I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Tentang Uraian Luar Layar PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Barbert Schoeder & Eric Rohmer, diterjemahkan oleh Ugeng T. Moetidjo   
Sabtu, 29 Agustus 2009 23:11
Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu. Ini adalah bagian pertama dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder.

rohmer06

Pertanyaan pertama saya: mengapa filem lebih bercerita dibanding tulisan?
Saya menulis fiksi berawal dengan mengarang satu buku berjudul Elisabeth, yang kini sudah tak sesuai lagi karena sekadar soal tokoh bernama Elisabeth. Saya sebut buku itu kini Rumah Elisabeth. Ditulis dalam gaya amat filmis. Mungkin itu sebabnya buku tersebut mustahil difilemkan. Tapi setelah menulis Elisabeth, ilham saya lantas mengering —setidaknya pada gaya semacam itu— karena telah demikian mengilhami sastra Amerika, khususnya Faulkner. Saya berhenti mengagumi jenis sastra itu sampai lalu terseret pada para penulis lampau. Terpikat sastra Amerika, saya membaca novel karya Melville, Bartleby. Bartleby The Scrivener. Saya hidupkan imajinasi saya yang memberi saya pandangan baru, sesuatu yang sastrawi. Segenap imajinasi itu serempak muncul dalam apa yang dinamakan sebagai “Kisah-Kisah Moral”. Bagian pertamanya ditulis dalam gaya yang lalu disebut dengan nouveau roman [gaya baru sastra Prancis, antara lain oleh Margaritte Duras], yang rupanya disambut luar biasa oleh pengarang Jean Paulhan dan Marcel Arland di jurnal sastra N. R. F., meski kalangan penerbit merendahkan dengan menyebutnya “kuno”. Paradoksnya, fiksi-fiksi semacam itulah yang telah menginspirasi filem-filem saya karena sangat tidak filmis. Itulah paradoksnya sinema.

Keenam “Kisah-Kisah Moral” itu, atau sebagian saja yang ditulis kemudian?
Semua sama sekali belum dituliskan. Saya agak tambah-tambahkan. Yang pertama ialah The Bakery Girl of Monceau, dan yang terakhir, Love in the Afternoon. Lainnya ditulis dengan judul berbeda-beda. Satu judul yang tak berubah yakni Claire's Knee. Agaknya, tokoh Claire terus menguntit saya sebab ia telah beralih ke dalam novel, yang berakhir dengan kemunculan Elisabeth tengah duduk membaca sambil satu ketika menggaruk lututnya. Agak lucu juga Claire's Knee.

Jean Marie Maurice Scherer (Eric Rohmer)

Entah kenapa, petualangan dimulai saat kita memutuskan membuat filem dengan pita hitam-putih 16 mm tanpa suara. Begitulah The Bakery Girl of Monceau.

Sebentar. Itu filem pertama saya. Filem yang sungguh lebih terbuka bagi gaya novel pertama saya, Le signe du Lion. Di dalamnya lebih banyak paparan, bukan percakapan, yang pada filem-filem saya kemudian berisi lebih banyak dialog, bahkan uraian luar-layar (off-screen). Tapi, tak seperti filem-filem Nouvelle Vague [sinema pemberontakan “Gelombang Baru” Prancis akhir 1950-an oleh Godard dan kawan-kawan] misalnya Le beau Serge dan Le Cousins-nya Chabrol, A bout du souffle-nya Godard atau 400 Coups-nya Truffaut, filem saya tak beroleh sukses. Artinya, tak ada produser yang menginginkan saya; untung saya bertemu kau, lalu mendirikan usaha produksi Les Films du Losange dan mulai melakukan shooting dengan kamera dan filem 16 mm.

Apa yang bisa kita katakan tentang The Bakery Girl of Monceau? Kisah pertama ini seakan membentuk segenap tema filem “Kisah-Kisah Moral” Anda: sang pria memilih antara dua wanita.
Benar. Tapi saya tak memakai The Bakery Girl of Monceau untuk membangun tema, sebab cerita itu telah dituliskan. Ketika saya selesai menulis semua buku itu, tak terpikir seluruhnya akan merupakan satu tema. Saya tak memperhatikan kesamaannya. Ia muncul belakangan kala saya membaca kembali semua dan memodifikasinya untuk filem.

Jadi, gagasan di balik The Bakery Girl of Monceau memakai tema fiksi untuk membuat filem pendek?
Ya, membantu. Saya punya ide yang samar-samar tentang The Bakery Girl of Monceau, namun saat menyadari tema ini, seterusnya saya telah terhanyutkan. Tema itu membantu saya dalam membentuk struktur cerita filem Love in the Afternoon sebaik-baiknya.

Le signe du Lion

Jadi, apa yang bisa kita katakan tentang The Bakery Girl of Monceau?
Banyak hal. Saya amat ditangkup kenangan akan filem itu. Memang saya hanya seorang amatir. Saya editor Cahiers du Cinema [majalah pemikiran sinema, wadah kritis alamiah Nouvelle Vouge], dan pukul 6 petang hari, kau dan saya akan bertemu di toko kue yang kita pilih dekat kantor Cahiers, untuk melakukan shooting beberapa adegan. Kita telah menemukan toko kue itu. Saya bahkan tak terpikir bagaimana kita akan membayarnya, tapi kita sudah dibolehkan membuat filem di situ. Praktis, kita membuat filem itu tanpa uang. Semuanya amatir, kecuali Michele Girardon yang sudah bermain di filem Luis Bunuel —tapi dia bukan pemeran utama di filem saya itu. Pemeran utama wanita yakni gadis di toko kue itu, yang tak punya pengalaman akting. Kita memfilemkannya dengan kamera Bolex yang juga dipakai sutradara Jean Rouch waktu itu. Sebagian dari kameraman kita punya kerja yang menarik. Mereka fotografer, bukan sinematografer. Jean Michel Maurice bahkan seorang pelukis. Satu lagi yang nama belakangnya mirip nama depan kau: Bruno Barbey. Dia wartawan internasional dan fotografer yang piawai.

Mengapa Anda pilih Tavenier untuk mengucapkan suara saya di The Bakery Girl of Monceau. Apa karena suaranya terdengar lebih aristokratis?
Bukan soal itu. Jenis untuk ucapan luar-layar filem itu tak cocok dengan gaya bicara kau. Suara Tavenier terdengar lebih “sastra”. Karena ucapan di filem saya begitu “sastrawi”, saya rasa suaranya lebih dapat terpakai ketimbang suara kau. Saya merasa agak rikuh soal ini. Semoga kau tak marah. Saya tak yakin kau pun merasa nyaman melakukannya.

Saya ingat, versi pertama La collectionneuse bahkan lebih banyak terdapat uraian luar-layar (off-screen commentary). Terasa sekali filem itu sangat rumit.
Ya, hal itu lalu mempengaruhi saya karena dalam La collectionneuse, tokohnya sungguh orang yang blak-blakan, norak, bahkan genit. Tapi pada filem “Kisah-Kisah Moral” lainnya, hampir tak banyak lagi uraian luar-layar. Hanya dua kalimat dalam My Night at Maud; dalam Claire's Knee malah sama sekali tak ada. Dalam Love In the Afternoon, ada sedikit di awal dan di tengah-tengah. Saya telah berhenti memakai uraian luar-layar.

La boulangere de Monceau

Bagaimana menurut Anda dengan tambahan voice-over?
Ada beberapa hal. Pertama, mode pada masanya. Banyak terpakai di dalam filem, malah dalam filem Amerika, filem-filem detektifnya. Saya ingat satu filem Billy Wilder telah memakai voice-over. Itu satu. Voice-over juga membuat saya bisa mengkomunikasikan gagasan yang sulit diungkap dalam filem. Maka terasa, filem bicara lebih kurang lentur dibanding filem bisu, sebab filem bisu kemudian punya “teks tambahan” atau “cantuman teks” yang kini kita istilahkan “antar-teks” (intertitles). Segenap pemakaian itu, baik untuk dialog maupun uraian, menambah dimensi lain dalam filem. Bagaimana si tokoh utama memandang dirinya sendiri, dapat “dituliskan” di layar. Ini berarti, tindakan dan kata-katanya, tak selalu sesuai dengan uraian.

Ini menarik. Anda bisa lanjutkan ke hal lain, meski tanpa uraian luar-layar: menampilkannya sebagai apa yang penonton pikirkan, katakan dan lakukan, tidak selalu-
Menambah dimensi. Saya telah mengatur perpaduan ungkapan antara objektivitas dan subjektivitas ini tanpa melalui uraian luar-layar di filem My Night at Maud dan Claire's Knee, di mana peran uraian menentukan bagi sang perempuan pengarang. Sang pengarang ingin menguji tokoh wanita dalam novel yang tengah ditulisnya dengan mengomentari tindakan tokoh pria. Juga di filem Love in the Afternoon. Saya telah sepenuhnya meniadakan uraian dalam filem-filem lain saya.

Dengan kata lain, telah terinteriorisasikan. Kemudian kita membuat Suzanne's Career. Bagaimana asal mulanya? Apa itu juga satu dari fiksi Anda? Salah satu tokohnya mengingatkan saya pada Gegauff.
Ya, waktu itu saya baru bertemu novelis Paul Gegauff. Ia juga skenariowan yang kadang bekerja dengan Chabrol. Saya terkesan oleh kepribadiannya. Banyak sutradara seperti Chabrol pun demikian, karena kita melihat adanya “unsur dalam” itu di filem-filem Godard, semisal A bout du soufle dan sebagainya. Cerita filem Suzanne's Career memang begitu “Gegauffian”. Begitulah pokoknya cara Gegauff memikat wanita-wanita yang ditemuinya.

Claire's Knee

Anda pakai itu sebagai tema dasar Anda. Bagi saya filem itu amat menyentuh, karena di akhir cerita, ia memenangkan tokoh wanita.
Ya, pada akhirnya tokoh wanita itulah yang menang.

Bisa Anda jelaskan arti “moral” pada rangkaian filem “Kisah-Kisah Moral” Anda? Selalu ada kemenduaan tertentu di sana. Tentu saja ini terpisah dari kaum moralistes abad ke-18. Ia harus dipahami dalam konteksnya.
Benar. Kenyataannya, “Kisah-Kisah Moral” merupakan judul untuk rangkaian fiksi pendek saya yang ditulis sebelum filem. “Moral” di sini berarti perilaku tokohnya terarah pada satu kode moral tertentu, yang mungkin sungguh miliknya sendiri. Misalnya dalam La collectionneuse, ia kode moral kegenitan.

Melalui itu, si tokoh pria bisa saja menimbang dirinya yang sungguh jelata dengan kode moral yang lebih borjuis.
Persis. Meski bagi saya, keterkungkungan kaum anti-konformis atas kode moral tokoh itu telah jadi klise zaman. Tapi bisa juga, “moral” di situ lebih terujuk pada.... suatu “dunia dalam” atau “dunia interior”.... Dengan kata lain, tak berdasar sendiri pada tindakan manusia. Akan saya jelaskan ini agak lain. Awalnya saya rasa filem-filem saya menyapa dunia sinema dengan muatan tertentu yang tak lain diungkapkan lewat monolog sang tokoh, dengan uraian voice-over, atau suatu diskusi. Dalam banyak filem, tokoh manusia tak pernah mendiskusikan ide-ide, baik ide moral maupun ide politis. Ternyata, bila diskusi demikian telah ditampilkan, seluruhnya selalu terdengar sumbang. Tapi saya merasa telah mengolahnya, karena yang paling menyenangkan saya dari seluruh filem-filem saya ialah adanya pengolahan untuk menghadirkan tokoh-tokoh manusia yang dengan penuh wajar mendiskusikan moralitas, bagaimanapun adanya moralitas itu, entah kode moral kegenitan dalam La collectionneuse, masalah religius dalam My Night at Maud, atau soal erotisisme dalam Claire's Knee. Semua tokoh di situ diselubungi oleh arti “moral” pandangan umum. Saya bahkan mengolah suatu diskusi masalah politik, yang mungkin dibuat-buat— dengan sama wajar dalam filem The Three, The Major and The Mediatheque. Ada saat saya lebih mudah membicarakan politik karena cerita filemnya berlatar jauh di masa lalu, yakni dalam The Lady and the Duke.

La collectionneuse

Sumber wawancara Barbert Schoeder dan Eric Rohmer, “Moral Tales, Filmic Issues”, dalam kumpulan DVD filem Eric Rohmer, Six Moral Tales. Rekaman video digital wawancara ini terjadi pada April 2006, khusus untuk Criterion Collection. Transkripsi, penerjemahan dan penyuntingan oleh Ugeng T. Moetidjo.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 03 Maret 2010 20:08
 
More articles :

» Sinema Digital dan DVD

Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri lain filem Anda ialah musik, yang...

» Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film.Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

» Teater yang Difilemkan

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder.Filem berikut kita ialah My Night at...

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 420
Konten : 145
Jumlah Kunjungan Konten : 136949

Artikel.Lain_!

Tepian Sungai Ciujung (1): Jarak Kesadaran Ideologi Medium dan Integrasi Di Belakang Kamera
Jumat, 05 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian pertama dari artikel tersebut.   "I believe in equality for everyone, except reporters and photographers" -...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Tentang Uraian Luar Layar
Sabtu, 29 Agustus 2009

Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu....

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara
Senin, 03 Agustus 2009

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

Menyibak Rahasia Video
Selasa, 12 Januari 2010

Pengantar (Buku Digital: "Menyibak Rahasia" Video) [ ] Di dunia sekarang ini hidup kita dikelilingi oleh video. [ ] Jika dalam kehidupan kita sehari-hari kita menggunakan televisi, pita video serta alat perekamnya dan mainan elektronik, seperti...

Kekerasan dalam Filem: Sebuah Kritik pada Filem Kado Hari Jadi
Senin, 30 November 2009

Apa yang kita ketahui tentang kekerasan dalam kenyataan sehari-hari? Darah! Itulah bahasa yang paling gampang untuk memperlihatkan kekerasan dan kesadisan sebuah peristiwa. Ditambah dengan benda-benda yang berbau “darah” seperti pisau, obeng,...

Transmission Asia Pacific 2008
Kamis, 12 Juni 2008

Bumi perkemahan itu terasa sangat dingin. Setiap sore atau malam hari, hujan menderas tak henti-henti. Padahal akhir bulan Mei menjelang, bulan yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau. Kadang, serombongan kelelawar pun beterbangan. Satu atau...

Sepuluh Sutradara Sepuluh Tahun Reformasi
Kamis, 12 Juni 2008

Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...

Saya dan Periferry 1.0
Selasa, 12 Agustus 2008

Melewati banyak tahun, dengan pengorbanan besar, menjelajahi banyak negara, aku pergi melihat pegunungan tinggi, aku pergi melihat samudera. Hanya saja yang tidak kulihat di depan pintu rumahku sendiri, kilau embun mengkilat di cuping daun pohon...

House of Cards: Dari Kino Eye Ke Kino Brush
Selasa, 26 Januari 2010

Apa yang menarik dari sebuah videoklip? Seperti yang kita kenal selama ini, industri hiburan (musik) selalu menempatkan videoklip sebagai pelengkap untuk mempresentasikan penyanyi/grup musik yang mereka jual. MTV telah meraup keuntungan besar dari...

Tabu: Representasi Masyarakat Pribumi Polinesia
Kamis, 31 Desember 2009

Matahi, seorang laki-laki pribumi di sebuah pulau Pasifik Selatan bernama Bora-bora, jatuh cinta kepada gadis pribumi bernama Reri. Suatu hari, Hitu, seorang pemuka suku yang diutus oleh pemimpin seluruh pulau, datang untuk membawa Reri sebagai...

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Kamis, 12 Juni 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

Prima Rusdi: Satu Dekade Reformasi Bisa Percuma
Kamis, 12 Juni 2008

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, Proyek Payung menggelar acara pemutaran sepuluh filem pendek dari sepuluh sutradara muda di Kineforum tanggal 12-20 Mei 2008. Sambutan penonton terbilang memuaskan. Apa dan kenapa Proyek Payung didirikan?...

Sekarang, Filem Pendek (Tidak) di Tangan Konfiden
Senin, 23 November 2009

Waktu akan tetap memperhatikannya (Konfiden-red.), konsistensi dan keseriusannya akan teruji, sejauhmana bisa bertahan dengan visi yang ada. Demikian juga sejauhmana jika terjadi perkembangan yang membuat para aktivisnya bisa bertahan pada visi...

Under The Tree: Gagalnya Garin Dalam Menolak Monisme Moderenitas
Senin, 28 Desember 2009

Gelaran Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 tahun ini disemarakkan oleh seksi Indonesian Feature Film Competition (IFFC) yang memperlihatkan kelayakan kualitas filem nasional di tingkat internasional. Dalam IFFC ini diseleksi...

Di Dasar Segalanya: Citra Kecemasan Surealis
Minggu, 20 Desember 2009

Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010
Jumat, 25 Juni 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Kamis, 01 April 2010

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Sabtu, 22 Mei 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas
Rabu, 27 Mei 2009

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Komedi: Melepaskan Diri dari Kecemasan Sosial-Politik
Senin, 03 Agustus 2009

Pembukaan Ok.Video—4th Jakarta International Video Festival 2009 yang berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, pada 28 Juli 2009, dipadati pengunjung. Malam itu, Hafiz, Direktur Festival, bersama-sama dengan Tubagus “Andre” Sukmana (Direktur...

Antichrist: Teologi Visual Lars Von Trier
Rabu, 19 Mei 2010

Lars von Trier adalah sutradara filem menggairahkan yang terkadang memojokkan penontonnya sampai ke sudut memalukan. Ia juga seorang maestro teologi visual. Antichrist (2009) garapannya merupakan antitesis filem gempita tak bermutunya Mel Gibson,...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Kamis, 15 Januari 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Yang Muda yang Bercinta: Montase Awal di Masa Rezim Orde Baru
Rabu, 07 Oktober 2009

Seorang pemuda menumpang angkutan bajaj dengan kekasihnya yang sedang mengandung, melewati kawasan kumuh Jakarta di era 1970an. Anak-anak jalanan di lorong-lorong kota menjadi rangkaian sintagmatik bajaj. Pemuda tersebut adalah seorang mahasiswa...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net