I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh Mirza Jaka Suryana   
Sabtu, 19 Desember 2009 20:19

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis yang menggambarkan kondisi sosial politik masyarakat Eropa abad kesembilan belas. Penyihir-penyihir wanita diburu dan digantung mati atas nama inkuisisi agama. Para inkuisitor, begitu gesa untuk memurnikan batin masyarakat. Sebab dalam pandangan mereka, hal-hal gaib bisa menjadi sesuatu yang mengguncang keimanan seseorang. Filem horor, dalam beberapa sisi, mampu merepresentasikan rasa takut masyarakat itu. Filem horor bukanlah sekadar gambaran rasa takut intim dari pribadi-pribadi. Filem horor menjadi gambaran masyarakat di setiap zaman. Ketakutan akan kondisi sosial politik yang tidak menentu, kediktatoran seorang penguasa, dan lain-lain, bisa secara implisit dipertunjukkan oleh filem horor. Sebab, rasa takut merupakan sesuatu yang asali. Hampir semua manusia memiliki rasa ini.

paranormalparanormal-activity-dwrks2

Dengan filem horor, rasa takut itu dapat dikembangkan sampai ke titik puncak. Darah, teriakan histeris, menjadi sangat identik dengan filem horor. Penonton kemudian diberikan sugesti bahwa ketakutan yang tertuang dalam gambar itu nyata. Namun, seiring berjalannya waktu, dan komersialisasi ketakutan, filem horor sekarang begitu banyak yang menampilkan kengerian superfisial. Muatan psikologis dan sosial politik hampir tidak tampak pada kebanyakan filem horor. Penonton filem horor kemudian hanya diberikan sesuatu yang ilusif, yang jauh dari kenyataan, dan membayangkan hal-hal yang sama sekali melecehkan intelektualitas.

Saat saya mencoba menonton satu filem horor beberapa waktu lalu di bioskop, dari awal saya sudah skeptis. Akankah filem horor yang satu ini sekadar menampilkan ilusi? Dan kemudian membuat saya kecewa telah mengeluarkan rupiah demi menonton sebuah filem yang sama sekali tidak berharga untuk ditonton? Tiket sudah dibeli. Suka tidak suka, saya harus menonton filem ini. Judulnya Paranormal Activity. Sebuah filem karya Oren Peli, bekas programer video game. Ini merupakan filem pertamanya. Saya tahu filem ini dari internet, ketika saya menyaksikan trailer orang-orang yang ketakutan menonton filemnya. Bukan karena orang-orang ketakutan itu yang membuat saya tertarik membeli tiket dan menonton filem sampai habis. Melainkan karena peralatan yang digunakannya. Minim bujet, tapi menghasilkan limpahan emas bagi sang sutradara. Filem ini banyak dipuji sejak kemunculan pertamanya di salah satu Festival Filem Horor Independen di Amerika Serikat. Kata independen cukup membuat saya tertarik, meski ini terbilang klise. Sebab, pada akhirnya, toh, filem ini didistribusikan oleh sebuah perusahaan besar, Paramount Pictures, di mana nama Steven Spielberg juga tercantum di dalamnya. Singkat cerita, saya mendatangi sebuah bioskop dan langsung membeli tiketnya.

paranormal_activity_02

Pada awalnya, memang tidak ada yang istimewa dari filem ini. Paranormal Activity tampaknya bukan sebuah filem horor yang berteriak-teriak. Tidak ada gerakan yang terlalu untuk menunjukkan kengerian orang berkait dengan hal-hal supranatural. Ambilan kamera statis, jauh dari kesan gambar horor yang biasa saya lihat. Tapi, justru inilah yang menarik perhatian saya untuk lebih lanjut menonton filem ini sampai habis. Saya merasa mendapatkan keintiman dengan ambilan-ambilan kamera statis yang ditunjukkan filem ini. Intensitas ketegangan pun terbangun dengan baik, dan sebagai penonton, saya merasa terlibat dengan setiap ekspresi kengerian yang disampaikan filem ini. Saya, yang terbiasa tertawa ketika menyaksikan riasan berlebih dan efek suara filem horor, yang dimaksudkan untuk membangkitkan rasa takut, tidak dapat tertawa ketika menyaksikan Paranormal Activity. Filem ini, tampak begitu alami. Pemerannya bermain dengan sangat organis dan saya merasakan intensitas ketegangan itu.

Paranormal Activity berkisah tentang sepasang kekasih yang tinggal bersama di San Diego, Amerika Serikat. Pasangan ini memiliki masalah dengan mahluk gaib. Katie (Katie Featherston) selalu diganggu oleh hantu masa kecilnya. Kekasihnya, Micah (Micah Sloat), mencoba membantu mengatasi masalah Katie. Dengan menggunakan kamera video, Micah mulai merekam setiap kegiatan supranatural di dalam rumah mereka. Setiap malam, ia menghidupkan kameranya di kamar mereka dan membiarkan kamera itu merekam kegiatan dalam kamar sampai pagi hari. Di siang hari, Micah mengecek hasil rekaman pada saat mereka tidur dan menemukan berbagai kejadian aneh. Awalnya, semua biasa saja. Rekaman kamera tidak menunjukkan kejadian aneh sama sekali. Sampai suatu saat, Katie yang ketakutan mengundang seorang cenayang (Mark Fredrichs). Micah tidak terlalu antusias dengan kehadiran cenayang ini dan mengolok-oloknya dengan kamera. Sang cenayang memperingatkan pasangan tersebut akan mahluk yang ia sendiri tidak dapat mengatasinya. Kehadiran kamera dianggap oleh sang cenayang sebagai ancaman karena akan membuat mahluk gaib itu bereaksi. Sang cenayang pun menganjurkan Katie untuk menghubungi kawannya yang ahli dalam mengatasi mahluk-mahluk gaib, namun Katie tidak pernah dapat menemuinya.

Dalam filem ini, setiap kejadian terekam dalam kamera video. Terutama ketika pasangan itu tidur di malam hari. Hingga akhir cerita, kamera video menjadi elemen penting dalam menangkap kejadian menegangkan. Filem pun berakhir dengan terbunuhnya Micah oleh Katie yang kerasukan hantu pengganggunya itu. Akhir yang bisa ditebak namun cukup membuat tegang penonton yang berada di ruang gelap bioskop. Satu catatan dari filem ini: pertunjukan darah, yang biasa dalam filem horor, diperlihatkan sangat sedikit dalam filem ini. Kehadiran darah hanya diperlihatkan di akhir filem sebagai penegas.

Paranormal Activity bisa dianggap sebagai gambaran masyarakat Amerika Serikat saat ini, yang begitu bising dan sangat terganggu dengan suara-suara. Sebuah kritik terhadap polusi. Suara mobil, aksi mesin-mesin yang menggerus ketenangan jiwa di waktu orang seharusnya tidur, merupakan sesuatu yang ingin digambarkan dalam filem ini. Suara menjadi bentuk ketakutan tersendiri. Bahkan, tidur yang seharusnya menjadi waktu istirahat, menjadi pengganggu. Dengan cerdik, Oren Peli memilih horor sebagai ungkapan kritisnya akan polusi suara. Ini yang jarang terjadi pada filem horor kebanyakan. Bahwa polusi suara itu menakutkan. Bahkan, membuat tidur orang tak tenang. Saya merasa, filem ini jauh dari kesan ilusif, yang sering ditunjukkan filem-filem bergenre horor.

paranormal-activity-bedroom1still-from-paranormal-activity

 

Kamera Video dan Intimasi Ketegangan

Hal menarik dalam filem Paranormal Activity adalah penggunaan kamera video. Segala bentuk ketakutan pemeran utamanya ditangkap melalui medium ini. Unsur reality TV tampak jelas mempengaruhi gaya penceritaan filem. Sang sutradara, tampaknya sadar benar bahwa reality show, merupakan tayangan yang mampu melibatkan emosi penonton. Meski tayangan-tayangan seperti itu manipulatif, tapi penonton awam tetap akan terlibat di dalamnya secara emosional. Ambilan-ambilan gambar yang intim justru membuat filem ini benar-benar menakutkan. Posisi kamera yang diam, menjadi sebuah revolusi tersendiri dalam filem bergenre horor. Posisi ambilan gambar mapan itu membuat penonton benar-benar dapat meresapi persoalan yang ingin disampaikan sutradara. Oren Peli tampak ingin mendapatkan gambar-gambar organis dari para aktornya. Hal ini ia ungkapkan sendiri dalam sebuah wawancara: ia tidak ingin membuat aktor-aktornya mengkhawatirkan pencahayaan atau sudut kamera yang mungkin akan mengalihkan perhatian mereka. Sedapat mungkin, ambilan gambar dibuat secara alamiah.

Ketika Micah memasang kamera pada tripod di kamar tidur mereka, hal inilah yang membedakan Paranormal Activity dengan berbagai filem horor lain. Gambar yang dihasilkan tampak natural dan jelas mengejutkan. Sebab, kebanyakan filem horor diambil dengan kerja kamera berputar dan pegang tangan (hand-held) yang justru memusingkan sebagian penonton, terutama yang memiliki penyakit vertigo. Sebab itulah, ambilan gambar statis menjadi begitu subversif dan berbeda dari pakem filem-filem bergenre horor. Ketegangan menjadi lebih terasa. Penonton dipaksa untuk memperhatikan setiap adegan, dan, mau tidak mau, terlibat dalam setiap luapan emosi para aktornya.

Kamera video, yang menggunakan elemen piksel terasa lebih dekat dengan penonton. Tidak seperti kamera seluloid yang tampak memisahkan diri dengan realitas emosi penonton, video membuat batas-batas itu mencair. Hasilnya, intensitas ketegangan pun dapat ditangkap dengan baik oleh para penonton. Ketika saya bandingkan dengan filem horor buatan sutradara Indonesia, saya berpikir, mereka harus lebih banyak lagi belajar untuk mempertunjukkan jenis ketakutan yang tidak hanya sekadar permukaan. Bagaimana membangun intensitas dan intimasi dengan penonton adalah inti persoalan yang belum bisa dipecahkan sutradara filem horor Indonesia. Persoalan hantu dan klenik sebagai representasi sosial dan politik, menjadi persoalan lain, yang sampai sekarang masih jauh dari harapan. Saya berharap banyak pada sutradara filem horor Indonesia untuk dapat memunculkan berbagai representasi tersebut. Bukan hanya sekadar membangun ketakutan ilusif yang begitu melecehkan intelektualitas bangsa Indonesia.

t13911gyhfi

Hits
Comments
Add New Search
Tera  - nice   |125.166.208.xxx |2009-12-20 00:09:15
masih sangat teknis
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Sabtu, 19 Desember 2009 20:27
 
More articles :

» Sejarah Filem Sebagai Seni (I)

Jurnal Footage akan memuat kembali tiga artikel tentang sejarah filem yang ditulis oleh tiga penulis berbeda: Herman Pratikto dan H. Asby (Indonesia) dan B.J. Bertina (Belanda) yang sudah diterjemahkan oleh majalah Aneka pada 1955. Tiga artikel ini...

» Jermal dan Totalitas Neorealisme

(Sementara tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Filem Jermal meneguhkan kembali kaidah-kaidah neorealisme. Filem cerita panjang kedua yang disutradarai Ravi Bharwani bersama Rayya Makarim, Utawa Tresno dan diproduseri oleh Orlow Suenke ini...

» Tentang Torrent

Saat ini, banyak sekali orang di seluruh dunia mengunduh musik dan filem dari web melalui P2P (Peer-to-Peer) ataupun BitTorrent. Dan sewajarnya industri melihatnya sebagai sebuah ancaman dan mencoba untuk membasminya, walaupun usaha itu tampaknya...

» Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)

(tersedia hanya dalam Bahasa Indonesia) Film Nyai Siti Atau De Stem Des Bloeds (Suaranya Darah)1Keluaran The Cosmes Film Corporation di BandungPanorama2, No. 175, 10 Juni 1930, Tahun ke 4Pada malam Minggu tanggal 22 Maret telah kita saksikan film...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (7): Menara Gading

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)Dalam perkataan filem mutlak terselit sesuatu yang 100%. Obyeknya sendiri menjadi gejala tulen atas kenyataan sebenarnya yang menjadi citra sederhana dan kenyataan yang ada menjadi impresi. Citra yang...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 519
Konten : 146
Jumlah Kunjungan Konten : 157407

Artikel.Lain_!

Soal-soal Seni Pada Filem Disaat Ini
Kamis, 12 Juni 2008

(This article is only in Bahasa Indonesia) Dimuat di MINGGUAN SIASAT edisi Minggu-12 Nopember 1950, Minggu-19 Nopember 1950, Minggu-26 Nopember 1950, dan Minggu-3 Desember 19501927 adalah tahun yang sangat berarti bagi dunia filem. Tahun itu menutup...

In Memoriam: Alexis Tioseco (1981-2009)
Kamis, 03 September 2009

Dikompilasi oleh Jurnal Footage Kami tersentak mendengar kabar tentang pembunuhan tragis salah satu kritikus filem terbaik di Asia Tenggara, Alexis A. Tioseco. Dia begitu muda. Begitu penuh gairah. Bila sedang membincangkan filem, dia dapat dengan...

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru
Jumat, 24 Juli 2009

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...

Refleksi Ontologi Sinematografi
Rabu, 22 Oktober 2008

Ontologi sinematografi dan refleksinya pada sinema merujuk pertanyaan soal apa itu filem, apa yang membuat sebuah filem menjadi filem, dan untuk menilai apa yang akan disebut Wittgenstein sebagai tata bahasa konsep kita soal filem beserta peranan...

Sinema Digital dan DVD
Senin, 28 September 2009

Jurnal Footage menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Ini adalah bagian terakhir dari seri wawancara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder. Ciri lain filem Anda ialah musik, yang...

Alex Sihar: Tantangan Membuat Bahasa Video Untuk Lebih Dikenal
Minggu, 23 Agustus 2009

Tahun 2009 ini, Yayasan Konfiden, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pengembangan, penyebarluasan pengetahuan dan pemanfaatan media audio visual bagi kepentingan pemberdayaan, peningkatan apresiasi dan dukungan atas inisiatif masyarakat kembali...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Kamis, 15 Januari 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Jalan Tak Ada Ujung: Transaksi Kesepakatan Tanda
Senin, 24 November 2008

“Ada patokannya ga?”Empat kali pertanyaan ini diutarakan oleh si penelepon dalam video Jalan Tak Ada Ujung karya Maulana Adel Pasha. Pertanyaan yang begitu penting bagi si penelepon untuk menemukan rumah ‘itu’. Transaksi tanda pun terjadi....

Under The Tree: Gagalnya Garin Dalam Menolak Monisme Moderenitas
Senin, 28 Desember 2009

Gelaran Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 tahun ini disemarakkan oleh seksi Indonesian Feature Film Competition (IFFC) yang memperlihatkan kelayakan kualitas filem nasional di tingkat internasional. Dalam IFFC ini diseleksi...

Refleksi Atas Istilah dan Tema, Catatan Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI 2010
Jumat, 25 Juni 2010

(Temporarily available only in Bahasa Indonesia) Menghadiri Malang Film Video Festival (Mafvie) VI pada tanggal 8-10 Juni 2010, pertanyaan yang pertama kali muncul adalah apa yang membedakan festival ini dengan festival lainnya? Sampai dengan hari...

Ambivalensi Sikap Chaerul Umam
Rabu, 10 Maret 2010

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Ideologi dan Fantasi (Slavoj Žižek #01)*
Kamis, 29 Juli 2010

PENDAHULUAN Bayangkan diri kita berada dalam situasi standar kecemburuan khas chauvinisme pria: tiba-tiba saja, saya mendapati pacar saya berhubungan seks dengan pria lain. Oke, tak masalah, saya seorang pria yang rasional, toleran, saya bisa...

Paranormal Activity: Polusi Suara Menakutkan
Sabtu, 19 Desember 2009

Haxan, besutan sutradara Swedia, Christensen, merupakan filem horor dengan muatan sosial politik yang kental. Haxan tidak hanya menggambarkan ketakutan manusia pada soal-soal supranatural. Lebih dari itu, Haxan merupakan sebuah dokumenter historis...

Sepuluh Sutradara Sepuluh Tahun Reformasi
Kamis, 12 Juni 2008

Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...

Experimentelle Deutsch-Indonesische Musikvideos
Senin, 26 Juli 2010

Pameran7-13 Agustus 2010 (hari Minggu tutup)Pukul 10.00-17.00 TempatGoetheHaus, JakartaJl. Sam Ratulangi No.9-15 Menteng, Jakarta PembukaanJumat, 6 Agustus 2010, pkl. 19.00 Videotalk bersama Anggun Priambodo (pembuat video musik) & Indra Ameng...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Rabu, 16 Desember 2009

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

Chris Marker: Dalam Ingatan Teknologi Baru
Jumat, 12 Juni 2009

1. Ingatan KakuSaya ingat membicarakan filem cerita mutakhir Chris Marker, Level Five (1996), dengan seorang teman saat pertama kali filem itu keluar. Pada umumnya ia terkesan, tapi gundah oleh istilahnya sendiri: “pandangan seorang tua atas...

Video: The New Wave
Kamis, 31 Desember 2009

Menelisik Genealogi Seni Video Dunia   Perkembangan seni video di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir sangat menggembirakan. Berbagai gelaran seni rupa telah memasukkan seni video sebagai bagian dari pameran seni kontemporer. Bahkan seni video...

Ariani darmawan: Bioskop Independen sebagai Perlawanan
Selasa, 12 Agustus 2008

Bioskop independen hadir sebagai bentuk perlawanan dari bioskop-bioskop kebanyakan. Tapi apa sebenarnya yang dilawan? Mungkin saja tidak ada yang dilawan, sebab membicarakan perlawanan dalam filem-filem yang sering disebut independen di Indonesia...

Berita Gempa
Kamis, 01 Oktober 2009

Alam memang memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dalam satu bulan terakhir terjadi sebanyak 30 gempa kecil maupun besar di bumi Indonesia. Tiga gempa di antaranya termasuk besar. Pertama Tasikmalaya, Jawa Barat, lalu Yogyakarta, dan...

"Media" di Kepala Rafaël Rozendaal
Jumat, 19 Februari 2010

Dalam beberapa pameran video dan seni media yang sempat saya kunjungi, kehadiran karya-karya video menjadi salah satu bagian yang penting dalam presentasi seni media. Namun, bagaimanakah kita mendefinisikan "karya" video tersebut? Dalam perspektif...

Dian Herdiany: Komunitas Video Harus Berjalan Mandiri
Senin, 21 Juli 2008

Berawal dari peristiwa gempa Yogyakarta yang mengenaskan  di tahun 2006, komunitas Kampung Halaman datang dan menawarkan program pemberdayaan masyarakat melalui video. Bidikannya muda-mudi. Pendekatannya yang unik membuat Kampung Halaman berhasil...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Tak Ada Kejutan Dari Sang Pemimpi
Senin, 28 Desember 2009

Filem yang secara perdana dirilis sebagai pembuka pada penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2009 ini telah ramai ditonton orang meski belum genap seminggu. Antusiasme penonton sangat terasa untuk menuntaskan rasa penasaran...

Orkestrasi Filem Bisu di Gedung Kesenian Jakarta
Kamis, 12 Juni 2008

Awalnya, filem bisu hanya diiringi oleh pemain piano tunggal sebagai pengisi suara. Kemudian, dalam perkembangannya, filem bisu diiringi oleh musik orkestra. Gubahan-gubahan orkestra terbaru pun dipertunjukkan.Rabu lalu, 14 Mei 2008, sebuah ensembel...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Der Leztze Mann: Kemandirian Sinema Murnau
Kamis, 17 Desember 2009

Pada sebuah adegan, seorang doorman berada di depan pintu hotel mewah, dengan wajahnya yang berwibawa selalu siap melayani para tamu. Ia begitu ramah di tengah lalu lalang kesibukan para tamu hotel. Suatu ketika, dua orang perempuan keluar dari...

Info Festival Film Purbalingga 2010: “Melihat Kita”
Sabtu, 22 Mei 2010

Pada penyelenggaraan Festival Film Purbalingga (FFP) keempat ini, FFP menghadirkan tema “Melihat Kita”. Melihat Kita adalah sebuah ajakan untuk melihat dan menilai kembali kejadian-kejadian di sekitar kita dalam aspek sosial dan budaya....

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net