I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Eror
  • JFTP::delete: Bad response
  • JFTP::delete: Bad response
  • JFTP::delete: Bad response
problems clearing cache file /home/adel/domains/jurnalfootage.net/public_html/web/cache/refTableSQL/936080774c2bba978d9331950eb4ba73problems clearing cache file /home/adel/domains/jurnalfootage.net/public_html/web/cache/refTableSQL/e96d84175d75d55060390464a3efd2aeproblems clearing cache file /home/adel/domains/jurnalfootage.net/public_html/web/cache/refTableSQL/f5b02f65528de5c986f492c797702f5a
Komedi: Melepaskan Diri dari Kecemasan Sosial-Politik PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Renal Rinoza Kasturi   
Senin, 03 Agustus 2009 14:52

Pembukaan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, pada 28 Juli 2009, dipadati pengunjung. Malam itu, Hafiz, Direktur Festival, bersama-sama dengan Tubagus “Andre” Sukmana (Direktur Galeri Nasional Indonesia) dan Aminuddin TH Siregar (kurator festival) memberikan kata sambutan sebagai tanda dibukanya gelaran akbar dua tahunan yang diselenggarakan oleh ruangrupa ini. Festival berlangsung hingga 9 Agustus 2009. Banyaknya pengunjung yang hadir menunjukkan bahwa perkembangan seni media baru, khususnya video, disambut antusias oleh masyarakat. Pada konteks ini, OK.Video telah berhasil secara gemilang menularkan seni video di Indonesia. Sebagai pendatang yang relatif baru, seni video kini meraih legitimasi dalam kancah kebudayaan kontemporer.



Pada penyelenggaraan kali ini, festival OK. Video mengusung tema yang merangsang lokus kesadaran, berbicara tentang pemahaman kritis dengan gaya komedi. Menurut kuratornya, Aminuddin TH Siregar, tema komedi ingin menunjukkan bagaimana komedi sebagai bentuk komunikasi melalui medium video membicarakan berbagai permasalahan saat ini secara kritis. Dari permasalahan kota, politik, kekuasaan, moderenitas, teknologi, ekonomi, generasi, gender, tradisi, agama, media massa, identitas, budaya pop, seni keseharian, sampai pada pemilihan umum. Video non-naratif yang terbuka bagi rekonstruksi, manipulasi rekaman, dan berbagai pendekatan komedi dari lelucon, parodi, absurd, satir, sarkastik, vulgar, tabu dan hingga komedi tragis dapat disaksikan selama pameran berlangsung.

Bagi ruangrupa, tema komedi dipilih karena merupakan cara ampuh untuk melepaskan diri dari kecemasan. Sebagai kecaman kritis yang menyamar dalam hiburan, komedi bisa merefleksikan segala sesuatu, menertawakan diri sendiri, protes tanpa amarah dan mengubah celaka jadi jenaka. Komedi juga merupakan cara berkomunikasi yang telah menemani masyarakat Indonesia sejak dulu—dari komedi yang menggunakan tubuh hingga dalam bahasa audio-visual. Pemilihan tema komedi ini tidaklah tercetus begitu saja, melainkan melalui serangkaian perdebatan yang panjang. Seperti tertulis dalam pengantar festival, OK.Video: Comedy berupaya menanggapi kondisi sosial, politik dan budaya di negara ini. Penyelenggaraan OK. Video Comedy juga tak terlepas dari upaya diseminasi ruangrupa dalam menggagas praktik seni media baru untuk merespons bahkan menginterupsi kondisi global, yang dalam hal ini merujuk pada moderenitas.


Media Protes

Konsepsi representasi melalui media baru di negeri ini mewabah sejak satu dasawarsa terakhir. Setelah runtuhnya kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998, atmosfer politik berubah secara drastis. Masyarakat dapat mengakses teknologi informasi dengan mudahnya. Konsumsi terhadap teknologi informasi tersebut membentuk sebuah institusi sosial baru seperti warnet, chat-room, mailing-list, dan sebagainya. Bersamaan dengan itu, representasi politik masyarakat tertampung melalui penggunaan media baru. Di Indonesia, praktik seni media baru tak terlepas dari kritik terhadap ketergantungan masyarakat dalam mengonsumsi televisi, video games, komputer dan berbagai macam peranti seperti internet dan smart-phone. Praktik seni media baru menjadi semacam budaya tandingan atas dominasi media, terutama televisi.

Dalam sejarahnya, kelahiran seni media tak lepas dari perkawinan antara seni dan teknologi yang dipicu oleh problem kultural, sosial dan politis di dunia Barat di tahun 1960an. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi waktu itu dipakai sebagai instrumen dehumanisasi manusia. Hal ini menyebabkan proses reifikasi manusia tak dapat dihindari dan berlangsung di mana-mana. Krisis patalogis inilah yang menyertai kelahiran seni media baru.



Seni media muncul sebagai bentuk protes terhadap penetrasi hegemonik teknologi informasi saat itu. Adalah Nam June Paik sebagai perintis awal bagi perkembangan seni media baru yang konsisten menggugat dan menentang budaya visual, terutama yang disosialisasikan oleh televisi sebagai agen penyalur informasi dan hiburan. Paik curiga bahwa televisi memiliki ekses buruk secara sosial, politik dan ekonomi. Ia menganggap televisi sebagai perpanjangan tangan dari penguasa dan raksasa korporasi. Paik, kemudian mencoba mengartikulasikan kritiknya terhadap budaya visual masyarakat Barat.

Tentu, kehadiran seni media baru tak terlepas dari kelahiran video yang merupakan elemen gambar bergerak. Teknologi video, tidak dapat dipungkiri memiliki peran besar bagi lahirnya seni media baru. Menurut Krisna Murti, seorang praktisi dan pengajar seni media baru, seni media lahir dari perkembangan budaya visual di mana berbagai elemen terangkum menjadi kesatuan kosmik. Seni media baru mengandaikan elemen interaktivitas, virtualitas, dan imaterialitas. Dalam perkembangan selanjutnya, praktik seni media baru tampil dengan konsisiten sebagai arus perlawanan terhadap dominasi media arus utama. Kehadirannya pun telah memberikan inspirasi bagi proses demokratisasi media sehingga monopoli terhadap informasi dapat diminimalisir. Hingga kini, seni media baru tetap relevan dan bahkan sangat berkembang sebagai sebuah cara untuk memberikan komentar dan refleksi atas gegap-gempitanya arus informasi. Seni media baru tampil sebagai antitesis atas aneka isu masyarakat kontemporer.

Teknik Kurasi

Pada penyelenggaraan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival ini tercatat sebanyak 65 karya video yang lolos seleksi dari 56 partisipan. Selain itu, festival juga dimeriahkan dengan tiga presentasi khusus dari Goethe Institut, CCF, dan Cologne OFF.

Berbicara mengenai pola pemilihan karya-karya video yang ditampilkan di festival, Aminuddin mengatakan, ada dua kecenderungan. Pertama, seniman membangun narasi—panjang maupun pendek—yang lalu sengaja ditata, baik alur, suara, dan pola komunikasinya, untuk kemudian direkam. Kedua, menunggu momentum dari realitas kehidupan sehari-hari yang secara kebetulan memancing tawa dan secara tak sengaja terekam oleh kamera. Kuantitas kecenderungan yang pertama jauh lebih dimanfaatkan seniman.



Sebagai penyelenggara, ruangrupa menjalankan dua pola aplikasi karya. Pertama, pendaftaran terbuka kepada siapa saja yang (merasa) seni videonya memiliki nilai komedi. Kedua, melalui undangan khusus bagi mereka yang sepanjang kiprahnya acapkali memunculkan kualitas humor di dalam karya-karya video mereka. Semua dibagi ke dalam sub-sub genre komedi yang dipandang mewakili segala yang satir, sinis, kritis, parodik, situasional dan absurd.

Menurut Aminuddin, festival OK. Video: Comedy berfungsi secara nyata sebagai parameter perbincangan seni-seni mutakhir di Indonesia. Istilah komedi, menurutnya, bisa dipahami sebagai salah satu cara—yang sangat spesifik—untuk melihat peluang tentang bagaimana seniman menggali sensibilitas ‘humor’ melalui kamera. Di lain pihak, tema komedi juga secara efektif mampu menyematkan dimensi kritis dalam mencermati kehidupan dan praktik seni kekinian.

Hits
Comments
Add New Search
Editor   |110.138.52.xxx |2010-01-25 01:32:43
Tulisan even selalu kami muat saat even itu berlangsung atau sesudahnya dari kegiatan tersebut.
ebiya nur badila  - i am so late, and this article is so uploaded   |61.247.34.xxx |2010-01-24 14:38:16
oh why, mr editor, why?
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Senin, 03 Agustus 2009 15:20
 
More articles :

» “Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006) Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian yang...

» Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu?Guy: Kali pertama kami didekati...

» Mencermati Seremoni Festival

Editorial_Desember 2009Akhir tahun merupakan pesta raya perfileman kita. Berbagai festival dengan skala besar digelar dalam waktu satu bulan ini. Dimulai Festival Film Pendek Konfiden pada 19-22 November 2009. Kemudian diikuti Jakarta International...

» Tentang Torrent

Saat ini, banyak sekali orang di seluruh dunia mengunduh musik dan filem dari web melalui P2P (Peer-to-Peer) ataupun BitTorrent. Dan sewajarnya industri melihatnya sebagai sebuah ancaman dan mencoba untuk membasminya, walaupun usaha itu tampaknya...

» V Film Festival 2010 dan Wawancara dengan Intan Paramadhita

V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 420
Konten : 145
Jumlah Kunjungan Konten : 136869

Artikel.Lain_!

Ariani darmawan: Bioskop Independen sebagai Perlawanan
Selasa, 12 Agustus 2008

Bioskop independen hadir sebagai bentuk perlawanan dari bioskop-bioskop kebanyakan. Tapi apa sebenarnya yang dilawan? Mungkin saja tidak ada yang dilawan, sebab membicarakan perlawanan dalam filem-filem yang sering disebut independen di Indonesia...

Filem Pendek Sudah Mati, Tapi Tidak di Oberhausen
Minggu, 10 Mei 2009

(Hanya dalam Bahasa Indonesia) Selama 55 tahun festival filem pendek Oberhausen telah menjadi ajang bertemunya sutradara, distributor, pembeli dan peminat filem pendek dari seluruh dunia. Sebagai bekas kota industri, dengan tingkat pengangguran yang...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Rabu, 02 September 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)
Rabu, 20 Januari 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru
Jumat, 24 Juli 2009

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Kamis, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Pamflet Sejarah Kita dalam Ruma Maida
Minggu, 08 November 2009

Ishak Pahing dalam perjalanannya di pesawat tertembak akibat berondongan peluru yang di muntahkan dari pesawat-pesawat tempur yang mengepung pesawat yang ia dan teman-temannya tumpangi dan akhirnya pun Ishak Pahing tertembak. Inilah pembuka filem...

Dengan Ringan Melihat Sejarah Seni Rupa Dunia pada Video 70 Million
Rabu, 10 Maret 2010

Ada banyak yang bisa dilakukan dalam melihat sejarah. Di Barat, interpretasi terhadap sejarah kebudayaannya terus berlaku hingga sekarang. Karena memang itulah hakekat sebuah kebudayaan yang selalu diinterpretasi ulang oleh generasi selanjutnya....

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Kamis, 19 November 2009

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas
Rabu, 27 Mei 2009

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Doa yang Mengancam: Potret Pergulatan Iman Kaum Subaltern
Kamis, 16 Juli 2009

Di blog pribadinya, Hanung Bramantyo menyebut filem Doa yang Mengancam memiliki pesan untuk bercermin diri. Menurutnya, filem ini bertema keikhlasan. Manusia menjadi bersahaja karena dirinya ikhlas. Ikhlas bukan aktivitas pasrah. Ikhlas adalah...

Sergei Eisenstein, Notes of a Film Director
Selasa, 19 Mei 2009

Sergei Eisenstein selalu dianggap sebagai figur terpenting dalam sejarah sinema. Dia benar-benar seorang yang mampu beradaptasi. Sutradara mahakarya Battleship Potemkin dan Alexander Nevsky, Eisenstein juga menulis esai panduan seni filem dan...

Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng
Rabu, 14 Juli 2010

Selamat Ulang Tahun Ke-7 Forum Lenteng * * * 

Yang Muda yang Bercinta: Montase Awal di Masa Rezim Orde Baru
Rabu, 07 Oktober 2009

Seorang pemuda menumpang angkutan bajaj dengan kekasihnya yang sedang mengandung, melewati kawasan kumuh Jakarta di era 1970an. Anak-anak jalanan di lorong-lorong kota menjadi rangkaian sintagmatik bajaj. Pemuda tersebut adalah seorang mahasiswa...

Berita Gempa
Kamis, 01 Oktober 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Senin, 26 Januari 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Jalan Tak Ada Ujung: Transaksi Kesepakatan Tanda
Senin, 24 November 2008

“Ada patokannya ga?”Empat kali pertanyaan ini diutarakan oleh si penelepon dalam video Jalan Tak Ada Ujung karya Maulana Adel Pasha. Pertanyaan yang begitu penting bagi si penelepon untuk menemukan rumah ‘itu’. Transaksi tanda pun terjadi....

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Lisabona Rahman: Nonton Gratis Filem Berbobot Setiap Hari
Selasa, 12 Agustus 2008

Terkadang bosan melihat filem-filem yang disajikan bioskop-bioskop kebanyakan. Sebagian besar disebabkan ceritanya yang itu-itu saja. Para pemainnya juga sama. Menghadapi kondisi ini, kehadiran sebuah bioskop alternatif menjadi penting karena...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

Video Mashup: Budaya Gubah-ulang
Kamis, 28 Januari 2010

Beberapa saat lalu, saya ditunjukkan video di situs Youtube. Sebuah video musik berjudul Metallica Tribute to Rhoma Irama. Hal yang mustahil untuk diharapkan, tapi semua berubah ketika melihat video ini. Berangkat dari situs Youtube, video konser...

V Film Festival 2010 dan Wawancara dengan Intan Paramadhita
Sabtu, 24 April 2010

V Film Festival atau Festival Filem Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dengan mengusung tema "Girl Power In Action". Pada tahun ini V Film Festival 2010 mengangkat tema "Identity and Youth" (Identitas dan Remaja...

Documemory: Khazanah Pustaka
Kamis, 04 Juni 2009

A. Filem Dokumenter100 Années Lumière. Retrospéctive de l’oeuvre documentaire des grands cinéastes français de Louis Lumière jusqu’à nos jours. Paris: Ministère des affaires étrangères, 1991.Barnouw, Eric. Documentary: A History of the...

Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia
Rabu, 28 Juli 2010

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda,...

Jim Henson: Sutradara Filem Eksperimental, Bapak The Muppet Show dan Sesame Street
Selasa, 12 Januari 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Beberapa waktu lalu saya membuka sebuah situs jejaring seni media baru (new media arts) www.rhizome.org. Saat melihat dan membuka situs ini saya berhenti sejenak di sebuah video yang di-upload oleh...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Saya dan Periferry 1.0
Selasa, 12 Agustus 2008

Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Selasa, 26 Januari 2010

Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang mereka jual. MTV telah meraup keuntungan besar dari...

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Sabtu, 03 Juli 2010

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net