percobaan Film d’Art. Filem pun menjadi sebuah hiburan rakyat yang terkadang sentimental, tapi kadang-kadang juga realistis. Seperti juga di Prancis, Inggris pada masa itu tidak dapat mencipta dan hanya sanggup mempertunjukkan popularitas Betty Balfour yang murah sebagai Squibs, gadis penjual kembang.

Pernyataan bahwa filem Prancis itu mudah telah disepakati bersama, namun dapatlah dimengerti jika timbul reaksi dari beberapa kalangan tertentu atas keadaan yang seragam dan tidak berjiwa ini. Pelukis dadaisme dan surealisme pun dengan sibuk menkonstruksi dasar-dasar sinematografi yang mereka wujudkan dalam percobaan-percobaan dimana citra-citra mendorong mereka ke arah keadaan-keadaan yang berirama. Pemikiran-pemikiran asali berdampingan dengan keaslian tehnik. Sudah tentu mereka juga mengadakan percobaan untuk kepentingan percobaan-percobaan itu sendiri, tetapi sering kali mereka mengadakan percobaan itu hanyalah sebatas ambisi snobisme dan jarang karena kehendak mencipta. Kita bebas menafsirkan hal ini dan bebas pula menertawakan apa yang kita kehendaki (yang memang beralasan), tetapi sudah pasti bahwa avantgarde Prancis adalah dapur percobaan seni filem. Barangkali ini suatu makbal yang terlalu luar biasa, dimana dengan teliti dan menurut ilmu pengetahuan diselidiki pergeseran dan pemaduan, pertentangan dan perselisihan dalam dunia khayalan, yang juga turut menentukan isi artistik seni filem.

Louis Delluc

Louis Delluc

Rien que les heures (1925)

Rien que les heures (1925)

Avantgarde filem dibangun oleh seorang wartawan Prancis, Louis Delluc, di tahun 1920 bersama beberapa temannya menguraikan adanya pertalian antara filem dengan musik melalui tulisan-tulisan pada majalah dan filem-filem produksi mereka. Berlandaskan hal itu, mereka kemudian menggugat yang biasa disebut “mata kamera yang surealistis”. Aspek baru dalam filem pun muncul setelah pencipta-pencipta filem Jerman melakukan perbandingan mereka yang indah itu. Sebagai kelanjutan dari gerak yang harmonis yang telah diperoleh Walter Ruttmann, surealis-surealis Prancis membuat psychis dari citra-citra filem yang memiliki hubungan psikologis antara satu dengan lainnya yang membentuk isi cerita, disebut filem-filem kamera. Karena itu kenyataan-kenyataan di luar filem menjadi kurang hubungannya karena lebih banyak memperlihatkan estetika filem dari keanehan citra-citranya. Sensasi hebat yang ditimbulkannya ialah bahwa penonton tidak melihat citra kejadian-kejadian lagi, tetapi melihat gambar-gambar saja sudah menjadi sebuah peristiwa.

Marcel Herbier

Marcel l’Herbier

 

Germaine Dulac "L'invitation au voyage" (1927)


Setelah di tahun 1920 wartawan pujangga Louis Delluc beserta Germaine Dulac mencipta filem La fete espagnole dunia pun berhadapan dengan korelasi musik sehingga penonton merasa dialamkan irama yang tersembunyi di dalamnya. Inilah sebabnyak kritikus-kritikus bisa menulis tentang une orchestration d’images dan une symphonie visuelle. Dari tangan Louis Delluc lahir filem lain Fievre, tetapi sayang ia meninggal di tahun 1923. Kalau tidak, dalam dunia seni filem Prancis tentu ia akan menjadi seorang seperti Walter Ruttmann dalam seni filem internasional. Langkah Delluc diikuti oleh arsitek Brazil, Alberto de Cavalcanti dan Jean Epstein. Dalam tahun 1925 Cavalcanti mencipta filem Rien que les heures yang mengharukan itu. Suatu lirik visual yang menggambarkan kehidupan Paris sehari-hari. Filem ini dapat dipandang sebagai imbangan yang romantis dari filem Walter Ruttmann, Symvonie einer Groszstadt. Selain orang-orang avantgarde itu, ada pula Jean Epstein, Marcel l’Herbier yang membuat filem. Baik Epstein maupun l’Herbier berusaha dengan cara Prancis untuk mendapatkan citra-citra indah di layar putih. Isi citra itu bercorak sastra dan terpaksa oleh rupa-rupa kebenaran. Dengan ini mereka menemui tehnik tutur baru, gaya foto yang lebih rapih tetapi menyimpang dari tujuan seni filem avantgarde angkatan pertama. Orang sesalkan Marcel l’Herbier tidak mempunyai kesanggupan beradaptasi dengan hakiki seni filem, yakni gerak. Ilhamnya senantiasa membutuhkan gerak daripada mencipta gerak filem. Kelak l’Herbier bulat-bulat jatuh ditangan industri filem dan untuk perusahaan itu ia buat banyak filem dan filem-filem sandiwara yang tidak seberapa mutunya.

Marcel l’Herbier "El Dorado" (1921)

Tokoh yang menempuh jalan sendiri adalah Abel Gance, juga disebut Fritz Lang Prancis, yang sanggup membuat retorik hebat. Dalam ciptaan-ciptaannya tampak cita rasa terhadap visualitas, pendewaan gaya bentuk, dan senantiasa mendorongnya ke suatu keadaan dimana seni filem tidak lagi membutuhkan Abel Gance. Api jenius seniman itu menjadi padam karena kebanyakan fantasi dan karena pendapat-pendapat tehnik yang tidak mengenal kekangan yang dengan secara palsu mendeklarasikan diri sebagai puisi filem. Yang konsisten dalam avantgarde ialah Claude Autant-Lara, pencipta filem Faits divers yang aneh itu. Ciptaan ini sangat kontras dengan ciptaan orang Paris Amerika, Man Ray, yang tetap tinggal sebagai seorang pengikut aliran absolutisme dan tetap meletakkan titik beratnya pada citranya sendiri. Pengikut lain dari aliran absolutisme ini adalah Leger dan Eugene Deslaw.

Fait Driver

Fait Driver

Kira-kira di tahun 1928 dipertunjukkan 2 filem ciptaan Germaine Dulac yang sangat khas bagi avantgarde Prancis, Invitation au voyage dan La coquille et le clergyman. Kedua filem ini adalah contoh-contoh tegas dari rangkaian citra yang tidak logis dan juga contoh-contoh dari psikologi visual. Germaine Dulac mempunyai cukup perasaan untuk membimbing gaya pahamnya. Keyakinan terhadap asosiasi visual telah cukup baginya. Demikian keadaan filem avantgarde bahwa kita harus melihatnya lebih dahulu agar dapat mengerti tiap rumusnya. Bahwa banyak juga dicipta avantgarde Prancis yang tak dapat dirumus dan tetap menyerupakan sesuatu yang juga tak dapat diuraikan sampai hari ini. Terbukti umpamanya dari filem yang kini –justru karena itu– masih sering dapat dilihat dalam pertunjukan-pertunjukan istimewa, Un Chien Andalou ciptaan Luis Bunuel. Tetapi kita mesti hati-hati kalau-kalau pertunjukan filem yang “tak dapat diterjemahkan itu” akan membuat para penonton tertawa yang bisa berarti suatu olokan terhadap avantgarde terlebih-lebih karena avantgarde sangat mudah disamakan dengan snobisme. Ada baiknya kalau orang berusaha melakukan percobaan-percobaan dengan filem dengan membongkar rahasia-rahasia seni muda itu. Telah terbukti bahwa yang berharga dalam usaha-usaha avantgarde kelak dapat menjadi milik bersama dalam industri filem. Sebab avantgardisme, pemberian bentuk filem-filem, kini tidak lagi merupakan keheranan bagi penonton. Penonton lebih banyak melihat avantgarde daripada yang pernah diketahui dan disadarinya. Tak ada lagi yang membuat penonton heran. Avantgarde telah ditelan bulat-bulat oleh tehnik filem. Dan ini bukanlah maksud penciptaannya dahulu! Pencipta-pencipta yang sungguh-sungguh bekerja telah mencipta filem-filem yang indah dalam industri filem telah mereka buktikan bahwa mereka telah mendapatkan pelajaran dari capaian avantgarde. Rata-rata sutradara hanya menaruh perhatian terhadap keahlian avantgardis dalam pemakaian “true” dan mereka bergegas mempelajarinya. Hasilnya, penonton modern terbiasa dengan cara kerja avantgarde, walaupun hanya dengan alat-alatnya saja dan tak pernah atau jarang dengan jiwanya.

 

Germaine Dulac "La coquille et le clergyman" (1926)


Marcel l’Herbier "El Dorado" (1921)

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 20 January 2010 18:26
 
More articles :

» Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director

Sergei Eisenstein is arguably the most important single figure in the history of movies. He was certainly the most versatile. The director of the masterpieces Battleship Potemkin and Alexander Nevsky, Eisenstein also wrote ground-breaking essays on...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara

(Available only in Bahasa Indonesia)Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

» Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen

(Only in Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

» Interview with Bronnt Industries Kapital

Geometer: I only came to hear of Häxan through your soundtrack - it’s a great film and I was surprised I’d not heard of it. How did you first hear of the film?Guy: We were first approached to perform a live soundtrack to the film at Bristol’s...

» Abduh Azis: On History, Film, Documentary, Community Video and the Acme of Film Industry

How do we picture an idea of “Indonesia” upon reading history? There are many ways to describe. Abduh Azis is one of the film industry figures known to be ever so critical in interpreting history through films. Being a native Jakartan born in...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136884

More.Articles_!

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Thursday, 03 September 2009

Compiled by Jurnal Footage It was a great shock, having heard the news about the tragic murder of one of the best Southeast Asia Film Critics, Alexis A. Tioseco. He was so young. So passionate. When it come to talk about film, he will eagerly...

Der Letztze Mann: The Independence of Murnau’s Cinema
Thursday, 17 December 2009

In a scene, a doorman attends to the entrance of a luxurious hotel; dignified in gesture, alert and ready to serve every guest. A very friendly figure among the hustling hotel guests. At one time, two ladies are exiting. It’s a little rainy when...

Jim Henson: An Experimental Film Director, The Father of The Muppet Show and Sesame Street
Tuesday, 12 January 2010

Some time ago I was browsing new media arts networking site www.rhizome.org. Surfing the site, I stumbled upon a video uploaded by John Michael Boling entitled Time Piece (1964) by Jim Henson. This eight-minute video is one of the experimental works...

Menyibak Rahasia Video
Tuesday, 12 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta...

Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity
Wednesday, 27 May 2009

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films. One of Mexico’s prominent filmmakers. He began to make films following the massacre at Tlatelolco,...

Tabu: A Representation of Indigenous Polynesian
Thursday, 31 December 2009

Matahi, a native man of an island in South Pacific called Bora-bora, falls in love with a girl named Reri. One day, Hitu, a tribe leader sent by leaders of each island of the archipelago, comes to take Reri as a replacement for their late sacred...

Under The Tree: Garin’s Failure to Renounce Modern Monism
Monday, 28 December 2009

The 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) is adorned with Indonesia Feature Film Competition (IFFC) that proved the quality of our national films in the international level. Films screened in IFFC are selected based on theme, narration,...

Chaerul Umam’s Ambivalence
Wednesday, 10 March 2010

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Ariani Darmawan: Independent Bioscope as Struggle
Tuesday, 12 August 2008

The independent bioscope emerges as a form of struggle from majority of bioscopes. But what fight it is exactly? Probably none, because speaking about struggle in films which calls independent in Indonesia might be complicated and end up to nowhere....

Jonas Mekas’ Cultural Archives
Thursday, 23 July 2009

“In Lithuania, I’m known as a poet, and they don’t care about my cinema. In Europe, they don’t know my poetry; in Europe, I am a filmmaker. But here, in the United States, I am only a maverick.” —Jonas Mekas, The New York Times, June 12,...

The Ontology of Cinematography and Reflections on Cinema
Wednesday, 22 October 2008

The ontology of cinematography and the reflections on cinema addresses the question of what film is, what makes a film a film, and to examine what Wittgenstein would call the grammar of our concept of film and the role films play in the forms of our...

Tepian Sungai Ciujung: Awareness of Medium Ideology and Integration Beyond The Lenses
Friday, 05 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the first part of the articles.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" - Mahatma...

Video: The New Wave
Thursday, 31 December 2009

Tracing the Genealogy of World’s Video Art The development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art events have included video art as part of contemporary art exhibition. Video art has even invaded...

Violence in Films: Critique to the Film Kado Hari Jadi
Monday, 30 November 2009

How do we summarize violence derived from day-to-day reality? Blood! It’s the easiest language to frame the violence and sadism of an occurrence. Adding to it, gory utensils such as knife, screwdriver, hammer, and razor. Then, how do we envelop...

Jean Epstein: First Avant-garde Director
Wednesday, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) One of the foremost directors of the French silent cinema, Epstein is also remembered as a cinematic theorist whose writings such as Ecrits sur le cinema examined the philosophical impact of film. Epstein's works, considered...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Friday, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

The 54th Oberhausen: The Oldest But Somehow Actual
Thursday, 12 June 2008

Labors all around the world come down to the street in May Day, celebrating The International Labor Day in the first of May. They sounding their rights to the rulers. All governments aware and increasing the security level. Even in Indonesia, the...

A Pamphlet of Our History in Ruma Maida
Sunday, 08 November 2009

Ishak Pahing dies amid a gunfire volley during an air raid of the plane he was on with his friends. This scene opens the film Ruma Maida (Maida’s House), directed by Teddy Soeriaatmadja, and as scriptwriter, Ayu Utami—the writer who shook...

Prima Rusdi
Thursday, 12 June 2008

We May Not Accomplish Anything After a Decade of Political Reform   To commemorate the ten years of political reform, Proyek Payung held a screening event of the ten short films from ten young directors at Kineforum Jakarta, May 12 to 20th 2008....

Reading Michael Haneke’s Code Unknown
Friday, 03 October 2008

Michael Haneke is probably the most interesting director in the contemporary cinema history. Born in Munich, 1942, Haneke grew in suburb Austria, Weiner Nestadt. Having learned pschycology, philoshophy and theater at the Vienna University and make...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Thursday, 01 April 2010

Rentjong Atjeh
Wednesday, 22 July 2009

(This article only available in Bahasa Indonesia) J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Saturday, 19 December 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Tuesday, 30 June 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Ruminating on Terminology and Theme: Notes on the 6th Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010
Friday, 25 June 2010

Attending Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010 during June 8-10, 2010, the first question that popped in me was: what essentially distinguishes this festival from the rest alike? Until the last day, after seeing the works screened in the...

Yang Muda yang Bercinta: Early Montage in New Order Regime
Wednesday, 07 October 2009

A young man rides in a bajaj with his pregnant lover, passing through Jakarta’s slums in the 1970s. Child beggars in the city’s labyrinths become a syntagmatic connection to bajaj. The young man is a university student named Sony (W. S. Rendra)1...

Aminuddin TH Siregar: We Excel Other Countries in Southeast Asia
Monday, 03 August 2009

Why do you pick the theme ‘Comedy’ for the fourth OK. Video?We believe the theme comedy correlates to the socio-political state our country is now in. It’s an attempt to look for collective ways of catharsis, not to burden ourselves with...

Bilal: Between Freedom and Fascism in Punk Ideology
Thursday, 17 July 2008

Bilal (2006) is a first and important work of Bagasworo Aryaningtyas. The work also appeared to be a confirmation of Bagasworo identity as a true punker. His next works such as Memanjakan Tubuh/Spoiling the Body (2006) and Lingkaran X/The X Circle...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net