I S S N  1979 - 5009   KILAS:  
English

Unduh.Torrent_!

  • Germany Anno Zero | 1948 | 78 menit | BW | Roberto Rosselini
  • La Strada | 1954 | 104 menit | BW | Federico Fellini
  • La Terra Trema | 1948 | 160 menit | BW | Luchino Visconti
  • Ladri di Biciclette | 1948 | 93 menit | BW | Vittorio de Sica

Torrent.Softwares_!

Torrent Client adalah sebuah aplikasi atau software yang memiliki kemampuan untuk merequest, mengunduh atau proses sharing lewat protokol BitTorrent. Contohnya adalah uTorrent, Azureus (Vuze), Transmission, BitTorrent ataupun BitComet. Setelah mengunduh berkas torrent di atas, gunakan torrent client sebagai media transfer antar file-nya. Di bawah ini adalah tautan untuk mendapatkan aplikasi tersebut.

software-bittorrent
software-transmission
software-utorrent
software-vuze

Klik di sini untuk info lanjut

Tokoh_!

abduh-aziz
alexis-tioseco
bronnt-industries-kapital
budi-darma
chaerul-umam
chris-marker
eric-rohmer
fernando-solanas
fritz-lang
garnet-hertz
ingmar-bergman
intan-paramadhita
jean-epstein
jean-luc-godard
jim-henson
jonas-mekas
jussi-parikka
komunitas-filem
von-trier
namjunepaik
nia-dinata
nicolas-echevarria
peter-scherkassky
rafael-rozendaal
riri-riza
slavoj-zizek
toshio-matsumoto

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh B.J. Bertina diselaraskan oleh Divisi Litbang Forum Lenteng   
Sabtu, 19 Desember 2009 20:51

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI)

Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni filem. Kalau tidak, tentu ia tidak merasa ragu dengan citra pictural-nya ketika mencipta filem Dr. Mabuse der Spieler sebelum manifestasi Die Nibelungen: Kriemhelds Rache. Bentuk filem motoris yang telah mencapai kedinamisan yang hebat dan irama luar biasa dalam montase rangkai bayangan cepat dan statis. Penonton dengan kasat mata bisa membuktikan kejeniusan Fritz Lang dari filem Die Nibelungen: Kriemhelds Rache-nya, maka filem Dr. Mabuse der Spieler-nya sebagai awal penciptaan seni filem pictural-nya juga dapat dijadikan bukti bagaimana ia ahli dalam membuat filem-filem seperti itu.

xn9b5pa1au091aubdr_mabuse_2dr_mabuse_1

Di awal tahun duapuluh abad ini, pertama kalinya orang mendengar perkataan avantgarde dalam perdebatan-perdebatan yang hebat di sekitar perkembangan seni filem yang masih ragu-ragu. Avantgarde berarti garis depan. Pelopor yang berjuang di garis depan dalam memperjuangkan sesuatu. Merekalah yang pertama-tama mempertahankan seni filem dan berhak disebut sebagai pelopor filem. Di antara pasukan berani mati ini, banyak tokoh yang buas dan kejam dalam memperjuangkan dan mempertahankan cita-cita filem ideal. Di masa seruwet itu –ketika pelaku filem bekerja susah payah [pasca Perang Dunia I] membangun kembali dunia filem yang berserakan– muncullah gelombang avantgarde dalam dunia filem yang berusaha menduduki wilayah-wilayah kecil dan melepas ketergantungan dari ibu tentara industri filem. Sejarah kemunculan avantgarde dipenuhi dengan lagu-lagu asing atau lebih tepat dikatakan, ‘penuh dengan keganjilan’. Gejala ini dimulai sekitar tahun 1920. Seniman-seniman muda Jerman dan Prancis yang kebanyakan terdiri dari pelukis dan pemahat mulai terlibat dalam sinema dengan caranya yang berbeda dari yang dilakukan orang-orang filem pada umumnya. Filem-filem ganjil dan eksperimental itu kemudian dipertunjukkan pada sejumlah kecil yang menaruh perhatian. Sesudah itu, mereka melangsungkan diskusi tertutup. Aktifitas mereka tak menarik perhatian publik. Apalagi kritik filem yang baru berkembang. Sampai di tahun 1924, Fritz Lang yang jenius dengan seni filem pictural-nya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, memberi kesempatan seorang pemuda yang tidak dikenal untuk menciptakan seni filem yang berdurasi pendek sebagai pengisi adegan mimpi Kriemhilde. Adegan yang kelak termasyhur dan ramai dibicarakan orang.

Filem Die Nibelungen: Kriemhelds Rache berdurasi cukup panjang. Dongeng Nibelungen tentang kisah dewa Jerman yang dicipta Fritz Lang dalam rangkai citra statis dan dekor latar yang hebat. Pendek kata, filem ini adalah puncak yang dapat dicapai oleh seni filem. Terlebih karena filem ini merupakan pencapaian seni pictural. Dalam cerita tampak seorang pahlawan bernama Siegfried yang berangkat ke medan pertempuran. Permaisurinya, Kriemhilde, hidup dalam ketakutan dan bermimpi Siegfried tewas dalam pertempuran. Berbeda dengan sutradara-sutradara lain masa itu yang akan memperlihatkan adegan gamblang Siegfried yang bertempur hebat dan tewas, Fritz Lang berbeda. Ia berkata kepada seorang pelukis muda yang tidak terkenal, “Saya ingin adegan yang lain dalam hal ini dan hanya beberapa detik lamanya.” Pemuda itu bernama Walter Ruttmann. Mulailah ia bekerja dan menciptakan adegan mimpi Kriemhilde sebagai intermeso dalam beberapa detik di tengah filem yang berjam-jam lamanya itu dan bagi banyak orang adegan itu sangat menakjubkan.

mabuse

Mendiang Dr. Menno ter Braak menguraikan adegan mimpi ini, “bentuk-bentuk hitam dan putih bertambah lama berubah menjadi burung-burung besar yang fantastis dan mendirikan bulu roma.” Dan apakah perspektif penonton ‘Ketakutan dan ancaman di dalam mimpi Kriemhilde’ melalui pencitraan dalam bentuk dan garis yang mengerikan dan akhirnya menjadi burung besar yang menyambar seekor merpati. Tak seorang penonton pun yang tidak mengalami perasaan yang menggenggam jiwa Kriemhilde itu. Di luar itu, perhatian kritik untuk pertama kali ditujukan pada seni filem sebagai sebuah pernyataan yang kekal, fasih dan asali.

Dan kini kita sampai pada suatu soal mutlak, ‘seni filem adalah seni gerak’. Ini tidak berarti bahwa citra-citra itu harus memperlihatkan manusia atau kuda yang berlari cepat melalui padang rumput. Tetapi ini berarti citra-citra yang runut itu memperlihatkan gerak dan irama. Ini tentu tidak secara langsung mengurai makna burung-burung yang dicipta Walter Ruttmann, tetapi sebagai hasil nyata dari percobaan-percobaan yang telah menghasilkan burung-burung yang menerkam itu.

Saya teringat ketika pertama kali menonton Opus 2, 3, dan 4 ciptaan Walter Ruttmann. Lampu-lampu dipadamkan di ruang pertunjukan dan di layar putih tampak kalimat, “Pertunjukan ini tak membutuhkan pikiran.” Sesudah itu terlihat permainan gerak yang musikal dari rupa-rupa garis, dataran, bentuk dan kadang-kadang warna-warna yang berirama dalam terang dan gelap. Peringatan Ruttmann untuk melengahkan pikiran memang benar. Melalui filem-filem ekspresionis dari zaman Caligari, setiap penonton bersapa pada dirinya, apa sebenarnya maksud pencipta. Dugaan-dugaan yang paling aneh dan asosiasi-asosiasi pikiran mengenai maksud Ruttmann pun timbul.

Maksud Ruttmann tidak lain daripada meneliti gerak filem dalam bentuknya yang primitif. Mata penonton dibuat untuk mendengar. Setelah Ruttmann menukar garis-garis dan bentuk-bentuk niskala [abstrak] menjadi manusia hidup dan objek-objek nyata, dan setelah citra-citra filemnya tak berhenti menjejal mata penonton, maka terbuktilah kemampuan seni bebas ini yang membedakannya dari bentuk-bentuk seni yang lain. Ini adalah pendapat yang bisa ditemukan melalui landas-landas logika. Namun banyak orang tak sudi menerimanya dan mereka curiga kalau perkembangan seni filem telah menyimpang ke jalan yang ditempuh Ruttmann, karena filem dengan aspeknya yang sederhana telah memikat hati mereka.

Bagi mereka-mereka yang ingin membuktikannya, jelas bahwa filem Berlin, Symphonie einen Groszstadt (1927) buatan Ruttmann, pada hakekatnya tidak banyak berbeda dengan opus niskala nomor 2, 3, dan 4 miliknya itu. Bagi mereka, filem tersebut memiliki kenyataan luar biasa. Hanya melalui visual sehari-hari dari dunia sekeliling mereka, aliran irama dapat terbingkai oleh kamera dan disusun menjadi permainan gerak filem.

417px-Berlin_symphony1_posterberlinGrosstadt_posterberlinsymphony

Avantgarde filem Jerman dibentuk oleh Viking Eggeling, Hans Richter dan Walter Ruttmann (semuanya pelukis); Piel Jutzi, Robert Siodmak dan Carl Junghans juga turut ambil bagian. Dapat juga disebut nama-nama seperti Ernö Metzner, Ernst Angel dan beberapa orang lagi. Viking Eggeling, pelukis muda Swedia yang meninggal di tahun 1926 telah mempertunjukkan filem niskalanya yang pertama di tahun 1919, Symphonie Diagonale. Hans Richter dikenal karena studi-studi filemnya Vormittasgsspuk, Inflation, Rennsumphonie dan Dreigroschenzauber. Ia telah mengembangkan metode montase seperti yang dikembangkan Fritz Lang dalam Dr. Mabuse, dan kelak menginspirasi tokoh filem Rusia, Sergei Eisenstein. Richter menghendaki montase didaktis dan intelektual. Melalui sudut kameranya yang entfesselt itu, persoalan benturan latar-latar objek mati dan pemain-pemain yang hidup dapat terselesaikan.

Di bawah pengaruh avantgarde, maka di tahun 1929 didirikanlah Studio Film 1929 pimpinan Moritz Seeler, dengan Robert Siodmak, Edgar Ulmer, Billei Welder, dan seorang ahli kamera, Eugen Schufftan sebagai anggota. Dari kolaborasi ini terciptalah filem Menschen am Sonntag, filem dokumenter yang diperankan –aktor-aktornya hanya sebagai alat. Sutradara filem Piel Jutzi yang terpengaruh oleh gaya Pudovkin juga termasuk golongan avantgarde dengan filemnya Mutter Krausens Fahrt ins Glück. Filem avantgarde dengan gaya Rusia lainnya adalah So ist das Leben ciptaan Carl Junghans. Dari tangan Erno Metzner terbitlah filem Uberfall. Sedang Ernst Angel membuat filem di jalanan, di mana ia bercakap-cakap dengan para pelancong, maka terciptalah filem Jagd auf Dieh.

Kelebihan avantgarde Jerman karena kepopulerannya di masyarakat. Terlebih karena pendekatan dokumenter dari kenyataan yang hampir tak ditemui pada produksi filem-filem Jerman di zaman itu. Dari unsur-unsurnya yang niskala dan mutlak itu, orang tak banyak mengerti tetapi mereka memberi kesempatan kelompok avantgarde sebagai ‘metode reklame’. Mereka tidak peduli apakah mereka mempergunakan cita-cita itu untuk tujuan komersial. Dan ini tidak mengherankan. Umpamanya ketika pertunjukan di teater-teater besar, gubahan Richter dipakai sebagai pembuka untuk menarik perhatian penonton terhadap filem utamanya. Baik juga kiranya jika saya katakan bahwa jurang antara publik dan sineas dalam avantgarde Jerman tidak begitu dalam seperti yang terjadi di Prancis di mana sineas dengan sombong bersangka bahwa mereka bekerja untuk seni baru dan mengasingkan diri dalam menara gading absolutisme yang niskala itu.

mutterkrause

 

 



Die Nibelungen: Kriemhelds Rache

 

Berlin, Symphonie einen Groszstadt

Act. I

Act. II

Act. III

Act. IV

Act. V


Opus I

 

Opus IV

Hits
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Title:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Terakhir Diperbaharui: Selasa, 22 Desember 2009 22:34
 
More articles :

» Sejarah Filem Sebagai Seni (3): Muka yang Tak Terlihat

Sejak munculnya filem di Indonesia tahun 1900, banyak artikel-artikel di media massa cetak yang kritis membahas kehadiran filem di masyarakat. Penerbitan kembali artikel sejarah filem oleh Jurnal Footage adalah salah satu cara pendokumentasian dan...

» Sejarah Seni Sebagai Seni (9): Pelajaran Rusia

Aneka No. 21 THN VI, 20 september 1955 (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)Tahun 1927 pertama kali dipertunjukkan filem-filem Rusia di Eropa. Filem-filem seperti The Battleship Potemkin (1925) buatan Sergei Eisenstein, Mother (Ibunda, 1926)...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (8): Filem La Passion de Jeanne d’Arc yang Klasik

ANEKA, No. 20 Tahun VI 10 September 1955 (Artikel ini hanya dalam Bahasa Indonesia)Di tahun 1926, Dimitri Kirsanoff [1899 – 1957], seorang avantgarde berkebangsaan Rusia yang bekerja di Prancis memperkenalkan diri ke masyarakat melalui filem...

» Sejarah Filem Sebagai Seni (4): Kemungkinan-kemungkinan yang Tak Diduga

ANEKA, No. 12 Tahun VI 20 Juni 1955Dengan mata apapun melihat filem pada waktu itu; sebagai gambar yang bergerak di pasar malam, sebagai reproduksi foto dari lakon-lakonan lucu atau sebagai “teknik foto” seorang Amerika yang bernama Griffith;...

Kuotasi.Hari.Ini_:

"Sering kali, footage yang Anda ambil mengembangkan dinamikanya sendiri, gerak hidupnya sendiri, yang sama sekali tak terduga sehingga menjadi berbeda dari intensi awal pembuatan."

[Werner Herzog]

Statistik_!

Anggota : 519
Konten : 146
Jumlah Kunjungan Konten : 157450

Artikel.Lain_!

Tentang Uraian Luar Layar
Sabtu, 29 Agustus 2009

Jurnal Footage akan menampilkan seri wawancara antara Eric Rohmer dan Barbert Schoeder mengenai Isu Filem dan Kisah-kisah Moral. Terjemahan wawancara dalam bahasa Indonesia ini akan dirangkai menjadi tiga bagian, yang diterbitkan berdasarkan isu....

Alex Sihar: Tantangan Membuat Bahasa Video Untuk Lebih Dikenal
Minggu, 23 Agustus 2009

Tahun 2009 ini, Yayasan Konfiden, sebuah yayasan yang bergerak di bidang pengembangan, penyebarluasan pengetahuan dan pemanfaatan media audio visual bagi kepentingan pemberdayaan, peningkatan apresiasi dan dukungan atas inisiatif masyarakat kembali...

Éric Rohmer (4 April 1920 – 11 Januari 2010)
Rabu, 20 Januari 2010

Pada tanggal 11 januari 2010, dunia sinema telah kehilangan seorang sutradara, yang karya-karyanya cukup memiliki siginifikansi terhadap sejarah bentuk dalam estetika film. Adalah Maurice Henri Joseph Schérer atau Jean Marie Maurice Schérer dan...

Toshio Matsumoto (1932-)
Rabu, 12 Agustus 2009

Fritz Lang dan Ekspresionisme Jerman
Kamis, 12 Juni 2008

Fritz Lang adalah salah seorang sutradara terpenting dalam sejarah filem dunia. Sebagai wakil ekspresionis di tahun 1920an, dia telah membuat banyak filem bisu berkualitas. Akibat represi partai Nazi Jerman, dia pun beremigrasi ke Amerika Serikat....

The Wind Will Carry Us: Memaknai Kembali Komunikasi
Selasa, 15 Juli 2008

Sebuah mesin dari peradaban moderen, berisi manusia-manusia moderen dari zamannya melintasi jalan berliku membelah perbukitan mencari lokasi yang sulit dicapai dan tak ada penunjuk arah yang pasti selain tanda-tanda alam. Lokasi yang dicari itu amat...

Maulana 'Adel' Pasha: Di Masa Depan Video Akan Menggantikan Filem
Rabu, 11 Juni 2008

Persebaran video di dunia umumnya dan di Indonesia khususnya sangat pesat. Menurut sebuah penelitian, satu dari sepuluh orang Indonesia menggunakan video untuk berbagai kepentingan. Perkembangan teknologi telepon genggam berkamera semakin memudahkan...

Menilai 3 Doa 3 Cinta Melalui Mata Penonton
Senin, 26 Januari 2009

“Demi masa depan, aku harus tinggalkan. Ah…abang, demi cita-cita…” Ini adalah salah satu potongan lirik lagu dangdut yang dinyanyikan Dian Sastrowardoyo saat berperan sebagai Dona Satelit di filem 3 Doa 3 Cinta. Goyang pinggul dan riasan...

ScreenDocs! di Goethe Institut Jakarta
Senin, 13 Juli 2009

Selasa, 7 Juli 2009 program screenDocs! Regular kembali diputar di Goethe Institut, Jakarta. Program ini diselenggarakan oleh In-Docs, sebuah organisasi di bawah Yayasan Masyarakat Mandiri Film Indonesia. Sebelumnya, program screenDocs! diputar...

Bilal: Dilema Kebebasan dan Fasisme Ideologi Punk
Kamis, 17 Juli 2008

Karya video Bilal (2006) merupakan karya pertama dan penting dari Bagasworo Aryaningtyas. Karya ini juga seakan menjadi penegasan identitas Bagasworo sebagai punker sejati. Karya-karya lanjutannya seperti Memanjakan Tubuh (2007) dan Lingkaran X...

Kenyataan Keseharian dalam Ladri di Biciclette
Kamis, 28 Agustus 2008

Pertanyaan-PertanyaanMalam ini adalah diam kesekian saya terhadap satu filem neorealisme Italia, Ladri di Biciclette (1948) yang dibuat oleh Vittorio de Sica dari naskah Cesare Zavattini. Saya tertegun dengan kepercayaan saya terhadap apa yang...

Benny Wicaksono: Surabaya Harus Mengejar Ketertinggalan
Selasa, 30 Juni 2009

(Temporarily Available Only in Bahasa Indonesia) Berawal dari mengejar "ketertinggalan", Globalappleworks dan Surabaya New Media Art Center, membuat sebuah festival video bertajuk VIDEO:WRK – Surabaya International Video Festival 2009. Festival...

Elida Tamalagi: Tawar Menawar Wacana Di Bioskop Alternatif
Selasa, 12 Agustus 2008

Kebutuhan publik akan bioskop alternatif terbilang sangat besar. Sayangnya, kebutuhan besar ini tidak didukung oleh kesiapan calon pengelola bioskop. Kegiatan memutar filem di bioskop-bioskop semacam ini masih dipandang sebagai ‘kegiatan asal...

Part-Time Work of a Domestic Slave: Reposisi Sinema dan Penonton dalam Pembentukan Diskursus Baru
Jumat, 24 Juli 2009

Part-Time Work of a Domestic Slave (Gelegenheitsarbeit einer Sklavin, 1973) bercerita tentang Roswitha Bronski yang bekerja menghidupi keluarga, sementara sang suami, Franz Bronski, disibukkan oleh studi kimia untuk memenuhi ambisinya menjadi...

Festival Terakhir dan Terburuk
Kamis, 12 Juni 2008

Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar kembali Festival Film Penyutradaraan untuk kesepuluh kalinya. Apa yang beda? Selain tekanan tema yang menyoroti persoalan sosial, judul-judul kategorinya terasa sangat...

Brass Unbound: Usaha Etis van der Keuken dalam Dokumenter Masyarakat Pascakolonial
Jumat, 12 Juni 2009

Sebuah Tuba (alat musik tiup) bergerak dalam bingkai medium. Menaiki sebuah truk, Tuba melintas tepi sungai, kemudian bingkai berganti menggambarkan sekilas suasana kota seperti pasar, terminal, dan lalu kembali, melintas tepi sungai. Bingkaian Tuba...

Filem! Apa itu? Komunitas Filem.
Kamis, 01 April 2010

Imaji Setan Klasik dan Relasi Moderen Filem Haxan
Jumat, 10 Juli 2009

Wawancara dengan Bronnt Industries Kapital Geometer: Aku cuma dengar Haxan lewat musik filem kalian – filem luar biasa, dan begitu terkejut aku tidak pernah mengetahuinya. Bagaimana awalnya sampai kau tahu filem itu? Guy: Kali pertama kami...

“Good Morning, Mr. Orwell” dan Perlawanan Nam June Paik Terhadap Televisi
Sabtu, 06 Maret 2010

“Television has been attacking us all our lives, now we can attack it back”. - Nam June Paik (1932-2006)   Pada tahun 1948 penulis Inggris George Orwell menulis “1984”, sebuah novel dystopian tentang kondisi sebuah negara totalitarian...

Sejarah Filem Sebagai Seni (6): Mata yang Dapat Mendengar
Sabtu, 19 Desember 2009

ANEKA, No. 17 Tahun VI 10 Agustus 1955 (VI) Sutradara Fritz Lang yang termasyhur. Filemnya, Die Nibelungen: Kriemhelds Rache, disebut orang sebagai filem jenius dan citra pictural-nya dianggap sebagai mahakarya yang mempertanyakan ulang hakikat seni...

Love is Colder Than Death: Siasat Estetika Menghadapi Dominasi Sinema Hollywood
Minggu, 01 November 2009

Tanpa disangka Bruno mati, setelah peristiwa tembak menembak antara dia dengan pihak polisi. Adegan tembak menembak hampir tidak ada kehancuran, apalagi berdarah-darah. Plot berlangsung datar, tanpa pretensi emosi kekerasan. Adegan ini merupakan...

Sejarah Filem Sebagai Seni (5): Kerumitan Jiwa
Rabu, 16 Desember 2009

ANEKA, No. 13 Tahun VI 1 Juli 1955 (V) Di tahun-tahun sebelum 1914, di wilayah Eropa, dengan susah payah pelaku filem berusaha membuat filem, sedang di Amerika, Hollywood yang berciri industri besar-besaran pun terbentuk. Filem-filem terpenting...

Mengenal Biang Sinema Avant-garde
Rabu, 18 November 2009

Jean Epstein (1897-1953) Jean Epstein adalah salah satu sutradara penting era filem bisu dalam Sinema Prancis, yang juga dikenang sebagai teoritisi sinema, seperti tulisannya Ecrits sur le cinema yang menguji dampak filosofis dalam filem....

Dosa Asal Tak Berampun Dalam Catatan Historiografi Film Indonesia
Jumat, 13 November 2009

Resensi Buku Judul Buku: Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di JawaPenulis : H. Misbach Yusa BiranPenerbit : Komunitas Bambu & Dewan Kesenian JakartaTahun Penerbitan : Cetakan ke II, Agustus 2009Tebal Buku : xxxiv + 446 hlmPenulisan peta...

Farah Wardani: Ini Situs Arsip Seni Rupa Pertama di Indonesia
Minggu, 23 Agustus 2009

Pada 19 Agustus 2009, Indonesia Visual Art Archive meluncurkan situs arsip seni rupa pertama di Indonesia. Namanya iclick.IVAA. Pada kesempatan itu, Jurnal Footage mewawancarai Farah Wardani, Direktur Eksekutif IVAA. Berikut hasil wawancara kami....

Suatu Hari Kita Hanya Akan Mengenang Seluloid
Selasa, 12 Agustus 2008

Filem apa yang paling kamu ingat? Fiksi dan dokumenter: filem. Sampai waktu dua tahun lalu ketika saya keluar kamar untuk menonton filem The Mirror, karya Jafar Panahi, saya merasa telah teringatkan pada kategori untuk jenis-jenis filem yang sekian...

Maklumat Filem Bersuara
Senin, 24 November 2008

(This article is a translation and not available in English)Mimpi akan filem bersuara sudah nyata. Dengan ditemukannya teknik filem bersuara, Amerika sudah lebih mendahului dengan mementingkan dan mempercepat pemanfaatannya. Dengan tujuan sama pula,...

Pernyataan Politik Godard dalam La Chinoise
Kamis, 15 Januari 2009

(This article temporarily available only in Bahasa Indonesia) La Chinoise bisa dianggap semacam pamflet politik sekaligus pamflet artistik dalam bahasa sinema Jean-Luc Godard. Melalui adaptasi lepas dari novel Fyodor Dostoevsky tahun 1872, The...

Sepuluh Sutradara Sepuluh Tahun Reformasi
Kamis, 12 Juni 2008

Reformasi 1998 adalah sejarah penting dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Gelombang perubahan terjadi di mana-mana. Namun, setelah sepuluh tahun, apa yang bisa kita cerna?Pemutaran filem sepuluh tahun reformasi mencoba membuka ruang untuk...

Kronik_!

sejarah1
sejarah2
sejarah3
sejarah4
sejarah5
sejarah6
sejarah7
sejarah-filem-8

sejarah9
var02
var03
var04
var05
var06
var07
copyleft [2009-2010] jurnalfootage.net