I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Tina Beattie   
Rabu, 19 Mei 2010 15:28

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson, The Passion of the Christ, menawarkan sebuah penjelajahan kekerasan yang berasal dari kisah tak sedap penebusan dosa Kristiani secara apa adanya. Jika Antichrist menawarkan kita pandangan terpotong atas jiwa tersiksa sutradaranya, maka ia adalah jiwa yang dipahat di dasar naluri Katolikisme yang lebih gelap dan hadir tanpa ragu ketimbang fantasi gemerlap Gibson mengenai penyaliban. Sejumlah kritikus di festival filem Cannes mencemooh von Trier mempersembahkan Antichrist-nya kepada Andrei Tarkovsky, dan saat melakukannya ia sudah kehilangan hubungan: sama seperti sutradara besar Rusia, von Trier memiliki kapasitas untuk menggunakan gambar bergerak sebagai ikon seluloid yang menawarkan potongan-potongan menuju kesintingan mendalam teror dan hasrat-hasrat metafisika Kristiani.

poster-antichrist

Dalam Breaking the Waves-nya von Trier, tokoh perempuan Bess (Emily Watson) adalah seorang figur seperti-Kristus, representasi mistisisme dan kegilaan mengganggu yang mengorbankan hidupnya demi menebus lelaki yang dicintainya. Ini adalah filem mengejutkan dan kontroversial, tidak terutama pada pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakannya menyoal prostitusi dan pembunuhan Bess menguatkan stereotipe seksual kasar tentang seksualitas dan kesahidan perempuan. Antichrist memaksakan pertanyaan-pertanyaan ini bahkan lebih jauh, meminta kita untuk merenungi apa artinya menggambarkan perempuan tidak sebagai figur Kristus tapi sebagai Hawa yang dalam tradisi teologis Kristiani sudah direpresentasikan sebagai personifikasi setan dan pembawa kematian pada dunia.

antichrist06-lst064548

Di abad kedua, Tertullian[1] menulis tentang perempuan: “Kalian adalah gerbang iblis: kalian pembuka pohon (terlarang) itu: kalian pengkhianat awal dari hukum ilahi: kalian adalah orang yang membujuk ia yang tidak cukup keberanian iblis untuk menyerang. Kalian menghancurkan citraan tuhan, lelaki, dengan begitu mudahnya. Atas dasar pengkhianatan kalian – maka timbullah kematian- bahkan Putra Tuhan harus mati.”  Von Trier mengajak penontonnya ke dalam pembukaan kejam dari keyakinan maskulin ini dan bencana yang mereka sebabkan dalam kehidupan perempuan.

Lars von Trier's Antichrist - Official Trailer

 

Sumber yang Taksa

Antichrist adalah sebuah alegori mitos Genesis yang mengungkapkan teror psikologis keyakinan Kristiani mengenai muasal dosa. Citraannya tidak hanya ditarik dari filem-filem horor modern tapi juga dari derasnya ketakutan akan imajinasi-imajinasi pertengahan beserta pengaruh jahat dan kekuatan Setan. Antikristus dari judul filem itu ada di mana-mana sekaligus tidak di mana-mana – kehadiran yang kental dan langka mengalir di alam, termasuk sifat dasar manusia, dan berpengaruh pada kemandulan, kematian dan pembusukan. Barangkali Antichrist juga merupakan Tuhan-putra itu sendiri, dicitrakan pada figur suami, di mana kultus misoginistiknya telah mengorbankan generasi-generasi perempuan melalui pelecehan, pembakaran dan penyiksaan, sementara memasukkan ke dalam tubuh perempuan itu sendiri sebuah perasaan bersalah dan jijik pada diri dalam pengertian yang sudah mengakar.

Filem ini dibuka dengan prolog kesedihan mendalam, difilemkan dalam hitam dan putih dan diputar gerak lambat beriramakan musik surgawi (Lascio Chi’o Pianga aria dari Rinaldo-nya Handel – “Biarkan aku menangisi nasib buruk, dan bahwa sudah lama aku ingin bebas”). Saat sang tokoh protagonis tak bernama (diperankan secara sempurna oleh Charlotte Gainsbourg dan Willem Dafoe) bercinta, anak mereka yang baru belajar merangkak menaiki ranjang dan menuruni tangga, sekilas menyaksikan tubuh-tubuh orangtuanya saling berpagut sebelum jatuh dan mati dalam salju di luar rumah. Kemudian von Trier memulai penjelajahan sisi gelap – sisi feminin- kisah penyelamatan Kristiani, memusatkan perhatian pada figur Maria/Hawa yang putranya harus mati demi penebusan manusia; tapi kenapa harus berlaku padanya?

1258060238-scene-from-antichrist-200-001

Perempuan von Trier adalah Madonna dan pelacur, seorang lembut dan pietà[2] menyesakkan serta penggoda banyak mau yang juga mematikan. Dalam kilasbalik kita melihat bagaimana, musim panas sebelum kematian anaknya, ia membawanya ke dalam kabin di kedalaman rimba yang dikenal sebagai “Firdaus” untuk mengerjakan tesis doktoralnya. Topiknya adalah gynosida – sebuah istilah yang diciptakan feminis untuk merujuk pada penistaan dan pembunuhan kaum perempuan, khususnya dalam tradisi Kristiani. Saat ia mempelajarinya ia menjadi yakin bahwa pengetahuan yang dicarinya adalah kebohongan, dan bahwa perempuan memang benar bersalah dan dipersetankan sebagaimana dituduhkan. Dan begitulah ibu muda ini menjadi Hawa-nya von Trier, pencari pengetahuan terlarang, pembawa kematian, pemikul dosa ras manusia, penyebab kematian Putra Manusia.

Suaminya seorang terapis yang memutuskan untuk memegang kendali atas rehabilitasi istrinya, menawarkan dirinya sebagai pandita-aku dan penyelamat saat ia terjun ke kedalaman kesedihan dan kegilaan tak tertahankan atas kematian anaknya. Saat perempuan itu mengakui ketakutannya pada rimba, sang terapis memaksa mereka pergi kesana agar sang istri bisa menghadapi dan merasionalisasi ketakutannya. Jadilah pasangan manusia ini –Adam dan Hawa, setiap lelaki dan setiap perempuan- melintasi jembatan yang diperlambangkan sebagai batasan antara kebudayaan dan alam, rasio dan kekacauan, kewarasan dan kegilaan: jembatan menuju neraka. Narasi filem terpotong saat von Trier mengambil nalar manusia khas “barat”-nya ke dalam mimpi-mimpi buruk dari ketakutan paling menyiksa dan irasional – rawa kekerasan seksualitas perempuan dan kebiadaban alam.

von_trier_antichrist_2

Ada beberapa adegan di mana sang suami mencoba menganalisa ketakutan istrinya pada rimba. Sang istri mengungkapkan bahwa ketakutan terbesarnya bukanlah rimba melainkan hal lain. Dia menggambarkan sebuah segitiga dan menuliskan “Firdaus (taman)” di dekat puncaknya, meninggalkan tanda tanya di posisi puncak saat sang suami mencoba menemukan kata pada sumber nyata ketakutan istrinya. Pada satu saat, sang istri mengatakan bahwa alam adalah ‘Gerejanya Setan’, dan sang suami pun menempatkan Setan pada posisi puncak itu. Lalu, saat sag suami menemukan kedalaman rasanya akan iblis personal dan mempersalahkan, sang suami menempatkan kata “aku” – ketakutan terbesarnya adalah dirinya sendiri- hanya untuk menyilangkannya lagi. Saya teringatkan studi Genesis Paul Ricoeur, di mana ia menelisik preeksistensi iblis di Taman Firdaus, mengatakan bahwa kami menemukan diri dalam sebuah dunia di mana iblis mendahului kita sebagai misteri tak dikenal. Perlambang kejatuhan menyebar di filem ini, tapi beludak tidak pernah muncul. Apapun sumber iblis itu, ia sudah melaksanakan tugasnya sebelum kita memasuki Firdaus beracun ini.

 

Kisah Penyakit Khas Perempuan

Lars von Trier membuat Antichrist selama periode depresi besar dan antipatinya atas terapis. Namun sasarannya di sini bukan hanya industri terapi, tapi kekuatan kendali pikiran rasional maskulin yang menolak untuk mengenali misteri baik dan buruk, kekacauan utama alam, dan aspek-aspek pengalaman manusia yang melampaui bahasa dan kendali nalar. Jika ini sebuah penistaan pada psikoterapi moderen, filem ini juga sebuah penghormatan luar biasa pada Sigmund Freud yang berani menjelajahi rimba tergelap dan mimpi-mimpi kita yang paling menakutkan.

Gagasannya adalah tiga pengemis yang melambangkan kepedihan, kesengsaraan dan keputusasaan dan yang menyediakan babak penjudulan bagi filem yang, seperti Breaking the Waves, memiliki narasi yang diinterupsi oleh halaman-halaman judul: Kepedihan, Kesengsaraan (Kendali Kekacauan), Keputusasaan (Gynosida) dan Tiga Pengemis. Ini mungkin memaksakan perlambangan terlalu jauh untuk menunjukkan bahwa rujukan-rujukan pada para pengemis ini dalam kisah rakyat Rusia, yang seperti Kristus, menawarkan kebijaksanaan dan kasih melalui penderitaan – sulit menemukan pesan penebusan apapun dalam penggambaran von Trier tentang penderitaan di sini. Epilognya memiliki ulangan aria[3] Handel tapi menawarkan fantasi penebusan murahan. Sang lelaki – juruselamat yang berbalik jadi pembunuh- terluka tapi hidup dalam Firdaus yang tampak dipugar kembali ke dalam kebaikan aslinya, sedangkan sang perempuan yang tubuh tercacahnya sudah mengurai lantai rimba menaik dalam kebangkitan umum. Tapi ini sebuah akhir ironis dan mencela.

scene-from-lars-von-trier-001

Apapun makna penebusan, misteri iblis tetap ada, dan von Trier tampak mengajukan pendapat kuat bahwa tidak ada kebangkitan atau kembali ke Firdaus yang bisa menghapuskan kisah gynosidal yang berasal dari drama kejadian biblikal. Saat kredit penutup bergulir, untuk sementara waktu saya bertanya-tanya apakah para perempuan itu diumpamakan sebagai representasi yang tertebus pada jamuan langit, atau gerombolan harpies[4] seram yang beterbangan di atas pria kesepian.

 

Bunda Duka

Jadi apa yang harus dibuat di sini? Antichrist sudah dituduh sebagai filem misoginis dan anti-Kristus, tapi saya pikir ini sederhana. Barangkali von Trier bahkan menunjuk pada para kritikus yang mencoba membantah kedalaman bawah sadar (chtonian) dari jiwa manusia dengan pendapat moral mereka yang salah. Perempuan di filem ini adalah daya alami yang mengerikan dan merusak, tapi filem ini mengundang pula pembacaan lain. Ia juga merupakan mater dolorosa, bunda duka yang kepedihannya terlalu agung untuk ditumpahkan ke dunia yang didominasi oleh daya-daya objektif dan penalaran maskulinitas. Semakin sang pria mencoba mengendalikannya, semakin tak terkendali ia, berubah menjadi perempuan Genesis yang dikutuk untuk mengandung anak-anak dalam keperihan dan membutuhkan suami yang akan berkuasa atas dirinya (Kitab Kejadian 3:16)[5], namun putra mereka juga akan menjadi sumber penebusan.

antichrist-1024x682

Ada adegan saat si perempuan menggambarkan pendengaran suara anaknya menangis di dalam rimba. Ia mencarinya tapi tampak seperti tidak di mana-mana dan ada di mana-mana. Mendadak, kamera memutar yang membuat kita mendapatkan pandangan mata-Tuhan, dan tangis anak itu menjadi tangisan kosmis Kristus, menanggung beban dosa dunia. Citraan ini dikuatkan oleh penemuan berlanjut sang ibu atas anaknya, bermain di kabin dengan sebatang kayu dalam pose yang mengingatkan pada lukisan Kristus muda di bengkel pertukangan bapaknya, menandakan kayu salib. Kemudian, sang perempuan akan menggunakan potongan kayu yang sama itu untuk mengebiri kemaluan suaminya, sebuah adegan paling mengganggu dan terbuka menyoal mutilasi dan penyiksaan seksual dalam filem ini.

Hawa yang satu ini bukanlah korban dari kendali lelaki. Ia mencari pembalasan, membuat teror penelantaran dan pembiaran untuk mendorongnya kepada tindakan kekerasan sadistik dan masokistik ekstrem saat ia mencoba menjebak sang lelaki, jadi para penonton akan tertarik pada brutalitas filem ini. Tapi barangkali ini hanya sebagian dari pesan tersiratnya. Para penonton filem-filem horor memiliki hasrat tak terpuaskan pada penetrasi, mutilasi dan pembunuhan tubuh perempuan. Sama seperti gambaran-gambaran pembakaran dan penyiksaan perempuan di abad pertengahan, sinema mengungkapkan kultur gynosidal kepada kita, menerima mutilasi dan penyiksaan terhadap perempuan oleh lelaki itu sebagai kebiasaan, tapi begitu takut saat perempuan menjadi sang penyiksa.

 

Potongan yang Hilang

Biar pun begitu, kita ditinggalkan dengan pertanyaan berat apakah von Trier sekadar menambahkan horor gynosidal yang diungkapkannya ke dalam katalog. Sejatinya, bukan sang perempuan yang selamat melainkan sang lelaki, di mana penyalib menjadi yang tersalib, dan sang perempuan memunculkan hukuman seksual paling biadab atas dirinya sendiri demi kejahatan yang mengharuskannya berdiri sebagai terdakwa di depan matanya sendiri.

Ketaksaan ini menjadi bagian dari kekuatan mengganggu filem. Von Trier menguliti lapisan agama beradab yang terdomestifikasi dan menunjuki kita kondisi manusia saat ia memunculkan tradisi Kristiani dalam aspek yang lebih gelap dan pesimistik, merujuk kejatuhan ke dalam kejahatan yang menerjunkan lelaki, perempuan dan alam ke keadaan pengasingan dan kekerasan biadab.

00023825

Orang bisa saja berpendapat bahwa ini merupakan pembacaan yang sangat menyimpang tentang Kristianitas, sebab perempuan dalam jantung tradisi itu adalah Maria, Hawa Baru, yang keibuan ilahiahnya melambangkan damai Tuhan dengan penciptaan dan kebaikan serta rahmat penebusan perempuan. Namun sebagaimana ditunjukkan para feminis, Maria telah menduduki posisi kemurnian dan kesucian unik dalam teks dan tradisi Kristianitas Katolik, sedangkan seluruh perempuan lainnya diidentifikasi dengan Hawa sebagai daya alami primordial, yang merusak dan mematikan, dan dengan begitu harus ditolak dan dikendalikan oleh pikiran rasional maskulin. Von Trier barangkali hanya mengisahkan setengah cerita, tapi setengah ini yang sudah terlalu sering dibiarkan untuk memaknai keseluruhan sejarah keagamaan dan kebudayaan barat.

 


Tina Beattie adalah profesor studi-studi Katolik di Roehampton University, Inggris. Buku-buku yang telah diterbitkannya antara lain, God’s Mother, Eve’s Advocate (Allen&Unwin, 2002), New Catholic Feminism: Theology and Theory (Routledge, 2005), dan The New Atheists: The War on Religion and the Twilight of Reason (Darton, Longman & Todd, 2007). Situs pribadi Tina Beattie dapat dikunjungi di www.tina.beattie.googlepages.com

 

all other rights are reserved to the author and openDemocracy.net.
Artikel asli diterbitkan dalam majalah online independen www.opendemocracy.net

 

- - - - - - - - -

[1] Hidup pada tahun 160-240 Masehi, merupakan teolog Kristiani awal. Nama Latinnya Quintus Septimus Florens Tertullianus. Tulisan-tulisannya termasuk apologetik Kristiani dan serangan atas berhala pagan dan Gnostisisme (bidah Kristen yang muncul pada abad ke-2 Masehi).
[2]
Lukisan atau patung Bunda Maria melahun tubuh mati Yesus Kristus. Dalam bahasa Italia, pietà berarti sedih (Catatan Redaksi).
[3]
Lagu panjang yang menemani suara solo, khususnya dalam sebuah opera atau oratorio (musik narasi bertema religius) (Catatan Redaksi)
[4]
Monster bertubuh dan kepala perempuan dengan sayap dan cakar (Catatan Redaksi)
[5]
Dalam kitab Kejadian tertulis: “Aku akan melipatgandakan deritamu waktu mengandung; dalam kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; hasratmu akan tertuju kepada suamimu, dan ia akan berkuasa atas dirimu" (Catatan redaksi)

Hits
Comments
Add New Search
ari  - senangnya baca ini   |118.136.197.xxx |2010-05-31 04:29:09
akhirnya yakin juga bahwa film keren ini ada maksudnya (lho!!) hahahaha
trimakasih sudah memuat tulisan ini.
Veronika Kusumaryati  - boleh deh   |118.137.11.xxx |2010-05-27 06:44:11
Boleh deh argumentasinya, tapi saya tetap bersepakat dengan para kritikus Cannes dan semua orang yang dituduh sebagai 'penegak' rasionalisme Barat oleh penulis ini bahwa film Anti-Christ hanyalah sebuah self-indulgence von Trier tanpa makna apapun selain misogini. Saya tak ingin membenarkan seluruh citraan kekerasan yang ditampilkan oleh von Trier dengan rasionalisme yang sama yang dilakukan Barat. Bagi saya, von Trier sebagai eksponen Dogme 95 dan pencipta film bermutu telah lama mati.
arjunapulangkeindonesia  - boleh juga   |125.161.157.xxx |2010-06-01 04:40:01
mmmm...von trier telah lama mati...bagi saya film ini tetap bermutu sebagai kelanjutan pertanyaan-pertanyaan filsafat yang ingin dikupas (dan diyakini) oleh sang sutradara. von trier punya tradisi itu sejak ia membuat kingdom hospital. ia pun melanjutkan tradisi sinema teologi normandia yang diusung Victor Sjöström, carl dreyer, dan ingmar bergman. film ini mampu melepaskan diri dari jeratan nyentrik judul dan tema, dan saya sama sekali tak melihat citraan kekerasan dalam film ini..... dan kalau dikatakan sebagai upaya merasionalisasikan, mmm... tak juga ya, karena ia merupakan representasi...
rian  - like   |110.138.16.xxx |2010-05-20 15:02:27
lom nonton filmnya juga,ada di jual ga yak???
arjunapulangkeindonesia   |202.73.109.xxx |2010-05-20 17:08:34
la'u cari aja di ambassador ato di lapak bajakan. banyak yg jual . . .
arjunapulangkeindonesia   |125.161.157.xxx |2010-06-01 04:46:42
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap beberapa menit. he he he he
Chimera   |114.59.213.xxx |2010-05-19 18:12:26
Kristiani banget ulasannya..
arjunapulangkeindonesia   |202.73.109.xxx |2010-05-19 14:22:20
anjing . . . keren banget pembahasannya. pasti filmnya juga keren. mengingatkan pada Tarzan X. he he he
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
More articles :

» Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu?Guy: Kali pertama kami didekati...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 519
Konten : 146
Jumlah Kunjungan Konten : 157421

Artikel.Lain_!

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Rabu, 20 Januari 2010

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

V Film Festival 2010 dan Wawancara dengan Intan Paramadhita
Sabtu, 24 April 2010

V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...

The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi
Selasa, 15 Juli 2008

Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...

Dengan Ringan Melihat Sejarah Seni Rupa Dunia pada Video 70 Million
Rabu, 10 Maret 2010

Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya....

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Kamis, 29 Juli 2010

PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa...

Sepuluh Sutradara Sepuluh Tahun Reformasi
Kamis, 12 Juni 2008

Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...

Jim Henson: Sutradara Filem Eksperimental, Bapak The Muppet Show dan Sesame Street
Selasa, 12 Januari 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Beberapa waktu lalu saya membuka sebuah situs jejaring seni media baru (new media arts) www.rhizome.org. Saat melihat dan membuka situs ini saya berhenti sejenak di sebuah video yang di-upload oleh...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Jumat, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Perbincangan dengan Budi Darma
Selasa, 14 Juli 2009

Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah dipertontonkan ke khalayak umum. Di antara sekian...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Sabtu, 03 Juli 2010

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...

Elida Tamalagi: Tawar Menawar Wacana Di Bioskop Alternatif
Selasa, 12 Agustus 2008

Kebutuhan publik akan bioskop alternatif terbilang sangat besar. Sayangnya, kebutuhan besar ini tidak didukung oleh kesiapan calon pengelola bioskop. Kegiatan memutar filem di bioskop-bioskop semacam ini masih dipandang sebagai ‘kegiatan asal...

Nonton dan Diskusi di KINOKI Jogja
Kamis, 12 Juni 2008

Nama ini diambil dari sebuah komunitas yang didirikan di Rusia tahun 1920an oleh Dziga Vertov. Arti harfiahnya adalah Mata Kamera. Sesuai dengan namanya, Kinoki memusatkan kegiatannya dengan membuat filem memakai metode dokumenter, yaitu merekam...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Dominasi Produksi Visual Video
Selasa, 18 Agustus 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 Pernyataan dua penulis budaya visual di atas tampaknya mampu...

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Selasa, 15 Juli 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Tarzan ke Kota dengan Cacat Logika Bawaan
Rabu, 17 Desember 2008

Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Jumat, 12 Juni 2009

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Kamis, 19 November 2009

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

Yang Muda yang Bercinta: Montase Awal di Masa Rezim Orde Baru
Rabu, 07 Oktober 2009

Seorang pemuda menumpang angkutan bajaj dengan kekasihnya yang sedang mengandung, melewati kawasan kumuh Jakarta di era 1970an. Anak-anak jalanan di lorong-lorong kota menjadi rangkaian sintagmatik bajaj. Pemuda tersebut adalah seorang mahasiswa...

Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng
Rabu, 14 Juli 2010

Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng * * * 

Sinema Digital dan DVD
Senin, 28 September 2009

Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri lain filem Anda ialah musik, yang...

Suatu Hari Kita Hanya Akan Mengenang Seluloid
Selasa, 12 Agustus 2008

Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...

Komedi: Melepaskan Diri dari Kecemasan Sosial-Politik
Senin, 03 Agustus 2009

Pembukaan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, pada 28 Juli 2009, dipadati pengunjung. Malam itu, Hafiz, Direktur Festival, bersama-sama dengan Tubagus “Andre” Sukmana (Direktur...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Kamis, 16 Juli 2009

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara
Senin, 03 Agustus 2009

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net