I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Mirza Jaka Suryana & Hafiz   
Rabu, 27 Mei 2009 16:41

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir sebagai pembuat filem setelah insiden pembantaian Tlatelolco, salah satu bagian Mexico City, pada tahun 1968. Filemnya merupakan kombinasi sudut pandang pascakolonial yang dipadu dengan musik, kerja kamera, dan elemen-elemen montase terpilih. Dari filem pertunjukan dalam Super 8 tentang seorang kontorsionis sampai sebuah dokumenter memikat mengenai mitos-mitos Indian, pendekatan kepada subjek bahasan filemnya selalu mengandung empati yang kuat, intim, dan pengamatan yang tajam. Filem panjang pertamanya, Cabeza de Vaca (1988), merupakan official selection dalam Berlin Film Festival dan mewakili Meksiko dalam acara penghargaan Academy Awards. Filem tersebut juga telah memenangkan Makhila d’Or Award pada Biarritz Film Festival dan juga sebagai Best Film dalam Muestra de Cine Mexicano, di antara berbagai penghargaan lain. Dia pernah menerima John Simon Guggenheim Memorial Foundation Fellowship selain juga kehormatan lain. Echevarría mempelajari arsitektur di Universidad de Guadalajara, musik di Conservatorio Nacional di Mexico City, dan juga animasi di School of Visual Arts di New York. Dia telah menghasilkan banyak karya dengan subjek penduduk asli Meksiko. Pada satu waktu di International Short Films Festival Oberhausen, kami berkesempatan untuk mewawancarainya. Perbincangan kami berlangsung di sebuah kafe yang nyaman tak jauh dari Lichtburg Palast, tempat berlangsungnya festival, di satu Sabtu sore yang dingin pada tanggal 2 Mei 2009. Dia mengatakan bahwa mitos adalah satu elemen krusial untuk memancing kreativitas. “Saya seorang yang percaya,” ujarnya, “saya percaya mitos.” Dalam menekuri pernyataannya, menarik sekali untuk lalu dapat mengetahui bagaimana Echevarría memandang dunia di sekitarnya. Dengan ini kami persembahkan perbincangan kami dengan salah satu pembuat filem terdepan di Meksiko, Nicholás Echevarría.

foto © Daniel Gasenzer / www.kurzfilmtage.de

Mengapa Anda menjatuhkan pilihan sebagai pembuat filem?
Saya aslinya belajar arsitektur. Setelah dua tahun saya berhenti karena saya yakin untuk menjadi musisi. Lalu saya belajar musik selama tiga tahun, tapi lalu juga berhenti. Jadi saya pergi ke New York, bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran di Central Park. Saya berteman dengan seseorang di sana, yang adalah seorang pembuat filem, dan dia bilang saya mestinya menjadi sutradara. Dia mengatakan bersedia menjadi Bapak Wali saya dan meminjamkan kamera 16mm. Sejak itu saya keranjingan dan mengambil gambar segala sesuatunya. Di New York, saya bergabung dalam sebuah workshop yang bernama Millenium. Di sinilah para pembuat filem underground di New York berkumpul dan berbagi karya. Saya pernah menunjukkan filem saya di sana. Sayang filemnya sudah hilang sekarang. Setahun setelah itu, saya kembali ke Meksiko dan mulai membuat filem pertama saya secara serius, yang lalu dipertunjukkan di sini di Oberhausen. Sampai sekarang saya meyakini bahwa filem adalah jalan hidup saya.

Apakah mudah bagi Anda membuat filem?
Saya tidak pernah berpikir membuat filem itu mudah.

Saya melihat Anda sebagai orang yang percaya pada bahasa visual. Bagaimana Anda menyesuaikan diri?
Ya. Memang sulit untuk menemukan gaya baru sebagai seorang pembuat filem. Bagi beberapa orang itu mudah, tapi bagi saya sulit. Walaupun saya merasa banyak bagian diri saya yang terangkum dalam filem-filem saya. Misalnya, saya rasa Judea adalah satu-satunya filem yang lebih saya sukai karena dikerjakan sebagian besarnya dengan gambar dan musik. Saya sering melakukannya, tapi saya selalu lebih nyaman jika saya tidak perlu menggunakan kata-kata, tidak perlu narator, sehingga menjadi lebih mudah bagi saya. Saya menyukai filem yang nonnaratif. Walaupun saya kerap membuat dokumenter panjang dan dua buah filem fiksi panjang, tapi hanya sedikit sekali yang bernarasi.

Dari semua genre yang ada, mengapa dokumenter?
Itu bukan sesuatu yang saya pilih. Waktu saya muda, awal-awal membuat filem, sangat sulit untuk membuat filem di Meksiko dengan industri yang sedemikian rupa. Jadi satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah membuat dokumenter. Waktu itu sangat sulit. Ada sindikat. Dan sangat sulit untuk bergabung dengan perserikatan dan membuat filem.

Tapi pemerintah mendukung para pembuat filem, kan?
Ya. Di Meksiko kami punya Instituto Mexicano di Cinematografia. Institusi ini membantu para pembuat filem, tapi situasi politik terus-menerus berubah. Jadi, kebijakan juga berubah setiap waktu. Kadang berhasil dengan baik, kadang juga tidak. Jadi, saat pembuat filem mencoba untuk membuat produksi, sangat tergantung pada kebijakan. Alokasi pendanaannya sulit sekali ditebak.

Saya menonton Judea kemarin dan merasa bahwa filem itu sangat khas Anda. Bisa Anda jelaskan tentang filemnya?
Saya pikir Judea adalah filem saya yang lebih otentik, walaupun itu sebenarnya filem kedua saya. Waktu membuatnya, saya tidak benar-benar yakin saya mau apa. Saya berhenti menontonnya selama beberapa waktu, tapi tiap kali saya menontonnya lagi, saya menjadi lebih suka. Saya melihat banyak bagian diri saya di sana. Ada lebih banyak jiwa saya tertuang di situ, melebihi filem-filem saya yang lain. Seperti jika kau punya banyak anak dan ada satu yang kesayanganmu.

Anda menggambarkan banyak pribumi dalam filem-filem Anda. Apa yang hendak Anda representasikan?
Merupakan gairah saya sejak bertahun-tahun untuk bisa bekerja dengan berbagai kaum pribumi di Meksiko. Dengan isu agama dan juga penggunaan ketentuan-ketentuan sakral dengan tujuan keagamaan. Ya, Katolik di Meksiko berbeda sekali dengan Katolik Eropa karena kami mempraktikkan sinkretisme dan merupakan sebuah percampuran. Dan karena kami pernah dijajah oleh Spanyol. Sulit untuk menyebarkan agama baru di Meksiko kala itu, jadi orang-orang Spanyol mencari cara lain.

Apa Anda percaya bahwa sinkretisme adalah cara untuk berontak dari penjajahan?
Tidak, menurut saya tidak begitu. Bangsa Spanyol membangun kuil di atas piramid. Kadang mereka hancurkan piramidnya, lalu dengan batu yang sama dari piramid itu mereka membangun kuil baru. Jadi, yang terjadi adalah, pada akar terdalam orang Meksiko terdapat agama lama mereka, namun lapisan atasnya adalah Katolik. Dalam dirinya, orang Meksiko masih memiliki banyak elemen dari masa pra-penjajahan Spanyol.

Saya lihat dalam Poetas Campesinos, Anda berhasil melibatkan subjek dengan objek. Bagaimana Anda melakukannya?
Terutama karena saya bekerja dengan sedikit orang. Dan entahlah, sejauh perasaan saya, saya tidak pernah merasa kesulitan dalam mendekati subjek. Saya selalu berhasil mendekat dan itu terjadi alamiah saja, walaupun saya sadar bahwa saya ada dalam posisi sebagai pihak luar. Saya sepenuhnya sadar bahwa kebudayaan mereka tidak ada hubungannya dengan saya, tapi pada saat yang sama saya merasa dekat dengan orang-orang tersebut. Sejak awal, saya selalu punya kepercayaan diri yang besar, dan saya rasa saya menunjukkannya pada orang-orang yang bekerja dengan saya. Jarang sekali, sepanjang karir saya sebagai pembuat filem, saya mendapat kesulitan. Dalam beberapa filem saya juga sempat menggunakan kamera besar, tapi tampaknya itu tidak mempengaruhi mereka. Jadi saya rasa sejauh ini saya sangat beruntung.

Apa arti bingkaian gambar bagi Anda? Kadang bekerja dengan subjek “eksotis” kerap memberikan perasaan eksotis pula saat kamera mulai merekam subjek. Tapi saya tidak merasa demikian dengan filem-filem Anda. Bisa Anda jelaskan?

Saya rasa pengambilan gambar saya sangat ortodoks. Saya tidak melakukan banyak hal-hal aneh. Filem saya menjadi berbeda karena subjeknya berbeda. Dan karena saya mencoba menuju jiwa filemnya. Saya tidak suka menggunakan efek. Saya tidak suka melakukan hal-hal eksotis melalui penggunaan kamera. Kamera saya sangat langsung dan saya mencoba mencari jiwa dari apa yang saya sedang kerjakan. Ini yang membuat filemnya lebih baik. Dan saya tahu film saya berbeda. Saya mencoba mendekat dan bagi saya itulah tujuan utama pembuatan filem.

Bagaimana pandangan Anda terhadap bangsa Indian? Apa arti Indian bagi Anda?

Saya telah membuat sepuluh filem dengan subjek Indian. Satu hal yang pasti, bangsa Indian harus mempertahankan kebudayaannya. Banyak sekali orang Indian yang sudah tidak bisa bicara dalam bahasa asli mereka. Kebanyakan mereka sudah menjadi Mestizo. Banyak pengantin pria yang diculik dalam satu abad belakangan ini. Sekarang terdapat sekitar 60 kelompok dan mengkhawatirkan sekali bila kelompok-kelompok ini kehilangan bahasa mereka. Bagi saya, Indian berarti karena saya punya darah Indian. Kakek saya Indian.

Menurut saya yang paling penting adalah—saya tidak pro untuk mengisolasi komunitas Indian, saya tidak sependapat dengan ide mengisolasi dan pemurnian komunitas Indian—saya pikir yang harus dilakukan bangsa Indian adalah mempertahankan bahasa dan kebudayaan mereka. Tidak masalah jika mereka ingin menikah dengan orang Jerman, orang Amerika, atau tetangga mereka yang bukan Indian. Yang paling penting adalah untuk menjaga bahasa dan kebudayaan mereka, dan di saat yang sama berasimilasi dengan modernisme, pergi kuliah dan belajar.

Jadi, apa perubahan politik yang paling signifikan terhadap komunitas Indian di Meksiko?
Ada dua arahan. Satu yang berpikir bahwa Indian harus dilindungi dan diisolir. Yang lain berpikir bahwa Indian mesti berasimilasi. Saya tidak mendukung keduanya serta-merta. Well, lebih umum untuk melihat pria Indian menikah dengan orang asing, daripada melihat wanita Indian yang menikah dengan anggota komunitas lain. Seperti saya bilang, yang paling penting adalah untuk mempertahankan bahasa mereka, karena setiap kali kita kehilangan sebuah bahasa, maka kita kehilangan suatu hal yang luar biasa. Kebudayaan bangsa Indian sifatnya oral. Mereka tidak punya buku, jadi itulah cara mereka mempelajari dunia luar. Memang ada buku, namun ditulis oleh antropolog atau etnolog. Bangsa Indian sendiri tidak membaca buku-buku itu, kecuali mungkin sedikit dari mereka. Saya tahu banyak Indian yang menjadi pengacara dan dokter.

Membuat saya penasaran, bagaimana sebenarnya Anda mengalirkan ide-ide ini ke dalam filem?
Tujuan saya satu-satunya adalah untuk memotret. Tapi sebagaimana kau juga tahu, sebuah potret sudah pasti terkontaminasi oleh keberadaan kita sendiri. Saya selalu terbentur pada keraguan ini setiap kali membuat filem. Pertanyaan-pertanyaan semacam, apa lagi yang harus saya ambil untuk menjelaskan, untuk menginformasikan, atau sekedar menciptakan suasana tanpa banyak kata-kata untuk mencoba menjelaskannya. Dan saya pernah mencoba keduanya. Saya punya beberapa filem dengan narator, di mana saya cukup pretensius dengan mencoba menjelaskannya dengan kata-kata. Pada filem lain saya tidak terlalu mempedulikan itu dan membiarkan diri saya semata-mata memotret. Saya lebih suka filem semacam Judea karena saya selalu percaya bahwa filem jauh lebih baik tanpa narasi. Walaupun saya sadar, dalam beberapa filem, sangat sulit untuk mengalirkan tujuan mendalam dari ritual agama tanpa narasi. Karena ritual dan agama memang sangat kompleks dan sulit dijelaskan, dan itu yang menarik.

Jadi, Katolik dan hal-hal berbau Indian berpengaruh besar pada Anda?
Ya, pasti. Bukan kebetulan bila saya mendedikasikan bertahun-tahun dari hidup saya untuk menggambarkan dunia mereka. Itu bagian dari pendidikan saya. Saya dididik dalam cara yang demikian dan saya tentu terpengaruh olehnya.

Bagaimana menurut Anda Amerika Latin di era pascakolonial sekarang?
Tiap negara di Amerika Latin memiliki pengalaman yang serupa. Terutama negara seperti Peru dan Kolombia. Mereka punya kebudayaan yang kuat. Argentina, menurut saya, adalah pengecualian karena orang pribuminya sangat sedikit dan penjajah membunuh mereka semua. Di Meksiko, untungnya, bangsa Spanyol punya niat untuk mempelajari, tidak menghancurkan seluruh kebudayaannya begitu saja. Babak baru dimulai di Meksiko setelah bangsa Indian dibantai. Maka sekarang, kami tahu lebih banyak mengenai Meksiko di era pra-penjajahan Spanyol. Kami menemukan banyak hal baru. Kami bisa membaca hampir semua teks-teks peninggalan bangsa Maya. Kami jadi tahu banyak tentang kelompok-kelompok Indian.

Izinkan saya kembali ke filem Anda. Saya masih sedikit bingung mengenai filem El Bano de Frida. Mengenai apa itu sebenarnya?

Well, itu adalah sebuah karya yang saya buat untuk museum. Sebuah proyek dari seorang fotografer, Graciela Iturbide, teman baik saya. Eksposisinya ditampilkan di San Francisco Museum of Modern Art. Jadi, dalam filem ini ditampilkan barang-barang pribadi milik Frida Kahlo. Menarik sekali karena barang-barang ini tersimpan dalam sebuah kamar mandi yang tidak dibuka sampai lebih dari 50 tahun. Bisa kita temukan barang-barang yang intim sekali; surat, foto-foto, korset, kura-kura, jubah yang dipakai di rumah sakit. Seperti makam Mesir kuno. Jadi teman saya, Graciela, meminta saya untuk memvideokannya selagi dia mengambil foto-foto di sana. Itu saja. Tidak lebih. Saya buat karya ini, karya yang kecil sekali, untuk dipertunjukkan di museum. Aslinya ini bukan filem. Ini adalah instalasi.

Bagaimana dengan kondisi masyarakat filem di Meksiko sekarang?
Saya kurang tahu. Saya rasa mestinya mereka bisa lebih baik. Saya rasa ada lebih banyak dokumenter yang menarik ketimbang filem cerita. Ada generasi pembuat filem dokumenter yang menarik sekali. Saya tidak terlalu peduli dengan filem cerita karena saya tidak suka. Menurut saya pembuat filem cerita di Meksiko selalu mencoba mengimitasi Amerika. Padahal mestinya kami tidak perlu begitu.

Kenapa—apa karena dokumenter lebih menggambarkan realita daripada fiksi?
Bukan. Memang cara yang berbeda dalam membuat filem. Dalam dokumenter, kita bisa bekerja dengan ritme kita sendiri, dengan uang yang lebih sedikit. Kita memiliki apa yang kita lakukan, yang mana itu sangat penting, berbeda dengan membuat fiksi. Kita bekerja dengan produser, seorang brengsek, dan kau pun tahu mereka sangat tidak menyenangkan. Tapi memang sulit karena kita tahu sebenarnya ada generasi penulis naskah yang bagus. Saya kurang paham kalau tentang aktor dan aktrisnya, kesuksesan filem fiksi Meksiko memang datang dan pergi. Mereka biasanya membuat satu film fiksi bagus setiap empat sampai lima tahun. Tapi saya kira itu juga overestimasi mengenai apa yang terjadi dengan filem cerita di Meksiko.

foto © Daniel Gasenzer / www.kurzfilmtage.de


Bagaimana menurut Anda tentang Oberhausen Film Festival?

Festival yang sangat menyenangkan. Salah satu festival filem terbaik sekarang ini. Dan saya telah menonton filem-filem yang sangat menarik di sini.

Bagaimana perasaan Anda mengenai filem Anda yang pernah ditolak oleh panitia festival?
Ya, Judea pernah ditolak. Waktu baru-baru selesai mengerjakannya, saya masukkan ke Oberhausen dan ditolak. Dan itu alasan saya di sini sekarang. Ini kali pertama saya ke Oberhausen.

Apa reaksi Anda terhadap penolakan itu?

Ya, itu kan salah satu filem awal saya. Mau bilang apa?
Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 03 Maret 2010 20:16
 
More articles :

» Abduh Azis: Tentang Sejarah, Filem, Dokumenter, Video Komunitas dan Cita-Cita Perfileman

Apa yang dibayangkan oleh kita tentang keindonesiaan saat kita membaca sejarah? Banyak cara untuk melihat itu. Abduh Aziz adalah salah satu “orang filem” yang selama ini berpikir kritis dalam menginterpretasi sejarah melalui filem. Pria Betawi...

» Video Mashup: Budaya Gubah-ulang

Beberapa saat lalu, saya ditunjukkan video di situs Youtube. Sebuah video musik berjudul Metallica Tribute to Rhoma Irama. Hal yang mustahil untuk diharapkan, tapi semua berubah ketika melihat video ini. Berangkat dari situs Youtube, video konser...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955 (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

» Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

» Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 420
Konten : 145
Jumlah Kunjungan Konten : 136909

Artikel.Lain_!

Refleksi Ontologi Sinematografi
Rabu, 22 Oktober 2008

Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan...

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Mimikri Atas Mimikri: Catatan Festival Film Purbalingga IV 2010
Kamis, 03 Juni 2010

Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia...

Documemory: Khazanah Pustaka
Kamis, 04 Juni 2009

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Tak Ada Kejutan Dari Sang Pemimpi
Senin, 28 Desember 2009

Filem yang secara perdana dirilis sebagai pembuka pada penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 ini telah ramai ditonton orang meski belum genap seminggu. Antusiasme penonton sangat terasa untuk menuntaskan rasa penasaran...

The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi
Selasa, 15 Juli 2008

Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...

Tarzan ke Kota dengan Cacat Logika Bawaan
Rabu, 17 Desember 2008

Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Berita Gempa
Kamis, 01 Oktober 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Video: The New Wave
Kamis, 31 Desember 2009

Menelisik Genealogi Seni Video Dunia   Perkembangan seni video di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir sangat menggembirakan. Berbagai gelaran seni rupa telah memasukkan seni video sebagai bagian dari pameran seni kontemporer. Bahkan seni video...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Rabu, 02 September 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Tepian Sungai Ciujung (1): Jarak Kesadaran Ideologi Medium dan Integrasi Di Belakang Kamera
Jumat, 05 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian pertama dari artikel tersebut.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" -...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

V Film Festival 2010 dan Wawancara dengan Intan Paramadhita
Sabtu, 24 April 2010

V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta
Senin, 13 Juli 2009

Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia. Sebelumnya, program screenDocs! diputar...

Sepuluh Sutradara Sepuluh Tahun Reformasi
Kamis, 12 Juni 2008

Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...

Perbincangan dengan Budi Darma
Selasa, 14 Juli 2009

Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah dipertontonkan ke khalayak umum. Di antara sekian...

Fritz Lang dan Ekspresionisme Jerman
Kamis, 12 Juni 2008

Fritz Lang adalah salah seorang sutradara terpenting dalam sejarah filem dunia. Sebagai wakil ekspresionis di tahun 1920an, dia telah membuat banyak filem bisu berkualitas. Akibat represi partai Nazi Jerman, dia pun beremigrasi ke Amerika Serikat....

Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan
Jumat, 10 Juli 2009

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu? Guy: Kali pertama kami...

Teater yang Difilemkan
Rabu, 09 September 2009

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Filem berikut kita ialah My Night at...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia
Senin, 08 Juni 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Senin, 26 Januari 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Kamis, 16 Juli 2009

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

Suatu Hari Kita Hanya Akan Mengenang Seluloid
Selasa, 12 Agustus 2008

Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net