I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (I) PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh B.J. Bertina dan diselaraskan oleh Mahardika Yudha   
Rabu, 19 Agustus 2009 17:44
Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini pernah dimuat rentang edisi 1951-1955.


Artikel yang berasal dari buku “Film in opspraak” karangan B.J. Bertina, diterbitkan oleh Penerbit De Koepel. Nijmegen/Antwerpen, 1951, telah diterjemahkan dan dimuat berseri dalam majalah Aneka di tahun terbit VI tahun 1955, nomor-nomor terbitannya: 9 (20 Mei 1955); 10 (1 Juni 1955); 11 (10 Juni 1955); 12 (20 Juni 1955); 13 (1 Juli 1955); 17 (10 Agustus 1955); 19 (1 September 1955); 20 (10 September 1955); 21 (20 September 1955); 22 (1 Oktober 1955); 23 (10 Oktober 1955); 24 (20 Oktober 1955); 25 (1 November 1955); 26 (10 November 1955).

No. 9 Tahun VI 20 Mei 1955
(I)
SEJARAH FILEM SEBAGAI SENI


Kadang-kadang kita tercengang, kalau dalam percakapan dengan orang-orang terpelajar kita dengan betapa sedikit pengetahuan mereka tentang seni abad ke-20, yakni seni filem, yang dapat membedakan diri dari seni-seni lain. Kalau percakapan itu bertambah dalam, tampaklah dengan segera, kendati segala kerelaan untuk menganggap sesuatu filem bagus, masih banyak perselisihan paham tentang "sebab-sebab" penghargaan itu.

Dan kalau dalam percakapan-percakapan itu kita masukkan pula seni teater, seni sandiwara, maka makin jelas kesalahan pengertian ini. Terlalu besar jumlah mereka yang pada hakekatnya tidak tahu membeda-bedakan sandiwara dengan filem. Mereka tidak tahu, bahwa dari kedua pernyataan seni itu yang satu sekali-kali tidak ada sangkut-pautnya dengan yang lain, bahwa mereka harus mempelajari dahulu pengertian-pengertian dasar estetika, bahwa filem telah menjadi suatu pedoman di bioskop-bioskop setelah mengalami praktik penciptaan selama setengah abad. Dan kalau dipikirkan pula bahwa besar sungguh jumlah para intelektual yang ingkar mengakui filem sebagai seni, maka tidaklah sia-sia untuk rekonstuir (merekonstruksi) asal-usul seni filem yang otonom dari sejarahnya sendiri.

Estetika filem itu ada, suatu kumpulan pengertian-pengertian yang dapat dipakai sebagai ukuran untuk menentukan apakah sesuatu filem itu seni atau penghibur saja, atau sesuatu yang mesti kita bantah dengan segala usaha karena dengan sengaja ia memberi nilai-nilai hidup yang palsu atau menyangkal adanya suatu seni filem yang merdeka atau tidak mengacuhkannya sama sekali. Masih terlalu banyak pengertian-pengertian salah tersiar, bahwa kritik-kritik filem seperti terbaca dalam majalah-majalah yang baik dan dalam beberapa harian-harian adalah pendapat seseorang belaka, yang mencela kebanyakan filem dan sekali-kali saja memujinya. Masih sedikit orang yang tahu, bahwa ada suatu estetik filem yang memberikan kewajiban dan tanggung jawab kepada setiap ahli kritikus filem terhadap pembacanya.

Apakah tercantum dalam estetika filem itu dan darimana datangnya? Sudah pasti bukan teori yang hampa, yang disusun oleh beberapa orang idealis yang ingin mendesakkan pendapatnya yang personal kepada khalayak. Estetika filem zaman sekarang, ayat demi ayat diperjuangkan oleh mereka yang mempunyai keyakinan bahwa filem dapat dijadikan alat seni, walaupun dengan cara yang berlainan dengan sandiwara, musik, tari, seni lukis dan seni pahat. Keyakinan itu didasarkan pada sejarah filem sendiri, mulai dari gambar-gambar hidup pertama sampai ke filem bicara zaman sekarang. Sebab bukan manusia yang menyatakan filem menjadi seni, tetapi filem itu sendiri telah membuktikan filem itu seni, setidak-tidaknya dapat menjadi suatu seni.

Sungguh sangat aneh untuk mengatakan bahwa seni filem tidak selamanya ada, sedangkan sejak dahulu kala orang telah bermain musik, menari, sandiwara, walaupun dengan cara yang sangat berlainan, ada yang primitif dan ada yang sangat tinggi mutunya. Barangkali inilah sebabnya mengapa demikian besar jumlah mereka yang tidak dapat menghargai seni filem, andai kata mereka mempercayainya.

Dan inilah sebabnya mengapa sepanjang sejarah seni filem sampai ke zaman kini, selalu orang mencoba mencangkol [mengaitkan] seni filem ke salah satu seni lain yang telah ada, juga oleh mereka yang mempunyai minat sungguh-sungguh. Saya harap para pembaca tidak berkeberatan jika saya bimbing pembaca kembali sampai 50 tahun yang lalu ke hari bersejarah itu: 28 Desember 1895. Pada hari itulah kedua saudara Lumiére [Auguste Marie Louis Nicolas (1862- 1954) dan Louis Jean (1864-1948)] mengadakan pertunjukan filem yang pertama di kedai kopi di Boulevard des Capucines [Salon Indien du Grand Café] di Paris. Ruang pertunjukan yang sempit itu penuh dengan orang-orang yang gemar akan sensasi, dan dengan tiada sadar mereka menjadi saksi dari sebuah pertunjukan filem dokumenter pertama, reportase filem pertama dan filem alam pertama, kalau gambar hidup yang mempertunjukkan pabrik itu [La Sortie de l'Usine Lumière à Lyon], kedatangan kereta api [L'Arrivée d'un Train en Gare de la Ciotat] dan senda-gurau di pantai [La Mer (Baignade en mer)] dapat disebut suatu “filem”.

Apakah seni filem muncul dengan tiba-tiba kepada manusia di ruang café di Boulevard des Capucines itu! Apa yang dipertunjukkan di tempat itu hanya variasi gambar-gambar teropong, yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan seni. Para penonton hanya dapat melihat suatu penemuan teknik baru, suatu alat pernyataan baru, yang kepada seorang pun belum tampak tanda-tanda suatu seni baru. Pertunjukan-pertunjukan yang serupa pertunjukan kedua saudara Lumiére itu merupakan lomba-lombaan, masing-masing ingin dinamakan pertunjukan yang pertama. Di Berlin pertunjukan demikian pertama kali di organisir oleh kedua saudara Skladanowski [Max Skladanowsky (1863-1939) dan Emil Skladanowsky (1866) mendemonstrasikan konsep sinema dengan menarik bayaran kepada penonton di 1 November 1895], di Amerika seorang yang bernama Le Roy, di London ialah Robert W. Paul [1869-1943] atau William Friese Green [1855-1921]. Dapat kita sebut nama-nama lain, yang pada waktu yang bersamaan telah menemukan sinematografi, yakni kemungkinan mempertunjukkan gambar-gambar hidup. Masalah teknis ini saya sebut sebagai bukti dari keadaan-keadaan diakhir abad yang lampau: filem telah lahir, tetapi sejak dilahirkan ia diperlakukan sebagai adik yang tidak cantik dari fotografi. Bayi itu –dalam ilmu pedagogi– diletakkan di tepi jalan ke pasar malam. Yang pertama-tama tertarik oleh filem itu ialah tamu-tamu pasar malam. Menurutnya, filem itu adalah bagian dari acara-acara anekaragam (variety) dan sebagai bentuk baru dari “Schauerszenen” (adegan samar).

Ada baiknya menyebut beberapa angka tahun dari prasejarah filem.

Demikianlah dalam tahun 1897 untuk pertama kali di Berlin dipertunjukkan suatu filem reklame. Di tahun itu filem perang propaganda “Enyahkan Spanyol” –suatu dokumentasi tiruan tentang perang Spanyol-Amerika– membuat publik New York kagum. Di tahun 1898 ahli potret istana Denmark Peter Elfelt [1866–1931] membuat filem tentang istana Denmark beserta para tamu. Dalam beberapa meter tampak opname-lengkap [rekaman utuh] raja-raja Eropa. Dapat dikatakan bahwa ahli potretlah yang pertama-tama membikin filem sejarah. Di tahun 1898 dibuatlah filem cerita yang pertama di Prancis: “Les méfaits d’une téte de veau” [disutradarai oleh Ferdinand Zecca]. Di tahun 1903 Amerika melihat filem “wildwest” yang pertama. “The great train robbery”, ciptaan Edwin Porter [1870-1941]. Menurut pengertian kita sekarang filem itu tak ada artinya. Tak ubahnya dengan suatu melodrama yang dipotret. Gerak-gerik para pemainnya yang ganjil sangat kaku. Tersenyum-senyum kita dapat melihat perempuan-perempuan yang gerak-geriknya dibuat-buat, diambil dengan kamera juga tak dapat dipindah-pindahkan. Saya harap akan mendapat kesempatan untuk menjelaskan kepada para pembaca –kendati segala kekurangan– bahwa dalam pertunjukan-pertunjukan ini ada kemungkinan-kemungkinan untuk menyatakan seni dalam bentuknya yang pertama, walaupun ketika itu, seorang terpelajar akan menjadi tertawaan jika ia mengatakan, bahwa dalam Lumiére itu ada tersisip suatu seni baru. Hanya pada seseorang timbul pikiran untuk mengadakan percobaan-percobaan dalam hal ini.

Nama seorang Prancis, Georges Méliès [1861-1938] umpamanya senantiasa akan tertera sebagai pelopor besar dalam teknik filem zaman sekarang.

Dalam zamannya ia telah menyelidiki kemungkinan-kemungkinan alat filem yang dapat dikatakan mengagumkan. Akan tetapi tak dapat dikatakan, bahwa Méliès bergerak dilapangan seni filem, paling banyak dapat dikatakan di lapangan kesenian. Memang tidak bisa lain halnya di waktu itu, waktu filem hanya merupakan penghibur belaka di pasar malam, jadi suatu alat untuk membuat kaum tani dan orang-orang desa yang datang di kota menjadi terpesona dengan mengadakan pertunjukan-pertunjukan yang gila itu.
Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 19 Agustus 2009 19:34
 
More articles :

» Riri Riza: Yang Utama adalah Industri Filem!

Tidak adanya kebijakan kebudayaan yang jelas, sering menjadi bahan “protes” oleh para aktivis kebudayaan di Indonesia. Lebih dari 60 tahun negara ini merdeka, perdebatan tentang arah kebudayaan Indonesia modern terus menjadi pembicaraan. Namun,...

» Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu?Guy: Kali pertama kami didekati...

» Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

» Di Dasar Segalanya: Citra Kecemasan Surealis

Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...

» Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 519
Konten : 146
Jumlah Kunjungan Konten : 157446

Artikel.Lain_!

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Revolusi Mengalun Bagai Refrain Sebuah Lagu*
Kamis, 03 September 2009

*(atau kerap disebut juga dengan): Di Tengah Serba-Ketergantungan, Lahirlah Sinema Baru Filipina   Istilah independen pernah berarti sesuatu dalam sinema Filipina. Ia merujuk pada nama-nama besar seperti Rox Lee (animator), Raymond Red (sutradara...

Transmission Asia Pacific 2008
Kamis, 12 Juni 2008

Bumi perkemahan itu terasa sangat dingin. Setiap sore atau malam hari, hujan menderas tak henti-henti. Padahal akhir bulan Mei menjelang, bulan yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Kadang, serombongan kelelawar pun beterbangan. Satu atau...

Mimikri Atas Mimikri: Catatan Festival Film Purbalingga IV 2010
Kamis, 03 Juni 2010

Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

Kekerasan dalam Filem: Sebuah Kritik pada Filem Kado Hari Jadi
Senin, 30 November 2009

Apa yang kita ketahui tentang kekerasan dalam kenyataan sehari-hari? Darah! Itulah bahasa yang paling gampang untuk memperlihatkan kekerasan dan kesadisan sebuah peristiwa. Ditambah dengan benda-benda yang berbau “darah” seperti pisau, obeng,...

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Video: The New Wave
Kamis, 31 Desember 2009

Menelisik Genealogi Seni Video Dunia   Perkembangan seni video di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir sangat menggembirakan. Berbagai gelaran seni rupa telah memasukkan seni video sebagai bagian dari pameran seni kontemporer. Bahkan seni video...

Yang Muda yang Bercinta: Montase Awal di Masa Rezim Orde Baru
Rabu, 07 Oktober 2009

Seorang pemuda menumpang angkutan bajaj dengan kekasihnya yang sedang mengandung, melewati kawasan kumuh Jakarta di era 1970an. Anak-anak jalanan di lorong-lorong kota menjadi rangkaian sintagmatik bajaj. Pemuda tersebut adalah seorang mahasiswa...

Agama, Politik, dan Pemiskinan Sosial Sistematis Dalam Filem Los Olvidados
Selasa, 16 Desember 2008

Los Olvidados merupakan sebuah karya dari salah satu tokoh gerakan surealisme dunia, Luis Bunuel. Lahir di Spanyol, 22 Februari 1900 dan tumbuh dewasa di Meksiko, Bunuel menyelesaikan Los Olvidados pada 1950. Filem ini menjadi salah satu karya...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Der Leztze Mann: Kemandirian Sinema Murnau
Kamis, 17 Desember 2009

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...

Sejarah Filem Sebagai Seni (I)
Rabu, 19 Agustus 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

Berita Gempa
Kamis, 01 Oktober 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Kenyataan Keseharian dalam Ladri di Biciclette
Kamis, 28 Agustus 2008

Pertanyaan-PertanyaanMalam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang...

Farah Wardani: Ini Situs Arsip Seni Rupa Pertama di Indonesia
Minggu, 23 Agustus 2009

Pada 19 Agustus 2009, Indonesia Visual Art Archive meluncurkan situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. Namanya iclick.IVAA. Pada kesempatan itu, Jurnal Footage mewawancarai Farah Wardani, Direktur Eksekutif IVAA. Berikut hasil wawancara kami....

Documemory: Khazanah Pustaka
Kamis, 04 Juni 2009

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Maklumat Filem Bersuara
Senin, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Prima Rusdi: Satu Dekade Reformasi Bisa Percuma
Kamis, 12 Juni 2008

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, Proyek Payung menggelar acara pemutaran sepuluh filem pendek dari sepuluh sutradara muda di Kineforum tanggal 12-20 Mei 2008. Sambutan penonton terbilang memuaskan. Apa dan kenapa Proyek Payung didirikan?...

Fritz Lang dan Ekspresionisme Jerman
Kamis, 12 Juni 2008

Fritz Lang adalah salah seorang sutradara terpenting dalam sejarah filem dunia. Sebagai wakil ekspresionis di tahun 1920an, dia telah membuat banyak filem bisu berkualitas. Akibat represi partai Nazi Jerman, dia pun beremigrasi ke Amerika Serikat....

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Kamis, 29 Juli 2010

PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Tak Ada Kejutan Dari Sang Pemimpi
Senin, 28 Desember 2009

Filem yang secara perdana dirilis sebagai pembuka pada penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 ini telah ramai ditonton orang meski belum genap seminggu. Antusiasme penonton sangat terasa untuk menuntaskan rasa penasaran...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net