“Gak ada satu wacana yang bisa menjelaskan posisi perempuan di filem Indonesia. Karena selama ini, sebagian besar filem-filem yang diproduksi masih menggunakan perspektif laki-laki. Semua filem gue memang tidak atau memiliki pesan moral. Karena satu pesannya: Equality!"
Begitulah, pernyataan Nurkurniati Aisyah Dewi atau Nia Dinata saat ditanyakan pandangannya tentang posisi perempuan dalam filem Indonesia. Baginya, filem seharusnya memberi ruang kepada posisi yang sejajar dalam melihat perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. Sutradara kelahiran Maret 1970 ini, memilih filem sebagai salah satu cara untuk menjadikannya sebagai “Story Driven” kepada masyarakat.


Menempuh pendidikan jurnalistik di Elizabethtown College, Pennsylvania dan kemudian melanjutkan studi produksi filem di New York University, Amerika Serikat. Perempuan yang suka “ngomong” ini menjadikan isu-isu yang melawan arus sebagai pilihan tema dalam filem-filemnya. “Gue me-represent filem-filem, karakter-karakter, cerita-cerita, yang memang berada di luar lingkungan atau lingkaran status quo”, ungkapnya.
Pada 17 April 2010, Jurnal Footage mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara di sela-sela waktu yang sangat padat dari perempuan super sibuk ini. Kami menemuinya di Pacific Place, di mana ia bersama Kalyana Shira Foundation mengadakan KidFest 2010—sebuah program festival filem anak-anak internasional di Jakarta. Hadir dalam wawancara ini Hafiz (Pimpinan Redaksi), Akbar Yumni (Redaksi) dan Syaiful Anwar yang merekam pembicaran dengan kamera video. Wawancara dilakukan di ruang merokok Blitz Megaplex, Pacific Place-Jakarta.

Hafiz: Nia, Jurnal Footage mau membuat semacam pendokumentasian, seri wawancara dengan beberapa sutradara dan pelaku-pelaku filem di Indonesia, baik generasi baru, maupun generasi lama. Kita mau membaca bagaimana filem Indonesia sekarang dan masa lalunya. Kami memang mencoba selektif mencari orang-orang yang layak untuk diwawancara. Mereka adalah orang-orang yang kami anggap penting dalam sejarah. Salah satunya, lu sebagai generasi baru pembuat filem. Kami merasa perlu tahu, apa sih yang ada dikepala lu? Kami selama ini hanya tahu, "Wah Nia Dinata hebat", dapat piala ini dan itu. Kita nggak pengen ke situ. Mungkin yang pertama, boleh cerita dulu kenapa lu bisa nyemplung di dunia filem?
Nia Dinata: Kenapa gue nyemplung di dunia filem? Sebenarnya gue tipe orang yang kurang aktif waktu kecilnya. Maksudnya begini, ketika anak-anak lain senang main di luar yang lebih sifatnya fisik, gue kurang suka hal-hal yang berbau physical. Dan itu kelihatan banget ketika gue kecil. Gue merasa banget kalau misalnya, “Kok gue lebih senang ke dalam?” Lebih senang melakukan hal-hal yang baca buku. Gue lebih senang nonton. Nonton… Mungkin karena zaman dulu experience-nya luar biasa banget ya. Kita belum ada sinepleks. Kalau ke bioskop, zaman gue kecil di Blok M—sekarang Blok M Plaza—dulu New Garden Hall. Itu dekat tinggal gue di jalan Bulungan, di depan SMA 9 dan SMA 11. Kalau jalan kan dekat, dan jalan kaki. Layarnya besar banget, lebih besar dari sinepleks. Terus curtain-nya emas warnanya. Terus dia keangkat pelan-pelan gitu… Gelap. Itu sudah merupakan pengalaman tersendiri buat gue. Dari mulai gelap, terus curtain-nya keangkat aja, buat gue itu magic! Nontonya yang dulu-dulu, mulai dari Superman I (Richard Donner, 1978—Red.), masih Christopher Reeve, terus udah gitu, Badai Pasti Berlalu (Teguh Karya, 1977—Red.). Gue ikut sama tante, walau pun bukan umur gue. Filemnya Teguh Karya, Ibunda (1986). Pokoknya, yang tante-tante gue nonton, gue ikut. Jadi mungkin karena itu menarik buat gue aktivitas itu. Sama baca buku. Gue gak banyak teman, dan lebih senang yang seperti itu. Terus gue pindah ke Arab. Di Saudi Arabia, sebuah negara yang antah-berantah buat gue. Gue umurnya 7 tahun waktu itu. Lagi senang-senangnya diajak ke bioskop. Terus di sana gak ada bioskop. Terus perempuan kalau pergi ke pasar, harus ditutup-tutupin. Gue susah banget. Gue gak bisa pakai celana pendek, rok pendek, dan kaos tangan buntung. Gue lebih tambah males lagi dong keluar rumah. Untungnya di kompleks perumahan ekspatriat itu ada perpustakaan, isinya banyak video Betamax. Dan ada perpustakaan buku. Jadi kita bisa nontonlah… Anak-anak bisa nonton. Karena tidak ada kontrol dari orang tua, akhirnya gue nonton filem-filem seperti Kramer vs Kramer (Robert Benton, 1979—Red.). (Tertawa kecil). Pokoknya kebanyakan filem-filemnya Jack Nicholson yang zaman itu (One Flew Over the Cuckoo's Nest-1975, The Passenger-1975, The Last Tycoon-1976, Goin' South-1978, The Shining-1980—Red.). Jadi, kayaknya gue mungkin dewasa sebelum waktunya. Lebih tahu urusan orang cerai. Dan gue nontonnya bisa berulang-ulang. Itu Kramer vs Kramer, karena cuma gue benar-benar suka banget. Gak tahu kenapa. Tapi dari Sound of Music (Robert Wise, 1965), The Wizard of Oz (Victor Fleming, 1939) juga mereka punya. Collection anak-anak. Tapi udah capek dengan itu. Karena gak banyak juga koleksinya. Gue senang banget nonton filem-filem Meryl Streep dan Jack Nicholson.
Hafiz: Pokoknya tokohnya . . .
Nia Dinata: Pokoknya tokohnya itu. Gue ingat mukanya ini, nah itu dia yang gue tonton. Kemudian gue merasa gue bisa mengkhayal abis itu. Sudah jadi hobi gue. Tapi gak pernah tahu sebenarnya bahwa di belakang itu ada sebuah proses. Gue cuma penasaran, “Kok bisa ya… Orang bikin sesuatu, yang orang lain tonton, terus bisa terbayangkan karakternya”. Padahal filemnya udah abis. Justru gue juga mikir, “Kalau kita berada di situasinya gimana ya?” Apalagi gue dari anak-anak suka sama . . . Siapa yang bapaknya Angelina Jolie? (Jon Voight—Red.) The Champs (karya Franco Zeffirelli, 1979—merupakan karya remake dari sutradara King Vidor dengan judul sama pada 1931—Red.). “Kalau kita situasinya kayak begitu, gimana ya?” Itu membuat khayalan gue berkembang biak. Nah, seteleh gue remaja balik ke Jakarta, gue akhirnya jauh lebih senang nonton video. Waktu itu filem Indonesia tahun 1983-an, kan ngeseks semua judul-judulnya. Kita gak pernah lagi bisa nonton filem. Akhirnya, cuma mengandalkan Betamax-betamax video itu diulang saja. Sampai hafal dialognya, semua shot-shot, sampai gue sadari, “Itu namanya shot”. Ketika SMA sudah mulai tahu. Dulu kan belum ada internet. Gue lulus SMA tahun 1988. Generasi 1980-an. “Mau ke mana nih? Kalau gue pengen bikin yang kayak begitu, gue harus belajarnya apa (di mana—red)?”, itu belum tahu. Ketika SMA, akhirnya baru menyadari, dan gue sudah tahu banget bahwa pengen arahnya ke situ. Tahunya cuma itu saja.

Hafiz: Pesonanya apa sih?
Nia Dinata: Pesonanya? Gue merasa… kayak begini, seperti nonton The Champs itu. Gue gak pernah suka sama tinju. Setiap orang nonton tinju Muhammad Ali di TV, gue gak suka. Tapi, ketika gue nonton The Champs, gue bukannya jadi suka sama tinju, tapi jadi tahu, “Wah, pada tinju itu ada sesuatu yang berbahaya pada kesehatannya, in the end of the day… Terus, dia sudah seperti rock star”. Ternyata masalah hidupnya banyak juga. Pesonanya itu. Gue orang yang tertarik sama… Apa ya?… Drama-drama nya itu loh. Itu yang menjadi pesona. Drama-drama kehidupan dan karakter-karakternya.
Hafiz: Setelah itu apa? Fase berikutnya apa?
Nia Dinata: Dulu gak punya video. Gak semudah orang punya video dan home video. Handphone gak ada. Jadi, pesona gue itu. Hanya bisa diterjemahin lewat tulisan. Gue ngarang-ngarang cerita filem sendiri karena gue suka nulis. Kebetulan gue di sekolah orang yang seneng belajar. Gue bukan orang yang…, “Pokoknya anak baik-baik lah”. (tertawa). Gue ingin memperdalam menulis. Sementara pelajaran mengarang di sekolah, Bahasa Indonesia kan, zaman gue SMP-SMA itu, tidak dibiasakan mengarang yang sesuai dengan apa yang kita mau. Pasti kita mengarang liburan sekolah. Setiap naik kelas sama saja…, “Liburan sekolah ngapain?” Aduh…., padahal khayalan kita sudah banyak yang lebih dari itu kan?
Hafiz: Tidak membangun fantasi?
Nia Dinata: Ya. Tidak membangun fantasi. Jadi gue merasa kalau kuliah mau belajar nulis. Gue mau menulis yang lebih meng-ini-kan fantasi dan teknik menulis. Makanya gue kuliah ambilnya jurnalistik. Gue ambil jurnalistik, karena juga pikirannya masih “pekerjaan”. Waktu itu mau kuliah di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), tapi teman-teman gue gak ada yang ambil IKJ. Gue dari SMA 34, semua teman-teman gue bilang, “Gila kalau mau masuk IKJ!”


Hafiz: Masuk Sarang Singa?
Nia Dinata: Sarang Singa. Terus, ya sudah gue ambil jurnalistik. Memang sudah pengen banget bisa mandiri. Bisa ngatur hidup gue sendiri. Dan gue pengen banget bisa kuliah di Amerika. Karena dari situ gue mau mempelajari filem. Di situlah semua filem-filem yang gue tonton (berasal). Belum nonton filem-filem Eropa. Tahun segitu belum lah. SMA kita kan gak ada, gak bisa akses lah, gak ada DVD juga. Pas gue ke sana, gue masuk sekolah Journalism. Barulah di situ gue ber-roommate-an dengan orang Italia, namanya Francesca. Nah si Italia ini mengambil filem. Dia yang meng-introduce gue ke filem-filem Italia. Dia bilang, “Nia lu harus beli ini, filem-filem Italia, Federico Fellini. Kalau dari Prancis, lu harus cobain nonton Jacques Tati”. “Filem apa ini?”, pas gue tonton ternyata, “Gila!”. Gue benar-benar, “Haaaa…! Ini ada dunia lain ternyata”. Di universitas gue juga ada kine klub, kalau hari Sabtu-Minggu muterin filem-filem dari Iran. Filem pertama Zhang Yimou (Red Sorghum, 1987), gue nontonnya pas kuliah. Ju Dou (Zhang Yimou, 1990), gue nontonnya di layar lebar. Karena dibahas sama kine klubnya. Gue menemukan dunia yang excited. Karena habis nonton filem ternyata bisa membahasnya. Dan orang-orang persepsinya beda-beda ternyata. Orang bisa berdebat, interpretasinya banyak, wah gila! Kayaknya gue menemukan sesuatu yang gak usah dibayar pun gue juga mau mengerjakan itu. Gue tanpa dipaksa juga mau masuk kelas yang kerjanya menginterpretasi filem. Jadi, sambil ambil jurnalistik, gue juga ambil pelajaran bebasnya Cinema Studies. Belum pegang kamera. Cuma membaca, How To Read a Film. Membaca filem segala macem. Walaupun tidak menjadi major gue, tapi gue bisa mengkhayal sendiri. Gue bisa membuat report yang menurut interpretasi gue apa yang sudah gue tonton. Kerjanya cuma nonton filem dan bikin laporan, udah gitu. Gue pikir, “Oh ya, setelah ini gue harus mengetahui hal-hal yang lebih teknis”. Ketika orang lain nonton segala macam Blockbuster, Arnold Schwarzenegger, Mission Impossible, si roommate gue gak mau nonton yang itu. Roommate gue selalu mengajak ke suatu tempat yang namanya Angelica, Art House Cinema. Kita nonton filem-filem yang bukan mainstream. Waktu kecil kan nontonnya filem-filem Hollywood, gue kayak langsung mendapatkan referensi yang berbeda. Dan gue pikir, “Ya udah, ini yang pengen gue lakuin. Gue pengen belajarin soal ini. Gue mau belajar dengan serius”.
Hafiz: Terus kapan mulai membuat?
Nia Dinata: Setelah selesai sekolah jurnalistik, gue kuliah filem. Benar-benar Film Production. Karena duit-nya sudah gak cukup, gue gak bisa ambil master. Jadi gue ambil program Film Production, 1 tahun. Benar-benar pegang kamera, 16 mm, sound, dan itu semuanya kerjanya di-routary. Tugasnya dari mulai bikin video klip, filem pendek, filem eksprimental, sampai filem lulus-lulusan yang harus bikin filem pendek 15 menit. Drama dan naratif. Jadi gue pikir, “Wah gila, gue sudah merasa apa saja sudah gue lakuin deh”. Selama di sana, ada orang lain bikin filem, gue sampai ngangkatin kabel, megangin mic boom pun gue mau. Pokoknya gue terlibat di dalam proses itu.

Hafiz: Apa yang lu bayangkan tentang filem. Waktu kecil, ketika layar itu diangkat, itu kan magic. Gue juga mengalami hal yang sama waktu masih kecil, ketika mulai kebuka.
Nia Dinata: Layarnya keangkat…(tertawa kecil)
Hafiz: Layar Emas itu…
Nia Dinata: Itu benar-benar Layar Emas namanya…
Hafiz: Tiba-tiba lu membuatnya. Apa yang lu rasakan di sebuah dunia yang lu ada di balik Layar Emas itu?
Nia Dinata: Ohhh… Gitu ya. Tentu saja kalau bikin filem pendek, waktu di kelas, bikin musik, eksperimental, sampai ngedit di Steenbeck Machine, ditontonnya cuma di kelas doang. Tapi ketika filem ujian gue, diputer di Tribeca, gedungnya Robert de Niro. Sekolah nyewa untuk anak-anak yang lulus. Itu bukan di sinepleks. Pertama kali, gue langsung ngerasain diputerin. Rasanya begini, “Aduuh, filemnya mau ditonton”. Gue justru yang rasanya ketakutan dan malu. Karena semua murid-murid dan dosen . . . My first experience . . . Yang nonton dosen, murid-murid, alumni, semuanya jago-jago. Habis itu kita pasti ke depan untuk Q and A (tanya-jawab). Dipertanyakan, “Kenapa lu bikin ini, kenapa lo begitu?”. Gue justru malu dan takut, tapi ada sedikit rasa excited juga. Filem gue benar tentang anak Indonesia. Filem ujian gue judulnya Scissors. Gue sampai nyari pemainnya dari Asia, gue ajarin Bahasa Indonesia, walaupun dialognya cuma sedikit. Dialognya berantem doang, kakak adik yang rebutan majalah Bobo. Majalahnya minta kirimin dari Jakarta, terus ibunya marah. Ibunya cuma kelihatan kakinya. Terus majalahnya digunting-gunting. Dua anak ini gak dapat apa-apa. Filemnya hitam-putih. Gue merasa ada sesuatu yang beda aja dari filem gue, yang membuat ada rasa berani. Pas layarnya kebuka, “Aaaaaaahhhh..”.


Hafiz: Dari mana dapat inspirasi filem seperti itu? Maaf, gue belum nonton filemnya ya…
Nia Dinata: Ada VHS-nya doang…
Hafiz: Pengen nonton gue…
Nia Dinata: Ntar gue kirim
Hafiz: Ketika ada “gunting menggunting” itu, gue langsung membayangkan Hitchcock.
Nia Dinata: Hitchcock? Ya. Karena referensinya Hicthcock. Gue suka Hitchcock. Tapi itu kejadian yang terjadi sama diri gue. Jadi, based on my experience yang menurut gue itu traumatis banget. Waktu kecil, majalah Bobo terbit setiap hari Selasa. Pasti pagi-pagi gue udah nungguin, di depan pagar rumah. Orangnya naik sepeda. Gue selalu membaca, pengen menjadi the first one yang membaca. Nah, adik gue yang cowok ini selalu ngerebutnya dari tangan gue. Jadi selalu setiap pagi Selasa, sebelum berangkat sekolah pasti berantem sama adik gue. Setelah berapa bulan kali ya, kali emak gue capek juga ya bok, lihat anaknya berantem. Tanpa ngomong ba-bi-bu, dia gunting di depan gue. Gue ngelihatnya dari bawah. Ngelihatnya kayak . . . Semuanya beterbangan. Terus adik gue mah cuek aja kali. Emang dasar anak umur segitu. Cuma pengen bikin gue kesel. Tapi abis itu, “Haaaa terus gue gak bisa baca”. Ngerti gak sih? Itu yang traumatis buat gue. Makanya gue bikin filem buat ujian. Pas gue nonton Hitchcock, gue langsung, “Wah ini nih yang gue pernah rasakan”. Traumanya yang kayak gini, “Jeng . . . Jeng..”. (tertawa). Datang di-slow mo (slow-motion), kayaknya gunting, “Keeekkkkk”…
Hafiz: Terus, ketika lu balik ke sini, lu memulai Kalyana Shira?
Nia Dinata: Ya nggak lah. Gue balik kesini, kerja jurnalistik.
Hafiz: OK. Ceritakan dulu….
Nia: Gue kerja jurnalistik di Seputar Indonesia (RCTI) tahun 1993. Ya, sebagai pengalaman gak ada lah. Pengalaman yang gak berguna buat kita. Tahun 1993 zaman Orde Baru, setiap gue ngeliput sesuatu, gue edit, diedit sama editornya lagi. “Gak bisa begini, gini… gini…”. Pers belum kayak sekarang. Ya, gak betah lah gue. Akhirnya gue berpikir, mendingan kerja di PH (Production House) bikin iklan. Daripada gue bikin sesuatu yang serius dan menurut gue harusnya kita jadi “watch dog” (pers), “kok kita gak jadi ‘watch dog’ nih?”. Harus ngeliput yang bagus-bagusnya aja zaman itu.
Hafiz: Jadi berapa lama lu kerja di situ?
Nia Dinata: Lama lah. Sampai tahun 1999, bikin iklan, video klip. Gara-gara itulah gue kenal sama anak-anak yang lulusan IKJ, anak-anak iklan, klip, musik, yang akhirnya kita jadi berteman. Kemudian bisa jadi partner dalam membuat filem.
Hafiz: Filem pertama lu kan…
Nia Dinata: Ca Bau Kan…(2002)


Hafiz: Ca Bau Kan… Itu bagaimana? Pertama keluar, membuat isu tentang minoritas, kenapa?
Nia Dinata: Sebenarnya gue sudah mulai menulis ide Arisan sih. Tapi itu keluarnya belakangan. Gue lihat buku itu (Ca Bau Kan), persis banget buku-buku yang gue suka selama kuliah. Selama gue kuliah, selain mengambil Cinema Studies, tetapi juga mengambil… karena jurnalistik, kita harus mengambil literature juga. Kuliah wajibnya itu harus mengambil literature. Boleh memilih, antara mainstream literature yang klasik, atau minority literature. Gak tahu kenapa, gue milihnya minority. Karena gue banyak teman-teman yang minoritas, kayak Latin American, Chinese American, Korean American, dan Indian. Menurut gue, pengalaman yang ditulis sama penulis minoritas, mengenai orang minoritas, di negara yang mayoritasnya bukan dari race dia, itu menarik. Menarik banget. Buku-buku yang klasik selalu “bicara” individual, eksistensi seorang seperti; Camus (Albert Camus), Kafka (Franz Kafka)… gitu-gitu kan.
Hafiz: Aktualisasi diri…
Nia Dinata: Aktualisasi diri. Nah penulis minoritas itu, gimana mau mengaktualisasikan dirinya? Sebelum dia bisa mengaktualisasikan dirinya, dia harus berdamai dulu dengan kondisinya yang minoritas. Kondisi yang selalu dimarjinalkan. Apalagi Amerika tahun segitu…. Rasis abis. Kondisi yang selalu mengalami perlakuan-perlakuan rasis, dari lingkugannya. Jadi, sebelum dia mengaktualisasikan diri, dia harus dealing sama that kind of emotional feelings. Nah, itu banyak sekali gue baca. Dan gue jatuh cinta banget dengan literatur minoritas gitu. Waktu gue baca Ca Bau Kan, gue gak tahu siapa Remy Silado. Gue pikir dia orang minoritas, ya walaupun Manado sih. Minoritas juga kan. Mayoritas kita kan Jawa ya…? Terus gue merasa, “gila ya, ini orang bisa mendeskripsikan sebegitu jelasnya sebuah kultur minoritas yang selama gue grow up di tahun 1980-an, jarang sekali dibicarakan. Dia membicarakan dengan sangat visual. Buku itu sangat visual. Jadi gue terbayanglah segala macam. Gue teringat sama sastra-sastra minoritas yang gue baca waktu kuliah. Gue pikir, “Wah ini kalau difilemin bisa menjadi sesuatu yang menarik. Akhirnya baru gue mencari dia.


Hafiz: Kalau gue lihat, karya-karya lu selanjutnya selalu berpijak di wilayah itu.
Nia Dinata: Oh gitu ya…
Hafiz: Wilayah minoritas, seperti; Ca Bau Kan dan Arisan (2003). Sebenarnya perspektif minoritas bagi lu itu apa sih? Dalam konteks keindonesiaan kita. Maksud gue, di kita kan sebenarnya stigma minoritas itu kan juga laten seperti, “lu Cina, lu Gay atau Jawa lu!”
Nia Dinata: Pokoknya dari negeri seberang lah…
Hafiz: Menurut lu gimana sebenarnya?
Nia Dinata: Kita yang hidupnya anak-anak 1980an itu kan pasti… Grow up banyak sekali yang lebih ke Jawa. Sementara gue mungkin darah Jawa nya mungkin cuma 1/8 kali ya. Lebih banyak Padang (Minang) dan Jawa Barat (Sunda). Tapi apa yang gue baca waktu pas SMA, kita tidak diajarin untuk membaca novel-novel. “Di pelajaran Bahasa Indonesia kita apa sih?!”
Hafiz: Membaca sastra yang baik….
Nia Dinata: Iya. Gak diajarin itu. Terus apa yang kita lihat di TV selalu tentang Jawa waktu itu. Semua menteri-menteri kita kebanyakan Jawa. Presiden kita juga Jawa melulu gitu, kan? Jadi, kayaknya negara kita ini sangat Javacentris. Sementara itu gue merasa banyak budaya-budaya Indonesia lain yang sangat menarik. Kalau dilihat dari konteks Indonesia, gue merasa apa yang gue lihat, dan dengar. Gue baca selama ini sangat Javacentris. Bahkan gue baca pertama kali bukunya Pramoedya Ananta Toer, waktu kuliah kan disana, gue beli dari Yale waktu lagi nengokin teman gue. Di toko buku Yale tetralogi-nya Pram gue beli semua. Itu masih javacentris. Dari situlah gue mulai minta dikirimin buku Para Priyayi (Umar Kayam), apa saja yang lagi bagus. Tapi itu semuanya javacentris, Fiz.
Hafiz: Indonesia adalah Jawa kan? (tertawa)
Nia Dinata: Nggak lah! (tertawa).Waktu pas gue baca itu (Ca Bau Kan), walaupun settingnya di Jawa, tapi dia membicarakan orang Tionghoa. Itulah yang menarik. Magnetnya di situ buat gue. Soal keminoritasan Indonesia yang lain, ya… Seharusnya equal ya… Karena itulah yang membentuk Indonesia—perbedaan-perbedaan dan suku-suku. Kalau soal minoritas seksual, agama, segala macem, Indonesia adalah “The larges country moslem in the world”. Selalu begitu. Padahal banyak agama-agama lain juga. Karena kita orangnya banyak, 250 juta, kalau misalnya 5% nya saja, kan sebenarnya banyak! Jadi gue rasa itu yang perlu, dan merasa senang “menggarap” itu, dibandingkan menggarap hal-hal yang sudah kuat. Karena sudah menjadi kekuatan tersendiri, dan sudah mendapat ruang tersendiri. Jadi, yang belum mendapat ruang dan belum mendapat kekuatan, menurut gue itu lebih menarik.

Hafiz: Ada analogi begini, tentang konsep sebuah kultur (kebudayaan), terutama konsep modernitas. Biasanya konsep modernitas itu lahir dari konsep-konsep perlawanan dalam artian melawan dominasi. Seperti misalnya dari dulu perubahan-perubahan yang terjadi dalam semua kebudayaan dunia, selalu awalnya periferi (pinggiran). Pusat biasanya status quo. Apakah konsep perubahan yang lu maksud dengan cara mengangkat isu-isu minoritas atau isu di luar lingkaran status quo ini, menjadi sangat penting dalam berbahasa lewat filem untuk mengaktualisasikan lu sebagai orang yang modern, orang yang berpikir maju tentang konteks manusia (kemanusiaan)?
Nia Dinata: Wah, gue mikirnya gak sampai sejauh itu. Justru mikir gini, OK. Mereka memang minoritas. Justru lingkungan gue seperti itu, lingkungan keberagaman. Gue gak bergaul, kebanyakan teman gue kebanyakan bukan orang Jawa. Geng gue cewek-cewek, misalnya dari SMA kita tetap temenan sampai sekarang, gak ada orang Jawanya.
Hafiz: Itu kenapa?
Nia Dinata: Gak tahu kenapa. Itu natural aja. Dari kita itu, kalau gak orang Padang, Padang lagi ya bok (tertawa kecil)… Kalau gak orang Makassar. Bervariasi. Coba lu bayangin. Jadi dari situ kita menghasilkan perempuan-perempuan yang nyablak—yang gak sesuai dengan etika budaya Jawa.

Hafiz: Javacentris
Nia Dinata: Terus itu dari yang teman-teman SMA, terus kerja. Di space kerja gue, ternyata gak selalu “bergaul” dengan orang-orang heteroseksual. Jadi, banyak orang-orang yang preference seksualnya berbeda sama gue. Dan setelah gue pikir-pikir lagi, ternyata bukan hanya di tempat gue kerja. Ternyata oom-oom gue juga banyak yang gay gitu loh. Gue grow up waktu kecil dengan mereka.
Hafiz: Dan mereka diakui?
Nia Dinata: Diakui. Kenapa gak? Kita semua tidak usah dilihat dari itu. Tidak usah dilihat dari suku, atau pun sexual preference, atau pun agama. Kenapa gak bisa diangkat ya? Gak bisa di include di dalam karya yang kita bikin. Sekarang gue sudah punya keluarga sendiri, menikah dengan orang keturunan Tionghoa. Itu sangat diversity. Lingkungan gue itu sangat diversity. Dan gue merasa natural aja. Gue portray that kind of diversity di dalam karya gue.
Hafiz: Pertanyaan gue balik ke filem. Menurut lu industri filem sekarang ini gimana sih?
Nia Dinata: Sekarang? Gila lu, jumping abis!
Hafiz: Gue mau komparasi. Lu kan mengalami melihat filem tahun 1980an. Waktu masih kecil. Kemudian terpesona dengan filem itu. Lu akhirnya masuk menjadi pembuatnya. Sekarang nyemplung di situ dan bekerja di wilayah industri itu.
Nia Dinata: Kalau secara umum sekarang sebenarnya, mungkin kita berada di posisi yang sama. Zaman awal tahun 1980an… ya late seventies, filem Indonesia banyak di bioskop. Hampir setiap weekend ada filem Indonesia baru. Orang-orang juga senang untuk datang ke bioskop untuk nonton filem Indonesia. Gue malah merasa kalau kondisi gue agak unfortunate. Karena tempat gue nonton cuma di New Garden Hall. Tapi sebenarnya kalau gue ngomong sama orang-orang lain, yang hidupnya di tahun segitu, kita bisa kok nonton ada filem yang sifatnya “cultish”. Jadi gue kayak kesaring. Sekarang gue juga riset, “…Oohh ternyata di tahun segini ada filem ini”. Itu beragam banget. Mulai dari Ibunda, Secangkir Kopi Pahit. Gue diajak sama tante-tante gue nontonnya yang kayak begituan. Waktu itu gue gak tahu bahwa ada filem Indonesia lain di luar sana. Baru tahu setelah semua berlalu. Ternyata, mulai dari silat, action-action figure Eva Arnaz, Barry Prima, mempunyai cult follower tersendiri. Jadi, kalau gue bilang sekarang variasinya hampir sama seperti dulu. Mau filem remaja ada, komedi seks ada, hantu-hantu ada, filem yang serius ada. Kita punya variasi yang sangat beragamlah sekarang.




Perempuan Punya Cerita Trailer
Hafiz: Menjadi sutradara itu apa sih?
Nia Dinata: Bagi gue menjadi sutradara ya… Kita bisa translating vision sama story. Gue orang yang senang menyutradari filem yang gue tulis. Jadi, gue merasa bahwa ide script writer, film director, filmmaker; mereka mentransfer cerita. Mereka punya urgency untuk menceritakan sesuatu. Mereka adalah storyteller. Walaupun gue nge-produce dokumenter, gue seorang story driven. Gue senang baca cerita. Senang mengkhayal. Buat gue, kita jadi tetap hidup karena kita masih punya cerita dan masih mau dengerin cerita orang. That’s thing as alive. Gue merasa kita itu storyteller.
Hafiz: Dalam beberapa wawancara, ketemu kawan-kawan, ini pertanyaan yang sama sebenarnya. Menurut gue seorang sutradara adalah pembuat cultural statement. Seorang yang membuat pernyataan kultural di ranah publik. Tahun 1995, sempat ngobrol dengan Teguh Karya, di kepala gue membayangkan menjadi seorang sutradara itu… jauh. Karena posisi dia sangat penting. Karena dia meresap berbagai aspek di hal-hal yang kultural. Pertanyaan ini jadi penting bagi gue, di Jurnal Footage. Karena memang ada semacam kondisi filem jaman sekarang yang kami lihat. Terus, pertanyaan-pertanyaan kita ketika jatuhnya filem-filem Indonesia tahun 1990an. Kita kehilangan statement-statement cultural dari para auteur. Menurut lu bagaimana?
Nia Dinata: Seorang sutradara atau pembuat filme itu harus berangkat dari cerita. Apakah cerita itu kemudian menjadi sebuah statement cultural, itu bagaimana publik yang menilainya. Bagaimana impact dari karya itu, terhadap kondisi budaya masyarakatnya di saat itu. Kalau kita bermula dengan sesutau yang cultural, bermula dengan, “Oh gue mau bikin dari statement cultural. oh gue gak ada cerita. Gue cuma mau bikin statement cultural!”. Gue rasa itu menjadi sebuah pretensi saja. Kalau buat gue pribadi, misalnya gue bikin Ca Bau Kan, the round-nya, magnetnya dari mengadaptasi novel itu menjadi skrip dan menjadi filem. Bukan karena karena statement cultural. Tapi the first thing adalah… Ada suara dari kelompok minoritas. Ini ada cerita yang orang itu harus tahu. Orang-orang harus semakin banyak tahu… Tahu cerita ini. Harus mendengar. Bisa membaca dari buku, dan kemudiaan melihatnya, kalau dia sudah menjadi filem. Gue bikin Arisan, bukan karena mau bikin statement cultural tentang gay. Gue merasa bahwa, “Oh cerita friendship ini penting, ini harus diceritain nih”. Seorang yang gay itu tidak mesti sesuai dengan stereotype gay—kerjanya harus di salon, mendapatkan treatment yang… Agak sedikit rush treatment dari society-nya. Dari segala macam. Terbacanya dengan sendirinnya ketika cerita itu mengalir. Bagaimana karakter itu struggle. Mungkin dia yang ada di Arisan itu tidak stereotype. Dia tidak bergaul dengan pergaulan gay. Sehingga dia merasa menjadi minoritas diantara hetero-hetero teman-temannya dan keluarganya. Seperti misalnya, Berbagi Suami (2006), “Gue pengen menceritakan perempuan-perempuan ini”. Bukan statement bahwa ini anti poligami-nya. Buat gue personal banget menjadi seorang sutradara atau penulis skenario. Karena yang menjadi pegangan gue adalah ceritanya. Apakah kemudian publik menjadikan itu sebuah statement cultural, atau apapun itu tergantung bagaimana dia meramu ceritanya. Sehingga mungkin akan menjadi sangat berbeda. Buat gue, mungkin filem Anak Perawan di Sarang Penjamun (Disutradarai Usmar Ismail pada1960 dan ditulis oleh Sutan Takdir Alisyahbana dalam novel berjudul sama pada 1941—Red.) itu tidak menjadi statement cultural buat gue. Tapi, ketika gue ngelihat di Eropa, mereka punya followers, cult-nya besar sekali, bahkan DVD-nya menjadi collectable item di sana. Buat orang lain itu menjadi sebuah statement cultural. Karena itu menjadi penting buat mereka dan banyak pengikutnya. Ketika buat gue Twilight (2008, bagian awal dari trilogi The Twilight Saga yang disutradarai oleh Catherine Hardwicke berdasar Novel karya Stephenie Meyer—Red.) tidak menjadi statement cultural, karena gue tidak tertarik dengan kultur vampire. Tapi buat remaja itu menjadi sebuah cultural statement. “Became cultural vampire”. They dressed up like a Vampire! Jadi, mungkin Berbagi Suami tidak menjadi sebuah cultural statement buat orang-orang yang memang tidak menonton. Tapi buat sebagian perempuan yang menonton, itu menjadi statement buat mereka. Bahkan mereka membahasnya. Bisa menjadikan reference filem itu. Arisan mungkin buat orang hetero juga. It’s not cultural statement. Tapi buat kaum gay yang kemudian mengikuti dan bahkan curhat sama gue, itu kan kayak snow ball efeknya. Setelah filemnya keluar, setelah bertahun-tahun, masih aja ada yang cerita. Membicarakan dan bahkan . . . Tapi bukan di ranah yang akademis atau diskusi publik yang kayak seperti itu. Bahkan sangat personal. Misalkan email, “saya masih inget loh, filem Arisan, saya mau coming out (terus terang), bagaimana ya?” (tertawa kecil) Gimana ya? Maksudnya, hingga kita yang membuat filem harus jadi teman mereka juga. Gue jadi bingung deh kalau kayak begitu akhirnya. Tentunya akhirnya gue harus menjawab juga, ketika itu dijadikan referensi untuk orang yang mau coming out. Itu kan sangat personal dari orang yang mau coming out.

Hafiz: Sebagai pembuat, lu dimana posisinya?
Nia Dinata: Nah itu, waktu awal-awal gue juga bingung. “Posisi gue gimana nih?”. Tapi akhirnya gue pikir itu natural. Gue gak bisa mengkontrol itu. Gue juga gak bisa men-deny itu juga. Selama gue masih membaca dan masih bisa menjawab, gue akan menjawab. Akhirnya, sebagai pembuat filem, posisi gue sebagai teman dia. Seolah-olah dia kenal gue dari nonton filem. Sampai akhirnya berani membuka dan menanyakan: “Bagaimana nih… Saya sebaiknya bagaimana?”. Gue menganggapnya jadi teman saja. Tapi kalau menurut pendapat pribadi gue, “Ketika lu menganggap memang ibu lu perlu tahu, ya… ceritain aja. Kan lu lebih kenal sama ibu lu”. Gue cuma teman, teman ketemu secara mendadak. Akhirnya ya… Jadi seperti itu. Jadi gimana dong? Orang jadi curhat, bukan karena dia kenal gue, kenal filemnya doang padahal.
Akbar: Gue ingin tahu pandangan lu tentang wacana perempuan di filem Indonesia, misalnya pada tahun 1990-an ada filem esek-esek yang mengeksploitasi tubuh perempuan, representasi perempuan. Sementara filem-filem horror sekarang juga banyak tokoh-tokohnya perempuan, menurut lu gimana?
Nia Dinata: Ya. Wacana perempuan. Gak ada satu wacana yang bisa menjelaskan posisi perempuan di filem Indonesia. Tapi kalau di filem horor, sangat disayangkan sekali banyak filem horor yang menggunakan hantu perempuan. Pembuatnya laki-laki, ya kan? Jadi, dia tidak dibuat dengan perspektif perempuan. Hantu dianggap sebagai sebuah obyek yang gagal dalam kehidupan. Jadi dia membalas dendamnya ketika dia sudah menjadi hantu. Ketika dia hidup, dia tidak bisa melawan. Perlawanannya, ketika dia menjadi hantu. Itu adalah “classical patriarchal perspective” sebenarnya. Biasanya korban pemerkosaan, korban kawin lari, udah dihamilin, terus orangnya kabur, terus dia melahirkan, akhirnya dia meninggal. Dia balas dendam. Semua itu tentang revenge. Jadi, seolah-olah ketika dia hidup dia tidak bisa menyelesaikan masalah. Dan diselesaikan ketika dia menjadi hantu, karena hantu itu ditakuti. Laki-laki yang hidup lebih takut sama hantunya dibandingkan ketika perempuannya yang masih hidup. Menurut gue itu klasik banget. Gue pengen tahu kalau filem hantu dibikin sama perempuan dengan perspektifnya perempuan. Bisa jadi hantunya laki-laki! Mungkin. Yang di-hon(orable) perempuannya. Atau bisa jadi sebenarnya dia justru membalas dendam ketika masih hidup. Ketika menjadi hantu dia tidak balas dendam, kan bisa saja seperti itu. Karena rata-rata itu kan it’s about revenge. Yang tidak bisa diselesaikan ketika dua-duanya masih menjadi manusia. Di filem-filem Indonesia yang kebanyakan itu, pasti posisi perempuannya masih satu dimensi. Satu dimensi itu kayak misalnya, bahkan sampai sekarang, kalau jadi ibu, “perempuan itu harus 100% didedikasi penuh”. Seorang ibu tidak pernah diperlihatkan bahwa dia juga menikmati hubungan seksualnya. Seolah-olah jadi ibu itu gak boleh ada adegan yang seksual. Gak boleh celebrating sexuality-nya. terus kalau dia perannya jadi ibu dia juga harus nurturing (mengasuh) terus. Dia tidak bisa membalaskan atau dia tidak boleh mengungkapkan kekesalannya. Atau kalau dia menjadi seorang ibu selalu mengatur anak-anak laki-lakinya. Sehingga anak laki-lakinya harus mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginan si ibu. Itu kan hanya satu dimensi penggambarannya. Kalau menjadi anak, dia harus selalu menunggu di jodohkan dengan jodoh yang pantas dari orang tua. Filem-filem sekarang juga masih banyak yang seperti itu. Kalau dia membawa laki-laki yang tidak sesuai dengan kemauan orang tua, dia mendapat oposisi dari ide bapak atau bahkan ibunya sendiri. Jadi, itu masih sangat klasik banget. Posisi perempuan di filem Indonesia, masih belum banyak perubahan. Kalau jadi pacar, dia yang diam-diam aja. Kalau misalnya dia jadi adik, kakaknya yang cowok-cowok bisa membunuh. Bisa menjadi gangster. Tapi ketika dia menjadi adik, dia tidak bisa bersuara, dan tidak bisa bisa ngapa-ngapain. Selalu minta perlindungan. Di filem dikondisikan sehingga keputusannya ada di kakaknya yang laki-laki.





Berbagi Suami Trailer
Akbar: Terus yang tadi lu anggap filem yang patriarki, apa kemudian ada filem yang matriarki?
Nia Dinata: Sebenarnya sih bukan filem yang matriarki. Kalau filem yang matriarkal, nanti kekuasaannya berada di perempuan. Jadi gini loh, posisi patriarki itu kan karena perempuan dan laki-laki, laki-lakinya berada di atas perempuan. Kalau matriarkal the idea hasilnya terbalik. Selalu ada yang di bawah dan di atas. Tapi kalau filem dengan woman perspective, itu kita bisa melihat. Kayak gini, aku baru ngejuri kemarin. Ada filem Korea judulnya The After (Choi Hyun-young, 2009). The After adalah filem tentang anak perempuan yang lolos dari upaya pemerkosaan. Karena insting dia. Dia disuruh sama si pemerkosa untuk masuk ke dalam mobil. Masih pakai seragam. “Guru lu kecelakaan, lu harus ikut gue”. Tapi ketika dia mau buka pintu mobil, dia langsung ngeh. “Gue masuk apa nggak ya?”, akhirnya dia kabur. Langsung telepon gurunya. Ternyata baik-baik saja. Tetapi akhirnya temannya yang kemudian menjadi korban. Laki-laki itu mencari korban berikutnya. Dia merasa guilty banget. Filem itu it’s all about her guilt. Dia merasa lega, at the same time, dia merasa guilty. “Kenapa harus teman gue yang kena?” Kita bisa merasakan bahwa ini filem tentang rape victim. Walau yang satu mati yang satu nggak. Karena yang bikinnya perempuan, kita ngeliatnya bukan dari polisi yang gerabak-gerubuk. Tapi melihat bagaimana guilty trip-nya dia sebagai perempuan. Walaupun dia akhirnya menjadi saksi di dalam persidangan dan segala macem, tapi benar-benar perspektif dia. Si anak SMA yang hampir menjadi korban. Walau pun di situ dia menjadi hero-nya karena nolongin polisi. Nah, maksud gue kayak gitu loh. Bahwa anak remaja itu tidak hanya selalu dilihat dari filem remaja. Cuma sibuk atau dramanya hanya between mencari pacar atau memperebutkan pacar. Tapi si remaja ini ternyata punya drama yang bahkan sampai difilemkan. Tadinya mungkin dia gak pernah kepikiran soal pemerkosaan. Dia anak baik-baik. Dari sekolah baik-baik. Sampai harus berada di posisi dia trauma, kalau ada orang yang belakangnya mengikuti. Sampai dia harus dealing with sex of rape. Itu kan sangat woman perspective. Lalu ada juga filem yang dibikin oleh sutradara laki-laki, judulnya Mother (Bong Joon-ho, 2009—Red.). Dia yang bikin The Host (Bong Joon-ho, 2006—Red.). Padahal yang bikin laki-laki, tapi dia punya woman perspective yang sangat kuat. Mother, Ibu yang membesarkan anak laki-laki yang IQ-nya sedikit di bawah rendah. Jadi dia bukan retard (lambat), tapi sedikit di bawah rendah. Sehingga si ibunya sangat protektif sama anaknya. At the same time, dia single mother. Kemudian anaknya dituduh melakukan pembunuhan. Jadi harus ngebelain anaknya. Tapi di situ kita melihat gimana dia itu juga ditaksir sama lawyer-nya. Dia juga ada rasa tergodanya. Kepengen… To have a sexual relationship dengan laki-laki lain. Padahal sudah tua. Pemeran utamanya sudah 55 tahun. Kemudian, at the end of story dia ikut tur khusus cewek-cewek. Di bis itu semua dansa-dansa. Dansa-dansanya itu yang quite sexual gitu. Dipasangin musik disko Korea lah, Itu kan jarang kita lihat perempuan yang 55 tahun mempunyai dimensi yang sangat multiple dimension. Dia seorang ibu, menolong anaknya yang lagi dituduh membunuh. Tetapi ternyata dia kemudian harus terlibat dengan hubungan seksual juga dengan lawyer-nya. Kita melihat dari angle-angle yang beda. Aku rasa itu sangat bisa sekali dibikin menjadi perempuan yang udah nangis melulu kerjanya, dia frigid, kayaknya gak mau. Atau pun kalau dia mau melakukan hubungan seksual dengan laki-laki itu, dia merasa terpaksa. Jadi seolah-olah perempuan ini gak punya hasrat seksualitas. Maksud gue, kalau dibikin seperti itu gak mungkin filem itu masuk ke festival ini. Karena dia menunjukan hasrat juga. Dia manusia. Dia punya hasrat juga. Sehingga filem ini jadi sangat multidimensional. Jadi contohnya itu. Kenapa perempuan itu kayaknya, “Kalau dia perannya ibu, dia gak boleh mempunyai sexual desire? Kalau dia perannya ibu, dia gak boleh pengen pergi ninggalin anaknya? Ikut tur disko-disko di dalam bis?”. Padahal kalau itu laki-laki, pasti kalau lagi sedih… Perlu pelepasan seksual. Namanya juga manusia, ya kan? Nah, yang kayak gitu-gitu. Kalau gue sih percaya itu harus ada di filem Indonesia. Penggambaran multidimensional dari perempuan seperti itu harus ada sekarang.
Hafiz: Di kita ada gak?
Nia Dinata: Menurut gue sih ada ya. Di beberapa filem ada menurut gue. Tapi sangat sedikit, masih. Sangat disayangkan. Bahkan bukan hanya laki-laki saja yang tidak punya perspektif perempuan, tapi kadang-kadang perempuannya sendiri. Membuat filem tentang perempuan tanpa perspektif itu. Masih dengan menggunakan dimensi yang masih klasik, konservatif lah.
Hafiz: Bagaimana kalau ada yang mengatakan bahwa sebenarnya apa yang terjadi selama ini: Stigma. Kalau membicarakan perempuan atau tentang minoritas di dalam filem-filem kita. Itu sering menjadi. Selalu bicara menjadi stigma korban. Gue melihat itu di filem yang Kalyana Shira produksi, misalnya; Perempuan Punya Cerita (Nia Dinata, Upi, Lasja F. Susatyo dan Fatimah T. Rony, 2007). Gue melihatnya masih terjebak dalam stigma itu, stigma korban. Bayangan multidimensional yang lu maksud tadi, kenapa kita gak punya? Multidimensional perspective bagi isu-isu yang sifatnya minority dalam tatanan yang ada di kita. Soalnya gue melihatnya di dalam Arisan. Baik. Karena menurut gue, perspective-nya multidimensional. Gak ada stigma korban di situ. Karena si gay itu enjoy aja sama life-nya. Dia bergaul. Tapi di dalam kasus beberapa filem kita, kenapa stigma itu selalu mengungkung?
Nia Dinata: Kalau menurut gue memang. Arisan memang sesuai dengan karakter karena kalau gue bikin filem berangkat dari karakternya. Misalnya karakternya dia,… Jangan kita ambil contoh yang gay-nya deh. Karakter dari ibu-ibunya. Banyak yang bilang, “Kenapa sih salah satu tokoh di Arisan harus membalas dendam, ketika suami nya ber-affair?”. Banyak kalangan konservatif yang… Maksudnya tidak sesuai dengan nilai-nilai perempuan Indonesia. Kalau menurut gue dalam kehidupan realitas sehari-hari, banyak orang sekarang yang sebenarnya, pembalasan dendam dalam hubungan suami istri. Ketika dia berselingkuh. Itu sudah terjadi kok, udah banyak dan biasa. Siapa aja bisa balas dendam, gitu kan? Manusiawi lah. Baik itu bales dendamnya dalam bentuk dia berselingkuh lagi, atau balas dendamnya dalam bentuk lain. Itu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Kebetulan sesuai dengan karakter development dari si tokoh Andien di Arisan. Dia memang dari awal kelihatan sekali orang yang sebenarnya mempunyai obsesi-obsesi tertentu dalam hidup. Tapi harus menjadi ibu rumah tangga. Terkungkung dengan materi yang sangat mencukupi, yang lebih dari cukup. Ketika ada sesuatu yang tidak cukup, dia punya alasan untuk keluar dari kenyamanannya. Bahwa dia memang orangnya tidak takut dengan berada di luar kenyamanan dia. Nah, kalau di Perempuan Punya Cerita, kita berangkatnya juga dari karakter. Ketika perempuan-perempuan ini menghadapi, misalnya; yang satu di pulau, menghadapi kemarahan dari masyarakat. Di pulau dia tetap saja melakukan aborsi itu. Walaupun di ceritanya dia sudah dicap gak bener. Kita melihatnya tidak dari segi seksualitasnya. Tapi dari segi perlawanan dia dalam memutuskan sesuatu. Memutuskan, “Apakah gue mau ngelakuin praktek yang dianggap society salah? Dan tetap gue lakuin dengan konsekuensi akan dikucilkan. Gue harus pindah dari sini. Atau gue mau conforming my status in this island”. Jadi perspektif nya memang lebih ke arah perlawanan yang memang tidak tidak se-ekstrem Arisan. Tapi sebenarnya sih ada perlawanan dari karakter-karakter di Perempuan Punya Cerita. Misalnya si ibu yang satu, bisa saja sebenarnya ketika dia mengetahui bahwa anaknya di-trafficking gitu, dia quit her job. Terus malah tidak berusaha meng-counter si sahabatnya itu. Dia kemudian memutuskan she stay to the job. Ketika temannya balik dan minta maaf, dia gak mau maafin. Dia pergi. Maksudnya, “Gue gak apa-apa deh kehilangan lu”. Jadi perlawanannya mungkin lebih shuttle. Dari pada Arisan. Karakter background-nya berbeda dari perempuan-perempuan di Arisan. Memang sudah kita kondisikan. Gue kalau ngarang karakter, pasti tahu deh dia lulusan mana. Sekolahnya. Bergaulnya seperti apa. Jadi lebih ke arah itu. Jadi sebenarnya kita membangun sesuatu itu harus sesuai dengan—kalau gue sih percaya—bahwa apa yang dilakukan karakter filem harus sesuai dengan pembangunan dirinya. Dari sejak kecil sampai dia dewasa. Jadi apa tindakannya, akan sesuai dengan proses kehidupannya in the past.

Hafiz: Tapi gini, yang lu nyatakan tadi kan lebih politisnya. Yang di kepala gue sebenarnya stigma-stigma ini. Stigma korban dalam konteks, “karya-karya advokasi”. Terutama ya… filem Perempuan Punya Cerita. Karya-karya advokasi kenapa selalu ada stigma korban yang sangat kental? Kenapa gak muncul eksperimentasi-eksperimentasi yang filmis. Menurut gue sebenarnya terjadi di Arisan. Gue menghadapi hal yang sama ketika bertemu dengan teman-teman pembuat filem. Kenapa kita melakukan stigma yang sama. Bagi gue itu problem. Kenapa kita tidak memunculkan orang-orang yang membuat bahasa yang lebih baik dalam konteks filem? Gue melihat dengan perspektif filem. Itu sangat jarang. Gue menemukan sedikit sekali. Kenapa itu terjadi? Lu kan berteman dengan banyak kawan-kawan. Misalnya para pembuat film Perempuan Punya Cerita, ada Lasja, Upi… OK, cerita-cerita yang ada di dalam itu cerita yang gak pernah diangkat dalam filem kita selama ini. Misalnya, seperti yang di Yogya itu. Yang trafficking itu. Tapi ada beberapa di antara filem itu sedikit “banal” dalam konteks bahasa filem. Karena jadi berlebihan. Menurut gue karena mereka gak menemukan bahasa yang baik.
Nia Dinata: Ya. Itu karena mellow. Karena kita sudah sepakat mau menggunakan. Nah, bahasa… Kalau ngomongin bahasa, itu kan melodrama sebenarnya. Jadi bahasanya memang dipilih bahasa melodrama. Kalau Arisan itu kan bahasa black comedy. Jadi, sebenarnya kembali lagi ke genre sih. Memang dalam waktu yang pendek. Terus karakternya beda-beda. Kita harus memang harus bersepakat dulu, mau menggunakan bahasa apa. Kalau di Arisan, genre dan bahasanya sudah sepakat, jelas itu di black comedy. Jadi, ada komedinya. Gak harus physically. Komedinya terlihat dari situasi-situasi yang ironis di situ. Orang bisa ngetawain, bisa tertawa bersama karakternya itu. Kalau di Perempuan Punya Cerita, menggunakan bahasa yang melodrama dari menulis skripnya. Karena dengan waktu yang pendek-pendek itu, kita pengennya dapetin dulu kesadaran bahwa perempuan-perempuan sebagai korban seperti ini banyak. Karena target penonton kita mungkin bukan orang yang paham dengan bahasa. Kemudian target penonton kita bukan aktivis yang sudah paham dengan situasi-situasi seperti itu. Tapi adalah publik secara umum yang cair. Mereka mungkin nyaman hidupnya. Mereka tahu nya dari berita aja. Yang kayak gitu-gitu. Tapi tidak melihatnya dalam sebuah dramatik, audio visual. Nah, karena kita menggunakan dramatik tadi, dramatik-nya di-exploit. Sehingga sampai kepada derajat melodrama. Seperti Biola Tak Berdawai (Sekar Ayu Asmara, 2003) itu kan juga melodrama. Kalau Berbagi Suami nggak melodrama. Itu again, it’s about black irony, comedy terhadap situasi orang yang dipoligami. Sebenarnya genre-genre tertentu secara skrip sudah kelihatan. “Kita bikinnya mau dibawa kemana nih? Mau menggunakan drama biasa, melodrama, atau something a little bit dark?”. Atau ada komedinya atau something yang benar-benar dark, udah, titik, gitu.

Hafiz: Gue kan melihat lu berpijak di dua wilayah. Lu membuat Kalyana Shira Foundation dengan karya-karya “advokasi” minority. Terus, lu juga di industri. Kenapa sih lu bermain di dua wilayah itu?
Nia Dinata: Gue rasa sih, gue gak bisa tidak bermain di dua wilayah itu. Soalnya, di satu sisi gue banyak sekali terinspirasi dari filmmaker-filmmaker, misalnya, kayak Pedro Almodovar di Spanyol. Ya… Pedro deh! Kalau yang di Amerika gak usah diomongin. Dia (Pedro) memang berangkat dari filem komersil. Tapi tetap mempunyai keunikan tersendiri. Setelah dia mempunyai pengikut dan kepercayaan publik, dia juga men-support perkembangan perfileman di Spanyol. Mungkin secara tidak langsung. Sebenarnya tidak hanya dia. Banyak pembuat film Latino yang seperti itu. Iñárritu (Alejandro González Iñárritu, Meksiko—Red.) misalnya. Secara gak langsung itu berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan—walaupun kecil—filem di negaranya. Kalau kita hanya, “Udah deh pokoknya gue yang penting bikin filem gue aja” Habis itu kita tidak mempedulikan nurturing industry—baik hal-hal yang berbau advokasi, atau pendidikan, workshop, atau apa namanya, membangun kultur filem itu—itulah yang membuat filem Indonesia mati! Salah satu faktornya. Karena di tahun 1980an dan early nineties, Teguh Karya sudah sakit, teater nya juga sudah kolaps. Padahal itu kan sebenarnya cikal bakal tumbuhnya filmmaker berikutnya—yang sudah pernah berkolaborasi dengan dia (Teguh Karya), walaupun mungkin tidak terkonsep gitu, tapi cycle-nya dari situ. Kemudian ada generation gap. Pas dari setelah kolaps sampai sekarang. Karena gak ada yang nurturing. Nah, sebenarnya gue pengen cuma membuat friendly atmosphere saja. Dengan Kalyana Shira Foundation, mungkin bahasa kerennya advokasi, tetapi sebenarnya niat utamanya adalah creating friendly nurturing. Karena waktu gue pertama kali bikin filem, gue aja bingung. Mau nanya ke siapa? Mau membandingkan harga-harga penyewaan alat ke siapa? Bagaimana? Mau mencari editor yang bagus, kolaborasi bersama editor, semualah mata rantai pembuatan filem itu, yang efektif bagaimana? Gak ada tempat untuk bertanya. Nah, kenapa Kalyana Shira gue bilang harus? Karena secara gak langsung tanpa Kalyana Shira Foundation pun sebenarnya sudah banyak sekali pembuat filem muda. Tanpa kenal, cuma dari email. “Mbak, kalau ke festival, kita punya filem pendek nih, kalau ke festival mana, apa? Segala macam. Gak ada sistemnya. Lebih baik sekalian dibikin yang ada sistemnya. Tapi kita juga harus fokus. Gak bisa semua orang harus kita ajak. Sehingga fokusnya woman filmmaker, LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transexual), dan anak-anak. Fokus yang benar-benar kita support 100% harus itu. Tapi kalau cuma support, “Wah keterima nih filem pendeknya di festival ini, tapi tidak punya dana untuk datang, bisa gak Kalyana Shira Foundation?” Kalau itu sih gak usah (LGBT), kita lihat filemnya, kalau emang bagus, lihat CV-nya, kita bantu mencarikan dana ke ke lembaga-lembaga lain. Sebenarnya sih awalnya memang cuma itu. Pengen meng-create friendly informant-lah. Kalau dilihat tahun 1999-2000, waktu gue baru mulai, itu hard banget. Persaingan? Gak ada persaingan sih. Tapi benar-benar gak tahu, “Ini mau kemana ya?”. Kalau sekarang tinggal buka website Kalyana Shira Foundation, ada contact-nya. Kalau misalnya mereka punya filem, atau punya ide, atau mau ikut workshop, segala macam. Sebenarnya idenya cuma pengen membuat lingkungan yang ramah terhadap pembuat filem baru.
Hafiz: Balik ke pertanyaan tadi yang gue rasa belum terjawab. Sebenarnya posisi lu dimana dalam konteks industri filem sekarang? Lu berpijak di area minority tadi, itu di kita sangat sedikit yang bicara masalah itu. Kenapa itu menjadi penting?
Nia Dinata: Menjadi penting buat gue… apa ya?

Hafiz: Sebenarnya pertanyaan gue ke cultural statement tadi. Karena bagi gue, lu punya cultural statement. Walaupun tidak diucapkan dari lu pribadi. Berkaca para founding fathers filem Indonesia, dari Djajakusuma, Usmar Ismail, Sjumandjaja dan lain-lain, ada semacam bacaan bahwa mereka membangun pernyataan-pernyataan kultural. Tentang nasionalisme, dan sebagainya. Posisi lu di mana? Karena ketika pertanyaan ini gue tanyakan ke Riri (Riri Reza—Red.), itu jelas banget, “Posisi gue di industri, pokoknya bermain di wilayah industri, dan ideologi gue adalah di mana industri-industri itu bisa hidup”, tentu dengan cara yang benar maksudnya.
Nia Dinata: Gue mau menjawab pertanyaan Riri aja kalau begitu. Industri itu tidak akan mungkin hidup, tanpa didukung dengan filmmaker yang sadar bahwa ia juga harus terlibat dalam membangun sub-kultur yang ramah terhadap industri. Karena dari workshop yang non-profit, filmmaking funding… Ya udah non-profit. Orang bisa bikin filem segala macam, melanjutkan berkarya. Dia bisa memilih untuk terus membuat filem yang non-profit, kemudian dia bekerja di bidang lain, ya kan? Atau kemudian dia bisa membuat filem yang akhirnya komersial juga. Itu keputusan pribadi dari masing-masing orang yang jebolan workshop Kalyana Shira Foundation. Yang penting kita udah membekali. Kalau gak ada pembekalan, gak akan mungkin survive filemnya. Khususnya industri (filem) di Indonesia. Sekolah filem aja kita punya cuma satu. Pemerintah gak menyiapkan dana, atau gak punya komisi filem, seperti KOFIC (Korean Film Council) di Korea Selatan. Gak punya komisi filem seperti di Prancis yang memang siapa saja bisa di-nurture. Dan yang nurture adalah badan pemerintah ini. Kita sebenarnya persis banget seperti di Amerika. Pemerintahnya gak peduli sama industri filem. Tapi industrinya jalan. Tapi karena apa? Karena Robert Redford punya Sundance Foundation, Martin Scorsese punya Film Foundation yang khusus hanya nanganin arsip. Jadi, masing-masing mungkin punya panggilannya. Dan kalau gue, posisi gue, gue gak bisa. Gue berada di industri memang. Tapi gue gak akan mungkin bisa tidur kalau gue hanya ada di industri! Gue juga pengen berada di areal yang nurturing. Mungkin itu adalah nature gue kali.
Akbar: Kembali lagi yang tadi, persoalan filem yang berperspektif perempuan. Apakah itu ada di level naratif, aktor, atau bahkan sampai shot?
Nia Dinata: Itu sebenarnya sangat menyeluruh. Yang terpenting tentunya cerita, dan plot secara keseluruhan. Protagonis kita harus multidimensional, harus perempuan, hero the main protagonist-nya harus perempuan. Itu persyaratan umum dari filem yang memiliki feminine perspective. Kemudian yang berikutnya mungkin bisa dilihat juga dari pengadeganannya. Kadang-kadang banyak sekali filem, ya… Simple shot, tanpa dialog kita bisa ngelihat. “Kok dia ada di posisi gambar ini, yang satu di sini, yang satu di sini posisinya”. Itu yang dari visual statement-nya juga bisa. Gak perlu harus naratif. Bisa kita lihat dari situ. Sampai ke detail-detailnya, dialog. Misalnya dialog-dialognya kritis terhadap kondisi si karakter. Apakah dia misalnya ada perlawanan terhadap kondisinya dia? Apakah dia juga meng-empower orang lain supaya ikut dengan misi dia untuk keluar dari konfliknya? Jadi gue rasa gak cuma dari general plot-nya saja. Tapi juga harus didukung dengan faktor-faktor teknis dalam filmmaking. Karena akan aneh misalnya kalau plot hero-nya perempuan, protagonis-nya perempuan, sudah multidimensional, tapi ketika mengambil shot-shot-nya dia kelihatan mungkin lebih kecil daripada si tokoh ini, itu akan aneh. Itu kelihatan dengan sendirinya. Filmmaker pasti harusnya sudah tahu hal itu.
Hafiz: Sejauh ini yang lu temukan dari para pembuat filem muda, itu bagaimana? Kemampuan mereka dalam membangun karakter dan membangun bahasa filem. Gue balik lagi, lu berdiri di posisi industri dan juga ada di wilayah sosial kulltural seperti yang lu kerjakan sekarang ini. Ada hubungannya gak dengan persoalan misalnya pasar? Itu bagaimana?
Nia Dinata: Kalau untuk urusan pasar, bahkan di industri pun, sejauh ini gue masih berusaha menjalankannya dengan filosofi yang benar. Filosofi yang tidak saling mengeksploitasi. Dalam arti, walapun, kayak kita bikin filem. Sekarang gue lagi bikin Madam X, gue lagi produserin Lucky (Lucky Kuswandi). It's “Lucky”. Mulai dia bikin filem pendek yang non-profit, bikin dokumenter segala macem. Dia bilang, “Iya nih, gue siap, sekarang bikin filem yang untuk komersil di bioskop”. Nah, dengan seperti itu gue juga mengambil resiko loh. Ini filem emang harus komersil. Harus di bioskop. Tapi hero-nya “banci”. “Ada gak yah yang mau nonton? Ngerti gak?”. Walaupun kayak Arisan, gak ada media yang mau partneran sama gue waktu itu. Sampai akhirnya Femina Group berani menanggung resiko itu. Karena terus terang, kalau tanpa didukung media mainstream—filem di bioskop memang commercial release, dengan kalahnya kita promo dengan filem dari luar yang masuk ke Indonesia—ya… Mati aja! Ya… Bunuh diri di awal artinya. Tapi resiko bahwa ini tidak bisa diterima oleh masyarkat Indonesia, tidak diterima oleh sensor, itu selalu ada. Walaupun gue di industri dalam hal ini, gue masih berani sampai sekarang untuk menanggung resiko itu. Karena apa? Karena gue tidak pernah mau membuat filem dengan biaya yang mahal. Filem-filemnya Kalyana Shira itu, kalau dibandingkan dengan filem-filem yang beredar, biaya produksinya paling murah. Soalnya gue orang yang paling strict dalam soal budget. Gue strict dalam segala hal. Gue lebih prep(are) yang lama. Supaya shooting-nya gak membludak budget-nya. Karena gue tahu, bisa meng-observe ide super hero banci. Bisa meng-observe ide, “Ada ibu-ibu arisan dengan temannya gay di dalam filem Arisan.” Itu mungkin di negara kita belum banyak. Orang lain sekarang bikin filem sudah diatas 5 M (milyar). Gue sih gak akan berani. Jadi gue masih benar-benar sangat konservatif dalam budget. Karena kita gak bisa. Kalau gak, kita gak akan bisa membikin filem selanjutnya. Kita harus memikirkan sustainability Kalyana Shiara Films juga sebagai entity yang komersil. Orang yang mau membuat filem bersama kita, yang tadi lu bilang orang-orang yang mau kerja sama kita. Tidak hanya harus memahami perspektif minoritas, menterjemahkan bahasa tulisan menjadi bahasa gambar, tapi juga harus memahami kalau mau bikin filem sama gue gak bisa mahal-mahal! Tapi gue menyadari limitation itu. Mungkin sampai lima tahun ke depan kita belum bisa. Karena gak mungkin penontonnya 2 juta. Itu gak mungkin!
Hafiz: Belum pernah…?
Nia Dinata: 1,5 Juta, filem Quickie Express (Dimas Djayadiningrat, 2007)
Hafiz: Pertanyaan terakhir. Bagaimana menghadapi sistem nilai yang ada di kita?
Nia Dinata: Nilai apa nih? Moral?
Hafiz: Ya. Moral. Bagaimana menghadapinya dengan isu-isu yang “di luar” nilai-nilai itu? Baik dengan society, stakeholder, dan pemerintah.
Nia Dinata: Gue sih menghadapinya dengan jalan aja terus. Karena filem yang kita bikin kebetulan memang semuanya ‘agak’ kurang sesuai dengan…—Mau dilihat dari berbagai sisi bisa didebat, semua orang punya alasannya masing-masing—kayaknya kurang sesuai dengan tatanan nilai moral Indonesia. Tapi kita bisa mengembalikannya. “Nilai moral yang mana? Nilai moral ukuran siapa?”. Mungkin pada nilai moral empower status quo, memang tidak sesuai. Gue me-represent filem-filem, karakter-karakter, cerita-cerita, yang memang berada di luar lingkungan atau lingkaran status quo. Nah, kalau menurut di lingkar luar status quo ini sah-sah saja. Memang filem gue gak ada pesan moralnya. Pesan moral terserah penonton aja, gitu kan? Karena untuk orang dewasa. Gue percaya bahwa filem untuk orang dewasa gak perlu ada pesan moral lah. Orang dewasa bisa menilai sendiri. Lain halnya ketika kita bikin filem anak-anak atau membaca buku anak-anak, selalu di ending-nya ada pesan moralnya. Karena anak-anak selalu butuh guidance untuk mau dibawa kemana pesan moralnya. Tapi untuk orang dewasa, semua filem gue yang di luar filem anak-anak memang tidak atau memiliki pesan moral. Karena salah satu pesannya yang selalu ada… Cuma equality kok. Cuma equality!




































Twitter
Digg
Del.icio.us
Reddit
StumbleUpon
Slashdot
Yahoo
Blogmarks
Technorati
Googlize this
Facebook



































ide pembuatan klipvideo ini berasal dari Thom Yorke atau dari sut...
saluut
di sinema dunia ketiga tidak akan pernah muncul film yang menjadi d...
Kita pernah memperbincangkan mereka di tahun 2004? Ketika screendoc...
Wah, 1968 adalah salah satu tahun yang sangat penting bagi masyarak...
"jadi Zizek memang enak. Bisa ngomong "seenak"-nya, bis...
Setelah beberapa lama, ada kendala teknis pada fasilitas komentar d...
tes
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisa...
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap ...