I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush PDF Print E-mail
Written by Hafiz dan Akbar Yumni   
Tuesday, 26 January 2010 22:09

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)

Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang mereka jual. MTV telah meraup keuntungan besar dari bisnis ini. Kehadiran kanal khusus video musik ini telah melahirkan kebudayaannya sendiri, yang kita kenal sekarang sebagai Budaya MTV.

houseofcards-01houseofcards-05houseofcards-02

Kekuatan videoklip ini tentu tidak lepas dari bagaimana grup musik berkolaborasi dengan sutradara/seniman video dalam mengemas sebuah tayangan. Kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa filem dan video digunakan sebagai pengikat untuk menarik pemirsa. Namun, dalam industri musik memang sering yang lebih berkuasa adalah industrinya itu sendiri. Tak jarang sebuah videoklip mengabaikan konsep-konsep artistik video dan filem. Industri musik lebih percaya kepada bagaimana musik itu dijual dengan menghadirkan “tampang” pemusik sambil bernyanyi dan bermain musik. Kalaupun ada pengadeganan, hanya sebagai ilustrasi dari syair-syair dalam lagu layaknya opera sabun. Inilah yang sering kita lihat dalam video-video musik selama ini.

Namun, di antara banyaknya videoklip yang diproduksi industri musik, tentu ada beberapa yang perlu mendapat perhatian. Video-video yang baik ini bukan hanya sebagai pelengkap para penyanyi untuk hadir di televisi, namun dikemas dalam usaha menyampaikan pesan kultural yang berpijak dari musik dan video. Kami menemukan video House of Cards Radiohead dari album In Rainbows (2007).

Videoklip House of Cards

Video House of Cards menghadirkan Thom Yorke (vokalis Radiohead) bernyanyi dalam bentuk titik-titik piksel yang bergerak. Imaji piksel yang berbentuk Thom Yorke itu bergerak mengikuti syair lagu dan saling bergantian dengan gambar-gambar lanskap surealis yang muncul saling bergantian dengan sapuan yang halus. Video ini disutradarai oleh James Frost yang juga menyutradarai video Yellow, Coldplay—sebuah video klip dengan ambilan satu tembakan.  House of Cards diproduksi pada 2008 oleh Zoo Films dan EMI Music.

Video House of Cards perlu mendapat catatan dalam sejarah perkembangan video musik, karena secara hasil, kolaborasi musik dan video ini menimbulkan dimensi virtual dalam gambar-gambarnya. James Frost berhasil melahirkan fenomena lain dalam bahasa video musik televisi. Ia bukan hanya hadir sebagai imaji, namun piksel-piksel itu membongkar kembali apa yang selama ini kita tandai sebagai imaji. Visual dimuaikan dalam rekaman yang sama sekali tidak biasa—dengan menggunakan teknologi laser dan transfer data dari kenyataan secara langsung. Data-data itu disimpan dan dibentuk dalam formasi bentuk yang menghasilkan fantasi lain dalam video musik. Selain itu, Zoo Films juga mempublikasikan House of Cards dalam format data yang dapat langsung diakses oleh audiens di internet (kunjungi: http://code.google.com/creative/radiohead/viewer.html). Yang menarik dari format data yang ada di Google Code itu adalah semua pengkases dapat mengklik video dan mengubah bentuknya. Saat data itu diklik, muncullah  berbagai perspektif; ke samping, atas dan depan sesuai dengan keinginan pengakses. Inilah yang disebut, dalam bahasa Lev Manovich, dengan ‘symbolic form’, yaitu sebuah ambilan gambar yang diperoleh bukan berdasarkan perekaman kamera (shot) dan pencahayaan, tapi berdasarkan pengambilan data (capturing data).

Pada videoklip ini, audiens bisa mengganti tampilan visual berupa lanskap kota interaktif sesuai keinginan audiens dalam berbagai perspektif. Visual Thom Yorke, dalam bahasa Lev Manovich adalah representasi numeric—sebuah proses visualisasi bukan berdasarkan ambilan kamera (shot), tapi penangkapan data (capturing data). Karena representasi numeric inilah, yang kemudian membuka peluang terhadap segala bentuk manipulasi perangkat lunak, sehingga memungkinkan interaksi dengan para audiens.

houseofcards-03houseofcards-06

Video ini diproduksi dengan cara merekam sinyal gelombang yang terdapat pada tekstur fisik wajah Thom Yorke, gradasi ruang, kedalaman dan tekstur bentuk benda-benda sekitarnya. Proses pengambilan data dilakukan dengan teknologi geometric information dan Velodyne LIDAR. Geometric information secara terstruktur menghasilkan cahaya untuk menangkap citra 3D (tiga dimensi) pada hampiran terdekat. Sementara sistem LIDAR Velodyne yang memakai berlipat-lipat laser yang digunakan untuk menangkap lingkungan yang besar macam lanskap. Pada video ini, semua adegan eskterior dihasilkan melalui 64 laser yang berputar dan menangkap sinyal dari 360 derajat dalam radius 900 kali per menit.

Representasi numeric membawa kelanjutan pada sebuah visual yang oleh Lev Manovich mengutip dari analisis Ervin Panofsky's sebagai symbolic form (format simbolik) pada masa moderen, menjadi symbolic form di masa komputer (teknologi informasi/new media). Format simbolik pada masa moderen telah mengandaikan, dalam istilah Ernst Gomrich, ‘skema-skema reprsentasional’, atau bahkan ‘jaringan kutipan terperikan berasal dari ruang-limpah pusat budaya’ dalam bahasa Roland Bartes. Sedangkan symbolic form pada media baru (komputer) adalah bagaimana memodifikasi dari sinyal yang telah ada.

Format simbolik pada House of Cards Radiohead dihasilkan dari olah data pada komputer. Hal ini memunculkan logika-logika sendiri dalam konteks pengolahan data dan persinggungannya dengan citra yang dibangun. Manovich membedakan antara data dan narasi, karena keduanya merupakan musuh alamiah. Menurutnya, narasi mengandaikan adanya “awalan” dan “akhiran”, yang merupakan prinsip bentuk dalam “literasi” dan “sinema” pada era moderen. Sedangkan data di era komputer tidak mengandaikan adanya ‘awalan’ dan ‘akhiran’, tapi lebih mengorganisir data yang menjadi “sekuen” (sebuah kumpulan peristiwa/data). Data-data itu tidak memiliki hirarki, semua elemen data mengandung kesejajaran dan memiliki signifikasi yang sama dalam satuan individu. Pada narasi, hal itu berlaku sebaliknya, yaitu ada hirarki seperti ‘penokohan’ dan lain sebagainya. Video House of Cards tampilan visual yang berasal dari gelombang, menampilkan satuan individu (menjadi kumpulan data) berupa kepala Thom Yorke sang vokalis Radiohead. Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa House of Cards mengalami proses representasi berdasarkan data yang tidak membentuk narasi.

Kalau kita melihat perkembangan penggunanan representasi numerik pada akhir-akhir ini, ia juga mengalami penarasian (penceritaan). Seperti pada praktik videogame dan filem-filem animasi juga 3D Hollywood. Prosesnya, data ditempatkan berdasarkan algoritma merujuk narasi atau cerita yang dibuat oleh sutradara dan penulis cerita. Semacam konvensi budaya yang bersenggama dengan perangkat lunak dalam teknologi informasi.

houseofcards-09houseofcards-10

House of Cards Radiohead pada dasarnya adalah sebuah kekuatan paradigmatik. Sebagai format simbolik yang terdapat pada eksplorasi tampilan kepala Thom Yorke yang diperoleh berdasarkan data gelombang adalah proses dematerialisasi dari kenyataan visual dalam sistem logaritma komputer. Media baru pada dasarnya bukan menampilkan narasi yang mengandaikan sebuah “sebab akibat”. Hal ini dapat kita lihat kembali kepada sejarah perekaman kamera pada Man with a Movie Camera, Dziga Vertov. Menurut Lev Manovich, Vertov melalui Man with a Movie Camera menciptakan “sesuatu” yang diilustrasikan sebagai middle-ground antara data base dan narasi. Format simbolik dalam bahasa Manovich mengandaikan sebuah era baru terhadap sinema. Pada masa filem-filem realisme, perekaman kamera merupakan periode di mana visual selalu mengandaikan narasi sebagai representasi terhadap realitas. Hal inilah yang dibongkar oleh Dziga Vertov dengan Manifesto Kino Eye. Berdasarkan kaidah-kaidah Kino Eye Vertov inilah kemudian direfleksikan oleh Lev Manovich menjadi kino-brush yang  mengasumsikan pengambilan data sebagai pengganti perekaman kamera, yang berdampak pada proses representasi numerik. Kino brush mengandaikan sinema yang basis representasi database. Pada Kino Eye mengandaikan skema-skema representasional yang sudah tersedia di realitas, sedangkan pada kino brush mengandaikan adanya modifikasi terhadap sinyal gelombang yang sudah ada.

Dari bacaan di atas, dapat kita catat bahwa House of Cards merupakan satu di antara ekspresi baru yang berusaha keluar dari semangat kebudayaan narasi. Sebuah semangat interaktifitas yang merupakan keniscayaan teknologi media zaman sekarang. Selamat menikmati.

houseofcards-08houseofcards-07

Proses Pembuatan Videoklip House of Cards


 


*Radiohead, Thom Yorke (vokal utama, gitar rhytm, piano, beats), Johnny Greenwood (gitar utama, keyboard, instrumen lainnya), Ed O'Brien (gitar, vokal latar), Colin Greenwood (bass, synthesizers) and Phil Selway (drum, perkusi), merupakan grup musik rock alternatif berasal dari Abingdon, Oxfordshire Inggris, yang dibentuk pada tahun 1985. Radiohead melejit dengan single ‘Creep’ pada tahun 1992, yang kemudian dilanjutkan dengan debut albumnya ‘Pablo Honey’. Dari namanya, Radiohead memang cukup dekat dengan seni media baru, seperti yang tertuang dalam album OK Computer pada tahun 1997 yang memiliki semangat avant-garde, karena menggunakan beberapa ambient, dan pengaruh-pengaruh elektronik. Thom Yorke sendiri sebagai seorang vokalis banyak memberikan warna pada Radiohead. Karakter vokal falsetto Thom Yorke memang sangat dekat dengan gaya bermusik yang bersemangatkan seni media baru. Pada tahun 2009, Album Radiohead In Rainbows mendapatkan Grammy Awards sebagai  Best Alternative Music Album, dan nominasi untuk lagu ‘House of Cards'.

Hits
Comments
Add New Search
bima hardtop  - yaampun   |125.164.119.xxx |2010-06-09 12:35:47
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisasi obyek.
yoyomengong  - memang betul !!!   |125.164.203.xxx |2010-02-03 15:48:03
emang bener demikian,seharusnya permainan video pada sebuah klip musik harus berdasarkan pada representasional yang ada pada realita.tapi yang sering kita jumpai pada saat ini memang demikian,sejumlah klip mengadopsi sejumlah naratif syair2 band yang tampil di depan kamera tanpa mengindahkan dan merepresentasikan fungsi video sesungguhnya itu seperti apa???
dan pada akhirnya audience akan terkagum-kagum pada penampilan band tersebut tanpa melihat nilai2 estetika yang terkandung dalam unsur2 video tersebut,sungguh tak berimbang !!!
rekamdanmainkan   |125.161.136.xxx |2010-01-29 07:26:48
proses merekam adalah panca indera yang dimiliki oleh manusia. pengenjawantahannya adalah proses kreatif yang kemudian dielaborasikan kedalam tindakan nyata menjadi sebuah karya
adjat gembira  - oke   |110.138.39.xxx |2010-01-26 21:33:32
pengetahuan yang baru dan bermanfaat banget buat gw..
adjat gembira  - oke   |110.138.39.xxx |2010-01-26 21:32:33
pengetahuan yang sangat baru dan bermanfaat banget buat gw...
ajang ajeng  - wuiiihhh...   |110.138.46.xxx |2010-01-26 19:19:27
kino brush..wuiiih

merekam tanpa kamera..wuiiih

di indonesia udah bisa bikin yg kayak gini blom ya?
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 27 January 2010 00:46
 
More articles :

» Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos

Exhibition7-13 August 2010, 10am-5pm (Sunday closed)VenueGoethehausJl. Sam Ratulangi No. 9-15 Menteng, Jakarta PusatOpeningFriday, 6 August 2010, 7pmVideotalk with Anggun Priambodo (music video maker) and Indra Ameng (curator)Friday, 6 August 2010,...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136937

More.Articles_!

Chaerul Umam’s Ambivalence
Wednesday, 10 March 2010

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

Video: The New Wave
Thursday, 31 December 2009

Tracing the Genealogy of World’s Video Art The development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art events have included video art as part of contemporary art exhibition. Video art has even invaded...

Rentjong Atjeh
Wednesday, 22 July 2009

(This article only available in Bahasa Indonesia) J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan...

WALL-E: Receding to Human’s Primordial Side
Monday, 08 June 2009

Upon seeing the people as depicted in Pixar/Disney’s WALL-E, I was instantly reminded of a day in anthropology class back in my university days. That day, the professor elaborated human physical evolution which is only predictable to...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Thursday, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Watch and Discuss the Movie at Kinoki Jogja
Thursday, 12 June 2008

The name was took from a community which founded in the 1920’s Russia by Dziga Vertov. The mere meaning was Eye of a Camera. According to its name, Kinoki focusing their activities by making film with documentary method, which is recording all...

The 54th Oberhausen: The Oldest But Somehow Actual
Thursday, 12 June 2008

Labors all around the world come down to the street in May Day, celebrating The International Labor Day in the first of May. They sounding their rights to the rulers. All governments aware and increasing the security level. Even in Indonesia, the...

Menyibak Rahasia Video
Tuesday, 12 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Wednesday, 16 December 2009

(available only in bahasa Indonesia) ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun...

Love is Colder Than Death: Aesthetic Counterattack to Hollywood Domination
Sunday, 01 November 2009

  Bruno dies, unexpectedly, after a shoot-out with the police. Almost no destruction caused by the firing, not even bloodshed. Plot moves flat, without any pretention of emotional violence. It constructs and is a violent climax in a gangster film...

Documemory: A Bibliography
Thursday, 04 June 2009

A. Documentary Film100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Prelinger Archives: Daily Life Archives
Thursday, 03 December 2009

"The film your about to see, represence a significant breakthrough of the advancing science of the motion picture. For years, the industrial film has been pledge by the always-difficult sometime impossible-to-explain cost of the original creative...

A Pamphlet of Our History in Ruma Maida
Sunday, 08 November 2009

Ishak Pahing dies amid a gunfire volley during an air raid of the plane he was on with his friends. This scene opens the film Ruma Maida (Maida’s House), directed by Teddy Soeriaatmadja, and as scriptwriter, Ayu Utami—the writer who shook...

Ruminating on Terminology and Theme: Notes on the 6th Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010
Friday, 25 June 2010

Attending Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010 during June 8-10, 2010, the first question that popped in me was: what essentially distinguishes this festival from the rest alike? Until the last day, after seeing the works screened in the...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Saturday, 06 March 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) “Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Thursday, 19 November 2009

(available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

Lightly Reflecting the World’s History of Visual Art through 70 Million Video
Wednesday, 10 March 2010

There’s so much one can do upon reflecting history. In the Western world, interpretation of cultural history continues to roll until today. It’s the essence of cultural history: to be reinterpreted continuously by consecutive generations. The...

Maklumat Filem Bersuara
Monday, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Fritz Lang and The German Expressionism
Thursday, 12 June 2008

Fritz Lang is regarded as one of the main directors in the early history of film. As a representative of expressionism in the 1920’s, he has made some of the most important German silent film. During the repression of German Nazi party, he left to...

V Film Festival 2010 and an Interview with Intan Paramadhita
Saturday, 24 April 2010

V Film Festival or the International Women Film Festival was first held in 2009 with the theme “Girl Power in Action”. This year, V Film Festival 2010 carries the theme “Identity and Youth”. V Film Festival 2010 was held by the collaboration...

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

Religion, Politics, and Povertization in Los Olvidados
Tuesday, 16 December 2008

Los Olvidados is a work of one of the surrealist movement figures, Luis Bunuel. Born in Spain, 22 February 1900, grow in Mexico. Luis Bunuel finish Los Olvidados in 1950. This picture become one important work that inspire many pictures around the...

Violence in Films: Critique to the Film Kado Hari Jadi
Monday, 30 November 2009

How do we summarize violence derived from day-to-day reality? Blood! It’s the easiest language to frame the violence and sadism of an occurrence. Adding to it, gory utensils such as knife, screwdriver, hammer, and razor. Then, how do we envelop...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Sunday, 10 May 2009

(Only in Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Tarzan goes to City with Hereditary Logical Flaw
Wednesday, 17 December 2008

The film Tarzan goes to City (Tarzan ke Kota) is labeled as a remake of City Tarzan (Tarzan Kota) starred by Indonesia legendary actor, Benyamin Sueb and directed by L. Sudjio. This film has its first run on 4 December 2008.The Indonesian...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Saturday, 22 May 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Di Dasar Segalanya: A Surrealistic Image of Anxiety
Sunday, 20 December 2009

On December 17, 2009, I had the opportunity to watch Paul Agusta’s second film, Di Dasar Segalanya (At the Very Bottom of Everything) at Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Unlike his first film, Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift),...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net