Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.
Ditulis oleh B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng
Rabu, 28 Juli 2010 14:15
Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955
(Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)
Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926) buatan Vsevolod Pudovkin, Bed and Sofa (Ranjang dan Dipan, 1927) buah tangan Abram Room, Earth (Tanah, 1930) ciptaan Alexander Dovzhenko membuat semua kritikus bungkam. Tetapi tak lama kemudian melenyap kata-kata pujian seperti jarang terdengar dalam sejarah filem. Akhirnya dapat diketahui seperti yang sudah lama diduga, yakni penyelesaian akhir teori-teori filem: 'seni-filem itu di samping seni-gerak pertama-tama adalah MONTASE'.
D.W. Griffith kembali diangkat oleh orang-orang Rusia. Si jago tua Amerika yang hampir dilupakan dan diabaikan orang-orang Eropa. Orang-orang Rusia ini dengan sadar melanjutkan apa yang dahulu dikerjakan Griffith dengan intuitif dalam percobaannya, montase. Dahulu untuk pertama kalinya diperlihatkan Fritz Lang dalam Der Spieler Dr. Mabuse (1922) melalui rangkai berlanjut irama dan montase citra kini dilontarkan Eisenstein dalam satu montase citra yang indah dan melodis pada filem The Battleship Potemkin. Adegan pelabuhannya yang termasyhur itu, langkah parade prajurit-prajurit Kozak dengan perlahan mengusir masyarakat dari tangga perlabuhan Odessa. Ketika Eisenstein menyuruh prajurit-prajurit melepaskan tembakan ke arah orang banyak, maka pengadeganan dipotongnya menjadi beberapa episode, dimunculkan beberapa sudut pandang kamera, dengan kata lain: montase telah menciptakan suatu kenyataan filem baru. Kenyataan dimana prajurit-prajurit Kozak dengan sepatu setiwalnya datang bertambah dekat, diikuti logis dengan adegan seorang ibu yang tertembak terhuyung-huyung dibelakang kereta bayi. Kenyataan kereta bayi yang meluncur ke bawah melalui tangga, telah cukup menggemparkan tragis kejadian yang hebat dalam satu detik. Seperti tak akan terdapat dalam buku-buku, maupun dalam sandiwara atau dalam kenyataan. Kalau kemudian dalam filem itu diduga, Eisenstein dapat menciptakan unsur-unsur kegentingan sekeliling kapal pemberontak yang diancam eskader [satuan kelompok kecil dalam kapal perang] kerajaan itu menjadi lebih hebat dengan merentetkan citra-citra, maka ia telah membuktikan bahwa montase adalah logika dari analisa filem, sehingga beberapa sensasi dapat didorongkan dengan beberapa asosiasi.
Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Ditulis oleh Armijn Pane
Kamis, 29 April 2010 16:00
(Available only in Bahasa Indonesia)
Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk ‘membitjacarakan salah suatu soal dalam lapangan kesenian, ilmu pengetahuan dan filsafat’ dalam satu edisi khusus.
Di pertengahan abad ke-20, di majalah-majalah terbitan Indonesia, persoalan filem memang merupakan persoalan yang hangat dibicarakan baik oleh pelaku-pelaku dalam dunia perfileman sendiri ataupun para intelektual negeri ini, sastrawan, dramawan, seniman, dan politikus. Tulisan-tulisan yang berserakan itu mencoba membaca, menelaah, dan mencari rumusan filem sebagai pengetahuan dan salah satu alat strategi kebudayaan. Terutama usai lahirnya Darah dan Doa di tahun 1950 dari tangan Usmar Ismail sebagai produksi pertama dari Perusahaan Film Nasional Indonesia yang dianggap sebagai filem Indonesia pertama. Kepercayaan diri sebagai produsen yang mampu memproduksi sendiri –walau tidak terlibat dalam sejarah penciptaan alat– memicu pembangunan di berbagai infrastruktur; produksi, distribusi, pengetahuan teknis, kritik, teori, penulisan sejarah, dan lain sebagainya.
Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat oleh Armijn Pane –yang juga sebagai redaksi harian Majalah Kebudayaan INDONESIA– merupakan salah satu usaha untuk merumuskan sejarah perkembangan filem di Indonesia melalui sudut perkembangan sosial-politik dan relasi dengan kesenian lainnya. Tulisan ini bisa dikatakan sebagai bundel pertama tentang filem Indonesia yang berhasil diterbitkan, yang biasanya, para penulis kita menulis secara berkala pada tiap terbitan. Armijn Pane memulai penulisan pada 1 November 1952 dan selesai pada 1 Januari 1953. Dalam rentang kurang lebih dua bulan itu, penulis membeberkan pemetaan perfileman menjadi tiga periode; periode 1927–1937, periode 1937 hingga tengah tahun 1950, dan periode 1950–1952. Dalam pola penulisan, Armijn Pane tidak langsung membahas filem, tetapi membeberkan terlebih dahulu unsur-unsur yang terkait dalam perkembangan filem, seperti bagaimana kondisi kesenian, sosial-politik, ekonomi di masyarakat, sebagai landasan bahwa filem tidak berdiri sendiri.
[...] filem tidaklah dapat dipisahkan dari keadaan dan perkembangan lapangan-lapangan lain dalam kehidupan masyarakat, teristimewa dengan lapangan-lapangan yang langsung bersambungan kepada pembikinan filem, jaitu karang-mengarang, seni lukis, tonil, bahasa. Chusus bagi Indonesia, tidaklah dapat dibitjarakan lepas dari perkembangan pergerakan nasional, jang tidaklah melulu berarti mengenai lapangan politik sadja, melainkan djuga lapangan sosial, kebudajaan, ekonomi.[...]
Penulis buku ini, Armijn Pane (18 Agustus 1908 – 16 Februari 1970), lahir di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Saudara laki-laki dari Sanusi Pane ini lebih dikenal sebagai sastrawan. Karya sastranya yang terkenal yaitu novel Belenggu. Ia salah satu penulis di majalah Pudjangga Baroe yang juga menjadi satu definisi masa kelahiran sastra Indonesia modern. Armijn Pane banyak menulis tentang sinema di tahun-tahun 50an yang tersebar di berbagai media massa.
Buku ini direproduksi dari naskah aslinya di Perpustakaan Nasional Indonesia. Jurnal Footage kembali memuat terbitan tentang sejarah sinema Indonesia sebagai salah satu cara berbagi pengetahuan dan mempermudah pengaksesan terhadap sejarah perkembangan sinema Indonesia.
Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Ditulis oleh B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng
Senin, 19 April 2010 22:35
ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955
(Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)
Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem ciptaannya Ménilmontant. Untuk pertama kalinya kehebatan avantgarde dibantah. Melalui filem itu, penonton melihat bahwa benda-benda “mati” ternyata bisa memiliki perasaan juga. Kesinambungan citra setara antara manusia di antara benda-benda membentuk sebuah fragmen-fragmen suka dan duka. Akan tetapi masyarakat cepat melupakan filem itu. Waktu itu avantgarde telah populer sehingga semua filem harus bergaya pikiran-pikiran avantgarde Prancis, sekalipun dibuat dengan tehnik yang klasik. Namun, sebelum semua orang mengerti tentang apa itu avantgarde, filem memang telah mempunyai bentuk lain.
Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Ditulis oleh Kwee Tek Hoay diselaraskan oleh Biro Penelitian Pengembangan Forum Lenteng
Rabu, 03 Maret 2010 14:47
Pengantar
Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli, Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Bintang Hindia, Bintang Timur, Sinar Pasundan, surat kabar berbahasa Belanda Het Dagblad, Waspada, dan majalah Postaha. Novel ini diterbitkan oleh Uitgevers Mij. Bintang Hindia tahun 1924. Filem ini diproduksi menjadi dua bagian dalam satu tahun (1930). Kedua-duanya disutradarai oleh Lie Tek Swie, sutradara yang sebelumnya bekerja di kantor distribusi filem. Ia juga telah menyutradarai Njai Dasima (1929), Si Ronda (1930), Ikan Doejoeng dan Siti Noerbaja (1941). Ia salah satu sutradara pertama yang muncul dari perusahaan Tan’s filem Company, sedang filem Melati van Agam merupakan filem produksi kedua perusahaan itu setelah Njai Dasima (1929).
Kritik filem Indonesia paska kemunculan Loetoeng Kasaroeng tahun 1926 yang disutradarai L. Heuveldorp hingga masuknya Jepang di tahun 1942 sangat sedikit sekali dibanding publikasi di media massa dalam bentuk poster dan pamflet, atau sinopsis dan reportase pemutaran di bioskop. Dari sekian banyak media massa yang terbit masa itu, rubrik Pemandangan filem (Kritik filem) di majalah Panorama yang terbit tiga kali sebulan merupakan salah satu media yang selalu mengupayakan adanya kritik filem Indonesia. Majalah Panorama yang mulai terbit 1926 dan dikelola oleh Kwee Tek Hoay merupakan majalah yang juga memuat persoalan kebudayaan seperti teater, sastra, dan politik.
Jurnal Footage menampilkan kembali bagaimana kritik filem hidup di periode awal produksi filem di Indonesia. Dengan mengadaptasinya ke EYD (Ejaan Yang Disesuaikan) namun tetap menampilkan istilah-istilah Belanda dan bahasa Batavia yang banyak dipakai dalam tulisan ini sebagai pertimbangan sejarah. Seperti nama lokasi, kiasan, atau jabatan kerja di masa-masa penjajahan Belanda. Dua kritik filem ini dimuat dalam rubrik Pemandangan filem majalah Panorama edisi no. 182, Tahun ke 4, 20 Agustus 1930, hal 27 dan 28, dan edisi no. 198, Tahun ke 5, 30 Januari 1931, hal 25 – 28. Selisih enam bulan sejak kemunculan edisi pertamanya.
Kritik filem yang ditulis oleh Kwee Tek Hoay sangat obyektif. Ia membahas sebuah filem tidak hanya dari pelaporan tanggapan masyarakat akan filem itu, tetapi juga membahasnya dari cara pandang estetika sinema; logika gambar, dramaturgi, bahasa pencitraan dan pemeranan, hingga teknik pengambilan gambar. Dalam kritik Melati van Agam, ditulis "Itu perlombaan kuda di Fort de Kock bukan sebagai penambah, hanya ada jadi salah satu bagian dari itu cerita, karena di waktu ada itu perlombaan, di atas tribun, Idroes pertama kali bertemu pada Norma. Lebih jauh ada dilukiskan pekerjaan di parit arang batu di Sawah Lunto, dimana Idrus, sebagai murid dari sekolah Mijnbouw, ada turut bekerja buat dapat practisch. Dengan tegas dilukiskan keluar dan masuknya lori-lori elektrik ke dalam lubang-lubang parit bagaimana itu arang batu diangkut, dipindahkan dan lain-lain sebagainya, yang semua ada berharga buat orang yang hendak luaskan pemandangan dan pengetahuan." Tulisan ini mengingatkan pada kaidah Neorealisme Italia. Cara pengambilan gambar di lapangan terbuka dan memasukkan peristiwa latar sosial sebenarnya ke dalam bingkai filem.
Ditulis oleh B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng
Rabu, 20 Januari 2010 03:40
ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)
Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang tampak di layar putih pada hakekatnya adalah kenyataan citra yang dialami yang menjadi dunianya sendiri. Keadaan yang dibentuk oleh pertalian ruang dan waktu dan ruang.
Jadi citra-citra pada filem mutlak bukan gambar-gambar kenyataan, tetapi mempunyai hidupnya sendiri yang kongkrit. Kamera tidak melekatkan bentuk-bentuk luar, tetapi mencerminkan kesadaran. Bukan benda-benda sendiri, tetapi bagaimana benda-benda itu menjelma di dalam jiwa! Filem yang mutlak memperlihatkan dunia rohani kepada penonton dimana hanya ada undang-undang asosiasi yang berlaku. Maka citra-citra pun menjadi tidak logis, tetapi memiliki hubungan satu dengan lainnya dalam psikologis.
La Fete Espagnole (1920)
Maka dalam filem mutlak itu dapat mempertunjukkan benda-benda yang kongkrit, fitri, atau pertunjukan dalam pengertian-pengertian niskala seperti yang telah dibuktikan Ruttmann. Filem mutlak tak perlu menjadi filem niskala. Sebaliknya filem niskala senantiasa mutlak. Filem itu selalu musik-optis yang tidak memperlihatkan sesuatu, tetapi musik itu sendiri adalah sebuah pertunjukan materi.
[ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta alat perekamnya dan mainan elektronik, seperti misalnya Penyerbu Ruang Angkasa, maka sebenarnya kita menggunakan video. [ ] Di sekolah, kantor, rumah sakit, pabrik dan rumah tangga, video digunakan untuk memberikan hiburan dan pendidikan (hal. 6).
Petikan tulisan di atas merupakan pembacaan kondisi masa-masa awal persebaran dan perkembangan video dari sudut sosialnya. Petikan ini dikutip dari buku "Menyibak Rahasia Video" yang telah disusun oleh Gareth Renowden [. . .] dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dra. Gerda Wulandari. Buku ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Tira Pustaka di tahun 1985. Definisi video dalam perspektif buku ini lebih ditekankan pada karakter sosial video itu sendiri, yang bisa dilihat melalui dua cara, teknologi dan sosialnya. Hal ini terkait dengan kelahiran video yang berasal dari rahim media massa, bukan rahim kesenian. Pada halaman 8 yang diberi sub judul Video Di Rumah menggambarkan kedekatan personal masyarakat dengan video. Ramalan bahwa video akan masuk ke dalam ruang-ruang privat pun terbukti melalui jenis-jenis turunan teknologi video, fungsi, dan kesesuaian kebutuhan anggota keluarga. Sang ayah lebih dekat kepada komputer rumah, kakak memegang kamera video, ibu dan anak berinteraksi dengan mainan video. Sirkulasi persinggungan dipetakan pada halaman 8 dan 9 buku ini.
"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."
[Werner Herzog]
Statistik_!
Anggota : 420 Konten : 145 Jumlah Kunjungan Konten : 136859
Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...
Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut. Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...
Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...
Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa...
V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...
Pertanyaan-PertanyaanMalam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang...
“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...
(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...
Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...
Bumi perkemahan itu terasa sangat dingin. Setiap sore atau malam hari, hujan menderas tak henti-henti. Padahal akhir bulan Mei menjelang, bulan yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Kadang, serombongan kelelawar pun beterbangan. Satu atau...
Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...
Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...
Bioskop independen hadir sebagai bentuk perlawanan dari bioskop-bioskop kebanyakan. Tapi apa sebenarnya yang dilawan? Mungkin saja tidak ada yang dilawan, sebab membicarakan perlawanan dalam filem-filem yang sering disebut independen di Indonesia...
Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...
Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...
Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...
Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...
(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...
Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...
Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...
ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...
Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya....
Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...
Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu....
Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...
Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...
1. Ingatan KakuSaya ingat membicarakan filem cerita mutakhir Chris Marker, Level Five (1996), dengan seorang teman saat pertama kali filem itu keluar. Pada umumnya ia terkesan, tapi gundah oleh istilahnya sendiri: “pandangan seorang tua atas...
Los Olvidados merupakan sebuah karya dari salah satu tokoh gerakan surealisme dunia, Luis Bunuel. Lahir di Spanyol, 22 Februari 1900 dan tumbuh dewasa di Meksiko, Bunuel menyelesaikan Los Olvidados pada 1950. Filem ini menjadi salah satu karya...
Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...
"jadi Zizek memang enak. Bisa ngomong "seenak"-nya, bis...
Setelah beberapa lama, ada kendala teknis pada fasilitas komentar d...
tes
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisa...
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap ...
mmmm...von trier telah lama mati...bagi saya film ini tetap bermutu...
akhirnya yakin juga bahwa film keren ini ada maksudnya (lho!!) haha...
Boleh deh argumentasinya, tapi saya tetap bersepakat dengan para kr...
la'u cari aja di ambassador ato di lapak bajakan. banyak yg jual . . .
lom nonton filmnya juga,ada di jual ga yak???