I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Dominasi Produksi Visual Video PDF Cetak E-mail
There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant.
- Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007



Pernyataan dua penulis budaya visual di atas tampaknya mampu menggambarkan apa yang sedang terjadi di dunia sekarang. Bagaimana tidak? Hidup kita yang sudah malang ini penuh dibanjiri citraan-citraan luar biasa: filem, televisi, layar telepon genggam dan blackberry, komputer, internet, papan lampu iklan, penanda jalan, papan nama, video game, apa pun. Citraan tampak mengalami overproduction.

Revolusi kebudayaan citra (atau secara umum disebut budaya visual) merupakan hal yang khas abad ke-20 (dan sekarang, abad ke-21), meski materi-materi visual selalu menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Contoh mudah, filem. Menurut pelajaran sejarah filem dunia yang menjadi agenda wajib mahasiswa-mahasiswa departemen filem, filem sebagai teknologi telah ‘ditemukan’ pertama kali tahun 1895 oleh Lumière bersaudara, dalam sebuah pertunjukan ajaib tentang gambar bergerak di Grand Café, Paris. Filem yang mulanya sebuah atraksi1, dibakukan menjadi sebuah industri penghasil citra yang melibatkan berbagai formasi ekonomi dan kepentingan politik.
Contoh lain, komputer dan internet. Teknologi yang mulanya dikembangkan militer untuk kepentingan pengawasan (intelligent, surveillance, reconaissance) akibat Perang Dingin, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku manusia moderen. Ketiga teknologi ini: filem, komputer dan internet mengubah pemahaman manusia akan citra secara revolusioner. Kini perubahan itu berada di titik yang semakin cepat dan luar biasa. Apa yang bisa dilihat dari semua ini selain istilah lama macam simulacra dan simulacrum?

Saya teringat diskursus ini setelah melihat OK. Video dan mengikuti satu-dua kuliah tentang Kajian Media Baru yang diselenggarakan sebagai rangkaian acara festival. OK. Video adalah acara festival video dua tahunan yang dilaksanakan ruangrupa. Tahun ini merupakan tahun keempat penyelenggaraan. Saya sendiri menonton acara ini sejak 2007. Sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya, istilah video memiliki nama buruk di kalangan anak-anak filem. Videoarts is bad art by any other name. Setiap nonton videoart, saya contohnya, bukannya mengalami kesenangan atau penghiburan atau pencerahan, tetapi justru pusing tujuh keliling. Tetapi ini sungguh bisa dimaklumi. Aneh juga mengharapkan penghiburan dari video.

Tapi di samping hal-hal nyinyir tentang video (masturbasi, seperti kata beberapa orang), saya sebenarnya memikirkan juga hal-hal ini. Bagaimana tidak? Selama satu semester mendapatkan satu kelas tentang Kajian Budaya dan Media Baru (cultural studies and new media arts), tetapi selama perkuliahan saya dapatkan adalah definisi-definisi tentang ideologi, hegemoni, televisi, Arjun Appadurai2, ISA (ideological state apparatus) dan hal-hal semacam itu. Tentu saja itu penting, tapi tetap saja saya tidak tahu apa yang disebut dengan media baru.



Lalu datanglah sebuah masa di mana saya menatap dinding Galeri Nasional dengan perasaan hampa, di sebuah siang yang terik, dengan seorang kurator muda berbahaya yang datang ke Jakarta hanya untuk OK. Video. Tulisan kuratorial dari Aminudin TH Siregar di dinding putih itu tampak seperti sebuah ensiklopedia tentang jenis-jenis video yang ada di Indonesia. Dia menulis begini:

“Ada dua kecenderungan yang lazim ditempuh dari sejumlah tayangan di OK. Video Comedy, yaitu pertama, seniman membangun narasi –panjang maupun pendek—yang lalu secara sengaja ditata, baik alur, suara dan pola komunikasinya, untuk kemudian direkam. Kedua, menunggu momentum dari realitas kehidupan sehari-hari yang secara kebetulan memancing tawa dan secara tak sengaja terekam oleh kamera.”

Pengantar pameran ini tampak seperti diktat kuliah taksonomi yang dingin tetapi dengan tepat menggambarkan bagaimana orang-orang Indonesia memperlakukan teknologi seperti video. Karya-karya video yang dipamerkan dan ditayangkan di OK.Video sendiri berjumlah 95 karya, dengan berbagai asal (negara, artis, macam, dan lain-lain). Ketika masuk galeri pertama kali, pengunjung akan melihat video Anggun Priambodo berjudul Sinema Elektronik-Video Elektronik. Setelah itu, pengunjung akan menemukan ruang luas di tengah galeri yang menampilkan berbagai video dari televisi layar datar di dinding-dinding, dan dua buah layar besar yang ada di tengah.

Kalau dilihat sepintas, penataan televisi-televisi ini tampak datar, bersih, tanpa aksen berarti. Semua video ditayangkan dengan satu jalur visual (single channel). Meski demikian, suara yang dikeluarkan video-video itu sangat riuh, melebihi suara televisi yang dinyalakan bersama-sama di toko elektronik atau pun bagian penjualan televisi di supermarket Carrefour mana pun. Suara-suara dari video yang diproyeksikan ke layar dibiarkan bersahut-sahutan, menimbulkan noise yang bisa dianggap mengganggu, bisa dianggap bagian dari instalasi seniman.

Saya melihat sebagian besar video dari awal hingga akhir, dari bagian judul sampai bagian kredit. Beberapa video tampak menyenangkan, dalam arti bisa membuat tertawa, beberapa yang lain bisa membuat kita berteriak, “Gila, cerdas banget nih orang”, atau yang lain lagi membuat saya nyinyir sambil bilang, “Apaan sih ini? Nggak penting banget.”

Dibandingkan dua tahun lalu, video yang ditampilkan OK.Video memang lebih sedikit. OK.Video Militia 2007 menampilkan lebih banyak karya video (119 video, karya 99 artis dari 27 negara). Tahun ini video-video dari Indonesia yang diputar banyak dibuat oleh artis-artis video yang memang sudah terkenal. Katakanlah, Anggun Priambodo, Muhammad Akbar, Ariani Darmawan, Henry Foundation, Maulana M. Pasha, Wimo Ambala Bayang dan lain-lain. Namun demikian, di seksi kompetisi, video-video yang menang adalah video-video yang (kebetulan) berasal dari Eropa: sebuah self-conscious video yang sangat cerdas berjudul Ivo Burokvic dari Paul Wiersbinski (Jerman), sebuah video sederhana yang sangat menyenangkan berjudul How To Make A Table dari Lemeh42 (Italia) dan video yang agak heboh berjudul The Door of The Law dari Morten Dysgaard (Denmark).

Bagaimana dengan video-video Indonesia? Dari segi jumlah, saya merasa pasti jumlah video di Indonesia semakin banyak. Bukan hanya video yang ditujukan untuk ekspresi seni seperti OK. Video ini, tetapi video secara umum (filem, sinetron, video rekaman pernikahan/kelahiran/acara, dan lain-lain). Di OK. Video sendiri, karya dari Indonesia mendapat kuota yang cukup besar.

Beberapa waktu sebelumnya, saya datang ke pameran hasil riset dari Forum Lenteng di Bentara Budaya. Dengan judul Videobase, pameran ini memperlihatkan berbagai praktik video yang banyak dilakukan di Indonesia, mulai dari produksi video konvensional naratif (dalam bentuk filem panjang, filem pendek, termasuk serial di televisi, dll.), video yang merupakan rekaman jurnalistik (rekaman berita dari televisi, laporan khusus yang bersifat dokumenter), video rekaman acara (pernikahan/kelahiran/kematian/pertunjukan musik/acara-acara lain), video rekaman hal sehari-hari (misalnya dari telepon genggam), dan lain-lain (tetapi tidak termasuk di dalamnya pornografi/rekaman yang bersifat pornografis yang juga populer beredar di Indonesia).

Pameran ini dan acara-acara sejenis menampakkan gejala intensifnya penggunaan medium video di kalangan masyarakat, terutama dengan diproduksinya ribuan bahkan mungkin jutaan jam keping gambar (footage). Video tampaknya menjadi media baru yang cukup menjanjikan bagi masyarakat luas untuk membuat dokumentasi, kepentingan propaganda atau sekadar buat bermain-main.

Kedua, secara umum, seluruh video Indonesia menggunakan referensi visual lokal. Contoh yang mudah, video Sinema Elektronik-Video Elektronik dari Anggun. Teman saya yang kurator dan hanya bisa berbahasa Inggris itu tidak bisa tertawa seheboh saya saat menonton video Anggun. Kita semua tahu bahwa Anggun menggunakan ambilan gambar-ambilan gambar, bingkaian-bingkaian, gaya akting, singkatnya: referensi visual sinetron Indonesia –yang ditonton hanya oleh orang Indonesia. Contoh lain, video Muhammad Akbar dan Yusuf Ismail yang menjadikan visual televisi Indonesia sebagai referensi. Tak ayal, orang yang tidak menonton televisi Indonesia tidak akan tahu sepenuhnya maksud sang seniman.

Menandakan apakah dua hal ini bagi kita? Pertama, kita memproduksi banyak video sehingga OK. Video bisa bertahan sebagai salah satu festival video terkuat di Asia Tenggara (mungkin hanya Indonesia yang memiliki festival video reguler). Kedua, teknologi video ternyata lebih lentur dalam fungsinya, baik fungsi artistik (seperti videoart), fungsi sejarah (dokumentasi, counter-history)3, fungsi sosial/politik (bermain-main, propaganda ide), dan lain-lain. Beberapa fungsi memang inheren dalam medium video (terutama artistik), tetapi beberapa fungsi lain sangat khas Indonesia. Tak heran bahwa di Indonesia, seperti kata kurator OK.Video dan kurator berbahasa Inggris saja itu, video bisa jadi diperlakukan secara serius (penuh dengan perhitungan, baik teknis, artistik maupun ekonomi), tetapi bisa juga diberlakukan sebagai medium yang lebih fleksibel dengan sifatnya yang dapat menangkap spontanitas, sesuatu yang bersifat instan, simultan, dan interaktif.

Thomas Elsaesser mengatakan, nilai-nilai spontanitas, instan, simultan dan interaktif adalah nilai-nilai kapitalisme masa Victorian (di abad ke-19) yang muncul dalam bentuk televisi dan internet. Baginya, sinema (dengan S besar) bukanlah mimpi dan hal yang diharapkan abad ke-19. Yang mereka harapkan adalah teknologi yang bisa interaktif, instan, dan simultan sesuai nilai-nilai baru kapitalisme industrial. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri ini.

Sinema (dengan S besar) sebagai produk murni kapitalisme, membutuhkan proses literasi yang lebih massif dari video. Pembuat filem perlu menyusun narasi, butuh membuat sistem produksi yang mengakomodasi kepentingan ekonomi dan politik. Terbukti, dalam banyak hal, sinema di Indonesia tidak diberlakukan sebagai medium moderen (dalam arti sesungguhnya: produk Renaisans dan kapitalisme matang, dengan individu sebagai tokoh sentral).4 Tak mengherankan bahwa sinema di Indonesia masih berfokus pada proses menyampaikan cerita/narasi, bukan sebagai bahasa visual yang memungkinkan terjadinya eksplorasi. Sinema diberlakukan seperti video: medium yang diharapkan dapat menangkap citraan-citraan yang berlari dengan sangat cepat, yang bersifat instan dan simultan, tanpa kedalaman.5

Oleh karena itu, dalam sebuah perbincangan, teman kurator saya itu berkata bahwa video justru mungkin lebih cocok dengan Indonesia karena ia dengan mudah dapat menyesuaikan diri dengan tradisi atau situasi lokal.6 Dengan referensi lokal dan proses bercerita video yang tidak membutuhkan struktur sangat tertutup seperti filem,7 video bisa jadi satu taktik bagi mereka yang tidak mengendalikan proses produksi visual dominan, tanpa harus mengikuti aturan-aturan baku sistem dominan tersebut.


- - - - - - - - -
1 Sinema sebagai atraksi diteorikan pertama kali oleh Tom Gunning dan  André Gaudreault untuk menyebut fenomena kelahiran sinema awal (early cinema). Dalam fase awal kemunculannya, filem lebih dianggap sebagai atraksi visual, sebuah tontonan, bukan sebuah bentuk seni tertentu (dengan sendirinya bentuk ini mengantarkan kita pada satu ciri sinema, yakni naratif). Thomas Elsaesser & Adam Barker (ed.), Early Cinema: Space Frame Narrative, London: BFI, 2008 dan Wanda Strauven (ed.), Cinema of Attractions Reloaded, Amsterdam: Amsterdam University Press, 2006.

2 Arjun Appadurai adalah seorang Penasihat Senior untuk Global Initiatives di The New School, New York City, merupakan seorang Profesor di bidang Ilmu-ilmu Sosial.

3 Menampilkan hal-hal yang selama ini berbeda dengan gambaran dominan tentang sejarah. Contohnya, video-video hasil kesaksian para korban peristiwa 1965 di Indonesia.

4 Sinema dominan yang diproduksi Hollywood serta filem seni Eropa menjadikan individu sebagai sosok sentral di dalam naratif sinema. Dengan cara yang berbeda, dua sinema ini memperlihatkan bagaimana ideologi dominan kapitalisme bekerja di dalam proses produksi citra (image-making practice). Sementara dalam kasus Indonesia, contohnya dalam filem horor, naratif tidaklah semata-mata digerakkan oleh individu, dengan pola naratif Hollywood yang ketat. Resepsi/proses menonton filem di Indonesia sangat berbeda dengan proses resepsi filem dalam ‘masyarakat moderen’ dalam arti, filem dilihat sebagai tontonan, atraksi, dan perayaan yang bersifat kolektif. Lihat David Bordwell, Janet Steiger dan Kristin Thompson, The Classical Hollywood Cinema: Film Style and Mode of Production to 1960, London & New York: Routledge, 1988.

5 Kegagapan pembuat filem Indonesia dalam menghadapi medium filem yang naratif terlihat dengan jelas dari filem-filem yang dihasilkannya, antara lain, sangat sulitnya filem Indonesia mencapai standar naratif yang memadai dan eksplorasi estetik yang baik.

6 Gridthiya Gaweewong dan David Teh, “Unreal Asia” programme introduction, Oberhausen Film Festival, 2009.

7 Video sendiri adalah sebuah medium yang menggunakan sinyal (isyarat-isyarat) elektronik untuk menghasilkan citra (image). Karena sifatnya yang demikian, maka video lebih bersifat tidak stabil. Ia bisa memberikan keleluasaan bagi seniman/pengguna video untuk memproduksi karya dengan prosedur yang bervariasi. Dibanding filem dan jenis medium seni lain, video memiliki struktur yang lebih terbuka. Hal ini dimungkinkan oleh begitu mudahnya unsur-unsur sinyal, segmen atau sekuens dari peranti video diubah, didistorsi, dirusak, atau ditumpuk dalam presentasinya dan ditransformasikan menjadi objek yang sama sekali berbeda. Video bisa berfungsi sebagai alat perekam (recording), bisa mereproduksi (menyalin), dan bisa pula hanya sebagai pajangan (instalasi/pameran). Video pun bisa dihubungkan dengan perangkat lain untuk mendapatkan fungsi yang lain lagi. Video tidak memerlukan sinematik aparatus seperti yang berlaku pada filem (ruang gelap, proyektor dari belakang yang memantulkan sinar tunggal, dan layar) atau pun televisi yang memiliki hukum dan konvensi serialitas tersendiri. Video tidak mensyaratkan peranti tertentu. Sinyal video bisa dihasilkan dari kamera, atau bisa diciptakan di dalam peralatan video itu sendiri. Video bisa memaklumi main-main secara teknis sebagai proses menghasilkan citraan (superimposition, berbagai reproduksi gambar). Filem membutuhkan waktu dan ruang yang berbeda untuk merekam dan menampilkan gambar, video memiliki kelebihan dalam melakukan keduanya. Video dapat melakukan kerja-kerja simultan, merekam sekaligus menampilkan, menyatukan visual dan audio (dalam seluloid, dua hal ini dipisahkan dalam pita). Struktur video yang lebih terbuka ini memungkinkan reformulasi, perubahan, distorsi maupun perusakan struktur video baik secara visual maupun audio. Lihat Yvonne Spielmann, “Copy, Remake and Remix:The Open Structure of Video”, dalam catalog Videonale 11, Herausgegeben von Georg Elben, 2007.

Hits
Comments
Add New Search
hafiz   |125.161.144.xxx |2009-08-25 04:05:26
Masalah apresiasi bukanlah hal yang biasa. Karena bahasa film dan video sebenarnya punya gen yang sama. Kalau dirunut dalam sejarah film dunia, penggunaaan eksperimentasi visual yang dipakai oleh seniman-seniman video, adalah turunan dari apa yang dilakukan oleh sutradara2 avant-garde. Jadi, sebenarnya menurut saya, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa membuka diri kepada "kekayaan"visual yang ada dalam film maupun video. Kenapa, sampai saat ini kawan-kawan dari film tidak pernah protes pada bahasa film Vertov, Alan Resnair, Jean Cocteau, Bunuel (periode awal). Padahal, karya-karya itu penuh eksperimentasi visual (sama persis dengan apa yang dilakukan seniman2 video. Yang berbeda antara film dengan video dalam konteks ini cuma cara menonton. Video lebih cair, dan film lebih intens (cinematic). Jadi, menurut saya kalau kita mengatakan bahwa ada friksi antara video dan film; tidak juga. Yang diperlukan adalah bagaimana kawan-kawan saling menerima "bahasa audio
visual" itu ada ragamnya. Bukan hanya sebagai "pengantar cerita" seperti yang terjadi pada kawan-kawan di dunia film kita.
andreas eko  - video vs film   |125.166.121.xxx |2009-08-23 15:36:48
gue setuju banget, pas lo bilang video selalu memiliki nama buruk buat mereka yang memiliki basic film ... bahkan terkadang video menjadi oposisi film ... dan itu terjadi dimana mana kok, jakarta, jogja, bandung, malang, sby, dll ... tapi ya udahlah, nggak usah dipanjangin ... sampe sekarang gua nganggap itu ego eksistensi aja, dan bukan sesuatu yang penting, karena yang terpenting adalah karyanya ... dan itu hanya ada dua, baik atau buruk ... film bagus atau film jelek ... video keren atau video kancut ... hehehe
btw nice writing !
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
More articles :

» Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

» Katalog Massroom Project

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

» Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

» Tepian Sungai Ciujung (1): Jarak Kesadaran Ideologi Medium dan Integrasi Di Belakang Kamera

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian pertama dari artikel tersebut. "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers"-...

» Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 519
Konten : 146
Jumlah Kunjungan Konten : 157445

Artikel.Lain_!

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Rabu, 03 Maret 2010

Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli, Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Bintang...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Kamis, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Rabu, 19 Mei 2010

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson,...

Documemory: Khazanah Pustaka
Kamis, 04 Juni 2009

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Dua Sisi Penyelenggaraan Kompetisi Filem
Senin, 01 Desember 2008

Trauma terhadap tekanan kekuasaan dua negara fasis Jerman dan Italia dalam penyeleksian Festival Filem Venezia di akhir 1930an, Jean Zay, Menteri Pendidikan Prancis, memutuskan membuat festival yang diselenggarakan di Prancis. Pada waktu itu,...

Mimikri Atas Mimikri: Catatan Festival Film Purbalingga IV 2010
Kamis, 03 Juni 2010

Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia...

Elida Tamalagi: Tawar Menawar Wacana Di Bioskop Alternatif
Selasa, 12 Agustus 2008

Kebutuhan publik akan bioskop alternatif terbilang sangat besar. Sayangnya, kebutuhan besar ini tidak didukung oleh kesiapan calon pengelola bioskop. Kegiatan memutar filem di bioskop-bioskop semacam ini masih dipandang sebagai ‘kegiatan asal...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng
Rabu, 14 Juli 2010

Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng * * * 

Berita Gempa
Kamis, 01 Oktober 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas
Rabu, 27 Mei 2009

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

Perbincangan dengan Budi Darma
Selasa, 14 Juli 2009

Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah dipertontonkan ke khalayak umum. Di antara sekian...

Membongkar Sinema pada Filem Outer Space Peter Tscherkassky
Kamis, 26 Agustus 2010

Masih mungkinkah sinema bisa dibicarakan di luar ‘cerita’ tanpa mengkait-kaitkannya dengan konteks sosialnya? Atau apa yang bisa kita lihat dari ‘dimensi luar’ pada estetika filem itu? Dua pertanyaan penting inilah yang mempertemukan saya...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Teater yang Difilemkan
Rabu, 09 September 2009

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Filem berikut kita ialah My Night at...

Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010
Jumat, 25 Juni 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Rabu, 20 Januari 2010

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

Suatu Hari Kita Hanya Akan Mengenang Seluloid
Selasa, 12 Agustus 2008

Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...

Rentjong Atjeh
Rabu, 22 Juli 2009

J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan bajak itu telah merampas segala barang yang berharga...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Membaca Isyarat Tak Terpahami Michael Haneke
Jumat, 03 Oktober 2008

Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas...

Arsip Kebudayaan Jonas Mekas
Kamis, 23 Juli 2009

“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang...

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan
Sabtu, 19 Desember 2009

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Tak Ada Kejutan Dari Sang Pemimpi
Senin, 28 Desember 2009

Filem yang secara perdana dirilis sebagai pembuka pada penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 ini telah ramai ditonton orang meski belum genap seminggu. Antusiasme penonton sangat terasa untuk menuntaskan rasa penasaran...

Refleksi Ontologi Sinematografi
Rabu, 22 Oktober 2008

Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net