Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.
Nia Dinata: Filmmaker Harus Membangun Sub-Kultur yang Ramah Terhadap Industri
Ditulis oleh Jurnal Footage
Minggu, 02 Mei 2010 22:28
“Gak ada satu wacana yang bisa menjelaskan posisi perempuan di filem Indonesia. Karena selama ini, sebagian besar filem-filem yang diproduksi masih menggunakan perspektif laki-laki. Semua filem gue memang tidak atau memiliki pesan moral. Karena satu pesannya: Equality!"
Begitulah, pernyataan Nurkurniati Aisyah Dewi atau Nia Dinata saat ditanyakan pandangannya tentang posisi perempuan dalam filem Indonesia. Baginya, filem seharusnya memberi ruang kepada posisi yang sejajar dalam melihat perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. Sutradara kelahiran Maret 1970 ini, memilih filem sebagai salah satu cara untuk menjadikannya sebagai “Story Driven” kepada masyarakat.
Menempuh pendidikan jurnalistik di Elizabethtown College, Pennsylvania dan kemudian melanjutkan studi produksi filem di New York University, Amerika Serikat. Perempuan yang suka “ngomong” ini menjadikan isu-isu yang melawan arus sebagai pilihan tema dalam filem-filemnya. “Gue me-represent filem-filem, karakter-karakter, cerita-cerita, yang memang berada di luar lingkungan atau lingkaran status quo”, ungkapnya.
Pada 17 April 2010, Jurnal Footage mendapat kesempatan untuk melakukan wawancara di sela-sela waktu yang sangat padat dari perempuan super sibuk ini. Kami menemuinya di Pacific Place, di mana ia bersama Kalyana Shira Foundation mengadakan KidFest 2010—sebuah program festival filem anak-anak internasional di Jakarta. Hadir dalam wawancara ini Hafiz (Pimpinan Redaksi), Akbar Yumni (Redaksi) dan Syaiful Anwar yang merekam pembicaran dengan kamera video. Wawancara dilakukan di ruang merokok Blitz Megaplex, Pacific Place-Jakarta.
Tidak adanya kebijakan kebudayaan yang jelas, sering menjadi bahan “protes” oleh para aktivis kebudayaan di Indonesia. Lebih dari 60 tahun negara ini merdeka, perdebatan tentang arah kebudayaan Indonesia modern terus menjadi pembicaraan. Namun, sampai hari ini tetap tidak pernah memuaskan semua pihak. “Tidak adanya arah kebijakan kebudayaan di Indonesia saat ini, jangan-jangan perlu? Karena kita jadi bergerak semua untuk menentukan identitas kita". Begitulah, ujar Riri Riza dalam melihat perkembangan terkini bangsa ini. Dalam perfileman Indonesia masih “bagus” ada yang membuat filem seks, horor dan sebagainya. Karena dari situ kita bisa menyeimbangkan dan membebedakan antara filem baik dan buruk. “Kalau semua filem religius, mati kita. Atau kalau semua filem jadi normatif seperti Laskar Pelangi, mampus kita! Minimal kita tidak dilihat sebagai negara puritan”, kritik Riri pada perfileman Indonesia termasuk karyanya sendiri.
Muhammad Rivai Riza atau Riri Riza adalah salah satu fenomena dalam sejarah perfileman Indonesia sekarang. Sebagai seorang sutradara, tak terbantahkan bahwa ia adalah salah satu pelopor bangkitnya industri filem saat ini. Bersama dengan Mira Lesmana, Nan Achnas, dan Rizal Mantovani, ia menggagas produksi filem Kuldesak (1998)—sebuah filem kolaborasi dengan produksi secara independen—diputar di bioskop Studio 21 sebagai penyeimbang dominasi filem-filem Hollywood pada waktu itu. Menurut Riri, mimpi mereka cuma satu, “Filem Indonesia diputar di bioskop bersaing secara terbuka dengan filem-filem Barat."
Pria yang lahir pada Oktober 1970 ini memilih jalur industri sebagai usaha untuk memberikan “inspirasi” kepada masyarakat. Ini dia buktikan dengan Petualangan Sherina—yang menjadi 'boom' pertama industri filem paska reformasi. Kemudian mantan penggebuk drum handal dari sebuah band cover version yang terkenal pada tahun 1990an ini, menyutradarai beberapa filem yang secara tema tidak biasa di hadirkan dalam industri filem kita. Salah satunya Gie, yang mengangkat sejarah gelap peristiwa 1965. Sukses besar di pasar industri filem ia torehkan melalui Laskar Pelangi dan sekuelnya, Sang Pemimpi. Dua filem ini ditonton lebih dari empat setengah juta penonton. Sebuah prestasi yang tidak pernah diraih para pendahulu dunia perfileman di Indonesia. Namun, dengan prestasi “pasar” yang diraih, sejauh mana Riri Riza melihat dan membayangkan tentang fungsi filem sebagai sebuah aktivitas kebudayaan yang bukan hanya berhenti di wilayah komersial?
Jurnal Footage mendapat kesempatan untuk mewawancara pria ramah ini di kantornya, Miles Production. Dalam pertemuan ini kami mencoba melihat sisi lain dari Riri Riza, yaitu; pandangan-pandangan ideologis, pemikiran tentang kebudayaan, pilihan-pilihan “bahasa” filem, dan bayangan sang sutradara tentang dunia perfileman Indonesia. Hadir dalam wawancara pada 8 Maret 2010 ini; Hafiz (Pemimpin Redaksi), Akbar Yumni (Redaktur), Otty Widasari (Koordinator Program Akumassa Forum Lenteng) dan Bagasworo Aryaningtyas (Asisten Koordinator Penelitian dan Pengembangan Forum Lenteng) yang merekam diskusi dengan kamera video.
Ada banyak hal yang bisa didiskusikan saat kita bicara tentang komunitas filem dan filem komunitas. Dari persoalan pilihan untuk berkumpul sebagai sebuah kelompok, apa itu penonton, tema-tema, hingga persoalan pengertian-pengertian tentang filem itu sendiri. Pertanyaan-pertanyaan ini telah menjadi dugaan-dugaan yang tak terjawab bagi Jurnal Footage dalam melihat komunitas filem. Karena dari banyaknya tumbuh komunitas filem sejak Reformasi 1998, hingga saat ini hanya sedikit komunitas filem yang bisa bertahan dan tetap konsisten bekerja di wilayah komunitas. Dari yang sedikit itu, ada beberapa komunitas yang memunculkan ‘orang filem’ baru di industri filem kita saat ini.
Tentu kita tidak bisa mengabaikan peran besar kawan-kawan komunitas ini dalam perkembangan perfileman nasional sekarang. Mereka adalah orang-orang yang menghadirkan filem Indonesia di komunitas dan membentuk penonton filem Indonesia di tingkat paling bawah. Industri filem kita mengambil buah yang sangat manis dari energi yang telah terbangun dari kalangan komunitas. Peran Konfiden, sebagai salah satu pelopor dan penggerak produksi filem-filem indie di berbagai daerah adalah kenyataan sejarah yang tidak bisa begitu saja kita lupakan. Jurnal Footage melihat, seharusnya para penggerak industri filem sekarang berterimakasih kepada komunitas ini.
Namun, tentu kita perlu melihat lebih obyektif peran komunitas filem ini saat ini. Pertanyaan-pertanyaan di atas tentang pilihan berkomunitas, penonton, tema-tema yang mereka pilih dan pengertian atau pengetahuan tentang filem adalah hal yang perlu kita ketahui. Pertanyaan yang paling standar adalah pengetahuan tentang filem. Karena penggiat komunitas ini menyebut dirinya sebagai “komunitas filem”. Tentu selayaknya pengetahuan filem yang mereka miliki “cukup”. Tapi, Jurnal Footage menemukan bahwa pengetahuan inilah yang justru “terabaikan” oleh komunitas filem, yaitu pengetahuan tentang bahasa visual, teori, dan sejarah filem. Kelemahan-kelemahan ini tergambar dalam Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komuntas 2010 di Taman Budaya Surakarta, Solo – Jawa Tengah, pada 17-19 Maret 2010. Maka, selayaknya pula ada sebagian kalangan menyebut komunitas filem hanya para hobbies dan keren-kerenan dalam pergaualan anak-anak muda. Jurnal Footage tidak mencoba memandang anggapan ini sebagai sesuatu yang negatif. Karena kritik sebagian kalangan ini tentu berkaca dari posisi tawar komunitas filem dalam pewacanaan dunia filem di Indonesia yang lemah. Untuk itulah, Jurnal Footage merasa perlu untuk bertemu langsung dan berdiskusi dengan komunitas-komunitas filem untuk dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang mengemuka di atas tadi.
Jurnal Footage melakukan wawancara dengan beberapa komunitas filem yang hadir pada kongres yang berlangsung selama tiga hari itu. Mereka adalah sebagian dari 42 komunitas yang hadir pada salah satu pertemuan komunitas terbesar ini. Dalam kesempatan itu hadir; Dharmansyah Lubis (Sources of Indonesia, Medan), Weldy Indra (Wakref UIR Marpoyan, Pekanbaru), Insan Indah Pribadi (Sangkanparan, Cilacap), Damar Ardi Atmaja (komunitasfilm.org, Wonogiri), Joko Narimo (Mata Kaca, Solo), Elida Tamalagi (Kinoki, Yogyakarta), Agus Mediarta (Konfiden, Jakarta), Stefanus Andre Agung (12,9 AJ Kineklub Atmajaya, Yogyakarta). Tentu dari wawancara ini tidak mewakili semua komunitas yang hadir pada kongres ini, apalagi komunitas filem di Indonesia. Minimal, dari diskusi ini, kita dapat menemukan bagaimana beberapa komunitas filem bergerak dan mengembangkan dirinya.
Wawancara dilakukan di sekretariat panitia penyelenggara Kongres Nasional Kegiatan Perfilman Berbasis Komuntas 2010. Pewawancara Hafiz dan direkam oleh Mahardika Yudha dengan kamera video. Berikut hasil wawancara selama 100 menit itu.
Abduh Azis: Tentang Sejarah, Filem, Dokumenter, Video Komunitas dan Cita-Cita Perfileman
Ditulis oleh jurnalfootage
Jumat, 12 Maret 2010 22:33
Apa yang dibayangkan oleh kita tentang keindonesiaan saat kita membaca sejarah? Banyak cara untuk melihat itu. Abduh Aziz adalah salah satu “orang filem” yang selama ini berpikir kritis dalam menginterpretasi sejarah melalui filem. Pria Betawi yang lahir tahun 1967 ini, menghabiskan masa kecilnya di Pasar Minggu. Pada 1986, ia menempuh pendidikan Ilmu Sejarah di Universitas Indonesia. Dari sini ia nyemplung ke dunia filem, dan hal ini tidak datang dengan sendirinya. Menurut Abduh, saat kuliah, Ong Hok Ham (almarhum) mempertontonkan Max Havelaar untuk melihat model kolonialisme di Jawa. Dari sini ia katakan bahwa, ini lebih mudah memahami sejarah dari pada hanya membaca buku-buku sejarah. Menurutnya, dari filem bisa jadi acuan untuk membaca konteks sosial dalam sejarah kita. Untuk itulah, ia memulai melakukan riset tentang sejarah filem di Sinematek untuk keperluan penulisan skripsi pada tahun 1990an tentang sejarah di Indonesia. Dari temuan-temuannya saat melakukan penelitian itu, memunculkan pertanyaan: “Kenapa kita tidak bisa bikin filem bagus?”. Dan dalam perjalanannya, ia bertemu dengan Hanny Saputra, Harmantono, dan para pembuat filem dari Institut Kesenian Jakarta. “Ternyata masih ada filem baik di Indonesia,” ungkapnya saat itu.
Abduh Azis saat ini duduk sebagai anggota Komite Filem Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk periode kedua (sejak 2006). Selain aktif di Masyarakat Film Indonesia (MFI) dalam memperjuangkan kebijakan tentang perfileman, Abduh juga aktif di berbagai lembaga swadaya masyarakat dalam kerja-kerja di komunitas. Dalam filem dokumenter terbarunya di tahun 2010, ia berkolaborasi dengan Lasja Fauzia membuat Tjidurian 19 yang bercerita tentang “ruang” masa lalu Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Selain itu, pria yang terampil saat bicara di depan forum ini, sering menjadi fasilitator dalam workshop-workshop yang diadakan oleh lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat. Ia adalah salah satu inisiator Jakarta International Film Festival (Jiffest). Pada tahun 1998 bersama Shanty Harmayn, Yudi Datau, dan Wisnu Adi, ia mendirikan Salto Production yang sempat memproduksi filem-filem layar lebar dan dokumenter.
Jurnal Footage mendapat kesempatan untuk berbicara dengan tokoh ini pada 5 Maret 2010 di ruang kerjanya, kantor Dewan Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Hadir pada waktu itu, Hafiz (Pemimpin Redaksi), Akbar Yumni (Editor) dan Syaiful Anwar yang merekam diskusi ini dengan kamera video. Dengan senang hati, Jurnal Footage menghadirikan wawancara dengan Abduh Aziz untuk melihat bagaimana pikiran kritisnya dalam melihat dunia perfileman kita.
Al-Kautsar, Gadis Marathon, Titian Serambut dibelah Tujuh, Hati yang Perawan, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Bintang Kejora, Keluarga Markum, Joe Turun ke Desa, Boss Carmad, Oom Pasikom (Parodi Ibukota), Nada dan Dakwah, Ramadhan dan Ramona, Fatahillah, dan baru-baru ini filem Ketika Cinta Bertasbih adalah filem-filem yang pernah disutradarai oleh Chaerul Umam. Namanya yang tak asing lagi dalam jagat perfileman nasional. Dalam sebuah kesempatan, saya berbincang-bincang dengannya dan ia mengutarakan komentarnya mengenai kompleksitas dunia perfileman nasional mulai dari pandangannya terhadap perjalanan filem Indonesia, industri filem, tema-tema filem yang ia pilih, lembaga sensor, hingga perkembangan mutakhir dunia perfileman nasional yang mencakup kedudukan komunitas dan perkembangan teknologi filem dewasa ini. Dari komentar-komentarnyalah saya temukan cara pandang dia dalam melihat konstelasi perfileman nasional yang sama-sama tak kalah rumitnya dengan persoalan mendasar bangsa ini. Terlebih lima bulan yang lalu, DPR mensahkan RUU Perfilman menjadi UU. Namun, pandangan yang ia kemukakan tidaklah sesuai dengan ideologi filem-filem yang ia buat terdahulu. Kenapa tidak, Chaerul Umam tetap memelihara status quo dalam mencermati perkembangan mutakhir filem Indonesia. Di satu sisi ia sangat prihatin dengan kondisi perfileman nasional yang tetap saja berselera rendah dan di sisi lain ia rupanya sudah sangat tertinggal dengan dinamika basis infrastruktur dan suprastruktur perfileman nasional khususnya jerih payah komunitas filem dalam membangun pondasi tatanan perfileman nasional. Dan lebih parah lagi, filem-filem yang ia sutradarai paska reformasi ini mengalami kemunduran total.
Chaerul Umam tumbuh dan dibesarkan dalam industri filem tak terlepas dari pengaruh Asrul Sani. Asrul Sani telah berhasil mengkadernya menjadi seorang sutradara yang patut diperhitungkan, terbukti debut perdana Chaerul Umam sebagai sutradara dalam Al-Kautsar telah berhasil mengantarkan filem ini masuk nominasi pada Festival Film Asia XXIII di Bangkok, Thailand 1977. Hampir semua filem yang ditulis oleh Asrul Sani, nama Chaerul Umam selalu dipercaya sebagai sutradara. Otoritas itu secara legitimate disandang Chaerul Umam dalam menerjemahkan gagasan Asrul Sani yang dituangkan dalam skenario, dan dibuat melalui gaya penyutradaraan Chaerul Umam. Pada tahun 1982, Chaerul Umam kembali menyutradarai filem-filem yang ber-genre religi dan tak tanggung-tanggung, filem yang ia sutradarai adalah sebuah filem Islam pertama di negeri ini, Titian Serambut Di Belah Tujuh yang dibuat tahun 1959 oleh Asrul Sani. Dalam filem ini, Chaerul Umam mampu memberikan sentuhan signifikan dan banyak pengamat yang memuji kualitas filem itu. Dan tentunya pujian juga datang dari sang empu, Asrul Sani. Titian Serambut Dibelah Tujuh tampil sebagai filem religi yang memukau, Chaerul Umam mampu memberikan kekuatan watak pada tiap karakter tokohnya untuk dapat mengartikulasikan persoalan-persoalan yang menimpa masing-masing pemainnya. Di samping itu, filem ini mempunyai kekuatan pada unsur-unsur stilistiknya dan nama Chaerul Umam pun serta merta terangkat karena berhasil memadukan semua elemen-elemen konstruksi filem. Hal yang sama juga berlaku pada filem Kejarlah Daku Kau Kutangkap yang meraih box office dengan capaian 166.734 penonton, sebuah angka yang fantastis ketika itu. Filem ini dengan mantap berhasil memenuhi harapan penonton sebagai bentuk filem komedi cerdas dengan menceritakan sebuah permasalahan suami-istri di sebuah rumah tangga. Berbagai Piala Citra, Piala Antemas dan filem terlaris di Jakarta sepanjang medio 1986 telah diraih filem besutan Chaerul Umam ini. Prestasi ini tak cukup berhenti disini saja dan terus berlanjut ke filem-filem berikutnya yang ia sutradarai. Filem-filem yang ia sutradarai berhasil menyedot perhatian penonton, lantaran filem-filem tersebut mempunyai basis persoalan yang riil dan dekat dengan pengalaman sehari-hari masyarakat. Terlebih filem itu dikemas secara komedi dan karikatural seperti dalam Oom Pasikom, sebuah filem komedi adopsi dari tokoh kartun Oom Pasikom yang dimuat di harian Kompas. Filem yang menceritakan fragmen-fragmen masyarakat ini, mampu mengartikulasikan kisah-kisah orang pinggiran akibat kebijakan pembangunan pemerintah orde baru yang salah sasaran dan berdampak terhadap tindakan sosial masyarakatnya.
“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Ditulis oleh Aditya Adinegoro
Sabtu, 06 Maret 2010 15:04
“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”.
- Nam June Paik (1932-2006)
Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian yang diatur oleh seorang penguasa tunggal yang disebut dengan “Big Brother”. Dalam novel tersebut, Orwell menulis dan “meramalkan” tentang sebuah teknologi yang digunakan oleh Big Brother sebagai alat untuk pengawasan serta pengontrol pikiran secara massal. Alat itu bernama “Telescreen” yang hadir di setiap rumah-rumah penduduk, dan memutarkan program propaganda setiap harinya selama 24 jam., dan sayangnya ketika Telescreen dinyalakan ia tidak dapat dimatikan sama sekali…
Mengenang Nam June Paik
Televisi telah menjadi perhatian dan fokus utama dalam karya-karya Nam June Paik. Ia adalah seniman pertama yang menjadikan video dan televisi sebagai medium dalam berkarya. Melalui proyek televisi, instalasi, performance, kolaborasi, pengembangan peralatan baru bagi seniman, menulis serta mengajar, ia telah melakukan kontribusi kepada penciptaan sebuah budaya media yang akhirnya meluaskan bahasa dan definisi dari pembuatan karya seni.
Lahir di Seoul-Korea Selatan pada 1932, Paik merupakan anak kelima dan ayahnya seorang pengusaha tekstil. Sejak kecil ia telah dilatih untuk menjadi pianis musik klasik. Pada 1950, ia bersama keluarganya meninggalkan tanah kelahirannya akibat perang Korea. Pertama-tama mereka mendarat ke Hong Kong, lalu kemudian menetap di Jepang. Di Jepang, Paik belajar tentang Sejarah Seni dan Sejarah Musik di Universitas Tokyo lalu lulus 6 tahun kemudian dengan mengambil tesis tentang komposer Arnold Schönberg. Ia kemudian pindah ke Jerman pada 1956 untuk melanjutkan studinya tentang Sejarah Musik di Universitas Munich dan bertemu dengan komposer avant-garde Jerman,Karlheinz Stockhausen lalu belajar tentang Komposisi di Freiburg Conservatory. Dua tahun kemudian ia bertemu dengan komposer avant-garde lainnya asal Amerika, John Cage dan bekerja di Studio für Elektronische Musik di WDR, Cologne hingga 1963. Paik juga bertemu dengan seniman konseptual Joseph Beuys, dan Wolf Vostell yang menginspirasinya untuk berkarya dalam ranah seni elektronik.
"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."
[Werner Herzog]
Statistik_!
Anggota : 420 Konten : 145 Jumlah Kunjungan Konten : 136862
Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...
Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas...
Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...
Pertanyaan-PertanyaanMalam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang...
Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...
V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...
ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...
A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...
Beberapa saat lalu, saya ditunjukkan video di situs Youtube. Sebuah video musik berjudul Metallica Tribute to Rhoma Irama. Hal yang mustahil untuk diharapkan, tapi semua berubah ketika melihat video ini. Berangkat dari situs Youtube, video konser...
Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia...
Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...
(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...
ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...
PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa...
(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...
"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...
Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...
(Sementara tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...
*(atau kerap disebut juga dengan): Di Tengah Serba-Ketergantungan, Lahirlah Sinema Baru Filipina Istilah independen pernah berarti sesuatu dalam sinema Filipina. Ia merujuk pada nama-nama besar seperti Rox Lee (animator), Raymond Red (sutradara...
(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...
“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang...
Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...
Fritz Lang adalah salah seorang sutradara terpenting dalam sejarah filem dunia. Sebagai wakil ekspresionis di tahun 1920an, dia telah membuat banyak filem bisu berkualitas. Akibat represi partai Nazi Jerman, dia pun beremigrasi ke Amerika Serikat....
(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...
Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...
Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...
"jadi Zizek memang enak. Bisa ngomong "seenak"-nya, bis...
Setelah beberapa lama, ada kendala teknis pada fasilitas komentar d...
tes
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisa...
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap ...
mmmm...von trier telah lama mati...bagi saya film ini tetap bermutu...
akhirnya yakin juga bahwa film keren ini ada maksudnya (lho!!) haha...
Boleh deh argumentasinya, tapi saya tetap bersepakat dengan para kr...
la'u cari aja di ambassador ato di lapak bajakan. banyak yg jual . . .
lom nonton filmnya juga,ada di jual ga yak???