I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier PDF Print E-mail

Read original article

 

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson, The Passion of the Christ, menawarkan sebuah penjelajahan kekerasan yang berasal dari kisah tak sedap penebusan dosa Kristiani secara apa adanya. Jika Antichrist menawarkan kita pandangan terpotong atas jiwa tersiksa sutradaranya, maka ia adalah jiwa yang dipahat di dasar naluri Katolikisme yang lebih gelap dan hadir tanpa ragu ketimbang fantasi gemerlap Gibson mengenai penyaliban. Sejumlah kritikus di festival filem Cannes mencemooh von Trier mempersembahkan Antichrist-nya kepada Andrei Tarkovsky, dan saat melakukannya ia sudah kehilangan hubungan: sama seperti sutradara besar Rusia, von Trier memiliki kapasitas untuk menggunakan gambar bergerak sebagai ikon seluloid yang menawarkan potongan-potongan menuju kesintingan mendalam teror dan hasrat-hasrat metafisika Kristiani.

poster-antichrist

Dalam Breaking the Waves-nya von Trier, tokoh perempuan Bess (Emily Watson) adalah seorang figur seperti-Kristus, representasi mistisisme dan kegilaan mengganggu yang mengorbankan hidupnya demi menebus lelaki yang dicintainya. Ini adalah filem mengejutkan dan kontroversial, tidak terutama pada pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakannya menyoal prostitusi dan pembunuhan Bess menguatkan stereotipe seksual kasar tentang seksualitas dan kesahidan perempuan. Antichrist memaksakan pertanyaan-pertanyaan ini bahkan lebih jauh, meminta kita untuk merenungi apa artinya menggambarkan perempuan tidak sebagai figur Kristus tapi sebagai Hawa yang dalam tradisi teologis Kristiani sudah direpresentasikan sebagai personifikasi setan dan pembawa kematian pada dunia.

antichrist06-lst064548

Di abad kedua, Tertullian[1] menulis tentang perempuan: “Kalian adalah gerbang iblis: kalian pembuka pohon (terlarang) itu: kalian pengkhianat awal dari hukum ilahi: kalian adalah orang yang membujuk ia yang tidak cukup keberanian iblis untuk menyerang. Kalian menghancurkan citraan tuhan, lelaki, dengan begitu mudahnya. Atas dasar pengkhianatan kalian – maka timbullah kematian- bahkan Putra Tuhan harus mati.”  Von Trier mengajak penontonnya ke dalam pembukaan kejam dari keyakinan maskulin ini dan bencana yang mereka sebabkan dalam kehidupan perempuan.

Lars von Trier's Antichrist - Official Trailer

 

Sumber yang Taksa

Antichrist adalah sebuah alegori mitos Genesis yang mengungkapkan teror psikologis keyakinan Kristiani mengenai muasal dosa. Citraannya tidak hanya ditarik dari filem-filem horor modern tapi juga dari derasnya ketakutan akan imajinasi-imajinasi pertengahan beserta pengaruh jahat dan kekuatan Setan. Antikristus dari judul filem itu ada di mana-mana sekaligus tidak di mana-mana – kehadiran yang kental dan langka mengalir di alam, termasuk sifat dasar manusia, dan berpengaruh pada kemandulan, kematian dan pembusukan. Barangkali Antichrist juga merupakan Tuhan-putra itu sendiri, dicitrakan pada figur suami, di mana kultus misoginistiknya telah mengorbankan generasi-generasi perempuan melalui pelecehan, pembakaran dan penyiksaan, sementara memasukkan ke dalam tubuh perempuan itu sendiri sebuah perasaan bersalah dan jijik pada diri dalam pengertian yang sudah mengakar.

Filem ini dibuka dengan prolog kesedihan mendalam, difilemkan dalam hitam dan putih dan diputar gerak lambat beriramakan musik surgawi (Lascio Chi’o Pianga aria dari Rinaldo-nya Handel – “Biarkan aku menangisi nasib buruk, dan bahwa sudah lama aku ingin bebas”). Saat sang tokoh protagonis tak bernama (diperankan secara sempurna oleh Charlotte Gainsbourg dan Willem Dafoe) bercinta, anak mereka yang baru belajar merangkak menaiki ranjang dan menuruni tangga, sekilas menyaksikan tubuh-tubuh orangtuanya saling berpagut sebelum jatuh dan mati dalam salju di luar rumah. Kemudian von Trier memulai penjelajahan sisi gelap – sisi feminin- kisah penyelamatan Kristiani, memusatkan perhatian pada figur Maria/Hawa yang putranya harus mati demi penebusan manusia; tapi kenapa harus berlaku padanya?

1258060238-scene-from-antichrist-200-001

Perempuan von Trier adalah Madonna dan pelacur, seorang lembut dan pietà[2] menyesakkan serta penggoda banyak mau yang juga mematikan. Dalam kilasbalik kita melihat bagaimana, musim panas sebelum kematian anaknya, ia membawanya ke dalam kabin di kedalaman rimba yang dikenal sebagai “Firdaus” untuk mengerjakan tesis doktoralnya. Topiknya adalah gynosida – sebuah istilah yang diciptakan feminis untuk merujuk pada penistaan dan pembunuhan kaum perempuan, khususnya dalam tradisi Kristiani. Saat ia mempelajarinya ia menjadi yakin bahwa pengetahuan yang dicarinya adalah kebohongan, dan bahwa perempuan memang benar bersalah dan dipersetankan sebagaimana dituduhkan. Dan begitulah ibu muda ini menjadi Hawa-nya von Trier, pencari pengetahuan terlarang, pembawa kematian, pemikul dosa ras manusia, penyebab kematian Putra Manusia.

Suaminya seorang terapis yang memutuskan untuk memegang kendali atas rehabilitasi istrinya, menawarkan dirinya sebagai pandita-aku dan penyelamat saat ia terjun ke kedalaman kesedihan dan kegilaan tak tertahankan atas kematian anaknya. Saat perempuan itu mengakui ketakutannya pada rimba, sang terapis memaksa mereka pergi kesana agar sang istri bisa menghadapi dan merasionalisasi ketakutannya. Jadilah pasangan manusia ini –Adam dan Hawa, setiap lelaki dan setiap perempuan- melintasi jembatan yang diperlambangkan sebagai batasan antara kebudayaan dan alam, rasio dan kekacauan, kewarasan dan kegilaan: jembatan menuju neraka. Narasi filem terpotong saat von Trier mengambil nalar manusia khas “barat”-nya ke dalam mimpi-mimpi buruk dari ketakutan paling menyiksa dan irasional – rawa kekerasan seksualitas perempuan dan kebiadaban alam.

von_trier_antichrist_2

Ada beberapa adegan di mana sang suami mencoba menganalisa ketakutan istrinya pada rimba. Sang istri mengungkapkan bahwa ketakutan terbesarnya bukanlah rimba melainkan hal lain. Dia menggambarkan sebuah segitiga dan menuliskan “Firdaus (taman)” di dekat puncaknya, meninggalkan tanda tanya di posisi puncak saat sang suami mencoba menemukan kata pada sumber nyata ketakutan istrinya. Pada satu saat, sang istri mengatakan bahwa alam adalah ‘Gerejanya Setan’, dan sang suami pun menempatkan Setan pada posisi puncak itu. Lalu, saat sag suami menemukan kedalaman rasanya akan iblis personal dan mempersalahkan, sang suami menempatkan kata “aku” – ketakutan terbesarnya adalah dirinya sendiri- hanya untuk menyilangkannya lagi. Saya teringatkan studi Genesis Paul Ricoeur, di mana ia menelisik preeksistensi iblis di Taman Firdaus, mengatakan bahwa kami menemukan diri dalam sebuah dunia di mana iblis mendahului kita sebagai misteri tak dikenal. Perlambang kejatuhan menyebar di filem ini, tapi beludak tidak pernah muncul. Apapun sumber iblis itu, ia sudah melaksanakan tugasnya sebelum kita memasuki Firdaus beracun ini.

 

Kisah Penyakit Khas Perempuan

Lars von Trier membuat Antichrist selama periode depresi besar dan antipatinya atas terapis. Namun sasarannya di sini bukan hanya industri terapi, tapi kekuatan kendali pikiran rasional maskulin yang menolak untuk mengenali misteri baik dan buruk, kekacauan utama alam, dan aspek-aspek pengalaman manusia yang melampaui bahasa dan kendali nalar. Jika ini sebuah penistaan pada psikoterapi moderen, filem ini juga sebuah penghormatan luar biasa pada Sigmund Freud yang berani menjelajahi rimba tergelap dan mimpi-mimpi kita yang paling menakutkan.

Gagasannya adalah tiga pengemis yang melambangkan kepedihan, kesengsaraan dan keputusasaan dan yang menyediakan babak penjudulan bagi filem yang, seperti Breaking the Waves, memiliki narasi yang diinterupsi oleh halaman-halaman judul: Kepedihan, Kesengsaraan (Kendali Kekacauan), Keputusasaan (Gynosida) dan Tiga Pengemis. Ini mungkin memaksakan perlambangan terlalu jauh untuk menunjukkan bahwa rujukan-rujukan pada para pengemis ini dalam kisah rakyat Rusia, yang seperti Kristus, menawarkan kebijaksanaan dan kasih melalui penderitaan – sulit menemukan pesan penebusan apapun dalam penggambaran von Trier tentang penderitaan di sini. Epilognya memiliki ulangan aria[3] Handel tapi menawarkan fantasi penebusan murahan. Sang lelaki – juruselamat yang berbalik jadi pembunuh- terluka tapi hidup dalam Firdaus yang tampak dipugar kembali ke dalam kebaikan aslinya, sedangkan sang perempuan yang tubuh tercacahnya sudah mengurai lantai rimba menaik dalam kebangkitan umum. Tapi ini sebuah akhir ironis dan mencela.

scene-from-lars-von-trier-001

Apapun makna penebusan, misteri iblis tetap ada, dan von Trier tampak mengajukan pendapat kuat bahwa tidak ada kebangkitan atau kembali ke Firdaus yang bisa menghapuskan kisah gynosidal yang berasal dari drama kejadian biblikal. Saat kredit penutup bergulir, untuk sementara waktu saya bertanya-tanya apakah para perempuan itu diumpamakan sebagai representasi yang tertebus pada jamuan langit, atau gerombolan harpies[4] seram yang beterbangan di atas pria kesepian.

 

Bunda Duka

Jadi apa yang harus dibuat di sini? Antichrist sudah dituduh sebagai filem misoginis dan anti-Kristus, tapi saya pikir ini sederhana. Barangkali von Trier bahkan menunjuk pada para kritikus yang mencoba membantah kedalaman bawah sadar (chtonian) dari jiwa manusia dengan pendapat moral mereka yang salah. Perempuan di filem ini adalah daya alami yang mengerikan dan merusak, tapi filem ini mengundang pula pembacaan lain. Ia juga merupakan mater dolorosa, bunda duka yang kepedihannya terlalu agung untuk ditumpahkan ke dunia yang didominasi oleh daya-daya objektif dan penalaran maskulinitas. Semakin sang pria mencoba mengendalikannya, semakin tak terkendali ia, berubah menjadi perempuan Genesis yang dikutuk untuk mengandung anak-anak dalam keperihan dan membutuhkan suami yang akan berkuasa atas dirinya (Kitab Kejadian 3:16)[5], namun putra mereka juga akan menjadi sumber penebusan.

antichrist-1024x682

Ada adegan saat si perempuan menggambarkan pendengaran suara anaknya menangis di dalam rimba. Ia mencarinya tapi tampak seperti tidak di mana-mana dan ada di mana-mana. Mendadak, kamera memutar yang membuat kita mendapatkan pandangan mata-Tuhan, dan tangis anak itu menjadi tangisan kosmis Kristus, menanggung beban dosa dunia. Citraan ini dikuatkan oleh penemuan berlanjut sang ibu atas anaknya, bermain di kabin dengan sebatang kayu dalam pose yang mengingatkan pada lukisan Kristus muda di bengkel pertukangan bapaknya, menandakan kayu salib. Kemudian, sang perempuan akan menggunakan potongan kayu yang sama itu untuk mengebiri kemaluan suaminya, sebuah adegan paling mengganggu dan terbuka menyoal mutilasi dan penyiksaan seksual dalam filem ini.

Hawa yang satu ini bukanlah korban dari kendali lelaki. Ia mencari pembalasan, membuat teror penelantaran dan pembiaran untuk mendorongnya kepada tindakan kekerasan sadistik dan masokistik ekstrem saat ia mencoba menjebak sang lelaki, jadi para penonton akan tertarik pada brutalitas filem ini. Tapi barangkali ini hanya sebagian dari pesan tersiratnya. Para penonton filem-filem horor memiliki hasrat tak terpuaskan pada penetrasi, mutilasi dan pembunuhan tubuh perempuan. Sama seperti gambaran-gambaran pembakaran dan penyiksaan perempuan di abad pertengahan, sinema mengungkapkan kultur gynosidal kepada kita, menerima mutilasi dan penyiksaan terhadap perempuan oleh lelaki itu sebagai kebiasaan, tapi begitu takut saat perempuan menjadi sang penyiksa.

 

Potongan yang Hilang

Biar pun begitu, kita ditinggalkan dengan pertanyaan berat apakah von Trier sekadar menambahkan horor gynosidal yang diungkapkannya ke dalam katalog. Sejatinya, bukan sang perempuan yang selamat melainkan sang lelaki, di mana penyalib menjadi yang tersalib, dan sang perempuan memunculkan hukuman seksual paling biadab atas dirinya sendiri demi kejahatan yang mengharuskannya berdiri sebagai terdakwa di depan matanya sendiri.

Ketaksaan ini menjadi bagian dari kekuatan mengganggu filem. Von Trier menguliti lapisan agama beradab yang terdomestifikasi dan menunjuki kita kondisi manusia saat ia memunculkan tradisi Kristiani dalam aspek yang lebih gelap dan pesimistik, merujuk kejatuhan ke dalam kejahatan yang menerjunkan lelaki, perempuan dan alam ke keadaan pengasingan dan kekerasan biadab.

00023825

Orang bisa saja berpendapat bahwa ini merupakan pembacaan yang sangat menyimpang tentang Kristianitas, sebab perempuan dalam jantung tradisi itu adalah Maria, Hawa Baru, yang keibuan ilahiahnya melambangkan damai Tuhan dengan penciptaan dan kebaikan serta rahmat penebusan perempuan. Namun sebagaimana ditunjukkan para feminis, Maria telah menduduki posisi kemurnian dan kesucian unik dalam teks dan tradisi Kristianitas Katolik, sedangkan seluruh perempuan lainnya diidentifikasi dengan Hawa sebagai daya alami primordial, yang merusak dan mematikan, dan dengan begitu harus ditolak dan dikendalikan oleh pikiran rasional maskulin. Von Trier barangkali hanya mengisahkan setengah cerita, tapi setengah ini yang sudah terlalu sering dibiarkan untuk memaknai keseluruhan sejarah keagamaan dan kebudayaan barat.

 


Tina Beattie adalah profesor studi-studi Katolik di Roehampton University, Inggris. Buku-buku yang telah diterbitkannya antara lain, God’s Mother, Eve’s Advocate (Allen&Unwin, 2002), New Catholic Feminism: Theology and Theory (Routledge, 2005), dan The New Atheists: The War on Religion and the Twilight of Reason (Darton, Longman & Todd, 2007). Situs pribadi Tina Beattie dapat dikunjungi di www.tina.beattie.googlepages.com

 

all other rights are reserved to the author and openDemocracy.net.
Artikel asli diterbitkan dalam majalah online independen www.opendemocracy.net

 

- - - - - - - - -

[1] Hidup pada tahun 160-240 Masehi, merupakan teolog Kristiani awal. Nama Latinnya Quintus Septimus Florens Tertullianus. Tulisan-tulisannya termasuk apologetik Kristiani dan serangan atas berhala pagan dan Gnostisisme (bidah Kristen yang muncul pada abad ke-2 Masehi).
[2]
Lukisan atau patung Bunda Maria melahun tubuh mati Yesus Kristus. Dalam bahasa Italia, pietà berarti sedih (Catatan Redaksi).
[3]
Lagu panjang yang menemani suara solo, khususnya dalam sebuah opera atau oratorio (musik narasi bertema religius) (Catatan Redaksi)
[4]
Monster bertubuh dan kepala perempuan dengan sayap dan cakar (Catatan Redaksi)
[5]
Dalam kitab Kejadian tertulis: “Aku akan melipatgandakan deritamu waktu mengandung; dalam kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; hasratmu akan tertuju kepada suamimu, dan ia akan berkuasa atas dirimu" (Catatan redaksi)

Hits
Comments
Add New Search
ari  - senangnya baca ini   |118.136.197.xxx |2010-05-31 04:29:09
akhirnya yakin juga bahwa film keren ini ada maksudnya (lho!!) hahahaha
trimakasih sudah memuat tulisan ini.
Veronika Kusumaryati  - boleh deh   |118.137.11.xxx |2010-05-27 06:44:11
Boleh deh argumentasinya, tapi saya tetap bersepakat dengan para kritikus Cannes dan semua orang yang dituduh sebagai 'penegak' rasionalisme Barat oleh penulis ini bahwa film Anti-Christ hanyalah sebuah self-indulgence von Trier tanpa makna apapun selain misogini. Saya tak ingin membenarkan seluruh citraan kekerasan yang ditampilkan oleh von Trier dengan rasionalisme yang sama yang dilakukan Barat. Bagi saya, von Trier sebagai eksponen Dogme 95 dan pencipta film bermutu telah lama mati.
arjunapulangkeindonesia  - boleh juga   |125.161.157.xxx |2010-06-01 04:40:01
mmmm...von trier telah lama mati...bagi saya film ini tetap bermutu sebagai kelanjutan pertanyaan-pertanyaan filsafat yang ingin dikupas (dan diyakini) oleh sang sutradara. von trier punya tradisi itu sejak ia membuat kingdom hospital. ia pun melanjutkan tradisi sinema teologi normandia yang diusung Victor Sjöström, carl dreyer, dan ingmar bergman. film ini mampu melepaskan diri dari jeratan nyentrik judul dan tema, dan saya sama sekali tak melihat citraan kekerasan dalam film ini..... dan kalau dikatakan sebagai upaya merasionalisasikan, mmm... tak juga ya, karena ia merupakan representasi...
rian  - like   |110.138.16.xxx |2010-05-20 15:02:27
lom nonton filmnya juga,ada di jual ga yak???
arjunapulangkeindonesia   |202.73.109.xxx |2010-05-20 17:08:34
la'u cari aja di ambassador ato di lapak bajakan. banyak yg jual . . .
arjunapulangkeindonesia   |125.161.157.xxx |2010-06-01 04:46:42
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap beberapa menit. he he he he
Chimera   |114.59.213.xxx |2010-05-19 18:12:26
Kristiani banget ulasannya..
arjunapulangkeindonesia   |202.73.109.xxx |2010-05-19 14:22:20
anjing . . . keren banget pembahasannya. pasti filmnya juga keren. mengingatkan pada Tarzan X. he he he
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
More articles :

» Interview with Bronnt Industries Kapital

Geometer: I only came to hear of Häxan through your soundtrack - it’s a great film and I was surprised I’d not heard of it. How did you first hear of the film?Guy: We were first approached to perform a live soundtrack to the film at Bristol’s...

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 523
Content : 147
Content View Hits : 158768

More.Articles_!

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Tuesday, 19 May 2009

Sergei Eisenstein is arguably the most important single figure in the history of movies. He was certainly the most versatile. The director of the masterpieces Battleship Potemkin and Alexander Nevsky, Eisenstein also wrote ground-breaking essays on...

Fritz Lang and The German Expressionism
Thursday, 12 June 2008

Fritz Lang is regarded as one of the main directors in the early history of film. As a representative of expressionism in the 1920’s, he has made some of the most important German silent film. During the repression of German Nazi party, he left to...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Friday, 12 June 2009

(temporarily, only available in Bahasa Indonesia) Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan...

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta
Monday, 13 July 2009

(Only available in Bahasa Indonesia) Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia....

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Thursday, 15 January 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Friday, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Monday, 26 January 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Menyibak Rahasia Video
Tuesday, 12 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta...

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Tepian Sungai Ciujung: Ethical Strategy in Narrative and Interview Method (Part two of three)
Tuesday, 16 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the second part of the articles. The mind is yet to be free if the medium is not liberating. It’s probably in line with...

Tarzan goes to City with Hereditary Logical Flaw
Wednesday, 17 December 2008

The film Tarzan goes to City (Tarzan ke Kota) is labeled as a remake of City Tarzan (Tarzan Kota) starred by Indonesia legendary actor, Benyamin Sueb and directed by L. Sudjio. This film has its first run on 4 December 2008.The Indonesian...

Maklumat Filem Bersuara
Monday, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Wednesday, 20 January 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang...

Berita Gempa
Thursday, 01 October 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Sunday, 10 May 2009

(Only in Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

The Last But Worst Festival
Thursday, 12 June 2008

Faculty of film and television of the Jakarta Arts Institute (JAI) is re-hosting the 10th ‘Directional Film Festival’. What’s make it different?  Aside from emphasizing social matters theme, the title of each category taste really sloppy.The...

Tepian Sungai Ciujung: Awareness of Medium Ideology and Integration Beyond The Lenses
Friday, 05 February 2010

Jurnal Footage will publish articles about the video "Tepian Sungai Ciujung" in three parts, written by Akbar Yumni. This is the first part of the articles.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" - Mahatma...

Ten Directors From The Ten Years of Political Reform
Thursday, 12 June 2008

The political reform of 1998 is an important history in the life of Indonesian. The current of changes occurs everywhere. But, after ten years, what can we achieve? The film screenings of ten years political reform has trying to open the space...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Wednesday, 03 March 2010

(available only in Bahasa Indonesia)   Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli,...

Aminuddin TH Siregar: We Excel Other Countries in Southeast Asia
Monday, 03 August 2009

Why do you pick the theme ‘Comedy’ for the fourth OK. Video?We believe the theme comedy correlates to the socio-political state our country is now in. It’s an attempt to look for collective ways of catharsis, not to burden ourselves with...

Part-time Work of a Domestic Slave: Repositioning of Cinema and Audience in a New Discourse Development
Friday, 24 July 2009

Part-time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) tells the story of Roswitha Bronski who works to support the family while her husband, Franz Bronski, busies himself with chemistry researches in order to fulfill his...

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Tuesday, 26 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Wednesday, 16 December 2009

(available only in bahasa Indonesia) ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Thursday, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Paranormal Activity: A Terrifying Sound Pollution
Saturday, 19 December 2009

Haxan, a work of a Swedish director, Christensen, is a horror film full of strong social political issue. Haxan does not only picture human apprehension to all things supernatural. More than that, Haxan is a historical documentary portraying social...

Der Letztze Mann: The Independence of Murnau’s Cinema
Thursday, 17 December 2009

In a scene, a doorman attends to the entrance of a luxurious hotel; dignified in gesture, alert and ready to serve every guest. A very friendly figure among the hustling hotel guests. At one time, two ladies are exiting. It’s a little rainy when...

Membongkar Sinema pada Filem Outer Space Peter Tscherkassky
Thursday, 26 August 2010

Temporarily available only in Bahasa Indonesia Masih mungkinkah sinema bisa dibicarakan di luar ‘cerita’ tanpa mengkait-kaitkannya dengan konteks sosialnya? Atau apa yang bisa kita lihat dari ‘dimensi luar’ pada estetika filem itu? Dua...

Perbincangan dengan Budi Darma
Tuesday, 14 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah...

WALL-E: Receding to Human’s Primordial Side
Monday, 08 June 2009

Upon seeing the people as depicted in Pixar/Disney’s WALL-E, I was instantly reminded of a day in anthropology class back in my university days. That day, the professor elaborated human physical evolution which is only predictable to...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net