I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Arsip Kebudayaan Jonas Mekas PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Hafiz   
Kamis, 23 Juli 2009 17:35
“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang yang aneh”
-- Jonas Mekas, The New York Times, 12 Juni 2005
 

Nama Jonas Mekas sering hilang di antara nama-nama besar yang disandang oleh industri filem dunia, baik di Eropa maupun Amerika Serikat. Tidak banyak yang tahu tentang sosok penting dalam perkembangan sinema avant-garde ini. Mekas, adalah seorang perekam sejati. Dengan menggunakan kamera Bolex 16mm-nya, sutradara gaek berumur 88 tahun ini menjadikan rangkaian kepingan seluloidnya sebagai artefak sejarah perkembangan kebudayaan Amerika Serikat.

Jurnal Footage dengan gembira mempersembahkan beberapa karya monumental Jonas Mekas, yang kami ambil dari beberapa sumber dan catatan Mahardika Yudha saat bertemu langsung dengannya di Tampere International Film Festival Finlandia 2007. Para pembaca dapat mengunduh filem-filem ini secara gratis dan bebas. Tentu tidak digunakan untuk kepentingan komersial.

 


 

Happy Birthday to John (1972)

 

 

16 mm, 24 menit
Filem ini merekam visual dan suara peristiwa pameran karya John Lennon dan Yoko Ono pada 9 Oktober 1972 di Syracuse Museum of Art yang dikuratori oleh David Ross, direktur Whitney Museum, New York. Pameran diprakarsai oleh Bapak gerakan Fluxus, George Maciunas. Rekaman ini juga memasukkan kawan-kawan John dan Yoko, di antaranya: Ringgo, Allen Ginsberg dan lainnya, saat merayakan ulang tahun John Lennon.

Pada Happy Birthday to John, kita mendengar lagu-lagu improvisasi John, Yoko Ono, Ringgo, dan kawan-kawan. Filem ini adalah satu-satunya rekaman dari peristiwa nyanyian bersama saat ulang tahun John. Selain suara nyanyian ulang tahun, suara latar filem ini juga memasukkan komentar Lennon tentang filemnya—sebuah “home movie” yang dia rekam di pita 8mm.

 


 

Walden - Diaries Notes and Sketches (1964)
Bersama Jonas Mekas, P. Adams Sitney, Tony Conrad, Stan Brakhage, Carl Th. Dreyer, Timothy Leary, Baba Ram Dass, Gregory Markopoulos, Allen Ginsberg, Andy Warhol, Jerome Hill, Barbet Schroeder, Jack Smith, Edie Sedgwick, Nico, Velvet Underground, Ken Jacobs, Hans Richter, Standish D. Lawder, Adolfas Mekas, Shirley Clarke, Jud Yalkut, Peter Kubelka, Michael Snow, Richard Foreman, John Lennon, dan Yoko Ono.

Reel 1


 

Reel 2

 

Reel 3



Reel 4


Reel 5


Reel 6



Jonas Mekas menulis tentang Walden:
“Sejak 1950 saya telah membuat filem diary. Saya telah berjalan dengan Bolex saya dan beraksi dengan realitas: tentang situasi, pertemanan, kota New York, tentang musim. Terkadang saya merekam hanya sepuluh bingkaian, di lain waktu sepuluh detik lamanya, juga ada sepuluh menit. Saya merekam yang tidak perlu....Walden berisi materi rekaman dari tahun 1964-1968 dalam urutan kronologis.”

 


 

Pada awal tahun 1960, Jonas Mekas memprakarsai kelompok filem independen yang dikenal dengan nama Group. Kelompok ini termasuk di antaranya Robert Frank dan Peter Bogdanovich. Secara radikal kelompok ini menentang “official cinema”. Group menyatakan dalam manifestonya, “Kami tidak ingin warna merah jambu, kami ingin mereka berwarna merah darah.”
 
Filem-filem Mekas seperti meditasi visual yang menjadi arsip sejarah kebudayaan New York dalam dua setengah abad umur kota ini dari sudut pandang seorang imigran yang lepas dari cara pandang arus utama (mainstream).

Hare Krisna (1966) 5 menit 3 detik
Filem ini direkam 5 November 1966 di New York. Hadir dalam rekaman ini Srila Prabhupada, Barbars Rubin, Phil Corner, dan lain-lain.

 

Dalam Hare Krishna, Mekas merangkul pengalaman penonton terhadap realitas dengan visual-visual familiar, gambar-gambar yang biasa yang menjadikan disorientasi dalam bahasa visual yang terpecah-pecah. Tentu banyak pertanyaan akan muncul dari elemen-elemen yang dekat itu. Bagaimana Mekas menghubungkan pengalaman-pengalaman tersebut? Apakah kita akan merasa lebih dekat dengan narasi Mekas melalui dekonstruksi cerita atau tidak peduli pada apa yang kita lihat?

 


 

Suatu ketika Jonas Mekas mengatakan, “Sekarang aku punya sekumpulan kawan-kawan dan bar yang baru…Anggur, perempuan, dan nyanyian membuatku selalu hidup…oh ya, juga menari.”

Beberapa tahun yang lalu, Mekas telah berpindah dari menggunakan kamera Bolex ke kamera video. Dalam membuat filem ia selalu bersama Accordion, kucing kesayangannya. Selain itu, ia menemukan pengalaman baru menggunakan iPod. Dengan teknologi ini, ia membuat kurasi video-video yang bisa diunduh dari karya-karya klasik sutradara seperti Martin Scorsese, JohnWaters, Jim Jarmusch dan Abel Ferrara.


Zefiro Torna or Scenes from the Life of George Maciunas (1992)



16 mm, 34 menit
Dalam Zefiro Torna, Mekas melihat kembali catatan hariannya tentang kawan sesama imigran Lithuania, George Maciunas dalam tahun-tahun kebersamaannya. Saat itu kesehatan Maciunas sangat cepat menurun. Potongan-potongan rekaman filem tidak menggabarkan kesakitan Maciunas, namun semangat dan rasa humornya saat tampil dalam acara-acara gerakan Fluxus. Mekas bercerita tentang komponis favorit Maciunas, Monteverdi. Pada akhir filem, suaranya menghilang, dilanjutkan dengan syair-syair pendek tentang cinta Monteverdi, "Zefiro Torna." Selama diputar, Maciunas terlihat berbaring di tempat tidur rumah sakit. Ia tersenyum.

 


 

Scenes from Allen's Last Three Days on Earth as a Spirit (1997)



16 mm, 67 menit
Sebuah video-diary tentang Allen Ginsberg pada hari-hari sebelum dan setelah dia meninggal.

 


 

Catatan Mahardika Yudha tentang Jonas Mekas di Tampere International Film Festival

Siapa dia? + Siapa saya? = Keajaiban sinema! Itulah konklusi saya. Tertegun melihat kehadiran Jonas Mekas di hadapan saya di malam pembukaan, bukan lantaran saya mengaguminya tetapi karena saya tidak tahu siapa lelaki tua yang usianya kira-kira 80 tahunan itu. Lelaki tua yang menenggak bergelas-gelas anggur putih itu dikelilingi oleh petinggi-petinggi festival filem Tampere. Begitu ramahnya dia, sampai ketika ia menoleh dan menangkap wajah saya sedang memperhatikannya, ia tersenyum. Saya membalas senyuman dengan kebimbangan, apakah ia tersenyum pada saya atau orang lain? Pikiran itu hanyalah sebuah tindakan awas akan malapetaka komedi “salah orang”. Dua kali Jonas tersenyum, dua kali pula saya membalas dan memandangnya berputar-putar seperti objek dalam Anémic Cinéma-nya Marcel Duschamp akibat bergelas-gelas anggur merah gratis.

Pergerakan gambar-gambar kehidupan kota di jendela hingga satu kawasan hutan belantara yang putih menyala akibat tertimbun salju terjalin dalam satu perjalanan menuju lokasi acara tradisional masyarakat Suomi, berendam di danau es lalu ke sauna dan kembali lagi berulang-ulang. Masyarakat Finlandia mengatakan kalau tradisi itu menyehatkan, tetapi tidak dengan saya dan Jonas Mekas yang datang terlambat bersama juru dokumentasi yang selalu merekam semua kegiatan dirinya. Bagi kami, kegiatan itu membuat tubuh merinding. Di dalam ruang kaca yang dapat melihat kegelapan danau es itu, saya duduk bersebelahan dengan Jonas Mekas yang sudah memegang botol bir lebih dulu ketimbang saya. Karena usianya lebih tua, tentu yang muda mencontoh. Jika ia berulang-ulang mengambil botol bir, kenapa saya tidak? Percakapan pun dimulai ketika beberapa botol sudah kami habiskan.

"Kenapa tidak berendam?" sosok yang mirip dengan Freddy Kruger itu membuka obrolan.

"Masuk angin."

Jawaban itu mengejutkannya. Lipatan kulit dahinya menunjukkan itu. Setelah itu, percakapan mengalir tanpa kejelasan paham. Entah apa yang ia dan saya ucapkan. Misunderstanding tak membuatnya berhenti tertawa akibat tata bahasa Inggris saya yang berantakan. Ketidaktahuan tanpa curiga di antara kami diakhiri oleh, "Jonas" dan "Mahardika Yudha".

Akhir percakapan yang saya mengerti.

Tentang Jonas Mekas
Jonas Mekas lahir di 1922 di Semeniskiai, Lithuania. Saat ini tinggal dan bekerja di New York. Pada 1944, Jonas Mekas dan saudaranya, Adolfas, ditangkap oleh para pengikut Nazi dan dipenjarakan di kamp kerja paksa di Jerman selama delapan bulan. Pasca perang, ia belajar filsafat di University of Mainz, 1946-1948. Akhir 1949, ia hijrah ke Amerika Serikat bersama saudaranya dan menetap di Williamsburg, Brooklyn di New York. Dua minggu setelah kedatangannya, ia meminjam uang untuk membeli Bolex 16 mm pertamanya. Dengan kamera inilah ia memulai merekam hidupnya. Ia menemukan genre filem avant-garde di berbagai tempat seperti Amos Vogel, yang merupakan perintis sinema 16 mm. Kemudian ia memulai mempresentasikan filemnya pada 1953.

Jonas Mekas telah menjadi salah satu tokoh terkemuka avant-garde Amerika yang sering disebut "New American Cinema" pada akhir  1950an. Ia adalah editor kepala Film Culture (1954). Pada 1958, Mekas mulai menulis di jurnal filem, "Movie Jurnal". Di jurnal tersebut ia menulis untuk kolom Village Voice. Pada tahun 1962, ia menjadi salah satu pendiri Film-Maker Cooperative (FMC), yang diikuti oleh Filmmakers Cinematheque pada tahun 1964—yang akhirnya berkembang menjadi Anthology Film Archives (AFA). AFA merupakan salah satu arsip terbesar dan paling penting di dunia dalam merekam (koleksi) filem avant-garde. Ia menjadi kurator dari The Jewish Museum dari 1968 hingga 1971. Pada 1974 ia menikahi Holis Melton dan mempunyai dua orang anak, Oona dan Sebastian. Jonas Mekas mempunyai pergaulan luas di New York dari musisi, seniman, pemikir dan aktivis. Ia bersahabat dengan Kenneth Anger, Stan Brakhage, John Cassavetes, Salvador Dali, Miles Davis, Robert Frank, Allen Ginsberg, Jack Kerouac, Henri Langlois, John Lennon, Norman Mailer, Nico, Yoko Ono, Nam June Paik, Lou Reed, Andy Warhol dan banyak lagi para pemikir dunia yang menjadi bagian dari hidupnya.

Jonas Mekas menghasilkan filem-filem bergaya naratif seperti Guns of the Trees (1961) hingga dokumenter seperti The Brig (1963). Ada juga filem-filem "diary" seperti Walden (1969); Lost, Lost, Lost (1975); Reminiscences of a Voyage Lithuania (1972); Zefiro Torna (1992) dan As I was Moving Ahead, Occasionally I saw Brief Glimpses of Beauty (2001) yang telah dipresentasikan di berbagai festival dan museum-museum penting di berbagai belahan dunia.

Berapa tahun lalu, Brooklyn Academy of Music and the American Museum of the Moving Image menampilkan Letters from Greenpoint and the Mead Gallery di Universitas Warwick—Inggris, Monash University Museum of Art, dan Australian Centre for Contemporary Art, Melbourne, Australia. Pada tahun 2002, Jonas mengikuti pameran seni rupa terbesar Documenta 11. Pada bulan Mei 2006, The Directors Guild of America memberikan penghargaan kehormatan kepada Anthology Film Archives sebagai pengakuan dan dedikasinya kepada pelestarian sinema sebagai bahasa seni. Mekas juga mendapat penghargaan dari Asosiasi Kritik Film Los Angeles (Los Angeles Film Critics Association) atas kontribusinya untuk filem dan kebudayaan di Amerika. Baru-baru ini, telah berdiri Jonas Mekas Visual Art Center (JMVAC) di Vilnius, Lithuania. Institusi ini fokus pada pengembangan seni dan koleksi-koleksi filem Jonas Mekas. JMVAC didirikan atas kerjasama dengan George Maciunas, salah seorang pendiri gerakan seni Fluxus. Dibuka pada akhir 2007, JMVAC akan dijadikan sebagai pusat arsip dan perpustakaan filem-filem avant-garde. Ke depannya, JMVAC akan menjadi Fluxus Research Institute.

Hits
Comments
Add New Search
ajang ajeng  - Oooo..jadi ini dik...   |202.73.111.xxx |2009-07-29 13:14:36
hihi..yoi dik mirip sm Freddy Kruger ye??

Tp badung ye dik???hahaha
eh..btw yg lu kasih liat ke g, itu yg mana ya dik??
lupa g...

huhuy
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Kamis, 23 Juli 2009 19:53
 
More articles :

» Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

» Seni Video di New York: Sebuah Catatan Pengalaman

Di tengah bulan November (2009) yang dingin, saya berjalan menuju gedung Japan Society di tengah kota Manhattan, New York. Malam itu, Japan Foundation menjadi salah satu tuan rumah Performa Biennale, satu biennale seni performans terbesar di kota...

» Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni...

» Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 420
Konten : 145
Jumlah Kunjungan Konten : 136924

Artikel.Lain_!

Nonton dan Diskusi di KINOKI Jogja
Kamis, 12 Juni 2008

Nama ini diambil dari sebuah komunitas yang didirikan di Rusia tahun 1920an oleh Dziga Vertov. Arti harfiahnya adalah Mata Kamera. Sesuai dengan namanya, Kinoki memusatkan kegiatannya dengan membuat filem memakai metode dokumenter, yaitu merekam...

Arkeologi Seni Media
Sabtu, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Kekerasan dalam Filem: Sebuah Kritik pada Filem Kado Hari Jadi
Senin, 30 November 2009

Apa yang kita ketahui tentang kekerasan dalam kenyataan sehari-hari? Darah! Itulah bahasa yang paling gampang untuk memperlihatkan kekerasan dan kesadisan sebuah peristiwa. Ditambah dengan benda-benda yang berbau “darah” seperti pisau, obeng,...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Rabu, 02 September 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Kamis, 16 Juli 2009

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Senin, 26 Januari 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Saya dan Periferry 1.0
Selasa, 12 Agustus 2008

Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...

Farah Wardani: Ini Situs Arsip Seni Rupa Pertama di Indonesia
Minggu, 23 Agustus 2009

Pada 19 Agustus 2009, Indonesia Visual Art Archive meluncurkan situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. Namanya iclick.IVAA. Pada kesempatan itu, Jurnal Footage mewawancarai Farah Wardani, Direktur Eksekutif IVAA. Berikut hasil wawancara kami....

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru
Jumat, 24 Juli 2009

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Rabu, 28 Juli 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda,...

Refleksi Ontologi Sinematografi
Rabu, 22 Oktober 2008

Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan...

V Film Festival 2010 dan Wawancara dengan Intan Paramadhita
Sabtu, 24 April 2010

V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...

Bilal: Dilema Kebebasan dan Fasisme Ideologi Punk
Kamis, 17 Juli 2008

Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X...

Dian Herdiany: Komunitas Video Harus Berjalan Mandiri
Senin, 21 Juli 2008

Berawal dari peristiwa gempa Yogyakarta yang mengenaskan  di tahun 2006, komunitas Kampung Halaman datang dan menawarkan program pemberdayaan masyarakat melalui video. Bidikannya muda-mudi. Pendekatannya yang unik membuat Kampung Halaman berhasil...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Kamis, 03 September 2009

Dikompilasi oleh Jurnal Footage Kami tersentak mendengar kabar tentang pembunuhan tragis salah satu kritikus filem terbaik di Asia Tenggara, Alexis A. Tioseco. Dia begitu muda. Begitu penuh gairah. Bila sedang membincangkan filem, dia dapat dengan...

Tak Ada Kejutan Dari Sang Pemimpi
Senin, 28 Desember 2009

Filem yang secara perdana dirilis sebagai pembuka pada penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 ini telah ramai ditonton orang meski belum genap seminggu. Antusiasme penonton sangat terasa untuk menuntaskan rasa penasaran...

Prima Rusdi: Satu Dekade Reformasi Bisa Percuma
Kamis, 12 Juni 2008

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, Proyek Payung menggelar acara pemutaran sepuluh filem pendek dari sepuluh sutradara muda di Kineforum tanggal 12-20 Mei 2008. Sambutan penonton terbilang memuaskan. Apa dan kenapa Proyek Payung didirikan?...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Kamis, 15 Januari 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Suatu Hari Kita Hanya Akan Mengenang Seluloid
Selasa, 12 Agustus 2008

Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

Komedi: Melepaskan Diri dari Kecemasan Sosial-Politik
Senin, 03 Agustus 2009

Pembukaan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, pada 28 Juli 2009, dipadati pengunjung. Malam itu, Hafiz, Direktur Festival, bersama-sama dengan Tubagus “Andre” Sukmana (Direktur...

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Selasa, 15 Juli 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Di Dasar Segalanya: Citra Kecemasan Surealis
Minggu, 20 Desember 2009

Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)
Rabu, 20 Januari 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Realisme Sinematik dan Mazhab Pembebasan Italia
Jumat, 24 Oktober 2008

(This article is a translation and not available in english) Kepentingan historis filem Paisa Rossellini telah sepenuhnya diperbandingkan dengan sejumlah mahakarya filem klasik. Tanpa ragu, George Sadoul menyebutnya sejajar Nosferatu, Die...

Der Leztze Mann: Kemandirian Sinema Murnau
Kamis, 17 Desember 2009

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...

Agama, Politik, dan Pemiskinan Sosial Sistematis Dalam Filem Los Olvidados
Selasa, 16 Desember 2008

Los Olvidados merupakan sebuah karya dari salah satu tokoh gerakan surealisme dunia, Luis Bunuel. Lahir di Spanyol, 22 Februari 1900 dan tumbuh dewasa di Meksiko, Bunuel menyelesaikan Los Olvidados pada 1950. Filem ini menjadi salah satu karya...

Ariani darmawan: Bioskop Independen sebagai Perlawanan
Selasa, 12 Agustus 2008

Bioskop independen hadir sebagai bentuk perlawanan dari bioskop-bioskop kebanyakan. Tapi apa sebenarnya yang dilawan? Mungkin saja tidak ada yang dilawan, sebab membicarakan perlawanan dalam filem-filem yang sering disebut independen di Indonesia...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net