I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Andang Kelana & Akbar Yumni   
Selasa, 30 Juni 2009 19:45

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia)

Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival ini diramaikan 50 partisipan dari Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, dan luar negeri. Pembukaan acara diresmikan oleh Ketua Dewan Kesenian Surabaya pada 11 Juni 2009 serta dimeriahkan penampilan kelompok Disc Jockey dan Visual Jockey. Bertempat di Balai Pemuda, Surabaya, festival ini berlangsung hingga 13 Juni 2009. Berikut wawancara Jurnal Footage dengan Benny Wicaksono, Direktur Festival VIDEO:WRK dan Project Manager Globalappleworks.


Bisa cerita tentang Globalappleworks (GAW) dan Surabaya New Media Art Center (SNMAC)?

Globalappleworks berdiri sejak 2005. Selama 4 tahun itu kami sudah memiliki banyak portofolio kegiatan-kegiatan seni, utamanya seni kekinian. Orientasi kami anak muda, baik visual maupun musik. GAW sendiri menjadi satu tempat berkumpul anak-anak muda di Surabaya, yang punya kesamaan minat dan visi untuk melakukan satu praktik kerja kolektif. Meskipun di luar ini, teman-teman yang lain juga aktif melakukan kerja kreatifnya sendiri. Sedangkan SNMAC merupakan naungan di bawah GAW yang berfokus pada pendekatan lebih teknologis. Kebetulan sekali di GAW kedekatan-kedekatan dengan teknologi itu dominan. Teman-teman di sini mayoritas adalah VJ, musisi elektronik, perancang grafis, pembuat video dan seniman media baru. Jadi kami sepakat untuk mendirikan SNMAC, dan coba membuat acara-acara kecil yang bersentuhan dengan teknologi. Kami juga mencoba untuk membuat pusat data siapa saja yang menjadi pelaku-pelaku teknologi ini di Surabaya. Pada dasarnya, kami melihat potensi besar penggunaan media di Surabaya. Salah satunya seperti dilakukan oleh teman-teman Institut Teknologi Surabaya yang menyelenggarakan lomba cipta elektronik nasional. Karya-karya mereka sangat bernuansa media baru.

Bagaimana proses kerja VIDEO:WRK?

Seharusnya, festival ini berlangsung pada 2008. Sayangnya, terbentur perizinan. Tapi dengan segala kerja keras akhirnya festival ini terlaksana juga. Jauh sebelum kami berpikiran membuat festival, sebenarnya teman-teman GAW sudah diundang ke festival-festival nasional, terutama di Yogyakarta. Setelah YIVF (Yogyakarta International Videowork Festival), kami menyadari bahwa di Surabaya belum ada festival yang fokus pada medium video. Akhirnya, kami pelan-pelan merancang itu, berdiskusi, menyamakan visi dan misi untuk membuat sebuah festival dalam skala kecil dulu. Kami sadar dalam soal infrastruktur kami sangat lemah. Kami tidak memiliki situs jaringan dan belum sempat melaksanakan proses kuratorial yang kuat. Jadi, yang pertama kami lakukan adalah menawarkan sebuah festival kepada publik Surabaya, yaitu untuk mulai bermain dengan medium video. Kami juga mengundang teman-teman dari luar, semisal Forum Lenteng, yang kami jadikan tolok ukur proses kreasi medium ini. Jadi ada semacam dialog yang nantinya kami harapkan positif bagi teman-teman di Surabaya sendiri.

Proses kuratorialnya seperti apa?

Dalam proses kuratorial, kami tidak menetapkan standar ketat. Hanya saja kami mensyaratkan satu, yaitu karya-karya yang ditampilkan bukanlah sebuah karya dengan isu basi, penuh kreativitas yang kemudian akan membangkitkan hasrat bagi penggunaan medium video. Kami juga melakukan wawancara dengan calon peserta festival.

Selain festival Video:WRK, apa lagi yang dikerjakan GAW?

Kebetulan kami punya agenda dua tahunan. Sejak 2003 kami menyelenggarakan ABANDON (Art and Media Exhibition), dan itu sudah berlangsung tiga kali (2003, 2005, 2008). Dari situ, kami membaca potensi-potensi karya visual dari teman-teman di Surabaya, baik itu video, karya-karya elektronik, karya lukis, gambar. Lalu kami kumpulkan dan pamerkan. Gelaran terakhir menggembirakan karena jumlah pesertanya cukup besar.



Pembacaan medium video di Surabaya itu seperti apa?

Saya lihat dari karya-karya video yang ada, pendekatan mereka lebih banyak soal kota. Jadi sampai sekarang saya belum menemukan hal-hal yang berhubungan dengan tubuh atau lainnya. Saya pikir ini wajar, sebab mereka hidup dalam lingkup dunia industri yang saling tarik-menarik dengan dunia kreativitas. Mungkin di situ ada semacam kegelisahan.

Apa harapan Anda pada pergerakan kawan-kawan di Surabaya ini?

Sampai sekarang, Surabaya masih dianggap ketinggalan dalam soal penggunaan medium video. Entah karena tidak mengakses informasi, atau memang tidak punya kecenderungan kerja eksplorasi ke arah itu? Saya tidak tahu. Padahal, saya melihat potensi besar di Surabaya. Dengan festival ini, saya berharap akan menjadi modal awal untuk melahirkan gagasan bersama yang dapat memberi kontribusi kepada masyarakat dan negara.



Apa yang membedakan festival ini dengan festival-festival lain?

Membuat festival berbobot merupakan tantangan besar. Kami tidak ingin sebuah festival hanya jadi semacam arisan video, melainkan memiliki pula tanggung jawab sosial dan artistik. Kami sadar ini kerja berat, dan kami harus belajar untuk membangunnya. Untuk itu, kesadaran kolektif harus dibangun sedemikian rupa agar situasinya lebih baik. Karena ini merupakan kali pertama festival, masih banyak yang harus dibenahi. Banyak pula pertanyaan harus dijawab. Soal ciri khas, ini mungkin menjadi pertanyaan besar bagi kami.

Hits
Comments
Add New Search
Veronica KUsuma  - Thanks   |61.247.17.xxx |2009-07-08 13:44:02
Wah, menarik sekali. Thanks sudah menuliskan dan mendokumentasikannya!!
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 03 Maret 2010 20:15
 
More articles :

» Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

» Tepian Sungai Ciujung (1): Jarak Kesadaran Ideologi Medium dan Integrasi Di Belakang Kamera

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian pertama dari artikel tersebut. "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers"-...

» Video: The New Wave

Menelisik Genealogi Seni Video Dunia Perkembangan seni video di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir sangat menggembirakan. Berbagai gelaran seni rupa telah memasukkan seni video sebagai bagian dari pameran seni kontemporer. Bahkan seni video...

» Arsip Kebudayaan Jonas Mekas

“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang...

» Katalog Massroom Project

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158864

Artikel.Lain_!

Kekerasan dalam Filem: Sebuah Kritik pada Filem Kado Hari Jadi
Senin, 30 November 2009

Apa yang kita ketahui tentang kekerasan dalam kenyataan sehari-hari? Darah! Itulah bahasa yang paling gampang untuk memperlihatkan kekerasan dan kesadisan sebuah peristiwa. Ditambah dengan benda-benda yang berbau “darah” seperti pisau, obeng,...

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Selasa, 15 Juli 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Di Dasar Segalanya: Citra Kecemasan Surealis
Minggu, 20 Desember 2009

Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...

Sinema Digital dan DVD
Senin, 28 September 2009

Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri lain filem Anda ialah musik, yang...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Rabu, 19 Mei 2010

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson,...

Bilal: Dilema Kebebasan dan Fasisme Ideologi Punk
Kamis, 17 Juli 2008

Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X...

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Kamis, 29 Juli 2010

PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa...

Revolusi Mengalun Bagai Refrain Sebuah Lagu*
Kamis, 03 September 2009

*(atau kerap disebut juga dengan): Di Tengah Serba-Ketergantungan, Lahirlah Sinema Baru Filipina   Istilah independen pernah berarti sesuatu dalam sinema Filipina. Ia merujuk pada nama-nama besar seperti Rox Lee (animator), Raymond Red (sutradara...

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Senin, 26 Januari 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Elida Tamalagi: Tawar Menawar Wacana Di Bioskop Alternatif
Selasa, 12 Agustus 2008

Kebutuhan publik akan bioskop alternatif terbilang sangat besar. Sayangnya, kebutuhan besar ini tidak didukung oleh kesiapan calon pengelola bioskop. Kegiatan memutar filem di bioskop-bioskop semacam ini masih dipandang sebagai ‘kegiatan asal...

Documemory: Khazanah Pustaka
Kamis, 04 Juni 2009

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Kamis, 19 November 2009

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

Membongkar Sinema pada Filem Outer Space Peter Tscherkassky
Kamis, 26 Agustus 2010

Masih mungkinkah sinema bisa dibicarakan di luar ‘cerita’ tanpa mengkait-kaitkannya dengan konteks sosialnya? Atau apa yang bisa kita lihat dari ‘dimensi luar’ pada estetika filem itu? Dua pertanyaan penting inilah yang mempertemukan saya...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Dengan Ringan Melihat Sejarah Seni Rupa Dunia pada Video 70 Million
Rabu, 10 Maret 2010

Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya....

Transmission Asia Pacific 2008
Kamis, 12 Juni 2008

Bumi perkemahan itu terasa sangat dingin. Setiap sore atau malam hari, hujan menderas tak henti-henti. Padahal akhir bulan Mei menjelang, bulan yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Kadang, serombongan kelelawar pun beterbangan. Satu atau...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Minggu, 10 Mei 2009

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Chris Marker: Dalam Ingatan Teknologi Baru
Jumat, 12 Juni 2009

1. Ingatan KakuSaya ingat membicarakan filem cerita mutakhir Chris Marker, Level Five (1996), dengan seorang teman saat pertama kali filem itu keluar. Pada umumnya ia terkesan, tapi gundah oleh istilahnya sendiri: “pandangan seorang tua atas...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Rabu, 16 Desember 2009

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

Dian Herdiany: Komunitas Video Harus Berjalan Mandiri
Senin, 21 Juli 2008

Berawal dari peristiwa gempa Yogyakarta yang mengenaskan  di tahun 2006, komunitas Kampung Halaman datang dan menawarkan program pemberdayaan masyarakat melalui video. Bidikannya muda-mudi. Pendekatannya yang unik membuat Kampung Halaman berhasil...

Perbincangan dengan Budi Darma
Selasa, 14 Juli 2009

Tahun 2008, Forum Lenteng mengadakan rangka kerja Cerpen Ke Filem, sebuah upaya untuk mengeksplorasi bahasa sastra ke dalam bahasa filem. Rangka kerja ini menghasilkan sembilan filem, yang sudah dipertontonkan ke khalayak umum. Di antara sekian...

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Selasa, 26 Januari 2010

Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang mereka jual. MTV telah meraup keuntungan besar dari...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net