I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
Indonesian

Download.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client is an application or software that possesses the ability to request, upload, or share a file via BitTorrent protocol. Examples of this are uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent or BitComet. Below are links to get the application. After downloading torrent files above, use this torrent client as a file transfer media. Below are links of the applications.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Click here for more information

Figure_!

abduh-aziz
alexis-tioseco

bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi PDF Print E-mail
Written by Aditya Adinegoro   
Saturday, 06 March 2010 15:04

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”.

- Nam June Paik (1932-2006)

 

Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian yang diatur oleh seorang penguasa tunggal yang disebut dengan “Big Brother”. Dalam novel tersebut, Orwell menulis dan “meramalkan” tentang sebuah teknologi yang digunakan oleh Big Brother sebagai alat untuk pengawasan serta pengontrol pikiran secara massal. Alat itu bernama “Telescreen” yang hadir di setiap rumah-rumah penduduk, dan memutarkan program propaganda setiap harinya selama 24 jam., dan sayangnya ketika Telescreen dinyalakan ia tidak dapat dimatikan sama sekali…

nam_june_paiknam-june-paiknam_june_paik1

 

Mengenang Nam June Paik

Televisi telah menjadi perhatian dan fokus utama dalam karya-karya Nam June Paik. Ia adalah seniman pertama yang menjadikan video dan televisi sebagai medium dalam berkarya. Melalui proyek televisi, instalasi, performance, kolaborasi, pengembangan peralatan baru bagi seniman, menulis serta mengajar, ia telah melakukan kontribusi kepada penciptaan sebuah budaya media yang akhirnya meluaskan bahasa dan definisi dari pembuatan karya seni.

Lahir di Seoul-Korea Selatan pada 1932, Paik merupakan anak kelima dan ayahnya seorang pengusaha tekstil. Sejak kecil ia telah dilatih untuk menjadi pianis musik klasik. Pada 1950, ia bersama keluarganya meninggalkan tanah kelahirannya akibat perang Korea. Pertama-tama mereka mendarat ke Hong Kong, lalu kemudian menetap di Jepang. Di Jepang, Paik belajar tentang Sejarah Seni dan Sejarah Musik di Universitas Tokyo lalu lulus 6 tahun kemudian dengan mengambil tesis tentang komposer Arnold Schönberg. Ia kemudian pindah ke Jerman pada 1956 untuk melanjutkan studinya tentang Sejarah Musik di Universitas Munich dan bertemu dengan komposer avant-garde Jerman, Karlheinz Stockhausen lalu belajar tentang Komposisi di Freiburg Conservatory. Dua tahun kemudian ia bertemu dengan komposer avant-garde lainnya asal Amerika, John Cage dan bekerja di Studio für Elektronische Musik di WDR, Cologne hingga 1963. Paik juga bertemu dengan seniman konseptual Joseph Beuys, dan Wolf Vostell yang menginspirasinya untuk berkarya dalam ranah seni elektronik.

Good Morning, Mr. Orwell (1984} di UBU

Rentang 1959-1962, Paik menampilkan bagian dari action music-nya; Stockhausen's "Originale" di Cologne. Terinspirasi oleh John Cage, Paik kemudian bergabung dengan gerakan seni Neo-Dada yang dikenal dengan nama Fluxus. Pada 1963 ia ikut berpartisipasi dalam "Fluxus. Internationale Festspiele neuester Musik" di  Wiesbaden dan melakukan pamerannya yang pertama "Exposition of Musik/Electronic Television" di Galerie Parnass-Wuppertal, dan dalam pameran tersebut ia menyebarkan televisi di mana-mana dan menggunakan magnet untuk mendistorsi gambar-gambarnya. Kemudian Paik kembali ke Jepang dan bertemu dengan Shuya Abe, kemudian mereka melakukan eksperimen dengan elektromagnet dan televisi berwarna.

Kemudian pada 1964, Paik pindah ke New York dan memulai berkarya bersama pemain cello klasik Charlotte Moorman untuk mengkombinasikan video, musik dan performance-nya. Dari kolaborasi tersebut terciptalah karya TV Cello, di mana dalam pengerjaannya dua pasang televisi disusun pada bagian atas dan di bagian bawah kemudian dibentuk menyerupai sebuah cello asli. Ketika Moorman menggesek alat geseknya di atas “cello”, gambar dari permainannya dan gambar dari pemain cello lainnya akan muncul pada layar. Pada 1965, Sony meluncurkan Portapak sebuah kamera video portable pertama dan Paik merupakan seniman yang menggunakannya untuk pertama kali. Dan hari ketika ia mendapatkan kameranya, Paus dari Vatikan tengah berkunjung ke New York, segera Paik merekam prosesi Sang Paus yang turun ke jalanan kota dan memutar footage tersebut pada malam harinya di Café a Go-Go. Dari sana, Paik kemudian menjadi selebriti internasional yang dikenal karena kreativitas dan karya-nya yang menghibur. Di tahun ini juga Paik melakukan pameran tunggal pertamanya, 'Electronic Art' in the USA di Galeria Bonino, NewYork.

good-morning-mr-orwell-calvacade-of-intellectualsgood-morning-mr-orwell-john-cage

John Cage

good-morning-mr-orwell-laurie-anderson

Laurie Anderson

good-morning-mr-orwell-merce-cunningham

Merce Cunningham

good-morning-mr-orwell-moorman-and-tv-cello

Charlotte Moorman

good-morning-mr-orwell-the-host

Nam June Paik kemudian mengerjakan instalasi multi-monitor pertama kalinya, Electronic Opera No.1 pada 1966-1969 dengan menggunakan rekaman TV yang terdistorsi secara magnetik. Kemudian ditampilkan pada program siaran langsung The Medium is the Medium di GBH-TV, Boston. Pada 1967, Charlotte Moorman ditahan oleh polisi akibat tampil topless ketika memainkan karya Paik, Opera Sextronique. Dua tahun kemudian, mereka menampilkan TV Bra for Living Sculpture, dimana Charlotte menggunakan bra dengan layar TV kecil pada bagian depannya. Kemudian pada 1969-1970, Paik bersama Shuya Abe mengkonstruksi video synthesizer.

Pada 1971, Paik bekerja di WNET's TV Lab, New York. Empat tahun kemudian ia membuat Video Fish, sebuah seri dari akuarium horizontal berisi ikan hidup yang berenang di depan beberapa monitor dan menampilkan gambar video yang sama dari ikan lain. Paik kemudian melakukan pameran retrospektif pertamanya di Kölnischer Kunstverein-Cologne pada 1976, kemudian ia ditunjuk sebagai profesor pada Staatliche Kunstakademie-Dusseldorf dari 1979 sampai 1996. Ia kembali menggelar pameran retrospektif-nya di Whitney Museum of American Art, New York pada 1982 dan meluncurkan karya satelit “instalasi” pertamanya, Good Morning Mr. Orwel" dari  Centre Pompidou-Paris, dan di WNET-TV Studio-New York pada pagi di hari pertama tahun 1984.  Dalam karyanya yang lain Something Pacific (1986), Paik menampilkan sebuah patung Budha yang sedang duduk menghadap ke sebuah CCTV (karya ini merupakan bagian dari Stuart Collection of Public Art di University of California, San Diego).

Paik juga dikenal karena membuat robot dari beberapa set televisi. Karya-karya ini sebelumnya dikonstruksi menggunakan kabel dan besi, namun untuk selanjutnya Paik juga menggunakan bagian-bagian dari radio dan televisi. Kemudian di tahun 1986, ia membuat Bye Bye Kipling sebuah kombinasi rekaman dari live event di Seoul, Tokyo dan New York. Dua tahun kemudian, ia menunjukan cinta kepada tanah kelahirannya dengan membuat karya The More The Better, sebuah menara raksasa yang dibuat dari 1.003 monitor untuk pertandingan di Olimpiade Seoul 1988. Karyanya, Video Arbor diletakan sebagai patung publik di Philadelphia pada tahun 1990. Paik melakukan pameran gandanya Video Time-Video Space pada tahun 1991-1992 di Kunsthalle Basel dan Kunsthalle Zürich.

Sebuah pameran retrospektif akhir dari keseluruhan karyanya, The Worlds of Nam June Paik digelar pada tahun 2000 di Guggenheim Museum-New York. Sebuah bentuk apresiasi atas refleksi dari kehidupan dan kegiatan berkesenian Nam June Paik. 29 Januari 2006, seniman Korea-Amerika ini meninggal di Miami-Florida.

more-the-betternamjunepaik

Kehidupan seni Paik tumbuh dalam politik dan gerakan anti-art dari tahun 1950–1970an. Pada masa pertukaran budaya dan sosial ini, ia berusaha untuk mengejar sebuah tugas untuk menggabungkan kapasitas ekspresif dan kekuatan konseptual dari performance, dengan kemungkinan teknologi baru yang berasosiasi dengan gambar bergerak (moving images). Ini mungkin merupakan bentuk kekuatan dari gagasannya tentang seni berbasis media, pada masa di mana sekarang gambar bergerak elektronik dan teknologi media semakin meningkat dalam perkembangannya. Paik bersama-sama dengan seniman avant-garde yang lain terlibat dalam Fluxus. Fluxus sendiri memiliki kesamaan semangat dengan gerakan seni awal Dada, yaitu mengembangkan konsep dari anti-seni dan mengambil alih keseriusan dalam seni modern.  Dalam proses artistiknya, Fluxus merupakan seni antarmedia. Seniman Fluxus lebih suka melihat apa yang terjadi ketika media yang berbeda berkolaborasi, mereka menggunakan obyek, suara, gambar dan teks yang dapat ditemukan setiap harinya untuk membuat kombinasi yang baru dari medium tersebut.

Nam June Paik mentransformasikan hal yang paling instrumental dari medium video, melalui sebuah proses di mana ia mengekspresikan wawasannya yang mendalam tentang teknologi elektronik dan pemahamannya tentang bagaimana mengkonstruksi televisi agar “merubahnya keluar” dan menjadikannya sesuatu yang baru. Citra Paik tidak ditentukan dan terbatasi oleh teknologi video atau pada sistem televisi. Sebaliknya, ia menyusun materialitas dan komposisi dari gambar elektronik yang kemudian diletakan pada “ruang” di antara televisi. Dan dalam proses akhirnya, terdefinisikan sebuah bentuk baru dari ekspresi kreatif. Paik memahami bagaimana kekuatan dari gambar bergerak telah menjadi sebuah persepsi intuitif, dari sebuah perkembangan teknologi yang telah ia kembangkan dan ia transformasikan sebelumnya.

videofish1

Excellent Birds

Act III

Oingo Bongo

Allen Ginsberg

Thompson Twins


“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Paik Terhadap Dominasi Televisi

Pada tahun 1984 tepat di pagi hari pertama tahun itu, Nam June Paik meluncurkan karya “instalasi” satelit internasional pertama-nya Good Morning, Mr. Orwell. Karya video ini merupakan sebuah program televisi berdurasi 57 menit yang terselenggara atas kerjasama dengan WNET TV di New York dan Centre Pompidou di Paris, disiarkan langsung via satelit dengan Paik sebagai konseptor dan koordinator-nya. Good Morning Mr. Orwell disiarkan ke berbagai negara di dunia secara simultan, antara lain Amerika Serikat, Perancis, Jerman Barat serta Korea Selatan dan diklaim ditonton oleh kurang lebih 25 Juta orang. Menggabungkan antara material siaran langsung serta material pra-rekam, program ini menampilkan tarian, komedi, performance art dan musik avant-garde. Dalam pembukaannya, George Plimpton sang pembawa acara menjelaskan; “…George Orwell tentu saja membuat 1984 yaitu hari ini, ketika ia menulis di tahun 1948. Ini adalah sebuah peringatan mengenai perlawanan terhadap totalitarianisme dan bahaya akan teknologi elektronik, seperti dalam kalimatnya yang terkenal: 'Big Brother is watching you'. Apa yang akan anda lihat nantinya merupakan sebuah penggabungan interaktif dan postitif dari media eletronik, yang mungkin tidak akan pernah diprediksi oleh Orwell. Ini adalah sebuah perayaan tahun baru yang hanya dapat terjadi pada televisi…”

Beberapa seniman dan musisi terlibat dalam rangkaian program ini antara lain; komposer John Cage yang tampil membawakan komposisinya dengan alat dari duri kaktus yang telah kering dan sehelai bulu. Diselingi performance art dari seniman asal Jerman, Joseph Beuys yang melakukan performance art menggunakan Grand Piano. Laurie Anderson tampil dengan menggunakan efek vocoder untuk merubah suaranya menjadi suara seorang pria dan menceritakan “kisah-nya” mengenai kecelakaan pesawat yang dialaminya dan juga kengerian tentang alat-alat digital. Sapho, penyanyi dari Prancis menyanyikan tentang “percakapannya” dengan George Orwell dalam TV is Eating Up Your Brain, di mana muncul penggalan liriknya: “Big Brother tidak mengawasimu. Tetapi TV sedang memakan otak kita. Katakan padaku, apa yang aku lakukan sekarang? Aku sedang memakan otak anda sekalian, saudara-saudara.  / Tapi George, bukankah kau sudah melakukannya. / Sesuatu masih berlangsung. Lihat, kau masih salah: Hasrat masih belum mati. Hasrat tidak pernah mati. Ia tidak pernah menjadi milik partai manapun, dan tidak pernah pergi ke partai manapun.”

Adapula komedi dari Calvacade of Intellectuals yang dibawakan oleh panelis Mitchell Kriegman dari New York dan Leslie Fuller dari Paris, di mana dalam program acara tersebut mereka seharusnya berdiskusi tentang “Kehancuran alam bawah sadar manusia yang diakibatkan oleh teknologi televisi”, namun yang terjadi justru perdebatan antar kisah cinta mereka ketika siaran satelit-nya mengalami gangguan teknis. Grup musik Oingo Boingo menyanyikan seruan untuk bangkit melawan "Big Brother" melalui lagu mereka Wake Up (It’s 1984).  The Thompson Twins tampil live dari San Francisco dengan membawakan lagu mereka Can’t Hold Me Now. Kemudian ada premiere dari video Act III di mana musiknya dikerjakan oleh musisi Philip Glass dan videonya dikerjakan oleh Dean Winkler dan John Sanborn. Urban Sax, grup orkestra saksofon tampil live dari Paris dengan menggunakan kostum khas mereka. Koreografer Merce Cunningham melakuan performance dengan menari bersama visual dirinya yang tertunda beberapa detik sehingga menimbulkan ilusi optis bagi penonton. Charlotte Moorman tampil dengan TV Cello. Begitu pula penyair Allen Ginsberg dan Peter Orlovsky juga turut hadir dalam program ini.

TV_Cellovideofish2

Masalah teknis kerap terjadi dari awal pertunjukkan ini. Beberapa versi yang berbeda dari acara terlihat di Amerika Serikat dan Prancis karena koneksi satelit di antara kedua negara tersebut sering kali terputus. Misalnya ketika Mitchell Kriegman mendemonstrasikan space yodel, George Plimpton sang pembawa acara menjelaskan bahwa suara yodel akan memantul dan melintasi jaringan satelit unutuk menciptakan sebuah gema, namun sebenarnya tidak ada gema yang terdengar pada saat itu. Paik mengatakan bahwa masalah teknis yang terjadi mungkin dapat meningkatkan mood “siaran langsung”. Lepas dari itu semua, Paik telah berusaha mendemonstrasikan dengan baik kemampuan satelit TV untuk menyajikan akhir yang positif, yaitu pertukaran budaya antar benua dengan menggabungkan highbrow art dan elemen hiburan. Good Morning Mr. Orwell merupakan usaha perlawanan Paik terhadap dominasi TV, karya ini mampu menjangkau publik  yang lebih luas karena tidak mengusung konsep sebagai karya yang dipamerkan, namun ditransmisikan dan disebarkan secara massal. Oleh sebab itu, dengan menggunakan “konsep” TV itu sendiri, Paik mencoba melawan televisi melalui televisi. Secara tidak langsung melalui karya ini, Paik mencoba untuk membuktikan bahwa “Big Brother” tidak hadir di tahun 1984, seperti dalam ramalan Orwell.

Paik memberikan wacana yang berbeda tentang televisi, sebuah “alur global” dari ekspresi sang seniman yang dilihat sebagai bagian dari “akses informasi elektronik super” yang terbuka dan bebas bagi semua orang. Bentuk ganda dari video yang dikembangkan oleh Paik tersebut bisa di interpretasikan sebagai sebuah ekspresi dari sebuah medium yang terbuka untuk tumbuh dan berkembang melalui imajinasi dan partisipasi dari komunitas maupun individu-individu dari seluruh dunia. Paik bersama dengan banyak seniman lainnya, bekerja secara individual maupun kolektif di tahun 1960an dan 1970an untuk menciptakan televisi sebagai ruang alternatif, melawan gagasan tentang televisi sebagai sebuah medium yang mendominasi secara eksklusif yang dikontrol oleh sebuah monopoli perusahaan televisi. “Televisi telah menyerang kita, kini saatnya kita menyerangnya kembali”, ujar Nam June Paik.

The Medium is the Medium, Nam June Paik

 

 


*Aditya Adinegoro adalah mahasiswa semester VIII Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Jawa Timur (Surabaya).
Hits
Comments
Add New Search
exchorina  - lanjutkan !!   |202.70.58.xxx |2010-04-08 20:10:56
wah terimakasih atas informasinya, semoga bermanfaat bagi pembaca . dibelain mpe begadang ya,hehe..
arti pijar crissandi  - muanstap   |110.139.60.xxx |2010-03-14 09:39:43
laporan tentang namjumpaik
RHARHARHA  - superb RHARHARHA   |118.96.96.xxx |2010-03-07 10:51:29
NAM JUNE PAIK MUANTAAAB ....MEONG MEONG MEONG
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 10 March 2010 21:34
 
More articles :

» Video: The New Wave

Tracing the Genealogy of World’s Video ArtThe development of Indonesian video art in the last decade has been satisfactory. Several visual art events have included video art as part of contemporary art exhibition. Video art has even invaded...

» Editorial August_2009

Rossellini once said, era of the cinema is over and done with the emergence of television. People no longer want to go to the cinema to watch films. Years past, and the death of cinema has not even yet to come. Until today, people still happily head...

» Nicolás Echevarría: Myth as a Form of Creativity

Nicolás Echevarría is a director, producer and cinematographer who has worked in both film and television, making documentaries and fiction films. One of Mexico’s prominent filmmakers. He began to make films following the massacre at Tlatelolco,...

» On Torrent

Nowadays, people from across the globe download music and film from through P2P (Peer-to-Peer) or BitTorrent. It is only natural that industry sees this phenomenon as a threat and tries to demolish it however seemingly impossible. The idea is for...

» Documemory: A Bibliography

A. Documentary Film100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Today.Quotation_:

"Very often, footage that you have shot develops its own dynamic, its own life, that is totally unexpected, and moves away from your original intentions."

[Werner Herzog]

Stats_!

Members : 420
Content : 145
Content View Hits : 136947

More.Articles_!

Ruminating on Terminology and Theme: Notes on the 6th Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010
Friday, 25 June 2010

Attending Malang Film Video Festival (Mafvie) 2010 during June 8-10, 2010, the first question that popped in me was: what essentially distinguishes this festival from the rest alike? Until the last day, after seeing the works screened in the...

The Endless Steps: Transaction of Sign Agreement
Monday, 24 November 2008

‘Is there any sign?’This question asked four times by a caller in the video The Endless Steps from Maulana Adel Pasha. Question which is so important for the caller to find the house. The transaction of sign thus occur. A bargain of subjective...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Monday, 06 July 2009

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Thursday, 29 July 2010

(Available only in Bahasa Indonesia)   PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria...

Tentang Uraian Luar Layar
Saturday, 29 August 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian,...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Wednesday, 28 July 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Available only in Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

Dian Herdiany
Monday, 21 July 2008

Video Community Should Attain Their Independency   It was started from the catastrophic Yogyakarta earthquake in 2006, Kampung Halaman came and offered society empowerment trough video. They aim at youngsters. The unique methods made Kampung...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Wednesday, 20 January 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang...

Ariani Darmawan: Independent Bioscope as Struggle
Tuesday, 12 August 2008

The independent bioscope emerges as a form of struggle from majority of bioscopes. But what fight it is exactly? Probably none, because speaking about struggle in films which calls independent in Indonesia might be complicated and end up to nowhere....

Prelinger Archives: Daily Life Archives
Thursday, 03 December 2009

"The film your about to see, represence a significant breakthrough of the advancing science of the motion picture. For years, the industrial film has been pledge by the always-difficult sometime impossible-to-explain cost of the original creative...

Arkeologi Seni Media
Saturday, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

WALL-E: Receding to Human’s Primordial Side
Monday, 08 June 2009

Upon seeing the people as depicted in Pixar/Disney’s WALL-E, I was instantly reminded of a day in anthropology class back in my university days. That day, the professor elaborated human physical evolution which is only predictable to...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Monday, 26 July 2010

Exhibition7-13 August 2010, 10am-5pm (Sunday closed) VenueGoethehausJl. Sam Ratulangi No. 9-15 Menteng, Jakarta Pusat OpeningFriday, 6 August 2010, 7pm Videotalk with Anggun Priambodo (music video maker) and Indra Ameng (curator)Friday, 6 August...

Prima Rusdi
Thursday, 12 June 2008

We May Not Accomplish Anything After a Decade of Political Reform   To commemorate the ten years of political reform, Proyek Payung held a screening event of the ten short films from ten young directors at Kineforum Jakarta, May 12 to 20th 2008....

“Media” In the Mind of Rafaël Rozendaal
Friday, 19 February 2010

In a number of video and media art exhibitions that I attended, video works emerge as a vital part in the presentation of media art. But how do we define video “works”? From the classic perspective, video is defined as non-narrative audio visual...

Under The Tree: Garin’s Failure to Renounce Modern Monism
Monday, 28 December 2009

The 2009 Jakarta International Film Festival (Jiffest) is adorned with Indonesia Feature Film Competition (IFFC) that proved the quality of our national films in the international level. Films screened in IFFC are selected based on theme, narration,...

Violence in Films: Critique to the Film Kado Hari Jadi
Monday, 30 November 2009

How do we summarize violence derived from day-to-day reality? Blood! It’s the easiest language to frame the violence and sadism of an occurrence. Adding to it, gory utensils such as knife, screwdriver, hammer, and razor. Then, how do we envelop...

Tarzan goes to City with Hereditary Logical Flaw
Wednesday, 17 December 2008

The film Tarzan goes to City (Tarzan ke Kota) is labeled as a remake of City Tarzan (Tarzan Kota) starred by Indonesia legendary actor, Benyamin Sueb and directed by L. Sudjio. This film has its first run on 4 December 2008.The Indonesian...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Monday, 28 September 2009

(available only in Bahasa Indonesia) Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah...

Lisabona Rahman
Tuesday, 12 August 2008

Watching Free and Great Movie in Almost Everyday   It get bore sometime to watch movies in the common bioscopes. Mostly because of the standard plots. And also with same players. To face this condition, the emergence of an alternative bioscope...

Yang Muda yang Bercinta: Early Montage in New Order Regime
Wednesday, 07 October 2009

A young man rides in a bajaj with his pregnant lover, passing through Jakarta’s slums in the 1970s. Child beggars in the city’s labyrinths become a syntagmatic connection to bajaj. The young man is a university student named Sony (W. S. Rendra)1...

Menyibak Rahasia Video
Tuesday, 12 January 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta...

Maulana ‘Adel’ Pasha: In The Future Video Will Replace Film
Wednesday, 11 June 2008

The distribution of video in the world and Indonesia in particular, is extra rapid. According to a research, one out of ten Indonesian using video for various purposes. The development of cameraphone technology making the access easier for the...

Alex Sihar: A Challenge to Familiarize the Language of Video
Sunday, 23 August 2009

This year, Yayasan Konfiden (Independent Film Community Foundation)—a foundation focusing on the development and distribution of audio visual media knowledge and usage to sustain empowerment as well as to gain appreciation and support—by public...

Ten Directors From The Ten Years of Political Reform
Thursday, 12 June 2008

The political reform of 1998 is an important history in the life of Indonesian. The current of changes occurs everywhere. But, after ten years, what can we achieve? The film screenings of ten years political reform has trying to open the space...

The Ontology of Cinematography and Reflections on Cinema
Wednesday, 22 October 2008

The ontology of cinematography and the reflections on cinema addresses the question of what film is, what makes a film a film, and to examine what Wittgenstein would call the grammar of our concept of film and the role films play in the forms of our...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Monday, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Saturday, 19 December 2009

(Available only in Bahasa Indonesia) ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya...

Chronicles_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net