I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC PDF Print E-mail
Written by Grace Samboh   
Tuesday, 15 July 2008 20:17

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan di dalamnya. Salah satu situs perfileman Indonesia, bahkan meresensi filem ini dengan judul Para Perempuan Malang. Padahal, omnibus filem Perempuan Punya Cerita (PPC) ini disutradarai oleh empat perempuan: Fatimah T. Rony, Upi Avianto, Nia Dinata, dan Lasja Fauzia Susatyo; ditulis oleh: Vivian Idris dan Melissa Karim; dan diproduseri oleh Nia Dinata.

Para pembuat filem perempuan ini, menurut saya, malah menciptakan tokoh-tokoh perempuan yang lemah, kasihan, menderita, dan malang dalam masing-masing sekuennya. Saya menemukan cukup banyak tulisan yang menyorot penderitaan tokoh perempuan dalam omnibus filem produksi Kalyana Shira ini. Padahal, keempat filem pendek ini dinyatakan oleh produser dan para sutradaranya sebagai filem dari, oleh, dan untuk perempuan. Filem ini  terlanjur mempunyai beban sebagai ‘pernyataan sosial’ apabila dilihat semua materi publikasinya (poster, kaos panitia, dan sejumlah pernyataan yang dimuat media massa). Salah satu ulasan mengenai filem ini mengatakan bahwa isu yang ‘terlanjur dibebaninya’ adalah mengenai ‘perempuan yang berdaya’.

posterperempuanpunyacerita

 

Dominasi Maskulin Bourdieu, Dekonstruksi Derrida, dan Kematian Pengarang Barthes

Mengetahui adanya sekelompok laki-laki yang bersekutu untuk meminta Menteri Urusan Laki-laki di India, saya tertarik menuliskan penindasan yang terjadi pada laki-laki, walau hanya dalam filem. Alasannya sepele. Pertama, cobalah Anda tulis ‘kajian gender’ sebagai kata kunci pencarian dalam Google. Dalam 0,22 detik Anda akan menemukan sekitar 103.000 hasil pencarian. Sampai halaman kesepuluh dari penemuan tersebut, saya belum menemukan tulisan tentang ‘penomorduaan’ laki-laki, mulai dari esai ilmiah, jurnal, artikel, sampai  ke tulisan-tulisan dalam sejumlah situs pribadi. Padahal situs-situs pribadi ini adalah sebuah ruang di mana pemiliknya bebas menyuarakan hal-hal yang ‘menyimpang’. Apakah berarti laki-laki tidak ada yang tertindas (atau ditindas)? Apakah hanya perempuan yang merasa dimarginalisasi? Saya rasa tidak.

Merujuk kepada dominasi maskulin Bourdieu, laki-laki sebenarnya tidak seberuntung kelihatannya. Bourdieu melihat dominasi maskulin seperti koin, mempunyai dua sisi. Sisi pertama dari koin tersebut adalah privilese, untuk berbagai macam hal dan posisi, dan sisi keduanya adalah jebakan, karena keterikatannya dengan pemahaman-pemahaman maskulinitas yang ada. Dalam Masculine Domination, Bourdieu menggunakan sejumlah konsep yang mendukung ke pemahaman mengenai dominasi maskulinnya: habitus dan doksa. Habitus, menurut Bourdieu, adalah sebuah sistem di mana masing-masing individu menerapkan disposisinya sendiri untuk menghadapi realitas sosialnya. Pada tahap yang lebih lanjut, disposisi diri ini menjadi pengalaman mental yang sudah biasa dialami, sehingga tidak lagi objektif (‘dipaksakan’) dan menjadi subjektif (‘normal’). Keterbiasaan menerima struktur objektif sosial, lama-kelamaan menjadikan masing-masing individu ‘terbiasa’ dalam tatanan pemikiran dan perilaku. Hal inilah yang akhirnya membuat hubungan doksa muncul.

Doksa adalah pemahaman yang sudah tidak lagi dipikirkan, sudah tertanam, diterima sebagai kebiasaan yang mendasari perilaku dan pemikiran dalam lapangan (arena ‘perjuangan’ sosial) tertentu. Doksa bertendensi untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka yang memberikan previlese pada yang dominan dan mereka yang memperlakukan posisi dominannya sebagai sebuah keuntungan. Maka, kategori-kategori pemahaman dan persepsi yang mengonstitusikan sebuah habitus, yang harmonis dengan tujuan organisasi dalam sebuah lapangan, bertendensi untuk mereproduksi struktur dalam lapangan. Bourdieu memang melihat habitus sebagai kunci reproduksi sosial karena habitus adalah pusat pembuatan dan pembatasan hal-hal yang menjadi kehidupan sosial.

Roland Barthes, dalam artikelnya di jurnal Aspen, mengatakan bahwa pengarang itu sudah mati. Pengertian pembaca terhadap karya, itulah yang penting. Kelahiran pembaca, demikian tutup Barthes dalam artikelnya. Saya pun menganut kepercayaan ini. Namun, ketertarikan saya menganalisis PPC memang karena pembuat filemnya (atau pembuat naskahnya —scriptor dalam terminologi Barthes) perempuan: bagaimana mereka menciptakan laki-laki dalam ‘dunia’ mereka. Apabila memposisikan diri sebagai pembaca yang baru lahir (new-born reader), para lelaki-dalam-filem dibaca sebagai teks, mereka tetap dapat dikategorikan tidak berguna, bahkan memperburuk situasi dan kondisi para perempuan yang diceritakan. Ketidakbergunaan para lelaki-dalam-filem inilah yang akan saya analisis dalam tulisan ini, berkebalikan dengan sejumlah tulisan yang sudah beredar dan diskusi yang pernah dilaksanakan.

Saat para Platonis percaya bahwa esensi lebih penting dari eksistensi, Derrida mengatakan sebaliknya (seperti juga Sartre dan eksistensialismenya). Dekonstruksi menggoyahkan segala konsep kemapanan, membuatnya menjadi tidak mapan, dan mengembalikannya sebagai sebuah konsep baru. Merujuk kepada pemikiran Derrida, saya merasa perspektif yang seringkali digunakan dalam pengajian gender perlu diubah. Setidaknya, dalam menganalisis PPC.

Pilihan perspektif saya memang berbeda dengan sejumlah kritik yang sudah beredar atas filem PPC ini. Banyaknya tulisan yang sudah menjabarkan penderitaan para perempuan-dalam-filem PPC, membuat saya tertarik untuk melihat dari perspektif lain. Saya, kemudian, tertarik dengan karakter laki-laki dalam PPC ini. Mengapa? Karena, laki-laki-dalam-filem ini diciptakan oleh perempuan. Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, penulis naskahnya adalah perempuan, Vivian dan Melissa. Maka, penulis naskah filem menjadi krusial posisinya, karena naskah yang  buruk tidak akan pernah bisa menghasilkan filem yang baik. Penulis naskah, menurut saya, adalah ‘Tuhan’ dalam filem yang ditulisnya. Filem itu sendiri adalah sebuah dunia yang diciptakannya. Vivian ‘menuhani’ dua filem: Cerita Yogyakarta dan Cerita dari Pulau; sementara kedua filem lainnya, Cerita dari Cibinong dan Cerita Jakarta, ‘tuhan’nya adalah Melissa Karim. Kedua penulis naskah ini menciptakan dan memposisikan karakter laki-lakinya dengan cara, bentuk, dan porsi yang berbeda.

Saya melihat ketidakbergunaan laki-laki-dalam-filem ini sebagai bentuk penindasan para pembuat filemnya. Lelaki-dalam-filem PPC dengan semua rincian gerak, lagak, dan cakapnya adalah hasil penciptaan kedua penulis naskahnya. Atas alasan inilah saya mengatakan filem ini menindas laki-laki. Karakter laki-laki yang diciptakan para pembuat filemnya hampir semua tidak berguna dalam tatanan tertentu. Para lelaki-dalam-filem ini bukannya digambarkan tidak (atau kurang) maskulin, namun, yang lucu adalah bagaimana mereka, selain tidak berguna, menjadi sumber masalah atau hanya ‘figuran’ dalam hidup para perempuannya. Ketidakbergunaan lelaki-dalam-filem ini bahkan terjadi pada mereka yang protagonis atau yang (katakanlah) ‘baik’.

 

Representasi Karakter Lelaki Tertindas dalam Keempat Filem Pendek Perempuan Punya Cerita

Cerita dari Pulau

Ahmad Rokim (Arswendy Nasution) pada Cerita dari Pulau, karya Fatimah T. Rony, adalah seorang suami yang tidak digambarkan memiliki pekerjaan tetap —sementara istrinya adalah sosok penting karena berprofesi sebagai (satu-satunya) bidan di pulau tempat mereka tinggal. Filem ini mengarahkan pemahaman penonton kepada keberadaan Rokim dan Sumantri (Rieke Diah Pitaloka) di salah satu pulau terpencil di Kepulauan Seribu itu dikarenakan pekerjaan sang istri. Kebaikan Rokim, yang direpresentasikan melalui pembawaannya, adalah ‘kebaikan ideal’ yang diinginkan perempuan pada sosok suami (ramah, sopan dalam bertutur, lembut, namun tetap mengurangi kelelakiannya). Bentuk kepedulian Rokim yang besar kepada Sumantri digambarkan dengan ngototnya ia mencari informasi mengenai penyakit yang diderita istrinya. Walau setelah tahupun ia menerima istrinya apa adanya, Rokim, yang juga tahu istrinya mencintai pekerjaannya dengan sepenuh hati, tetap mengajak Sumantri kembali ke Jakarta dengan mengatasnamakan kemudahan akses pengobatan penyakit Sumantri. Di tengah cerita, laki-laki yang digambarkan sebagai suami penyayang istri ini memutuskan untuk menjual rumah tanpa berdiskusi dengan istrinya. Konflik dalam filem semakin memanas ketika si suami ‘ideal’ ini ternyata memutuskan untuk memukuli tanpa ampun sejumlah laki-laki yang ditemukannya sebagai pemerkosa Wulan (Rachel Maryam), anak tetangganya.

Ada dua tokoh yang digambarkan sebagai pemerkosa Wulan, perempuan penderita kelainan mental yang sangat disayangi Sumantri. Nanda (Ferry Ardian) dan Tommy (Edo Borne Putra) adalah dua pemuda asal Jakarta yang statusnya berlibur di pulau ini. Eric Sasono, dalam resensinya, menuliskan bahwa mereka seakan-akan ada di sana hanya untuk memerkosa Wulan. Kesimpulan itu, menurut saya, timbul karena sejak penampilan pertama —saat turun kapal— kedua tokoh ini digambarkan langsung menggoda Wulan. Kemunculan kedua mereka adalah adegan nongkrong bersama salah satu pemuda penghuni pulau, Hasan (Iwan Bango), dengan tujuan menunggu Wulan lewat. Masih dalam adegan nongkrong, mereka menyusun strategi memancing perhatian Wulan untuk, akhirnya, diperkosa. Kemudian setelah berhasil memerkosa, mereka menertawakan ke’istimewa’an Wulan. “…makin dia meronta-ronta, gua makin nafsu, man!” ujar Tommy yang kontan disusul oleh gelak tawa Nanda dan Hasan.

Nah, Hasan adalah si pemuda yang nongkrong bersama kedua turis tadi. Ia turut dipukuli pada saat Rokim mendengar pembicaraan mereka mengenai pemerkosaan Wulan. Sebagai pemuda asli pulau, ia digambarkan tidak peduli lingkungan dan masyarakat sekitar dengan memberikan sejumlah tips untuk menarik perhatian Wulan, yang tertarik pada cahaya —dan akhirnya memang dengan cahayalah mereka memancing Wulan. Hasan kemudian dijadikan kambing hitam oleh Tommy dan Nanda. Ialah yang ditangkap sebagai pemerkosa Wulan —sementara Tommy dan Nanda melenggang bebas— oleh serombongan warga yang kemudian berarak ke rumah Wulan.

Rombongan ini isinya adalah Tommy; Nanda; Pak Lurah (Syamsul Hadi) yang sama sekali tidak membela Wulan, warganya, dan, malah, mendukung perdamaian-dengan-uang; Pak Ipul (Syaiful) yang, mungkin karena uangnya, disegani di pulau ini dan, memang, bergestur semena-mena; dan beberapa laki-laki sebagai warga (setempat) yang malah memihak kepada Tommy dan Nanda. Cara Pak Lurah dan Pak Ipul menghadapi keluarga Wulan adalah dengan menyuruh Tommy memberikannya uang damai.

Selain serombongan laki-laki tidak berperasaan itu, masih ada satu tokoh (figuran) lagi dalam filem ini, yang tidak kurang ‘ketidakpentingannya’, yaitu Pak Polisi (Miftah). Kepadanyalah Sumantri melaporkan pemerkosaan Wulan. Tanggapan yang didapatkan Sumantri adalah penolakan atas laporan tersebut dengan alasan Wulan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pihak kepolisian. Kenyataan bahwa Wulan adalah penderita kelainan mental diabaikan Pak Polisi. Selain tidak menghiraukan laporan pemerkosaan Wulan, salah satu aparat pemerintah yang berslogan “Pelindung, Pengayom, dan Pelayan Masyarakat” ini malah mengancam Sumantri.

Cerita Yogyakarta

“Heh! Awas kalau berani buka mulut! …bilang-bilang! Tak’ bunuh!” ancam Jarwo (Achmadi) pada Tejo (Cia Partawinata), temannya yang sering dimaki ‘banci’. Bagi saya, terlalu berlebihan mendengar Jarwo dengan entengnya mengatakan kepada Jay Anwar (Fauzi Baadila) bahwa ia dan teman-temannya sudah berhubungan seks secara aktif sejak duduk di bangku SMP. Pernyataan Jarwo ini mengakibatkan ia ditertawai ‘geng’nya karena ia tidak pernah dilihat bersama perempuan. Ia, yang sepanjang filem tidak pernah disebutkan namanya, tidak tahu bahwa Jay pernah (dengan tidak sengaja) melihat skandalnya dengan Tejo. Adegan ‘skandal’ yang hanya sekian detik ini menggambarkan kontroversi karakter Jarwo, karena pengancaman Tejo ini berlangsung saat ia sedang menghisap kemaluan Jarwo. Tentunya, ini menjadi salah satu dari sekian banyak adegan yang dipotong oleh Lembaga Sensor Film untuk versi bioskop Cerita Yogyakarta, karya Upi Avianto. Jarwo adalah salah satu anggota ‘geng’ murid laki-laki SMAN 69 yang banal dan binal. Dalam kelas, bersama kelompoknya, ia menertawai guru yang mengajarkan sistem reproduksi perempuan, mengatakan teori yang diajarkan sudah ketinggalan zaman. Salah satu teman Jarwo menyatakan “…wong kita praktiknya udah lebih maju, ya ndak?!”

Kalimat itu keluar dari mulut Dimas (Kukuh Adirizky), pelajar SMA dengan tampang kontradiktif, antara nakal dan ‘anak mami’. Pemilik rumah tempat teman-teman seangkatannya nongkrong ini merelakan kamarnya untuk digunakan berhubungan seks oleh semua temannya (secara bergantian dengan pasangan masing-masing). Menurut saya, hal itu dilakukannya supaya ia disenangi teman-temannya. Dimas juga digambarkan manut terhadap ibunya dengan selalu menyahut akan setiap sapaan basa-basi ibunya. Bahkan, suatu ketika ia sedang berhubungan seks dengan salah satu teman perempuannya, ia tetap menjawab ibunya dengan teriakan dari dalam kamar. Di lain kesempatan, ia memaki dan membodoh-bodohi ketiga temannya karena Rahma (Adithya Putri) —yang pernah mereka gilir— ternyata hamil. Ia kemudian memutuskan bahwa cara menentukan siapa di antara mereka berempat yang harus bertanggungjawab menikahi Rahma adalah dengan mengundinya (dengan kertas kocokan seperti arisan). Sosok yang digambarkan sebagai ‘kepala geng’ ini juga digambarkan minim pengetahuan dalam ‘khazanah pornografi kontemporer’ dengan menyimpan video di telepon selularnya tanpa mengetahui apa (atau, lebih tepatnya, siapa) nama aktris filem porno Jepang yang beberapa waktu lalu sempat populer –Miyabi.

Bagas (Dyo Aleathea) adalah tokoh yang digambarkan paling ‘berwacana’ dalam ‘khazanah pornografi kontemporer’ dengan mengetahui asal-usul Miyabi dari Jepang, bukan Mandarin. Ia juga mengetahui cara menggugurkan kandungan, walaupun caranya kuno (menggunakan Sprite dan nanas muda) dan tidak ada jaminan keampuhannya. Anehnya, ia rela pacarnya, Rahma, digilir teman-temannya. Laki-laki ini digambarkan tidak berperasaan dengan hanya tersenyum, entah manis atau pahit —susah dijelaskan karena, menurut saya, tidak ada penokohan yang kuat dan konsisten dalam filem ini— pada saat menyelamati Rahma di hari perkawinannya dengan Yanto (Ariel Vanka K.).

Yanto, si pengantin laki-laki Rahma, adalah anggota terakhir ‘geng’ laki-laki SMAN 69 yang berwajah paling muda. Ia, yang dengan bangganya memamerkan bahwa telah berhasil memerawani gadis berseragam putih-biru, ternyata terlalu bodoh untuk menyadari bahwa ia dicurangi teman-temannya dalam undian mereka mencari siapa yang ‘harus’ menikahi Rahma. Keputusannya —walau karena undian— untuk menikahi Rahma juga aneh mengingat ia mengaku tidak menyelesaikan hubungan seksnya dengan Rahma karena ibu Dimas sudah terlanjur pulang saat itu. Ketika mendengar kepoloson Yanto mengatakan Miyabi berasal dari Mandarin, Anda, yang mengerti pornografi, akan langsung melupakan bahwa ternyata tumpukan di bawah DVD porno yang sibuk mereka pilih adalah CD Trio Macan dan Peterpan.

“Ada Miyabi nggak?” sela Jay di hadapan sekelompok anak SMA yang sedang memilah DVD porno itu. Tanpa membeli, ia langsung pergi. Mungkin hanya supaya terlihat jagoan di mata ‘geng’ berseragam putih abu-abu tadi saja, karena tanpa akhirnya membeli, iapun pergi. Tokoh utama laki-laki dalam filem ini selalu (dan berulang-ulang kali) dengan bangga menyatakan ia berasal dari Jakarta. Jay digambarkan menjadi sosok lelaki dewasa yang digemari para tokoh perempuan yang pada umumnya sama banalnya dengan yang laki-laki. Jay lebih sering bersama Safina (Kirana Larasati), selaku perempuan yang berbeda-dengan-teman-temannya-karena-masih-perawan. Akhirnya Safina menyerahkan keperawanannya kepada Jay, yang keesokan harinya pulang ke Jakarta dengan hanya mengatakan terima kasih dan mempunyai seorang kekasih di Jakarta (yang diperankan oleh Tiara).

Beberapa waktu kemudian murid-murid (dan, tentunya, guru-guru) SMAN 69 gempar melihat Koran Tumpas yang mengulas kehidupan seksual sekolah mereka. Penulisnya adalah Jay, yang ternyata seorang wartawan. Demikianlah ia digambarkan sebagai wartawan laki-laki yang tidak beretika karena selama perjalanannya di Yogyakarta, ia tidak pernah menyatakan posisinya sebagai penulis yang sedang meneliti. Selain itu, di awal filem ini penonton disodorkan dengan kemungkinan Jay adalah mahasiswa yang baru datang ke Yogyakarta melalui pernyataan pemilik warung internet (warnet), diperankan oleh Arie Dagienk, “…oh, mahasiswa dari Jakarta, toh!”

Filem ini juga punya peran (figuran) yang tidak kalah ‘ketidakpentingannya’, seperti Cerita dari Pulau, yaitu si pemilik warnet yang selalu mengonsumsi hal-hal porno. Mulai dari koran merah (yang kalau tidak dipegang, minimal tampak di layar), buku stensil, sampai situs porno. Warnetnya ini digambarkan mempunyai bilik khusus untuk indehoi —meminjam istilah yang digunakan pemilik warnet dalam filem ini untuk menawarkan fasilitas tersebut. Dengan alasan bisnis, pemiliknya tidak berkeberatan warnetnya dipakai untuk tempat masturbasi sambil mencari ‘literatur untuk memperluas wawasan’ pornografi para pelajar kota pelajar itu.

Cerita dari Cibinong

Melissa Karim, seperti Vivian Idris, juga mengisahkan tokoh ‘bencong’, walau hanya sekilas dan tidak memiliki peranan penting dari segi cerita. Dalam Cerita dari Cibinong karya Nia Dinata, tokoh ‘bencong’ hanya tampil sebagai figuran yang meramaikan (dan mungkin maksudnya membuat jadi lucu) adegan berkelahi di depan bar dangdut Merem Melek milik Jaja (Firza Achmar Paloh). Selain sebagai pemilik, Jaja juga digambarkan sebagai preman penguasa di daerah sekitar bar tersebut. Tidak jelas apakah Jaja adalah suami atau sekadar pasangan kumpul kebo Cicih (Sarah Sechan), penyanyi utama dalam Trio Dag Dig Duer yang populer di bar tersebut, namun yang pasti Jaja menjaga Cicih dengan baik. Ia juga, seperti halnya Rokim dalam Cerita dari Pulau, digambarkan sebagai laki-laki baik dan penyayang pasangannya. Ketika Mansur (Otto Satrya Djauhari) yang dinilainya mengancam keamanan Cicih muncul, Jaja menunjukkan kekuasaannya dengan berkata (setengah memaki) “Eh, lo! Ngapain lo disini lo?! Gua tau banget siape elo! … Macem-macem di sini, gua awetin lo, ye!” Makiannya tidak berhasil menjaga Cicih, yang akhirnya kabur dengan lelaki yang diancam Jaja tadi. Kegagalan kelelakiannya dalam menjaga Cicih, kemudian tertutup dengan sikapnya yang tetap baik dan sopan kepada Esi (Shanty) dan anggota Trio Dag Dig Duer lainnya.

Mansur, yang mengaku berasal dari agensi yang mengorbitkan Vetty Vera (penyanyi dangdut populer), adalah tokoh laki-laki hidung belang yang pekerjaannya adalah mencari ‘korban’ di daerah-daerah terpencil. ‘Korban’nya tentu perempuan muda yang masih perawan, seperti yang ditegaskan oleh atasan Mansur yang dipanggilnya ‘Koh’ (Alditio Pradana). Mereka kemudian dijual ke Taiwan dan Singapura. Mansur menjanjikan Cicih sebuah pekerjaan menyanyi di klub dangdut Belarosa, dengan syarat Cicih mau membawa Maesaroh (Ken Nala Amrytha) ke Jakarta. Tentu Mansur tak berkata apapun mengenai Maesaroh akan diperjualbelikan. Mansur mengatakan bahwa Maesaroh akan dipekerjakan di sebuah hotel berbintang lima dengan gaji yang sangat besar. Walau akhirnya Cicih mengetahui kebodohannya yang telah terperdaya Mansur, Maesaroh sudah terlanjur dinikahi pengusaha Taiwan. Cicih pun harus kabur dari cengkeraman Mansur yang menguncinya dalam area tempat tinggalnya.

Sekembalinya Cicih ke Cibinong, ia harus menghadapi Esi yang setengah mati menderita karena kehilangan Maesaroh, anaknya. Penderitaan yang jaraknya terlalu dekat dengan kenyataan ia baru saja meninggalkan Narto (Reka Wijaya) yang ia tangkap basah sedang menyuruh Maesaroh memuaskan birahinya. Narto yang memang bukan bapak kandung Maesaroh ini tidak diberikan karakter sama sekali. Ia hanya muncul sebagai laki-laki yang serumah dengan Esi (entah suami atau hanya tinggal bersama) tanpa latar belakang apa-apa. Yang dapat diketahui kemudian melalui pernyataan Maesaroh adalah bahwa ia tidak pernah berhubungan seks dengan Narto, hanya disuruh ‘isap-isap’.

Selain Jaja, Mansur, Narto, dan Bun Liang, semua tokoh laki-laki lainnya hanyalah figuran semata. Si ‘bencong’ tadi, satpam, dan para pengunjung bar Merem Melek yang beringasan, selalu mabuk, suka menjamah para penyanyinya, dan dengan penuh amarah siap ‘meruntuhkan’ bar (pada saat para penyanyinya sedikit terlambat naik panggung). Lagi-lagi sekumpulan warga sekitar yang tidak punya kepentingan apa-apa selain menambah penggambaran kebodohan warga, terutama laki-laki, dalam setiap konflik di masing-masing filem.

Cerita Jakarta

Untuk Cerita Jakarta, konfliknya sedikit berbeda. Cerita ini tidak melibatkan tokoh sebanyak di filem-filem lainnya dan tidak ada sekumpulan laki-laki bodoh yang diceritakannya. Hanya ada dua tokoh laki-laki yang digambarkan tertindas.

Pertama, Reno Sumardiprojo (Winky Wiryawan) yang tampil tidak sampai tiga menit tetapi merupakan penyebab malapetaka yang menimpa istrinya yang beretnis Cina, Laksmi (Susan Bachtiar). Dalam kemunculan sebentarnya, Reno diperlihatkan sebagai laki-laki dalam kubikal kamar mandi uniseks yang sedang berhubungan seks dengan seorang perempuan tak dikenal (Nasta Sutardjo) sambil menyuntikkan obat-obatan terlarang sampai akhirnya meninggal (entah karena kelebihan dosis atau penyakit) —sayang pada saat harusnya ditunjukkan terkulai mati, perutnya masih terlihat bergerak tanda masih bernafas. Dengan pemunculan yang demikian, penonton dibawa ke pemahaman bahwa ia adalah pecandu obat-obatan terlarang dan laki-laki yang berhubungan seks dengan siapa saja yang ditemuinya dan mau. Akhirnya, (sebagian) penonton akan mengasumsikan bahwa ialah yang menyebabkan Laksmi juga menderita AIDS, karena Laksmi digambarkan sebagai perempuan dan ibu yang baik.

Sayang, mertua Laksmi, Ibu Sumardiprojo (Ratna Riantiarno) dan Bapak Sumardiprojo (Tarzan), malah akhirnya menyalahkan Laksmi atas kepergian Reno. Mereka menuduh Laksmi sebagai penular penyakit itu kepada anaknya. Sosok ayah Reno disini digambarkan sebagai tipikal ikatan-suami-takut-istri. Bapak Sumardiprojo menurut saja pada semua pendapat dan perilaku istrinya terhadapnya.

Selain kedua tokoh penting itu, yang cukup sering muncul adalah Sinshe Cen Lung (Henky Solaiman) sebagai tabib tradisional Cina yang mengobati Laksmi. Ia digambarkan sebagai tabib yang baik, dengan tidak meminta uang pada saat melihat Laksmi datang dengan keadaan menyedihkan dan memberikan referensi tempat pengobatan gratis untuknya.

Dominasi Maskulin Bourdieu dan Pengandaian

Pada akhirnya, saya melihat bahwa tokoh laki-laki utama yang diciptakan penulis naskah dalam filem-filem pendek ini memiliki peranan ‘merusak’ kehidupan para tokoh perempuannya. Posisinya adalah: apabila tidak ada para laki-laki itu, tentu kehidupan tokoh perempuannya, yang memang sudah menyedihkan, akan lebih baik.

Dominasi maskulin adalah salah satu buah pemikiran Pierre Bourdieu. Dominasi maskulin merupakan salah satu contoh penting dari kekerasan simbolik —kekerasan yang hampir tidak terlihat, ‘baik’, dialami sehari-hari dalam kehidupan sosial sehingga tidak lagi dirasakan sebagai sebuah kekerasan. Melalui konsep ini, Bourdieu menyatakan bahwa maskulinitas memiliki dua sisi yang saling terikat, bagaikan koin. Di satu sisi, maskulinitas adalah privilese, namun di sisi lainnya, ia merupakan sebuah jebakan (bagi laki-laki). Seperti halnya dalam filem PPC ini, laki-laki-dalam-filem ini sebagian besar memenuhi standar maskulinitas pada awal penemuannya, yang dikatakan Wikipedia meliputi tujuh area yang dirumuskan Janet Saltzman Chafetz dalam Handbook of the Sociology of Gender (1974, 35-36).

Walau tanpa semua tokoh laki-lakipun Sumantri tetap menderita kanker stadium tiga, coba bayangkan Cerita dari Pulau tanpa Rokim, suami yang merepresi keinginan Sumantri untuk tetap menjadi bidan di pulau itu? Ia tentu akan tetap bisa mengekspresikan kecintaannya terhadap Wulan, tetap menjaganya, tetap menjalankan apa yang diinginkannya, dan tidak membuat para perempuan penghuni pulau itu resah karena harus berhadapan dengan bidan baru. Atau, tanpa adanya Tommy, Nanda, dan Hasan? Wulan tentu tidak perlu punya pengalaman diperkosa dan aborsi. Atau dengan Pak Lurah dan polisi yang lebih baik? Tentu para pemerkosanya tak akan lolos atas nama uang. Apalagi kalau kesemua tokoh laki-laki itu tidak ada?

Cerita Yogyakarta tanpa Jay saja mungkin belum lengkap, perlu ketidakadaan semua tokoh laki-laki dalam filem ini baru para perempuannya akan baik-baik saja. Tetapi, marilah mengecualikan filem ini. Saya rasa keseluruhan tokoh filem ini sudah terlalu bobrok untuk diandai-andaikan tidak ada salah satu tokohnya pun. Semua karakternya terlalu bermoral bobrok dan, untuk menganalisis lebih lanjut, kenyataan bahwa filem ini tidak mampu menceritakan Yogyakarta dengan baik, membuat saya tidak dapat menganalisisnya dari perspektif gender.

Bagaimana kalau Esi tidak perlu tinggal bersama Narto? Mungkin ia tidak perlu kabur dari rumah yang melindunginya bersama Maesaroh, kemudian tidak perlu tinggal di rumah Cicih. Tentu dengan demikian Maesaroh tidak berkesempatan bertemu Mansur, hingga akhirnya ia di jual. Bahkan, Cicih mungkin tidak akan menderita akibat ditipu Mansur di Jakarta, karena apabila tidak ada Maesaroh, yang lebih diinginkan Mansur karena faktor uang, toh, Mansur tidak akan membawa Cicih ke Jakarta.

Tanpa Reno, Laksmi, mungkin, tidak akan mengidap AIDS dan, yang pasti, tidak perlu berhadapan dengan kedua mertuanya. Maka tak perlulah filem ini ada. Karakter-karakter laki-laki dalam filem-filem ini dibuat oleh untuk menindas karakter perempuannya.

Pengandaian di atas memang tidak menyelesaikan masalah apapun. Saya hanya berusaha mengilustrasikan bagaimana laki-laki ditindas para pembuat filem perempuan ini dengan ditokohkan sedemikian rupa. Apakah dengan menindas tokoh laki-laki yang mereka ciptakan kemudian mereka berhak menyatakan filem ini tentang para perempuan yang berdaya? Saya rasa tidak. Saya malah malu, terutama apabila dengan (balik) menindas laki-laki mereka merasa filem ini adalah filem tentang perempuan. Selain karena akhirnya sejumlah ulasan (terpublikasi/tidak) dan diskusi (formal/non-formal) mengatakan bahwa akhirnya filem ini malah menyudutkan perempuan dengan menggambarkan kemalangan-kemalangan tanpa solusi. Sebagai perempuan, saya juga malu karena akhirnya filem ini terlihat seperti lebih mementingkan isu ‘dari, oleh, dan untuk perempuan’ ketimbang menawarkan (pilihan) jalan keluar dari keterpurukan atau ketersudutan perempuan di Indonesia.[]

Hits
Comments
Add New Search
lukman  - representasi feminisme dalam film PPC   |125.163.91.xxx |2008-11-15 05:14:04
mas...saya lagi penelitian semiotik mengenai feminisme dalam film PCC
setelah baca artikel ini, apakah saya jadi ragu apakah dalam film PPC ada sudut feminismenya?
i need your help...im lack of source
terus kalo mau dianalisa, frame mana aja yang musti di ambil...?
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 13 August 2008 19:20
 

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136863

More.Articles_!

Tabu: A Representation of Indigenous Polynesian
Thursday, 31 December 2009

Matahi, a native man of an island in South Pacific called Bora-bora, falls in love with a girl named Reri. One day, Hitu, a tribe leader sent by leaders of each island of the archipelago, comes to take Reri as a replacement for their late sacred...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Saturday, 19 December 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Thursday, 16 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas....

Violence in Films: Critique to the Film Kado Hari Jadi
Monday, 30 November 2009

How do we summarize violence derived from day-to-day reality? Blood! It’s the easiest language to frame the violence and sadism of an occurrence. Adding to it, gory utensils such as knife, screwdriver, hammer, and razor. Then, how do we envelop...

Elida Tamalagi
Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge exigency is not supported by the aspirant management of the movie place. The activity of screening...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Saturday, 06 March 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) “Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel...

Alex Sihar: A Challenge to Familiarize the Language of Video
Sunday, 23 August 2009

This year, Yayasan Konfiden (Independent Film Community Foundation)—a foundation focusing on the development and distribution of audio visual media knowledge and usage to sustain empowerment as well as to gain appreciation and support—by public...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Wednesday, 28 July 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Available only in Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

Ruminating on Terminology and Theme: Notes on the 6th Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010
Friday, 25 June 2010

Attending Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010 during June 8-10, 2010, the first question that popped in me was: what essentially distinguishes this festival from the rest alike? Until the last day, after seeing the works screened in the...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Thursday, 01 April 2010

The 54th Oberhausen: The Oldest But Somehow Actual
Thursday, 12 June 2008

Labors all around the world come down to the street in May Day, celebrating The International Labor Day in the first of May. They sounding their rights to the rulers. All governments aware and increasing the security level. Even in Indonesia, the...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Wednesday, 16 December 2009

(available only in bahasa Indonesia) ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun...

Two Sides of Film Competition Arrangement
Monday, 01 December 2008

Having trauma to the pressure of two fascist states, Germany and Italia, at the selection of Venice Film Festival in the last 1930’s, Jean Zay, French Minister of Education, decided to held a festival in France. By then, precisely in 1939, Luis...

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

Berita Gempa
Thursday, 01 October 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Bilal: Between Freedom and Fascism in Punk Ideology
Thursday, 17 July 2008

Bilal (2006) is a first and important work of Bagasworo Aryaningtyas. The work also appeared to be a confirmation of Bagasworo identity as a true punker. His next works such as Memanjakan Tubuh/Spoiling the Body (2006) and Lingkaran X/The X Circle...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Monday, 26 July 2010

Exhibition7-13 August 2010, 10am-5pm (Sunday closed) VenueGoethehausJl. Sam Ratulangi No. 9-15 Menteng, Jakarta Pusat OpeningFriday, 6 August 2010, 7pm Videotalk with Anggun Priambodo (music video maker) and Indra Ameng (curator)Friday, 6 August...

The Ontology of Cinematography and Reflections on Cinema
Wednesday, 22 October 2008

The ontology of cinematography and the reflections on cinema addresses the question of what film is, what makes a film a film, and to examine what Wittgenstein would call the grammar of our concept of film and the role films play in the forms of our...

WALL-E: Receding to Human’s Primordial Side
Monday, 08 June 2009

Upon seeing the people as depicted in Pixar/Disney’s WALL-E, I was instantly reminded of a day in anthropology class back in my university days. That day, the professor elaborated human physical evolution which is only predictable to...

Teater yang Difilemkan
Wednesday, 09 September 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder....

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Wednesday, 03 March 2010

(available only in Bahasa Indonesia)   Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli,...

Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity
Wednesday, 27 May 2009

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films. One of Mexico’s prominent filmmakers. He began to make films following the massacre at Tlatelolco,...

Love is Colder Than Death: Aesthetic Counterattack to Hollywood Domination
Sunday, 01 November 2009

  Bruno dies, unexpectedly, after a shoot-out with the police. Almost no destruction caused by the firing, not even bloodshed. Plot moves flat, without any pretention of emotional violence. It constructs and is a violent climax in a gangster film...

Tepian Sungai Ciujung: Awareness of Medium Ideology and Integration Beyond The Lenses
Friday, 05 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the first part of the articles.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" - Mahatma...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Wednesday, 19 August 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Mimicking Mimicry: Notes on the 4th Purbalingga Film Festival 2010
Thursday, 03 June 2010

According to Teshome Gabriel, the first period of third world cinema is Hollywood films. The second is by mimicking Hollywood films, i.e. identifying themselves to Hollywood films. We can see traces of mimicry in the early production of Dutch Indies...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Friday, 12 June 2009

(temporarily, only available in Bahasa Indonesia) Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net