I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)* PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Ronny Agustinus   
Kamis, 29 Juli 2010 11:43

PENDAHULUAN

Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa menerimanya… namun lantas, tak pelak lagi imaji-imaji mulai bermunculan merongrong saya, gambaran-gambaran konkret tentang apa yang mereka perbuat (ngapain sih pacar saya harus menjilatinya tepat di situ? Ngapain sih dia harus mengangkang selebar itu?) Saya pun lupa diri, keringatan dan gemetar, rasa tenang lenyap selamanya dari diri saya. Sampar fantasi macam ini, yang disebutkan oleh pemikir Renaissance Fransiskus Petrarchus dalam bukunya Secretum (Buku Rahasia Saya) sebagai gambaran-gambaran yang mengaburkan penalaran jernih seseorang, dihadirkan secara ekstrem oleh media audiovisual zaman sekarang. Di antara benturan-benturan antagonistik yang mewarnai zaman kita (globalisasi pasar dunia versus penegasan partikularisme etnis, dsb.), barangkali tempat pokoknya terletak pada antagonisme antara abstraksi yang kian lama kian menentukan hidup kita (dalam selubung digitalisasi, relasi pasar spekulatif, dll.) dengan banjirnya imaji-imaji pseudo-konkret. Di masa kejayaan Ideologiekritik tradisional, prosedur kritis paradigmatisnya adalah menarik diri dari gagasan-gagasan “abstrak” (religius, hukum, …) menuju realitas sosial konkret tempat gagasan-gagasan tersebut berakar. Di zaman ini, kian lama kian tampak bahwa prosedur kritis itu dipaksa untuk mengikuti jalur sebaliknya, dari imaji pseudo-konkret menuju proses-proses abstrak (digital, pasar…) yang secara efektif membentuk struktur pengalaman hidup kita.

Buku ini melakukan pendekatan sistematis, dari sudut pandang Lacanian, atas praanggapan-praanggapan tentang “sampar fantasi” ini. Bab pertama (“Tujuh Tabir Fantasi”) mengelaborasi kontur gagasan psikoanalitis tentang fantasi, dengan penekanan khusus tentang bagaimana ideologi harus menyandarkan dirinya pada latar fantasmik tertentu.

[…]

image

1. TUJUH TABIR FANTASI
“Kebenaran ada di luar sana”

Sekian tahun lalu, ketika tudingan akan perilaku “amoral” Michael Jackson (yakni permainan seksualnya dengan anak-anak bawah umur) terkuak dan merontokkan citranya sebagai Peter Pan yang lugu tanpa dosa, menjulang melampaui perbedaan (dan permasalahan) seksual serta rasial, beberapa pengamat yang tajam melontarkan pertanyaan gamblang: Buat apa ribut-ribut? Bukankah apa yang disebut sebagai “sisi gelap Michael Jackson” itu senantiasa terpampang untuk kita tonton bersama dalam klip-klip video yang menyertai peluncuran karya musiknya, yang penuh dengan ritual kekerasan dan gestur-gestur seksual tak senonoh (yang begitu blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling dalam kasus Thriller dan Bad)? Bawah-sadar itu terpampang di luar, bukan tersembunyi di balik kedalaman yang tak terselami—atau untuk mengutip semboyan X-Files: “kebenaran ada di luar sana”.

Fokus pada eksternalitas materiil macam ini terbukti sangat berguna dalam menganalisa bagaimana fantasi terkait dengan antognisme inheren suatu bangunan ideologis. Pertimbangkan dua rancangan arsitektural yang saling bertentangan antara markas lokal Partai Fasis Casa del Fascio karya Adolfo Coppede yang bergaya neo-Imperial (1928), dengan rumah kaca transparan Giuseppe Teragni yang sangat modernis (1934-1936). Tidakkah dengan jukstaposisinya itu kedua gedung tersebut mengungkap kontradiksi inheren proyek ideologis Fasisme, yang secara simultan mendorong untuk kembali pada korporatisme organis zaman pramodern, sekaligus mendorong mobilisasi seluruh kekuatan sosial yang belum ada presedennya demi tujuan modernisasi kilat?

Slavoj-Zizek

Contoh yang lebih baik lagi tampak dalam proyek raksasa pembangunan gedung-gedung publik di Uni Soviet tahun 1930-an. Di atas gedung datar bertingkat itu biasanya diberdirikan sebuah (atau kadang sepasang) patung raksasa yang menggambarkan idealisasi Manusia Baru. Dalam rentang beberapa tahun, kecenderungan untuk kian mendatarkan atau menggepengkan bangunan kantor itu (tempat kerja aktual bagi manusia-manusia sungguhan) kian lama kian jelas terlihat, sampai-sampai gedung-gedung itu jadi tampak tak lebih dari sekadar pijakan bagi patung-patung raksasa itu. Tidakkah ciri material eksternal dari desain arsitektural ini mengungkap “kebenaran” ideologi Stalinis di mana manusia-manusia sungguhan direduksi menjadi instrument belaka, yang dikorbankan sebagai pijakan bagi momok Sang Manusia Baru di masa depan, sesosok monster ideologis yang melumat manusia-manusia sungguhan di bawah kakinya? Paradoksnya adalah: barang siapa yang berani berkata terang-terangan di Uni Soviet tahun 1930-an bahwa visi Manusia Baru Sosialis adalah sesosok monster ideologis yang melumat manusia-manusia sungguhan, jelas mereka akan langsung diringkus. Namun demikian, mengungkapkan hal ini justru diperbolehkan —digiatkan, malah—lewat desain arsitektural… sekali lagi, “kebenaran ada di luar sana”. Dengan demikian argumentasi kita bukan hanya bahwa ideologi itu menjalari strata ekstra-ideologis dari hidup keseharian, melainkan bahwa pengejawantahan ideologi dalam materialitas eksternal ini mengungkap benturan-benturan inheren yang tidak mungkin diakui oleh rumusan eksplisit ideologi itu sendiri: seolah-olah sebuah bangunan ideologis, bila ingin berfungsi “normal”, harus mematuhi sejenis “godaan kelainan” tertentu (imp of perversity), dan mengartikulasikan antagonisme inherennya dalam wujud luar keberadaan materiilnya.

Eksternalitas ini, yang secara langsung mematerialisir ideologi, juga dipampatkan sebagai “fungsi” (utility). Artinya: dalam hidup sehari-hari, ideologi bekerja terutama dalam rujukan yang tampak semata-mata sebagai fungsi—jangan lupa bahwa pada jagat simbolik, “fungsi” bertindak sebagai gagasan refleksif; yang artinya ia selalu melibatkan penegasan fungsi itu sebagai makna (umpamanya, seseorang yang tinggal di kota besar dan punya mobil Land Rover tidak semata menjalani hidup yang “membumi” dan tanpa kompromi; melainkan, ia memiliki mobil itu untuk memberi pertanda bahwa ia menjalani hidup di bawah panji-panji sikap “membumi” dan tanpa kompromi).

Empu tak tertandingi dalam analisa macam ini tentu saja adalah Claude Lévi-Strauss, yang segitiga semiotikanya dalam tata boga (mentah, dipanggang, digodok) menunjukkan bahwa makanan juga bertindak sebagai “makanan otak”. Barangkali kita semua ingat adegan dalam film Luis Buñuel The Phantom of Liberty, di mana hubungan antara makan dan berak dijungkirbalik: orang-orang duduk di atas kakus mengitari meja dan mengobrol santai, sementara bila mereka ingin makan, mereka diamdiam bertanya pada pelayan “Di mana tempat… tahu kan?” dan menyelinap ke kamar kecil di bagian belakang. Jadi untuk melengkapi Lévi-Strauss, kita pun tergoda untuk mengusulkan bahwa tahi juga bisa dipakai sebagai matière-à-penser: tidakkah tiga tipe dasar kakus bisa membentuk sejenis perbandingan korelatif ketinjaan atas segitiga masak-memasak Lévi-Strauss?

Phantomofliberty-bunuel
phantom1

The Phantom of Liberty (1974), Luis Buñuel

Dalam kakus Jerman umumnya, lubang tempat tahi menghilang setelah kita guyur air terletak di bagian depan, sehingga tahi itu pertama-tama akan terpampang bagi kita untuk diendus dan diamati apakah ada jejak-jejak penyakit. Sebaliknya, dalam kakus Perancis umumnya, lubangnya terletak di belakang—artinya, tahi itu harus menghilang secepat mungkin. Terakhir, kakus Anglo-Saxon (Inggris atau Amerika) menghadirkan sejenis sintesis, mediasi antara dua kutub yang bertentangan tadi. Cekungan kakus itu penuh terendam air, sehingga tahinya mengambang: bisa terlihat, tapi bukan untuk diamati. Tak heran bila Erica Jong, dalam pembahasan terkenal atas berbagai jenis kakus Eropa pada pembukaan karyanya Fear of Flying yang kini sudah agak terlupakan, mengklaim dengan mengolok: “Toilet-toilet Jerman benar-benar merupakan kunci untuk menyelami horror Third Reich. Orang yang bisa membuat toilet macam ini sungguh sanggup berbuat apa saja.” Jelas bahwa tak satupun versi ini bisa diperhitungkan dalam kaidah yang murni utilitarian: adanya persepsi ideologis tertentu tentang bagaimana subjek harus berhubungan dengan buangan tak sedap yang keluar dari dalam diri kita kentara jelas di sini—lagi-lagi, untuk ketiga kalinya, “kebenaran ada di luar sana”.

erica_jong-buku

Hegel termasuk orang pertama yang menafsirkan bahwa segitiga geografis Jerman-Perancis-Inggris ini mengekspresikan tiga sikap eksistensial yang berbeda: Jerman ketelitian permenungan, Perancis ketergesaan revolusioner, sementara Inggris pragmatisme utilitarian moderat. Dalam pengertian sikap politik, segitiga ini bisa dibaca sebagai konservatisme Jerman, radikalisme revolusioner Perancis, dan liberalisme moderat Inggris. Sedangkan dalam pengertian dominasi bidang kehidupan sosial, tersebutlah metafisika dan puisi Jerman lawan politik Perancis dan ekonomi Inggris. Rujukan pada kakus ini memungkinkan kita bukan hanya mengamati segitiga yang sama dalam wilayah paling intim fungsi pembuangan, namun juga melihat mekanisme dasar dari segitiga ini dalam tiga sikap berbeda mengenai tahi: keterpukauan kontemplatif yang ambigu; ketergesaan untuk menyingkirkan buangan tak sedap itu selekas mungkin; pendekatan pragmatis untuk memperlakukan buangan itu sebagai benda biasa yang harus dibuang dengan cara yang pantas.

Jadi, mudah kiranya seorang akademisi mengklaim dalam sebuah seminar bahwa kita tengah hidup dalam dunia pasca-ideologi. Tapi begitu ia masuk kamar kecil sesudah debat berapi-api, kembali lagi ia berkubang selutut dalam ideologi. Asupan ideologis dalam rujukan pada fungsi tersebut terbukti kebenarannya dari watak dialogis-nya: kakus Anglo-Saxon memperoleh maknanya hanya melalui hubungan diferensialnya pada kakus Perancis dan Jerman. Kita punya begitu banyak tipe kakus karena adanya proses pembuangan traumatis yang coba untuk diakomodasi oleh masing-masing tipe tersebut—menurut Lacan, salah satu cirri yang membedakan manusia dari binatang adalah justru karena pada manusia, pembuangan tahi itu jadi masalah.

Hal yang sama juga berlaku pada banyaknya cara orang mencuci piring: di Denmark misalnya, sederet rincian ciri-ciri mereka mencuci piring mempertentangkan cara itu dengan cara orang Swedia mencucinya. Analisa mendalam langsung bisa menguak bagaimana pertentangan itu dipakai untuk mengindeks persepsi dasar akan identitas nasional Denmark, yang dirumuskan secara berlawanan dengan identitas nasional Swedia.[1] Dan —memasuki ranah yang lebih intim lagi—tidakkah kita menemui segitiga semiotika yang sama dalam tiga model potongan rambut organ kewanitaan? Jembut yang lebat tak dipangkas mencerminkan sikap hippies atas spontanitas alamiah. Kaum yuppies (eksekutif muda) menyukai prosedur penataan taman-taman Perancis (jembut di sisi-sisi dekat pangkal paha dicukur, sehingga yang tersisa tinggal seurai di tengah-tengah dengan garis potong yang jelas). Dalam sikap punk, vagina dicukur polos dan dihiasi anting (biasanya ditindikkan ke kelentit). Tidakkah ini versi lain lagi dari segitiga semiotika Lévi-Straussian tentang jembut liar yang “mentah”, jembut yang “dipanggang” matang, dan jembut yang “digodok” habis?

image3

Orang bisa melihat bagaimana sikap yang paling intim sekalipun terhadap tubuh seseorang dipakai untuk membuat pernyataan ideologis.[2] Jadi bagaimana eksistensi material dari ideologi ini terkait dengan keyakinan-keyakinan sadar kita? Mengenai Tartuffe karya Molière, Henri Bergson telah menekankan bagaimana Tartuffe itu lucu bukan karena kemunafikannya, melainkan karena ia terperangkap dalam topeng kemunafikannya sendiri.

Ia membenamkan diri begitu rupa dalam peran seorang hipokrit sampai-sampai ia memainkannya dengan penuh ketulusan. Dengan ini dan hanya dengan inilah ia jadi lucu. Tanpa ketulusan yang murni materiil ini, tanpa tindak-tanduk dan perkataan yang —melalui latihan panjang kemunafikan—baginya lantas menjadi sikap alamiah, Tartuffe akan jadi memuakkan.[3]

Ungkapan Bergson soal “ketulusan yang murni materiil” ini pas betul dengan gagasan Althusser tentang Aparatus Negara Ideologis—tentang ritual eksternal yang mematerialisir ideologi: subjek yang menjaga jarak dari ritual ini tak sadar akan fakta bahwa ritual tersebut telah menguasai dirinya dari dalam. Sebagaimana kata Pascal, kalau kau tidak percaya, berlututlah, bersikaplah seolah-olah kau percaya, dan kepercayaan ini akan dating dengan sendirinya. Begitu juga halnya dengan “fetisisme komoditas” Marxian: dalam kesadaran dirinya yang eksplisit, seorang kapitalis adalah seorang nominalis yang berakal sehat, namun “ketulusan yang murni materiil” dari perilakunya menampakkan “kejanggalan teologis” dari jagat komoditas.[4] “Ketulusan yang murni materiil” dari ritual ideologis eksternal inilah, bukan dalamnya keyakinan dan hasrat-hasrat diri sang subjek, yang merupakan lokus sesungguhnya dari fantasi yang menjaga sebuah bangunan ideologis.

image2

Gagasan standar tentang cara kerja fantasi dalam ideologi adalah berupa gambaran tentang sebuah skenario-fantasi yang mengaburkan kengerian sesungguhnya dari sebuah peristiwa: alih-alih memahami sepenuhnya antagonisme yang ada dalam masyarakat, kita menceburkan diri ke dalam ide tentang masyarakat sebagai Keutuhan organis, yang dipersatukan oleh kekuatan solidaritas dan gotong-royong… Bagaimana pun, di sini juga jauh lebih produktif untuk mencari gambaran tentang fantasi ini di tempat-tempat yang paling tidak diduga akan didapati: di yang-marjinal, dan sekali lagi, dalam situasi-situasi yang tampak sepenuhnya fungsional. Cobalah kita ingat petunjuk keselamatan yang diperagakan sebelum pesawat tinggal landas-tidakkah ini dirawat oleh skenario fantasmik tentang seperti apa kemungkinan kecelakaan pesawat itu? Sesudah pendaratan mulus di air (yang ajaib, selalu dianggap terjadi di atas permukaan air!), masing-masing penumpang mengenakan pelampung penyelamat, dan sebagaimana di seluncuran pantai, merosot ke dalam air lalu berenang, ibaratnya liburan ramai-ramai di laguna di bawah pengawasan instruktur renang berpengalaman. Tidakkah “gentrifikasi” atas malapetaka ini (pendaratan yang mulus, pramugari-pramugari dengan gaya elok menunjuk ke tanda ‘Exit’…) juga merupakan ideologi dalam bentuknya yang paling murni? Meski demikian, gagasan psikoanalisa tentang fantasi tidak bisa direduksi menjadi gambaran tentang sebuah skenario-fantasi yang mengaburkan kengerian sesungguhnya sebuah peristiwa. Hal pertama dan cukup jelas yang harus ditambahkan adalah bahwa hubungan antara fantasi dan kengerian dalam the Real yang ditutup-tutupinya jauh lebih ambigu ketimbang yang kelihatan: fantasi menyembunyikan kengerian ini, namun pada saat yang sama menciptakan apa yang semestinya ia sembunyikan, titik rujuknya yang “direpresi” (tidakkah gambaran-gambaran tentang Makhluk maha seram, mulai dari cumi-cumi raksasa hingga amuk taufan badai, merupakan kreasi-kreasi fantasmik par excellence?).

phantom of liberty 2

 


[1] Baca Anders Linde-Laursen, “Small Differences-Large Issues”, The South Atlantic Quarterly, 94:4 (musim gugur 1995), hlm. 1123-1144.
[2] Kasus yang paling jelas —dan karena kejelasannya itulah tidak saya bahas di sini—tentu saja adalah konotasi ideologis yang ada dalam pelbagai posisi hubungan badan; artinya, pernyataan ideologis tersirat yang kita lontarkan dengan “melakukannya” dalam posisi tertentu.
[3] Henri Bergson, An Essay on Laughter, London: Smith, 1937, hlm. 83.
[4] Uraian rinci tentang paradoks fetisisme, lihat Bab 3 buku ini.

 

*Tulisan ini adalah cuplikan dari SAMPAR FANTASI. Diterjemahkan dari potongan Bab Pendahuluan dan potongan Bab 1 buku Slavoj Žižek The Plague of Fantasies (London: Verso, 1997) oleh Ronny Agustinus (2007-2008). Pernah dimuat di jurnal online Paralaks.

Hits
Comments
Add New Search
Hikmat Darmawan   |125.165.82.xxx |2010-07-30 06:40:36
"jadi Zizek memang enak. Bisa ngomong "seenak"-nya, bisa punya waktu dan fasilitas banyak sekali untuk menulis "seenak"-nya juga. Menjadi intelektual zaman sekarang memang harus pandai2 cari yg "enak-enak". :)"
Hafiz   |125.165.82.xxx |2010-07-30 06:36:05
Setelah beberapa lama, ada kendala teknis pada fasilitas komentar di Footage. Hari ini telah diperbaiki. Harap maklum.
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 519
Konten : 146
Jumlah Kunjungan Konten : 157467

Artikel.Lain_!

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Senin, 26 Juli 2010

Pameran7-13 Agustus 2010 (hari Minggu tutup)Pukul 10.00-17.00 TempatGoetheHaus, JakartaJl. Sam Ratulangi No.9-15 Menteng, Jakarta PembukaanJumat, 6 Agustus 2010, pkl. 19.00 Videotalk bersama Anggun Priambodo (pembuat video musik) & Indra Ameng...

Sekarang, Filem Pendek (Tidak) di Tangan Konfiden
Senin, 23 November 2009

Waktu akan tetap memperhatikannya (Konfiden-red.), konsistensi dan keseriusannya akan teruji, sejauhmana bisa bertahan dengan visi yang ada. Demikian juga sejauhmana jika terjadi perkembangan yang membuat para aktivisnya bisa bertahan pada visi...

Yang Muda yang Bercinta: Montase Awal di Masa Rezim Orde Baru
Rabu, 07 Oktober 2009

Seorang pemuda menumpang angkutan bajaj dengan kekasihnya yang sedang mengandung, melewati kawasan kumuh Jakarta di era 1970an. Anak-anak jalanan di lorong-lorong kota menjadi rangkaian sintagmatik bajaj. Pemuda tersebut adalah seorang mahasiswa...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Rabu, 19 Agustus 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Dua Sisi Penyelenggaraan Kompetisi Filem
Senin, 01 Desember 2008

Trauma terhadap tekanan kekuasaan dua negara fasis Jerman dan Italia dalam penyeleksian Festival Filem Venezia di akhir 1930an, Jean Zay, Menteri Pendidikan Prancis, memutuskan membuat festival yang diselenggarakan di Prancis. Pada waktu itu,...

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru
Jumat, 24 Juli 2009

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...

V Film Festival 2010 dan Wawancara dengan Intan Paramadhita
Sabtu, 24 April 2010

V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Fritz Lang dan Ekspresionisme Jerman
Kamis, 12 Juni 2008

Fritz Lang adalah salah seorang sutradara terpenting dalam sejarah filem dunia. Sebagai wakil ekspresionis di tahun 1920an, dia telah membuat banyak filem bisu berkualitas. Akibat represi partai Nazi Jerman, dia pun beremigrasi ke Amerika Serikat....

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas
Rabu, 27 Mei 2009

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Kamis, 01 April 2010

Kekerasan dalam Filem: Sebuah Kritik pada Filem Kado Hari Jadi
Senin, 30 November 2009

Apa yang kita ketahui tentang kekerasan dalam kenyataan sehari-hari? Darah! Itulah bahasa yang paling gampang untuk memperlihatkan kekerasan dan kesadisan sebuah peristiwa. Ditambah dengan benda-benda yang berbau “darah” seperti pisau, obeng,...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia
Senin, 08 Juni 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa...

Maklumat Filem Bersuara
Senin, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Sabtu, 03 Juli 2010

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Jumat, 12 Juni 2009

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)
Rabu, 20 Januari 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Saya dan Periferry 1.0
Selasa, 12 Agustus 2008

Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Kamis, 16 Juli 2009

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Minggu, 10 Mei 2009

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi
Selasa, 15 Juli 2008

Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Sabtu, 22 Mei 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Jalan Tak Ada Ujung: Transaksi Kesepakatan Tanda
Senin, 24 November 2008

“Ada patokannya ga?”Empat kali pertanyaan ini diutarakan oleh si penelepon dalam video Jalan Tak Ada Ujung karya Maulana Adel Pasha. Pertanyaan yang begitu penting bagi si penelepon untuk menemukan rumah ‘itu’. Transaksi tanda pun terjadi....

Arsip Kebudayaan Jonas Mekas
Kamis, 23 Juli 2009

“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang...

Katalog Massroom Project
Jumat, 03 Juli 2009

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

Tentang Uraian Luar Layar
Sabtu, 29 Agustus 2009

Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu....

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Selasa, 26 Januari 2010

Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang mereka jual. MTV telah meraup keuntungan besar dari...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net