|
Artikel
|
|
Ditulis oleh Ronny Agustinus
|
|
Kamis, 29 Juli 2010 11:43 |
|
PENDAHULUAN
Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa menerimanya… namun lantas, tak pelak lagi imaji-imaji mulai bermunculan merongrong saya, gambaran-gambaran konkret tentang apa yang mereka perbuat (ngapain sih pacar saya harus menjilatinya tepat di situ? Ngapain sih dia harus mengangkang selebar itu?) Saya pun lupa diri, keringatan dan gemetar, rasa tenang lenyap selamanya dari diri saya. Sampar fantasi macam ini, yang disebutkan oleh pemikir Renaissance Fransiskus Petrarchus dalam bukunya Secretum (Buku Rahasia Saya) sebagai gambaran-gambaran yang mengaburkan penalaran jernih seseorang, dihadirkan secara ekstrem oleh media audiovisual zaman sekarang. Di antara benturan-benturan antagonistik yang mewarnai zaman kita (globalisasi pasar dunia versus penegasan partikularisme etnis, dsb.), barangkali tempat pokoknya terletak pada antagonisme antara abstraksi yang kian lama kian menentukan hidup kita (dalam selubung digitalisasi, relasi pasar spekulatif, dll.) dengan banjirnya imaji-imaji pseudo-konkret. Di masa kejayaan Ideologiekritik tradisional, prosedur kritis paradigmatisnya adalah menarik diri dari gagasan-gagasan “abstrak” (religius, hukum, …) menuju realitas sosial konkret tempat gagasan-gagasan tersebut berakar. Di zaman ini, kian lama kian tampak bahwa prosedur kritis itu dipaksa untuk mengikuti jalur sebaliknya, dari imaji pseudo-konkret menuju proses-proses abstrak (digital, pasar…) yang secara efektif membentuk struktur pengalaman hidup kita.
Buku ini melakukan pendekatan sistematis, dari sudut pandang Lacanian, atas praanggapan-praanggapan tentang “sampar fantasi” ini. Bab pertama (“Tujuh Tabir Fantasi”) mengelaborasi kontur gagasan psikoanalitis tentang fantasi, dengan penekanan khusus tentang bagaimana ideologi harus menyandarkan dirinya pada latar fantasmik tertentu.
[…]

|
|
Terakhir Diperbaharui: Kamis, 29 Juli 2010 12:17 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
Kronik
|
|
Ditulis oleh B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng
|
|
Rabu, 28 Juli 2010 14:15 |
|
Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955
(Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)
Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926) buatan Vsevolod Pudovkin, Bed and Sofa (Ranjang dan Dipan, 1927) buah tangan Abram Room, Earth (Tanah, 1930) ciptaan Alexander Dovzhenko membuat semua kritikus bungkam. Tetapi tak lama kemudian melenyap kata-kata pujian seperti jarang terdengar dalam sejarah filem. Akhirnya dapat diketahui seperti yang sudah lama diduga, yakni penyelesaian akhir teori-teori filem: 'seni-filem itu di samping seni-gerak pertama-tama adalah MONTASE'.
D.W. Griffith kembali diangkat oleh orang-orang Rusia. Si jago tua Amerika yang hampir dilupakan dan diabaikan orang-orang Eropa. Orang-orang Rusia ini dengan sadar melanjutkan apa yang dahulu dikerjakan Griffith dengan intuitif dalam percobaannya, montase. Dahulu untuk pertama kalinya diperlihatkan Fritz Lang dalam Der Spieler Dr. Mabuse (1922) melalui rangkai berlanjut irama dan montase citra kini dilontarkan Eisenstein dalam satu montase citra yang indah dan melodis pada filem The Battleship Potemkin. Adegan pelabuhannya yang termasyhur itu, langkah parade prajurit-prajurit Kozak dengan perlahan mengusir masyarakat dari tangga perlabuhan Odessa. Ketika Eisenstein menyuruh prajurit-prajurit melepaskan tembakan ke arah orang banyak, maka pengadeganan dipotongnya menjadi beberapa episode, dimunculkan beberapa sudut pandang kamera, dengan kata lain: montase telah menciptakan suatu kenyataan filem baru. Kenyataan dimana prajurit-prajurit Kozak dengan sepatu setiwalnya datang bertambah dekat, diikuti logis dengan adegan seorang ibu yang tertembak terhuyung-huyung dibelakang kereta bayi. Kenyataan kereta bayi yang meluncur ke bawah melalui tangga, telah cukup menggemparkan tragis kejadian yang hebat dalam satu detik. Seperti tak akan terdapat dalam buku-buku, maupun dalam sandiwara atau dalam kenyataan. Kalau kemudian dalam filem itu diduga, Eisenstein dapat menciptakan unsur-unsur kegentingan sekeliling kapal pemberontak yang diancam eskader [satuan kelompok kecil dalam kapal perang] kerajaan itu menjadi lebih hebat dengan merentetkan citra-citra, maka ia telah membuktikan bahwa montase adalah logika dari analisa filem, sehingga beberapa sensasi dapat didorongkan dengan beberapa asosiasi.

|
|
Terakhir Diperbaharui: Rabu, 28 Juli 2010 15:08 |
|
Selanjutnya...
|
|
Artikel
|
|
Ditulis oleh jurnalfootage
|
|
Rabu, 14 Juli 2010 00:35 |
Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng
* * *
|
|
Artikel
|
|
Ditulis oleh Birgitta Steene
|
|
Sabtu, 03 Juli 2010 23:44 |
|
Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump (Pippi Longstocking) oleh Astrid Lindgren. Satunya lagi adalah kemunculan filem Hets (Murung), naskahnya oleh Ingmar Bergman, pada saat itu sutradara teater amatir di Kota Tua Stockholm.
Cerita anak-anak Lindgren berkisah tentang seorang gadis rambut merah berkuatan luar biasa yang membuat rendah seluruh selera tinggi sosial dan naskah filem Bergman mengenai seorang bocah sekolahan yang tersiksa oleh guru bahasa Latinnya yang sadis menyebabkan perdebatan sengit di media Swedia. Apa yang ditentang adalah, sejatinya, landasan kultur tradisional homogen, yang diatur oleh struktur keluarga patriarkis, gereja negara (yang juga merupakan pelayan sipil), sistem sekolah hirarkis terpisahkan oleh kelas [sosial] yang dibangun di atas disiplin ketat, dan secara khusus, kemapanan birokrasi.
Tigapuluh tahun kemudian, baik Astrid Lindgren dan Ingmar Bergman berkontribusi dalam cara yang berbeda pada kejatuhan pemerintahan sosial-demokratik yang sudah berkuasa sejak akhir perang dunia kedua. Selama mandat politiknya, Swedia menjadi model negara kesejahteraan. Sistem sekolah otoriter dibongkar; kebudayaan baru generasi muda mendapat landasan yang berani menentang kewenangan orang tua.
Swedia telah menjadi salah satu masyarakat paling sekular di dunia, dan gereja Lutheran purba, yang etosnya sudah menyediakan tulangpunggung moral dan religius di negeri itu selama berabad-abad, kini direduksi hanya sekadar pelayanan ritual penduduk pada acara pembaptisan, pernikahan dan pemakaman. Bagi Ingmar Bergman, putra seorang pendeta Lutheran yang juga membuka kapel pribadi bagi raja dan ratu Swedia, perubahan sosial dan politik yang dialami negeri itu sudah sangat tidak lagi fundamental.
|
|
Terakhir Diperbaharui: Minggu, 04 Juli 2010 23:02 |
|
Selanjutnya...
|
|
Artikel
|
|
Ditulis oleh Akbar Yumni
|
|
Jumat, 25 Juni 2010 13:11 |
|
(Temporarily available only in Bahasa Indonesia)
Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari terakhir, dan setelah menyaksikan karya-karya yang difestivalkan, pertanyaan tersebut masih sulit dijawab. Menyandingkan Mafvie dengan festival filem lainnya menjadi relevan, mengingat bahwa perhelatan para pembuat filem pendek ini adalah sebuah peristiwa kebudayaan. Tentu ini adalah hal yang strategis, apalagi festival-festival ini berlangsung di daerah “pusat” (Jakarta). Harapannya tentu besar. Apalagi dengan trauma sentralisasi kebudayaan pasca Orde Baru masih melekat sampai hari ini. Melihat festival filem seperti Mafvie yang berlangsung di Malang, dalam semangat otonomi daerah, tentu ada keinginan untuk dapat melihat semangat estetika baru yang lahir dari karya-karya filem yang dihadirkan pada festival ini.

Mafvie adalah festival filem dan video yang diadakan oleh lembaga ekstra kampus di Universitas Muhammadiah Malang (UMM), Kine Klub UMM. Mavfie VI kali ini mengambil tema ‘Kembali ke Indonesia’. Menghadirkan 47 film kompetisi, 7 film non kompetisi dan 2 film tamu. Juga ada program yang melibatkan beberapa lembaga yang selama ini bekerja di video komunitas seperti Kampung Halaman Yogyakarta, Komunitasfilm.org, Boemboe.org, dan diskusi forum komunitas bersama komunitas-komunitas film berbasis kampus. Dalam festival ini ada juga program presentasi spesial seperti Paul Agusta dengan filem At The Very Bottom of Everything (Di Dasar Segalanya), Proyek Payung dengan Antalogi 9808 (Antology of 10 Indonesian Reform) dan penampilan beberapa karya Lucky Kuswadi Lucky Kuswandi bersama Kalyana Shira Films. Program lainnya adalah diskusi filem dokumenter bersama Gerzon R.Ayawalia (Institut Kesenian Jakarta).
|
|
Terakhir Diperbaharui: Jumat, 25 Juni 2010 14:23 |
|
Selanjutnya...
|
|
Artikel
|
|
Ditulis oleh Akbar Yumni
|
|
Kamis, 03 Juni 2010 14:04 |
|
Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia Belanda seperti; Si Tjonat (1929), Rampok Preanger (1929), Si Pitoeng (1931). Hal ini masih berlaku hingga saat ini. Lalu, apa sebutan untuk produksi filem yang berperilaku mimikri terhadap filem nasional? Fenomena ini yang muncul pada perhelatan Festival Film Purbalingga IV, pada 26-30 Mei 2010 lalu di Purbalingga. Programer festival, Dimas Jayasrana dalam pengantarnya menyatakan bahwa televisi tampaknya masih (harus) menjadi musuh bersama (dan utama). Dari sekian karya fiksi dan dokumenter yang masuk, terlihat bagaimana logika tayangan televisi mendominasi cara berpikir para pembuatnya. Berpikir yang fatalistik, instan, serta penyederhanaan persoalan tanpa runut logika yang matang. Artinya, ungkapan oleh programer festival tersebut menandakan ada semacam perilaku “mimikri” terhadap televisi.
Festival Film Purbalingga IV merupakan festival filem yang menampilkan karya-karya produksi filem di daerah Purbalingga, dan Banyumas Raya (Cilacap, Bobotsari, Purwokerto). Festival tahunan ini memang diorentasikan bagi kalangan anak SMA, yang merupakan basis konsituen pembuat filem yang di wilayah Purbalingga dan Banyumas Raya. Pada perhelatan ke 4 ini menghasilkan 19 filem pendek fiksi, 12 filem pendek dokumenter.
|
|
Terakhir Diperbaharui: Rabu, 28 Juli 2010 11:39 |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |
"jadi Zizek memang enak. Bisa ngomong "seenak"-nya, bis...
Setelah beberapa lama, ada kendala teknis pada fasilitas komentar d...
tes
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisa...
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap ...
mmmm...von trier telah lama mati...bagi saya film ini tetap bermutu...
akhirnya yakin juga bahwa film keren ini ada maksudnya (lho!!) haha...
Boleh deh argumentasinya, tapi saya tetap bersepakat dengan para kr...
la'u cari aja di ambassador ato di lapak bajakan. banyak yg jual . . .
lom nonton filmnya juga,ada di jual ga yak???