Dikompilasi oleh Jurnal Footage
Kami tersentak mendengar kabar tentang pembunuhan tragis salah satu kritikus filem terbaik di Asia Tenggara, Alexis A. Tioseco. Dia begitu muda. Begitu penuh gairah. Bila sedang membincangkan filem, dia dapat dengan semangat bicara berjam-jam, penuh perhatian. Belasungkawa mungkin tak cukup untuk menanggapi kematian pemuda menakjubkan ini, juga untuk kekasihnya, Nika Bohinc. Alexis Tioseco lahir di Manila, Filipina, 1981. Pendiri dan redaktur utama www.criticine.com, sebuah jurnal online yang membahas sinema Asia Tenggara. Pepatah mengatakan, orang baik mati muda, dan ya, Alexis adalah salah satunya. Demi mengenangnya, Jurnal Footage dengan bangga menampilkan tulisan-tulisannya semasa hidup. Berikut adalah beberapa catatan Alexis dalam jurnal filemnya.

Tentang Jurnal Filem
Untuk tujuan apa jurnal filem mengada kini? Apakah diperlukan? Fungsi apa yang harus dipenuhinya? Pertanyaan-pertanyaan ini—yang meski sederhana namun penuh dengan jawaban yang memicu perdebatan—saya ajukan setelah mendengarkan podcast berjudul “Tracking Film Culture” dari edisi baru Vertigo dalam bentuk CD. Podcast tersebut—berisikan dialog antara editor Cahiers du Cinema, Jean-Michel Frodon dan para editor Vertigo, majalah filem yang berbasis di Inggris—sebenarnya membicarakan tentang jurnal filem cetak, namun saya yakin banyak poin yang dibicarakan juga relevan untuk publikasi online. Jean-Michel mengutarakan satu hal penting yang saya amini, bahwa jurnal yang kritis:
“…sekarang menjadi semakin diperlukan karena segala sesuatunya menjadi lebih mudah diakses, yang berarti semua orang tidak lagi sendirian, tapi justru disajikan sekian banyak pilihan, dan kita tahu tidak ada satupun di antara kita yang sendirian, namun ada seseorang yang dekat sekali dengan telinga kita, dan orang itu dikenal dengan nama ‘pasar’. Pasar berbisik di telinga setiap kita apa yang seharusnya kita tonton, dan kita tahu semakin banyaknya akses membuat orang semakin ingin menonton hal-hal yang sama. Melihat adanya struktur berbeda, tidak hanya majalah tapi terutama majalah, yang mengajukan, membangun keinginan untuk menonton hal selain dari yang dianjurkan oleh pasar saat ini, yaitu filem yang sedang diputar di berbagai bioskop secara serentak…
Saya yakin dengan adanya jalur-jalur lain, termasuk melalui festival filem dan juga para pengajar, ada lebih banyak pekerjaan rumah untuk kita dalam rangka membangun hubungan alternatif dengan sinema. Hal lain yang juga perlu dilakukan, saya pikir, yang saya lihat diusahakan oleh Cahiers dan juga Vertigo, adalah untuk menggunakan medium sinema demi memahami dunia yang kita tinggali ini.”
Bagaimana cara menghadapi tantangan untuk membangun hubungan alternatif dengan sinema ini? Pertama tentu dengan mengulas dan menuliskannya (termasuk dalam edisi ini ulasan filem Amir Muhammad The Last Communist, sebuah tajuk mengenai Uruphong Raksasad dan sebuah refleksi atas filem-filem baru dari seorang penulis kronik filem Asia Tenggara), lalu menghidupkannya (melalui tulisan-tulisan menarik mengenai filem-filem lawas yang layak mendapatkan penonton yang lebih luas dari sebelumnya, seperti filem dari Apichatpong Tropical Malady—yang tidak pernah dipertunjukkan di Filipina—dan Mysterious Object at Noon, filem arahan Lino Brocka Bona, dan filem dari sutradara eksperimental asal Thailand, Sasithorn Ariyavicha), sambil juga meninjau secara kritis apa yang sedang terjadi sekarang ini (sebagaimana dilakukan dalam ulasan filem Singapore Dreaming dan ulasan buku yang baru saja terbit, Singapore Cinema, juga sebuah tulisan kritis mengenai kebangkitan sinema di Filipina).
Criticine dengan bangga mengumumkan sebuah kerjasama baru dengan jurnal filem Thailand, Bioscope, sebuah jurnal filem yang aktivitas dan jangkauannya tidak berhenti pada halaman artikel namun mencapai hingga pemutaran filem, penyelenggaraan kontes, penerbitan buku, produksi DVD, dan pembiayaan filem. Criticine akan memilih dan menerjemahkan beberapa artikel Bioscope mengenai sinema Thailand ke dalam bahasa Inggris, dan sebaliknya, Bioscope juga akan menerjemahkan beberapa artikel terpilih Criticine untuk publikasi dalam bahasa Thai. Sebuah kerjasama yang menggembirakan, dan saya rasa juga penting, yang sejalan dengan visi Criticine.
Dengan rilis edisi keempat November 2006 ini, Criticine merayakan ulang tahun pertamanya. Kami berterima kasih kepada semua kontributor atas ide-idenya yang menantang, editor dan penerjemah kami atas jasanya yang berharga, dan tentu kepada para pembaca yang membuat semua ini berarti. Kami harap kami telah membantu pembaca memahami dunia yang kita tinggali ini sedikit lebih baik dan berharap dapat membantu lebih banyak lagi di masa datang.
Alexis A. Tioseco
Editor, Criticine
[Edisi ini dipersembahkan untuk Leonardo Lilles Tioseco.]
15 November 2006

Tentang Representasi
Representasi merupakan isu penting di Asia Tenggara. Ia melingkupi keragaman kultur tapi jelas tidak berbatas di situ.
Apa yang membimbing pandangan kita? Sebuah politik yang menentukan apa yang mestinya kita tonton, dan rintangan yang menghalangi kita untuk melihat lebih jauh.
Apa yang direpresentasikan? Kejujuran (atau ketidakjujuran) dalam gambar-gambar yang kita lihat, dan dosa penghilangan.
Bagaimana untuk menyajikan titik-titik yang tak terlihat? Sebuah tantangan ganda untuk membentuk ulang perspektif melalui karya-karya yang berpengaruh dan demi menemukan audiens atas karya-karya itu.
Criticine 3 membahas beberapa hal tersebut.
Dalam ulasan, Anda akan menemukan tiga artikel yang tidak dimuat di media lain: kami berikan ruang bagi Noel Vera untuk melanjutkan catatannya mengenai karya-karya sutradara Filipina Mario O’Hara, lengkap dengan ulasan mengenai karya klasiknya yang kini terlupakan, Uhaw Na Pag Ibig. Sutradara filem pendek tidak pernah mendapat perhatian! Hassan Muthalib akan memperkenalkan Anda pada energi gerak dari karya Aaron Chung, salah satu artis sinema Malaysia yang sedang naik daun. Khoo Gaik Cheng menyampaikan beberapa topik yang telah kerap dibicarakan oleh banyak programer dan kritikus selaras dengan karya Ho Yuhang, Min (2004), walaupun tidak pernah benar-benar dikupas secara menyeluruh.
Thailand adalah negara yang tidak cukup mendapat representasii dalam jurnal ini, dan tentu ada alasan di balik itu. Thailand tidak pernah sekalipun dijajah; sebuah fakta yang mereka cukup banggakan. Karena inilah tingkat kemampuan dwi-bahasa mereka jauh di bawah negara-negara pembuat filem di Asia Tenggara lainnya (Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam) sehingga banyak tulisan-tulisan mengenai sinema Thailand oleh penulis Thailand hanya tersedia dalam bahasa ibu mereka. Yang berarti: wawasan kita mengenai sinema Thailand tercerabut dari sudut pandang lokal. Kami telah mengambil langkah-langkah perbaikan, satu demi satu artikel. Dalam edisi ini, kami sajikan terjemahan segar dari tiga wawancara oleh sutradara Thailand, Thunska Pansittivorakul, dengan sosok-sosok terdepan dalam sinema kontemporer Thailand: sutradara cemerlang Apichatpong Weerasetheakul, kritikus dan penerjemah Kong Rithdee, dan Suparp Rimtheparthip dan Thida Plitpholkernpim, para editor majalah filem Thailand Bioscope.
Sementara siaran berita dan para pemimpin negara terus menggaungkan kata “terorisme” dengan begitu lepasnya, menguatkan rasa takut terhadap yang lain, Philip Cheah mengingatkan kita akan teror dalam jenis lain: terorisme terpimpin oleh negara. Kami mencetak ulang dua artikel yang awalnya diproduksi untuk katalog Spaces and Shadows, sebuah program dua-bulanan yang mengulas budaya seni kontemporer Asia Tenggara di House of World Cultures, Berlin. Yang pertama adalah pengantar Cheah untuk Whose Terror is it Anyway?, program yang dikurasinya. Sedangkan yang kedua adalah wawancara Shaheen Merali dengan Cheah dalam membahas wacana ini.
Tema terorisme kembali muncul dalam karya sutradara Filipina, Joan Torres, walau dalam konteks yang sama sekali berbeda. Bila Cheah membicarakan terorisme terpimpin negara, Torres membawanya ke ranah yang juah lebih intim: terorisme dalam urusan hati. Dalam wawancara saya dengannya, Torres menjabarkan pembuatan filem panjang pertamanya, Todo Todo Teros, dan tentang luka yang kita torehkan pada orang-orang yang kita cintai.
Dalam artikel yang juga personal, sutradara asal Maguindanao, Teng Mangansakan, mengingat kembali saat-saat dia jatuh cinta pada sinema, gebrakan-gebrakan pertamanya dalam pembuatan filem, dan tantangan dalam memperbaiki citra orang-orang Moro yang telah secara salah direpresentasikan oleh media populer.
Sebagai tulisan terakhir selama residensinya di Cannes Cinefoundation sebelum kembali ke Manila, Raya Martin mengirimkan kami catatan-catatan hariannya—walau tampak acak namun tetap memikat—yang membahas sejumlah topik, termasuk mengenai bagaimana dia diterima di Prancis.
Karya Tan Pin Pin, Singapore GaGa, sebuah sketsa cemerlang sepanjang 55 menit mengenai Singapura yang kerap terabaikan, berhasil mendapatkan perhatian penonton. Filem khusus memerlukan metode distribusi yang khusus pula, dan Pin Pin dengan begitu murah hati menjabarkan metode yang diambilnya. Menelusuri perjalanan GaGa di Singapura, artikelnya menjadi semacam wasiat yang perlu dijalankan oleh sutradara filem independen yang teguh dan ulet untuk memastikan bahwa karya mereka dapat dipertontonkan kepada khalayak. Pekerjaan belumlah berhenti di penyulihan akhir.
Alexis A. Tioseco
Editor, Criticine
16 May 2006

Tentang Sinema Kini
Satu hal indah mengenai dunia sinema sekarang ini adalah pudarnya batas pemisah. Seiring dengan kecepatan dan cara berkomunikasi kita yang semakin cepat dan canggih, begitu pula dengan transmisi budaya—melalui gambar dan suara, berita dan seni.
Pengertian kita tentang sinema Asia perlahan berkembang, lebih dari sekedar tahu tentang Kurosawa dan Ozu, Wuxia dan Yimou, dan mulai merangkul budaya dan negara-negara lebih kecil di wilayah ini. Seiring dengan ditemukannya hal-hal baru yang menarik ini, maka datang pula tanggung jawab baru.
Dalam esainya yang tajam dan mengena, We Come From Afar and We Will Go Further—dimuat dalam jurnal Slovenia Ekran edisi musim panas 2005 (diedit oleh Jurij Meden dan menampilkan sejumlah artikel mengenai World Cinephilia, dan analisis pertama yang membahas karya sutradara Filipina Lav Diaz secara detil dan mendalam) kritikus Jerman Olaf Möller mengangkat serangkaian pertanyaan, salah satunya mengenai penulisan filem. Menyinggung buku Movie Mutations yang diedit oleh Jonathan Rosenbaum dan Adrian Martin, Möller mempertanyakan tema, cakupan, para penulis, dan pemilihan penulis yang membahas sejumlah subjek dalam buku tersebut. Seberapa pentingkah bagi para penulis dan kritikus untuk secara definitif berbagi mengenai karya-karya apa saja dari negeri mereka yang bisa dianggap penting sehingga layak mendunia? Dalam dunia yang kini semakin kaya karya sinema dari berbagai kantung-kantung kecil dari seluruh penjuru globe, pertanyaan pun membayang—siapa yang kita baca?
Tulisan-tulisan kritikus Barat mengenai sinema Timur tentunya penting, tidak diragukan lagi. Tapi untuk membiarkannya terus bermonolog dengan dirinya sendiri dalam diskursus dominan tentu berbahaya. Sangat penting bagi penulis-penulis dari negeri asal sinema itu sendiri untuk bersuara di tingkat global karena pemahaman mereka—yang hanya bisa diperoleh dari hidup dan hirupan napas sejarah, budaya, dan udara dari tempat lahirnya karya—adalah penting. Sinema semestinya dialog. Melalui dialog, ada banyak hal yang bisa kita pelajari.
Criticine merupakan kontribusi kami dalam diskursus ini.
Bermula dengan bantuan dari Khristine Consunji, Criticine adalah publikasi online dua-bulanan yang berfokus pada sinema Asia Tenggara dalam segala bentuknya (filem pendek, filem panjang, narasi, dokumenter, eksperimental), meninjau kekinian seraya juga menengok ke belakang, dengan penulis-penulis dari dalam atau spesialis wilayah ini.
Tapi Criticine tidak hanya untuk dunia Barat.
Setiap September, selama lima tahun terakhir, The Substation, sebuah ruang seni independen di Singapura menyelenggarakan sebuah acara intim yang disebut Asian Film Symposium. Elemen kunci dari acara ini adalah S-Express: sebuah program selama enam-puluh sampai sembilan-puluh menit yang dikurasikan khusus untuk memutarkan filem-filem pendek terbaru dari Asia. Program ini juga dipadukan dengan diskusi bersama kurator sekaitan dengan kondisi yang sedang dialami oleh sinema independen di negera terkait, diikuti sesi tanya-jawab dengan kurator dan salah satu sutradara yang filemnya ditayangkan. Ketika S-Express pertama kali diadakan pada tahun 2001 hanya ada tiga negara partisipan—Singapura, Malaysia, dan Thailand—sebelum akhirnya melibatkan juga Indonesia di tahun 2004, juga Cina dan Filipina di tahun 2005.
Saya mendapat kehormatan untuk melakukan kurasi program S-Express Filipina pertama dan dalam prosesnya bertanya-tanya pada diri sendiri, mengapa baru sekarang, setelah lima tahun berjalan, barulah Filipina berpartisipasi. Mengapa tidak sejak dulu? Jawabannya lalu menjadi jelas: komunikasi. Kami tidak sepenuhnya berdialog dengan saudara-saudari kami di Asia Tenggara, kami hanya tahu sedikit sekali tentang mereka; sebagaimana mereka pun hanya tahu sedikit mengenai kami. Sambil menyusun program, saya bawa gagasan ini selangkah lebih maju, dengan kesadaran, dalam konteks Filipina, kamipun jarang berkomunikasi antarkami sendiri—tidak berdialog dengan negeri kami sendiri, negeri di luar kungkungan kota Manila.
Kesadaran ini membukakan mata saya dan menuntun pada perjumpaan saya dengan perkembangan sinema dan sutradara dari berbagai penjuru Filipina. Dari Crystal Piaya Awards yang diselenggarakan secara tahunan di Bacolod; gerakan politis ST Exposure di selatan Tagalog; Sinebuano and Cebu Filemmakers Society di Cebu; serta workshop yang begitu inspiratif, bernama Guerilla Filmmaking, yang diadakan oleh pemuda-pemuda berumur 25 tahunan di Davao; kesemuanya berhasil membuat saya meyakini bahwa negeri ini kaya akan semangat dan aktivitas perfileman di berbagai daerah namun kurang mendapat dukungan dan pengakuan.
Kita punya banyak hal, tidak hanya untuk dibagi dengan dunia luar, tapi juga untuk belajar mengenai diri kita sendiri.
* * * * * * * * *
Edisi pertama Criticine ini menampilkan bacaan dengan dosis tepat. Sinema Malaysia sedang berbuncah energi. Edisi pertama ini memuat sejumlah artikel yang membahas kondisi tersebut dari berbagai sudut pandang. Terinspirasi dari dua peristiwa yang terjadi baru-baru ini dan juga dari dua buah filem, jurnalis dan kritikus asal Singapura, Vinita Ramani, melihat kembali ke belakang dan membahas pluralitas dalam sinema Malaysia. Dengan pengetahuan dan perspektif yang hanya mungkin didapat dari kematangan usia, Hassan Muthalib bercerita pada kita tentang lima figur yang membentuk sinema Malaysia, sambil juga menghadirkan ulasan atas karya-karya baru yang signifikan: Sanctuary, karya Ho Yuhang, dan Chemman Chaalai, karya Deepak Kumaran Menon. Dua buah filem yang—sebagaimana kritikus Khoo Gaik Cheng ungkapkan dalam esainya—mendobrak batasan namun sayangnya tidak dianggap cukup Malaysia di negaranya sendiri karena dialek yang digunakannya dalam filem. Karya Riri Riza, Gie—sebuah biopik mengenai seorang aktivis mahasiswa tahun 1960-an bernama Soe Hok Gie—telah menjadi buah bibir sinema Indonesia di tahun 2005. Kritikus Paul Agusta dan Lisabona Rahman menontonnya untuk kedua kali dan berbagi percakapan kritis mereka mengenai kebaikan dan kejelekan filem tersebut, serta kelemahan-kelemahannya jika dibandingkan dengan filem propaganda tahun 80-an. Kritikus Noel Vera mengulas karya sutradara Filipina Mario O’Hara, Bakit Bughaw ang Langit?, mengawali artikelnya dengan catatan yang akan membuat Anda menangis. Mengambil Filipina sebagai contoh, mantan direktur University of Philippines Film Institute yang kini adalah dosen tamu di National University of Singapore, Rolando (atau Roland, sebagaimana dia ingin disebut) Tolentino meninjau secara kritis peristiwa-peristiwa seputar sinema Asia.
Beralih pada sutradara-sutradara tertentu, kami untuk pertama kalinya menerima catatan-catatan harian sutradara belia Filipina yang masih berusia 21 tahun, Raya Martin, satu dari enam sutradara muda yang mendapat kehormatan untuk mengikuti Résidence du Festival de Cannes. Dalam wawancara, kami hadirkan sesi tanya-jawab dengan dua sosok menarik dari dunia sinema Asia Tenggara. Benjamin McKay, seorang lulusan Australia yang tengah menyelesaikan studinya mengenai sinema Melayu awal, berbincang-bincang dengan salah satu sutradara yang kerap mengaduk-aduk Malaysia, Amir Muhammad, sosok jenaka yang juga cerdas. Ketika sedang berada di Singapura, saya berkesempatan untuk mengobrol panjang-lebar dengan sutradara kelas internasional asal Bangkok, Pen-Ek Ratanaruang.
* * * * * * * * *
Kami sadar sepenuhnya akan tugas ke depan: memperluas cakupan (kami tentu tidak ingin membiarkan halaman beberapa negara tertentu kosong terlalu lama) dan menerjemahkan tulisan-tulisan (ke dalam bahasa negara-negara Asia Tenggara lain bagi mereka yang kurang lancar berbahasa Inggris) adalah dua proyek berikutnya. Kami telah mengambil langkah pertama dan kami harap Anda setia menemani perjalanan kami ke depan.
Alexis A. Tioseco
Editor, Criticine
23 Oktober 2005


Catatan foto:
Alexis Tioseco 1, diambil oleh Dona Inthaxoum
Alexis Tioseco 2, diambil oleh Mirza Jaka Suryana
Alexis dalam diskusi 1-4, diambil oleh Bagasworo Aryaningtyas
Semua foto diambil di Oberhausen, Jerman, Mei 2009.































Twitter
Digg
Del.icio.us
Reddit
StumbleUpon
Slashdot
Yahoo
Blogmarks
Technorati
Googlize this
Facebook






































"jadi Zizek memang enak. Bisa ngomong "seenak"-nya, bis...
Setelah beberapa lama, ada kendala teknis pada fasilitas komentar d...
tes
proyek new media art yang sebetulnya kembali pada sejarah visualisa...
tapi tonton dulu, soalnya suka ada PROMOTION ONLY yang muncul tiap ...
mmmm...von trier telah lama mati...bagi saya film ini tetap bermutu...
akhirnya yakin juga bahwa film keren ini ada maksudnya (lho!!) haha...
Boleh deh argumentasinya, tapi saya tetap bersepakat dengan para kr...
la'u cari aja di ambassador ato di lapak bajakan. banyak yg jual . . .
lom nonton filmnya juga,ada di jual ga yak???