I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
rafael-rozendaal
riri-riza
toshio-matsumoto

Teater yang Difilemkan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Barbert Schoeder & Eric Rohmer, diterjemahkan oleh Ugeng T. Moetidjo   
Rabu, 09 September 2009 16:31

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder.


mynightatmauds2

Filem berikut kita ialah My Night at Maud. Tapi Kepala Program Televisi tidak tertarik dan menyebutnya “teater yang difilemkan”, bukan sinema.
Benar, karena filem itu “cerewet”. Ini jadi hambatan terus bagi filem-filem saya kemudian. Memang kesalahan saya. Alih-alih menghampar lataran (settings) dan action tiap ke saat, skenario saya murni dialog. Tentu saja ini menghempaskan pembaca. Maka saya tak punya dana untuk membuat My Night at Maud, sementara TV menolak memproduksinya. Mujur, saya lantas menemui Truffaut. Saya tersisih dengannya sebab dia telah menghasut saya keluar dari Cahiers du Cinema. Tapi sama-sekali saya tak dendam sebab dia telah menyarankan saya hal yang luarbiasa. Saya telah menghabiskan waktu di majalah itu, terkurung kejenuhan tugas-tugas pembukuan. Untuk hidup, sejak tak lagi di Cahiers, saya lalu belajar pertelevisian. Ketika mulai jadi profesor, saya bukan lagi sutradara, melainkan “produser TV”, berarti juga “penulis skenario”. Saya banyak menuliskan pandangan. Salah satu acara televisi itu mengenai sinema, dan pernah tentang sutradara filem Jean Vigo. Ternyata Truffaut pengagum Vigo, maka saya hadirkan juga dia di acara itu. Begitulah saya berhubungan dengan Truffaut lagi akhirnya. Katanya, “Aku baca skenario kau. Kurasa bagus sekali.” Saya beritahu dia, saya telah ditolak didanai. Kata Truffaut, “Tidak masalah. Aku punya cara untuk membuatnya.” Dia sudah baca skenario yang dikirim ke aktor Trintignant, yang aktingnya di filem sangat mengesankan saya. Agen Trintignant yang juga telah memunculkan Truffaut, Lebovici, punya skenario itu di kantor; Truffaut melihat dan membacanya, lalu betul-betul mengambilnya.
Truffaut mengirim ke saya dan berkata, “Kita harus buat filem ini. Sekalian kita dapatkan orang-orangnya”. Dialah pendorong sekaligus penarik sepuluh produser yang masing-masing lalu berpatungan. Sebenarnya tak terlalu menguras biaya karena ada uang dari dana bantuan publik untuk sinema. Undang-undang yang masih berlaku, memberi produser filem Prancis persentase dari pajak filem yang laris di peredaran. Para produser Amerika berang karena hal itu tidak berlaku bagi filem asing. Sejumlah produser penting masa itu telah mendanai filem dari situ. Maka kita pun sanggup membuatnya.....

Saya rasa alasan Truffaut membaca skenario My Night at Maud, selain karenaAnda yang menulisnya, juga karena dia tak terkesan pada La collectionneuse.
Agaknya, kita membuat filem itu karena memang telah merencanakan.

collectionneuse5

collectionneuse2

Dalam tata susunan kronologis “Kisah-Kisah Moral”, My Night at Maud, yang lalu juga disebut La fille a bicyclette, muncul sebelum La collectionneuse.
Tata susunan itu tak begitu penting, hanya saya ingin membuat tiga filem awal saya dalam hitam-putih, baru kemudian dalam tata warna. Itu saja. Tak soal bila kita mulai dari filem berwarna lalu ke filem hitam-putih. Sebagian produser biasa memaksa pembuatan filem yang menolak pengambilan gambar dengan pita filem hitam-putih. Piere Braunberger, perintis produksi filem-filem Jean Renoir tahun 1920an dan penyokong para pembuat filem muda, meminta saya supaya membuat filem itu dalam tata-warna. Saya tolak. Mengapa? Saya suka Clermont-Ferrand –kota tempat tinggal Blaise Pascal, filsuf yang penting sekali di filem itu– karena rumah-rumah di sana dibangun dari karang bukit sehingga sekujur kota itu berwarna hitam. Sebuah kota tanpa warna. Saya pikir ini sesuai atmosfer filem itu. Kita tidak membuatnya dengan filem berwarna. Busana pun saya pilih tidak berwarna. Semua tokoh memakai abu-abu atau hitam sesuai atmosfir filemnya. Jika difilemkan berwarna, hanya akan menjadi bayang hitam. Itu alasan lain. Kita harus lakukan itu, tapi hitam-putih sungguh lebih indah. Ada alasan lain: Filem itu banyak diambil di malam hari, dan stocks filem hitam-putih lebih cepat tersedia daripada filem berwarna. Itu alasannya, selain pada filem-filem saya, sering kali pilihan praktis dan biaya betul-betul menyertai pilihan artistik.

mynightatmauds1

Anda membuat [filem pendek] On Pascal, “Tentang Pascal”, sebagai persiapan filem My Night at Maud, atau rencana filem itu memang menggagas Anda membuat filem tentang Pascal?
Entahlah, saya tak bisa katakan. Saya sadari itu saat tengah mempersiapkan atau setidaknya memikirkan filem. Tapi saya tak ingat. Ia ada dalam saat yang sama, tapi saya tak tahu mana yang hadir lebih dulu.
Seringkali kerja Anda di program televisi pendidikan menyediakan cara pengamatan bagi filem-filem yang tengah Anda persiapkan.
Ya, meneguhkan saya untuk mendiskusikan filem. Saya telah memfilemkan suatu diskusi, yang sederhana maupun yang mengesankan. Filem pertama saya, Le signe du Lion, sama sekali tak berisi diskusi, sementara La collectionneuse memuat serangkaian diskusi, namun kedua filem itu secara mendalam–bagaimana mengatakannya, ya? Tokoh-tokohnya tak terseret arus. Plot mereka lebih singkat. Tetapi dalam My Night at Maud, bisa dikatakan para tokohnya mendiskusikan suatu isi.

“Suara asli” (original sound) merupakan pengalaman terpenting pertama Anda dengan suara-langsung (direct sound).
Sebagian filem Le signe du Lion memakai rekaman suara langsung meski tak penuh, sebab waktu itu perangkat rekaman suara sangat berat dan makan tempat. Belum ada perekam NAGRA. Kami punya mobil suara buat para teknisi langsung memasukkan suara ke dalam bidikan filem. Belum ada pita-rekam magnetik. Tapi seluruh suara pada My Night at Maud direkam di tempat, dan sejak itu semua filem saya kemudian memakai rekaman suara langsung. Saya tak pernah pakai perekaman suara belakangan (post-synchronizationed). Banyak sutradara memakainya untuk pengambilan gambar luar ruang. Tapi saat shooting di jalanan riuh, saya tetap memakai perekaman suara langsung.

mynightatmauds3

collectionneuse1
Anda kerap mencoba hanya satu kali ambilan-gambar. Perekaman suara langsung tentu merumitkan itu. Apa gagasan Anda soal ambilan gambar satu kali? Mengapa mencoba hanya satu kali ambilan-gambar?
Saya harus menyebut La collectionneuse karena filem awal saya. Bukan dalam arti tata urutannya, tapi lebih merupakan filem yang dibuat mula-mula. Kami tak punya uang untuk membuat La collectionneuse, jadi kami harus berpatungan. Fotografer kawan Anda, menawarkan sejumlah uang –ia beroleh keuntungan manis dari sukses filem itu. Tapi kami harus sangat berhemat, maka saya tetapkan membuat filem dengan hanya satu kali ambilan-gambar dan segera menyimpannya. Seruan “Camera!”, baru kemudian “Action!” biasa dilakukan. Kita bersikap sebaliknya. Saya berkata pada pemain saya, “Ayo, mulai. Action!”, baru lalu “Camera!” untuk menghemat pita filem. Tentu saja, dalam My Night at Maud, kita melakukan banyak ambilan-gambar (take) karena –dengan segudang alasan– kau perlu perekaman suara langsung, seperti kalau seorang aktor beberapa kali gagal dalam plot-nya. Hal ini tak terjadi karena para pemain sangat andal, misalnya Trintignant sebagai Francoise Fabian. Tapi suara riuh di luar bisa membuyarkan satu ambilan gambar pertama, meski dalam hal ini segalanya berjalan lancar. Juru-suara saya, Jean Rouch, adalah pembuat revolusi perekaman suara, meski di filem ini dia memakai teknik yang tradisional. Kelak, dia –yang rupanya sudah biasa di pertelevisian– adalah salah seorang perintis seni filem dengan pemakaian mikrofon-lapel [mikrofon-sayap] satu transmiter. Mikropon-lapel [mikrofon-sayap] nirkabel. Ia pakai itu untuk Claire’s Knee, tapi tidak pada My Night at Maud.

clairesknee04

Kembali ke gagasan satu kali ambilan-gambar (take), apakah Anda dapatkan satu kali ambilan-gambar pertama itu punya kualitas khusus tertentu?
Segenap teori saya soal satu ambilan-gambar pertama masih tetap berlaku. Sepengamatan saya saat melakukan sebagian ambilan gambar, para pemain suka memaksa. Sulit sekali mengendalikan pemain dari keinginan ambilan-gambar lagi, dan biasanya, ambilan-gambar kedua tidak cukup bagus. Sewaktu shooting filem saya, The Marquise of O [dari novela Heinrich von Kleist] di Jerman, para pemain adalah perfeksionis yang memaksa take [ambilan-gambar] berulang kali. Kata mereka, “Ambilan-gambar ini-ini tidak bagus. Kami bisa lebih baik.” Saya beritahu, “Biar saja kalau memang tidak bagus. Tiap take tak harus sempurna. Ada yang mesti meninggi, ada yang rendah. Juga statis.” Saya pertahankan pendirian ini. Saya bisa memperbaikinya di ruang editing. Filem-filem akhir berdana besar saya, ambilan-gambar (take) keduanya tak terlalu makan biaya. Saya lakukan sejumlah ambilan-gambar, tapi seamatan saya, ambilan-gambar pertama, mungkin memang tak begitu sempurna –tak banyak cacat, tapi punya kualitas yang terbaik. Bagi saya yang terpenting adalah kualitas.

Bagaimanapun, Anda tak khawatir untuk membuat latihan sebelumnya sehingga semua pemeran tahu persis bagaimana satu bidikan (shot) mesti dilakukan. Anda tak khawatir kehilangan kualitas khusus kewajaran Anda dengan para pemain Anda banyak melakukan latihan?

Saya tak khawatir kehilangan itu karena selalu melakukan latihan, melainkan karena selalu mengerjakan bukan filem yang sama. Demi ambilan-gambar pertama, pemain harus telah mempersiapkan diri. Faktor risiko semacam ini akan sampai juga pada ujungnya. Pemain mungkin bisa amat baik sudah melakukan latihan sebelumnya. Dia harus latihan sebab saya amat menuntut soal tempatan (location) dan bingkaian (framing). Saya juga– berpikir begini: jika si pemain banyak latihan, inilah saat ia menjadi wajar. Sebab ketika terlambat memberi pemain alur cerita untuknya, maka dia akan baru mempelajari plot utuhnya belakangan. Inilah saat kewajaran hilang, tapi lalu ditutup-tutupi. Karenanya di filem saya, pemain harus sudah memegang skenario beberapa bulan sebelumnya sehingga mereka punya banyak waktu menyerap ceritanya, dan akan membuatnya wajar. Waktu saya minta pemain mengucapkan alur peran mereka sendiri, itu mirip take pertama. Kita telah mendengar dialog itu, tapi kadang bahkan tak bisa kita ungkapkan lewat kerjasama dengan para pemain yang mengucapkan dialog itu sampai akhir. Saya telah membuat kedua jenis filem semacam itu. Yang satu, dialognya telah saya tulis dengan baik jauh sebelum waktunya, dan satu lagi sepenuhnya dengan improvisasi. Lucunya, dialog improvisasi tak berbeda bentuk dengan dialog “sastrawi” yang ditulis sebelumnya. Salah satu contohnya, The Green Ray. Beberapa filem saya yang dibuat dalam 16 mm, seperti The Green Ray, Four Adventures of Reinette and Mirabelle, The Three, The Mayor and The Mediatheque, Rendezvous in Paris– semua memanfaatkan improvisasi. Juga pada sebagian Claire’s Knee. Kedua unsur tersebut disatupadukan. Saya pikir begitu. Entahlah. Saya tak selalu merasa bisa mengatakan mana yang telah diimprovisasi dan mana yang tidak. Saya rasa ini amat sesuai dengan bagian yang telah dituliskan. Misalnya –dengan sejumlah kecuali– pemain profesional bercampur bersama yang non-profesional, dengan yang terakhir makin sering perlu banyak upaya yang menjadi bagian saya.

clairesknee01

clairesknee02

Saya rasa, dari semua latihan improvisasi Anda sebelumnya dengan para pemeran, itu bukan menolak improvisasi perasaan. Saya amati dalam banyak filem sekarang itu berakibat sekadar keisengan. Saat memakai improvisasi, Anda telah lebih dulu mendiskusikan dan banyak mengolahnya sehingga itu tak tampak seperti improvisasi.
Benar. Saya tak suka sebutan “improvisasi perasaan” Anda itu. Ada pemikiran saya mengenai ini. Saya kira, jika kita minta seseorang berkata apa-apa soal hidup kesehariannya –gadis pelayan toko kue itu, misalnya, di The Bakery Girl of Monceau dan juga di Le signe du Lion– Jika saya minta pada gadis pelayan toko kue itu memberikan roti pada orang lain dan mengatakan harganya, dia akan terlihat sangat wajar, tapi segala di luar itu akan tampak memaksa. Di pedesaan, jika saya minta seorang petani berkata mengenai kesehariannya, hal itu akan tepat. Maka kita mesti tahu apa yang mau ditanyakan padanya. Kita tak bisa begitu saja memberinya garis perkataan buat diucapkan. Mesti dengan kata-katanya sendiri.

Saat kita membicarakan proses pembuatan filem, sering kali “filem itu” sudah diselesaikan di kepala Anda. Sebelum itu, Anda telah memilahnya dalam “shot-shot”, ya, kan?

Benar. Saya tak mengatakan editing itu tidak penting. Kenyataannya, saya selalu turut mengerjakan editing. Saya tahu ini mengherankan sebagian sutradara. Saya ikut mengerjakan editing nyaris frame per frame (bingkaian demi bingkaian). Tapi bukan berarti saya tak mengerjakan dekupase [decoupage = pemotongan], memecah filem dalam bagian shot-shot terpisah dan sekuen guna mementingkan pembuatan filemannya. Filem-filem saya –meminjam kata-kata Bazin– dipertajam dalam dekupase, bukan editing. Bagi saya, sungguh tak terpikir menyerahkan filem saya –seperti banyak dilakukan sutradara– ke tangan editor agar mengeditnya, lalu berkata, “Yang ini bagus”, atau lalu mengoreksinya tanpa inisiatif. Tidak, saya sudah tahu persis bagaimana filem itu harus diedit. Bisa dikatakan, itulah bagian dari mise-en-scene. Memecah adegan per adegan dan shot per shot adalah bagian dari mise-en-scene. Bagi saya, dekupase sungguh yang terpenting. Dalam sejarah sinema, ada satu sutradara yang punya dua cantuman nama di semua filemnya dengan “Directed by” dan “Shooting Script by”, yaitu Marcel Carne.

Ha-ha-ha, saya tak tahu itu.....

Dalam filem-filem pendek saya, cantuman nama saya ialah “Shooting Script, Eric Rohmer”.
Sutradara yang mencapai taraf tertinggi ini ialah John Ford. Dia hanya memfilemkan apa yang mutlak perlu, shot-shot-nya merupakan potongan yang final.

collectionneuse3

La collectionneuse erat dengan itu. Misalnya shot-shot mundur di adegan-adegan percakapan tidak difilemkan seperti biasa, tetapi tiap angle (sudut-tampakan) diambil secara sinambung. Kita hanya membuat shot pemeran yang sedang bicara. Shot berbeda dari pemeran lain yang sedang mendengarkan, dipisah. Tapi ini soal lain. Kita lakukan itu guna berhemat.

Ya, potongan terakhir dari La collectionneuse, 8.200 atau 8.800 kaki panjangnya, dan shot seluruhnya hanya sedikit lebih dari 16.000 kaki.
Anda katakan bahwa laboratorium filem itu kiranya ialah filem pendek.
Lagipula editingnya hanya perlu waktu satu minggu yang berarti, sebab Anda telah merancang tiap shot sebelumnya. Itu sungguh rumit sekali. Saya kerjakan dengan cara saya sendiri. Berat sekali karena dalam shot itu tanpa suara [no-sound]. Saya hanya punya satu garis panduan. Maka garis plot pemeran saya ucapkan. Saya banyak belajar mengeditnya. Saya taruh sekaligus potongan kasar itu. Pada dasarnya saya yang mengedit filem itu, sampai kemudian Jacquie Raynal [editor sebenarnya Rohmer] kembali dan melakukan koreksi.
Begitulah kiranya kita dapat biaya. Kita tayangkan filem 90 menit hitam-putih kita tanpa suara. Kita bahkan tak punya uang untuk menggandakannya secara berwarna. Jadi kita telah menayangkan 90 menit filem bisu dengan banyak kejadian luarbiasa yang sungguh tak kita sadari. Kemudian Beauregard si produser, sedia menalangi dana guna menuntaskan filem itu.

Saya ingat awal-mula Nestor Almendros. Kita sedang bikin filem pendek dekat bangunan Arc de Triomphe dengan kameraman sudah pergi menghilang. Si kameraman menyerah dengan cara kerja kita karena tanpa bayaran hingga dia tinggalkan kamera di trotoar. Nestor sedang di sana dan selalu menempel saya agar membiarkannya di lokasi pengambilan gambar atau membantu-bantu. Kita tidak tahu dia kameraman sewaktu dia bilang, “Aku tahu menggunakan ini. Aku bisa menggunakannya.” Kita tidak tahu dia sudah pernah membuat shot sejumlah filem di Kuba. Dia ambil kamera di trotoar itu, dan mulailah dia lakukan caranya sampai bekerjasama dengan Anda di filem besar Anda berikutnya, La collectionneuse.
Ya, saya ingat itu. [ ] Nestor berkata, “Saya tahu cara bikin filem,” maka mulailah kita shooting. Saat itu saya pun tengah tertarik dengan sinematografi, yang kiranya tak pernah profesional saya kerjakan. Kita pakai sisa latihan dari filem berwarna, jadi tata-cahayanya bisa sempurna. Anda tak bisa mengoreksi warna saat tak ada lagi negatifnya. Saya sadar kita sudah melakukan shooting sampai titik itu dengan diafragma (bukaan-lensa/aperture) 2.8. Nestor langsung pegang kamera, lalu saya tanya, “Berapa ukuran diafragma yang kau pakai ?” Dia jawab, “Saya akan pakai 3.2.” Ia periksa dengan pengukur-cahaya. Cahaya bisa berubah. Saya bilang, “Cahaya harus sama seperti sebelumnya,” maka dia pakai 2.8. Kata dia, “OK. Saya bisa pakai 2.8.” Saya sudah panik, memang. Pikir saya, “Kalau dia tidak tahu harus pakai berapa....” Tapi akhirnya dia benar. Baguslah.
Dia sangat bermain intuisi. Bukan sekadar teknisi. Dia memberi impresi-
Tapi impresi yang keliru. Dia tidak sembarangan. Pada La collectionneuse, satu kesalahan bisa berakibat fatal dan sukar sekali diperbaiki.
Intuisinya memberi dia nafas artistik, dan dia selalu memberi yang terbaik.
Dia juga punya mata sempurna terhadap bingkaian [frame; framing], seolah dia benar-benar bisa mendekatkan penglihatan. Dia pakai lensa kontak. Baguslah. Entah di mana kameraman saya yang tidak berpenglihatan-dekat..... semoga mereka makin indah melihat. Saya ingat, saat kita membuat filem di jalanan, banyak kameraman yang kita minta agar memfilemkan sebuah rambu jalan, akan bilang, “Itu sudah jelas sekali terlihat. Saya tidak perlu membesarkan gambarnya.” Ini salah. Karena bagaimanapun, masih terlalu kecil buat terbaca, apalagi di TV.


collectionneuse6

Sumber wawancara Barbert Schoeder dan Eric Rohmer, “Moral Tales, Filmic Issues”, dalam kumpulan DVD filem Eric Rohmer, Six Moral Tales. Rekaman video digital wawancara ini terjadi pada April 2006, khusus untuk Criterion Collection. Transkripsi, penerjemahan dan penyuntingan oleh Ugeng T. Moetidjo.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Rabu, 03 Maret 2010 20:07
 
More articles :

» Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film.Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

» Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4?Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

» Sinema Digital dan DVD

Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri lain filem Anda ialah musik, yang...

» Tentang Uraian Luar Layar

Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu....

Musikvideo-poster

lossofthereal-fotoage

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 420
Konten : 145
Jumlah Kunjungan Konten : 136936

Artikel.Lain_!

Teater yang Difilemkan
Rabu, 09 September 2009

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Filem berikut kita ialah My Night at...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Sabtu, 03 Juli 2010

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Dominasi Maskulin dalam Filem PPC
Selasa, 15 Juli 2008

Perempuan Punya Cerita. Sebuah Filem garapan empat sutradara perempuan muda Indonesia. Satu ulasan mengatakan bahwa filem ini lebih pantas berjudul "Perempuan Punya Derita” karena penderitaan tanpa-akhir yang dialami hampir semua tokoh perempuan...

Prelinger Archives: Arsip Kehidupan Sehari-hari
Kamis, 03 Desember 2009

"Filem yang akan anda saksikan menampilkan sebuah terobosan signifikan dalam kemajuan ilmu pengetahuan dari gambar bergerak. Selama bertahun-tahun industri filem telah dijamin oleh biaya pemikiran kreatif dalam persiapan naskah, fotografi dan...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Senin, 26 Januari 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

Arkeologi Seni Media
Sabtu, 24 April 2010

Percakapan antara Jussi Parikka dan Garnet Hertz Artikel asli berbahasa Inggris bisa dibaca di www.ctheory.netOriginal text in English on www.ctheory.net   Pendahuluan Arkeologi media merupakan suatu pendekatan studi media yang mengemuka sejak...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Rabu, 20 Januari 2010

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

Tepian Sungai Ciujung (2): Siasat Etis dalam Narasi dan Wawancara
Selasa, 16 Februari 2010

Jurnal Footage akan memuat artikel tentang video "Tepian Sungai Ciujung" dalam tiga bagian yang ditulis oleh Akbar Yumni. Ini adalah bagian kedua dari artikel tersebut.   Belum ada pikiran yang mardika jika mediumnya tidak memardikakan. Mungkin...

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

Nonton dan Diskusi di KINOKI Jogja
Kamis, 12 Juni 2008

Nama ini diambil dari sebuah komunitas yang didirikan di Rusia tahun 1920an oleh Dziga Vertov. Arti harfiahnya adalah Mata Kamera. Sesuai dengan namanya, Kinoki memusatkan kegiatannya dengan membuat filem memakai metode dokumenter, yaitu merekam...

Dominasi Produksi Visual Video
Selasa, 18 Agustus 2009

There is usually no time to build a relationship with the image: if we are not in motion, then the image is designed to pass us by in an instant. - Frances Guerin dan Roger Hallas, 2007 Pernyataan dua penulis budaya visual di atas tampaknya mampu...

Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga
Kamis, 19 November 2009

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955 Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Revolusi Mengalun Bagai Refrain Sebuah Lagu*
Kamis, 03 September 2009

*(atau kerap disebut juga dengan): Di Tengah Serba-Ketergantungan, Lahirlah Sinema Baru Filipina   Istilah independen pernah berarti sesuatu dalam sinema Filipina. Ia merujuk pada nama-nama besar seperti Rox Lee (animator), Raymond Red (sutradara...

Refleksi Ontologi Sinematografi
Rabu, 22 Oktober 2008

Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan...

Tak Ada Kejutan Dari Sang Pemimpi
Senin, 28 Desember 2009

Filem yang secara perdana dirilis sebagai pembuka pada penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 ini telah ramai ditonton orang meski belum genap seminggu. Antusiasme penonton sangat terasa untuk menuntaskan rasa penasaran...

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Kamis, 12 Juni 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Rabu, 02 September 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Jalan Tak Ada Ujung: Transaksi Kesepakatan Tanda
Senin, 24 November 2008

“Ada patokannya ga?”Empat kali pertanyaan ini diutarakan oleh si penelepon dalam video Jalan Tak Ada Ujung karya Maulana Adel Pasha. Pertanyaan yang begitu penting bagi si penelepon untuk menemukan rumah ‘itu’. Transaksi tanda pun terjadi....

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Aminuddin TH Siregar: Kita Lebih Maju Ketimbang Negara Lain di Kawasan Asia Tenggara
Senin, 03 Agustus 2009

Kenapa mengambil tema komedi dalam penyelenggaraan OK. Video ke-4? Ada keyakinan bahwa memang  tema komedi zaman sekarang cocok dikeluarkan karena berkorelasi dengan kondisi sosial-politik yang sedang berlangsung di negara kita. Ada semacam upaya...

Under The Tree: Gagalnya Garin Dalam Menolak Monisme Moderenitas
Senin, 28 Desember 2009

Gelaran Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 tahun ini disemarakkan oleh seksi Indonesian Feature Film Competition (IFFC) yang memperlihatkan kelayakan kualitas filem nasional di tingkat internasional. Dalam IFFC ini diseleksi...

Tarzan ke Kota dengan Cacat Logika Bawaan
Rabu, 17 Desember 2008

Filem berjudul Tarzan ke Kota dicap sebagai ulang-buat filem Tarzan Kota yang dibintangi aktor legendaris Indonesia, Benyamin Sueb dan disutradarai oleh L. Sudjio. Meski terdengar sama, Tarzan ke Kota merupakan filem yang dipertontonkan pertama kali...

Di Dasar Segalanya: Citra Kecemasan Surealis
Minggu, 20 Desember 2009

Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft.2009.jurnalfootage.net