I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Maklumat Filem Bersuara PDF Print E-mail
Written by S.M. Eisenstein, V.I. Pudovkin dan G.V. Alexandrov   
Monday, 24 November 2008 16:15

(This article is a translation and not available in English)

Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula, Jerman kini juga tengah giat-giat membuatnya. Seluruh dunia sedang membicarakan benda-bisu ini yang sudah belajar bicara.

Kita semua yang berkarya di Republik Sosialis Uni Soviet sadar bahwa dengan kemampuan teknik kita, kita tidak dapat maju mewujudkan filem bersuara di masa depan yang dekat ini. Di saat yang sama,kami pertimbangkan itu sebagai kesempatan untuk menyatakan sejumlah alasan dasar soal wahana teoretis guna perhitungan munculnya penemuan tersebut, yaitu bahwa kemajuan di filem ini sudah jadi kerja salah arahan. Sementara salah pandangan atas kemampuan yang sejalan penemuan teknik baru itu mungkin tidak hanya menghalang pengembangan dan penyempurnaan sinema sebagai seni, tapi juga ancaman yang bisa menghancurkan segenap pencapaian resmi kita saat ini.

Filem, yang sekarang bekerja dengan imaji-imaji [citraan] visual, punya dampak yang sangat kuat terhadap manusia sekaligus punya hak penuh mencapai kedudukan utama di antara seni-seni yang lain.

Sudah diketahui bahwa makna dasar (dan satu-satunya) yang telah membawa sinema pada daya pengaruh sangat kuatnya ialah MONTASE. Kekuatan montase sebagai makna terdepan atas pengaruh ini, jadi kata-pembenar tak-terbantahkan bagi dunia luas pembangunan kebudayaan sinema.

Pada tingkatan terpenting, keberhasilan filem-filem Soviet di layar dunia merupakan hak bagi metode-metode [tatacara] montase yang mulai diadakan dan dikonsolidasikan.

Karena itu, demi pengembangan sinema selanjutnya, masa terpenting satu-satunya ini adalah perluasan dan penguatan metode montase yang dapat mempengaruhi penonton. Dari sudut-pandang ini, pengujian tiap penemuan baru akan mudah menunjukkan tidak bermaknanya filem berwarna dan stereoskopi dibandingkan dengan besarnya makna SUARA.

Rekaman-suara merupakan penemuan sampingan dan paling memungkinkan untuk terus digunakan selama garis pertahanan itu melemah, atau selama rendahnya garis pemuasan keingintahuan.

Di tahap awal akan terjadi eksploitasi komersial [pencarian keuntungan] barang yang paling bisa dijual: FILEM BICARA. Dengan rekaman suara, barang itu akan sampai pada bentuk naturalistiknya di layar, tepatnya, kaitannya dengan gerak dan bukti kepastian ”ilusi” dari sosok-sosok yang berbicara, benda-benda yang bersuara dan sebagainya.

Masa awal dari kegemparan itu tidak merusak pengembangan seni baru ini, melainkan masa tenang berikutnyalah yang mencemaskan, masa yang akan mengisi rusaknya kemurnian dan terangnya tangkapan awal peluang teknik baru itu yang dapat mempertegas zaman penggunaan otomatisnya demi ”ketinggian drama budaya” zaman ini maupun tampilan fotografis lain dari sejenis sandiwara.

Dengan cara itu, penggunaan suara dapat menghancurkan kebudayaan montase, karena tiap TEMPELAN suara pada sepotong montase visual memperbesar kebekuannya sebagai montase dan memperbesar kebebasan maknanya –yang niscaya merusak montase, dan bukan pengerjaan langsung atas potongan-potongan montase, melainkan pada PERANGKAIAN-nya.

HANYA PENGGUNAAN CONTRAPUNCTAL suara terkait dengan potongan montase visual sajalah yang bisa menguntungkan kemampuan baru pengembangan dan penyempurnaan montase.

KARYA AWAL PERCOBAAN DENGAN SUARA HARUS TERARAH DI SEPANJANG GARIS ANTARA SUARA LANGSUNG DENGAN CITRAAN-CITRAAN VISUALNYA. Dan hanya gempuran semacam inilah yang dapat menghasilkan kejelasan penting yang kemudian menuju pembentukan ORKESTRASI TAMBAHAN dari citraan-citraan visual dan aural.

Penemuan teknik baru ini bukan peristiwa kebetulan sejarah filem, melainkan jalan keluar alamiah [organis] atas segala kebuntuan beruntun yang terasa berisi keputusasaan atas budaya sinema garda-depan.

KEBUNTUAN PERTAMA adalah tema peniruan yang sama-sekali merupakan upaya sia-sia untuk mengaitkannya dengan komposisi montase sebagai potongan montase (seperti membedah kalimat atau kata-kata, peningkatan dan penurunan luas tipe yang terpakai, jalannya gerak kamera, animasi dan sebagainya).

KEBUNTUAN SUARA adalah potongan-potongan PAPARAN (contohnya, sisipan close-up tertentu) yang membebani komposisi montase dan melambankan alur-waktu.

Tugas tema dan cerita kian pelik setiap waktu; upaya-upaya guna memecahkan hal itu dengan metode montase ”visual” lain itu sendiri mengarah pada masalah yang tak terselesaikan atau memaksa sutradara agar mengandaikan penempatan struktur [bangunan] montase yang pada akhirnya menerbitkan kekhawatiran atas kemerosotan dan kereaksioneran yang tanpa guna.

Penempatan suara sebagai unsur montase baru (sebagai faktor terpisah dari citraan visual) atas makna baru tak terhindarkan dari kekuatan luar-biasa ungkapan seni dan jalan-keluar upaya terpelik itu, kini menekan kita dengan mustahilnya penanganan lewat makna dari metode filem yang tak sempurna, yang bergerak hanya dengan citraan visual semata.

METODE CONTRAPUNCTAL penciptaan filem-bersuara bukannya tidak melemahkan SINEMA DUNIA, kecuali membatasi peredarannya di dalam negeri, dibanding sebagaimana dulu terjadi dengan pemfileman drama-panggung namun telah dapat memberi kemungkinan bagi persebaran gagasan-gagasan ekspresi filmis ke sepenjuru dunia.

Penandatangan:
S. M. Eisenstein
V. I. Pudovkin
G. V. Alexandrov
_________________

[catatan : ”Maklumat” bersama yang bersejarah ini secara umum mengajukan kewajiban insiatif dan tersusun dari ketiga penandatangan pertama di atas dan diakhiri oleh dua penandatangan lain; naskah ini pertama kali terbit di Leningrad dalam majalah Zhizn Iskusstva, 5 Agustus 1928. Sebelum itu, naskah utuh berbahasa Inggrisnya diterjemahkan dari susulan terbitnya pernyataan ini dalam bahasa Jerman di bulan yang sama. Terjemahan yang sekarang ini adalah terjemahan pertama berbahasa Inggris yang langsung berasal dari naskah asli berbahasa Rusianya. Sebagaimana telah diandaikan dalam ”Pernyataan” itu, langkah pengembangan teknik filem-bersuara Uni Soviet berjalan lamban. Pada September tahun itu, teknologi-suara Shorin buat pertama kali dicoba di Leningrad, dan ujicoba tersebut lalu ditampilkan di Moskow pada Maret tahun berikutnya di teknologi Tager yang telah diujicoba pada bulan Juli 1929. Agustus tahun itu juga, studio Sovkino di Leningrad membangun ruang-suaranya yang pertama, yang mulai dipakai untuk mensinkronisasikan filem secara lengkap di masa itu. Seiring penayangan filem Old and New-nya Eisenstein di bulan Oktober 1929, diputuskanlah agar Eisenstein, Alexandrov dan Tisse mempelajari filem-bersuara di luar negeri.]

Diterjemahkan dari Apendix A: ”A Statement on the Sound Film” (hlm. 257) dalam Eisenstein, Film Form and The Film Sense, terjemahan bahasa Inggris oleh Jay Leyda, New York, 1958. Dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Redaksi Jurnal Footage

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Tuesday, 25 November 2008 22:38
 

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136894

More.Articles_!

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta
Monday, 13 July 2009

(Only available in Bahasa Indonesia) Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia....

Jim Henson: An Experimental Film Director, The Father of The Muppet Show and Sesame Street
Tuesday, 12 January 2010

Some time ago I was browsing new media arts networking site www.rhizome.org. Surfing the site, I stumbled upon a video uploaded by John Michael Boling entitled Time Piece (1964) by Jim Henson. This eight-minute video is one of the experimental works...

No Surprises in Sang Pemimpi
Monday, 28 December 2009

A film firstly released as an opening to the 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) was already attracting crowd even before the week of its release ended. Audience seemed to be very enthusiastic to kill their curiosity over this sequel...

Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity
Wednesday, 27 May 2009

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films. One of Mexico’s prominent filmmakers. He began to make films following the massacre at Tlatelolco,...

Der Letztze Mann: The Independence of Murnau’s Cinema
Thursday, 17 December 2009

In a scene, a doorman attends to the entrance of a luxurious hotel; dignified in gesture, alert and ready to serve every guest. A very friendly figure among the hustling hotel guests. At one time, two ladies are exiting. It’s a little rainy when...

Farah Wardani: It’s The First Visual Arts Online Archive in Indonesia
Sunday, 23 August 2009

On August 19, 2009, Indonesia Visual Arts Archive launched the first visual arts archives website in Indonesia, iclick.IVAA. On the occasion, Jurnal Footage interviewed Farah Wardani, Executive Director of IVAA. The following is our interview. Can...

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Friday, 12 June 2009

(only available in Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Maklumat Filem Bersuara
Monday, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Two Sides of Film Competition Arrangement
Monday, 01 December 2008

Having trauma to the pressure of two fascist states, Germany and Italia, at the selection of Venice Film Festival in the last 1930’s, Jean Zay, French Minister of Education, decided to held a festival in France. By then, precisely in 1939, Luis...

Rentjong Atjeh
Wednesday, 22 July 2009

(This article only available in Bahasa Indonesia) J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Saturday, 06 March 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) “Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel...

Reading Michael Haneke’s Code Unknown
Friday, 03 October 2008

Michael Haneke is probably the most interesting director in the contemporary cinema history. Born in Munich, 1942, Haneke grew in suburb Austria, Weiner Nestadt. Having learned pschycology, philoshophy and theater at the Vienna University and make...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Wednesday, 19 May 2010

Read original article   Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak...

The Endless Steps: Transaction of Sign Agreement
Monday, 24 November 2008

‘Is there any sign?’This question asked four times by a caller in the video The Endless Steps from Maulana Adel Pasha. Question which is so important for the caller to find the house. The transaction of sign thus occur. A bargain of subjective...

A Pamphlet of Our History in Ruma Maida
Sunday, 08 November 2009

Ishak Pahing dies amid a gunfire volley during an air raid of the plane he was on with his friends. This scene opens the film Ruma Maida (Maida’s House), directed by Teddy Soeriaatmadja, and as scriptwriter, Ayu Utami—the writer who shook...

Today, Short Film (Not) in the Hands of Konfiden
Monday, 23 November 2009

Time will keep an eye on them (Konfiden, Independent Film Community—ed.), their consistency and persistence will be tested, how they can stay true with their current vision. As well as how far—should there be developments—the activists remain...

Yang Muda yang Bercinta: Early Montage in New Order Regime
Wednesday, 07 October 2009

A young man rides in a bajaj with his pregnant lover, passing through Jakarta’s slums in the 1970s. Child beggars in the city’s labyrinths become a syntagmatic connection to bajaj. The young man is a university student named Sony (W. S. Rendra)1...

Elida Tamalagi
Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge exigency is not supported by the aspirant management of the movie place. The activity of screening...

Perbincangan dengan Budi Darma
Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah...

Love is Colder Than Death: Aesthetic Counterattack to Hollywood Domination
Sunday, 01 November 2009

  Bruno dies, unexpectedly, after a shoot-out with the police. Almost no destruction caused by the firing, not even bloodshed. Plot moves flat, without any pretention of emotional violence. It constructs and is a violent climax in a gangster film...

Di Dasar Segalanya: A Surrealistic Image of Anxiety
Sunday, 20 December 2009

On December 17, 2009, I had the opportunity to watch Paul Agusta’s second film, Di Dasar Segalanya (At the Very Bottom of Everything) at Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Unlike his first film, Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift),...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Friday, 24 October 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Tepian Sungai Ciujung: Ethical Strategy in Narrative and Interview Method (Part two of three)
Tuesday, 16 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the second part of the articles. The mind is yet to be free if the medium is not liberating. It’s probably in line with...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Tuesday, 19 May 2009

Sergei Eisenstein is arguably the most important single figure in the history of movies. He was certainly the most versatile. The director of the masterpieces Battleship Potemkin and Alexander Nevsky, Eisenstein also wrote ground-breaking essays on...

Under The Tree: Garin’s Failure to Renounce Modern Monism
Monday, 28 December 2009

The 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) is adorned with Indonesia Feature Film Competition (IFFC) that proved the quality of our national films in the international level. Films screened in IFFC are selected based on theme, narration,...

Religion, Politics, and Povertization in Los Olvidados
Tuesday, 16 December 2008

Los Olvidados is a work of one of the surrealist movement figures, Luis Bunuel. Born in Spain, 22 February 1900, grow in Mexico. Luis Bunuel finish Los Olvidados in 1950. This picture become one important work that inspire many pictures around the...

Lightly Reflecting the World’s History of Visual Art through 70 Million Video
Wednesday, 10 March 2010

There’s so much one can do upon reflecting history. In the Western world, interpretation of cultural history continues to roll until today. It’s the essence of cultural history: to be reinterpreted continuously by consecutive generations. The...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net