I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Mirza Jaka Suryana   
Rabu, 11 Juni 2008 07:00
Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan akses masyarakat untuk menggunakan video. Dalam persoalan karya, video dikatakan sebagai media pengganti filem seluloid yang selama ini dikenal. Kemudahan akses dan fungsi video ini membuatnya potensial sebagai alat demokratisasi massa.
Bagaimana prospek video di masa depan?
Bagi saya, video sekarang sudah menjadi pengganti filem. Dari prinsipnya, filem dan video itu berbeda karena video sudah lebih dekat ke masyarakat, di mana fungsinya sendiri, sudah menggantikan, kalau secara material, tidak mengubah esensi filem itu sendiri.

Saat membuat sebuah karya, dari mana Anda memulai?
Saya contohkan karya saya, Jalan Tak Ada Ujung, di mana saya memulainya dari sebuah riset. Tapi lebih jauh, sebelum saya melakukan semua hal itu, ada ide yang mendahului pengalaman saya. Terlebih karya itu lahir karena adanya rangka kerja Forum Lenteng tentang video puisi, yaitu menerjemahkan puisi ke dalam rangkaian gambar-gambar. Setelah beberapa kali penggalian ide, akhirnya muncul karya tersebut. Ini juga berdasarkan dari pengalaman personal saya. Keseharian saya dekat sekali dengan kehidupan di gang-gang. Setelah itu baru riset dan akhirnya jadi meluas ke pembicaraan soal arsitektural kota Jakarta. Sebenarnya idenya sendiri sangat personal, karena waktu itu, buat saya, video sangat personal.

Karya Jalan Tak Ada Ujung itu mendapat penghargaan, bukan?
Ya, kebetulan karya itu mendapatkan penghargaan dari Asean New Media Art. Pemenang pertama. Asean New Media Art itu kompetisi se-Asean mengenai media baru, walaupun sebenarnya saya sedikit kecewa dengan kompetisi tersebut.
Kenapa bisa kecewa? Bukankah Anda mendapatkan penghargaan pemenang pertama dalam kompetisi itu?
Hal itu disebabkan beberapa orang dalam kompetisi Asean New Media Art sendiri tidak dapat menjelaskan apa arti dari new media art. Buat saya, media baru tidak mempersoalkan medianya tetapi bagaimana cara menyampaikan konsep ide kita dengan apapun, termasuk dengan video.

Alasannya, karena video adalah sesuatu yang dekat dengan masyarakat, murah tapi tidak juga gampangan.
Maksudnya?

Ya, dengan modal uang yang sedikit, yaitu kamera video, kaset, dan komputer, kita sudah bisa membuat karya. Buat saya inilah konsep seni media baru. Dan menurut saya, tidak ada kejelasan konsep dalam kompetisi tersebut.

Apa yang membedakan karya Anda dengan karya lainnya dari kompetisi itu?
Ada tiga orang pemenang yang mereka pilih, semuanya dari Indonesia dan satu dari Filipina.Ketiga-tiganya berbeda secara teknik dan pendekatan. Saya contohkan karya Akbar, dari Bandung, dengan memakai medium video juga. Pendekatannya lebih dokumenteris dan investigatif. Karya ini menurut saya baik, karena berbicara soal konsep video itu sendiri. Dia berusaha memanipulasi gambar, dan ini sah, menurut saya, disebabkan ketika orang sudah ada dalam bingkaian dia tidak menjadi orang itu lagi. Dia sudah menjadi rangkaian kode-kode yang membentuk sebuah gambar di dalam video itu sendiri. Ketika ia digabungkan, meski orang itu berasal dari Indonesia, tapi publik yang berasal dari Malaysia atau Filipina akan setuju dengan gambar yang disajikan sebagai masalah yang dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Bagi saya, gambar dalam video sudah menghilangkan realitas sebenarnya. Begitupun karya lainnya yang menjadi pemenang kompetisi, meski memakai animasi 3D, ia menjadi sah sebagai karya video, karena berusaha memalsukan gambar yang rangkaiannya disusun melalui komputer.

Apakah pemalsuan gambar itu merupakan esensi estetika dari sebuah karya video?
Saya orang yang percaya kalau estetika itu terbangun tanpa harus dibuat dengan sedemikian rupanya. Estetika itu hadir jika ide berbicara terlebih dahulu. Estetika itu nomor dua sedangkan hal yang ingin kita sampaikan menjadi yang pertama.

Persoalan seni dalam video bagi Anda seperti apa?
Ketika memulai Massroom Project bersama Forum Lenteng, tahun 2003 lalu, saya tidak berpikiran apakah nantinya karya saya hingar-bingar dan bernilai seni tinggi. Waktu itu, saya dan teman-teman disarankan untuk kembali melihat dari perspektif personal untuk kemudian dikemas menjadi video yang dekat dengan masyarakat.

Dampak apa yang ingin diberikan ketika Anda membuat karya video?
Persoalan dampak itu hadir belakangan. Orang yang mempunyai kesadaran pengalaman di tempat itu akan melihat secara berbeda pada suatu karya dibanding karya yang bersifat agung dan bernilai seni tinggi. Saya percaya, dengan teknik, kita bisa menghancurkan nilai otentik di dalam karya seni, atau materi video yang kita buat.

Jadi teknik itu sesuatu yang bisa menghancurkan otentisitas?
Ya, karena sebenarnya teknik itu adalah sesuatu yang bisa sangat membantu kita. Di situlah kesenangannya bermain dengan video. Ia bisa memanipulasi, ia juga bisa memainkan segala bentuk kesadaran. Sifat-sifat video yang demokratis serta dualisme video yang bisa menjauhkan sekaligus mendekatkan diri dengan masyarakat, tergantung kapasitas orang yang membuatnya menjadi keistimewaan tersendiri dari suatu karya video. Yang mengacaukannya adalah, ketika teknik dibuat untuk suatu manipulasi yang bercitarasa seni tinggi.

Apakah persebaran teknologi yang begitu luas sekarang menjadi suatu ancaman bagi pekerja video?
Sebaliknya. Ini suatu hal yang baik, dan saya sangat senang jika semakin banyak orang memiliki senjata video. Video tidak lagi menjadi benda eksklusif seperti filem 35mm atau 8mm. Dulunya memang, filem 8mm dipakai untuk mengabadikan peristiwa penting dalam kehidupan sehari-hari, seperti keluarga dan semacamnya. Mereka bisa dimudahkan untuk membuat karya video mereka sehari-hari. Ke depan video bisa menjadi semacam catatan harian kehidupan mereka. Saya berharap semoga video bisa menjadi seperti itu, sesuatu yang bisa dinikmati oleh semua orang.[]

Hits
Comments
Add New Search
krisna murti  - komen   |114.59.212.xxx |2010-01-27 10:12:07
Sebuah wawancara yang menarik. Saya senang membaca video dibedah oleh senimannya sendiri, juga relevansi sosio-kulturalnya. Publik jadi bisa lebih memahami. Tradisi ini mesti terus dirawat karena video/media baru harus kembali khitah: demokratisasi. salam
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 03 Maret 2010 20:21
 

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158843

Artikel.Lain_!

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Selasa, 15 Juli 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Membongkar Sinema pada Filem Outer Space Peter Tscherkassky
Kamis, 26 Agustus 2010

Masih mungkinkah sinema bisa dibicarakan di luar ‘cerita’ tanpa mengkait-kaitkannya dengan konteks sosialnya? Atau apa yang bisa kita lihat dari ‘dimensi luar’ pada estetika filem itu? Dua pertanyaan penting inilah yang mempertemukan saya...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Rabu, 16 Desember 2009

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010
Jumat, 25 Juni 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

Katalog Massroom Project
Jumat, 03 Juli 2009

[issuu layout=http%3A%2F%2Fskin.issuu.com%2Fv%2Fcolor%2Flayout.xml backgroundcolor=282828 showflipbtn=true documentid=090703095047-b1cc3157af93475ea27d16c3a1c2e0ed docname=massroom-project-catalogue username=forumlenteng...

Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara
Senin, 03 Agustus 2009

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi
Selasa, 15 Juli 2008

Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)
Rabu, 20 Januari 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan
Sabtu, 19 Desember 2009

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru
Jumat, 24 Juli 2009

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...

Jim Henson: Sutradara Filem Eksperimental, Bapak The Muppet Show dan Sesame Street
Selasa, 12 Januari 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Beberapa waktu lalu saya membuka sebuah situs jejaring seni media baru (new media arts) www.rhizome.org. Saat melihat dan membuka situs ini saya berhenti sejenak di sebuah video yang di-upload oleh...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Sabtu, 22 Mei 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Elida Tamalagi: Tawar Menawar Wacana Di Bioskop Alternatif
Selasa, 12 Agustus 2008

Kebutuhan publik akan bioskop alternatif terbilang sangat besar. Sayangnya, kebutuhan besar ini tidak didukung oleh kesiapan calon pengelola bioskop. Kegiatan memutar filem di bioskop-bioskop semacam ini masih dipandang sebagai ‘kegiatan asal...

Mimikri Atas Mimikri: Catatan Festival Film Purbalingga IV 2010
Kamis, 03 Juni 2010

Menurut Teshome Gabriel periode pertama sinema dunia ketiga adalah filem Hollywood. Kedua, dengan “Mimikri” filem Hollywood, yakni mengidentifikasikan filem-filem dengan filem Holywood. Mimikri bisa kita lihat pada awal produksi sinema di Hindia...

Tabu: Representasi Masyarakat Pribumi Polinesia
Kamis, 31 Desember 2009

Matahi, seorang laki-laki pribumi di sebuah pulau Pasifik Selatan bernama Bora-bora, jatuh cinta kepada gadis pribumi bernama Reri. Suatu hari, Hitu, seorang pemuka suku yang diutus oleh pemimpin seluruh pulau, datang untuk membawa Reri sebagai...

Agama, Politik, dan Pemiskinan Sosial Sistematis Dalam Filem Los Olvidados
Selasa, 16 Desember 2008

Los Olvidados merupakan sebuah karya dari salah satu tokoh gerakan surealisme dunia, Luis Bunuel. Lahir di Spanyol, 22 Februari 1900 dan tumbuh dewasa di Meksiko, Bunuel menyelesaikan Los Olvidados pada 1950. Filem ini menjadi salah satu karya...

Tak Ada Kejutan Dari Sang Pemimpi
Senin, 28 Desember 2009

Filem yang secara perdana dirilis sebagai pembuka pada penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 ini telah ramai ditonton orang meski belum genap seminggu. Antusiasme penonton sangat terasa untuk menuntaskan rasa penasaran...

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Kamis, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Membaca Isyarat Tak Terpahami Michael Haneke
Jumat, 03 Oktober 2008

Michael Haneke mungkin menjadi sutradara paling menarik untuk dicermati dalam sejarah sinema kontemporer. Lahir tahun 1942 di Muenchen, Haneke tumbuh di pinggiran kota Austria, Wiener Neustadt. Belajar psikologi, filsafat dan teater di Universitas...

Dua Sisi Penyelenggaraan Kompetisi Filem
Senin, 01 Desember 2008

Trauma terhadap tekanan kekuasaan dua negara fasis Jerman dan Italia dalam penyeleksian Festival Filem Venezia di akhir 1930an, Jean Zay, Menteri Pendidikan Prancis, memutuskan membuat festival yang diselenggarakan di Prancis. Pada waktu itu,...

Tarzan ke Kota dengan Cacat Logika Bawaan
Rabu, 17 Desember 2008

Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...

Filem Si Tjonat: Keluaran Pertama dari Jakarta Motion Picture Company
Senin, 01 September 2008

(This article is only available in Bahasa Indonesia) Ketika di tahun 1903, suratkabar Perniagaan [Kabar Perniagaan, 1903-1930], yang dahulu diterbitkan sebagai suratkabar khusus iklan, pimpinan F. D. J. Pangemanann— pada masa itu berisi...

Revolusi Mengalun Bagai Refrain Sebuah Lagu*
Kamis, 03 September 2009

*(atau kerap disebut juga dengan): Di Tengah Serba-Ketergantungan, Lahirlah Sinema Baru Filipina   Istilah independen pernah berarti sesuatu dalam sinema Filipina. Ia merujuk pada nama-nama besar seperti Rox Lee (animator), Raymond Red (sutradara...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

WALL-E: Mengembalikan Sisi Primordial Manusia
Senin, 08 Juni 2009

Ketika menyaksikan manusia-manusia dalam filem Wall-E produksi Pixar/Disney ini, saya langsung teringat suatu hari di kelas antropologi semasa kuliah dulu. Waktu itu, dosen saya bercerita tentang perkembangan evolusi tubuh manusia yang sudah bisa...

Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan
Jumat, 10 Juli 2009

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu? Guy: Kali pertama kami...

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net