I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial PDF Cetak E-mail

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba terus berjalan, melewati bangunan dengan penanda bertulisan ‘Chin Joe Kie’, dan sedikit latar toko bertulisan ‘Fuji Film’. Perjalanan Tuba berlanjut, beberapa lintasan dalam bingkai melewati bangunan berpenanda ‘M.K. Brohim’, ‘Carol Confeccoes’, latar papan reklame bir ‘Heineken’ tampak sekilas. Rangkaian gambar perjalanan Tuba kemudian melewati bangunan berpenanda ‘Maharadja’, ‘Joen Siong’, yang di sekitarnya latar reklame bertulisan ‘Coke’ serta ‘Sprite’. Di sela-sela gambar bangunan kota, memuat lalu lalang kesibukan aktivitas para kulit berwarna. Mereka tampak seperti etnis Negro dan India yang sedang berorganisasi dalam ruang kota, menjadikan kumpulan gambar tersebut sebagai citra antropologi kota. Kini Tuba pun melintasi bangunan peribadatan macam masjid, gereja, serta bangunan beraksara Tionghoa. Beberapa bangunan permukiman yang sudah usang terjejak, lalu sedikit melintasi bekas lori kereta. Gambar tersebut seakan mengajak penonton untuk mundur ke belakang, membawa ke dalam relung kesadaran sejarah. Tuba lalu menjadi mata, berkolase dengan lanskap yang dilintasinya.

Suara-suara Tuba yang sedang berjalan tampak sebagai ‘subjek’ yang melihat, dengan latar lanskap yang menyejarah. Rangkaian Tuba ini telah menumpukkan bingkaian gambar tentang etnografi kota pascakolonial, namun kekuatan konstruksi van der Keuken yang membimbing para penonton ke dalam kesadaran akan waktu dibanding kesadaran akan ruang. Selubung-selubung represi yang mengental dalam kebudayaan kota pascakolonial, disibak oleh perjalanan sebuah mata yang berkolase. Perjalanan tentang sejarah kedatangan kaum pekerja perkebunan dari berbagai etnis, yang disatukan oleh kolonialisme. Dan mata tersebut adalah sebuah Tuba, yang telah menyingkap sejarah represi kolonial.

Inilah satu di antara wawasan etnografi gaya Johan van der Keuken dalam karya dokumenter Brass Unbound (Bewogen Koper, 1992-1993), dalam menarasikan sejarah kolonialisme beserta kondisi pascakolonial sebuah kota di Suriname. Dengan semangat penyuntingan yang menampilkan gambar demi gambar sebagai sebuah konstruksi, van der Keuken menggunakan alat musik tiup Tuba untuk menguak sejarah hegemoni bersama dampak akulturasinya di beberapa wilayah bekas jajahan. Masyarakat Suriname sendiri merupakan pertemuan beberapa kelompok yang diminorkan secara politik dan ekonomi di perkebunan masa kolonial. Sebagian dari mereka dipindahkan sebagai kebutuhan tenaga kerja perkebunan kolonial hasil perjanjian pemerintah Belanda dengan Inggris pada 1870. Kebudayaan Brass Band di Suriname memiliki elemen yang sesuai dengan karakter masyarakatnya.

 

 

Johan van der Keuken

 

 

Berkolaborasi bersama Rob Boonzajer Flaes, karya Brass Unbound Johan van der Keuken bercerita tentang keberadaan alat musik tiup yang dimainkan kelompok musik Brass Band di empat wilayah pascakolonial; Nepal, Suriname, Ghana dan Minahasa-Indonesia. Perjumpaan-perjumpaan dengan kolonialisme di beberapa wilayah jajahan tersebut merupakan sejarah hegemoni kekuasaan kolonial, yang menghasilkan respon-respon komunal khas. Respon-respon komunal tersebut menjadi sulit dipisahkan oleh sejarah penindasan yang sekian lama mengendap dalam benak masyarakat pascakolonial. Tantangan tersebut oleh van der Keuken diarahkan pada implikasi demokratis untuk mencari ungkapan-ungkapan paling otentik dari subjek yang telah lama berada dalam konstruksi penindasan. Metode wawancara van der Keuken dalam Brass Unbound menjadi tantangan etis tersendiri, di mana hal-hal artistik adalah pilihan dan temuan dari ideologi sang pembuat dokumenter. Bahkan istilah wawancara itu sendiri bisa dipertanyakan ulang secara harfiah, karena adanya persoalan-persoalan etis dalam proses komunikasi dengan subjek yang telah mengalami kondisi represif dan dominasi kolonial yang cukup intens. Karena bagi van der Keuken sendiri, suara-suara subjek pada masyarakat pascakolonial, merupakan produk dari kondisi represi dan dominasi kolonial yang sekian lama. Saking kronisnya, praktik represi dan dominasi tidak lagi tampil dalam wujud sistem yang menindas. Tapi sudah melebur dan bersiasat dalam kebudayaan masyarakat yang paling domestik sekalipun. Subjek sudah tidak lagi memiliki kemampuan mengidentifikasi realitasnya sendiri, karena ranah kuasa kolonial sudah melenyapkan batas penindas dan tertindas. Inilah periode yang dalam perspektif psiko-historis Foucauldian disebut sebagai homogenisasi, di mana kondisi mental dan material yang lahir dari identifikasi kolektif sang tertindas kepada pihak yang menindas. Di mana hasil dari konstruksi wacana kekuasaan kolonial yang sekian lama, berdampak pada tidak adanya batas angan politik pihak tertindas dengan pihak penindas.



Pada sekuel Nepal misalnya, pengungkapan subjek dalam proses wawancara dijembatani dengan menampilkan gambar-gambar pada ruang sosial ekonomi domestik si subjek yang diwawancara. Bahkan asumsi proses wawancara sudah dilakukan pada tindakan dokumenter visual van der Keuken, dengan menampilkan gambar-gambar yang sangat personal pada sekuel Nepal dan Ghana. Pada wawancara ini, van der Keuken menampilkan gambar yang sangat intens terhadap wajah yang diwawancara. Pada sekuel Ghana, seorang pemain perkusi yang mengiringi kelompok musik tiup ditampilkan dalam bingkai ambilan gambar dekat, sehingga ekspresi wajah pemain perkusi yang sangat dalam bisa mengungkapkan karakter psiko-historis sang subjek yang memiliki pengalaman-pengalaman represi kekuasaan kolonial. Bisa dikatakan ini adalah semacam wawancara visual, karena bagi van der Keuken gambar selalu menang atas ide, yang kemudian memungkinkan pengambilan siasat kemampuan fokus kamera untuk menjangkau kondisi mental dan psiko-historis subjek yang direpresi dan didominasi.

Strategi-strategi menyingkap kesadaran otentik pada subjek yang terselubung dalam kondisi represi warisan kolonial, membutuhkan siasat lebih egaliter. Karena tampilan layar sering kali berkuasa dalam sinema, maka van der Keuken membutuhkan siasat menjangkau latar belakang subjek dalam tampilan-tampilan gambar wawancara. Siasat ini mengajak penonton untuk melihat sang subjek dalam perspektif. Bagi van der Keuken, sudah tidak mungkin berharap narasi dan perbincangan yang sepenuhnya otentik dari subjek yang telah lama mengalami kondisi represi dan dominasi. Peran visual menjadi sangat strategis untuk menyingkap karakter subjek yang diwawancara. Selain itu, siasat konstruksi dalam penyuntingan dokumenter sangat bermanfaat untuk menjembatani penonton melihat situasi kontekstual subjek yang diwawancara.


Seperti yang terlihat pada wawancara seorang anggota kelompok Brass Band di Nepal, van der Keuken mengajak para penonton untuk melihat karakter wajah subjek dalam tampilan bingkai dekat. Sebelum wawancara, van der Keuken mengonstruksi latar sosial ekonomi sang subjek sebagai usaha etis untuk menjembatani kontradiksi wilayah hegemoni kolonial dengan otentisitas sang subjek dalam mengungkapkan kesadarannya. Alat musik Tuba di Nepal sendiri merupakan hasil kebudayaan kolonial Inggris yang dibawa oleh Jung Bahadur pada 1850. Impor kebudayaan alat musik Tuba Jung Bahadur merupakan bagian dari strategi kebudayaan untuk menambah kemilau kekuasaan. Selubung-selubung hegemoni inilah yang mungkin sangat disadari van der Keuken. Di Nepal, pada awal keberadaan Brass Band, para anggotanya masih diselubungi persoalan kasta. Iringan musik Brass Brand kemudian terbagi dalam beberapa momen, seperti yang dimainkan kelompok militer, serta masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai tukang jahit. Van der Keuken mengungkapkannya dalam konstruksi ambilan gambar yang dibangun melalui adegan keseharian para penjahit yang juga memiliki profesi sebagai pemain musik Brass Band. Bahkan konstruksi gambar dalam sekuel Nepal ini bisa memasuki ruang domestik dari salah seorang pemain Brass Band. Konstruksi tersebut terejewantah dalam potongan-potongan gambar berupa; seorang ibu yang sedang merapikan tempat tidur, kemudian kesibukan dalam rumah yang ditampilkan dengan langkah kaki di lantai tanah. Semua konstruksi disusun berdasarkan kolase antara gambar subjek pemain Brass Brand serta latar domestik sang subjek.  

Kebudayaan alat musik tiup Tuba di Nepal, Suriname, Ghana dan Minahasa, bisa dianggap sebagai satu di antara praktik hegemoni kolonial dalam menghaluskan pengaruh kekuasaannya. Keberadaan alat musik Tuba menjadikan hubungan antara kaum terjajah dan penjajah semakin intens karena penggunaan instrumen kebudayaan yang sama. Intensitas ini menghasilkan represi yang sudah tidak lagi menyentuh alam sadar, tapi merelung memasuki alam bawah sadar masyarakat. Siasat kebudayaan alat musik tiup oleh pihak kolonial di wilayah jajahannya telah mampu melebur dalam tradisi masyarakat setempat, bahkan sampai pada kesadaran kolektif yang religius sekalipun. Di Suriname misalnya, kebudayaan Brass Band sering kali digunakan pada upacara kematian. Di Minahasa, Brass Band selalu mengiringi tradisi pernikahan masyarakat setempat. Di Nepal, selain juga sering digunakan mengiringi acara pernikahan, Brass Band juga dipakai pada acara-acara kelahiran bayi.



Keempat sekuel dalam karya dokumenter Johan van der Keuken ini, memiliki perlakuan yang berbeda dalam menyingkap kesadaran pascakolonial di masing-masing wilayah. Tentu saja hal ini berkaitan dengan konteks penindasan yang berbeda pada masing-masing wilayah tersebut. Yang cukup janggal di sini adalah penggunaan judul Minahasa-Indonesia, karena judul pada masing-masing sekuel dalam karya Brass Unbound van der Keuken ini menggunakan istilah negara macam Nepal, Suriname dan Ghana. Minahasa sendiri merupakan satu daerah di Sulawesi Utara.

Perjumpaan dengan kolonialisme di masing-masing wilayah menjadi sangat khas, tentu pengaruh latar ekonomi politik menjadi determinan yang signifikan untuk melacak relasi kontekstual antara penindas dan tertindas. Minahasa merupakan satu di antara sekian banyak wilayah di Indonesia yang cukup bisa menyatu dengan kehadiran kolonial Belanda. Suatu relasi kolonial dan pribumi yang sangat khas tentunya, apalagi rentang dominasi kolonial tidak lagi dianggap sebagai praktik represif bagi penduduk Minahasa. Bisa jadi, modus ekonomi politik, satu di antara kultur hasil identifikasi sang tertindas dengan sang penindas adalah perayaan pernikahan masyarakat Minahasa. Selain identifikasi tertindas dalam penggunaan bahasa penindas (Belanda) yang masih banyak digunakan oleh kaum tua secara fasih. Kebudayaan Brass Band masih bertahan hingga kini di Minahasa. Proses wawancara pada subjek anggota Brass Band di Minahasa pun dilakukan dengan bahasa Belanda, di mana van der Keuken sendiri berkebangsaan Belanda.

Dalam sekuel Minahasa ini, konstruksi gambar yang dilakukan van der Keuken adalah menampilkan dokumentasi di mana Putri Juliana sedang menikah dengan Pangeran Bernhard pada 1937, dengan gaun kebesaran pengantin serta kereta kuda kerajaan. Identifikasi potongan dokumentasi ini untuk menunjukkan pararel pada gambar berikutnya, di mana ditampilkan sekilas tentang proses salah satu pernikahan di masyarakat Minahasa. Identifikasi cara berpakaian, alunan musik Brass Band yang mengiringi pernikahan, serta orientasi pernikahan dalam masyarakat Minahasa menjadi konstruksi van der Keuken untuk menunjukkan pararel antara pihak penjajah dengan yang terjajah. Secara tidak langsung, konstruksi van der Keuken dalam sekuel Minahasa ini, sedang menciptakan semacam ‘mimikri’, merujuk istilah Homi Bhabha (1994), yang masih kental keberadaannya di masyarakat Minahasa. Mimikri sendiri merupakan identifikasi kaum pribumi dengan perilaku kelas penjajahnya, sebagai praktik imitasi. Identifikasi dalam bentuk imitasi tersebut bisa jadi sebuah siasat menghadapi dominasi beserta suksesinya. Imitasi malah juga menjadi sebuah praktik pelanggengan dominasi di mana subjek yang dijajah akan terangkat gengsi sosialnya. Dalam narasi dokumenter Brass Unbound van der Keuken, keberadaan Brass Band di Minahasa diartikulasikan dalam upacara pernikahan, sebuah apresiasi kebahagiaan, praktik kawula yang mengidentifikasi gaun dan jas pengantinnya kepada sang ratu.


Ratu Juliana sendiri merupakan ratu Belanda pada tanggal 6 September 1948 dari penyerahan kepemimpinan ratu Wilhelmina. Kemudian pada tahun 1974, Ratu Juliana berkunjung ke Minahasa. Fakta sejarah tersebut menjadikan konstruksi van der Keuken terhadap keberadaan Minahasa sebagai lokalitas dalam perjumpaannya dengan kolonialisme secara khas berbeda dengan perjumpaan kolonialisme di lokalitas lainnya di Indonesia. Adanya sedikit kolase suasana pegunungan yang bertumpuk dengan kegiatan sehari-hari masyarakat Minahasa, pertanian, alam yang subur, serta suasana eksotis dalam masyarakat di lereng pegunungan, menunjukkan bahwa Minahasa secara sosial ekonomi cukup harmonis. Brass Band di Minahasa sendiri merupakan kelompok musik tiup yang cukup tertata. Pada gambar dalam sekuel Minahasa ini terlihat bagaimana para penduduk yang memainkan banyak jenis alat musik tiup tersebut sangat terpadu, dan dipimpin oleh seorang konduktor. Tentu sebuah gambaran Brass Band yang sangat berbeda dari pengaruh kolonial di tiga wilayah lainnya; Nepal, Ghana dan Suriname, dimainkan tanpa seorang konduktor. Gambar-gambar kolase wajah para pemain alat musik tiup di Minahasa ini, oleh van der Keuken ditampilkan dalam gambar berpindah (moving shot) sampai ke bentuknya yang jenaka.  

Karya Brass Unbound ini sendiri bisa ditafsirkan sebagai usaha menarasikan kondisi-kondisi masyarakat pascakolonial, dengan segala tantangan etis terhadap subjek dalam posisi yang ‘menarasikan’ dan yang ‘dinarasikan’. Masyarakat pascakolonial merupakan endapan kesadaran yang menumpuk dalam sekian waktu, sehingga sulit memisahkan mana yang otentik dan mana yang hegemoni. Menarasikan masyarakat kolonial tentu akan menjadi tantangan tersendiri, khususnya dalam bahasa filem dokumenter. Masalah representasi akan menjadi persoalan sikap ideologis dalam proses narasi tersebut, yang di dalamnya tidak hanya memuat artikulasi-artikulasi dari sebuah konsep filem dokumenter. Persoalan teknis dalam filem dokumenter akan menjadi persoalan yang cukup rawan dan sering kali menjadi ketidaksadaran bagi para pelaku dokumenter, selain kesalahpahaman akan asumsi tentang hal-hal yang artistik terpisah dengan hal yang estetis.



Para pemain bersiap dalam satu barisan kelompok musik tiup. Mereka adalah para pemain Brass Band dari Nepal, Suriname, Ghana dan Minahasa. Mereka semua berbaris dengan latar ruang yang menjadi ciri lanskap yang sangat signifikan bagi sosial-budaya masyarakatnya masing-masing. Para anggota Brass Band dari Nepal bermain di sebuah latar kantor administratif sisa pemerintahan kolonial, sedangkan para pemain Brass Band Suriname pada bangunan umum di permukiman penduduk. Kemudian para pemain Brass Band Minahasa berbaris dengan latar sebuah pemandangan gunung yang menjadi satu ciri daerah, sedangkan para pemain Brass Band di Ghana bermain dengan latar sebuah jalanan di permukiman kumuh. Inilah adegan terakhir pada filem dokumenter Brass Unbound karya Johan van der Keuken. Yang menampilkan sebuah adegan, di mana masing-masing para kelompok musik tiup di empat wilayah memainkan sebuah aransemen musik yang sama. Musik dimulai, gambar berganti di antara para pemain Brass Band yang sedang bermain. Alunan musik pun berjalan, namun perpindahan gambar di masing-masing Brass Band memiliki gaya alunan yang berbeda dalam satu aransemen musik yang sama. Mungkin itulah yang sedang disimpulkan oleh van der Keuken dalam karya ini, di mana perjumpaan dengan kolonialisme adalah fenomena global, namun memiliki respon-respon yang khas di masing-masing wilayah. Mungkin itu yang tersisa, dari siasat kebudayaan kaum terjajah menghadapi dominasi kekuasaan kolonial. Gaya konstruksi van der Keuken telah mengungkapnya, bahwa di balik kebudayaan selalu ada pergulatan dengan kekuasaan. Dan sebuah alat musik Tuba merupakan metonimi, sebuah sebab-akibat kecil yang mewakili narasi besar abad kolonial. Seperti yang diungkapkan oleh van der Keuken;

Aspek simbolik karya saya tidak selalu diterima penonton. Saya melangkah melalui simbol-simbol untuk kembali kepada persepsi Kenyataan yang lebih intens, lebih deskriptif, bahkan mungkin lebih sulit. Ada tingkatan keberagaman, yang saya tidak bisa bayangkan secara murni materialistik. Aspek benda-benda material/materialistik itu seperti alat untuk memahami apa yang terjadi di dunia. Ada juga aspek spekulatif, yang tidak bisa sepenuhnya saya tolak, bahkan jika saya tidak harus kerja ‘terlalu banyak’ dengannya, dan selalu menjaganya hanya dalam perspektif saja. Di saat sama, saya begitu cemas akan, katakanlah, kesempurnaan, sebagai misal, saya ingin mampu menunjukkan sesuatu dengan sangat jelas. Namun, saya begitu sadar bahwa saya pembuat filem yang bekerja dengan perkiraan…Ya, Anda bisa bilang bahwa ada unsur permainan dalam karya saya,  bahwa filem adalah “mainan konstruksi” bagi saya, tapi, di saat sama, ada banyak hal yang begitu nyata dan kuat yang mereka tidak bisa kuasai. Dengan begitu, kita memasuki wilayah perkiraan. Saya tidak bisa menerima “sudut gambar terbalik” sempurna sebagai “kebenaran” filem. Sesuatu dalam diri saya kehilangan harapan untuk mampu “mengatakan hal yang benar.”
Hits
Comments
Add New Search
bass  - menikmati ketertindasan   |125.164.121.xxx |2009-07-03 19:00:04
mengatasi kondisi ini tentunya tidak hanya berhenti pada visualisasi narasi semata namun kesepahaman akan dorongan keadaan yang menimpa setiap individu adalah hal yang perlu digaris bawahi karena tidak semua subjek itu mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi, sehingga tidak menutup kemungkinan rasa yang di permainkan otak itu akan berubah menjadi hal yang begitu mengasikkan, cobalah dahulu mengerti sebelum kemudian memahami sehing kesulitan-kesuitan yang akan dengan sendirinya terurai...
brew  - 0i!   |125.163.77.xxx |2009-07-01 06:54:05
ahoi...!
berada d sudut lain sbelah mana ni, mas akbarnya?
selalu punya pasar sndiri to,
arjunapulangkeindonesia  - balas tentang dokumenter   |118.96.96.xxx |2009-06-17 07:55:10
tentu. ada siasat yang cukup baik dalam kasus unbound brass ini dalam menyikapi kontekstual persoalannya. wajah2 yg dipilihnya sebagai perantara pembacaan poskolonial saya pikir sudah cukup menjelaskan psikologi represif dan isi wawancara berkebalikan yang justru menceritakan optimisme. Seandainya isi wawancaranya tentang kondisi psikologis si tokoh, filem itu akan hancur. "Wajah, baginya merupakan jejak paling jelas dari keberadaan, cerminan jiwa yang paling terbaca; tak satu pun di wajah yang tidak merupakan tanda. Kita bukannya diajak menekuni psikologi, melainkan fisiolognomoni eksistensial." Saya lebih mempercayai fiksi ketimbang dokumenter dalam kedekatannya dengan realitas. bagaimana anda dengan anda menilai tentang "berbasis kisah nyata"?
daya  - tentang dokumenter   |202.70.55.xxx |2009-06-16 02:58:55
..."istilah wawancara itu sendiri bisa dipertanyakan ulang secara harfiah, karena adanya persoalan-persoalan etis dalam proses komunikasi dengan subjek yang telah mengalami kondisi represif dan dominasi kolonial yang cukup intens"..., kemudian pertanyaannya apa dokumenter menjadi mungkin?
Nony  - Brass Unbound   |114.59.179.xxx |2009-06-13 13:34:20
Akbar ternyata tulisannya cerdas..
hahaha.. Kereeeeen..
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
More articles :

» Katalog Massroom Project

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

» Abduh Azis: Tentang Sejarah, Filem, Dokumenter, Video Komunitas dan Cita-Cita Perfileman

Apa yang dibayangkan oleh kita tentang keindonesiaan saat kita membaca sejarah? Banyak cara untuk melihat itu. Abduh Aziz adalah salah satu “orang filem” yang selama ini berpikir kritis dalam menginterpretasi sejarah melalui filem. Pria Betawi...

» Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu?Guy: Kali pertama kami didekati...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 519
Konten : 146
Jumlah Kunjungan Konten : 157391

Artikel.Lain_!

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Bilal: Dilema Kebebasan dan Fasisme Ideologi Punk
Kamis, 17 Juli 2008

Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Sabtu, 19 Desember 2009

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni...

Katalog Massroom Project
Jumat, 03 Juli 2009

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Kamis, 16 Juli 2009

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Membongkar Sinema pada Filem Outer Space Peter Tscherkassky
Kamis, 26 Agustus 2010

Masih mungkinkah sinema bisa dibicarakan di luar ‘cerita’ tanpa mengkait-kaitkannya dengan konteks sosialnya? Atau apa yang bisa kita lihat dari ‘dimensi luar’ pada estetika filem itu? Dua pertanyaan penting inilah yang mempertemukan saya...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Rabu, 20 Januari 2010

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

Ambivalensi Sikap Chaerul Umam
Rabu, 10 Maret 2010

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Jumat, 12 Juni 2009

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Kekerasan dalam Filem: Sebuah Kritik pada Filem Kado Hari Jadi
Senin, 30 November 2009

Apa yang kita ketahui tentang kekerasan dalam kenyataan sehari-hari? Darah! Itulah bahasa yang paling gampang untuk memperlihatkan kekerasan dan kesadisan sebuah peristiwa. Ditambah dengan benda-benda yang berbau “darah” seperti pisau, obeng,...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Kamis, 15 Januari 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Ariani darmawan: Bioskop Independen sebagai Perlawanan
Selasa, 12 Agustus 2008

Bioskop independen hadir sebagai bentuk perlawanan dari bioskop-bioskop kebanyakan. Tapi apa sebenarnya yang dilawan? Mungkin saja tidak ada yang dilawan, sebab membicarakan perlawanan dalam filem-filem yang sering disebut independen di Indonesia...

Lisabona Rahman: Nonton Gratis Filem Berbobot Setiap Hari
Selasa, 12 Agustus 2008

Terkadang bosan melihat filem-filem yang disajikan bioskop-bioskop kebanyakan. Sebagian besar disebabkan ceritanya yang itu-itu saja. Para pemainnya juga sama. Menghadapi kondisi ini, kehadiran sebuah bioskop alternatif menjadi penting karena...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Senin, 26 Januari 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Arsip Kebudayaan Jonas Mekas
Kamis, 23 Juli 2009

“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang...

Chris Marker: Dalam Ingatan Teknologi Baru
Jumat, 12 Juni 2009

1. Ingatan KakuSaya ingat membicarakan filem cerita mutakhir Chris Marker, Level Five (1996), dengan seorang teman saat pertama kali filem itu keluar. Pada umumnya ia terkesan, tapi gundah oleh istilahnya sendiri: “pandangan seorang tua atas...

La Hora de Los Hornos, Godard dan Solanas dalam Perbincangan
Kamis, 12 Agustus 2010

(Beberapa waktu lalu, Jurnal Footage  menemukan sebuah perbincangan antara Jean Luc Godard dengan Fernando Solanas—sutradara Argentina—dalam majalah online Indianauteur (www.indianauteur.com) yang dimuat pada 18 Juni 2010. Wawancara ini...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Senin, 26 Juli 2010

Pameran7-13 Agustus 2010 (hari Minggu tutup)Pukul 10.00-17.00 TempatGoetheHaus, JakartaJl. Sam Ratulangi No.9-15 Menteng, Jakarta PembukaanJumat, 6 Agustus 2010, pkl. 19.00 Videotalk bersama Anggun Priambodo (pembuat video musik) & Indra Ameng...

Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara
Senin, 03 Agustus 2009

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

Der Leztze Mann: Kemandirian Sinema Murnau
Kamis, 17 Desember 2009

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...

The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi
Selasa, 15 Juli 2008

Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Sepuluh Sutradara Sepuluh Tahun Reformasi
Kamis, 12 Juni 2008

Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net