I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Mirza Jaka Suryana   
Sabtu, 19 Desember 2009 20:19

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis yang menggambarkan kondisi sosial politik masyarakat Eropa abad kesembilan belas. Penyihir-penyihir wanita diburu dan digantung mati atas nama inkuisisi agama. Para inkuisitor, begitu gesa untuk memurnikan batin masyarakat. Sebab dalam pandangan mereka, hal-hal gaib bisa menjadi sesuatu yang mengguncang keimanan seseorang. Filem horor, dalam beberapa sisi, mampu merepresentasikan rasa takut masyarakat itu. Filem horor bukanlah sekadar gambaran rasa takut intim dari pribadi-pribadi. Filem horor menjadi gambaran masyarakat di setiap zaman. Ketakutan akan kondisi sosial politik yang tidak menentu, kediktatoran seorang penguasa, dan lain-lain, bisa secara implisit dipertunjukkan oleh filem horor. Sebab, rasa takut merupakan sesuatu yang asali. Hampir semua manusia memiliki rasa ini.

paranormalparanormal-activity-dwrks2

Dengan filem horor, rasa takut itu dapat dikembangkan sampai ke titik puncak. Darah, teriakan histeris, menjadi sangat identik dengan filem horor. Penonton kemudian diberikan sugesti bahwa ketakutan yang tertuang dalam gambar itu nyata. Namun, seiring berjalannya waktu, dan komersialisasi ketakutan, filem horor sekarang begitu banyak yang menampilkan kengerian superfisial. Muatan psikologis dan sosial politik hampir tidak tampak pada kebanyakan filem horor. Penonton filem horor kemudian hanya diberikan sesuatu yang ilusif, yang jauh dari kenyataan, dan membayangkan hal-hal yang sama sekali melecehkan intelektualitas.

Saat saya mencoba menonton satu filem horor beberapa waktu lalu di bioskop, dari awal saya sudah skeptis. Akankah filem horor yang satu ini sekadar menampilkan ilusi? Dan kemudian membuat saya kecewa telah mengeluarkan rupiah demi menonton sebuah filem yang sama sekali tidak berharga untuk ditonton? Tiket sudah dibeli. Suka tidak suka, saya harus menonton filem ini. Judulnya Paranormal Activity. Sebuah filem karya Oren Peli, bekas programer video game. Ini merupakan filem pertamanya. Saya tahu filem ini dari internet, ketika saya menyaksikan trailer orang-orang yang ketakutan menonton filemnya. Bukan karena orang-orang ketakutan itu yang membuat saya tertarik membeli tiket dan menonton filem sampai habis. Melainkan karena peralatan yang digunakannya. Minim bujet, tapi menghasilkan limpahan emas bagi sang sutradara. Filem ini banyak dipuji sejak kemunculan pertamanya di salah satu Festival Filem Horor Independen di Amerika Serikat. Kata independen cukup membuat saya tertarik, meski ini terbilang klise. Sebab, pada akhirnya, toh, filem ini didistribusikan oleh sebuah perusahaan besar, Paramount Pictures, di mana nama Steven Spielberg juga tercantum di dalamnya. Singkat cerita, saya mendatangi sebuah bioskop dan langsung membeli tiketnya.

paranormal_activity_02

Pada awalnya, memang tidak ada yang istimewa dari filem ini. Paranormal Activity tampaknya bukan sebuah filem horor yang berteriak-teriak. Tidak ada gerakan yang terlalu untuk menunjukkan kengerian orang berkait dengan hal-hal supranatural. Ambilan kamera statis, jauh dari kesan gambar horor yang biasa saya lihat. Tapi, justru inilah yang menarik perhatian saya untuk lebih lanjut menonton filem ini sampai habis. Saya merasa mendapatkan keintiman dengan ambilan-ambilan kamera statis yang ditunjukkan filem ini. Intensitas ketegangan pun terbangun dengan baik, dan sebagai penonton, saya merasa terlibat dengan setiap ekspresi kengerian yang disampaikan filem ini. Saya, yang terbiasa tertawa ketika menyaksikan riasan berlebih dan efek suara filem horor, yang dimaksudkan untuk membangkitkan rasa takut, tidak dapat tertawa ketika menyaksikan Paranormal Activity. Filem ini, tampak begitu alami. Pemerannya bermain dengan sangat organis dan saya merasakan intensitas ketegangan itu.

Paranormal Activity berkisah tentang sepasang kekasih yang tinggal bersama di San Diego, Amerika Serikat. Pasangan ini memiliki masalah dengan mahluk gaib. Katie (Katie Featherston) selalu diganggu oleh hantu masa kecilnya. Kekasihnya, Micah (Micah Sloat), mencoba membantu mengatasi masalah Katie. Dengan menggunakan kamera video, Micah mulai merekam setiap kegiatan supranatural di dalam rumah mereka. Setiap malam, ia menghidupkan kameranya di kamar mereka dan membiarkan kamera itu merekam kegiatan dalam kamar sampai pagi hari. Di siang hari, Micah mengecek hasil rekaman pada saat mereka tidur dan menemukan berbagai kejadian aneh. Awalnya, semua biasa saja. Rekaman kamera tidak menunjukkan kejadian aneh sama sekali. Sampai suatu saat, Katie yang ketakutan mengundang seorang cenayang (Mark Fredrichs). Micah tidak terlalu antusias dengan kehadiran cenayang ini dan mengolok-oloknya dengan kamera. Sang cenayang memperingatkan pasangan tersebut akan mahluk yang ia sendiri tidak dapat mengatasinya. Kehadiran kamera dianggap oleh sang cenayang sebagai ancaman karena akan membuat mahluk gaib itu bereaksi. Sang cenayang pun menganjurkan Katie untuk menghubungi kawannya yang ahli dalam mengatasi mahluk-mahluk gaib, namun Katie tidak pernah dapat menemuinya.

Dalam filem ini, setiap kejadian terekam dalam kamera video. Terutama ketika pasangan itu tidur di malam hari. Hingga akhir cerita, kamera video menjadi elemen penting dalam menangkap kejadian menegangkan. Filem pun berakhir dengan terbunuhnya Micah oleh Katie yang kerasukan hantu pengganggunya itu. Akhir yang bisa ditebak namun cukup membuat tegang penonton yang berada di ruang gelap bioskop. Satu catatan dari filem ini: pertunjukan darah, yang biasa dalam filem horor, diperlihatkan sangat sedikit dalam filem ini. Kehadiran darah hanya diperlihatkan di akhir filem sebagai penegas.

Paranormal Activity bisa dianggap sebagai gambaran masyarakat Amerika Serikat saat ini, yang begitu bising dan sangat terganggu dengan suara-suara. Sebuah kritik terhadap polusi. Suara mobil, aksi mesin-mesin yang menggerus ketenangan jiwa di waktu orang seharusnya tidur, merupakan sesuatu yang ingin digambarkan dalam filem ini. Suara menjadi bentuk ketakutan tersendiri. Bahkan, tidur yang seharusnya menjadi waktu istirahat, menjadi pengganggu. Dengan cerdik, Oren Peli memilih horor sebagai ungkapan kritisnya akan polusi suara. Ini yang jarang terjadi pada filem horor kebanyakan. Bahwa polusi suara itu menakutkan. Bahkan, membuat tidur orang tak tenang. Saya merasa, filem ini jauh dari kesan ilusif, yang sering ditunjukkan filem-filem bergenre horor.

paranormal-activity-bedroom1still-from-paranormal-activity

 

Kamera Video dan Intimasi Ketegangan

Hal menarik dalam filem Paranormal Activity adalah penggunaan kamera video. Segala bentuk ketakutan pemeran utamanya ditangkap melalui medium ini. Unsur reality TV tampak jelas mempengaruhi gaya penceritaan filem. Sang sutradara, tampaknya sadar benar bahwa reality show, merupakan tayangan yang mampu melibatkan emosi penonton. Meski tayangan-tayangan seperti itu manipulatif, tapi penonton awam tetap akan terlibat di dalamnya secara emosional. Ambilan-ambilan gambar yang intim justru membuat filem ini benar-benar menakutkan. Posisi kamera yang diam, menjadi sebuah revolusi tersendiri dalam filem bergenre horor. Posisi ambilan gambar mapan itu membuat penonton benar-benar dapat meresapi persoalan yang ingin disampaikan sutradara. Oren Peli tampak ingin mendapatkan gambar-gambar organis dari para aktornya. Hal ini ia ungkapkan sendiri dalam sebuah wawancara: ia tidak ingin membuat aktor-aktornya mengkhawatirkan pencahayaan atau sudut kamera yang mungkin akan mengalihkan perhatian mereka. Sedapat mungkin, ambilan gambar dibuat secara alamiah.

Ketika Micah memasang kamera pada tripod di kamar tidur mereka, hal inilah yang membedakan Paranormal Activity dengan berbagai filem horor lain. Gambar yang dihasilkan tampak natural dan jelas mengejutkan. Sebab, kebanyakan filem horor diambil dengan kerja kamera berputar dan pegang tangan (hand-held) yang justru memusingkan sebagian penonton, terutama yang memiliki penyakit vertigo. Sebab itulah, ambilan gambar statis menjadi begitu subversif dan berbeda dari pakem filem-filem bergenre horor. Ketegangan menjadi lebih terasa. Penonton dipaksa untuk memperhatikan setiap adegan, dan, mau tidak mau, terlibat dalam setiap luapan emosi para aktornya.

Kamera video, yang menggunakan elemen piksel terasa lebih dekat dengan penonton. Tidak seperti kamera seluloid yang tampak memisahkan diri dengan realitas emosi penonton, video membuat batas-batas itu mencair. Hasilnya, intensitas ketegangan pun dapat ditangkap dengan baik oleh para penonton. Ketika saya bandingkan dengan filem horor buatan sutradara Indonesia, saya berpikir, mereka harus lebih banyak lagi belajar untuk mempertunjukkan jenis ketakutan yang tidak hanya sekadar permukaan. Bagaimana membangun intensitas dan intimasi dengan penonton adalah inti persoalan yang belum bisa dipecahkan sutradara filem horor Indonesia. Persoalan hantu dan klenik sebagai representasi sosial dan politik, menjadi persoalan lain, yang sampai sekarang masih jauh dari harapan. Saya berharap banyak pada sutradara filem horor Indonesia untuk dapat memunculkan berbagai representasi tersebut. Bukan hanya sekadar membangun ketakutan ilusif yang begitu melecehkan intelektualitas bangsa Indonesia.

t13911gyhfi

Hits
Comments
Add New Search
Tera  - nice   |125.166.208.xxx |2009-12-20 00:09:15
masih sangat teknis
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
More articles :

» Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

» Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

» Dominasi Maskulin dalam Filem PPC

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V)Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

» Arsip Kebudayaan Jonas Mekas

“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158806

Artikel.Lain_!

Video: The New Wave
Kamis, 31 Desember 2009

Menelisik Genealogi Seni Video Dunia   Perkembangan seni video di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir sangat menggembirakan. Berbagai gelaran seni rupa telah memasukkan seni video sebagai bagian dari pameran seni kontemporer. Bahkan seni video...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Farah Wardani: Ini Situs Arsip Seni Rupa Pertama di Indonesia
Minggu, 23 Agustus 2009

Pada 19 Agustus 2009, Indonesia Visual Art Archive meluncurkan situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. Namanya iclick.IVAA. Pada kesempatan itu, Jurnal Footage mewawancarai Farah Wardani, Direktur Eksekutif IVAA. Berikut hasil wawancara kami....

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Kamis, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Rabu, 28 Juli 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda,...

Maklumat Filem Bersuara
Senin, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Jumat, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Sabtu, 22 Mei 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Membaca Isyarat Tak Terpahami Michael Haneke
Jumat, 03 Oktober 2008

Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng
Rabu, 14 Juli 2010

Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng * * * 

Arkeologi Seni Media
Sabtu, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

La Hora de Los Hornos, Godard dan Solanas dalam Perbincangan
Kamis, 12 Agustus 2010

(Beberapa waktu lalu, Jurnal Footage  menemukan sebuah perbincangan antara Jean Luc Godard dengan Fernando Solanas—sutradara Argentina—dalam majalah online Indianauteur (www.indianauteur.com) yang dimuat pada 18 Juni 2010. Wawancara ini...

Tarzan ke Kota dengan Cacat Logika Bawaan
Rabu, 17 Desember 2008

Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas
Rabu, 27 Mei 2009

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

Saya dan Periferry 1.0
Selasa, 12 Agustus 2008

Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...

Der Leztze Mann: Kemandirian Sinema Murnau
Kamis, 17 Desember 2009

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta
Senin, 13 Juli 2009

Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia. Sebelumnya, program screenDocs! diputar...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Ambivalensi Sikap Chaerul Umam
Rabu, 10 Maret 2010

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Kamis, 29 Juli 2010

PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Teater yang Difilemkan
Rabu, 09 September 2009

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Filem berikut kita ialah My Night at...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net