I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Senin, 28 September 2009 14:09

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan pendistribusian artikel-artikel filem yang pernah ada di Indonesia, terutama yang ditulis oleh penulis Indonesia. Penyesuaian gaya bahasa dan struktur tulisan dilakukan tanpa mengurangi esensi dari isi tulisan.


ANEKA, No. 11 Tahun VI 10 Juni 1955

(III) SEJARAH FILEM SEBAGAI SENI: Muka yang Tak Terlihat

Tidak seperti orang-orang Eropa Barat yang dibebani kesusasteraan dan tonil, bangsa Amerika sejak awal memandang filem dengan kacamata lain. Dengan cara yang konsekuen mereka menolak semua kesamaan filem dengan sandiwara. Bangsa Amerika sadar betul bahwa layar putih yang terbatas bidangnya itu dapat memberikan kesempatan untuk mempertunjukkan banyak aksi, jauh melebihi sandiwara.

Dan perkembangan itu sesuai dengan jiwa orang Amerika. Demikianlah keadaannya, ketika di Eropa masih memperlihatkan peran-peran yang ganjil atau memainkan sandiwara kaku dengan cerita-cerita yang membosankan, di Amerika filem-filem koboi telah memperlihatkan pacu kuda dan perburuan mengerikan di padang-padang yang luas.

Dalam ruang bioskop yang sempit itu memancarlah cahaya dan udara dari layar. Alam yang tidak mudah diubah itu mulai mempengaruhi filem. Keajaiban alam itu mungkin tidak seberapa penting, tetapi di Amerika pemandangan itu menjadi latar di mana filem diberi tempat tersendiri di antara pertunjukan-pertunjukan lain seperti sandiwara.

Maka timbullah kesadaran bahwa kamera itu merupakan benda yang dapat “dipergunakan”. Kemungkinan-kemungkinan dinamik dalam filem oleh bangsa Amerika terasa begitu intuitif. Dengan tidak disadari, mereka telah menemukan perkembangan yang terlihat. Dengan penemuan ini mereka giat bekerja dalam lakon-lakon yang terkenal penuh dengan adegan melempar dan membanting. Selain filem-filem “Wildwest” perusahaan filem Keystone di tahun 1909 yang membuat filem-filem lucu periode awal –barangkali paling jernih dalam bentuknya, suatu permainan yang kocak dan keributan yang menimbulkan ramai gelak tawa dan menciptakan dunia khayal, dalam filem-filem “gag” (komedi) ciptaan Mack Sennett segala-galanya menjadi mungkin.

Berkat filem-filem ciptaan Mack Sennett terselip dalam ingatan kita tokoh-tokoh yang lucu, tingkah laku badut yang tidak-tidak, sepak terjangnya berlawanan dengan hukum alam. Rumah-rumah hancur dan berubah menjadi mobil, kepala yang telah dipotong dapat tertawa dan berbicara, dusun-dusun musnah namun terbangun kembali. Kalau kita lebih memperhatikan, muncullah filem tinju-tinjuan, tarcis yang dilempar-lempar, dan bidadari-bidadari molek yang hilang sekejap.

Di sini tampak perbedaan besar dengan perkembangan di Eropa. Di Eropa, titik berat filem-filem lucu diletakkan pada peran seorang saja dan kelucuan itu timbul akibat perbuatan-perbuatan si pemainnya. Di Amerika humor itu timbul dari filemnya sendiri dengan perantaraan kamera, lebih-lebih dari kekuatan teknis yang dipergunakan si pembuat filem.

Kalau kita berbicara tentang filem-filem Amerika periode pertama dengan sendirinya kita sampai pada nama orang yang mempunyai minat besar terhadap filem dan yang pertama-tama memiliki pengertian penyutradaraan filem seperti yang kita kenal sekarang ini. Orang itu bernama David Wark Griffith [1875-1948]. Dialah yang pertama kali dengan sadar melakukan close-up (ambilan dekat). Close-up adalah suatu ambilan dekat dari sesuatu dengan rinci. Umpamanya ambilan knop pintu, asbak, tangan, dan wajah orang. Efek ambilan demikian sungguh indah dan tidak menjadi soal lagi di zaman sekarang, akan tetapi seorang harus menemukannya terlebih dahulu, yaitu Griffith. Ia juga yang menemukan montase bayangan, dasar dari seluruh seni filem. Seperti beberapa tahun kemudian yang baru ditemui orang-orang Rusia. Akan tetapi untuk memberi kehormatan kepada yang sepantasnya: montase filem lahir di Amerika pada tahun 1903. Pelopornya ialah Edwin S. Porter, juru kamera yang bekerja untuk Thomas Alfa Edison. Dialah yang pertama mencoba membuat cerita dengan runut bayang-bayang. Dikarangnya suatu cerita sederhana dengan bayangan yang disambungkannya. Cerita itu diberi nama “The Life of an American Fireman”. Filem itu dimulai dengan kamar tunggu pos pemadam kebakaran. Di kamar itu terdapat seorang komandan pasukan kebakaran yang mengantuk. Lonceng kebakaran berbunyi dan tiba-tiba lonceng itu yang dibesarkan. Komandan muncul di layar putih, walau hanya sebelah atas badannya dan ketika ia menekan knop tanda bersiap. Itulah pertukaran ilusi yang pertama, dan cerita itu berlangsung dengan logis dan close-up. Sesudah itu terlihat ambilan pekerja pemadam kebakaran yang tergesa-gesa berpakaian sambil turun ke bawah melalui tiang-tiang dan memasang kuda di kereta, kemudian kuda-kuda itu dilecutnya (tema cerita yang banyak disukai waktu itu). Kepingan gambar terakhir itu dikutip Porter dari persediaan yang telah dikumpulkannya beberapa tahun. Sesudah itu tibalah pemadam-pemadam api itu di tempat kebakaran. Seorang ibu ditolong, kemudian seorang anak dan akhirnya pertemuan anak dan ibu. Suatu cerita yang amat sederhana. Filem yang dirancang dengan baik itu membuat penonton mengeluarkan keringat karena ketakutan dan menitikkan airmata karena gembira.

Lima tahun kemudian teknik itu dipakai Griffith dengan lebih memuaskan. Ia membuat filem-filem cerita petualangan menurut prinsip yang sama dan ia menjadi masyhur karena pemilihan adegan penutup dari filem-filemnya yang biasanya menggambarkan dua atau lebih perbuatan secara bersamaan. Umpamanya seorang nyonya yang terkurung dalam loteng sebuah rumah, sedang di tingkat bawah terlihat sumbu dinamit terbakar perlahan. Gambar kedua itu tampak berganti-ganti dengan pendekar yang datang berkuda dan rombongan penjahat yang menyediakan perangkap. Griffith sangat menggunakan logika dan psikologi yang jitu. Ia memilih gambar-gambar yang akan dimainkan [ditukar-tukar] dan diulang tepat pada waktunya. Karena pertimbangan pertukaran gambar yang matang, diperolehnya “spanning” yang sangat hebat. Ia juga menggunakan close-up dengan baik sebagai suatu percobaan yang berani di waktu itu, sebab penonton sudah terbiasa melihat peran-peran dalam keseluruhan cerita di layar putih.

Griffith memahami betul gambar-gambar yang terlepas itu sebagai foto-foto filem yang dapat berdiri sendiri dalam susunan keseluruhan. Ia memperlihatkan bahwa foto filem baru mempunyai arti jika ada hubungannya dengan gambar-gambar sesudahnya dan gambar-gambar yang akan dipertontonkan. Dari Griffith kita mendapatkan pelajaran bahwa seorang pembuat filem dengan menyusun gambar-gambar foto mampu mempengaruhi seseorang sampai orang itu percaya dengan apa yang dilihatnya. Sedang di Eropa, orang mengejek hal ini dengan sebutan semacam percobaan teknik foto dan mereka berlomba-lomba mengambil bagian-bagian sandiwara dengan kamera. Di Amerika orang mulai dengan montase, close-up dan sesuatu yang langsung berhubungan dengan kamera. Dengan ini perbedaan pengertian antara sandiwara dan filem pun terlihat. Antara sandiwara dan penonton tetap ada jarak. Sedangkan filem berhasil menghilangkan jarak itu, bahwa penonton bioskop bisa setiap saat dengan sendirinya mempersatukan diri dengan beberapa peran dalam filem adalah karena montase, close-up dan kamera. Hal ini, mau tak mau, menempatkan penonton di tengah-tengah kejadian sehingga kehidupan di dalam filem menjadi demikian kuat dan dapat menyatakan kehidupan pengalaman yang paling pribadi. Oleh close-up yang dirancang dengan baik, maka akan sanggup menciptakan keadaan yang dramatis (sedangkan tidak tampak aksi luar atau kenyataan) sebagai kejadian yang penuh ketegangan.

Tiap susunan bingkaian kamera (bagaimana objek akan dibingkai) dapat menjadi penglihatan seseorang yang melihatnya. Selain dari itu, akan terlihat cara si pembuat filem dalam menilai objek bingkaian. Jadi penglihatan kameralah yang menentukan arti simbolis ilusi filem. Close-up filem terbukti telah membuka suatu dunia baru yang menurut pandangan saya dapat disebut, “wajah yang tak kelihatan”. Artinya apa yang terselip dalam suatu wajah atau benda akan dapat dikemukakan oleh kamera secara rinci. Bukan saja emosi peran, tetapi juga emosi benda “mati” dan akhirnya emosi penciptanya sendiri. Sebenarnya kamera itu tidak menciptakan bentuk-bentuk baru. Tetapi akan terus berkembang setiap kali mendapatkan dan mengalami sesuatu, dan tiap kali diberikannya rupa baru dari yang telah ada sebelumnya. Justru kekurangan pengertian ini akan membawa banyak kekhilafan-kekhilafan besar di Eropa. Begitupun di Amerika, kendati Griffith yang dengan jasa-jasanya tidak pernah bermaksud membuat suatu ciptaan seni dengan kemungkinan-kemungkinan gambar filem yang ditemukannya itu. Penemuan-penemuannya itu hanyalah kecerdasannya belaka. Tak pernah ia memperdalam montase ataupun close-up. Griffith hanya ingin membuat filem cerita hasil kemampuan alat-alat tekniknya saja yang dituangkannya ke dalam filem-filemnya, karena itu ia berhasil mendapatkan kembali modalnya ditambah dengan bunga.

Kelincahan filem-filemnya kemudian akan memberikan ilham kepada avant-garde Prancis dalam pendirian mereka tentang “musik yang kelihatan” dan akan memberikan dasar kepada orang-orang Rusia untuk membuat teori montase revolusioner. Untuk sementara waktu –yang berlaku juga untuk ciptaan-ciptaan Griffith ini belum bisa disebut suatu seni filem yang hidup.

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Senin, 28 September 2009 14:17
 
More articles :

» Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

» Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955 (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955 (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 523
Konten : 147
Jumlah Kunjungan Konten : 158804

Artikel.Lain_!

Ingmar Bergman dan Swedia: Akhir Sebuah Epos
Sabtu, 03 Juli 2010

Pada 1944-45 saat perang dunia kedua hampir berakhir, debut dua artistik yang sangat sedikit berdampak pada situasi politik internasional tapi akan menjadi penentu utama wilayah kebudayaan Swedia terjadi. Pertama adalah penerbitan Pippi Långstrump...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Kamis, 03 September 2009

Dikompilasi oleh Jurnal Footage Kami tersentak mendengar kabar tentang pembunuhan tragis salah satu kritikus filem terbaik di Asia Tenggara, Alexis A. Tioseco. Dia begitu muda. Begitu penuh gairah. Bila sedang membincangkan filem, dia dapat dengan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat
Senin, 28 September 2009

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

Idul Fitri 1431 H
Rabu, 08 September 2010

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431H - - - 

Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik
Senin, 19 April 2010

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955   (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia) Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Arsip Kebudayaan Jonas Mekas
Kamis, 23 Juli 2009

“Di Lithuania, aku dikenal sebagai penyair, dan mereka tidak peduli tentang filem-filemku. Di Eropa, mereka tidak tahu tentang sajak-sajakku; di Eropa, aku adalah seorang sutradara filem. Tetapi di sini, Amerika Serikat, aku hanya menjadi seorang...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Kamis, 15 Januari 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Oberhausen ke-54: tua tapi aktual
Kamis, 12 Juni 2008

Para buruh seluruh dunia turun ke jalan di hari May Day, merayakan Hari Buruh Internasional yang jatuh di tanggal 1 Mei. Mereka menyuarakan hak-haknya kepada penguasa. Seluruh pemerintahan waspada dan menaikkan tingkat keamanan. Bahkan di Indonesia,...

Produksi Film Tjerita di Indonesia, Perkembangannja Sebagai Alat Masjarakat
Kamis, 29 April 2010

(Available only in Bahasa Indonesia) Ia bukanlah buku yang diterbitkan secara mandiri, tetapi merupakan terbitan khusus dari INDONESIA Madjalah Kebudayaan untuk edisi Januari dan Februari 1953. Majalah Indonesia memiliki tradisi untuk...

Bilal: Dilema Kebebasan dan Fasisme Ideologi Punk
Kamis, 17 Juli 2008

Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X...

Maklumat Filem Bersuara
Senin, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Di Dasar Segalanya: Citra Kecemasan Surealis
Minggu, 20 Desember 2009

Pada 17 Desember, 2009, saya berkesempatan untuk menonton filem kedua Paul Agusta, Di Dasar Segalanya (At The Very Bottom of Everything) di Kineforum, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Berbeda dengan filem pertamanya, Kado Hari Jadi, kemasan filem ini...

Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading
Rabu, 20 Januari 2010

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan
Sabtu, 19 Desember 2009

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Nicholás Echevarría: Mitos Sebagai Bentuk Kreativitas
Rabu, 27 Mei 2009

Nicolás Echevarría adalah seorang sutradara, produser, dan sinematografer yang bergelut di dunia filem maupun televisi, membuat dokumenter dan filem-filem fiksi. Dia merupakan salah satu pembuat filem ternama di Meksiko. Dia mengawali karir...

Sekarang, Filem Pendek (Tidak) di Tangan Konfiden
Senin, 23 November 2009

Waktu akan tetap memperhatikannya (Konfiden-red.), konsistensi dan keseriusannya akan teruji, sejauhmana bisa bertahan dengan visi yang ada. Demikian juga sejauhmana jika terjadi perkembangan yang membuat para aktivisnya bisa bertahan pada visi...

Jim Henson: Sutradara Filem Eksperimental, Bapak The Muppet Show dan Sesame Street
Selasa, 12 Januari 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Beberapa waktu lalu saya membuka sebuah situs jejaring seni media baru (new media arts) www.rhizome.org. Saat melihat dan membuka situs ini saya berhenti sejenak di sebuah video yang di-upload oleh...

Sejarah Filem Sebagai Seni (2): Pengaruh Sandiwara
Rabu, 02 September 2009

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)
Rabu, 20 Januari 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Teater yang Difilemkan
Rabu, 09 September 2009

Jurnal Footage kembali menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian kedua dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Filem berikut kita ialah My Night at...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

Prima Rusdi: Satu Dekade Reformasi Bisa Percuma
Kamis, 12 Juni 2008

Untuk memperingati sepuluh tahun reformasi, Proyek Payung menggelar acara pemutaran sepuluh filem pendek dari sepuluh sutradara muda di Kineforum tanggal 12-20 Mei 2008. Sambutan penonton terbilang memuaskan. Apa dan kenapa Proyek Payung didirikan?...

Dua Sisi Penyelenggaraan Kompetisi Filem
Senin, 01 Desember 2008

Trauma terhadap tekanan kekuasaan dua negara fasis Jerman dan Italia dalam penyeleksian Festival Filem Venezia di akhir 1930an, Jean Zay, Menteri Pendidikan Prancis, memutuskan membuat festival yang diselenggarakan di Prancis. Pada waktu itu,...

Melati van Agam: Produksi Paling Baru dari Tan's Film
Rabu, 03 Maret 2010

Pengantar   Filem Melati van Agam diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Swan Pen yang bernama sebenarnya  Parada Harahap (1899-1959), salah satu tokoh pers nasional yang telah bekerja di Pewarta Deli, Benih Merdeka, Sinar Merdeka, Bintang...

Suatu Hari Kita Hanya Akan Mengenang Seluloid
Selasa, 12 Agustus 2008

Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Senin, 26 Juli 2010

Pameran7-13 Agustus 2010 (hari Minggu tutup)Pukul 10.00-17.00 TempatGoetheHaus, JakartaJl. Sam Ratulangi No.9-15 Menteng, Jakarta PembukaanJumat, 6 Agustus 2010, pkl. 19.00 Videotalk bersama Anggun Priambodo (pembuat video musik) & Indra Ameng...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net