I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia PDF Print E-mail
Written by Andre Bazin   
Friday, 24 October 2008 13:35

(This article is a translation and not available in english)

Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die Nibelungen, atau Greed [Fritz Lang]. Saya tunduk setulusnya pada pujian tinggi ini selama penyebutannya bersama ekspresionisme Jerman itu dipahami untuk merujuk tingkat kebesaran filem dan bukan sifat kedalaman estetik pembuatnya. Perbandingan yang lebih baik bisa pula diajukan bersama filem Potemkin di tahun 1925. Selebihnya, realisme filem-filem Italia masakini sudah seringkali dihadapkan dengan estetikisme Amerika dan sebagian, dengan hasil-hasil produksi Prancis. Bukankah sejak awal, filem-filem tersebut telah menemukan realisme yang mencirikan filem-filem Rusia-nya Eisenstein, Pudovkin, dan Dovsjenko sebagai karya revolusioner baik dalam seni maupun politik, atau sebaliknya, kepada estetikisme filem-filem Ekspresionis Jerman serta pengagungan terhadap Hollywood? Paisa, Sciusca, dan Roma Citta Aperta, seperti juga Potemkin, telah mengawali pertentangan berlarut-larut antara realisme dengan estetikisme di dalam filem. Namun sejarah takkan berulang; kita mesti menerangkan bentuk tertentu pertikaian estetik itu ditinjau pada saat ini, sebuah jalan-keluar tempat neorealisme Italia berutang kejayaan di tahun 1947.

Para Perintis

Berseberangan dengan hasil karya yang sangat Italia serta letupan gairah dari kejutan yang diciptakannya, mungkin kita bisa menyisihkan langkah lebih mendalam kepada asal-mula kelahiran kembali ini, dan memilih melihatnya lebih sekadar kebangkitan seketika yang timbul laksana kawanan lebah dari jasad-jasad busuk fasisme dan perang. Tidak diragukan bila pembebasan dan bentuk-bentuk sosial, moral dan ekonomi Italia dipandang telah memainkan peranan menentukan dalam produksi filem. Kita akan kembali ke soal ini nanti. Nyata sudah bila kurangnya informasi mengenai sinema Italia telah memerangkap kita pada kepercayaan akan keajaibannya yang tiba-tiba.

Demikianlah kini agaknya, untuk menilai dari kepentingan dan kualitas hasil filemnya tatkala Italia adalah negeri tempat pemahaman filem sedang tinggi-tingginya. Centro Sperimentale[1] di Roma sudah ada sebelum Institut des Hautes Etudes Cinematographiques kita sendiri, dan di atas segalanya, pertaruhan kaum cendikia di Italia –tidak seperti di Prancis– tak berdampak bagi penciptaan filem. Jurang menukik antara kritik [kritisi] dan penyutradaraan [sutradara] lebih tak terlihat dalam sinema Italia daripada yang terjadi dalam dunia sastra Prancis.

Terlebih lagi fasisme, tidak sebagaimana Nazisme, mengizinkan eksistensi kemajemukan artistika, khususnya pemikiran sinema. Kita boleh ragu soal hubungan Festival Filem Venezia dengan kepentingan politik Kaum Bangsawan meski tak bisa disangkal gagasan festival filem internasional itu lalu terselenggara dengan bagus, dan kini bisa diukur gengsinya lewat kenyataan bahwa lima atau enam negara Eropa saling bersaing merebut penghargaan. Setidaknya, kaum kapitalis dan penguasa Fasis telah menawarkan Italia studio-studio filem yang moderen. Bila yang muncul adalah fiem-filem gaya melodramati konyol dan keterlaluan yang dibuat-buat, itu tak mengalangi sejumlah pribadi cendikia untuk cukup cerdas membidik filem-filemnya dengan tema-tema kekinian tanpa melakukan samasekali kesepakatan dengan kekuasaan untuk penciptaan filem-filem bermutu tinggi yang melatari kerja kekinian mereka. Semasa perang, kita tidak sangat menduga –meski tentu saja boleh– filem-filem Rossellini seperti SOS 103 atau La Nove Bianca bisa lebih mempesona kita. Apalagi saat kaum kapitalis dan politisi dungu telah mengendalikan produksi komersial, kecendiakawanan, kebudayaan dan percobaan penelitian beroleh naungan di dalam gedung-gedung arsip filem dan dalam pembuatan filem-filem pendek. Pada 1941, sutradara filem Il bandito, Lattuada, yang kala itu kepala arsip kota Milan, tidak bisa menghindari penjara saat menunjukkan versi lengkap filem La Grande Illusion.[2]

Lebih dari itu, sejarah sinema Italia belum dikenal. Kita hela-jeda pada Cabiria dan Quo Vadis, untuk menemukan segenap bukti terbaru luar biasa yang kita perlu pada filem La Corona di ferro dalam mengandaikan tak berubahnya ciri filem-filem yang dibuat di balik Pegunungan Alpen itu: sebuah selera, yakni selera rendahnya untuk mengidealisir aktor-aktor utama, tekanan kekanakan pada pengadeganan, kendurnya mise en scene [penyutradaraan], penonjolan hiasan-hiasan lagu merdu [paraphernalia bel canto] dan opera, yang naskah-naskah konvensionalnya dipengaruhi teater serta drama cinta sedih hingga chanson de geste [lagu kepahlawanan]–nya menciut ke sekadar cerita tualang. Tak sangsi lagi, terlalu banyaklah filem Italia telah paling baik berlaku membenarkan semacam karikatur dan sebagian besar sutradara –termasuk yang terbaik– telah berkorban dengan terkadang merendahkan diri kepada kepentingan komersial. Tentu saja hasil filem besar semacam Scipio Africanus itulah ekspor utamanya. Ada lagi lapisan artistik lain yang tak dipungkiri hampir secara eksklusif direlakan demi pasar dalam negeri. Kini saat gemuruh para gajah jinak Scipio sekadar erang samar-samar, lebih baik kita pinjam-dengar kecemasannya lewat lantunan merdu buatan filem Quatro passi fra le nuvole.

Pembaca atau setidaknya yang pernah melihat filem berikut ini, tak ragu lagi akan seterperangah kita saat menyimak bahwa komedi dengan segenap lubuk-rasa bebasnya ini berlimpahan puisi, tangkapan santai realisme sosialis yang terkait langsung dengan sinema kini Italia di tahun 1942, dua tahun setelah La Corono di ferro yang masyhur itu dan buatan sutradara yang sama, Blasetti, yang kepadanya serentak pula kita berutang pada filem Un’avventura di Salvator Rosa dan yang terbaru, filem Sciuscia–nya de Sica, selalu menimbang penampilan komedi-komedi manusiawi dan mengharukan yang marak dengan realisme, di antaranya pada tahun 1942, I Bambini ci guardano. Sejak 1932, Camerini telah membuat filem kekerasan Gli uomini che mascalzoni yang seperti Roma Citta Aperta-nya Rossellini telah bertempatkan di jalanan-jalanan ibukota, serta Piccolo Mondo Antico yang tak kurang keItaliaannya.

Sungguh tak banyak nama-nama baru sutradara Italia sekarang. Yang termuda, seperti Rossellini, mulai membuat filem di awal perang [Dunia II]. Para sutradara yang lebih tua seperti Blasetti dan Mario Soldati, sudah lama dikenal sejak masa awal yang tadi telah dibicarakan.

Tetapi mari kita tidak saling melangkah pada dua kutub yang berbeda dan menyimpulkan bahwa sebenarnya tak pernah ada apa yang dinamakan sebagai mazhab baru Italia. Kecenderungan realisnya, kedomestikannya, satirisnya, dan deskripsi sosial kehidupan sehari-harinya, ujaran sensitif dan puitiknya, yang sebelum perang merupakan kualitas-kualitas sempalan, begitu saja marak pucat membiru di kaki produksi raksasa (giant sequoias production). Tampaklah sejak awal perang, seberkas cahaya mulai dicercahkan pada belantara papier-mache [kertas pelekat]. Gaya filem La Corona di ferro seperti mengejek diri. Rossellini, Lattuada, Blasetti telah berpayah-payah demi kepentingan mendunia realisme. Meskipun demikian, Pembebasanlah pencipta keterbentangan kecenderungan-kecenderungan estetik ini sampai membiarkannya berkembang di bawah takdir kondisi-kondisi baru guna menerima andil mereka dalam menyuntikkan perubahan hakiki pada penyutradaraan dan pemahaman.

Pembebasan: Pecahan dan Kelahiran Kembali

Beberapa komponen mazhab baru Italia yang muncul menjelang Pembebasan: awakkerja, teknik dan kecenderungan estetik. Tetapi pecampurbauran yang tiba-tiba dari sejarah, sosial, dan ekonomi mereka jugalah yang telah menghasilkan sintesa unsur-unsur baru yang menegaskan keberadaan mereka.

Selama lebih dua tahun terkahir, Pemberontakan dan Pembebasan telah menawarkan tema-tema penting, namun tidak sebagaimana Prancis –dan tentu saja bisa dikatakan tidak sebagaimana sinema Eropa seumumnya– filem-filem Italia tidak terbatas pada tema-tema Pemberontakan. Di Prancis, tema Pemberontakan segera memasyhur. Demikianlah, di masa Pembebasan, sesungguhnya Pemberontakan sudah menjadi milik kerajaan sejarah. Jerman mengalami kematian, lantas kehidupan dimulai kembali. Sebaliknya di Italia, Pembebasan tidak menandakan ada yang kembali ke suatu kebebasan lama ataupun baru; ia mengartikan revolusi politik, pendudukan Sekutu serta guncangnya ekonomi dan sosial. Pembebasan berlangsung lamban di hari-hari tanpa akhir. Berdampak besar pada kehidupan ekonomi, sosial dan moral bangsa. Lalu tidak sebagaimana kerusuhan Paris, Pemberontakan dan Pembebasan di Italia bukan sekadar ucapan akan isyarat sejarah. Ketika Rossellini membuat filem Paisa, naskahnya memang terkait dengan permasalahan yang terjadi masa itu. Il Bandito memperlihatkan betapa pelacuran dan pasar-gelap tumbuh di atas sol tentara yang menderap-derap dekat, dan betapa pengangguran dan rasa kecewa telah mengubah narapidana bebas menjadi penjahat. Kecuali pada filem-filem Pemberontakan tanpa cacat seperti Vivere in Pace atau Il Sole Sorge Ancora, sinema Italia dicatat karena perhatiannya pada kejadian nyata sehari-hari. Kritisi Prancis tidak gagal dalam menekankan (meski selalu dengan rasa terperangah, baik pujian maupun kecaman yang tulus) sejumlah acuan spesifik di masa pasca perang ketika dengan sengaja telah memperkenalkan Marcel Carne dengan filem terakhirnya. Bila sutradara dan penulis telah berupaya keras membuat pemahaman kita, soalnya ialah selama satu dasawarsa ini sembilanbelas dari duapuluh filem Prancis tidak tercatat. Selain itu, bahkan saat gambaran utama naskahnya tak berkaitan dengan kejadian nyata, filem-filem Italia itu sangat condong kepada pewartaan. Sikap ini tak bisa diluaskan hanya dari konteks sosial tertentu dan lepas secara historis, sebagian lagi abstrak seolah penyutradaraan tragedi, seperti yang dalam berbagai tingkatan, kerap terjadi dalam sinema Amerika, Prancis, atau Inggris.
Alhasil, filem-filem Italia memiliki mutu dokumenter yang cemerlang yang hanya bisa disisihkan dari naskah jika menghilangkan seluruh situasi sosial tempat akar-akarnya tertanam begitu dalam.

Kesetiaan penuh dan wajar akan aktualitas ini dibenarkan dan diteguhkan dari dalam oleh ikatan spiritual di masa itu. Tidak diragukan, gelombang sejarah Italia masa kini tidak berbalikarah. Perang dialami bukan sebagai masa jeda melainkan akhir suatu masa. Dalam artian itu, Italia baru genap tiga tahun. Tapi dampak lain bisa diakibatkan dari sebab yang sama. Apa yang kekal menakjubkan sebagai penjamin sinema Italia meraih penonton moral yang luas di belahan negeri-negeri Barat adalah tawaran pentingnya atas penggambaran aktualitas. Di dunia yang kembali terobsesi oleh teror dan kebencian, di mana realitas dengan sendirinya sudah demikian langka diinginkan selain dilontarkan atau dikeluarkan sebagai perlambang politik, sinema Italia, di tengah zaman yang ditampilkannya adalah satu-satunya yang memelihara humanisme revolusioner.

Cinta dan Penolakan Realitas

Filem-filem terbaru Italia setidaknya pra-evolusioner. Secara dalaman dan luaran, seluruhnya menampik realitas kegunaan melalui humor, satir atau puisi, tidak soal seberapa teguh pegangan pendiriannya, selain kesemua itu amat dikenal dalam menyikapi realitas sebagai medium atau tatanan penutup. Mengecamnya bukan berarti tidak yakin. Sederhananya, filem-filem itu tidak lupa bahwa dunia ini telah ada sebelum menjadi laknat. Hal konyol ini barangkali sepolos pujian Beaumarchais[3] soal airmata karena melodrama. Tetapi tidakkah seseorang, sepulangnya dari filem Italia, merasa lebih baik dalam memiliki dorongan untuk mengubah tatanan masalah seandainya memungkinkan dengan mempengaruhi orang-orang, setidaknya yang bisa dipengaruhi, di mana kebutaan, prasangka, dan kemalangan sajalah yang membawa kehancuran kaum sejawatnya?

Itu sebabnya saat kita membaca sejarahnya, skenario banyak filem Italia terbuka bagi kelakar. Mempersempit alur cerita, seringkali semua itu hanya mengesahkan melodrama, namun di layar, semua orang di dalam filem sungguh-sungguh nyata. Tidak seorang pun diciutkan ke kondisi menjadi sebuah objek maupun perlambang yang akan membiarkan kita membenci kaum serba nyaman tanpa lebih dulu menjalani cobaan kemanusiaan mereka.

Saya mempersiapkan diri untuk meninjau humanisme sejati filem-filem Italia masa kini sebagai nilai utama.[4] Seluruh filem menawarkan peluang citarasa revolusioner yang melegakan di mana teror masih belum berperan, menjelang menit tamatnya bagi kita.

Peradukan Pemeran

Apa yang mula-mula secara wajar mengejutkan khalayak adalah ketinggian mutu pengadeganan. Roma Citta Aperta memperkaya filem dunia dengan penampilan tak terlupakan dari pentas perdana Anna Magnani[5] sebagai gadis tengah mengandung, Fabrizzi sang pendeta, Pagliero si anggota Pemberontak, dan lain-lainnya dengan penampilan yang saling bersaing dalam retrospeksi perwatakan pada filem masa silam paling menggugah. Reportase dan pemberitaan media massa yang diterima, wajarlah bermaksud memberitahu kita bahwa filem Sciusca berisikan banyak penjahat jalanan, tempat Rossellini secara acak membidik kerumunan untuk gambar pengadeganan, di mana si tokoh wanita di kisah awal Paisa adalah gadis buta-huruf yang ditemukan di dermaga. Anna Magnani mengaku dirinya profesional meskipun berasal dari dunia café-concert. Maria Michi, ya, cuma gadis mungil pekerja produksi kecil filem.

Meski pemain semacam ini tidak lazim di dalam filem, hal itu tidak baru. Sebaliknya, pemakaian selanjutnya dengan beragam mazhab realistik sudah sejak awal masa Lumiere ini menunjukkan bahwa kaidah sejati sinema inilah yang disepakati mazhab Italia untuk mempersilakan kita merumuskan sendiri dengan seyakinnya. Juga dalam masa-masa lalu sinema Rusia, kita mengagumi pilihannya untuk peran-peran keseharian para aktor non-profesionalnya di dalam filem. Kenyataannya, suburlah legenda seputar filem-filem Rusia. Teater berpengaruh kuat pada mazhab-mazhab tertentu Soviet meski filem-filem awal Eisenstein yang tanpa aktor-aktor sama realisnya dengan filem The Road to Life yang ternyata diperankan oleh para profesional teater, hingga sejak itu para aktor filem-filem Soviet seterusnya menjadi profesional seperti di negara-negara lain.

Tanpa mempunyai sekolah sinematografi yang besar selama masa 1925, sinema Italia sekarang dapat menampilkan tiadanya para aktor, meskipun filem di luar arus kelaziman ini dari masa ke masa bisa mengingatkan kita akan untungnya tidak memakai mereka. Filem semacam ini akan selalu dikhususkan hanya agak disisihkan dari dokumen sosial. Misalnya dua filem L’Espair dan La Derniere Chance. Di sekitar kedua filem itu subur pula legenda. Para pemeran utama filem Malraux itu tidak semua aktor senggang yang dipanggil sesaat untuk memerankan diri mereka sendiri sehari-hari. Beberapa saja dari mereka memang benar adanya tetapi bukan tokoh-tokoh utama. Si Petani itu misalnya, adalah aktor lawak tenar di Madrid. Sepintas-kilas, para serdadu La Derniere Chance memang penerbang sungguhan yang ditembak jatuh di Swiss, tapi si wanita Yahudi adalah aktris panggung. Cuma hasil-hasil karya filem semacam Tabu yang seluruhnya tanpa aktor profesional –tapi dalam hal ini seperti pada filem kanak-kanak– kita berhadapan dengan satu genre khusus di mana aktor profesional hampir tak terbayangkan. Yang terbaru, Rouquier dalam Farrebique telah mengawali puncak pemeranannya. Sambil menyimak keberhasilannya, baiklah kita juga mencatat bahwa filem ini sangat unik dan bahwa permasalahan yang dihadirkan oleh suatu filem petani, sejauh dengan pertimbangan pengadeganan, tidak ada bedanya dengan semua filem jenis eksotik. Sejauh merupakan teladan, Farrebique adalah hal tersendiri dan sama-sekali tidak menggugurkan dalil yang diusulkan untuk menyebutnya kaidah campuran. Bukan soal tidak tampilnya aktor-aktor profesional yang dalam sejarahnya adalah jaminan realisme sosial dan jaminan filem Italia. Di samping itu khususnya, penolakan konsep bintang ini dan percampuran antara yang profesional dengan yang hanya beradegan kadang-kadang saja, adalah biasa. Pentinglah untuk menghindari pemain profesional karena peran yang sudah dikenali. Khalayak tak semestinya terbebani segala prasangka. Pentinglah kiranya bila si petani dalam Espoir adalah sang komedian teater, dan Anna Magnani pelantun lagu-lagu masyhur, serta Fabrizzi badut bangsal musika. Bahwa seorang adalah aktor, tidak berarti ia tak bisa dipakai. Sebaliknya malah. Tetapi profesionalismenya mesti diartikan pengabdian belaka selama hal itu membolehkan dirinya lebih luwes tanggap pada kepentingan penyutradaraan serta guna menangkap pemeranan dengan sebaik-baiknya. Para pemeran non-profesional sewajarnya dipilih karena kesesuaian peran, entah karena cocok fisik atau sekian kesamaan antara peran dan kehidupannya sendiri. Saat percampuran terjadi –tapi pengalaman menunjukkan, itu takkan berlaku kecuali sejumlah pesan “moral” disuakan di dalam naskah– hasilnya ialah perasaan takjub sungguhan akan kebenaran yang kita capai pada filem-filem Italia masa sekarang. Kesetiaan para pemeran pada naskah yang kian mendepankan mereka dan memperkecil kepura-puraan teatrikal, telah membuat semacam persenyawaan di antara para pemain. Kehijauan teknis para amatir tertolong oleh pengalaman para profesional sekaligus menguntungkan para profesional sendiri dari situasi umumnya yang sahih.

Meskipun demikian, amat disayangkan jika manfaat sebuah metode seni filem sekadar diterapkan sana-sini sebab di dalamnya sendiri menyimpan benih kehancurannya. Persenyawaan kimiawi diperlukan demi ketakstabilan, dan tiada apapun yang bisa mencegahnya berkembang ke titik tempatnya mengenali kembali dilema estetik yang dahulu pernah dipecahkannya –yaitu ketergantungan pada sang bintang dan dokumentaritas tanpa aktornya. Ketakpaduan ini segera dapat sejelasnya teramati pada filem kanak-kanak atau filem-filem yang memakai warga lokasi. Si Rari Kecil pada filem Tabu, dikatakan berakhir sebagai pelacur di Polandia; kita semua tahu bagaimana si anak yang dibesarkan sebagai sang bintang dengan filem pertamanya. Meski ini adalah hal lain, dengan sangat baik si anak akan menjadi pemain belia ajaib. Masih hijau dan tanpa pengalaman, jelas sekali tak terbantahkan si anak takkan dapat bertahan terhadap pengulangan-pengulangan. Tak bisa kita bayangkan keluarga Farrebique muncul dalam serangkaian enam filem hingga akhirnya dikontrak Hollywood. Sementara bagi para pemain profesional bukan bintang, alur perpecahan ini agak berbeda kerjanya. Kesalahan ada pada khalayak. Sementara sang bintang pujaan diterima sebagaimana adanya di mana-mana, sukses sebuah filem dipakai buat memberi arti bagi pemain biasa pada pemeranannya di dalam filem itu. Hanya saja kaum produser terlalu suka mengulang sebuah sukses dengan mencicip sajian terkenal kesukaan khalayak menonton bintang-bintang idaman dalam peran-peran mapannya. Jika seorang pemain cukup peka untuk menghindar dari penjara pemeranan tunggalnya, masih ada kenyataan wajah dan tingkah polah kebiasaannya dalam pengadeganan yang sudah dikenali akan mencegah percampuran dengan digantikan oleh pemain bukan profesional.

Estetikisme, Realisme dan Realitas

Kesetiaan pada kehidupan sehari-hari dalam skenario, kejujuran pameranan, bagaimanapun sekadar bahan-bahan dasar estetika filem Italia.

Kita mesti menyadari salingsilang penyerapan estetika dengan beberapa kementahan, sekian efektivitas seketikanya berasal dari suatu realisme yang sekadar puas dengan kehadiran realitas. Saya memandang nilai filem Italia pada peragaannya akan tiap realisme dalam seni awalnya mengandung kedalaman estetik. Kita selalu merasa begitu, meski gaung tuduhan sihir sebagian kita kini terhadap para pemain mencurigai adanya perjanjian setan berupa seni untuk seni, kita cenderung telah melupakannya. Pembayangan realitas di dalam seni adalah pertimbangan si seniman sendiri. Dibanding kelepasbebasan imajinasi, darah dan daging realitas tak lebih mudah direngkuh dalam jalinan kesusasteraan maupun sinema. Atau dengan cara lain bisa dikatakan, bahkan saat penciptaan dan kompleksitas bentuk-bentuk tak lagi bisa diterapkan ke dalam muatan aktual karya demi berpengaruh pada efektivitas pranata, semua itu tak berhenti hingga begitu saja. Karena sinema Soviet amat mengabaikan soal ini, sinemanya tergelincir dari peringkat pertama duapuluh tahunnya ke peringkat terakhir di negara-negara penghasil besar filem. Potemkin telah menjungkirbalikkan dunia sinema tidak hanya oleh pesan politiknya, tidak pula oleh penggantian latar tempel studio penataan yang sebenarnya dengan sang bintang utama bersama suatu kerumunan tak bernama, namun karena Eisenstein teorisi montase terbesar pada zamannya karena kerjasamanya dengan Tisse, kamerawan terbaik masanya dan oleh karena Rusia adalah puncak ketinggian pemikiran sinematografi –ringkasnya, karena filem-filem “realis” Rusia lebih mengenal estetika ketimbang seni sinema ekspresionisme Jerman dengan segala latar dan penampilan serta pencahayaan dan tafsir artistiknya.

Sama saja kini dengan sinema Italia. Bukan retrogresif [gerakbalik] estetik atas neorealismenya, sebaliknya kemajuan akan ekspresilah kejayaan evolusinya dalam bahasa sinema, suatu kelanjutan gaya bahasanya.

Mari kita lebih menukik ke dalam sinema untuk melihat kedudukannya sekarang. Sejak tamatnya bid’ah kaum ekspresionis (expressionist heresy),[6] terutama setelah adanya suara, kita boleh mengira bila kecenderungan umum sinema yakni menuju realisme. Baiklah kita penuh sepakat bahwa filem ingin memberi penonton ilusi kenyataan sesempurnanya dalam batas-batas logika kepentingan narasi sinematografi dan dalam batas-batas teknik kekiniannya. Karena itu sinema tegak berseberangan dengan puisi, lukisan, teater, dan lebih dekat pada novel. Di sini saya tak berniat membenarkan kecenderungan dasar estetik sinema moderen ini, biarpun pada teknis, psikologis atau dasar-dasar ekonominya. Saya hanya sesekala menyatakan ini tanpa memprasangkai baik sejenis validitas intrinsik evolusinya maupun tingkat pencapaian akhirnya.

Namun realisme dalam seni hanya tercapai dengan satu cara –yakni melalui tipuan (artifice).

Setiap bentuk estetika harus memilih antara apa yang penting dipertahankan dan apa yang harus ditanggalkan serta apa yang seharusnya tidak boleh diandaikan. Namun ketika tujuan-tujuan estetik ini pada dasarnya demi menciptakan ilusi realitas sebagaimana dilakukan sinema, pilihan ini menghasilkan pertentangan mendasar yang serempak dengan itu tak dapat diterima namun diperlukan: diperlukan, karena seni hanya dapat hadir saat pilihan demikian dilakukan. Tanpa itu, dengan mengira sinema secara sempurna berada di sini dan secara teknis kini dimungkinkan, kita akan semata-mata kembali kepada realitas. Ini tidak bisa diterima oleh karena hal itu tentu saja dilakukan dengan mengorbankan realitas tempat sinema menawarkan diri untuk secara keseluruhan memperbaikinya. Karena itu kaburlah kiranya menampik setiap perkembangan terbaru teknik yang bertujuan menambah realisme sinema, misalnya suara, warna, dan stereoscopy. Sungguh “seni” sinema dihidupkan dengan kontradiksi ini. Ia meraih hasil kebanyakan kemampuan abstraksi dan simbolismenya yang tersedia oleh keterbatasan yang ada pada adegan, tetapi pemanfataan sisa-sisa konvensi yang luput oleh teknik dapat dengan baik bekerja untuk kebaikan atau kerugian realisme. Ia bisa memuaikan atau menetralkan efektivitas unsur-unsur realitas yang ditangkap kamera. Kita dapat, jika bukan mengklasifikasi sesuai kepentingan, mengelompokkan ragam gaya sinematografi dalam arti perluasan realitasnya. Kita akan memaknainya sebagai “realis,” hingga kemudian segenap pranata naratif cenderung membawa pelebaran realitas ke dalam layar. Realitas tidak secara kuantitatif dipungut. Peristiwa yang sama, objek yang sama, dapat dihadirkan dalam beragam cara. Tiap-tiap representasi menanggalkan atau mempertahankan beragam kualitas yang mempersilakan kita mengenali objek di dalam layar. Masing-masing pengenalan, demi alasan-alasan didaktika maupun estetika, abstraksi-abstraksinya kurang-lebih bekerja secara merusak dan dengan itu tak mengizinkan keaslian tampil seutuhnya. Kesimpulannya, kerja “kimiawi” tak terhindarkan dan penting ini disebabkan realitas permulaan di situ telah tergantikan oleh suatu ilusi realitas yang tercipta dari sekumpulan abstraksi (hitam dan putih, permukaan datar), dari konvensi-konvensi (aturan montase, contohnya), dan dari realitas otentik. Inilah ilusi yang perlu itu namun yang dengan segera mendorong hilangnya kesadaran akan realitas itu sendiri yang telah terartikan di dalam benak penonton seiring representasi sinematografinya. Dan bagi pembuat filem yang untuk sesaat telah berwenang melindungi ketaksadaran ini kepada penonton, lama-kelamaan ia terbujuk untuk mengabaikan realitas. Dari kebiasaan dan kemalasannya ia meraih kedudukan saat dirinya sendiri tak lagi mampu mengisahkan asal-mula dusta-dusta itu dimulai dan berakhir. Di situ takkan pernah ada pertanyaan untuk menjuluki dirinya sebagai pendusta karena seninya mengandung kedustaan. Ia hanya tak lagi memegang kendali seninya. Dirinya sendirilah kedunguan itu, dan karena itu ia dikeluarkan kembali dari kuasa lebih lanjutnya akan realitas.

Dari Citizen Kane hingga Farrebique

Tahun-tahun terakhir ini dengan sejelasnya telah membawa evolusi estetika sinema ke arah realisme. Dua kejadian terpenting evolusi sejarah sinema sejak 1940 ini ialah Citizen Kane dan Paisa. Meski berbeda alurnya, kedua filem itu menandai lompatan menentukan menuju realisme. Jika saya mengemukakan filem Orson Welles itu sebelum menganalisis gaya bahasa filem Italia, hal ini lebih dikarenakan dapat mempersilakan kita untuk menempatkan filem yang kedua itu ke dalam perspektif asalinya. Orson Welles telah mengembalikan ilusi sinematografi kepada kualitas mendasar realitas –yaitu kelangsungannya. Penyuntingan klasik yang diturunkan dari Griffith, memisahkan realitas ke dalam ambilan-ambilan gambar suksesif yang hanya berupa satu rangkaian, baik cara pandang logis maupun subjektif atas satu kejadian. Seorang pria terkunci di selnya menunggu kedatangan si algojo. Matanya tersiksa pada pintu selnya. Saat si algojo baru saja akan masuk, bisa kita pastikan sutradara akan melakukan pemotongan pada ambilan gambar jarak-dekat gagang pintu yang bergerak melambat. Tangkapan dekat ini secara psikologis terbenarkan melalui konsentrasi korban kepada lambang penderitaan mautnya itu. Tata ambilan-ambilan gambar ini merupakan ujicoba konvensional terhadap jangkauan realitas yang sejatinya membentuk bahasa sinematografi zaman itu.

Konstruksi tersebut kemudian memperkenalkan kejelasan unsur abstrak di dalam realitas. Karena kita demikian terbiasa pada abstraksi semacam itu, kita tidak lagi merasakannya. Orson Welles merintis revolusinya melalui cara sistematis penempatan kedalaman fokus yang selama ini tak pernah digunakan. Sementara lensa kamera secara suksesif biasanya memusatkan perhatian pada bagian-bagian yang berbeda pada layar, kamera Orson Welles dengan ketajaman yang merata menangkap seluruh permukaan pandang yang termuat secara simultan pada ruang dramatik. Masalahnya bukan lagi pada pilihan penyuntingan atas apa yang kita lihat, yang dengan begitu memberikan padanya satu signifikansi a priori (pengetahuan yang bebas dari pengalaman), yakni pikiran penonton yang dipaksa memilah-milahkan sebagaimana halnya dalam semacam parallelepiped[7] realitas bersama layar sebagai sisi pandangnya, spektrum dramatik yang sesuai pada layar. Kecerdasan inilah lompatan spesifik pemanfatannya di mana Citizen Kane berutang kepada realisme. Syukurlah, kedalaman fokus lensa telah mengembalikan Orson Welles pada kelangsungan visualnya.

Kita telah jelas melihat dengan apa unsur-unsur realitas sinema memperkaya dirinya. Tapi dari titik pandang lain, jelas juga kalau itu bergerak keluar dari realitas, atau setidaknya itu tak kian lebih mendekatkan dibanding yang dilakukan estetika klasik. Dalam batas-batasnya, disebabkan kompleksitas tekniknya, segenap jalan keluar pada alam adalah telanjang, tata lingkungannya,[8] ruang-ruang luarnya, sinar matahari serta para pemain non-profesionalnya, Orson Welles menolak kualitas-kualitas dokumenter otentik yang tak tergantikan itu dan yang –seakan bagian dari realitas– dengan sendirinya mengukuhkan sebentuk realisme. Mari kita bandingkan Citizen Kane dan Farrebique –yang disebut terakhir adalah determinasi sistematik untuk mengeluarkan semua yang bukan material alami, tepatnya terutama merupakan alasan mengapa Rouquier gagal di bidang kesempurnaan teknik.

Maka, yang paling nyata pada seni ialah berbagi takdir bersama. Seni tak dapat menjelmakan realitas seutuhnya karena realitas sungguh-sungguh harus menghindari itu pada titik tertentu. Tak sangsi lagi, suatu perkembangan teknik yang telah diterapkan secara cerdas akan mempersekcil lubang jaring, meskipun kita dipaksa memilih antara satu jenis realitas atau lainnya. Kepekaan ini mengingatkan kita pada kepekaan retina. Pusat saraf yang mendata warna dan kekuatan cahaya tidak semuanya sama, kebasnya seorang yang terbiasa dengan nalar saling terbalik. Mahluk yang tanpa kesulitan membentuk permainan dalam gelap ini hampir pasti buta warna.

Di antara beragam realisme murni yang saling-silang namun mirip yang diwakili pada Farrebique di satu sisi dan Citizen Kane di sisi lain, terdapat keluasan bentuk bagi peluang penyatuan. Selebihnya, bagian yang kurang pada apa yang nyata, implisit di setiap pilihan realis, seringkali membiarkan seniman lewat pemakaian konvensi estetik manapun yang hendak diterapkannya ke ruang bidang yang dibiarkan hampa demi meninggikan efektivitas bentukan realitas pilihannya. Tentu ada contoh luar biasa tentang ini dalam sinema Italia masakini. Dengan tiadanya alat-alat teknis, sutradara-sutradara Italia itu jadi punya keharusan merekam suara dan dialog seusai pembuatan filem yang sebenarnya. Hasilnya adalah realisme yang kalah. Meski begitu, sutradara-sutradara itu dibebaskan memakai kamera tanpa mikrofon, dan lalu diuntungkan oleh kejadian dimuaikannya bingkai adegan kamera dan mobilitasnya lewat peningkatan langsung koefisiensi realitas sebagai hasilnya.

Kemajuan teknik di masa depan bisa membiarkan penemuan perangkat-perangkat nyata (seperti warna dan stereoskopi) sekadar mampu melebarkan jarak antara dua kutub realis yang kini berlangsung pada ruang bidang Farrebique dan Citizen Kane. Kualitas ambilan-ambilan gambar ruang-dalam nyatanya akan terbebani pada seperangkat alat-alat yang rumit dan kaku. Beberapa patokan realitas kerap harus dikorbankan dalam upaya mencapainya.

Paisa

Bagaimana Anda tempatkan filem Italia ke dalam spektrum realis? Setelah menjajaki batas-batas geografis sinema ini, penunjukkannya pada latar-belakang sosial demikian dalam menancap, demikian teliti dan sadar akan pilihan rerincian otentik dan signifikannya, menyisakan pada kita kini pemahaman geologi estetiknya.

Terang sekali kita mendusta diri manakala berupaya mereduksi hasil-hasil Italia masakini pada kebiasaan tertentu yang dengan gampang mengartikan ciri-ciri pengenaan pada semua sutradara. Secara sederhana kita akan mengenali ciri-ciri itu dalam penerapan terluasnya, menyisihkan kebenaran di saat hadirnya kejadian demi memberi batas pertimbangan kita pada filem-filem yang terpenting. Karena itu pula kita mesti memilih dan mengaturnya sebab filem-filem besar Italia sedang mengalami penurunan minat hanya seputar lingkaran-lingkaran terpusat pada filem Paisa-nya Rossellini karena menyimpan rahasia-rahasia paling estetiknya.

Teknik Narasi

Seperti pada novel, estetika tersembunyi dalam sinema tersingkap dalam teknik narasinya. Sebuah filem selalu dihadirkan sebagai suksesi (serangkaian) pecahan-pecahan gambaran kenyataan pada permukaan rectangular (bidang empat sisi) dalam proporsi-proporsi tertentu, penataan gambar-gambar berikut durasinya pada layar menentukan muatannya.

Sifat objektif novel moderen dengan mereduksi aspek tatabahasa baku gaya pembahasaannya yang diperkecil telah begitu saja menaruh rahasia dari inti gaya.[9] Kualitas-kualitas tertentu bahasa Faulkner, Hemmingway atau Malraux tentu saja takkan hadir melalui penerjemahan, meski kualitas hakiki dari gaya bahasa mereka takkan menderita sebab gaya mereka hampir selalu serupa dengan teknik bertuturnya –penataan di dalam waktu pecahan-pecahan realitas. Gaya itu menjadi dinamika dalam prinsip narasi, agak mirip hubungan antara energi ke material atau fisika spesifik sebuah karya sebagaimana adanya. Inilah yang menyebarkan realitas-realitas fragmenter (keterpecahan) memintas spektrum estetika naratif, yang mengutubkan muatan fakta-fakta tanpa mengubah komposisi kimiawinya. Suatu Faulkner, suatu Malraux, suatu Dos Passos, masing-masing memiliki semesta personalnya sendiri yang dimaknai oleh sifat fakta-fakta yang disampaikan selain juga oleh hukum gravitasi yang menahannya di puncak perusakan. Dengan demikian, bergunalah kiranya mencapai satu definisi gaya Italia berdasarkan skenarionya, berdasarkan asal-muasalnya, dan berdasarkan bentuk-bentuk penjelas yang mengikutinya. Sayangnya, hantu melodrama yang tampak kurang mampu dilepaskan oleh para pembuat filem Italia kadangkala merasuki tubuh untuk selanjutnya memaksa satu kebutuhan dramatik dalam adegan-adegan yang terlalu diperdekat jarak pandangnya. Tapi itu cerita lain. Yang jadi masalah ialah alur kreatif itu, suatu cara istimewa tempat situasinya menjadi hidup. Kebutuhan inheren di dalam narasi lebih biologis sifatnya ketimbang dramatik. Sebaran dan perkembangannya beriring dengan hiruk-pikuk kehidupan.[10]  Kita tak boleh menyimpulkan bahwa metode di depan ini kurang estetik dibanding rencana awal yang lamban dan hati-hati. Namun prasangka lama bahwa waktu, uang serta pilihan-pilihan punya nilainya sendiri yang berurat-akar sehingga kita lupa mengaitkannya pada karya maupun senimannya. Van Gogh melukis ulang sepuluh kali gambar yang sama segegasnya, sementara Cezanne kembali kepada waktu melukis yang demikian itu terus-menerus sepanjang tahun. Genre-genre tertentu perlu gegas sebab karya itu dikerjakan pada saatan (momen) panas matahari, namun pendedahannya mesti dilaksanakan dengan sentuhan besar kepastian demi ketepatan yang lebih besar lagi. Hanya dengan nilai semacam inilah filem Italia memperoleh suasana dokumenternya, suatu kewajaran yang lebih dekat pada terang ujaran daripada tulisan, pada sketsa dibanding lukisan. Ia menyeru ketenteraman dan kepastian pandang Rossellini, Lattuada, Vergano dan de Santis. Di tangan mereka, kamera dianugerahi kedahsyatan sinematografi yang dengan baik termaknai, antena paling peka yang membolehkan para sutradara itu dengan sekali hentak meraih tepat pencarian mereka. Dalam Il Bandito, si tahanan sepulang dari Jerman mendapati rumahnya porak-poranda. Bangunan kokoh yang dulu tegak di situ kini tinggal tumpukan batu berkepung puing-puing tembok. Kamera memperlihatkan pada kita wajah si pria. Lalu mengikuti gerak matanya, kamera berputar 360 derajat sehingga memberi kita keseluruhan pandang. Ambilan gambar panning (melingkar) ini dua kali lipat dari yang sebenarnya. Sebab pertama ialah, pada awalnya kita berjauhan dengan sang aktor karena kita melihatnya dalam tipuan secara kamera, tapi selama ambilan gambar bergerak kita lalu menjadi teridentifikasi dengannya pada titik rasa terkejut kita saat putaran 360 derajat itu telah selesai, dan kita kembali pada wajah dengan raut kengeriannya itu. Kedua, karena kecepatan ambilan gambar panning subjektif ini beragam. Dimulai dengan gerak jatuh yang lama hingga lalu menjeda, dan perlahan-lahan mengamati tembok-tembok hangus dan hancur dengan irama yang mirip tatapan mata manusia, seolah bakal langsung teranjur oleh konsentrasinya.

Saya harus berada pada bagian tertentu dari sedikit contoh ini guna menghindari afirmasi yang benar-benar abstrak terkait apa yang saya amati, dalam artian hampir psikologis sebagai “tact/persepsi” sinematik. Ambilan gambar seperti ini dalam pengaturan gerak dinamisnya adalah milik gerak tangan membuat sketsa, menyisakan ruang dan menggurisnya di sana-sini atau menggambar sekeliling subjeknya dan melepaskannya di sana-sini. Saya memikirkan gerak lamban dalam filem dokumenter tentang Matise yang membiarkan kita mencermati kelangsungan dan keseragaman hentakan arabesque-nya, berbagai keraguan pada tangan sang seniman. Dalam perkara semacam itu gerak kamera menjadi penting. Kamera harus siapsedia bergerak atau diam. Ambilan-ambilan gambar yang menjelajah dan memutar jangan sampai mencirikan sosok dewa seperti yang mirip telah dihasilkan oleh kamera derek Hollywood. Seluruh ambilan gambar harus sejajar mata atau diambil dari satu cara pandang yang konkret seperti dari loteng atau jendela. Bicara mengenai teknis, segenap puisi tak terlupakan tentang kanak-kanak penunggang kuda putih pada Sciusca-nya De Sica, bisa disematkan ke sudut bawah kamera yang menjadikan para penunggang itu secara tampilan tegak bagai patung penunggang kuda. Dalam Sortilege, Christian Jacques punya kesulitan lebih banyak soal kuda hantunya. Tetapi segenap nilai sinematiknya tak mencegah si hewan agar beroleh tampilan prosaik dari sebuah kereta kuda yang porak-poranda. Kamera Italia mengandung kualitas tertentu kamera newsreel Bell dan Howell, yakni proyeksi tangan dan mata yang nyaris merupakan bagian yang hidup dari penjelmanya dan langsung bersesuaian dengan kesadarannya.

Sementara pada fotografi, pencahayaan hanya memainkan sedikit andil ekspresifnya. Pertama, karena pencahayaan perlu bagi studio, dan kebanyakan pemfileman dilakukan di ruangluar atau di lokasi yang benar-benar nyata. Kedua, karena kerja kamera dokumenter dimaknai dalam benak kita melalui kualitas newsreel kelabunya. Akan kontradiksilah jadinya untuk bersusah-payah dengan itu atau membuat sentuhan ulang tambahan pada kualitas plastis [mutu lentukan] suatu gaya.

Sebagaimana lalu kita demikian jauh telah mencoba perikan, gaya filem-filem Italia akan tampil secara sesuai dengan tinggi-rendah tingkat penguasaan dan keterampilan teknik maupun kepekaannya kepada keluarga mirip jurnalisme agak-sastera, kepada seni yang cerdas, menggembirakan dan hidup bahkan menyentuh, namun pada dasarnya merupakan seni yang terpencil/sendirian. Kadangkala benar hal ini kiranya, meski boleh saja dibuat peringkat-peringkat genre yang agak tinggi di dalam hirarki estetik. Maka tak adil dan tak jujurlah untuk melihat penilaian semacam itu sebagai tolok ukur terakhir atas teknik yang khusus ini. Sama kiranya pada sastera, sebuah reportase dengan etika objektivitasnya (mungkin lebih tepat menyebut etika penglihatan objektivitas) sekadar menyediakan sebuah landasan bagi estetika baru novel, menjadikan teknik para pembuat filem Italia menghasilkan filem-filem terbaiknya terutama pada Paisa dengan estetika naratifnya yang kompleks dan orisinal.[11]

Paisa jelas merupakan filem pertama yang mendekatkan ingatan kita pada sekumpulan cerita pendek. Sampai saat ini kita semata-mata mengenali filem itu sebagai jalinan sketsa-sketsa –sejenis filem begundal, andai jenis ini memang ada. Dalam rangkaian itu Rossellini menyatakan pada kita, enam cerita Pembebasan Italia. Unsur kesejarahan di sini merupakan satu-satunya kesamaan dari cerita-cerita itu. Tiga di antaranya, yang pertama, keempat dan terakhir, dipetik dari masa Resistensi (Pemberontakan). Lainnya adalah episode-episode lucu-menyedihkan-tragis yang terjadi di perbatasan penghancuran Tentara Sekutu. Pelacuran, selundupan dan nilai-nilai Fransiskan menyediakan bahan cerita. Tidak ada kemajuan lain di luar tata kronologis cerita yang dimulai dengan mendaratnya pasukan Sekutu di Sicilia. Namun landasan sosial, historis dan kemanusiaan di situ menawarkan semua itu satu kepaduan yang memadai untuk menciptakan sekelompok yang nyata-nyata seragam dalam keberagaman di situ. Di atas segalanya, daya jangkau tiap-tiap cerita, bentuknya, muatannya, serta durasi estetikanya, untuk pertama kali mengesankan secara tepat pada kita, sebuah cerita pendek. Bagian cerita para begundal Naple –ahli pasar gelap, penjual baju serdadu Negro yang mabuk– adalah kisahan luar-biasa Saroyan [novelis moderen dari Amerika Serikat]. Cerita lainnya membuat kita terbayang Hemmingway, sedangkan satu lagi lainnya (yang pertama), Faulkner. Saya tak sekadar mengacu pada suasana atau subjeknya, melainkan secara mendalam pada gaya. Sayangnya tak ada yang dapat menempatkan sekuen filem ke dalam tanda kutipan bak dalam suatu alinea hingga karenanya tiap paparan sastrawi sang sastrawan takkan utuh. Bagaimanapun, inilah episode cerita terakhir yang kini mengingatkan saya pada Hemmingway dan juga pada Faulkner:

1). –Segerombolan kecil kelompok politik Italia dan para serdadu Sekutu tengah dipasok makanan oleh satu keluarga nelayan yang tinggal di satu rumah dusun di jantung padang paya-paya Po Delta. Setelah dibekali sekeranjang belut, mereka semua lalu pergi. Tak lama kemudian, patroli Jerman mengendus kejadian itu dan mengeksekusi para warga desa.

2). –Sang opsir Amerika serta seorang partisan [pengikut partai politik] berjalan di rawa-rawa pada saat senja. Terdengar tembakan di kejauhan. Dari senarai percakapan yang sangat tidak langsung (highly elliptical) kita mengetahui bahwa si Jerman telah menembak sang nelayan.

3). –Jasad para pria dan wanita kaku terbujur di muka pondok ternak. Sore harinya, si bayi separuh bugil merengek tiada henti.
Bahkan dengan pemerian singkat semacam ini, penggalan cerita itu menguakkan lingkaran semesta –atau malahan, lubang-lubang besar. Rangkaian sekumpul adegan tersebut tereduksi ke dalam tiga atau empat fragmen pendek yang dengan sendirinya sudah cukup eliptis dibandingkan dengan realitas yang telah dipaparkan. Kita lewati saja penggal pertama yang benar-benar deskriptif. Peristiwa kedua disampaikan kepada kita lewat sesuatu yang hanya diketahui oleh para partisan itu –suara tembakan di kejauhan. Yang ketiga, dihadirkan kepada kita secara bebas bersama kehadiran para partisan. Tidak juga jelas bilakah di sana terdapat saksi-saksi atas kejadian itu. Si bayi menangis di sisi jasad ayah-bundanya. Itu faktanya. Bagaimana si Jerman tahu kalau kedua orangtua itu bersalah? Bagaimana mungkin si bayi masih hidup? Untuk filem, ini bukan masalah, apalagi seluruh jalinan kelindan adegan diungkapkan dengan cara tertentu. Terlepas dari itu, pembuat filem biasanya tidak memperlihatkan semua hal kepada kita. Soal itu memang mustahil –tetapi hal-hal pilihan sutradara serta benda-benda yang diberkaskannya cenderung membentuk pola logika melalui alur pada nalar yang dengan mudahnya melangkah dari sebab menuju akibat. Teknik Rossellini ini, tak sangsi lagi memelihara rangkaian adegan hingga bisa dipahami, meskipun hal itu tidak terkait bagai rantai terikat pada roda. Nalar mesti melompati tiap-tiap antar satu kejadian/adegan bagai seorang yang melompat dari batu ke batu saat menyeberangi sebuah sungai. Bisa terjadi kaki berpijak pada dua batu atau hilang keseimbangan lalu tergelincir. Akal bekerja sejalan dengan itu. Inti sebenarnya bukanlah pada batu yang mempersilakan kita melintasi sungai-sungai tanpa harus basah kaki, lebih dari itu ialah membagi satu buah melon yang tersedia dan mempersilakan sang kepala keluarga membaginya rata. Fakta adalah fakta, dan imajinasi kita memanfaatkannya, tetapi fakta-fakta itu tidak hadir inheren bagi tujuan ini. Dalam skenario, biasanya ambilan gambar fakta-fakta (merujuk proses yang mirip pada bentuk novel klasik) muncul dari amatan kamera, dipecah, dianalisis, lalu ditempatkan kembali serempak tanpa menghilangkan sifat faktual keseluruhannya; tapi ambilan paling belakangan itu –anggaplah– terbungkus oleh abstraksi seperti sepotong bata terbungkus oleh tembok yang belum lagi ada tapi kelak akan membiakeratkan susunan-susunannya. Bagi Rossellini, fakta-fakta itu mengartikan namun bukan semacam perangkat fungsional yang sudah duluan menentukan bentuknya. Fakta-fakta itu saling menguntit, dan benak kita dipaksa mengamati kesamaannya; dengan demikian, seraya saling mengingat pada yang lain, fakta-fakta itu usai dengan saling memaknai sesuatu yang inheren di dalam dirinya sendiri serta apa yang, katakanlah, merupakan moral cerita –pesan yang tak gagal dicerna akal sebab ia dijumput dari realitas itu sendiri. Dalam episoda Florentine, si wanita melintasi kota yang masih dikuasai segerombolan Jerman dan kelompok-kelompok Fasis Italia; bertemankan pria yang juga tengah mencari anak-isterinya, dia sedang di perjalanan ke tunangannya, pemimpin bawah tanah Italia. Perhatian kamera mengikuti langkah demi langkah keduanya meskipun akan berbagi semua kesulitan yang ditemui, segala bahaya, yang bagaimana juga akan terungkapkan di tengah pengalaman para tokohnya berikut serba-keadaan yang mesti hadapi. Sungguh, segenap kejadian dalam episoda Florensia pada perjuangan Pembebasan itu sama-sama penting. Pengalaman-pengalaman pribadi kedua individu [”aku”] di situ melebur ke dalam pengalaman-pengalaman massa [”aku-aku”], sama seperti saat seseorang mencoba menuntun jalan orang lain ke tengah kerumunan untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang dari diri orang itu. Dengan cara menciptakan suatu jalur, orang melihat di mata kerumunan itu menyisihnya bayang-bayang pertimbangan lain, hasrat-hasrat lain, bahaya-bahaya lain, mengiringi dirinya  sendiri yang mungkin saja sungguh menyedihkan. Pada akhirnya secara kebetulan, si wanita mengetahui dari partisan yang terluka bila pria tercarinya itu telah tewas. Tapi pernyataan saat dia tahu kabar itu tak langsung tertuju kepadanya –melainkan menimpanya bak peluru nyasar. Kesempurnaan dialog yang mengiringi narasi di sini tak meminjam pada bentuk-bentuk klasik yang merupakan bakuan bagi cerita semacam ini. Perhatian tak pernah terpusatkan artifisial pada si tokoh wanita. Kamera tidak menciptakan pandangan subjektif secara psikologis. Kita berbagi keharuan lebih-besar pada tokoh utama karena telah memudahkan kita memahami perasaan mereka; di samping karena aspek keharuan pada episode ini tidak diturunkan dari fakta bahwa si wanita sudah kehilangan pria tercintanya, melainkan dari ruang istimewa genggaman drama ini di antara beribu-ribu lainnya terlepas dari –meski tetap juga bagian– keutuhan drama Pembebasan Florensia. Kamera, yang seolah ingin memberi laporan pandangan mata terbatas dalam mengikuti pencarian si wanita terhadap prianya dan menyeret beban tersendiri pada kita dalam memahami perasaannya dan berbagi duka.

Pada episode akhir mengesankan tentang para partisan yang terkepung di padang paya-paya Po Delta, gambar membentang ke keluasan cakrawala hingga cukup tinggi untuk menyembunyikan si pria merangkak ke lambung sampan dan daur ombak menghantam pohonan, yang kesemua itu mengikatkan lokasi sama pentingnya dengan manusia. Andil dramatik yang ditampilkan melalui rawa-rawa ini banyak meminjam kualitas-kualitas terencana di dalam fotografi. Maka cakrawala di situ selalu berada pada ketinggian yang sama. Membiarkan kesamaan proporsi antara perairan dan langit di setiap ambilan gambarnya, terungkaplah salah satu ciri hakiki panorama ini. Di bawah kondisi-kondisi kebutuhan pada layar, kesamaannya itulah yang berasal dari lubuk rasa pengalaman manusia yang tinggal di antara langit dan perairan, dan hidup dalam belaskasih alun terkucil (infinitesimal) dihubungkan dengan cakrawala. Ini menunjukkan betapa detil raut wajah dapat mengungkapkan ruang-ruang luar pada kamera di tangan sang sinematograf Paisa.

Satuan naratif sinematik pada Paisa bukanlah “ambilan gambar”, yakni pandangan abstrak tentang sebuah realitas yang sedang dianalisis, melainkan “fakta.” Satu kepingan realitas konkret pada dirinya sendiri tergandakan dan sepenuhnya mendua di mana arti hanya muncul setelah fakta, berbaik pada tekanan fakta-fakta lain spasial/terjeda di mana akal menguatkan kaitan-kaitan tertentunya. Tak sangsi, sang sutradara telah memilih “fakta-fakta” ini secara teliti seraya di saat itu juga menghargai integritas faktualnya. Tangkapan gambar-dekat gagang pintu yang teracu pada adegan awal, sekurangnya adalah sebuah fakta ketimbang sebuah perlambang yang membawakan bantuan arbitrer melalui kamera, dan tak lebih bebas semantik ketimbang preposisi pada sebaris kalimat. Kebalikannya dari itu, dibenarkan atas paya-paya dan kematian para petani.

Tetapi sifat dari “fakta-fakta gambar” tak sekadar memelihara fakta-fakta gambar lain, hubungan-hubungan yang dibentuk oleh akal. Semuanya ini ada dalam terpahaminya benda-benda sentrifugal pada gambar-gambar –yakni semua yang memungkinkan terciptanya narasi. Tiap-tiap gambar dengan sendirinya hanyalah satu kepingan realitas yang tampak sebelum arti apapun, sehingga bidang sepenuh layar harus menjelaskan tingkat kekonkretan yang sama. Kembali di sini kita memegang kebalikan dari layar “gagang pintu” semacam ini, pada warna enamel-nya, lekatan debu sekujurnya, kilauan logamnya, tampilan kacau-balau yang hanya terdiri dari begitu banyak fakta tanpa guna, sungguh benalu-benalu abstraksi yang pantas disingkirkan.

Pada Paisa (saya ulangi bahwa yang saya maksud di sini seluruh filem Italia dalam beragam tingkatan) tangkapan gambar-dekat gagang pintu itu dapat diganti tanpa kehilangan kualitas tak biasanya yang merupakan bagian darinya, melalui “fakta gambar” sebuah pintu yang ciri-ciri konkretnya akan sama saja terlihat. Untuk alasan itu pulalah para pemain takkan terpikir untuk memisahkan penampilan mereka dari dekorasi dan dari penampilan rekan main lainnya. Manusia sendiri sekadar sepotong fakta di antara yang lain-lain, bagi siapa kepongahan akan kedudukan tak semestinya a priori diserahkan. Itu sebabnya para pembuat filem Italia sendiri mengenal betul bagaimana caranya berhasil menangkap gambar bis-bis, truk atau kereta, karena panorama ini tepatnya dipadukan demi terciptanya penghayatan mendalam pada bagan kerja yang mereka kenali betul cara memperlihatkan suatu adegan tanpa memisahkannya dari isi serta tanpa menghilangkan kualitas unik manusia yang merupakan kesatupaduannya. Kerincian dan kelenturan gerak di dalam ruang-ruang tak beraturan ini, kewajaran tingkah-laku tiap-tiap orang di tempat ambilan gambar, menjadikan pembuatan gambar-gambar ini saat-saat menakjubkan yang luar biasa bagi sinema Italia.

Realisme Sinema Italia dan Teknik Novel Amerika

Tak tertulisnya samasekali pendataan filem, mungkin saja terjadi berlawanan dengan kejelasan pemahaman atas apa-apa yang sudah saya tuliskan sejauh ini. Saya telah tiba pada titik pencirian yang sama antara gaya Rossellini pada Paisa dengan Orson Welles pada Citizen Kane. Lewat pertentangan diametrik jelujur/jalinan teknik masing-masing hingga skenario dengan prakira pendekatannya yang sama kepada realitas –yaitu kedalaman fokus Welles serta kecenderungan atas realitas pada Rossellini. Pada keduanya, kita mendapati ketergantungan yang sama dari pemerannya yang berkaitan dengan tata letakan, kesamaan akting realistiknya, yang diperlukan pada setiap pemeran dalam segala kepentingan dramatik adegan mereka. Meski gaya keduanya demikian berbeda, pada dasarnya tetap lebih baik narasi mengkuti pola yang sama pada Citizen Kane atau Paisa.

Singkatnya, meski mereka berdua memakai teknik-teknik bebas tanpa sedikitpun kemungkinan saling pengaruh penyutradaraan di antara keduanya, dengan temperaman masing-masing yang tak bisa saling dipadankan, Rossellini dan Welles –dengan serba masksud dan tujuannya– memiliki kesamaan dasar objektif estetika, yakni konsep estetik realisme yang sama.

Saya punya waktu memadai kala menonton filemnya guna membandingkan narasi Paisa dengan sejumlah novelis dan para cerpenis moderen. Apalagi, kemiripan antara teknik Orson Welles dengan novel Amerika terutama karya Dos Passos, bagi saya kini cukup terang untuk menjelaskan tesis saya. Estetika sinema Italia, setidaknya dalam pengejawantahan paling rumitnya dan dalam karya seorang sutradara yang sangat sadar akan medium sepertihalnya Rossellini, begitu setara dengan filem novel Amerika.

Mari kita pahami dengan jelas bila di sini kita berhadapan dengan sesuatu yang berlainan daripada adaptasi biasa. Pada kenyataannya, Hollywood tak henti-hentinya mengadaptasi novel-novel Amerika untuk difilemkan. Kita tahu apa yang dilakukan Sam Wood dengan For Whom the Bell Tolls [novel “Demi Siapa Genta Bergema”-nya Hemmingway]. Pada dasarnya, keinginannya ialah mengisahkan kembali alur cerita. Bahkan meskipun dia sangat ketat pada aslinya, kalimat demi kalimat, dia tidak akan –untuk bicara apa adanya– memindahkan apapun dari novel ke dalam layar. Bisa dihitung jari satu tangan, filem-filem yang berhasil menerjemahkan gaya novel ke dalam gambar-gambar, dan dengan demikian saya maksudkan bahan utama narasi, hukum gravitasi yang mengatur tata fakta-fakta, pada Faulkner, Hemmingway, dan Dos Passos. Kita mesti menanti Orson Welles untuk menunjukkan seperti apakah kiranya sinema novel Amerika itu.[12]

Maka kemudian, sementara Hollywood mengadaptasi wiracarita demi wiracarita, serentak itu pula ia bergeser menjauh dari semangat sastrawi ini, pada Italialah tentu yang dengan mudah mencegah serba gagasan tentang pembebasan dan peniruan terencana, tempat sinema sastra Amerika menjadi nyata. Tidak disangsikan, kita tak bisa merendahkan ketenaran novelis Amerika di Italia, tempat karya-karya mereka diterjemahkan lalu teradaptasi dengan sendirinya jauh sebelum di Prancis, dengan misalnya pengaruh Saroyan pada Vittorini yang bukan lagi rahasia. Sertamerta akan saya petikkan dengan mengacu pada kaitan sebab-akibat yang tak menentu ini, rasa sejawat luar biasa dua peradaban ini sebagaimana terungkapkan dalam pendudukan Sekutu. Sang G.I. [General Infantery=Jenderal Infantri] merasa seolah di rumah sendiri begitu sampai di Italia, dan si paisan langsung punya saling pengertian dengan sang G.I. hitam maupun putih. Maraknya pasar gelap dan di mana-mana muncul prostitusi ke manapun serdadu Amerika pergi, tak sekadar contoh kecil yang meyakinkan hubungan timbal-balik kedua peradaban. Bukan tanpa maksud, bila serdadu-serdadu Amerika merupakan sosok-sosok penting di banyak filem terbaru Italia, tempat mereka lantang bersuara layaknya di kandang sendiri.

Meski sudah terbuka sejumlah jalan oleh sastra dan pendudukan, fenomena ini tak dapat diterangkan pada tataran ini saja. Filem-filem Amerika kini dibuat di Italia, meski tak pernah filem Italia semacam langsung menjadi lebih Italia. Sosok-sosok acuan yang saya sebutkan, dengan agak bertikai, telah mengesampingkan kemiripan, misalnya “cerita” Italia, commedia dell’arte dan teknik fresco (lukisan dinding). Lebih dari saling pengaruh, ini adalah harmonia antara sinema dan sastera berdasarkan pada pendalaman data-data estetiknya, pada kesamaan konsepsinya antara seni dan realitas. Cukup lama sudah sejak novel moderen menciptakan revolusi realismenya karena penggabungan paham perilakunya, suatu teknik kewartawan berikut etika kekerasan. Jauh dari sinema yang memiliki dampak sekecil apapun pada evolusi ini sebagaimana kini kukuh tergenggam, filem seperti Paisa membuktikan bahwa sinema berada duapuluh tahun di belakang novel masakini. Sinema Italia tidaklah kecil nilainya manakala sanggup menemukan kesetaraan sinematik yang sejati bagi revolusi sastrawi terpenting pada zaman kita.


(From the writing of Andre Bazin, “An Aesthetic of Reality: Neorealism [Cinematic Realism and the Italian School of the Liberation]”, in What is Cinema? Volume II, Selected Essays, translated in English by Hugh Gray, University of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1971, pgs. 16-40. Translation in Bahasa Indonesia by Mirza Jaka Suryana)


[1] Centro Sperimentale di Cinematografia: pusat pendidikan sinematografi yang berdiri pada tahun 1935 di masa Mussolini. Sedangkan Institute des Hautes Etudes Cinematographiques, pendidikan tinggi sinematografi didirikan di Paris pada 1943.

[2] Filem karya sutradara perintis dari Prancis, Jean Renoir, yang besar dan tak terbantahkan pengaruhnya pada sinema Italia. Ia hanya dapat dibandingkan dalam hal segenap pendekatannya dengan sutradara lain filem Prancis, Rene Clair.

[3]  Pengarang drama The Barber of Seville dan Figaro, di mana yang terakhir menyingkap kemampuan Beaumarchais mengkritik masyarakat Prancis di saat-saat akhir ancien regime (rezim kuno) secara cerdas dan satir. Di malam Perang Dunia II, Jean Renoir secara sadar dan berhasil menghubungkan Beaumarchais dalam filemnya, La Regle du jeu.

[4] Saya amat terbuka bahwa kecerdasan andil politik lebih-kurang ditutupi secara sadar di bawah sumbangsih komunikatif ini. Kelak bisa saja terjadi, sang pastor dalam Roma Citta Aperta dan si Komunis bekas anggota Pemberontak tidak seiring-sejalan lagi. Bisa saja terjadi, sinema Italia segera menjadi politis dan partisan. Pada semuanya itu, bisa saja ada sekian kecil justa yang disembunyikan di suatu tempat. Kecerdasan filem Paisa yang pro-Amerika itu ambilan gambarnya oleh kaum Kristen Demokrat dan Komunis. Namun ini bukanlah suatu kebodohan, sekadar soal kepekaan menerima karya sebagai adanya. Saat ini sinema Italia lebih sosiologis ketimbang politis. Dengan ini saya artikan bahwa realitas-realitas sosial konkret itu sebagai kemiskinan, di mana pasar gelap, pemerintahan, prostitusi dan pengangguran tak tampak diberi tempat dalam kesadaran umum nilai-nilai a priori politik. Filem-filem Italia jarang mengatakan pada kita partai politik sang sutradara maupun kepada siapa ia bermaksud menyanjungnya. Kondisi ini tak sangsi lagi diturunkan dari temperamen etnik, tapi juga diturunkan dari situasi politik Italia serta apa yang menjadi kebiasaan dalam partai Komunis di semenanjung tersebut.
Memisahkan asosiasi politiknya, sinema humanisme revolusioner ini memiliki sumber-sumber yang setara dengan pertimbangan tertentu bagi individu; massa itu tidak lebih dari sesuatu yang jarang dipertimbangkan sebagai daya sosial positif. Massa lazim disebut-sebut dengan niat menunjukkan watak perusak dan buruk mereka vis-à-vis tokoh-tokoh utama: tema seorang manusia di tengah kerumunan (aku-massa). Dari pijak pandangan ini dua filem penting terbaru Italia, Caccia tragica dan Il sole sorge ancora, merupakan pengecualian yang signifikan, mungkin menandakan satu kecenderungan baru.
Sutradara De Santis yang bekerja erat dengan Vergano sebagai asistennya di Il sole sorge ancora adalah satu-satunya sutradara yang pernah mengambil sekelompok orang, sebuah kolektif, sebagai protagonis drama.

[5] Awalnya adalah penyanyi terkenal di Trastevere –Roma, tempat yang sepadan Montmartre –Paris atau Cockney –London.

[6] Bid’ah oleh karena realitas tidak dicerminkan sebagaimana mestinya dilakukan sinema. Cukup aneh Eisenstein dan Bazin seiya mengecam ekspresionisme meski gagasan realisme sinematik keduanya tak sepenuhnya sama. Eisenstein mengatakan, “Aku bukan seorang realis, aku seorang materialis.” (catatan Hugh Gray, penerjemah edisi bahasa Inggris atas esai Andre Bazin).

[7] Prisma enam bidang yang tiap bentuk permukaannya seperti berlian. Anggapannya, di sini Bazin berharap menawarkan metafora konkret bagi konsepsinya soal ruang filem sebagai entitas (wujud) paling nyata dengan batasan-batasan yang bisa divisualisasikan secara ketat.

[8] Masalahnya merumit saat kita berhadapan dengan penataan kota. Di sini orang-orang Italia berpihak pada nilai kegunaan mutlak. Kota Italia, kuno atau moderen, luar biasa fotogenik. Karena keantikannya, perencanaan kota Italia tetaplah teatrikal dan dekoratif. Kehidupan kotanya adalah hiasan, sebuah commedia dell’arte (lawakan para seniman), di mana panggung orang-orang Italia menjadi tempat kesenangan sendiri. Bahkan wilayah-wilayah termiskin kotanya, kelompok perumahan bak karangnya, untunglah teras-teras beserta balkon-balkonnya, menawarkan banyak kemungkinan luarbiasa bagi mata. Pekarangannya merupakan rangkaian gaya zaman Elizabeth di mana pertunjukan dilihat dari bawah, dan para penonton di galeri menjadi aktor-aktor drama komedi. Dokumenter puitis yang dipertunjukkan di Venezia seluruhnya berisikan dari satu kelompokan ambilan-ambilan gambar pekarangan-pekarangan. Apa lagi yang bisa Anda katakan saat fasad-fasad teatrikal palazzi menggabungkan kerja efek-efek itu bersama arsitektur mirip panggung dari rumah-rumah orang miskin? Tambahkan di sini sinar mentari dan tak adanya mendung (musuh utama pengambilan gambar luar ruang), maka Anda bisa terangkan mengapa ruang-ruang luar urban dalam filem-filem Italia lebih menakjubkan dibanding yang lain.
[9]
Dalam L’Etranger (Orang Asing) Camus, misalnya, Sartre dengan jelas menunjukkan hubungan antara metafisika sang pengarang dengan penggunaan berulang aturan sasterawi lama sebagai sekalimat modal singular (tunggal) kemiskinan.

[10] Hampir semua ucapan terimakasih setiap filem Italia tertulis di bawah tajuk lusinan nama baik “skenario”. Ini mendesakkan bukti adanya kolaborasi yang tak perlu terlalu ditekankan. Ia dimaksudkan sebagai tawaran terbuka jaminan politis bagi para produser. Biasanya memuat seorang Kristen Demokrat dan seorang Komunis (sama seperti dalam filemnya, terdapat seorang Marixs dan seorang pendeta); penulis naskah yang ketiga punya reputasi bagi konstruksi cerita; yang keempat, pria pendiam; kelima, karena seorang penulis dialog yang bagus; keenam, karena dia punya perasaan mendalam pada kehidupan. Alhasil tidak lebih baik atau lebih buruk ketimbang bila cuma ada satu penulis naskah; tetapi gagasan Italia akan satu skenario yang cocok dengan konsep paternitas kolektif mereka didasarkan pada kontribusi gagasan masing-masing orang tanpa adanya kewajiban dalam peranan apapun yang akan dipakai oleh sang sutradara. Jauh dari metode himpunan para penulis skenario Amerika, kesalingtergantungan yang improvisasif ini mirip seperti pada commedia dell’arte atau jazz.

[11] Pada titik ini saya takkan mengarah pada alasan historis tentang muasal atau lataran “novel reportase” abad kesembilan belas. Apalagi novel-novel Stendhal atau para naturalis lainnya terkait dengan keterbukaan, ekstremitas dan kecermatan pengamatan, bukannya dengan apa yang dengan tepat disebut objektivitas. Fakta-fakta itu sendiri belum memerlukan otonomi ontologis semacam ini, yang darinya terciptalah serangkaian monada yang terjaga, dan secara ketat dibatasi sendiri oleh kehadirannya.

[12] Pada beberapa kejadian, sinema di satu sisi telah sedemikian dekat dengan kebenaran-kebenaran ini, contohnya dalam hal Feuillade maupun Stroheim. Yang terbaru, Malraux sejelasnya memahami kaitan antara gaya novel tertentu dengan narasi filem. Akhirnya, secara naluriah dan berkat kecerdasannya, Renoir sudah menerapkan itu dalam filem La Regle du jeu–nya, saripati gagasan kedalaman fokus dan presentasi simultan seluruh pemeran di dalam filem. Ia telah menjelaskan ini dalam satu artikel profetik (visioner) pada 1938 di jurnal Point.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 05 November 2008 14:41
 

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136849

More.Articles_!

Ariani Darmawan: Independent Bioscope as Struggle
Tuesday, 12 August 2008

The independent bioscope emerges as a form of struggle from majority of bioscopes. But what fight it is exactly? Probably none, because speaking about struggle in films which calls independent in Indonesia might be complicated and end up to nowhere....

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Thursday, 12 June 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

Religion, Politics, and Povertization in Los Olvidados
Tuesday, 16 December 2008

Los Olvidados is a work of one of the surrealist movement figures, Luis Bunuel. Born in Spain, 22 February 1900, grow in Mexico. Luis Bunuel finish Los Olvidados in 1950. This picture become one important work that inspire many pictures around the...

Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity
Wednesday, 27 May 2009

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films. One of Mexico’s prominent filmmakers. He began to make films following the massacre at Tlatelolco,...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Wednesday, 19 May 2010

Read original article   Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak...

Der Letztze Mann: The Independence of Murnau’s Cinema
Thursday, 17 December 2009

In a scene, a doorman attends to the entrance of a luxurious hotel; dignified in gesture, alert and ready to serve every guest. A very friendly figure among the hustling hotel guests. At one time, two ladies are exiting. It’s a little rainy when...

Two Sides of Film Competition Arrangement
Monday, 01 December 2008

Having trauma to the pressure of two fascist states, Germany and Italia, at the selection of Venice Film Festival in the last 1930’s, Jean Zay, French Minister of Education, decided to held a festival in France. By then, precisely in 1939, Luis...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Saturday, 06 March 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) “Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel...

The Wind Will Carry Us: Communication Redefined
Tuesday, 15 July 2008

A machine from modern civilization, consists of modern men crossing the winding cracking hills road to find hard location and no sure direction except for the signs of nature. The location to find is somehow remote. Color gradation on the sun...

Lightly Reflecting the World’s History of Visual Art through 70 Million Video
Wednesday, 10 March 2010

There’s so much one can do upon reflecting history. In the Western world, interpretation of cultural history continues to roll until today. It’s the essence of cultural history: to be reinterpreted continuously by consecutive generations. The...

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Saturday, 03 July 2010

Read original article   Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah...

Part-time Work of a Domestic Slave: Repositioning of Cinema and Audience in a New Discourse Development
Friday, 24 July 2009

Part-time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) tells the story of Roswitha Bronski who works to support the family while her husband, Franz Bronski, busies himself with chemistry researches in order to fulfill his...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Monday, 26 January 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Jean Epstein: First Avant-garde Director
Wednesday, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) One of the foremost directors of the French silent cinema, Epstein is also remembered as a cinematic theorist whose writings such as Ecrits sur le cinema examined the philosophical impact of film. Epstein's works, considered...

Reality in Ladri di Biciclette
Thursday, 28 August 2008

QueriesLast night was my numerous silenced on one of the Italian neorealism, Ladri di Biciclette (1948), a film by Vittorio de Sica from the script of Cesare Zavattini. I was stunned in the film exposes on the reality of post-war Italian society....

Ten Directors From The Ten Years of Political Reform
Thursday, 12 June 2008

The political reform of 1998 is an important history in the life of Indonesian. The current of changes occurs everywhere. But, after ten years, what can we achieve? The film screenings of ten years political reform has trying to open the space...

Maklumat Filem Bersuara
Monday, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Silent Film Orchestration at Gedung Kesenian Jakarta
Thursday, 12 June 2008

Originally, silent film was simply tracked by a single pianist as its sound theme. Then, in its development, silent film follow by an orchestra. Newest compositions are then, perform. Last wednesday, May 14th 2008, an ensemble from Vietnam...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Thursday, 15 January 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Comedy: Leave go of Sociopolitical Anxiety
Monday, 03 August 2009

The opening of OK. Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 held in the National Gallery, Jakarta on July 28, 2009, was jam-packed. That night, Hafiz, Festival Director, along with Tubagus “Andre” Sukmana (Director of Indonesia...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Thursday, 03 September 2009

Compiled by Jurnal Footage It was a great shock, having heard the news about the tragic murder of one of the best Southeast Asia Film Critics, Alexis A. Tioseco. He was so young. So passionate. When it come to talk about film, he will eagerly...

Revolutions Happen Like Refrains in a Song*
Thursday, 03 September 2009

*(Or rather, are declared as often):Amidst a State of Dependence, A New Philippine Cinema is Born.The term independent once meant something in Philippine Cinema. It was reserved for such luminaries as Rox Lee (the great animator), Raymond Red (the...

Elida Tamalagi
Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge exigency is not supported by the aspirant management of the movie place. The activity of screening...

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Friday, 12 June 2009

(only available in Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Monday, 26 July 2010

Exhibition7-13 August 2010, 10am-5pm (Sunday closed) VenueGoethehausJl. Sam Ratulangi No. 9-15 Menteng, Jakarta Pusat OpeningFriday, 6 August 2010, 7pm Videotalk with Anggun Priambodo (music video maker) and Indra Ameng (curator)Friday, 6 August...

Berita Gempa
Thursday, 01 October 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net