I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton PDF Print E-mail
Written by Eko Yulianto   
Monday, 26 January 2009 14:05

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…”

Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan Dian mengingatkan saya akan perayaan malam tahun baru lalu, ketika saya hanya menonton acara dangdut di lapangan voli dekat kediaman. Tiba-tiba seorang kawan menyeletuk, “mencekam nih…” Saya bingung dengan pernyataan kawan ini, akhirnya bertanya, dan ternyata “mencekam” yang dimaksudnya adalah singkatan dari “Mencari Cewek Kampung”. Mungkin karakter Dian dalam filem ini masuk kategori “cewek kampung”, meskipun di sini, Dian adalah penyanyi dari Jakarta yang sedang tur ke kampung kelahirannya.

Sebelum saya memutuskan menonton filem ini, saya sempat dilanda kebingungan. Jumat, 9 Januari 2009, sekitar pukul 16.30 WIB, temaram jingga meliputi gedung kala sore merangkak senja dan sedikit mendung. Dua kali naik kendaraan umum menuju sebuah mal di selatan Jakarta. Di dalamnya ada gedung teater yang akrab dengan sebutan bioskop berangka dua dan satu. Agak aneh melihat ABG (Anak Baru Gede) sedang menunggu antrean tiket untuk menonton. Cukup membuat kikuk ketika saya harus ikut mengantre. Pasalnya, ini kali pertama pada tahun 2009 saya nonton filem Indonesia. Di bioskop pula. Sedikit pilih-pilih dulu mau nonton apa, dan akhirnya keputusan jatuh ke filem 3 Doa 3 Cinta. Konon,  menurut seorang kawan yang terlibat dalam proses produksi filem ini, judul aslinya adalah Pesantren. Dalam filem ini, Dian Sastrowardoyo terlihat agak gemuk dan montok jika dibandingkan saat dia bermain di “Ada Apa dengan Cinta?”.

Filem 3 Doa 3 Cinta mengisahkan tiga sahabat dari Pondok Pesantren Al-Hakim, Yogyakarta –Huda (Nicholas Saputra), Rian (Yoga Pratama) dan Syahid (Yoga Bagus). Mereka memiliki kebiasaan menulis doa dan harapan di sebuah tembok. Rian memiliki ketertarikan pada dunia sinematografi. Huda memiliki kerinduan pada ibunya, yang telah meninggalkannya di pesantren sejak berumur 11 tahun. Perkenalannya dengan penyanyi dangdut amatir, Dona Satelit, memberi harapan baginya untuk bisa bertemu ibunya. Syahid adalah jemaah garis keras yang sangat ingin menjadi martir, sesuai dengan namanya. Syahid begitu benci orang yang telah membeli tanah bapaknya. Kebetulan, orang yang dibencinya berasal dari Amerika. Tanah itu terpaksa dijual untuk membayar biaya pengobatan bapaknya yang terkena penyakit ginjal. Tapi, orang yang dibenci Syahid ternyata melunasi biaya pengobatan bapaknya, bahkan dia tidak tahu bahwa orang Amerika itulah yang telah menjadi malaikat penolong bagi keluarganya. Adegan ini mungkin basi tapi lumayan membuat penonton di sebelah saya terharu.

Ketika ada nama Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo dalam filem tersebut, muncul pertanyaan di kepala, akankah aksi-aksi Nicholas dan Dian jauh lebih menarik ketimbang filem Ada Apa dengan Cinta? Setelah menontonnya, saya sedikit kecewa, sebab ternyata, dalam filem ini Dian dijadikan sekadar pemanis. Meskipun begitu, saya cukup terhibur dengan goyangan Dian di filem ini. Bahkan, adegan bergoyang Dian mampu membuat pasangan muda di samping saya tertawa keras.

Gambaran kehidupan pondok pesantren yang disajikan dalam filem 3 Doa 3 Cinta mengingatkan saya pada hal-hal seperti terorisme, pencabulan, poligami, Islam garis keras, dan kenakalan remaja. Dengan latar belakang pesantren, filem garapan Nurman Hakim ini benar-benar menunjukkan tempat yang cukup mirip dengan kehidupan nyata para santri. Mulai dari tempat tidur seadanya, makan yang dijatah dan hukuman menimba air ala pesantren. Mungkin karena sutradaranya pernah mengalami kehidupan pesantren, jadi tahu bagaimana dan apa saja kehidupan di sana. Namun sayang, saya merasa ceritanya terlalu datar dan isunya ketinggalan zaman sampai membuat saya hampir tertidur menontonnya.

Adegan pelecehan seksual di pesantren dan beberapa kenakalan santri memunculkan banyak reaksi penonton. Seperti ketika Rian menyentil kemaluan temannya yang sedang “berdiri” di balik sarung. Seorang penonton yang duduk di sebelah saya berkomentar, “Ih, jorok banget sih...” sambil menutup kedua mata layaknya sedang menonton filem horor. Beberapa penonton lain tertawa keras menanggapi adegan ini.

Mengalami itu, saya jadi berpikir, “Bagaimana jika semua penonton seperti orang yang duduk di sebelah saya?” Mungkin filem ini akan dinilai jorok. Sensor pastilah akan menjadi bahasa utama untuk menghapus kejorokan. Lalu, dilema antara norma dan estetika seni pun kembali menyeruak. Dan, pihak pembuat filem akan menjadi sasaran kritik, diprotes masyarakat karena karya mereka dianggap tidak bagus, tidak mendidik. Kenapa kita tidak menyalahkan penontonnya? Mungkin jika pihak pembuat filem atau pemilik bioskop memberi syarat-syarat untuk menonton seperti: yang berwawasan luas dilarang nonton, yang cerdas dilarang komentar, yang konvensional dilarang kritik, filem semacam ini akan aman-aman saja berlalu tanpa komentar dan kritik berarti. Bayangkan jika pada suatu saat sang sutradara filem ini nonton bersama dengan khalayak di luar kriteria-kriteria di atas? Pastinya, dia hanya mesam-mesem mendengar celotehan spontan penonton.

Filem 3 Doa 3 Cinta seakan ingin menyaingi kesuksesan filem-filem religi sebelumnya. Setelah Ayat-ayat Cinta tahun lalu, filem bertemakan religi mampu menyaingi komedi seks dan horor. Dengan embel-embel lambang festival luar negeri, filem ini berupaya untuk menarik perhatian calon penonton. Beberapa nominasi filem terbaik dan penghargaan pendukung pria terbaik di dalam dan luar negeri menjadi modal tersendiri bagi filem ini untuk bersaing di pasaran. Namun entah kenapa, embel-embel semacam itu tidak lantas membuat penonton berarak. Ya, mungkin hanya ada sekitar 20 orang saja sore itu. Banyak bangku-bangku tak terisi. Bahkan seekor anak tikus sempat lewat di sela-sela kaki penonton. Mungkin tikus itu tahu keadaan bioskop sedang sepi sampai tikus itu berani mondar-mandir di dalamnya.

Menonton filem ini, saya jadi semakin bertanya, “Sebenarnya apa yang menjadi masalah dalam filem ini?” Apakah sutradaranya yang ‘kurang berhasil’ menarik penonton atau memang penontonnya yang bermasalah dengan sang sutradara? Penonton memang berhak menilai. Penonton juga tidak bisa disalahkan saat tidak puas dengan sebuah hasil karya. Terkadang, penonton lebih mampu memaknai setiap rangkai adegan yang ditangkap retina. Bahkan objektivitas mata penonton terbangun dari mata subjektifnya. Untuk soal ini, saya tidak ingin terlalu banyak bicara, sebab yang pasti, filem 3 Doa 3 Cinta menjadi sangat sah jika dikatakan masih banyak kekurangan.

Hits
Comments
Add New Search
siapa  - kemungkinan yang terjadi   |114.121.34.xxx |2009-01-30 12:15:09
semua bisa ada kemungkinan, mungkin aja ada oknum yang punya pengalaman di lecehkan oleh guru santrinya waktu tinggal di pesantren....mungkin juga ada oknum yang menggunakan kesempatan yang ada mumpung lagi ada produser yang baik.....
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Tuesday, 28 April 2009 18:24
 

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136882

More.Articles_!

Tepian Sungai Ciujung: Awareness of Medium Ideology and Integration Beyond The Lenses
Friday, 05 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the first part of the articles.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" - Mahatma...

Der Letztze Mann: The Independence of Murnau’s Cinema
Thursday, 17 December 2009

In a scene, a doorman attends to the entrance of a luxurious hotel; dignified in gesture, alert and ready to serve every guest. A very friendly figure among the hustling hotel guests. At one time, two ladies are exiting. It’s a little rainy when...

Tarzan goes to City with Hereditary Logical Flaw
Wednesday, 17 December 2008

The film Tarzan goes to City (Tarzan ke Kota) is labeled as a remake of City Tarzan (Tarzan Kota) starred by Indonesia legendary actor, Benyamin Sueb and directed by L. Sudjio. This film has its first run on 4 December 2008.The Indonesian...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Friday, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Toshio Matsumoto (1932-)
Wednesday, 12 August 2009

7th Year Forum Lenteng
Wednesday, 14 July 2010

Happy 7th Anniversary Forum Lenteng * * * 

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Elida Tamalagi
Tuesday, 12 August 2008

Negotiate The Discourse of Audio Visual at The Alternative Bioscope   Public demand on alternative bioscopes are numerous. Unfortunately, this huge exigency is not supported by the aspirant management of the movie place. The activity of screening...

Video: The New Wave
Thursday, 31 December 2009

Tracing the Genealogy of World’s Video Art The development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art events have included video art as part of contemporary art exhibition. Video art has even invaded...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Thursday, 19 November 2009

(available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto”...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Wednesday, 19 May 2010

Read original article   Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak...

Religion, Politics, and Povertization in Los Olvidados
Tuesday, 16 December 2008

Los Olvidados is a work of one of the surrealist movement figures, Luis Bunuel. Born in Spain, 22 February 1900, grow in Mexico. Luis Bunuel finish Los Olvidados in 1950. This picture become one important work that inspire many pictures around the...

Violence in Films: Critique to the Film Kado Hari Jadi
Monday, 30 November 2009

How do we summarize violence derived from day-to-day reality? Blood! It’s the easiest language to frame the violence and sadism of an occurrence. Adding to it, gory utensils such as knife, screwdriver, hammer, and razor. Then, how do we envelop...

Perbincangan dengan Budi Darma
Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah...

Me and Periferry 1.0
Tuesday, 12 August 2008

“Through many years, at great expenses, journeying through many countries, I went to see high mountains, I went to see oceans. Only I had not seen at my very doorstep, the dew drop glistening on the ear of the corn.” –Visva Bharati.On the...

Di Dasar Segalanya: A Surrealistic Image of Anxiety
Sunday, 20 December 2009

On December 17, 2009, I had the opportunity to watch Paul Agusta’s second film, Di Dasar Segalanya (At the Very Bottom of Everything) at Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Unlike his first film, Kado Hari Jadi (The Anniversary Gift),...

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Friday, 12 June 2009

(only available in Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

Video Mashup: A Remix Culture
Thursday, 28 January 2010

Few times ago, I was shown a video from YouTube. It was a music video Metallica Tribute to Rhoma Irama1. It may sound impossible, but all my expectations turned upside down and inside out watching this video. It’s originally a video of...

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Thursday, 29 July 2010

(Available only in Bahasa Indonesia)   PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria...

Jim Henson: An Experimental Film Director, The Father of The Muppet Show and Sesame Street
Tuesday, 12 January 2010

Some time ago I was browsing new media arts networking site www.rhizome.org. Surfing the site, I stumbled upon a video uploaded by John Michael Boling entitled Time Piece (1964) by Jim Henson. This eight-minute video is one of the experimental works...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Tuesday, 19 May 2009

Sergei Eisenstein is arguably the most important single figure in the history of movies. He was certainly the most versatile. The director of the masterpieces Battleship Potemkin and Alexander Nevsky, Eisenstein also wrote ground-breaking essays on...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Wednesday, 19 August 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh...

Mimicking Mimicry: Notes on the 4th Purbalingga Film Festival 2010
Thursday, 03 June 2010

According to Teshome Gabriel, the first period of third world cinema is Hollywood films. The second is by mimicking Hollywood films, i.e. identifying themselves to Hollywood films. We can see traces of mimicry in the early production of Dutch Indies...

Interview with Bronnt Industries Kapital
Friday, 10 July 2009

Geometer: I only came to hear of Häxan through your soundtrack - it’s a great film and I was surprised I’d not heard of it. How did you first hear of the film? Guy: We were first approached to perform a live soundtrack to the film at...

Arkeologi Seni Media
Saturday, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Today, Short Film (Not) in the Hands of Konfiden
Monday, 23 November 2009

Time will keep an eye on them (Konfiden, Independent Film Community—ed.), their consistency and persistence will be tested, how they can stay true with their current vision. As well as how far—should there be developments—the activists remain...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Saturday, 22 May 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Tuesday, 15 July 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net