I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Sekarang, Filem Pendek (Tidak) di Tangan Konfiden PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hafiz   
Senin, 23 November 2009 22:50

Waktu akan tetap memperhatikannya (Konfiden-red.), konsistensi dan keseriusannya akan teruji, sejauhmana bisa bertahan dengan visi yang ada. Demikian juga sejauhmana jika terjadi perkembangan yang membuat para aktivisnya bisa bertahan pada visi dasar? Karena di Indonesia ini masih dominan pada pandangan orang yang melihat industri film yang lebih menitikberatkan pada produksi film panjang yang diproyeksikan di gedung.

--Gotot Prakosa, Film Independen di Tangan Konfiden, (Ketika Film Pendek Bersosialisasi, 2001)

di-atas_relmati-karya-Nurfitria-Napiz-dan-Welldy-Handoko-dok-terbaik-2007

Ada yang baru dalam perhelatan festival filem pendek Konfiden tahun ini, yaitu mencoba memberikan alternatif tontonan dengan metode kuratorial yang cukup baik. Program dibagi dengan konsep beberapa fokus yang menarik seperti program khusus Lagu Gambar Gerak, Bahasa yang Terlampau Baku, Sutradara yang Bukan Tuhan, Pijakan yang Tidak Kokoh dan Film Pendek Sinema Besar. Selain itu ada program kompetisi yang dipilah dalam tiga tema besar yaitu; Sejarah, Waktu dan Kenangan. Filem berjudul Anak-anak Lumpur karya Danial Rifki meraih dua penghargaan sekaligus, yaitu Penghargaan Film Fiksi Terbaik dan Penghargaan Konfiden.

Pada 21 November 2009, saya sempatkan untuk menonton salah satu program Festival Film Pendek Konfiden 2009 di Kineforum Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kesan saya, festival ini masih punya harapan yang sangat besar untuk menjadi barometer perkembangan filem pendek di Indonesia. Dalam katalog tergambarkan, Konfiden meramu program dengan spesifikasi kuratorial yang cukup baik meski jumlah peserta dan karya yang layak untuk ikut dalam program kompetisi turun drastis. Namun, menonton salah satu program kompetisi di festival ini, saya berharap ajang ini akan lebih “berbunyi” dari gelaran sebelumnya.

DSC00415copy

Salah satu program kompetisi yang sempat saya lihat itu adalah Kompetisi 1: Sejarah, menampilkan tiga karya, Fronteira karya Emil Haradi (Produksi FFTV-IKJ), Sabotase karya Hadrah Daeng Ratu (Produksi FFTV-IKJ) dan Tan Malaka karya Erik Wirawan (Produksi FFTV-IKJ). Pada dua karya pertama, kita perlu berharap banyak kepada dua sutradara muda ini. Emil Haradi bermain dalam bahasa sinema yang cukup baik dalam menampilkan situasi dua kutub manusia yang berbeda posisi. Sutradara berhasil membangun ketegangan pada penonton dalam situasi terjepitnya dua tokoh tentara (Indonesia dan Timor Leste) di ladang ranjau. Pengembalian sisi manusia dalam tubuh para tentara dihadirkan oleh sutradara dalam dialog-dialog yang “cukup” menyengat. Namun, kekurangan masih tetap terlihat di sana-sini. Salah satunya kemampuan aktor yang masih kurang bisa mengekplorasi ekspresi. Dialog-dialog yang hadir masih terasa “klise” dalam konteks persoalan ketegangan Indonesia dan Timor Leste. Pada filem Sabotase, saya melihat Hadrah Daeng Ratu adalah salah satu calon sutradara andal. Filem ini berhasil membuka tabir “eksotisme” kemiskinan dalam bahasa filem yang sangat lugas. Sabotase dibuka dengan adegan ambilan gambar panjang—yang mendeskripsikan situasi salah satu daerah kumuh di Jakarta. Filem ini tidak memberikan pretensi yang menghakimi antara penguasa dan legalitas pemukim yang tinggal di daerah kumuh itu. Para aktor/aktris hadir sebagai potret lugas situasi masyarakat yang termarginalkan dalam perkembangan kota-kota di Indonesia. Pada filem ketiga, Tan Malaka karya Erik Wirawan, menurut saya sutradara masih harus belajar banyak tentang representasi bahasa filem dari seorang tokoh penting negeri ini. Dalam filem ini, Tan Malaka digambarkan seperti seorang yang kerjanya marah melulu. Selalu terkecewakan. Padahal kita tahu, yang paling tajam dari seorang tokoh sekelas Tan Malaka adalah kata-katanya (tulisannya). Saya tidak percaya dengan gambaran “keras” dalam filem Erik yang melihat Tan Malaka terlalu artifisial. Karena seorang tokoh dengan intelektual seperti Tan Malaka tidak akan menarik urat leher untuk menggambarkan kemarahannya. Ia adalah intelektual sejati, dan juga seorang pemusik ulung (pemain celo) yang menurut saya sangat halus dalam kesehariannya. Yang paling cukup mengecewakan saya dalam filem ini adalah penggambaran perjuangan Tan Malaka yang lebih ke “fisik”. Persis seperti stereotipe Orde Baru yang menggambarkan seorang pahlawan adalah orang yang berjuang dengan “angkat senjata.”

jalan-sepanjang-kenangan-karya-edi-cahyono-terbaik-2007

DSC00410copy

DSC00406copy

Terlepas dari kesan tiga karya di atas, saya bisa melihat Konfiden mulai memposisikan diri untuk dapat menjadikan festival filem pendek ini (yang dulunya terbesar di Indonesia), menjadi sebuah gerakan filem yang menyentuh ranah politik kultural yang selama ini terabaikan.  Sebelumnya, kita tahu seremoni filem pendek ini sangat mempengaruhi generasi muda untuk memproduksi filem pendek di berbagai daerah. Namun, dalam rentang sepuluh tahun terakhir dengan banyaknya ajang serupa yang ada di berbagai daerah, festival filem pendek ini mulai tergerus dari berbagai sisi. Jumlah partisipan, kualitas karya, hingga jumlah penonton yang datang di ajang ini berkurang. Saya masih ingat beberapa tahun lalu saat hadir dalam festival filem pendek ini, berbagai komunitas dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk hadir di festival. Liputan media begitu besar, hingga festival ini menjadi barometer bagi para pembuat filem muda sebagai ajang aktualisasi diri dan karyanya.

Dari pengalaman di atas, kita bisa berpendapat (yang mungkin bisa diperdebatkan) bahwa; Festival Film Pendek Konfiden adalah yang paling berjasa membangun generasi baru sinema Indonesia. Jasa ini dapat dilihat dari bagaimana festival ini membentuk animo generasi muda untuk bangga pada karya mereka sendiri (karya anak bangsa) yang sebelumnya didominasi oleh filem-filem asing. Kebanggaan pada karya sendiri inilah yang menjadi modal besar dalam membangun industri filem Indonesia saat ini. Bagi saya, salah besar kalau Jero Wacik (pemerintah-red.) merasa bangga bahwa hidupnya dunia perfileman Indonesia saat ini atas jasa pemerintah. Pemerintah tidak sadar bagaimana peran komunitas-komunitas seperti Konfiden dan berbagai kelompok di daerah membangun jaringan bersama dalam mendistribusikan karya-karya filem pendek yang sekaligus membangun kesadaran pada kebanggaan pada karya bangsa sendiri.

Konfiden2008konfiden2007konfiden2006

Festival Konfiden Sekarang

Peran besar Konfiden dan festival filem pendeknya merupakan keniscayaan generasi tahun 2000an dalam membangkitkan kecintaan pada filem anak negeri. Namun, apakah peran itu masih bisa kita rasakan di festival kali ini? Dewan Program festival kali ini dalam pengantarnya menulis: “…Ibarat cerita-cerita produk audio visual Indonesia (sudah jatuh, tertimpa tangga dan tembok yang runtuh, lalu gedungnya terbakar), FFPK 2009 harus menghadapi kenyataan bahwa hanya 10 judul film yang lolos seleksi dari 121 judul film... Selain  itu, tidak ada satupun film dokumenter dalam 10 judul film peserta kompetisi FFPK 2009”.

Saya pun tertegun membaca tulisan pengantar tersebut. Sebegitu tergeruskah peran festival ini bagi kemunitas-komunitas filem pendek di berbagai daerah di Indonesia? Siapa yang salah dalam hal ini?

Konfiden sebagai sebuah organisasi pelopor komunitas filem pendek/independen di Indonesia dan penyelenggara gelaran ini seharusnya yang paling bertanggungjawab. Sebagai ajang publik, festival ini seharusnya tetap menjadi barometer dan denyut perkembangan filem pendek di Indonesia. Dalam buku Ketika Film Pendek Bersosialisasi (2001), Gotot Prakosa menulis dengan harapan yang sangat optimis bahwa filem independen di tangan Konfiden. Sebuah pernyataan yang menempatkan posisi penting Konfiden dalam lingkaran filem (film-scene) di Indonesia. Bahkan dalam tulisannya, Prakosa menyamakan gerakan Konfiden dengan gerakan filem avant-garde Jepang, Image Forum.

Dalam tiga tahun terakhir setelah melakukan reorganisasi dalam tubuh Konfiden, organisasi ini mencoba untuk bangkit dengan gairah baru. Namun, apa yang baru? Saya memang belum melihat sesuatu yang baru dan signifikan dalam penyelenggaraan festival dalam tiga tahun terakhir. Festival ini masih dalam tahap kumpul-kumpul para pegiat filem pendek di Indonesia. Tidak ada pernyataan kultural (cultural statement) yang merupakan salah satu cara negosiasi kepada para pelaku (stakeholder) dunia perfileman di Indonesia.

anak-lumpur-2

Saya cukup merasa senang dengan “ketatnya” cara Dewan Program festival kali ini dalam memilih karya-karya yang layak masuk dalam kompetisi. Karena dari sinilah kita dapat melihat bagaimana sebuah festival melahirkan perubahan-perubahan yang cukup signifikan dalam sinema di Indonesia dari sineas-sineas muda kita. Dalam catatan Dewan Program pada katalog festival tertulis:

“…filem pendek harus menunjukkan adanya eksplorasi atas tema, bentuk, gaya bertutur, dan media… Eksplorasi menjadi penanda adanya semangat eksperimentasi atas media filem… Semangat dan upaya terus melakukan eksplorasi membuat film pendek tidak pernah mengenal kata ’rumus‘ atau ’resep‘ yang hanya memberi ruang sempit pada sifat mediokritas… eksplorasi saja tidak cukup, dan FFPK tidak menginginkan film pendek yang ’asyik dengan diri sendiri’… Film menyampaikan gagasan dengan pemahaman yang utuh pada konteksnya. Sebuah film tentang kemiskinan atau konflik budaya bila tidak didasarkan pada pemahaman yang utuh atas konteksnya dapat menimbulkan kesalahpahaman atau melenceng dari tujuan yang hendak dicapai oleh pembuatnya… Penekanan pada film pendek naratif dengan gaya penceritaan yang tidak lazim dan beragam menjadi sangat penting sebagai karya visual alternatif. Hal tersebut tidak akan tercapai bila film tidak bersifat komunikatif.”

Dari catatan Dewan Program, dapat dibaca Konfiden mencoba meletakkan landasan baru dalam melihat festival filem ini selain “hanya” sebagai ajang pertemuan sineas muda di Indonesia. Catatan Dewan Program festival ini perlu mendapat apresiasi karena banyaknya ajang serupa yang diadakan oleh berbagai komunitas lain di berbagai daerah. “Pemain” gerakan sinema alternatif dan filem pendek sudah menjamur di sana-sini. Jaringan di Indonesia dan internasional juga sudah sangat luas. Jadi, organisasi ini seharusnya lebih aktif membangun wacana sinema alternatif dan filem pendek. Karena kesempatan itu telah terbuang sia-sia beberapa tahun lalu saat hampir seluruh komponen pegiat filem pendek Indonesia bersandar ke Konfiden. Dan, sekarang telah diambil alih oleh pemilik modal dalam dunia sinema kita.

DSC00421copy

Melihat Festival Film Pendek Konfiden 2009, saya perlu memberi catatan terhadap tulisan Gotot Prakosa yang saya kutip pada pembuka tulisan ini. Kesadaran terhadap kelompok seharusnya juga membangun kesadaran terhadap pewacanaan dalam gerakan sinema alternatif dan filem pendek itu sendiri. Berkaca pada Festival Filem Pendek Oberhausen, Jerman, semangat manifesto Oberhausen tetap terasa pada setiap penyelenggaraannya, dengan mengusung isu-isu sosial politik yang berkembang di berbagai belahan dunia. Dalam sebuah tulisan Kemajemukan Karya Sinema Indonesia: Sebuah Cita-cita? (2001), Alex Sihar (salah seorang pendiri dan direktur Konfiden) menulis Kredo Konfiden; 1) Berpikir Merdeka;  2) Berkarya Mandiri; 3) Membangun Sinema Indonesia. Sudahkah tiga poin kredo ini diaplikasikan oleh Konfiden? Saya berharap sudah, karena banyak aktivitas yang diusung oleh kawan-kawan kita ini. Namun, sampai saat ini tidak “bunyi” dalam jaringan komunitas filem di Indonesia. Konfiden telah mengantar Alex Sihar menjadi anggota Komite Film Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012. Semoga dengan posisi ini, Alex dapat berkontribusi lebih besar dalam perkembangan filem pendek di Indonesia dengan pikiran yang merdeka, mandiri untuk sinema Indonesia.

Hits
Comments
Add New Search
riri Riza   |61.247.40.xxx |2009-11-30 13:25:34
good piece, terima kasih ulasan hafiz... setiap kegiatan perlu menetapkan perannya dengan jelas. Itu yang penting bukan?. Tapi karena sejarahnya, kita pantas pula menuntut lebih dari festival ini... :)
hafiz   |125.161.146.xxx |2009-11-29 07:44:12
Terimakasih juga Vero, untuk membacanya. Kami menunggu tulisan-tulisanmu juga untuk menambah wawasan kita tentang sinema.
Veronica Kusuma   |68.237.217.xxx |2009-11-29 04:37:57
Powerful review. Terimakasih ya fiz, sudah menuliskan ini. Dan saya pikir ini mencerminkan concern dan usaha untuk membentuk wacana bagi praktik pembuatan film pendek. Semoga Konfiden membacanya!
arjunapulangkeindonesia  - pernyataan!   |118.96.143.xxx |2009-11-24 07:22:16
sepertinya konfiden sudah sadar dengan pentingnya pernyataan ideologis sinema yang dibutuhkan oleh sebuah festival film supaya dia menjadi barometer dan membedakan dengan festival film lainnya.
pertanyaannya sekarang setelah tradisi 'kumpul-kumpul' dibantah oleh sebuah 'pernyataan', film pendek indonesia sebagai 'ilmu pengetahuan' akankah muncul? seperti misalnya, persoalan mana film dan mana video. trauma akan sebuah definisi personal lantas muncul dan bersembunyi di balik wilayah abu-abu media rekam atau timebase art.
entis   |125.166.251.xxx |2009-11-24 00:25:30
konfiden must have "confidence" that the work on direct-to provide a more imagination space for the audience.

selama ini hanya terkesan menjadi "pengepul" filem (pendeeeeeek) yang "mengekploitasi" karya dari para pembuatnya (khususnya para penggiat baru). dan dalam karya yang "dikepulnya" terkesan lebih banyak mengobjektivikasi terhadap "tokoh" dalam karya-nya (baik bahasa filem dan tema nya STANDART). coba lihat titik awal kalian !!! yang menurut saya sangat manis.

apakah kalian bisa membuat konsep pendistribusian karya (audio visual) seperti alur distribusi pada seni lukis misal?? itu yang tidak ada diindonesia .. jika pengepul atau komunitas penggiat audiovisual(film/video) mungkin sudah banyak.
saya pembuat video, dan setelah dibuat selain karya apa lagi yang saya dapat??? kira2 itu yang menjadi keresahan pembuat video di Indonesia.

majulah perkesenian audio visual endonesa !!! record.play.pause.rewind.fastforward...
make your world in
screen hayah,, ciaat
ronny   |118.96.41.xxx |2009-11-23 17:56:30
fiz, mantap bener nih tulisan
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
More articles :

» Komedi: Melepaskan Diri dari Kecemasan Sosial-Politik

Pembukaan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, pada 28 Juli 2009, dipadati pengunjung. Malam itu, Hafiz, Direktur Festival, bersama-sama dengan Tubagus “Andre” Sukmana (Direktur...

» Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

» Kiitos, Selamat Tinggal Kota Merah

{flvremote}http://prod-flv.engagemedia.org//forumlenteng/videos/fl6-6e173be04943535ee4eb7253691c37bf.flv{/flvremote}"Dokumenter ini merupakan catatan harian tentang pengalaman singkat di kota Tampere yang disebut sebagai Kota Merah. Menceritakan...

» Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

» Mencermati Seremoni Festival

Editorial_Desember 2009Akhir tahun merupakan pesta raya perfileman kita. Berbagai festival dengan skala besar digelar dalam waktu satu bulan ini. Dimulai Festival Film Pendek Konfiden pada 19-22 November 2009. Kemudian diikuti Jakarta International...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158848

Artikel.Lain_!

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Minggu, 10 Mei 2009

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Menyibak Rahasia Video
Selasa, 12 Januari 2010

Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta alat perekamnya dan mainan elektronik, seperti...

Mimikri Atas Mimikri: Catatan Festival Film Purbalingga IV 2010
Kamis, 03 Juni 2010

Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia...

Tepian Sungai Ciujung (1): Jarak Kesadaran Ideologi Medium dan Integrasi Di Belakang Kamera
Jumat, 05 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian pertama dari artikel tersebut.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" -...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Rabu, 20 Januari 2010

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Rabu, 19 Agustus 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Documemory: Khazanah Pustaka
Kamis, 04 Juni 2009

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Saya dan Periferry 1.0
Selasa, 12 Agustus 2008

Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...

Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan
Jumat, 10 Juli 2009

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu? Guy: Kali pertama kami...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara
Senin, 03 Agustus 2009

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

Transmission Asia Pacific 2008
Kamis, 12 Juni 2008

Bumi perkemahan itu terasa sangat dingin. Setiap sore atau malam hari, hujan menderas tak henti-henti. Padahal akhir bulan Mei menjelang, bulan yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Kadang, serombongan kelelawar pun beterbangan. Satu atau...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Rabu, 19 Mei 2010

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson,...

La Hora de Los Hornos, Godard dan Solanas dalam Perbincangan
Kamis, 12 Agustus 2010

(Beberapa waktu lalu, Jurnal Footage  menemukan sebuah perbincangan antara Jean Luc Godard dengan Fernando Solanas—sutradara Argentina—dalam majalah online Indianauteur (www.indianauteur.com) yang dimuat pada 18 Juni 2010. Wawancara ini...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Kenyataan Keseharian dalam Ladri di Biciclette
Kamis, 28 Agustus 2008

Pertanyaan-PertanyaanMalam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang...

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Jumat, 12 Juni 2009

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

Perbincangan dengan Budi Darma
Selasa, 14 Juli 2009

Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah dipertontonkan ke khalayak umum. Di antara sekian...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Rabu, 28 Juli 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda,...

Maklumat Filem Bersuara
Senin, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Lisabona Rahman: Nonton Gratis Filem Berbobot Setiap Hari
Selasa, 12 Agustus 2008

Terkadang bosan melihat filem-filem yang disajikan bioskop-bioskop kebanyakan. Sebagian besar disebabkan ceritanya yang itu-itu saja. Para pemainnya juga sama. Menghadapi kondisi ini, kehadiran sebuah bioskop alternatif menjadi penting karena...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Kamis, 03 September 2009

Dikompilasi oleh Jurnal Footage Kami tersentak mendengar kabar tentang pembunuhan tragis salah satu kritikus filem terbaik di Asia Tenggara, Alexis A. Tioseco. Dia begitu muda. Begitu penuh gairah. Bila sedang membincangkan filem, dia dapat dengan...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net