I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Akbar Yumni   
Jumat, 24 Juli 2009 12:25

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi seorang alkemis. Roswitha sendiri harus bekerja menjalankan klinik aborsi ilegal. Dalam situasi ini, setidaknya Roswitha harus mengalami dua hal yang cukup berat dalam kesehariannya. Pertama, dia harus menghadapi sikap acuh tak acuh dari sang suami yang menganggapnya sebagai seorang inferior. Kedua, permusuhannya dengan dokter Genee dalam memandang konsepsi aborsi. Suatu ketika Roswitha harus mengalami pukulan yang cukup berat karena praktik aborsinya ditutup pihak kepolisian. Pukulan berat tersebut membuat Roswitha menjadi pasif. Ia dituntut melanjutkan hidup, sambil mendefinisikan kembali dirinya sebagai seorang ibu, istri, dan perempuan yang bekerja. Peran yang dimainkan oleh Roswitha ini merupakan gambaran masa awal masyarakat globalisasi, di mana subjek sosial yang melekat pada dirinya sedang mengalami ancaman dalam konstruksi dan ruang sosial masyarakatnya

Secara umum karya-karya filem Alexander Kluge merupakan artikulasinya dalam menciptakan ruang publik bagi penonton, khususnya sebuah rekonstruksi pengalaman sosial para penonton melalui medium filem. Penciptaan ruang publik dalam bahasa sinema Kluge merupakan kemampuannya merangsang penonton membuat konstruksi pengalaman bermasyarakatnya sendiri. Asumsi Kluge dalam merumuskan ruang publik setidaknya melibatkan dua hal. Pertama, apa yang disebut Kluge sebagai “publik borjuis”, di mana terdapat ruang sosial aktual yang di dalamnya memuat institusi macam media massa, termasuk juga sinema. Ruang publik borjuis ini didominasi oleh korporasi, para pemilik media, serta pemerintahan yang mampu membentuk pengalaman masyarakat. Kedua, Kluge mengasumsikan ruang publik sebagai prinsip etika, di mana ada semacam tuntutan transparansi untuk ruang sosial kolektif yang memiliki keluasan jangkauan. Dalam ruang publik ini terdapat individu yang berhadapan dengan sistem politik dan ekonomi, yang interaksinya membentuk berbagai perbincangan dan kendali publik berjangkauan besar, sehingga mampu melewati batas institusi publik di mana setiap individu juga bisa memainkan peran kritisnya.

 

Telaah Adegan

Bingkaian kamera memuat sebuah pandangan ke atas pada salah satu jendela apartemen, di mana seorang anak kecil sedang menatap keluar. Intensitas ambilan gambar anak kecil yang sedang memandang keluar melalui kaca jendela itu seakan mewakili mata yang terisolasi atau diisolasi. Dari ambilan ini, Kluge tampak sedang melakukan visualisasi konsep keluarga dalam karyanya, Part-Time Work of a Domestic Slave. Adegan tangan sang anak yang menatap keluar jendela kaca, serta tangan yang menempel kaca itu sangat argumentatif. Jendela, pada ambilan gambar itu merupakan satu di antara sekian banyak jendela di sebuah bangunan apartemen yang menjadi tempat tinggal penduduk di masyarakat perkotaan. Adegan sang anak di jendela seakan menjadi sebuah peristiwa yang terisolasi dari sekian banyak peristiwa yang berlangsung di saat bersamaan, di mana jendela adalah sebuah ruang melihat sekaligus batas bagi sebuah keluarga di antara kumpulan keluarga yang lain dalam strata sosial. Persuasi ambilan gambar pada adegan itu seakan sedang menegaskan sebuah citra keluarga yang terisolasi dalam ruang sosial.

Ambilan gambar berlanjut ke adegan berupa kesibukan domestik keluarga Roswitha Bronski di pagi hari. Ambilan gambar tersebut berisikan suasana adegan sarapan pagi, di mana sang suami serta dua anak Roswitha sedang duduk di meja makan. Roswitha pun sibuk mengurus si kecil yang menangis, sambil mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Narasi visual pada adegan ini berlangsung dalam cara dokumenter, dengan bukaan bingkai gambar penuh. Intensitas realisme seakan tanpa pretensi, di mana tidak ada tampilan gambar partikular atau detail-detail ambilan dekat (close-up) yang mempertajam realismenya. Bagi Kluge hal tersebut mungkin usaha membangkitkan penonton aktif ketimbang praktik filem aktif. Estetika Kluge dalam konteks ini adalah menyikapi tradisi filem Hollywood, di mana filem menjadi sangat agresif dalam menciptakan persuasi kepada penonton, sehingga pengalaman penonton mengikuti kemasan pengalaman yang terdapat pada filem. Hubungan antara penonton dan filem di sini menegaskan sebuah bentuk penonton yang menjadi pasif.

Pada adegan Roswitha yang sedang berada di ruang praktik aborsi, seorang pasien memasuki ruang bedah, kemudian sang dokter melakukan pembedahan aborsi, sang pasien terlentang dengan paha terbuka, sebuah alat cangkang membuka vagina, dan kemudian sebuah capit mengambil janin yang sudah cukup besar dalam rahim sang pasien. Ambilan gambar panjang memperlihatkan seluruh adegan proses pengambilan janin dalam gaya yang sangat dokumenter. Sang janin diambil dalam rahim, kemudian gambar berpindah pada adegan janin yang diletakkan pada wadah peralatan bedah. Semua berjalan begitu saja. Lalu, ambilan gambar menampilkan adegan sang dokter yang meletakkan peralatan bedah, di mana terdapat janin tersebut. Sang janin pun tertimpa gunting pet yang digunakan sebagai alat bedah. Adegan peristiwa aborsi pun selesai, dan sang ibu pun bangkit sambil menenggak minuman berakohol. Semua ambilan gambar berlangsung hampir tanpa pretensi, seakan sekadar menggambarkan sebuah proses medis biasa, tanpa beban teologi apapun –apalagi sakral.  

Sekuen adegan aborsi di atas bagi Kluge merupakan sebuah tawaran diskursus mengenai aborsi yang sedang berlangsung di ruang publik. Adegan proses aborsi berlangsung seakan tanpa drama apapun. Sangat dokumenter. Namun kemasan dokumenter tersebut merupakan sikap Kluge dalam membuka diskursus baru mengenai konsepsi aborsi di masyarakat Jerman tentunya. Semua kemasan ambilan gambar panjang yang menampilkan peristiwa dalam adegan seakan merangsang penonton untuk merekonstruksi pengalaman sosial mereka mengenai aborsi, dengan berusaha mematahkan kaidah filem dalam sekuen ini. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Theodor Adorno, seni dalam kebudayaan kapitalisme tidak jarang menjadi suatu afirmasi bagi suprastruktur kaum borjuis.

Dalam konteks “publik bourjuis’ Kluge, filem tidak jarang sebagai bagian dari apa-apa yang telah dikontruksikan oleh para pemegang modal dan kebijakan, sehingga kaidah filem tersebut bisa jadi afirmasi dari peristiwa-peristiwa publik yang telah didominasi oleh kelompok-kelompok pemegang kekuasaan. Di sekuen ini, Kluge pada dasarnya sedang membuat efek tandingan dalam bahasa sinema dengan merangsang penonton untuk merekonstruksi diskursus aborsi. Kluge meyakini bahwa estetika dan kemungkinan politik dalam sinema harus dan dapat menjadi basis mode pengalaman. Kluge lebih berorientasi kepada para penonton sinema dengan merangsangnya untuk menghasilkan sebuah fantasi. Dalam pandangannya, pemaknaan fantasi bukan dalam konsepsi psikoanalisa seperti yang terdapat dalam terminologi bahasa Inggris. Namun fantasi dalam pandangan Kluge lebih berorientasi pada imajinasi, di mana para penonton mampu menciptakan jaraknya sendiri terhadap suatu hal, yang oleh Kluge jarak-jarak tersebut dijadikan perekat dalam montase filemnya. Di sini Kluge tampak mengikuti teori montase yang dibangun Sergei Eisenstein, bahwa pembangunan makna dari gambar yang ditampilkan juga melibatkan penonton.

Konsepsi fantasi dalam filem Kluge tidak lepas dari konsepsi guncangan (shock) yang diambil dari pemikiran Walter Benjamin. Guncangan dalam pandangan Benjamin merupakan refleksinya atas kebudayaan industri dalam kapitalisme yang bersifat sangat partikular dan terus berulang. Kemampuan teknologi dalam masyarakat kapitalisme, memungkinkan produk kebudayaan yang hanya menyuguhkan hal-hal partikular belaka, dan cenderung bersifat komoditas. Kebudayaan masyarakat kapitalisme industri itu selalu diarahkan untuk menghadapi serangkaian guncangan, namun masyarakat tidak memiliki kemampuan penangkal yang praktis dalam menerima rangkai guncang tersebut. Bagi Kluge, adalah salah jika filem membuat guncangan kepada penonton, sebab itu akan menghalangi kemerdekaan persepsi mereka. Guncangan yang hadir dalam kaidah dramatisasi filem pada kebudayaan industri kapitalisme, dihadirkan ke hadapan penonton secara tiba-tiba. Proses “tiba-tiba” ini oleh Kluge dianggap sebagai bentuk subdominasi yang terdapat dalam proses penerimaan para penonton, karena keluar dari kedalaman pemahaman terhadap sesuatu, serta teralihkannya persepsi dan fantasi penonton akan sebab yang seolah nyata.

Pada adegan aborsi di filem ini misalnya, Kluge berusaha dalam merekonstruksi  pengalaman sosial dalam memaknai peristiwa tersebut. Hampir tidak ada patahan ambilan gambar dalam adegan aborsi yang bersifat partikular atau dekat dalam menciptakan guncangan bagi para penonton di filem ini. Kluge berusaha membuat jarak peristiwa aborsi tersebut dengan para penonton, agar mampu merekonstruksi peristiwa itu secara rasional. Tentu Kluge sudah menghitung kapasitas penonton dalam konteks sosialnya. Diskursus aborsi merupakan perbincangan yang telah mengalami konstruksi institusi semacam agama. Memuat adegan aborsi yang seakan tanpa jeda dalam filem ini, secara tidak langsung mengasosiasi sebuah tindakan ‘barbar’ tanpa mengindahkan nuansa teologis yang berlaku di masyarakat. Dengan tidak menyertakan dialog, adegan ini berhasil menghilangkan basa-basi, yang rasionalitasnya ditemukan seperti dalam peristiwa klinik biasa. Berlangsung seketika tanpa jeda narasi apalagi metaforik. Namun,  di saat bersamaan, Kluge juga sedang menawarkan sebuah debat baru dalam bahasa sinema tentang diskursus aborsi. Kluge tidak memberikan guncangan sama sekali dalam adegan aborsi ini. Struktur waktu seakan sejajar dengan struktur waktu sebenarnya.   

Kisah tentang Roswitha merupakan gaya diskursus yang ditawarkan Kluge. Penonton seakan dirangsang untuk merekontruksi pengalaman sosial mereka, khususnya mengenai konsepsi keluarga, peran kaum perempuan dalam ruang sosial masyarakat, serta perdebatan mengenai konsepsi aborsi yang masih dipengaruhi oleh paham teologis dalam masyarakat Jerman pada masa itu. Dalam menciptakan bahasa visual sebagai bentuk narasi filem, Kluge hampir tidak membedakan antara membuat filem dengan menulis buku atau program televisi sekalipun. Ambilan-ambilan gambar yang dilakukan Kluge pada dasarnya hampir sama dengan alur penulisan ilmiah, di mana ada ambilan-ambilan gambar kaki yang menunjang narasi. Pada filem Part-Time Work of a Domestic Slave ini, beberapa adegannya hampir mirip dengan reality show yang sedang tren di televisi nasional kita sekarang. Dan Kluge telah melakukannya di tahun 1973. Hal ini tampak pada adegan di mana Roswitha sedang menjalankan praktik aborsi, yang menampilkan subjek nyata dari masyarakat yang memang memilih melakukan aborsi. Ibu, dalam kosepsi humanis Kluge, Kluge merupakan bagian dari mode produksi, sebuah perspektif yang membedakannya dengan paham Marxis, yang melihat mode produksi dalam determinan ekonomi. Mode produksi dalam perspektif Kluge tersebut terartikulasikan pada peran perempuan sebagai seorang ibu yang melahirkan anak.



Filem Part-Time Work of a Domestic Slave merupakan karya awal Kluge dalam mengaplikasikan sikap teoretisnya di tahun 1973. Karya tersebut bisa dianggap sebagai sumbangan terhadap perkembangan sinema dunia dalam posisinya sebagai strategi kebudayaan, serta artikulasinya terhadap teori kritis yang mampu diaplikasikan ke dalam bahasa sinema Kluge. Sebuah diskursus sinema, di mana hampir tidak ada batas antara yang argumentatif dan yang estetik, serta yang teoretis dengan yang artistik. Gagasan sinema menjadi sebuah bentuk organis dan pertautan politik dengan situasi sosial yang sedang berlangsung, dalam artian memposisikan sinema dan penonton sebagai bagian dari estetika serta tawaran diskursus baru terhadap kebudayaan yang melingkupi sinema itu sendiri. Di sini Kluge menciptakan semacam posisi ulang sinema dan penonton sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam karya. Seperti yang diungkapkan oleh Walter Benjamin dalam membaca fenomena teknologi dalam seni, di mana kamera mampu menampilkan sebuah era seni yang sudah meninggalkan ritual dan proses, tetapi seni dimulai dari hal yang politik.

Hits
Comments
Add New Search
nony  - gorgeous...!!!   |118.136.198.xxx |2009-09-06 13:33:40
drop dead gorgeous....!!!!!! bukan pupuk aja yang organik... tapi juga ada sinema yang organik.....
bogie  - bener kata amrin   |125.164.124.xxx |2009-08-16 21:17:27
Penjelasannya cukup detail.
sampe adegan2 yg menurut sampean ciri khas kluge diceritakan panjang lebar.
cuma ya itu,gak tau sudut pandang sinema itu yg seperti apa,juga blm pernah liat filmnya.
jadi pengen nonton.kpn2 sampean bawa ke malang yo.
amrin  - mhhh....   |125.164.123.xxx |2009-07-27 23:06:02
berat banget bahasane bar...susah sekali mengimajinasikan, apalagi blom nonton filmnya (apa sama kayak novel2 realisme sosial)...jadi penasaran gmn ruang sosial yang ga natural(dinamis) disajikan lewat gambar kamera..penilaian masing2 penonton juga berbeda pastine...hehehe wis emboh!!
renal rinoza kasturi  - Wow... aplikasi ruang publik dalam bahasa sinema   |125.161.141.xxx |2009-07-27 16:48:18
Keren2... boleh tuh Bar filemnya di tonton...
Anonymous   |222.124.26.xxx |2009-07-24 19:28:14
...
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
More articles :

» Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

» Rentjong Atjeh

J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan bajak itu telah merampas segala barang yang berharga...

» Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

» Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955 (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

» Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158810

Artikel.Lain_!

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

V Film Festival 2010 dan Wawancara dengan Intan Paramadhita
Sabtu, 24 April 2010

V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...

Jermal dan Totalitas Neorealisme
Senin, 06 Juli 2009

(Sementara tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Dengan Ringan Melihat Sejarah Seni Rupa Dunia pada Video 70 Million
Rabu, 10 Maret 2010

Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya....

La Hora de Los Hornos, Godard dan Solanas dalam Perbincangan
Kamis, 12 Agustus 2010

(Beberapa waktu lalu, Jurnal Footage  menemukan sebuah perbincangan antara Jean Luc Godard dengan Fernando Solanas—sutradara Argentina—dalam majalah online Indianauteur (www.indianauteur.com) yang dimuat pada 18 Juni 2010. Wawancara ini...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Rabu, 03 Maret 2010

Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli, Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Bintang...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Jumat, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Lisabona Rahman: Nonton Gratis Filem Berbobot Setiap Hari
Selasa, 12 Agustus 2008

Terkadang bosan melihat filem-filem yang disajikan bioskop-bioskop kebanyakan. Sebagian besar disebabkan ceritanya yang itu-itu saja. Para pemainnya juga sama. Menghadapi kondisi ini, kehadiran sebuah bioskop alternatif menjadi penting karena...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Documemory: Khazanah Pustaka
Kamis, 04 Juni 2009

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Kamis, 03 September 2009

Dikompilasi oleh Jurnal Footage Kami tersentak mendengar kabar tentang pembunuhan tragis salah satu kritikus filem terbaik di Asia Tenggara, Alexis A. Tioseco. Dia begitu muda. Begitu penuh gairah. Bila sedang membincangkan filem, dia dapat dengan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Kamis, 19 November 2009

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Rabu, 16 Desember 2009

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi
Selasa, 15 Juli 2008

Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia
Senin, 08 Juni 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa...

Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010
Jumat, 25 Juni 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan
Sabtu, 19 Desember 2009

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

Idul Fitri 1431 H
Rabu, 08 September 2010

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H - - - 

Nonton dan Diskusi di KINOKI Jogja
Kamis, 12 Juni 2008

Nama ini diambil dari sebuah komunitas yang didirikan di Rusia tahun 1920an oleh Dziga Vertov. Arti harfiahnya adalah Mata Kamera. Sesuai dengan namanya, Kinoki memusatkan kegiatannya dengan membuat filem memakai metode dokumenter, yaitu merekam...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Sabtu, 19 Desember 2009

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Minggu, 10 Mei 2009

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net