I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Membaca Isyarat Tak Terpahami Michael Haneke PDF Cetak E-mail

Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas Wina dan bekerja sampingan sebagai penulis filem dan kritik sastra. Sebagai sutradara, karyanya mulai dikenal melalui filem The Seventh Continent (1989). Filem Code Unknown, yang dibintangi Julliette Binoche, Alexandre Hamidi, Josef Bierbichler, Thierry Neuvic, Luminita Gheorghiu, dan Ona Lu Yenke, menegaskan posisi Haneke sebagai sutradara penting dunia.

Filem Code Unknown dimulai dengan adegan seorang gadis tunarungu memberikan isyarat tak terpahami kepada teman-temannya. Tak satupun jawaban teman-temannya yang bisa diterima sebagai kebenaran. Adegan kemudian dilanjutkan perjumpaan Jean (Alexandre Hamidi) dengan Anne (Juliette Binoche) di jalanan kota Paris. Jean digambarkan sebagai pemuda serampangan yang kabur dari rumah, dan mencari perlindungan abangnya (Theirry Neuvic), seorang wartawan foto yang sedang bertugas di wilayah Balkan. Anne, yang merupakan pacar abangnya itu, sedang tergesa sehingga tidak mampu menanggapi persoalan Jean dengan baik. Dia mencoba membayarnya dengan makanan dan kunci apartemen, dengan syarat Jean tidak boleh tinggal di sana selamanya. Masalah baru dimulai ketika Jean melemparkan sampah bekas makannya kepada Maria (Luminita Gheorghiu), seorang yang akhirnya teridentifikasi sebagai imigran Rumania di kota Paris. Adegan ini seakan menunjukkan rasa frustrasi Jean karena permasalahannya tidak mendapat tanggapan baik. Seorang guru musik keturunan Afrika, Amadou (Ona La Yenke), melihat peristiwa penghinaan itu dan meminta Jean meminta maaf pada Maria. Jean menolak, Amadou memaksa sedang Maria mencoba kabur dari kericuhan.

Kericuhan Amadou dan Jean menarik perhatian pemilik toko yang merasa terganggu tingkah mereka. Tidak lama kemudian Anne datang, tapi kericuhan masih berlanjut. Akhirnya polisi pun sambang. Ketika meminta tanda pengenal pelaku kericuhan, polisi melepaskan Jean, namun menahan Amadou dan Maria. Peristiwa-peristiwa yang berlalu cepat ini membuka permasalahan filem. Permasalahan yang akan mengungkap persoalan sosial kontemporer Prancis, lebih khusus Paris, serta Eropa pada umumnya. Mendekati akhir kita bisa lebih memaknai persoalan yang dibuka pada awal filem.

Apakah permasalahan Prancis yang ingin ditunjukkan dalam filem ini? Hampir serupa dengan karya Haneke terdahulu, 71 Fragments of a Chronology of Chance, filem Code Unknown juga menghadirkan adegan-adegan samar yang tercermin dalam ragam sudut pandang pelaku. Di filem ini, ruang-ruang persoalan dibuka melalui seorang aktris, imigran Afrika, berandalan Arab, imigran Rumania dan wartawan perang Bosnia. Meski ada perbedaan signifikan dengan karya-karya Haneke terdahulu, seperti pertunjukan kekerasan eksepsional, permasalahan yang diangkat dalam filem ini tidak kalah rumit. Saat filem ini dibuat, Eropa sedang mengalami gelombang migrasi baru, yang juga menyebabkan kesulitan komunikasi, baik antarpribadi maupun antarbudaya. Tidak hanya dari segi penggambaran realitas Eropa yang berubah, filem ini menarik untuk melihat penertawaan Haneke terhadap realitas. Adegan di mana Juliette Binoche histeris ketika melihat seorang anak hampir jatuh dari gedung apartemen menjulang terasa begitu nyata, sebelum akhirnya penonton dikejutkan oleh suara tawa di balik layar. Ternyata, adegan tersebut hanyalah sinkronisasi suara di sebuah studio. Kebenaran citraan dipertanyakan kembali oleh Haneke. Adegan ini mengingatkan penonton pada filem-filem Haneke sebelumnya (Benny’s Video dan Funny Games, yang kemudian dilanjutkan di filem Caché), di mana media, termasuk kelahiran video memberikan ruang-ruang untuk menciptakan kolase antara realitas dan fiksi.

Terlepas dari masalah citraan fiksi dan realitas tadi, setidaknya ada tiga masalah mendasar yang dihadapi Prancis ketika Code Unknown diproduksi. Pertama, permasalahan ekonomi. Prancis, seperti negara-negara Eropa lainnya sedang menyambut integrasi Eropa, yang ditandai dengan perjanjian Maastricht, Belanda, tahun 1992 dan menyongsong pemberlakuan mata uang tunggal Eropa tahun 2002. Filem ini merupakan tanggapan Haneke terhadap geliat integrasi Eropa yang tidak sepenuhnya dapat diterima masyarakat. Persoalannya, integrasi secara perlahan mengikis kemapanan warga Eropa yang kini harus menghadapi gelombang baru migrasi. Gelombang migrasi ini memang menjadi persoalan besar Eropa pascakolonialisme. Dengan hadirnya integrasi Eropa, gelombang migrasi itu menjadi lebih besar lagi. Bagi Prancis, Afrika menjadi masalah utama, sebab sebagian besar wilayah jajahannya adalah negara-negara di kawasan tersebut. Gelombang migrasi besar-besaran pasca integrasi Eropa tentu membawa permasalahan ekonomi mendasar. Masyarakat Prancis yang mapan ditantang oleh gelombang migrasi ekonomi ini. Posisi-posisi ekonomi mereka banyak digantikan oleh para imigran, menyebabkan munculnya kecemburuan.

Kedua, permasalahan politik. Pascakolonialisme telah membawa titik terang bagi bangsa-bangsa bekas jajahan untuk mendapatkan kembali hak-hak mereka yang pernah tercerabut dulu. Semangat anti batas negara yang disuarakan oleh integrasi Eropa telah membuat pemerintah Prancis harus berpikir ulang akan posisi politik mereka di Eropa dan dunia. Gelombang migrasi besar-besaran membawa Prancis pada posisi antara melebur atau mempertahankan diri. Citra politik Prancis yang kosmopolit ternyata tidak mampu menahan aspirasi publik yang masih rasis. Kenyataan ini ada pada adegan awal pertikaian Jean dan Amadou, serta penolakan Anne kepada seorang pemuda Arab untuk berbicara dengannya di sebuah kereta dalam adegan menuju akhir filem. Dalam kondisi antara melebur atau mempertahankan identitas ini, tidak heran jika partai-partai konservatif tumbuh subur di Prancis. Sebagai negara yang sedang terjepit, Prancis ingin mempertahankan diri dari serbuan. Konservatisme, dengan demikian, menjadi sarana pertahanan diri. Orang-orang konservatif Prancis seperti Jean-Marie Le Pen begitu agresif melancarkan serangan berbau rasis kepada para imigran. Ketika polisi lebih memilih menahan Amadou ketimbang Jean, yang jelas-jelas melakukan kesalahan, kita dapat merasakan sengatnya aroma rasisme Eropa. Jean bersama Anne, merupakan representasi pribumi Prancis, sedangkan Amadou, yang berkulit hitam, merupakan representasi pendatang meski berbahasa Prancis.

Ketiga adalah permasalahan budaya. Dalam zaman terkikisnya batas-batas negara, kemunculan ekonomi Eropa baru, permasalahan migrasi dan kisruh posisi politik Prancis, telah membuat kesenjangan-kesenjangan sosial dan budaya. Pertemuan cair antara empat orang di jalanan kota Paris di filem ini memaknai sebuah keterpecahan sosial yang terjadi di masyarakat perkotaan kontemporer Prancis. Kegagalan komunikasi menjadi tema utama filem ini. Pada kasus Maria, yang juga pendatang, dia ditahan karena ketidakmampuannya berkomunikasi. Secara bernas, Haneke menghasilkan sebuah filem provokatif mengenai kesenjangan sosial, ketidaksempurnaan asimilasi kultural, dan kegagalan-kegagalan komunikasi. Segala bentuk komunikasi yang seharusnya mudah selalu diinterupsi dalam filem ini. Prasangka-prasangka rasial dihadirkan untuk membuka mata kita pada cara berpikir monoetnis Eropa, khususnya Prancis. Pada bagian akhir, filem ditutup dengan permainan musik ritmis Amadou dan murid-murid tunarungunya. Adegan ini seakan menggambarkan sifat manusia yang, secara inheren, memiliki bias komunikasi. Sebagai bahasa universal, musik menjadi penunjuk arah Eropa masa depan. Sebuah kritik terhadap penyakit klaustrofobia Eropa. Sebuah kritik terhadap masyarakat Eropa yang tidak bisa cepat melebur, selalu mempertahankan diri meski dunia sedang bergerak cepat melintasi batas-batas kewilayahan negara.

 

Hits
Comments
Add New Search
fd  - -fd-sadar   |125.163.84.xxx |2008-10-21 02:39:08
"penghargaan kepada individu, yaitu hal yang makin kuat dalam diri orang" semuanya berjalan mengikuti warisan konseptual belaka.
wah, bang jack tulisanya asoy nih...
ending   |125.166.36.xxx |2008-10-18 22:06:25
ih kok bunyi.... semiotika bunyi ada ga ya? seperti namanya code unknown, apa tebak2 suara siapa yg datang??...bentuk aja deh... dalam sejarah bunyi tuh apa aja ya?? tukang rhonde yang romantik nya perkampungan, tuh di tahun yang sama juga ada malari, bunyi nya apa ya?... tapi tukang bajigur tuh bunyi nya apa?
Jalan-jalan ke Ibukota  - Tukang Ronda   |125.161.141.xxx |2008-10-16 04:11:37
tapi coba lihat judulnya: Isyarat Tak Terpahami = Code Unknown. saya pikir bukan si penulis tak paham filemnya. Kayanya Code Unknown cocok untuk bikin filem tentang Ronda, mana bunyi sekoteng mana bunyi somay, mana kentongan nasi goreng dogdog sama tektek. Itu cuma dipahamin sama orang kota udik tapi pasti ada caranya biar orang Eropa ngerti, yaitu dengan Isyarat Tak Terpahami dari bunyi2an itu. :X
Anonymous   |61.247.14.xxx |2008-10-12 09:25:35
terus aja Jak...

emang harus ada yg tugasnya membelah isi dengan menunjukkan tanda2 teknisnya.

emang ada yang ngurusin makna, dan ada juga yang ngurusin teknis. meski dua2nya penting. yoi lah pokonya...

gw juga awam film, untung dah pernah gw tonton film yg lu ceritain...
Anaklayar  - barter   |202.152.17.xxx |2008-10-11 02:08:19
Wah, Bung Jaka sudah begitu fasih memaparkan soal Haneke dan filosofi film-film produksinya. Apapun itu saya bertepuk tangan untuk Bung Jaka.
Mmm...rasanya kita bisa barteran nih; ajarin nyetir dengan ajarin berapresiasi film? Bagaimana? Impas kan? ;)
fiz  - untuk semua   |125.161.129.xxx |2008-10-10 03:28:46
kita selalu bergelut apakah ini indonesia atau eropa...cukup sudah, kenapa tidak kita lihat ini adalah sinema. yang bisa dibaca dengan cara apa saja oleh manusia-manusia di muka bumi ini. Sejarah panjang sinema eropa dan kebudayaan tidak akan bisa dikejar...tapi itu dapat kita kejar dan bahkan dilewati dengan cara mengabaikanya bahwa kita juga punya cara sendiri melihat kebudayaan di luar ranah archipelago ini. Haneke bukan orang sakti...tapi dia orang pintar yang perlu dipreteli dengan cara kita. salam
paul soewarso   |125.161.129.xxx |2008-10-10 00:00:42
Haneke >< Budi Darma
Filem >< Buku
Indonesia = Kacang goreng
saya jadi penasaran kalau kacang gorengnya di jual di eropa, laku tidak ya untuk lidah eropa?
akbar  - yang kedua kali; 'evolusi sejarah isi'   |125.166.36.xxx |2008-10-09 19:56:00
budi darma.. budi darma aja.... cinema ya cinema aja... sejarah roman kita juga belum terumuskan, coba buka kitab suci nya 'sinema, apakah itu?' kalo hanneke dari nulis novel ke cinema, itu lagi-lagi tentang evolusi isi beserta sejarahnya....
tugas estetika roman yang berbeda man!! antara bahasa tulis dan gambar... yang ada di Indonesia tuh biografi profesi bukan sejarah artistik dan pertautan estetika nya....mungkin sih, sebagai video kita bisa sangat egaliter, semoga aja usaha teman2 dari cerpen untuk film adalah awal dari artikulasi sejarah isi Indonesia tuh, keluar dari tradisi adaptasi nya bazin plus turunan haram hollywoodnya. Eh ini negeri ku kalo ada buku laku di filmin, tuh sejarah dari mana??? mending ada film laku di bukuin... emang sih tradisi kacang goreng kemasan ada dalam ingatan masyarakat kita...
arjunapulangkeindonesia   |125.161.129.xxx |2008-10-09 19:12:46
komunikasi ya? mungkin budi darma bisa membuat filem seperti itu. tetapi apakah lapangan dia ada di filem? saya pikir dia cocok sebagai penulis saja dengan 'kode-kode' khasnya.
sisifuskontemporer  - budi darma   |125.161.129.xxx |2008-10-09 19:07:46
saya jadi penasaran kalau seandainya budi darma membuat film?
arjunapulangkeindonesia  - shot indonesia   |125.161.129.xxx |2008-10-09 19:04:43
eropa punya sejarah sinema yg sangat mempengaruhi shot2 atau adegan2 yg jd khas mereka dan bisa dibedah dengan teori2 ciptaan mereka. saya pikir hal itu sangat terlihat jelas pada film2 haneke. makanya terlihat 'sangat eropa'. sekarang yang jadi persoalannya, bagaimana filem haneke dilihat oleh 'mata indonesia' yang tidak terlibat dalam pergulatan sejarah panjang sinema dunia atau persoalan 'dunia' yg dibahas oleh haneke dimana indonesia cuma jadi imbasnya saja. yang jadi pertanyaan, 'bisakah film2 haneke itu dipergunakan sebagai inspirasi untuk menemukan shot2 atau tema2 yang memunculkan 'sinema indonesia'? Dengan kata lain, bagaimana sinema indonesia menyikapi [dengan bahasanya sendiri] 'imbas soal dunia' itu. terutama yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari. jika kamera pengintai menjadi penting di eropa atau amerika, apakah kamera pengintai menjadi penting di indonesia?
akbar lagi  - sekali lagi tentang sejarah isi   |125.166.36.xxx |2008-10-09 08:45:49
ehh.. itu yang gue maksud sebagai seni ke 7 adalah kembali ke roman dalam cinema dibandingkan rupa, ini tulisan hanya ingin bicara tentang sejarah isi sebagai tradisi roman dlm karya hanneke, kalo mau bisa kita ganti funny game dengan 71 fragment, The Time of the Wolf atao cache, atao secara arogan benny video sekali pun adalah sejarah isi dari masyarakat eropa. tuh global shot di film hanneke di 71 fragment udah aplikasi mulai dari kode barthes sampe paska freudian. shot2 statisnya refleksi dari tertib sosial yg berdampak pd kejahatan. Seperti apa yang di kate Bazan cinema kembali ke kehidupan. Kalo ga salah "isi mempengaruhi bentuk". Sayangnya, aku tidak memilih itu sebagai sikap apalagi seni ke 7, tapi sebagai brigade ke 5 dalam war positition..... heheh.. heheh...
paul soewarso   |125.161.129.xxx |2008-10-09 06:28:59
for akbar
satu gagasan yang menarik, tetapi apakah isu dan estetika, misal : dari code uknnown , bisa diukur dengan Funny Games US?
ok kita bicara global. Menurutmu apakah sama Funny Games eropa dengan funny games US. menurutku walaupun remake pasti tidaklah mungkin sama.
jadi menurutku code unknown menjadi filem dengan kecanggihan tersendiri dengan isu dan estetikanya, setelah trilogi pertama yang pernah dibuatnya. i suka kok dengan gaya shot dan editingnya.
akbar  - yang sangat eropa   |125.166.36.xxx |2008-10-08 20:55:56
bukan tak terpahami, tapi film eropa untuk penonton eropa, baik dari segi isu dan estetika nya. Seperti funny game pada dasarnya bukan sekedar menampilkan kekerasan, tapi bagaimana kekerasan di tunjukkan pada posisi penonton eropa secara vis a vis, karena didalamnya ada estetika kekerasan plus representasi pour soi...bagi penonton dgn kesadaran nusantara tentu sangat berjarak (tak terpahami). Selain hanneke mempertegas tradisi roman dalam film sebagai sejarah isi bukan bentuk. buatku haneke sangat mudah di tebak tuh........
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
More articles :

» Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

» Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu?Guy: Kali pertama kami didekati...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158762

Artikel.Lain_!

Dominasi Produksi Visual Video
Selasa, 18 Agustus 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 Pernyataan dua penulis budaya visual di atas tampaknya mampu...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Kamis, 19 November 2009

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

Saya dan Periferry 1.0
Selasa, 12 Agustus 2008

Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Rabu, 19 Mei 2010

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson,...

Sinema Digital dan DVD
Senin, 28 September 2009

Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri lain filem Anda ialah musik, yang...

Fritz Lang dan Ekspresionisme Jerman
Kamis, 12 Juni 2008

Fritz Lang adalah salah seorang sutradara terpenting dalam sejarah filem dunia. Sebagai wakil ekspresionis di tahun 1920an, dia telah membuat banyak filem bisu berkualitas. Akibat represi partai Nazi Jerman, dia pun beremigrasi ke Amerika Serikat....

Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)
Jumat, 12 Juni 2009

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

Arkeologi Seni Media
Sabtu, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Tentang Uraian Luar Layar
Sabtu, 29 Agustus 2009

Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu....

Ariani darmawan: Bioskop Independen sebagai Perlawanan
Selasa, 12 Agustus 2008

Bioskop independen hadir sebagai bentuk perlawanan dari bioskop-bioskop kebanyakan. Tapi apa sebenarnya yang dilawan? Mungkin saja tidak ada yang dilawan, sebab membicarakan perlawanan dalam filem-filem yang sering disebut independen di Indonesia...

Under The Tree: Gagalnya Garin Dalam Menolak Monisme Moderenitas
Senin, 28 Desember 2009

Gelaran Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 tahun ini disemarakkan oleh seksi Indonesian Feature Film Competition (IFFC) yang memperlihatkan kelayakan kualitas filem nasional di tingkat internasional. Dalam IFFC ini diseleksi...

Jim Henson: Sutradara Filem Eksperimental, Bapak The Muppet Show dan Sesame Street
Selasa, 12 Januari 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Beberapa waktu lalu saya membuka sebuah situs jejaring seni media baru (new media arts) www.rhizome.org. Saat melihat dan membuka situs ini saya berhenti sejenak di sebuah video yang di-upload oleh...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

Pamflet Sejarah Kita dalam Ruma Maida
Minggu, 08 November 2009

Ishak Pahing dalam perjalanannya di pesawat tertembak akibat berondongan peluru yang di muntahkan dari pesawat-pesawat tempur yang mengepung pesawat yang ia dan teman-temannya tumpangi dan akhirnya pun Ishak Pahing tertembak. Inilah pembuka filem...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Rabu, 19 Agustus 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Tepian Sungai Ciujung (1): Jarak Kesadaran Ideologi Medium dan Integrasi Di Belakang Kamera
Jumat, 05 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian pertama dari artikel tersebut.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" -...

Dengan Ringan Melihat Sejarah Seni Rupa Dunia pada Video 70 Million
Rabu, 10 Maret 2010

Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya....

Der Leztze Mann: Kemandirian Sinema Murnau
Kamis, 17 Desember 2009

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan
Sabtu, 19 Desember 2009

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Membongkar Sinema pada Filem Outer Space Peter Tscherkassky
Kamis, 26 Agustus 2010

Masih mungkinkah sinema bisa dibicarakan di luar ‘cerita’ tanpa mengkait-kaitkannya dengan konteks sosialnya? Atau apa yang bisa kita lihat dari ‘dimensi luar’ pada estetika filem itu? Dua pertanyaan penting inilah yang mempertemukan saya...

Rentjong Atjeh
Rabu, 22 Juli 2009

J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan bajak itu telah merampas segala barang yang berharga...

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Sabtu, 22 Mei 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Menyibak Rahasia Video
Selasa, 12 Januari 2010

Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta alat perekamnya dan mainan elektronik, seperti...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Rabu, 16 Desember 2009

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Refleksi Ontologi Sinematografi
Rabu, 22 Oktober 2008

Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net