I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hafiz dan Akbar Yumni   
Selasa, 26 Januari 2010 22:09

Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang mereka jual. MTV telah meraup keuntungan besar dari bisnis ini. Kehadiran kanal khusus video musik ini telah melahirkan kebudayaannya sendiri, yang kita kenal sekarang sebagai Budaya MTV.

houseofcards-01houseofcards-05houseofcards-02

Kekuatan videoklip ini tentu tidak lepas dari bagaimana grup musik berkolaborasi dengan sutradara/seniman video dalam mengemas sebuah tayangan. Kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa filem dan video digunakan sebagai pengikat untuk menarik pemirsa. Namun, dalam industri musik memang sering yang lebih berkuasa adalah industrinya itu sendiri. Tak jarang sebuah videoklip mengabaikan konsep-konsep artistik video dan filem. Industri musik lebih percaya kepada bagaimana musik itu dijual dengan menghadirkan “tampang” pemusik sambil bernyanyi dan bermain musik. Kalaupun ada pengadeganan, hanya sebagai ilustrasi dari syair-syair dalam lagu layaknya opera sabun. Inilah yang sering kita lihat dalam video-video musik selama ini.

Namun, di antara banyaknya videoklip yang diproduksi industri musik, tentu ada beberapa yang perlu mendapat perhatian. Video-video yang baik ini bukan hanya sebagai pelengkap para penyanyi untuk hadir di televisi, namun dikemas dalam usaha menyampaikan pesan kultural yang berpijak dari musik dan video. Kami menemukan video House of Cards Radiohead dari album In Rainbows (2007).

Videoklip House of Cards

Video House of Cards menghadirkan Thom Yorke (vokalis Radiohead) bernyanyi dalam bentuk titik-titik piksel yang bergerak. Imaji piksel yang berbentuk Thom Yorke itu bergerak mengikuti syair lagu dan saling bergantian dengan gambar-gambar lanskap surealis yang muncul saling bergantian dengan sapuan yang halus. Video ini disutradarai oleh James Frost yang juga menyutradarai video Yellow, Coldplay—sebuah video klip dengan ambilan satu tembakan.  House of Cards diproduksi pada 2008 oleh Zoo Films dan EMI Music.

Video House of Cards perlu mendapat catatan dalam sejarah perkembangan video musik, karena secara hasil, kolaborasi musik dan video ini menimbulkan dimensi virtual dalam gambar-gambarnya. James Frost berhasil melahirkan fenomena lain dalam bahasa video musik televisi. Ia bukan hanya hadir sebagai imaji, namun piksel-piksel itu membongkar kembali apa yang selama ini kita tandai sebagai imaji. Visual dimuaikan dalam rekaman yang sama sekali tidak biasa—dengan menggunakan teknologi laser dan transfer data dari kenyataan secara langsung. Data-data itu disimpan dan dibentuk dalam formasi bentuk yang menghasilkan fantasi lain dalam video musik. Selain itu, Zoo Films juga mempublikasikan House of Cards dalam format data yang dapat langsung diakses oleh audiens di internet (kunjungi: http://code.google.com/creative/radiohead/viewer.html). Yang menarik dari format data yang ada di Google Code itu adalah semua pengkases dapat mengklik video dan mengubah bentuknya. Saat data itu diklik, muncullah  berbagai perspektif; ke samping, atas dan depan sesuai dengan keinginan pengakses. Inilah yang disebut, dalam bahasa Lev Manovich, dengan ‘symbolic form’, yaitu sebuah ambilan gambar yang diperoleh bukan berdasarkan perekaman kamera (shot) dan pencahayaan, tapi berdasarkan pengambilan data (capturing data).

Pada videoklip ini, audiens bisa mengganti tampilan visual berupa lanskap kota interaktif sesuai keinginan audiens dalam berbagai perspektif. Visual Thom Yorke, dalam bahasa Lev Manovich adalah representasi numeric—sebuah proses visualisasi bukan berdasarkan ambilan kamera (shot), tapi penangkapan data (capturing data). Karena representasi numeric inilah, yang kemudian membuka peluang terhadap segala bentuk manipulasi perangkat lunak, sehingga memungkinkan interaksi dengan para audiens.

houseofcards-03houseofcards-06

Video ini diproduksi dengan cara merekam sinyal gelombang yang terdapat pada tekstur fisik wajah Thom Yorke, gradasi ruang, kedalaman dan tekstur bentuk benda-benda sekitarnya. Proses pengambilan data dilakukan dengan teknologi geometric information dan Velodyne LIDAR. Geometric information secara terstruktur menghasilkan cahaya untuk menangkap citra 3D (tiga dimensi) pada hampiran terdekat. Sementara sistem LIDAR Velodyne yang memakai berlipat-lipat laser yang digunakan untuk menangkap lingkungan yang besar macam lanskap. Pada video ini, semua adegan eskterior dihasilkan melalui 64 laser yang berputar dan menangkap sinyal dari 360 derajat dalam radius 900 kali per menit.

Representasi numeric membawa kelanjutan pada sebuah visual yang oleh Lev Manovich mengutip dari analisis Ervin Panofsky's sebagai symbolic form (format simbolik) pada masa moderen, menjadi symbolic form di masa komputer (teknologi informasi/new media). Format simbolik pada masa moderen telah mengandaikan, dalam istilah Ernst Gomrich, ‘skema-skema reprsentasional’, atau bahkan ‘jaringan kutipan terperikan berasal dari ruang-limpah pusat budaya’ dalam bahasa Roland Bartes. Sedangkan symbolic form pada media baru (komputer) adalah bagaimana memodifikasi dari sinyal yang telah ada.

Format simbolik pada House of Cards Radiohead dihasilkan dari olah data pada komputer. Hal ini memunculkan logika-logika sendiri dalam konteks pengolahan data dan persinggungannya dengan citra yang dibangun. Manovich membedakan antara data dan narasi, karena keduanya merupakan musuh alamiah. Menurutnya, narasi mengandaikan adanya “awalan” dan “akhiran”, yang merupakan prinsip bentuk dalam “literasi” dan “sinema” pada era moderen. Sedangkan data di era komputer tidak mengandaikan adanya ‘awalan’ dan ‘akhiran’, tapi lebih mengorganisir data yang menjadi “sekuen” (sebuah kumpulan peristiwa/data). Data-data itu tidak memiliki hirarki, semua elemen data mengandung kesejajaran dan memiliki signifikasi yang sama dalam satuan individu. Pada narasi, hal itu berlaku sebaliknya, yaitu ada hirarki seperti ‘penokohan’ dan lain sebagainya. Video House of Cards tampilan visual yang berasal dari gelombang, menampilkan satuan individu (menjadi kumpulan data) berupa kepala Thom Yorke sang vokalis Radiohead. Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa House of Cards mengalami proses representasi berdasarkan data yang tidak membentuk narasi.

Kalau kita melihat perkembangan penggunanan representasi numerik pada akhir-akhir ini, ia juga mengalami penarasian (penceritaan). Seperti pada praktik videogame dan filem-filem animasi juga 3D Hollywood. Prosesnya, data ditempatkan berdasarkan algoritma merujuk narasi atau cerita yang dibuat oleh sutradara dan penulis cerita. Semacam konvensi budaya yang bersenggama dengan perangkat lunak dalam teknologi informasi.

houseofcards-09houseofcards-10

House of Cards Radiohead pada dasarnya adalah sebuah kekuatan paradigmatik. Sebagai format simbolik yang terdapat pada eksplorasi tampilan kepala Thom Yorke yang diperoleh berdasarkan data gelombang adalah proses dematerialisasi dari kenyataan visual dalam sistem logaritma komputer. Media baru pada dasarnya bukan menampilkan narasi yang mengandaikan sebuah “sebab akibat”. Hal ini dapat kita lihat kembali kepada sejarah perekaman kamera pada Man with a Movie Camera, Dziga Vertov. Menurut Lev Manovich, Vertov melalui Man with a Movie Camera menciptakan “sesuatu” yang diilustrasikan sebagai middle-ground antara data base dan narasi. Format simbolik dalam bahasa Manovich mengandaikan sebuah era baru terhadap sinema. Pada masa filem-filem realisme, perekaman kamera merupakan periode di mana visual selalu mengandaikan narasi sebagai representasi terhadap realitas. Hal inilah yang dibongkar oleh Dziga Vertov dengan Manifesto Kino Eye. Berdasarkan kaidah-kaidah Kino Eye Vertov inilah kemudian direfleksikan oleh Lev Manovich menjadi kino-brush yang  mengasumsikan pengambilan data sebagai pengganti perekaman kamera, yang berdampak pada proses representasi numerik. Kino brush mengandaikan sinema yang basis representasi database. Pada Kino Eye mengandaikan skema-skema representasional yang sudah tersedia di realitas, sedangkan pada kino brush mengandaikan adanya modifikasi terhadap sinyal gelombang yang sudah ada.

Dari bacaan di atas, dapat kita catat bahwa House of Cards merupakan satu di antara ekspresi baru yang berusaha keluar dari semangat kebudayaan narasi. Sebuah semangat interaktifitas yang merupakan keniscayaan teknologi media zaman sekarang. Selamat menikmati.

houseofcards-08houseofcards-07

Proses Pembuatan Videoklip House of Cards


 


*Radiohead, Thom Yorke (vokal utama, gitar rhytm, piano, beats), Johnny Greenwood (gitar utama, keyboard, instrumen lainnya), Ed O'Brien (gitar, vokal latar), Colin Greenwood (bass, synthesizers) and Phil Selway (drum, perkusi), merupakan grup musik rock alternatif berasal dari Abingdon, Oxfordshire Inggris, yang dibentuk pada tahun 1985. Radiohead melejit dengan single ‘Creep’ pada tahun 1992, yang kemudian dilanjutkan dengan debut albumnya ‘Pablo Honey’. Dari namanya, Radiohead memang cukup dekat dengan seni media baru, seperti yang tertuang dalam album OK Computer pada tahun 1997 yang memiliki semangat avant-garde, karena menggunakan beberapa ambient, dan pengaruh-pengaruh elektronik. Thom Yorke sendiri sebagai seorang vokalis banyak memberikan warna pada Radiohead. Karakter vokal falsetto Thom Yorke memang sangat dekat dengan gaya bermusik yang bersemangatkan seni media baru. Pada tahun 2009, Album Radiohead In Rainbows mendapatkan Grammy Awards sebagai  Best Alternative Music Album, dan nominasi untuk lagu ‘House of Cards'.

Hits
Comments
Add New Search
haka   |125.165.159.xxx |2010-08-22 17:18:36
ide pembuatan klipvideo ini berasal dari Thom Yorke atau dari sutradara/seniman videonya???
bima hardtop  - yaampun   |125.164.119.xxx |2010-06-09 12:35:47
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisasi obyek.
yoyomengong  - memang betul !!!   |125.164.203.xxx |2010-02-03 15:48:03
emang bener demikian,seharusnya permainan video pada sebuah klip musik harus berdasarkan pada representasional yang ada pada realita.tapi yang sering kita jumpai pada saat ini memang demikian,sejumlah klip mengadopsi sejumlah naratif syair2 band yang tampil di depan kamera tanpa mengindahkan dan merepresentasikan fungsi video sesungguhnya itu seperti apa???
dan pada akhirnya audience akan terkagum-kagum pada penampilan band tersebut tanpa melihat nilai2 estetika yang terkandung dalam unsur2 video tersebut,sungguh tak berimbang !!!
rekamdanmainkan   |125.161.136.xxx |2010-01-29 07:26:48
proses merekam adalah panca indera yang dimiliki oleh manusia. pengenjawantahannya adalah proses kreatif yang kemudian dielaborasikan kedalam tindakan nyata menjadi sebuah karya
adjat gembira  - oke   |110.138.39.xxx |2010-01-26 21:33:32
pengetahuan yang baru dan bermanfaat banget buat gw..
adjat gembira  - oke   |110.138.39.xxx |2010-01-26 21:32:33
pengetahuan yang sangat baru dan bermanfaat banget buat gw...
ajang ajeng  - wuiiihhh...   |110.138.46.xxx |2010-01-26 19:19:27
kino brush..wuiiih

merekam tanpa kamera..wuiiih

di indonesia udah bisa bikin yg kayak gini blom ya?
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 27 Januari 2010 00:46
 
More articles :

» Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos

Pameran7-13 Agustus 2010 (hari Minggu tutup)Pukul 10.00-17.00TempatGoetheHaus, JakartaJl. Sam Ratulangi No.9-15 Menteng, JakartaPembukaanJumat, 6 Agustus 2010, pkl. 19.00Videotalk bersama Anggun Priambodo (pembuat video musik) & Indra Ameng...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158842

Artikel.Lain_!

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Farah Wardani: Ini Situs Arsip Seni Rupa Pertama di Indonesia
Minggu, 23 Agustus 2009

Pada 19 Agustus 2009, Indonesia Visual Art Archive meluncurkan situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. Namanya iclick.IVAA. Pada kesempatan itu, Jurnal Footage mewawancarai Farah Wardani, Direktur Eksekutif IVAA. Berikut hasil wawancara kami....

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

Komedi: Melepaskan Diri dari Kecemasan Sosial-Politik
Senin, 03 Agustus 2009

Pembukaan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, pada 28 Juli 2009, dipadati pengunjung. Malam itu, Hafiz, Direktur Festival, bersama-sama dengan Tubagus “Andre” Sukmana (Direktur...

Tentang Uraian Luar Layar
Sabtu, 29 Agustus 2009

Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu....

Teater yang Difilemkan
Rabu, 09 September 2009

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Filem berikut kita ialah My Night at...

Documemory: Khazanah Pustaka
Kamis, 04 Juni 2009

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Sabtu, 19 Desember 2009

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni...

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Dian Herdiany: Komunitas Video Harus Berjalan Mandiri
Senin, 21 Juli 2008

Berawal dari peristiwa gempa Yogyakarta yang mengenaskan  di tahun 2006, komunitas Kampung Halaman datang dan menawarkan program pemberdayaan masyarakat melalui video. Bidikannya muda-mudi. Pendekatannya yang unik membuat Kampung Halaman berhasil...

Arsip Kebudayaan Jonas Mekas
Kamis, 23 Juli 2009

“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Sinema Digital dan DVD
Senin, 28 September 2009

Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri lain filem Anda ialah musik, yang...

Lisabona Rahman: Nonton Gratis Filem Berbobot Setiap Hari
Selasa, 12 Agustus 2008

Terkadang bosan melihat filem-filem yang disajikan bioskop-bioskop kebanyakan. Sebagian besar disebabkan ceritanya yang itu-itu saja. Para pemainnya juga sama. Menghadapi kondisi ini, kehadiran sebuah bioskop alternatif menjadi penting karena...

Membongkar Sinema pada Filem Outer Space Peter Tscherkassky
Kamis, 26 Agustus 2010

Masih mungkinkah sinema bisa dibicarakan di luar ‘cerita’ tanpa mengkait-kaitkannya dengan konteks sosialnya? Atau apa yang bisa kita lihat dari ‘dimensi luar’ pada estetika filem itu? Dua pertanyaan penting inilah yang mempertemukan saya...

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Jumat, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Kenyataan Keseharian dalam Ladri di Biciclette
Kamis, 28 Agustus 2008

Pertanyaan-PertanyaanMalam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang...

The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi
Selasa, 15 Juli 2008

Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...

Dominasi Produksi Visual Video
Selasa, 18 Agustus 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 Pernyataan dua penulis budaya visual di atas tampaknya mampu...

Ambivalensi Sikap Chaerul Umam
Rabu, 10 Maret 2010

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara
Senin, 03 Agustus 2009

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

Kekerasan dalam Filem: Sebuah Kritik pada Filem Kado Hari Jadi
Senin, 30 November 2009

Apa yang kita ketahui tentang kekerasan dalam kenyataan sehari-hari? Darah! Itulah bahasa yang paling gampang untuk memperlihatkan kekerasan dan kesadisan sebuah peristiwa. Ditambah dengan benda-benda yang berbau “darah” seperti pisau, obeng,...

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Sabtu, 03 Juli 2010

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Kamis, 19 November 2009

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Rabu, 28 Juli 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda,...

Fritz Lang dan Ekspresionisme Jerman
Kamis, 12 Juni 2008

Fritz Lang adalah salah seorang sutradara terpenting dalam sejarah filem dunia. Sebagai wakil ekspresionis di tahun 1920an, dia telah membuat banyak filem bisu berkualitas. Akibat represi partai Nazi Jerman, dia pun beremigrasi ke Amerika Serikat....

La Hora de Los Hornos, Godard dan Solanas dalam Perbincangan
Kamis, 12 Agustus 2010

(Beberapa waktu lalu, Jurnal Footage  menemukan sebuah perbincangan antara Jean Luc Godard dengan Fernando Solanas—sutradara Argentina—dalam majalah online Indianauteur (www.indianauteur.com) yang dimuat pada 18 Juni 2010. Wawancara ini...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net