I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik PDF Print E-mail
Written by B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Monday, 19 April 2010 22:35

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955

 

(available only in Bahasa Indonesia)

Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem ciptaannya Ménilmontant. Untuk pertama kalinya kehebatan avantgarde dibantah. Melalui filem itu, penonton melihat bahwa benda-benda “mati” ternyata bisa memiliki perasaan juga. Kesinambungan citra setara antara manusia di antara benda-benda membentuk sebuah fragmen-fragmen suka dan duka. Akan tetapi masyarakat cepat melupakan filem itu. Waktu itu avantgarde telah populer sehingga semua filem harus bergaya pikiran-pikiran avantgarde Prancis, sekalipun dibuat dengan tehnik yang klasik. Namun, sebelum semua orang mengerti tentang apa itu avantgarde, filem memang telah mempunyai bentuk lain.

kirsanoffue1

Menilmontant (bagian 1/5), Dimitri Kirsanoff

menilmontant

Filem yang saya maksud adalah La Passion de Jeanne d’Arc (1928) ciptaan sutradara Denmark, Carl Theodor Dreyer (1889–1968) yang bekerja di Paris di tahun 1928. Filem itu hanya mempunyai warna hitam dan putih, tidak ada latar dan hampir keseluruhan filem hanya kepala-kepala pemeran yang diambil close-up tak berias dengan celak ataupun gincu. Para kritikus lantas berpendapat bahwa tema filem itu "berpusat pada ke-haru-an yang tampak". Dengan kata lain, mereka melihat wajah manusia sebagai ganti kejadian dan uraian-uraian psikologis. Metode montase yang dipakai oleh Dreyer ini tidak mengutamakan adegan persambungan (transisi) gerak, tetapi mengutamakan penderitaan Jeanne d’Arc. Dalam durasi filem ini kamera tidak hanya memfokuskan satu titik perhatian terhadap aktris utamanya, Maria Falconetti (Renée Jeanne Falconetti, 1892–1946), seorang aktris jalanan, yang memerankan perawan Orleans. Filem itu berisi rentetan percakapan panjang dan balas-pandang antara gadis Jeanne d’Arc dengan hakim-hakimnya. Suatu tema yang amat buruk untuk kamera. Mengapa? Dengan demikian yang dikatakan tindakan action hakiki seorang pemain terletak pada "kata" yang diucapkan.

Menilmontant (bagian 2/5), Dimitri Kirsanoff

Menilmontant (bagian 3/5), Dimitri Kirsanoff

Menilmontant (bagian 4/5), Dimitri Kirsanoff

Menilmontant (bagian 4/5), Dimitri Kirsanoff

jean-luc-godard-anna-karenina-carl-theodor-dreyer

Sebenarnya, apakah yang dibuat oleh Dreyer itu? Kamera telah diberinya jiwa dengan kehidupannya yang berkelanjutan (pemain seakan tak melihat kamera, melainkan melihat manusia). Dibingkainya kepala aktris dari semua sisi, diletakkan di bawah dagu, diclose-up lubang-lubang hidung hakim yang sedang memeriksa, lalu kamera itu bergeser cepat ke kening mereka. Perpindahan cepat bingkai dari pertanyaan yang diajukan dari depan wajah Jeanne d’Arc ke pertanyaan lanjutan yang berasal dari sampingnya, telah membentuk intervensi sepanjang satu setengah jam lamanya.

Ciptaannya ini adalah sebuah peristiwa hebat! Sebab dalam filem ini kita dapat melihat sebuah drama melalui perantara wajah-wajah manusia. Dan semua pergerakan, kepala diangkat, kenyut-kenyut mulut, dan kedipan mata, semua itu diikat menjadi satu kesatuan alur yang dinamis. Seorang kritikus berkomentar, “Suatu rentetan pertunjukan yang iramanya berjiwa, didukung oleh tekanan dan accord (selaras) dalam mana bayangan pertama menjadi melodis sampai pada bayang-bayang terakhir dengan melalui ragam tema yang besar jumlahnya itu.”

passion-de-jeanne-darc-falconetti

La Passion de Jeanne d'Arc, 1928 (bagian 1/8), Carl Theodor Dreyer

La Passion de Jeanne d'Arc, 1928 (bagian 2/8), Carl Theodor Dreyer

La Passion de Jeanne d'Arc, 1928 (bagian 3/8), Carl Theodor Dreyer

La Passion de Jeanne d'Arc, 1928 (bagian 4/8), Carl Theodor Dreyer

La Passion de Jeanne d'Arc, 1928 (bagian 5/8), Carl Theodor Dreyer

La Passion de Jeanne d'Arc, 1928 (bagian 6/8), Carl Theodor Dreyer

La Passion de Jeanne d'Arc, 1928 (bagian 7/8), Carl Theodor Dreyer

La Passion de Jeanne d'Arc, 1928 (bagian 8/8), Carl Theodor Dreyer

Tidak percuma avantgarde Prancis mempunyai semboyan dalam gerakan mereka, filem adalah "musik yang tampak". Pemain-pemain Dreyer terutama terdiri dari orang-orang yang tak pernah tampil di depan kamera. Karakter pemeranannya dipilih dengan teliti. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk bermain seperti lazimnya dalam filem sandiwara. Dreyer tiba-tiba menyerkap (menangkap) pengadeganannya dan apa yang ditangkapnya itu disusun menurut penglihatannya dan direkam kembali menjadi kenyataan baru. Diperlihatkan olehnya bagaimana pencitraan lawan-lawannya (hakim-hakim) bukan karena permainan sang pemeran, melainkan karena scene direction yang tertata maka terlihat pertentangan. Dengan cara demikian, tercapailah efek yang selama ini tak pernah tercapai dari eksplorasi tubuh manusia dalam filem.

Hal lain yang ditemukan oleh Dreyer yaitu pada intertitles. Sebab di era filem bisu, intertitles menjadi perantara antar adegan yang berturut-turut dan dianggap sebagai sesuatu hal yang tak mungkin dapat dihilangkan. Intertitles dipakai ketika seorang sutradara tak tahu bagaimana ia melanjutkan alur cerita atas citra-citra lanjutannya, atau kalau ia tak dapat membayangkan hubungan imajinya. Karena itu, banyak filem bisu yang menggunakan teks dan tampaknya ibarat hujan teks. Sering orang berkata, filem di masa itu hanya cerita tersurat yang dihiasi gambar-gambar (citra seakan menjadi sekunder). Namun hal itu tak berlaku bagi filem ciptaan Dreyer, La Passion de Jeanne d’Arc. Dia berhasil mempergunakan banyak intertitles, tetapi hal itu dilakukannya dengan tanggungjawab dan tidak mengganggu komposisi. Pertama-tama tentang isi cerita. Kalimat-kalimat pendek dan singkat atau fragmen-fragmen kalimat dipergunakannya sebagai pengganti kalimat-kalimat panjang seperti yang lazim dipakai dalam percakapan. Teks itu berfungsi sebagai pembuka adegan-adegan selanjutnya. Selain itu, Dreyer menempatkan kalimat-kalimatnya secara teratur di tengah rentetan citra-citra tanpa mengganggu atau menahan gerak.

passion-de-jeanne-darc-falconetti2

Seluruh filem La Passion de Jeanne d’Arc adalah suatu rentetan gerak yang menggali ke dalam, dan dengan teliti memaparkan drama penderitaan di wajah mademoiselle Falconetti.

Victor Fleming (1889-1949), seorang sutradara Hollywood, beberapa tahun kemudian tak berhasil mempertunjukkan Ingrid Bergmann sebagai Jeanne d’Arc (Joan of Arc, 1948). Ia memperlihatkan gadis dari Lotharingen itu dalam kilauan penderitaan dan technicolor (filem berwarna) kepada rakyat dan orang-orang luar negeri. Gadis itu terus menerus diikuti kamera dan mikrofon sampai nafas penghabisannya. Namun, ia tak sanggup menggambarkan tragisnya kehidupan tanpa menggugat misteri ketragisan seperti dilakukan Dreyer. Seorang pemain filem ternama dari masa gilang-gemilang avantgarde Prancis, René-Lucien Chomette juga ambil bagian membuat filem. Dengan memakai nama René Clair ia meminta perhatian publik dengan filem Le Voyage Imaginaire (1926). Sebelumnya ia bersama pelukis Picasso mempersembahkan filem dadaistis Entr’acte (1924). Sepintas lalu, René Clair yang belum dikenal orang itu adalah seorang yang luar biasa. Ia sanggup merintis jalan mendapatkan penonton yang banyak dan meyakinkan mereka akan adanya seni filem merdeka. Hal ini dikarenakan ia pandai menyuguhkan keseriusan dan pengetahuan laboratorium avantgarde dengan tawa seorang charmeur (perayu) dalam Un Chapeau de paille d’Italie (1928).

Joan of Arc (1948), Victor Fleming

Beban hidup penonton hilang lenyap dalam cermin tawa filem itu. Dengan semangat Prancis, Clair meloloskan diri dari segala kenyataan rancangan filem yang telah siap! Bahwa tak seorang pun menyangkal di tahun-tahun avantgarde, filem dapat menjadi suatu pernyataan seni merdeka. Namun mereka baru benar-benar yakin akan hal itu setelah René Clair merintis jalan ke arah penghargaan seluruh masyarakat beragam itu.

rene-clair

Di saat yang bersamaan, ditengah-tengah keruwetan estetika filem, di tengah-tengah kecurigaan penghargaan pada filem, kritik filem lambat laun mencari pegangan-pegangan untuk dasar estetiknya. Penemuan kemungkinan-kemungkinan baru dalam alat-alat impresi dan ekspresi yang memicu kehati-hatian dalam pembuatan filem dengan estetik baru. Bahwa kali ini mereka semakin bersinar. Perpindahan dari dekor dan cahaya fantastis (konsep panggung-teater) ke kemungkinan-kemungkinan teknis dari kamera itu sendiri dan berharap dalam penantian muncul seniman yang mempunyai ilham dan peka terhadap filem. Disini terjadi suatu gejala yang mengagumkan, yakni bahwa seni filem bukanlah peniruan fitri (hakiki) dari kenyataan. Ia mempunyai kenyataannya sendiri dan karena itulah ia tetap berbeda dari kenyataan. Suatu aksioma1 yang tetap akan diperkosa sampai akhir zaman. Sebab impian untuk mencipta filem “fitri” sampai hari kiamat akan tetap mengawani seni filem sebagai sebab-sebab munculnya perselisihan paham.

entracte-ok

Entr'acte, 1924 (bagian 1/2), Rene Clair

Entr'acte, 1924 (bagian 2/2), Rene Clair

 

Catatan:
1
Suatu pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa pembuktian.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Friday, 23 April 2010 02:35
 
More articles :

» Documemory: A Bibliography

A. Documentary Film100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

» Interview with Bronnt Industries Kapital

Geometer: I only came to hear of Häxan through your soundtrack - it’s a great film and I was surprised I’d not heard of it. How did you first hear of the film?Guy: We were first approached to perform a live soundtrack to the film at Bristol’s...

» Riri Riza: The Priority is Film Industry!*

In absence of clear cultural policies, Indonesians cultural activists often protest. After more than 60 years since our independence, debate on the directions of Indonesia’s modern culture continues to roll. But to date, nothing has come out...

» Jermal dan Totalitas Neorealisme

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

» In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)

Compiled by Jurnal Footage It was a great shock, having heard the news about the tragic murder of one of the best Southeast Asia Film Critics, Alexis A. Tioseco. He was so young. So passionate. When it come to talk about film, he will eagerly...

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 523
Content : 147
Content View Hits : 158769

More.Articles_!

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Wednesday, 19 August 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Reading Michael Haneke’s Code Unknown
Friday, 03 October 2008

Michael Haneke is probably the most interesting director in the contemporary cinema history. Born in Munich, 1942, Haneke grew in suburb Austria, Weiner Nestadt. Having learned pschycology, philoshophy and theater at the Vienna University and make...

Mimicking Mimicry: Notes on the 4th Purbalingga Film Festival 2010
Thursday, 03 June 2010

According to Teshome Gabriel, the first period of third world cinema is Hollywood films. The second is by mimicking Hollywood films, i.e. identifying themselves to Hollywood films. We can see traces of mimicry in the early production of Dutch Indies...

Reality in Ladri di Biciclette
Thursday, 28 August 2008

QueriesLast night was my numerous silenced on one of the Italian neorealism, Ladri di Biciclette (1948), a film by Vittorio de Sica from the script of Cesare Zavattini. I was stunned in the film exposes on the reality of post-war Italian society....

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta
Monday, 13 July 2009

(Only available in Bahasa Indonesia) Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia....

Video Mashup: A Remix Culture
Thursday, 28 January 2010

Few times ago, I was shown a video from YouTube. It was a music video Metallica Tribute to Rhoma Irama1. It may sound impossible, but all my expectations turned upside down and inside out watching this video. It’s originally a video of...

No Surprises in Sang Pemimpi
Monday, 28 December 2009

A film firstly released as an opening to the 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) was already attracting crowd even before the week of its release ended. Audience seemed to be very enthusiastic to kill their curiosity over this sequel...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Thursday, 15 January 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Jim Henson: An Experimental Film Director, The Father of The Muppet Show and Sesame Street
Tuesday, 12 January 2010

Some time ago I was browsing new media arts networking site www.rhizome.org. Surfing the site, I stumbled upon a video uploaded by John Michael Boling entitled Time Piece (1964) by Jim Henson. This eight-minute video is one of the experimental works...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Monday, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Tuesday, 30 June 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Thursday, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

The Last But Worst Festival
Thursday, 12 June 2008

Faculty of film and television of the Jakarta Arts Institute (JAI) is re-hosting the 10th ‘Directional Film Festival’. What’s make it different?  Aside from emphasizing social matters theme, the title of each category taste really sloppy.The...

Jonas Mekas’ Cultural Archives
Thursday, 23 July 2009

“In Lithuania, I’m known as a poet, and they don’t care about my cinema. In Europe, they don’t know my poetry; in Europe, I am a filmmaker. But here, in the United States, I am only a maverick.” —Jonas Mekas, The New York Times, June 12,...

Idul Fitri 1431 H
Wednesday, 08 September 2010

Happy Idul Fitri 1431H - - - 

Paranormal Activity: A Terrifying Sound Pollution
Saturday, 19 December 2009

Haxan, a work of a Swedish director, Christensen, is a horror film full of strong social political issue. Haxan does not only picture human apprehension to all things supernatural. More than that, Haxan is a historical documentary portraying social...

Lightly Reflecting the World’s History of Visual Art through 70 Million Video
Wednesday, 10 March 2010

There’s so much one can do upon reflecting history. In the Western world, interpretation of cultural history continues to roll until today. It’s the essence of cultural history: to be reinterpreted continuously by consecutive generations. The...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

Menyibak Rahasia Video
Tuesday, 12 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta...

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Thursday, 03 September 2009

Compiled by Jurnal Footage It was a great shock, having heard the news about the tragic murder of one of the best Southeast Asia Film Critics, Alexis A. Tioseco. He was so young. So passionate. When it come to talk about film, he will eagerly...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Friday, 12 June 2009

(temporarily, only available in Bahasa Indonesia) Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan...

The Ontology of Cinematography and Reflections on Cinema
Wednesday, 22 October 2008

The ontology of cinematography and the reflections on cinema addresses the question of what film is, what makes a film a film, and to examine what Wittgenstein would call the grammar of our concept of film and the role films play in the forms of our...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Tuesday, 19 May 2009

Sergei Eisenstein is arguably the most important single figure in the history of movies. He was certainly the most versatile. The director of the masterpieces Battleship Potemkin and Alexander Nevsky, Eisenstein also wrote ground-breaking essays on...

Massroom Project Catalogue
Friday, 03 July 2009

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Tuesday, 15 July 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net