I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Akbar Yumni   
Jumat, 24 Juli 2009 12:25

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi seorang alkemis. Roswitha sendiri harus bekerja menjalankan klinik aborsi ilegal. Dalam situasi ini, setidaknya Roswitha harus mengalami dua hal yang cukup berat dalam kesehariannya. Pertama, dia harus menghadapi sikap acuh tak acuh dari sang suami yang menganggapnya sebagai seorang inferior. Kedua, permusuhannya dengan dokter Genee dalam memandang konsepsi aborsi. Suatu ketika Roswitha harus mengalami pukulan yang cukup berat karena praktik aborsinya ditutup pihak kepolisian. Pukulan berat tersebut membuat Roswitha menjadi pasif. Ia dituntut melanjutkan hidup, sambil mendefinisikan kembali dirinya sebagai seorang ibu, istri, dan perempuan yang bekerja. Peran yang dimainkan oleh Roswitha ini merupakan gambaran masa awal masyarakat globalisasi, di mana subjek sosial yang melekat pada dirinya sedang mengalami ancaman dalam konstruksi dan ruang sosial masyarakatnya

Secara umum karya-karya filem Alexander Kluge merupakan artikulasinya dalam menciptakan ruang publik bagi penonton, khususnya sebuah rekonstruksi pengalaman sosial para penonton melalui medium filem. Penciptaan ruang publik dalam bahasa sinema Kluge merupakan kemampuannya merangsang penonton membuat konstruksi pengalaman bermasyarakatnya sendiri. Asumsi Kluge dalam merumuskan ruang publik setidaknya melibatkan dua hal. Pertama, apa yang disebut Kluge sebagai “publik borjuis”, di mana terdapat ruang sosial aktual yang di dalamnya memuat institusi macam media massa, termasuk juga sinema. Ruang publik borjuis ini didominasi oleh korporasi, para pemilik media, serta pemerintahan yang mampu membentuk pengalaman masyarakat. Kedua, Kluge mengasumsikan ruang publik sebagai prinsip etika, di mana ada semacam tuntutan transparansi untuk ruang sosial kolektif yang memiliki keluasan jangkauan. Dalam ruang publik ini terdapat individu yang berhadapan dengan sistem politik dan ekonomi, yang interaksinya membentuk berbagai perbincangan dan kendali publik berjangkauan besar, sehingga mampu melewati batas institusi publik di mana setiap individu juga bisa memainkan peran kritisnya.

 

Telaah Adegan

Bingkaian kamera memuat sebuah pandangan ke atas pada salah satu jendela apartemen, di mana seorang anak kecil sedang menatap keluar. Intensitas ambilan gambar anak kecil yang sedang memandang keluar melalui kaca jendela itu seakan mewakili mata yang terisolasi atau diisolasi. Dari ambilan ini, Kluge tampak sedang melakukan visualisasi konsep keluarga dalam karyanya, Part-Time Work of a Domestic Slave. Adegan tangan sang anak yang menatap keluar jendela kaca, serta tangan yang menempel kaca itu sangat argumentatif. Jendela, pada ambilan gambar itu merupakan satu di antara sekian banyak jendela di sebuah bangunan apartemen yang menjadi tempat tinggal penduduk di masyarakat perkotaan. Adegan sang anak di jendela seakan menjadi sebuah peristiwa yang terisolasi dari sekian banyak peristiwa yang berlangsung di saat bersamaan, di mana jendela adalah sebuah ruang melihat sekaligus batas bagi sebuah keluarga di antara kumpulan keluarga yang lain dalam strata sosial. Persuasi ambilan gambar pada adegan itu seakan sedang menegaskan sebuah citra keluarga yang terisolasi dalam ruang sosial.

Ambilan gambar berlanjut ke adegan berupa kesibukan domestik keluarga Roswitha Bronski di pagi hari. Ambilan gambar tersebut berisikan suasana adegan sarapan pagi, di mana sang suami serta dua anak Roswitha sedang duduk di meja makan. Roswitha pun sibuk mengurus si kecil yang menangis, sambil mempersiapkan diri untuk berangkat kerja. Narasi visual pada adegan ini berlangsung dalam cara dokumenter, dengan bukaan bingkai gambar penuh. Intensitas realisme seakan tanpa pretensi, di mana tidak ada tampilan gambar partikular atau detail-detail ambilan dekat (close-up) yang mempertajam realismenya. Bagi Kluge hal tersebut mungkin usaha membangkitkan penonton aktif ketimbang praktik filem aktif. Estetika Kluge dalam konteks ini adalah menyikapi tradisi filem Hollywood, di mana filem menjadi sangat agresif dalam menciptakan persuasi kepada penonton, sehingga pengalaman penonton mengikuti kemasan pengalaman yang terdapat pada filem. Hubungan antara penonton dan filem di sini menegaskan sebuah bentuk penonton yang menjadi pasif.

Pada adegan Roswitha yang sedang berada di ruang praktik aborsi, seorang pasien memasuki ruang bedah, kemudian sang dokter melakukan pembedahan aborsi, sang pasien terlentang dengan paha terbuka, sebuah alat cangkang membuka vagina, dan kemudian sebuah capit mengambil janin yang sudah cukup besar dalam rahim sang pasien. Ambilan gambar panjang memperlihatkan seluruh adegan proses pengambilan janin dalam gaya yang sangat dokumenter. Sang janin diambil dalam rahim, kemudian gambar berpindah pada adegan janin yang diletakkan pada wadah peralatan bedah. Semua berjalan begitu saja. Lalu, ambilan gambar menampilkan adegan sang dokter yang meletakkan peralatan bedah, di mana terdapat janin tersebut. Sang janin pun tertimpa gunting pet yang digunakan sebagai alat bedah. Adegan peristiwa aborsi pun selesai, dan sang ibu pun bangkit sambil menenggak minuman berakohol. Semua ambilan gambar berlangsung hampir tanpa pretensi, seakan sekadar menggambarkan sebuah proses medis biasa, tanpa beban teologi apapun –apalagi sakral.  

Sekuen adegan aborsi di atas bagi Kluge merupakan sebuah tawaran diskursus mengenai aborsi yang sedang berlangsung di ruang publik. Adegan proses aborsi berlangsung seakan tanpa drama apapun. Sangat dokumenter. Namun kemasan dokumenter tersebut merupakan sikap Kluge dalam membuka diskursus baru mengenai konsepsi aborsi di masyarakat Jerman tentunya. Semua kemasan ambilan gambar panjang yang menampilkan peristiwa dalam adegan seakan merangsang penonton untuk merekonstruksi pengalaman sosial mereka mengenai aborsi, dengan berusaha mematahkan kaidah filem dalam sekuen ini. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Theodor Adorno, seni dalam kebudayaan kapitalisme tidak jarang menjadi suatu afirmasi bagi suprastruktur kaum borjuis.

Dalam konteks “publik bourjuis’ Kluge, filem tidak jarang sebagai bagian dari apa-apa yang telah dikontruksikan oleh para pemegang modal dan kebijakan, sehingga kaidah filem tersebut bisa jadi afirmasi dari peristiwa-peristiwa publik yang telah didominasi oleh kelompok-kelompok pemegang kekuasaan. Di sekuen ini, Kluge pada dasarnya sedang membuat efek tandingan dalam bahasa sinema dengan merangsang penonton untuk merekonstruksi diskursus aborsi. Kluge meyakini bahwa estetika dan kemungkinan politik dalam sinema harus dan dapat menjadi basis mode pengalaman. Kluge lebih berorientasi kepada para penonton sinema dengan merangsangnya untuk menghasilkan sebuah fantasi. Dalam pandangannya, pemaknaan fantasi bukan dalam konsepsi psikoanalisa seperti yang terdapat dalam terminologi bahasa Inggris. Namun fantasi dalam pandangan Kluge lebih berorientasi pada imajinasi, di mana para penonton mampu menciptakan jaraknya sendiri terhadap suatu hal, yang oleh Kluge jarak-jarak tersebut dijadikan perekat dalam montase filemnya. Di sini Kluge tampak mengikuti teori montase yang dibangun Sergei Eisenstein, bahwa pembangunan makna dari gambar yang ditampilkan juga melibatkan penonton.

Konsepsi fantasi dalam filem Kluge tidak lepas dari konsepsi guncangan (shock) yang diambil dari pemikiran Walter Benjamin. Guncangan dalam pandangan Benjamin merupakan refleksinya atas kebudayaan industri dalam kapitalisme yang bersifat sangat partikular dan terus berulang. Kemampuan teknologi dalam masyarakat kapitalisme, memungkinkan produk kebudayaan yang hanya menyuguhkan hal-hal partikular belaka, dan cenderung bersifat komoditas. Kebudayaan masyarakat kapitalisme industri itu selalu diarahkan untuk menghadapi serangkaian guncangan, namun masyarakat tidak memiliki kemampuan penangkal yang praktis dalam menerima rangkai guncang tersebut. Bagi Kluge, adalah salah jika filem membuat guncangan kepada penonton, sebab itu akan menghalangi kemerdekaan persepsi mereka. Guncangan yang hadir dalam kaidah dramatisasi filem pada kebudayaan industri kapitalisme, dihadirkan ke hadapan penonton secara tiba-tiba. Proses “tiba-tiba” ini oleh Kluge dianggap sebagai bentuk subdominasi yang terdapat dalam proses penerimaan para penonton, karena keluar dari kedalaman pemahaman terhadap sesuatu, serta teralihkannya persepsi dan fantasi penonton akan sebab yang seolah nyata.

Pada adegan aborsi di filem ini misalnya, Kluge berusaha dalam merekonstruksi  pengalaman sosial dalam memaknai peristiwa tersebut. Hampir tidak ada patahan ambilan gambar dalam adegan aborsi yang bersifat partikular atau dekat dalam menciptakan guncangan bagi para penonton di filem ini. Kluge berusaha membuat jarak peristiwa aborsi tersebut dengan para penonton, agar mampu merekonstruksi peristiwa itu secara rasional. Tentu Kluge sudah menghitung kapasitas penonton dalam konteks sosialnya. Diskursus aborsi merupakan perbincangan yang telah mengalami konstruksi institusi semacam agama. Memuat adegan aborsi yang seakan tanpa jeda dalam filem ini, secara tidak langsung mengasosiasi sebuah tindakan ‘barbar’ tanpa mengindahkan nuansa teologis yang berlaku di masyarakat. Dengan tidak menyertakan dialog, adegan ini berhasil menghilangkan basa-basi, yang rasionalitasnya ditemukan seperti dalam peristiwa klinik biasa. Berlangsung seketika tanpa jeda narasi apalagi metaforik. Namun,  di saat bersamaan, Kluge juga sedang menawarkan sebuah debat baru dalam bahasa sinema tentang diskursus aborsi. Kluge tidak memberikan guncangan sama sekali dalam adegan aborsi ini. Struktur waktu seakan sejajar dengan struktur waktu sebenarnya.   

Kisah tentang Roswitha merupakan gaya diskursus yang ditawarkan Kluge. Penonton seakan dirangsang untuk merekontruksi pengalaman sosial mereka, khususnya mengenai konsepsi keluarga, peran kaum perempuan dalam ruang sosial masyarakat, serta perdebatan mengenai konsepsi aborsi yang masih dipengaruhi oleh paham teologis dalam masyarakat Jerman pada masa itu. Dalam menciptakan bahasa visual sebagai bentuk narasi filem, Kluge hampir tidak membedakan antara membuat filem dengan menulis buku atau program televisi sekalipun. Ambilan-ambilan gambar yang dilakukan Kluge pada dasarnya hampir sama dengan alur penulisan ilmiah, di mana ada ambilan-ambilan gambar kaki yang menunjang narasi. Pada filem Part-Time Work of a Domestic Slave ini, beberapa adegannya hampir mirip dengan reality show yang sedang tren di televisi nasional kita sekarang. Dan Kluge telah melakukannya di tahun 1973. Hal ini tampak pada adegan di mana Roswitha sedang menjalankan praktik aborsi, yang menampilkan subjek nyata dari masyarakat yang memang memilih melakukan aborsi. Ibu, dalam kosepsi humanis Kluge, Kluge merupakan bagian dari mode produksi, sebuah perspektif yang membedakannya dengan paham Marxis, yang melihat mode produksi dalam determinan ekonomi. Mode produksi dalam perspektif Kluge tersebut terartikulasikan pada peran perempuan sebagai seorang ibu yang melahirkan anak.



Filem Part-Time Work of a Domestic Slave merupakan karya awal Kluge dalam mengaplikasikan sikap teoretisnya di tahun 1973. Karya tersebut bisa dianggap sebagai sumbangan terhadap perkembangan sinema dunia dalam posisinya sebagai strategi kebudayaan, serta artikulasinya terhadap teori kritis yang mampu diaplikasikan ke dalam bahasa sinema Kluge. Sebuah diskursus sinema, di mana hampir tidak ada batas antara yang argumentatif dan yang estetik, serta yang teoretis dengan yang artistik. Gagasan sinema menjadi sebuah bentuk organis dan pertautan politik dengan situasi sosial yang sedang berlangsung, dalam artian memposisikan sinema dan penonton sebagai bagian dari estetika serta tawaran diskursus baru terhadap kebudayaan yang melingkupi sinema itu sendiri. Di sini Kluge menciptakan semacam posisi ulang sinema dan penonton sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam karya. Seperti yang diungkapkan oleh Walter Benjamin dalam membaca fenomena teknologi dalam seni, di mana kamera mampu menampilkan sebuah era seni yang sudah meninggalkan ritual dan proses, tetapi seni dimulai dari hal yang politik.

Hits
Comments
Add New Search
nony  - gorgeous...!!!   |118.136.198.xxx |2009-09-06 13:33:40
drop dead gorgeous....!!!!!! bukan pupuk aja yang organik... tapi juga ada sinema yang organik.....
bogie  - bener kata amrin   |125.164.124.xxx |2009-08-16 21:17:27
Penjelasannya cukup detail.
sampe adegan2 yg menurut sampean ciri khas kluge diceritakan panjang lebar.
cuma ya itu,gak tau sudut pandang sinema itu yg seperti apa,juga blm pernah liat filmnya.
jadi pengen nonton.kpn2 sampean bawa ke malang yo.
amrin  - mhhh....   |125.164.123.xxx |2009-07-27 23:06:02
berat banget bahasane bar...susah sekali mengimajinasikan, apalagi blom nonton filmnya (apa sama kayak novel2 realisme sosial)...jadi penasaran gmn ruang sosial yang ga natural(dinamis) disajikan lewat gambar kamera..penilaian masing2 penonton juga berbeda pastine...hehehe wis emboh!!
renal rinoza kasturi  - Wow... aplikasi ruang publik dalam bahasa sinema   |125.161.141.xxx |2009-07-27 16:48:18
Keren2... boleh tuh Bar filemnya di tonton...
Anonymous   |222.124.26.xxx |2009-07-24 19:28:14
...
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Jumat, 24 Juli 2009 13:04
 
More articles :

» Tentang Torrent

Saat ini, banyak sekali orang di seluruh dunia mengunduh musik dan filem dari web melalui P2P (Peer-to-Peer) ataupun BitTorrent. Dan sewajarnya industri melihatnya sebagai sebuah ancaman dan mencoba untuk membasminya, walaupun usaha itu tampaknya...

» Jermal dan Totalitas Neorealisme

(Sementara tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955 (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (I)

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

» Documemory: Khazanah Pustaka

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 420
Konten : 145
Jumlah Kunjungan Konten : 136931

Artikel.Lain_!

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Sabtu, 22 Mei 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Rabu, 16 Desember 2009

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Rabu, 19 Mei 2010

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson,...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Kamis, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Mimikri Atas Mimikri: Catatan Festival Film Purbalingga IV 2010
Kamis, 03 Juni 2010

Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Rabu, 03 Maret 2010

Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli, Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Bintang...

Ariani darmawan: Bioskop Independen sebagai Perlawanan
Selasa, 12 Agustus 2008

Bioskop independen hadir sebagai bentuk perlawanan dari bioskop-bioskop kebanyakan. Tapi apa sebenarnya yang dilawan? Mungkin saja tidak ada yang dilawan, sebab membicarakan perlawanan dalam filem-filem yang sering disebut independen di Indonesia...

V Film Festival 2010 dan Wawancara dengan Intan Paramadhita
Sabtu, 24 April 2010

V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Sabtu, 19 Desember 2009

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Kamis, 01 April 2010

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Arkeologi Seni Media
Sabtu, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Nonton dan Diskusi di KINOKI Jogja
Kamis, 12 Juni 2008

Nama ini diambil dari sebuah komunitas yang didirikan di Rusia tahun 1920an oleh Dziga Vertov. Arti harfiahnya adalah Mata Kamera. Sesuai dengan namanya, Kinoki memusatkan kegiatannya dengan membuat filem memakai metode dokumenter, yaitu merekam...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Minggu, 10 Mei 2009

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Dian Herdiany: Komunitas Video Harus Berjalan Mandiri
Senin, 21 Juli 2008

Berawal dari peristiwa gempa Yogyakarta yang mengenaskan  di tahun 2006, komunitas Kampung Halaman datang dan menawarkan program pemberdayaan masyarakat melalui video. Bidikannya muda-mudi. Pendekatannya yang unik membuat Kampung Halaman berhasil...

Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010
Jumat, 25 Juni 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

Rentjong Atjeh
Rabu, 22 Juli 2009

J.I.F SUPER SPECIAL PRODUCTION 1940"RENTJONG ATJEH"Serombongan bajak laut telah menyerang sebuah kapal layar, yang sedang berlayar di Selat Malaka. Dengan dikepalakan oleh Bintara (Bisoe), kawanan bajak itu telah merampas segala barang yang berharga...

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Jim Henson: Sutradara Filem Eksperimental, Bapak The Muppet Show dan Sesame Street
Selasa, 12 Januari 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Beberapa waktu lalu saya membuka sebuah situs jejaring seni media baru (new media arts) www.rhizome.org. Saat melihat dan membuka situs ini saya berhenti sejenak di sebuah video yang di-upload oleh...

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Kamis, 12 Juni 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

Der Leztze Mann: Kemandirian Sinema Murnau
Kamis, 17 Desember 2009

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia
Senin, 08 Juni 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa...

Alex Sihar: Tantangan Membuat Bahasa Video Untuk Lebih Dikenal
Minggu, 23 Agustus 2009

Tahun 2009 ini, Yayasan Konfiden, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pengembangan, penyebarluasan pengetahuan dan pemanfaatan media audio visual bagi kepentingan pemberdayaan, peningkatan apresiasi dan dukungan atas inisiatif masyarakat kembali...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net