I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company PDF Print E-mail
Written by Kwee Tek Hoay   
Monday, 01 September 2008 17:10

(This article is only available in Bahasa Indonesia)

Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi berita-berita melayu yang paling berharga dan digemari oleh pembaca, tiada lain adalah cerita-cerita populer terjadi di masyarakat. Mengikuti kemauan pembaca di waktu itu, F. D. J. Pangemanann memuat di Perniagaan beberapa cerita yang direkayasa dari Djawa Koe’on, dan di antara cerita-cerita itu, yang paling terkenal adalah cerita "Si Tjonat", pemimpin penyamun di daerah Tangerang.

Cerita ini sebetulnya cuma suatu karangan yang dilebih-lebihkan saja. Tapi menurut adat kebiasaan kebanyakan pengarang pada waktu itu, seperti juga F. D. J. Pangemanann, berkata “Betul kejadian ini terjadi di zaman dulu.” Ini semacam kedustaan yang dianggap sebagai perkara kecil. Karena kesalahan itu sudah menjadi hal umum dan tidak dianggap sebagai kesalahan lagi, maka orang tidak merasa malu untuk melakukannya. Bahkan sampai sekarang pun masih ada satu dua pengarang Bang Pak yang suka melakukan kedustaan semacam itu.

Kita masih belum lupa ketika cerita itu dimuat dalam Perniagaan. Bagaimana kita yang baru belajar membaca koran sudah mesti saling berebut dengan kawan yang tinggal di sebelah rumah. Saling mendahului membaca "Si Tjonat" yang sangat kita gemari. Dan ketika Drukkerij Hoa Siang In Kiok yang dimuat dalam Perniagaan yang kemudian diterbitkan dalam bentuk ini, kita pun merasa perlu untuk membelinya.

Cepat sekali cerita itu populer, dan sering dimainkan oleh opera-opera bangsawan di waktu itu. Tapi belakangan ini orang tidak lagi peduli. Terutama sesudah munculnya cerita-cerita Melayu yang lebih baik dan pembaca mulai bisa membedakan mana cerita yang baik dan mana cerita yang jelek.
Dilihat menurut ukuran sekarang ini, cerita "Si Tjonat" tidak ada artinya apa-apa lagi. Baik dari cara penulisannya atau pun alur ceritanya. Cerita itu hanya melukiskan kehidupan seorang Bumiputra yang sejak kecil sangat nakal. Setelah ia membunuh kawannya dan merampas serta menjual kerbaunya, ia pun melarikan diri ke Jakarta. Di Jakarta ia bekerja sebagai pelayan seorang Belanda. Lantas mencuri barang milik isteri orang Belanda itu. Ia lalu menjadi kepala perampok. Akhirnya ia menaruh hati pada seorang gadis Tionghoa anak seorang petani yang hidup dari memelihara babi dan berkebun sayur yang tinggal di desa. Namun gadis itu tidak mencintainya. Ia pun membawa lari sang gadis yang bernama Lie Gouw Nio itu. Kemudian tunangannya, Thio Sing Sang, menolong dengan memperlihatkan kegagahannya di hadapan kawanan penjahat itu.

Sekarang cerita ini sudah diadaptasi dalam sebuah filem oleh perusahaan filem yang belum lama ini didirikan di Jakarta. Ketika membicarakan hal ini, salah satu suratkabar harian di Jakarta telah menyomel dan mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan filem di Jawa yang mulai tumbuh seperti jamur, sekarang ini hanya membuat cerita-cerita perampokan, pembunuhan, perempuan yang dibohongi dan sebagainya.

Kita sendiri, meskipun tidak setuju dengan cerita-cerita itu, tidak bisa menyalahkannya pada perusahaan-perusahaan filem yang sebelumnya memproduksi cerita-cerita yang bagus dan berharga untuk ditonton oleh kaum terpelajar. Setidaknya perusahaan-perusahaan filem itu bisa bertahan dahulu. Beberapa perusahaan filem yang memainkan aktor-aktor yang pandai berperan, terpaksa gulung karena rugi atau keputusan Benzine. Perusahaan yang memproduksi filem "Loetoeng Kasaroeng" (1926) [disutradarai oleh G. Kruger dan L. Heuveldrop, diproduksi oleh NV Java Film Company], legenda masyarakat Sunda, pun sekarang tidak terdengar lagi kabarnya. Maka sablonnya bisa melahirkan filem-filem yang bagus dan berharga untuk ditonton oleh golongan terpelajar. Biarlah perusahaan-perusahaan filem yang masih muda dan belum mapan itu, memilih jalan yang mudah, biaya murah, dan memilih cerita populer yang bisa menarik banyak penonton. Kalau pun semua perusahaan itu sudah maju dan mapan, dan orang yang nonton Thio Sing Sang berkelahi dengan penjahat di antara batu-batu karang. Seorang sutradara filem tidak boleh terlalu mengikuti bunyinya buku [textbook/teoretis], karena yang paling perlu dibuat adalah supaya filem itu menjadi bagus dan menarik. Tidak usah kukuh mengikuti jalannya cerita secara mati-matian.

Yang paling lucu, yang membuat satu ruangan bioskop gemuruh oleh sorak-sorai penonton adalah ketika kawanan penjahat itu memajukan empat laskar perempuan yang bertarung pukul-memukul dengan empat orang polisi yang datang membantu Thio Sing Sang. Pertarungan antara amazones dengan politie-politie agent itu menunjukkan bagaimana seorang sutradara tahu betul bagaimana membuat penonton tertawa.

Pemeranan orang-orang yang menjadi ibu, ayah, dan lain-lain, kelihatannya cocok, sedang pemeranan dari Miss Ku Fung May yang memerankan Lie Gouw Nio, tidak bisa dicela. Inilah yang membuat kita tidak heran karena Jakarta Motion Picture Company bisa memilih aktor-aktor yang pandai untuk memerankan tokoh-tokoh yang penting, yang semuanya diperankan oleh bangsa Tionghoa. Sehingga jikalau seterusnya bisa berjalan seperti itu, ada banyak harapan filem-filem yang diproduksi oleh perusahaan ini bisa mengalahkan filem-filem produksi perusahaan-perusahaan filem Indonesia lainnya.

*Pertamakali dimuat dalam Panorama, 10 Februari 1930. Diterbitkan kembali oleh Jurnal Footage dalam edisi suntingan baru.

 

RedaksiFootage

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Tuesday, 02 September 2008 02:34
 

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136898

More.Articles_!

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Tuesday, 15 July 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Arkeologi Seni Media
Saturday, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Friday, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Wednesday, 19 May 2010

Read original article   Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak...

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Wednesday, 20 January 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang...

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Transmission Asia Pacific 2008
Thursday, 12 June 2008

The camping ground was taste very humid. Every afternoon and night, rain just won’t stop dropping. But the end of May approaching, the month that should be entering dry season. Sometime, a school of bats flying. One or two of them inflowing the...

Visual Overproduction of Video
Tuesday, 18 August 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 The above statement from two writers of visual culture seems to...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Wednesday, 19 August 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Prelinger Archives: Daily Life Archives
Thursday, 03 December 2009

"The film your about to see, represence a significant breakthrough of the advancing science of the motion picture. For years, the industrial film has been pledge by the always-difficult sometime impossible-to-explain cost of the original creative...

Jean Epstein: First Avant-garde Director
Wednesday, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) One of the foremost directors of the French silent cinema, Epstein is also remembered as a cinematic theorist whose writings such as Ecrits sur le cinema examined the philosophical impact of film. Epstein's works, considered...

Silent Film Orchestration at Gedung Kesenian Jakarta
Thursday, 12 June 2008

Originally, silent film was simply tracked by a single pianist as its sound theme. Then, in its development, silent film follow by an orchestra. Newest compositions are then, perform. Last wednesday, May 14th 2008, an ensemble from Vietnam...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Wednesday, 28 July 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Available only in Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

Perbincangan dengan Budi Darma
Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Wednesday, 02 September 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

A Pamphlet of Our History in Ruma Maida
Sunday, 08 November 2009

Ishak Pahing dies amid a gunfire volley during an air raid of the plane he was on with his friends. This scene opens the film Ruma Maida (Maida’s House), directed by Teddy Soeriaatmadja, and as scriptwriter, Ayu Utami—the writer who shook...

Prima Rusdi
Thursday, 12 June 2008

We May Not Accomplish Anything After a Decade of Political Reform   To commemorate the ten years of political reform, Proyek Payung held a screening event of the ten short films from ten young directors at Kineforum Jakarta, May 12 to 20th 2008....

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Friday, 12 June 2009

(only available in Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Dian Herdiany
Monday, 21 July 2008

Video Community Should Attain Their Independency   It was started from the catastrophic Yogyakarta earthquake in 2006, Kampung Halaman came and offered society empowerment trough video. They aim at youngsters. The unique methods made Kampung...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Jim Henson: An Experimental Film Director, The Father of The Muppet Show and Sesame Street
Tuesday, 12 January 2010

Some time ago I was browsing new media arts networking site www.rhizome.org. Surfing the site, I stumbled upon a video uploaded by John Michael Boling entitled Time Piece (1964) by Jim Henson. This eight-minute video is one of the experimental works...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Wednesday, 03 March 2010

(available only in Bahasa Indonesia)   Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli,...

Part-time Work of a Domestic Slave: Repositioning of Cinema and Audience in a New Discourse Development
Friday, 24 July 2009

Part-time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) tells the story of Roswitha Bronski who works to support the family while her husband, Franz Bronski, busies himself with chemistry researches in order to fulfill his...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Thursday, 01 April 2010

Violence in Films: Critique to the Film Kado Hari Jadi
Monday, 30 November 2009

How do we summarize violence derived from day-to-day reality? Blood! It’s the easiest language to frame the violence and sadism of an occurrence. Adding to it, gory utensils such as knife, screwdriver, hammer, and razor. Then, how do we envelop...

Bilal: Between Freedom and Fascism in Punk Ideology
Thursday, 17 July 2008

Bilal (2006) is a first and important work of Bagasworo Aryaningtyas. The work also appeared to be a confirmation of Bagasworo identity as a true punker. His next works such as Memanjakan Tubuh/Spoiling the Body (2006) and Lingkaran X/The X Circle...

Interview with Bronnt Industries Kapital
Friday, 10 July 2009

Geometer: I only came to hear of Häxan through your soundtrack - it’s a great film and I was surprised I’d not heard of it. How did you first hear of the film? Guy: We were first approached to perform a live soundtrack to the film at...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net